Apa yang Kamu Lihat?

Pertanyaan “Apa yang kamu lihat?” ternyata bukan sekadar pertanyaan sederhana jika jawaban yang diminta bukan sebuah kata. Coba tanyakan itu pada siswa ketika mereka melakukan perjalanan study tour atau trip sekolah lainnya. Kata pertama yang akan keluar untuk menjawab pertanyaan tadi umumnya adalah sebuah kata objek benda yang mudah terlihat dan teringat mereka sepanjang jalan.

Saya dan siswa mencoba mengajukan pertanyaan itu ketika melakukan university trip bulan lalu. Siswa berkeliling ke beberapa universitas di pulau Jawa, yaitu Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Indonesia. Dalam perjalanan semacam itu, sering kali kita menemukan siswa yang tidak fokus pada inti perjalanan ini. Mungkin beberapa siswa hanya ingin main-main atau jalan-jalan saja. Nah, pertanyaan “apa yang kamu lihat?” itu bisa dijadikan permainan seru di akhir acara. Siswa diajak untuk memikirkan sebuah objek menarik yang mewakili pelajaran yang mereka dapat selama trip berlangsung. Hal tersebut kemudian bisa diceritakan kepada orang lain. Siapkan saja sejumlah alat sederhana, seperti kertas koran, balon, lem, dan gunting, lalu biarkan siswa berkreasi dengan penemuannya.

Hasilnya sangat menarik. Siswa dari kelompok IPS, misalnya, membuat sebuah tiruan karya seni buatan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Mereka juga membuat bangunan Bosscha.

Sementara siswa dari kelompok IPA membuat sebuah alat pengebor tanah yang mereka lihat ketika berkunjung ke Fakultas Pertambangan dan Perminyakan ITB. Masing-masing kelompok ini kemudian mempresentasikan karya mereka. “Apa yang mereka lihat?” dijabarkan dengan penjelasan seperti sebesar apa objek itu, apa material pembuatnya, apa fungsi alat tersebut, dan beragam pertanyaan dari teman-teman mereka.

Siswa juga diminta untuk menjelaskan mengapa objek tersebut yang dipilih. Mereka kompak menjawab, objek benda itulah yang mudah dibuat untuk menjawab pertanyaan “Apa yang kamu lihat?”. Mungkin kegiatan ini akan lebih menarik jika kelompok dibuat lebih kecil, sehingga akan ada banyak ragam karya yang terlihat.

Objek itu hanya sebuah contoh jawaban. Intinya, siswa dapat melakukan refleksi dari perjalanan atau study tour yang mereka lakukan. Sebuah tulisan laporan perjalanan tentunya juga bagus untuk bahan refleksi. Misalnya buatan salah satu siswa saya ini: http://geovanilaskar.blogspot.com/2011/10/university-trip

Nah, sekarang coba tanyakan pertanyaan ini setiap sore usai sekolah: Apa yang kamu lihat hari ini? 🙂

Kambing

Aku menyudahi waktu kuliah di kelas terakhir dengan waktu penuh. Bahkan lebih. Tadi beberapa mahasiswaku berteriak, mengingatkan bahwa waktu kuliah sudah selesai. Saat aku melihat jam di tangan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 14.40. Berarti lewat 10 menit dari jatah waktu belajar yang tersedia.

Kebetulan materi yang harus aku sampaikan hari itu memang banyak. Hari ini pertemuan terakhir sebelum ujian tengah semester dimulai. Jadi, aku harus mengejar beberapa ketertinggalan. Aku bahas sejumlah materi yang belum sempat disampaikan dan membahas soal ujian dua tahun lalu. Tak lupa aku memberikan kisi-kisi materi yang akan keluar di ujian nanti, sesuai dengan permintaan mereka. Kisi-kisi itu masih terlihat seperti topik secara garis besar saja. Aku hanya menambahkan penjelasan dengan contoh-contoh soal yang mungkin akan keluar nanti.

Aku hanya tertawa ketika para mahasiswa lagi-lagi mengatakan bahwa saat ini sebetulnya kisi-kisi sudah tidak zaman. Yang lagi zaman sekarang adalah soal asli plus jawabannya. Aku hanya tertawa. Aku tahu itu lelucon. Lelucon mahasiswa yang iseng mengemis soal dan jawaban ujian dari dosennya. Lelucon yang sudah kesekian kali aku dengar sejak musim ujian hampir tiba. Aku hanya tertawa saja mendengar itu. Toh itu hanya lelucon.

