Starbucks UI

Saya gamang.

Sepanjang siang saya ngobrol dengan beberapa kawan tentang Indonesia dan wilayah perbatasan. Kami menertawakan kegetiran, ketidaktahuan, dan kehebohan cara berpikir anak Jakarta dalam memandang wilayah Indonesia yang di luar jauh. Ngobrol sana-sini itu berujung pada keinginan mampir ke Perpustakaan Pusat UI yang baru dibangun. Banyak orang bilang, ini perpus raksasa di Asia Tenggara.

Sampailah saya di sana. Lalu saya gamang.

Di Perpus Baru kampus biru ini, sebuah tulisan hijau menyala silau. Sekejap saja, hati merah saya berdarah resah. Teringat saya ucapan kawan saya dari Universitas Pattimura Ambon, kampus ini terlalu sombong ketika membawa nama Indonesia. Kampus ini lupa membungkuk bahwa beban yang dibawanya berat. Seberapa kenal kampus ini dengan Indonesia? Baru saja saya dan teman-teman membahas susahnya pendidikan di Indonesia luar, lalu sekarang di mata saya pendidikan Indonesia dicerminkan dengan tulisan Starbucks yang mentereng.

Mungkin saya yang tidak gaul, tidak modern, sebab cuma bisa nongkrong di warkop pinggir kampung. Tapi saya benar-benar resah dengan gerai kopi milik asing ini berdiri gagah menempel di bangunan UI. Semacam parasit. Saya pikir anak-anak UI cukup pintar memahami apa arti brand ini dan kesan yang ditimbulkan olehnya. Beli kopi seharga tujuh kali kopi warkop, mainkan komputer Apple Imac yang tersedia di ruang dalam perpus ini, dan kamulah anak kampusnya Indonesia. Atau sebaliknya, pinjam buku harus repot-repot ke sini sebab buku itu tak lagi ada di perpus fakultas, lalu tengok kantong saku tinggal sisa lima ribu, tak cukup telepon ibu di pulau seberang, dan kamulah anak kampusnya Indonesia.

Saya menatap gedung dengan nanar. Di sebelah saya ada Irwanto, mahasiswa UI asal Kepulauan Riau. Ia memegang segelas plastik kopi yang dibeli dari pedagang jinjing yang lewat depan kami, gelengan kepalanya lemas.

Saya melenggang pulang. Lagu Kampus Depok yang ditulis Bimbim Slank di tahun 1993 terngiang. Lagu dari album “Lagu Sedih” itu pas dengan hati saya. Kata Bimbim, lirik ini “meletup di perjalanan habis manggung di UI” dan saya baru memahaminya sekarang.

Banyak orang bicara tentang kebebasan
Banyak orang bicara tentang keyakinan
Dan banyak orang bicara tentang keadilan
Banyak orang bicara tentang perubahan

Semuanya cuma dalam bisikan
Semuanya nggak berbuat apa-apa
Semuanya hanya tutup mata saja
Semuanya nggak berbuat apa-apa!!

Sanctum

Kalau di film Sanctum, peribahasa “sambil menyelam minum air” terasa begitu harfiah. Film drama perjalanan tim eksplorasi gua yang terjebak banjir dalam gua bawah tanah itu mementahkan peribahasa tadi. Ya, ketika kau terjebak air di mana-mana, dalam gua gelap tak ada cahaya kecuali senter yang habis batere pula, maka berenang dan menyelam mencari jalan keluar bukan lagi jadi pilihan, melainkan keharusan.

 

Yang saya tahu, keadaan lelah dan panik memancing emosi dan mematikan pikiran. Saya pernah mengalaminya ketika naik gunung. Nah ini, perjalanan manusia yang dihajar alam di Sanctum ini, menimbulkan pertengkaran antar manusia, depresi lalu menyerah, bahkan niatan membunuh satu dengan yang lain. Maha dahsyat arti lelah dan lapar, keduanya mematikan ketenangan berpikir, lalu membunuh kemanusiaan.

Yah, saya mulas nonton ini. Perut bergejolak. Ibu bapak saya yang nonton bareng saya juga sama mulas. Kami menutup film bukan dengan menghela napas, tapi justru menghirup. Syukurlah, kami masih punya napas bebas.