Saat keluar gedung, sejumlah bayangan putih melintas. Kambing. Ya, beberapa ekor kambing menyergapku di jalan. Mereka berdiri dengan tenang, mengunyah daun-daun tanaman yang ada di sepanjang jalan. Seekor kambing yang terlihat paling besar makan dengan rakusnya. Tampaknya ia sanggup menghabiskan seluruh pucuk daun tanaman hijau yang ada di kampus itu. Seekor kambing kecil menyerobot pucuk daun yang baru diendus si kambing besar. Kambing kecil itu melahapnya dengan cepat. Kambing besar tidak peduli dengan itu. Ia melengos saja dan mengambil pucuk daun lainnya.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Jo ternyata.
Kambing di depan mbak.
Saya di belakang mbak.

Saat itu juga aku menoleh ke belakang. Mataku sibuk mencari-cari sosok ceking itu dari kerumunan mahasiswa yang berada di belakangku. Ternyata Jo sedang duduk di salah satu bangku semen lingkar lobi gedung. Ia nyengir sambil melambai-lambai. Seorang mahasiswa di sampingnya ikut tersenyum.

Aku menghampiri Jo dengan sedikit ragu. Di lobi itu masih ada banyak mahasiswa. Aku sungkan saja. Rasanya tidak enak jika aku terlihat bersemangat menghampiri seorang mahasiswa yang baru saja memanggilku dengan tampang sok akrab. Tapi aku terus saja melangkah. Keraguan itu tiba-tiba saja runtuh.
“Suka sama kambing ya, Mbak?”

Jo masih saja tersenyum-senyum nakal. Ia tampak senang. Seperti mengetahui satu fakta baru tentangku. Mata bundarnya terlihat mencari jawaban di mataku. Aku yang semula mengira itu hanya pertanyaan basa-basi, berusaha menjawab dengan nakal pula.
“Kambingnya yang suka saya.”

Sambil tertawa, Jo beranjak dari duduknya. Laki-laki di sampingnya juga ikut berdiri. Dia itu yang tadi ikut tersenyum sewaktu Jo melambai-lambaikan tangan padaku. Wajahnya terlihat menyenangkan. Aku terkesan dengan kulitnya yang bersih. Tidak putih, tetapi bersih. Gayanya biasa saja. Anak Jakarta pasti akan dengan mudah mengenalinya sebagai anak daerah.

“Oh ya, Mbak, ini Fajar,” kata Jo memperkenalkan laki-laki itu.
Fajar tersenyum. Ia dengan segera menyorongkan tangannya di depanku. Badannya sedikit membungkuk. Sekian detik, aku tidak juga membalas ajakan berkenalan itu. Aku menatap Fajar dengan agak lama. Kecondongan punggung mahasiswa ini tidak berlebihan. Tanda bahwa ia menunjukkan kesopanan padaku. Bukan gaya perayu yang seperti dilakukan beberapa mahasiswa lain. Namun, aku tak pernah malas untuk menanggapi mahasiswa dengan gaya paling tidak menyenangkan sekalipun.

“Ya… Saya Anne.”
“Fajar, Mbak.”
“Teman Jo?”
“Iya, teman sekelas. Teman Bas juga.”
“Oh ya?”
“Iya, teman satu kosan.”

Sepanjang perjalanan meninggalkan gedung kelas akhirnya dilewati dengan kejutan yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Daun kelor ternyata masih seukuran dunia. Ternyata Fajar teman Bas. Sama-sama asal Malang. Arema. Ia juga bertetangga dan berasal dari satu sekolah dengan Bas di Malang. Fajar terus bercerita mengiringi perjalanan mereka menuju taman gedung tiga.

Sore menjelang. Panasnya mulai merayapi sela jalanan yang tak terlindungi pepohonan. Namun, taman gedung tiga tak peduli dengan itu. Pohon-pohon besar di taman ini cukup banyak sehingga tak membiarkan panas sore jatuh ke kaki kami. Pohon-pohon itu berusia tua. Batangnya besar-besar. Beberapa ada yang terlihat rapuh. Kurasa aku tak akan tahu bahwa pohon itu seusia dengan pohon di depan gedung 9 yang kemarin roboh saat hujan.

Kami terus mengobrol di bangku semen yang melingkari pohon-pohon yang berada di tengah taman. Bangku itu terasa dingin saat diduduki. Kerasnya semen tak berpengaruh kalau sebuah pembicaraan berlangsung dengan menyenangkan. Itu yang terjadi pada kami. Aku pun tidak peduli ketika beberapa mahasiswa dari kelas lain memperhatikan kami. Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang setelah mengajar. Ngobrol-ngobrol bersama mahasiswaku sendiri. Dan aku pikir apa yang kulakukan masih dalam taraf wajar.

Dari kejauhan terlihat Bas berlari kecil menghampiri kami. Wajahnya riang seperti biasa. Tas selempangnya menimbulkan irama dengan ritme teratur saat terlempar dan terjatuh ke pantatnya. Kemeja salemnya sudah tak lagi rapi. Di tangannya terlihat kertas yang tidak dilipat.

“Woi, nih buat lu, Jo!”
Jo segera menangkap bundel kertas yang dilemparkan Bas ke arahnya.
“Tekbang nih?” tanya Jo dengan muka mengharapkan jawaban ya meluncur dari mulut Bas.
“Yoi!” Bas menjawab dengan wajah cengengesan. Jo lalu berwajah sama. Fajar ikut-ikutan juga. Aku justru menekuk bibir dan jidat. Aku tak paham apa yang tengah mereka cengengesi.

Rasa ingin tahuku memburu. “Apa itu?”
“Ini tren zaman sekarang, Mbak! Soal UTS sekaligus jawabannya!” Bas menjawab dengan lugas. Ia kemudian tertawa-tawa bersama Jo dan Fajar.
Kertas itu langsung kurebut. Aku mencari-cari kebenaran ucapan Bas dalam kertas fotokopian tiga lembar itu. Di sana kudapati ada sepuluh soal esai mata kuliah Tekbang. Di bawah soal itu terdapat rincian jawaban. Beberapa jawaban dilengkapi gambar pendukung uraian. Mataku benar-benar menyipit membacanya. Otakku tak lagi terang. Aku buru-buru melihat baris teratas di kertas itu. Ada nama seorang mahasiswa di sana berikut asal kelas dan nomor NPM-nya. Aku mengenali anak itu.

“Dari mana kamu dapat soal ini?”
“Ya dari dia.” Bas menunjuk nama di kertas itu. “Dia dapat soal langsung dari dosennya. Kan memang dikasih tahu di kelas. Soal plus jawabannya lho, Mbak. Makanya Mbak gitu juga dong…”

Mataku menyipit sejadi-jadinya. Sepertinya ada sekelereng debu yang tiba-tiba meluncur ke mataku. Tapi rasa pedihnya bukan di mata. Aku tak mengatakan apa-apa. Otakku mati seketika. Ia tak bisa memerintahkan mulut untuk bereaksi atas apa yang tengah kupegang kini. Mataku jalang membacai tulisan yang tertera di kertas itu. Aku membaca, tapi tak kubaca. Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi beberapa detik itu.

Tiba-tiba aku ingat Dira. Temanku yang juga dosen di kampus keuangan milik pemerintah ini. Kami berdua memulai karier pengajaran bersama. Tentu kami ingin memberikan yang terbaik sehebatnya. Aku ingat ketika aku menginap di rumahnya selama beberapa hari sekitar tiga bulan lalu. Kami berdua bergumul bersama tumpukan buku-buku yang kami cari setengah mati untuk memenuhi materi yang ada di silabus kuliah. Banyak buku yang tak dijual di toko buku. Banyak dari buku itu yang akhirnya harus kami dapatkan sendiri dari dosen pengajar lain atau dari perpustakaan kampus yang tak lengkap itu. Kami sibuk memilah-milih materi yang akan diajarkan. Kami berbagi tugas untuk membuat ketikan materi untuk dijelaskan di kelas nanti. Kami berdiskusi, berbagi pendapat, dan bersama-sama menyamakan pemahaman tentang sebuah bahan. Kami tak ingin ada yang terlewatkan untuk kami bagikan pada mahasiswa nanti. Yang terbayang di benak kami saat itu hanyalah: mahasiswa harus betul-betul paham.

Kini aku benar-benar tak tahu apakah guna yang telah kami lakukan itu setelah aku memegang kertas ini. Tidur menggalang mimpi tentu lebih asyik daripada bergadang menyiapkan materi. Aku benar-benar tak memahami ini.

Rasa tak nyaman kemudian menyergapku. Wajah lugu anak-anak mahasiswa ini seketika menghilang dari pandangan. Seorang demi seorang seperti bergiliran merias diri bak banci. Cengengesnya tak lucu lagi.

Dengan bermuka dua akhirnya aku ikut tersenyum dan mengatakan akan segera pulang. Untungnya kulihat mereka tak menaruh curiga apa-apa. Angin pun tiba-tiba bertiup kencang mengabarkan mendung yang mulai datang. Aku jelas semakin ingin segera pulang.