Serdadu Kumbang

Harapan terlihat di kalimat Amek, anak kecil sumbing, tokoh dalam film Serdadu Kumbang, produksi Alenia Pictures. Harapan lulus Ujian Nasional terlihat di kata-kata Amek dan kawan-kawan, juga di Minun kakak Amek. Harapan-harapan lain tentang pendidikan terucap pula lewat mulut para pemeran film yang mengangkat banyak nama terkenal semacam Putu Wijaya, Titi Sjuman, dan Lukman Sardi itu.

Harapan juga muncul di diri saya sebagai penonton. Pun pada teman saya, yang juga seorang guru. Kami berharap film ini memberikan cerita pendidikan yang haru, inspiratif, dan mudah dicontoh anak-anak.

Ide cerita terbelah, antara pencapaian Ujian Nasional, peran Ayah penipu, cita-cita kanak-kanak, dan kegagalan sekolah sebagai institusi pendidikan. Ide yang menumpuk itu kemudian membuat penggarapan masalah menjadi tak dalam.

Saya tertarik pada kasus UN yang diangkat dalam film ini. Namun, ternyata perjuangan Amek dkk sebagai anak SD yang sudah pernah tidak lulus UN sebelumnya, tidak terlihat dengan maksimal. Ada penggambaran kegiatan belajar di sekolah, tetapi hanya sebatas belajar harian, bukan persiapan UN. Ada penggambaran kegiatan belajar tambahan yang dilakukan oleh Guru Imbok (Ririn Ekawati) tetapi motivasi guru itu tidak dibangun dengan apik. Sama pula tidak apiknya dengan akhir cerita yang mengejutkan, si Amek dapat operasi bibir sumbing gratis. Bagian ini mengagetkan sebab sejak awal penonton hanya disajikan sedikit keterangan bahwa dia ingin menjadi presenter berita. Dalam sinopsis dikatakan dia tidak percaya diri sebab sumbing itu menghalangi harapannya untuk menggapai cita-cita itu. Sementara sepanjang film, tidak ada penggarapan karakter yang dalam bahwa Amek bermasalah dengan kekurangan fisiknya.

Minun kakak Amek si pintar matematika, yang gagal lulus UN bersama 26 kawan lainnya, digambarkan mati terjatuh dari pohon sebab kecewa tak lulus ujian. Menurut saya ini adalah konflik besar, yang sayangnya tidak dibangun permasalahannya sejak awal. Tidak ada penggambaran bagaimana hebatnya perjuangan anak-anak SMP Bukit Mantar, Sumbawa itu mempersiapkan UN. Ketika tiba-tiba satu SMP itu tidak lulus, sementara satu SD yang sebangunan lulus, terasa ada yang sangat aneh.

Gambaran Pak Alim (Lukman Sardi) yang mendidik secara militer atau Kepala Sekolah (Dorman Borisman) yang tak peduli juga tidak mendukung masalah Ujian Nasional yang saya pikir bisa jadi isu utama yang sangat hebat. Apa pula fungsi Pak Ketut (Surya Saputra) seorang karyawan PT Newmont yang sangat hanya serupa tempelan di film ini? Kebetulan Newmont adalah sponsor utama, tetapi sayang sekali kehadiran sekolah Newmont di sini tak lebih dari tempelan semata. Orang awam pasti akan bingung, ada kegiatan apa itu Amek dkk berkunjung ke sekolah internasional tanpa ada penjelasan yang berkaitan dengan alur cerita?

Terlalu banyak deux et machina serba kebetulan yang tiba-tiba, atau lanturan yang tak terjelaskan. Amek main pacuan kuda, Amek operasi sumbing, Minun bisa menebus kuda seharga 4 juta, mengintip rok bu guru, atau bahkan kumbang yang tak terjelaskan sebagai metafora apa.

Sekali lagi akan jadi diskusi panjang, kepada siapa film ini ditujukan. Ini film tentang anak-anak atau film untuk anak. Saya dan teman guru saja tak paham betul, bagaimana dengan anak-anak? Harapan saya untuk dapat kisah garapan besar tentang pendidikan pun cerai. Tapi harapan sekadar mendapat hiburan film keluarga lumayan tergapai.

Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.