Aku pergi meninggalkan mereka. Langkahku gamang. Pandanganku tak terang. Beberapa meter di depanku dua ekor kambing dewasa mengembik dengan lantang. Dua ekor kambing kecil berlari mengejar kambing dewasa itu. Kambing-kambing kecil itu juga mengembik dengan suara tak kalah keras. Rengekan mereka sahut-menyahut. Tiba-tiba saja aku merasa amat tidak suka pada kambing. Kambing itu putih, tetapi bau.

September 2009

Tanda Mata

Lelaki muda itu terlentang di atas meja. Baju seragam sekolahnya tampak kotor, kecoklatan campur hitam. Bukan sebab tua, tetapi terbalut kotoran yang menempel dari sekitar ruangan. Kamar berdinding merah tua itu tidaklah sepenuhnya kotor, hanya sedikit ternoda saja di beberapa sudut. Noda-noda amis yang tak sedap dihirup. Sang pemilik terlalu sibuk memandangi lelaki muda itu.

Mata si lelaki nanar mengarah pada wanita di hadapannya. Mata itu baru terbuka beberapa menit tadi. Pening menguasai kepala. Si lelaki mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi ngilu menyengat. Tubuhnya tak mampu bergerak. Ia juga tak mampu lagi bersuara. Bukan hanya sebab ada kain usang yang melingkari mulutnya, tetapi lebih karena ia tak punya lagi daya. Tubuhnya terikat erat di meja. Lututnya terasa nyeri. Celana abu-abu seragam sekolah yang ia kenakan telah robek. Koyak dan terpercik darah.

Lelaki itu ingin sekali bertanya pada wanita yang berdiri membelakanginya sekarang. Ia harus bertanya, meski pertanyaan itu telah diulang berkali-kali. Mengapa? Mengapa? Ingin betul ia berteriak di muka wanita berambut pendek itu. Namun, ikatan di mulut ini menekan ujung bibirnya. Tak sadar, kain itu membuat ujung bibirnya luka.

Dari bola matanya yang kosong, si lelaki muda terus mengamati gerak-gerik wanita itu. Seolah tak peduli, si wanita sibuk mengutak-atik sesuatu di depan meja berkaki rendah. Sebuah benda mengkilat, memantulkan cahaya ke mata kosong si lelaki. Cahaya itu melesat masuk ke matanya dan merangsang tubuhnya bergetar. Cahaya itu bereaksi. Muka anak lelaki itu pucat pasi.

Mungkin benda itu pisau. Pisau dapur besar. Mungkin pula pistol. Batang pistol berwarna perak. Lelaki itu menduga rupa benda berkilat tadi. Dalam gemetar, berkelebat segala rupa film aksi yang selama ini pernah ditontonnya. Ia sering membayangkan dirinya beraksi di film seperti itu. Tampak keren dan hebat. Tapi dalam situasi ini, film itu berubah jadi horor terseram. Sebab film itu kini nyata.

Grek.
Laci meja terdengar dibuka cepat. Wanita itu memasukkan benda yang tadi dipermainkannya ke dalam laci. Si lelaki tak bisa melihat apa-apa. Tubuh sintal wanita itu menghalangi pandangannya ke meja. Ya, wanita ini berlekuk sempurna. Tubuh itulah yang selama ini dinikmati si anak lelaki setiap hari di sekolah. Juga yang sesekali mampir di hari Minggu, bahan mimpi sebelum bertemu Senin pagi.

Si lelaki mengernyit sedikit. Ia teringat pertemuannya dengan wanita itu pertama kali. Ia dan kelima kawannya di kelas sekejap terpana. Si wanita masuk ke dalam kelas, berjalan seperti melayang. Si lelaki sudah lewat 17 tahun. Tak ayal matanya dengan cepat tertuju pada dada penuh wanita itu. Kemeja kerja si wanita menutup lengkung dada dengan ketat. Si wanita membetulkan letak kacamata, menyelipkan rambut ke balik telinga, menyungging senyum, lalu menyebutkan satu kalimat, “Saya guru baru kalian.”

Mulai sejak itu mereka berenam jadi suka matematika. Pelajaran momok itu tak lagi menegangkan jika diajar guru seksi begitu. Ketegangan mereka menjalar ke sudut lain. Sudut tubuh remaja mereka yang mulai dewasa. Lalu mereka menguarkannya dengan celoteh canda remaja. Canda asal, lalu mengarah nakal. Guru cantik itu tak pernah menegur mereka. Ia terus saja menerangkan segala materi di papan tulis. Ia hanya menengok dan memandang satu-satu dari mereka, setelah sebuah penghapus kecil mengenai ke pantatnya. Mereka lalu tertawa kecil menahan gemas, berharap guru itu mencari tahu siapa yang telah berani menimpuknya. Sungguh, mereka berharap sang guru akan marah atau menjewer kuping mereka. Sehingga tersedialah alasan bersentuhan dengan kulit wanita itu.

Guru itu memang masih muda. Semangat mengajar membara di dadanya. Kacamata berbingkai hitam tak mampu menyembunyikan wajahnya yang berahang tajam. Kadang wajah itu terlihat angkuh, tetapi itulah yang semakin memancing keenam murid lelakinya untuk bertingkah. Saat wanita itu mengajar, tak ada di antara mereka yang betul-betul mendengarkan. Si lelaki ingat betul, guru muda ini sesekali bertanya kosong, “Dimana telinga kalian?”
*

Wanita itu berjalan perlahan mendekati si anak lelaki. Mata anak itu bergerak, mencuri lihat di kedua tangan lawan. Kosong. Wanita itu tak membawa apa-apa. Sungguh, saat itu ia berharap melihat pulpen seperti yang biasa ia lihat di kelas. Ia berharap melihat remang garis beha di dada gurunya. Melihat kernyit kening gurunya saat memeriksa ujian kalkulus. Tapi nyala lampu di kamar ini terlalu hambar. Dan ia baru sadar, anyir darah tercium samar.

“Kamu yang terakhir,” ujar wanita itu setelah berhenti di hadapannya.
Sulit ia melirik mimik muka gurunya.
“Kamu bisa mendengar, kan?”
Biasanya si anak lelaki ini bisa bermain menggerak-gerakkan telinganya. Tapi kekakuan suasana membuat telinganya ikut kaku.
“Di mana telinga kamu?”

Pertanyaan yang biasa terlontar di kelas itu kini tak lagi terdengar remeh. Si murid yang semakin gemetaran itu mulai merangkai dugaan. Jelas sudah, si guru tentu marah sebab ia dan teman-temannya sering tak mendengar penjelasan gurunya di kelas. Ia semakin gemetar. Apa yang akan dilakukan guru ini kepadanya? Tadi wanita itu bilang, dialah yang terakhir. Maka jelas sudah jawaban kemana hilangnya kelima teman lelakinya dalam waktu sebulan ini. Kelima temannya itu hilang satu per satu. Mulanya ia pikir hanya bolos satu dua hari. Ternyata orang tua mereka malah balik bertanya kepadanya. Sekolah tak tahu ke mana anak-anak itu menghilang. Polisi sudah mencari, tetapi tak ada juga kabar yang hinggap di telinga. Dan sekarang, lotere terakhir datang untuknya.

“Kamu punya telinga, tapi tak pernah kamu gunakan.”
Guru wanita itu memegang telinga muridnya. Si anak lelaki itu bergetar hebat, tapi hanya sebatas itu yang bisa ia lakukan. Kakinya tak mampu bergerak bebas sebab tambang kasar melingkari pergelangan kaki hingga pangkal betis. Ia berpikir cepat, rasanya ia masih mampu berguling. Lalu apa? Lengannya sama terliliti tali. Dan ternyata tubuhnya terikat ke meja. Tak mungkin tubuh kecilnya memberontak.
“Saya hanya ingin anak-anak murid saya mendengarkan. Saya ingin kalian pintar matematika.”

Wanita itu membalikkan badan, berjalan menuju meja. Tubuh semampai itu bergerak dan sigap membuka laci meja. Dikeluarkannya benda berkilau yang telah terduga. Sebuah pisau. Namun, bukan pisau dapur besar, melainkan pisau kecil dan runcing ujungnya. Kilau pisau itu berdesing, membuat tubuh anak itu ingin berputar ke samping. Ia ingin melindungi dirinya. Ia ingin berguling, tapi jelas tak mungkin sebab tubuhnya bisa terbanting. Dan tentu ia tak bisa lari. Tentu mudah wanita itu menaklukkannya.
“Saya perlu bukti bahwa kamu mendengarkan penjelasan saya selama ini. saya perlu tanda mata.”

Si anak lelaki sontak tegang. Ia berusaha menjauhkan pisau yang akan datang itu dari telinganya. Tentu itu yang diinginkan guru gila itu. Sepasang telinga dari murid yang tak bisa mendengarkan gurunya!

Tak ada cara untuk menyembunyikan telinga yang terbuka menantang. Ia ingin tertelungkup namun itu seperti menyerahkan diri untuk diiris. Ia ingin terlentang namun ia terlalu takut menatap mata gurunya. Ia hanya bisa memejam dan menulikan pendengaran.
“Saya guru, dan saya berhak menghukum kamu. Saya perlu tanda mata itu.”

Tangan si wanita menekan kuat tubuh kecil anak muridnya. Si anak gemetar sejadi-jadinya. Wanita itu naik ke atas meja, mensejajari korbannya.
“Kamu tak bisa mendengarkan penjelasan saya sebab kamu sibuk berbicara. Dan juga, sibuk melihat saya.”
Sebuah dugaan melintas cepat di benak si anak. Ia tersadar, lalu tanpa sadar membuka mata.

“Bagus, inilah tanda mata yang saya perlukan. Tanda mata sebenarnya.”
Kilau pisau itu membayang di mata si lelaki muda. Bayangan matanya terpantul di sana, lalu mengabur entah ke mana. (*)

Maret 2011

Patok

Aku pernah begitu benci pada Jakarta. Mungkin di usia 11 tahun itu aku tak paham betul arti benci. Namun, aku merasakan kekesalan luar biasa dengan kota tetangga itu. Kota itu yang memaksaku harus belajar keras hanya demi bisa memasuki gerbangnya.

Aku mulai mendapatkan pendidikan formal pertama di daerah ini, kota kecil sebelah Tenggara Jakarta. Saat itu, daerah ini adalah kota kecil administratif Bogor. Aku si kecil usia 4 tahun ditemani ayah berjalan kaki dari rumah ke sebuah Taman Kanak-kanak di tepi jalan raya. TK itu berada di perbatasan dua kampung, yaitu Kampung Pal dan Kampung Areman. Ada tanah rumput yang tampak luas di mata kecilku. Itulah tanah pertama yang kusebut lapangan bermain. Di seberang jalan raya depan sekolah TK, terlihat hamparan sawah dan empang. Pohon petai cina menghiasi tepian tanah yang berbatasan dengan jalan raya dari aspal. Kelak dua tempat itu akan menjadi wilayah kekuasaanku di usia sekolah dasar.

Dalam ingatan masa kecilku, aku hanya tahu aku bersekolah di daerah Pal. Murni sesempit itu pengetahuan geografisku. Kemudian, di TK itulah aku mulai mengenal nama kota Jakarta. Kata ibu guru manis yang mengajarku, kota Jakarta adalah ibukota Indonesia, nama negara yang lagunya mulai kuhapalkan sejak sekolah untuk dinyanyikan setiap Senin pagi. Ibukota itu apa, aku tak begitu paham. Ibu guru bilang, ibukota itu seperti ibu jari. Kuperhatikan jemariku. Ibu jari itu lebih besar dari jari-jari lainnya. Bentuknya gemuk, tak seperti jari-jari lain yang terlihat kurus. Maka itulah yang kupahami: ibukota adalah kota besar yang berisi orang-orang gemuk.

Kata ibu guru TK, untuk pergi ke Jakarta, aku hanya perlu jalan kaki saja. Nyatanya aku belum pernah membuktikannya sampai aku lulus sekolah kanak-kanak itu. Ketika ada kegiatan tur ke Taman Mini di Jakarta Timur, aku pergi dengan menggunakan bus besar. Lalu ketika aku dan teman-teman pergi belajar manasik haji di Jakarta Pusat, kami juga naik bus besar. Di nalar kecilku, pergi dengan bus adalah pergi jauh. Maka aku tak begitu percaya jika bu guru bilang Jakarta bisa dicapai dengan jalan kaki saja.

Namun, aku sadar ternyata kata-kata bu guru TK itu benar. Lulus dari sekolah TK, aku mulai diperbolehkan main menjelajah kampung. Kegiatan itu membawaku pada sebuah patok batu setinggi lutut. Di badan patok semen itu tertulis kata-kata yang kemudian kupahami sebagai tanda batas daerahku dan Jakarta. Aku menemukannya di dekat empang di ujung kampung. Ya, empang dan sawah yang kerap kulihat dulu dari seberang sekolah TK dulu. Rasanya semacam menemukan harta karun, walau aku tak mencarinya dengan repot-repot. Seorang teman yang merajai wilayah empang dan sawah itulah yang menunjukkannya.

“Jadi, sekarang kita ada di Depok,” ujar teman kecilku jumawa.
Kemudian, ia melangkahkan kakinya melewati patok itu. “Nah, sekarang aku ada di Jakarta!”

Ingat betul aku wajah sumringahnya. Aku turut riang. Itu jadi semacam pelajaran geografi yang luar biasa. Aku ikut melangkahi patok tersebut dan rasanya Jakarta menjadi begitu sederhana. Jakarta hanya sebatas selangkangan. Kami tertawa bersama. Kami ambil ranting yang dijadikan tongkat pegangan ketika meniti batang pohon kelapa, melanjutkan perjalanan ke ujung empang yang merupakan tanah ibukota.

Sejak SD kelas satu hingga kelas lima aku terus bermain ke sawah dan empang itu. Butuh waktu lima menit naik sepeda atau 15 menit jalan santai. Aku dan teman-teman sambil memegang plastik berisi air limun akan berkumpul di rumah terakhir sebelum memasuki areal sawah. Di sana kami menghabiskan limun dan membuangnya ke tong bekas cat tembok. Tangan kami bebas. Kami mulai meniti batang bambu susun lima, melewati kali kecil yang merupakan pecahan Kali Baru dari Bogor. Kami memotong ranting pohon rendah dan menjadikannya pedang-pedangan. Kami mengumpulkan kumbang kecil yang sangit baunya dan menangkapi capung jarum. Semuanya adalah kesenangan masa kecil yang terasa besar.
Secara tak sadar kami selalu bolak-balik melewati patok itu tanpa menganggapnya sesuatu yang berharga lagi. Patok itu tak lagi aku kagumi. Aku dan teman-teman berjalan mengangkanginya hampir setiap sore usai sekolah. Ia menjadi benda biasa. Aku tak pernah lagi terantuk patok semen yang mulai aus sebab dijadikan alas main ulek-ulekan. Aku tanpa sadar tak lagi merasa Jakarta dan Depok adalah sebuah jarak. Setidaknya begitu hingga kenaikan kelas enam tiba.
Waktu itu, ibu pulang ke rumah usai meninggalkan dua tiga ibu yang mengobrol di mulut jalan. Dicarinya bapak dan kulihat mereka berbicara serius. Aku yang masih menikmati peringkat lima yang tertulis di rapor sekolah kemudian dipanggil bapak. Aku didudukkan mereka. Bapak membuka pembicaraan di meja ruang tamu bernuansa jingga. Aku ingat betul kalimat pembuka bapak.

“Nak, kamu harus sekolah di Jakarta.”
Aku tak paham maksud bapak. Kalimat itu tak menjelaskan alasan apapun yang bisa dipahami otak 11 tahunku.
“Kamu harus melanjutkan SMP di Jakarta, biar nanti SMA bisa gampang diterima di Jakarta juga.”
Aku beranikan diri bertanya, “Kenapa?”
“Biar gampang cari kerja di Jakarta nantinya.”

Bapak melepas napas perlahan. Ibu mengangguk-angguk. Ada penolakan yang tak bisa kusampaikan di sana. Saat itu aku baru menyadari betapa aku menyukai daerah tempat tinggalku. Aku telah lama mencintai sawah dan empang. Aku menyukai jalan raya yang tidak terlalu sulit diseberangi. Aku menyukai jalan kaki ke sekolah. Lalu sekarang aku diminta untuk bersekolah di Jakarta, yang entah mengapa ternyata masih terdengar jauh di telinga. Aku tak berani mengangguk atau menggeleng. Bapak masih meneruskan kalimatnya menjadi sebuah syarat.
“Kamu harus bisa rangking satu di kelas enam nanti. Harus bisa dapat NEM tinggi. Biar gampang masuk SMP di Jakarta. Makanya mulai sekarang kamu harus lebih rajin belajar. Jangan main-main lagi. Apalagi panas-panasan di sawah.”

Napasku saat itu menderu. Bapak dan ibu mulai membatasi hak bermainku. Ada yang terenggut di sana. Namun, label anak penurut yang selama ini begitu dipuja para orang tua mengharuskanku tak berkata apa-apa. Aku masuk ke dalam kamar dan merencanakan ide penumpahan emosi. Esok harinya telah kutetapkan sebagai hari eksekusi.

Pagi hari pertama liburan kenaikan kelas lima. Aku pamit pada bapak sambil menggamit sepeda. Bapak tidak bertanya kemana aku akan pergi. Larangan pergi ke sawah rupanya baru akan berlaku di hari pertama kelas enam nanti. Aku menggenjot sepedaku perlahan meninggalkan rumah. Angin pagi menghembuskan aroma sabun mandi ke belakang. Satu tetes air dari rambut keritingku jatuh di kening. Genjotan kakiku makin cepat. Tak ada niat untuk memanggil teman untuk bergabung. Aku punya misi yang harus segera dilarung.

Sampai jalan pelur terakhir sebelum masuk ke sawah, aku menatap lurus-lurus hijau campur cokelat warna yang terbentang di mata. Kumiringkan sepeda menyandar ke pagar besi rumah orang di sana. Aku berjalan meniti jembatan bambu, lalu tanah merah, lalu tanah berumput, lalu batang kelapa gembus, lalu tanah merah basah, lalu tanah rumput, lalu jembatan kelapa panjang, hingga tiba di tanah merah bawah pepohonan. Mataku langsung tertuju pada benda yang begitu ingin kujumpai sejak semalam. Patok batas Jakarta-Bogor.

Kukeluarkan spidol kecil hitam dari dalam kantong samping celana. Satu spidol biru tua menyembul. Akhirnya kukeluarkan keduanya. Kemudian aku bingung. Aku ingin mencoret kata-kata di sana. Namun, baru kusadar sekarang, kata-kata itu timbul dari bidang datar patok. Pasti tidak akan sulit kucoret jika itu hanya tulisan yang tercetak saja. Emosiku makin meninggi. Tulisan Jakarta itu begitu menyebalkan. Ada semacam nasionalisme kampung halaman yang menyeruak dari dada kecilku saat itu. Aku masih tidak paham dengan maksud bapak. Aku bertanya-tanya tapi belum sempat menemukan jawaban. Apa benar tak ada sekolah bagus di Depok? Mengapa aku harus sekolah di Jakarta? Mengapa aku harus bekerja di Jakarta? Pikiran kanak-kanakku yang teramat jarang pergi keluar kampung tak mampu menjawab pertanyaan itu. Maka kemudian tak hanya spidol hitam yang bergerak mencoreti badan patok itu, tetapi si biru pun ikut serta. Aku membuat patok itu tampak serupa batik bermotif kacau balau. Belum puas, aku mencari batu segenggaman tangan. Begitu kutemukan, langsung kubawa dan kutumbukkan ke patok itu. Kupukulkan batu itu berkali–kali ke patok tanpa arah yang jelas. Hingga akhirnya ujung semen patok itu jatuh ke tanah. Gompal.
Aku pernah begitu benci pada Jakarta. Aku pernah menghancurkan setengah badan patok batas Jakarta-Bogor. Aku terlalu percaya bahwa aku tak perlu sekolah di Jakarta. Aku terlalu percaya Depok masih menjanjikan peluang kerja. Namun, nyatanya kebencianku hanya sebatas melukai patok itu. Aku kemudian meneruskan sekolah menengah pertama dan menengah atas di Jakarta. Meski begitu, kemudian aku kembali kuliah di Depok. Aku ingin berkuliah di kampusnya Indonesia. Aku membelokkan pilihan. Keinginan menjadi dokter kuubah menjadi psikolog hanya supaya aku bisa berkuliah di daerah Depok. Aku ingin kembali tinggal di kampung halaman. Aku ingin pergi sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda.

Sekarang patok itu tidak terlihat di sawah. Patok-patok kecil itu berubah menjadi tugu kecil di tepi Jalan Raya Bogor dan menjadi gerbang besar di ujung jalan Margonda Raya. Kota Depok sekarang bukan kota kecil lagi. Dia mulai digemuki penduduk. Dia mulai ditumbuhi lima mal belanja. Kebencianku pada Jakarta agaknya telah memudar. Entah mengapa, mungkin karena kulihat sekarang Depok telah serupa ibukota. (*)

27 Juni 2011

Hilangkah Tradisi Bercerita?

*Dari #EduStory bersama @IDcerita
Senin 10 Oktober 2011

Mau gabung #EduStory @IDcerita malam ini. Temanya “Hilangnya Tradisi Bercerita”. Benarkah demikian?

Saya masih percaya betul, tradisi bercerita masih ada, tetapi banyak yang berubah bentuk, lebih digital.

Sekarang sudah banyak buku dongeng singkat 7 menit yang mudah dibacakan orang tua atau pengasuh untuk anak-anak.

Dongeng dalam bentuk digital, rekaman, juga mudah diunduh di internet. Warga kota pasti mudah mengakses ini.

Gimana dengan di daerah? Sejumlah tradisi bercerita lisan masih dipertahankan dalam bentuk kesenian daerah atau dongeng simbah.

Beragam sastra lisan adalah bentuk #EduStory juga. Didong, wayang, makyong, atau teater rakyat contohnya.

Sastra lisan ini kebanyakan diperdengarkan untuk usia dewasa, tapi tak jarang juga khusus diperdengarkan untuk anak-anak.

Di Papua, ada “mop” yaitu tradisi bercerita di depan orang-orang, biasanya lelucon. Anak-anak juga sering melakukan ini.

Intinya sih saya percaya diri, tradisi bercerita akan terus ada, selama masih banyak yang peduli pada pendidikan.