Karya Pertama: NOW AND THEN

Benar kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah sebuah keberanian.
Ketika karyamu lahir karena berani, kau akan menjompak-jompak bahagia.
Biarkan mereka yang repot dengan tafsirannya, kau hanya cukup jadi sederhana.

Ini karya pertamaku. Mulanya aku menantang diri untuk ikut dalam Kompetisi Menulis 100% Roman Asli Indonesia yang diadakan penerbit Gagas Media tahun 2010. Aku pilih kategori Classic Romance dan naskahku kuberi judul Lawang. Akhirnya, Karyaku masuk 20 besar. Dan hanya sampai situ, tidak menang juara 1-2-3. Namun, beberapa waktu kemudian ada editor Gagas Media yang mengatakan naskahku berpotensi diterbitkan. Revisi lalala lilili dan diubah judulnya biar lebih menjual katanya, nah… terbitlah novel pertamaku ini di tahun 2012.

  • Judul: Now and Then, Mengetuk Pintu Cinta
  • Penerbit: Gagas Media
  • Tahun terbit: 2012
  • Sinopsis: Novel ini menceritakan kisah cinta Lian si perempuan Cina dan Pras si lelaki Jawa, yang mengalami masalah dalam menyatukan hubungan mereka karena kendala budaya. Latar cerita adalah Kota Semarang, dan setiap bab diberi judul nama-nama tempat di kota itu.

koper

suatu malam seorang gadis berwajah sendu menggeret sebuah koper hitam bersih dari debu
ia masukkan dirinya ke dalam koper bersama kain biru, dua buku, film bisu, dan seikat rindu

koper itu lalu diajaknya bicara:

sampaikan padanya, ia bisa membawamu mendatangiku
aku masih di sini, menunggunya di bawah lampu

14 Juli 2012

Lihat ini…

Ice Age dan Geografi

Hola! Siapa di sini guru geografi?

Tadi saya nonton film Ice Age 4 dan langsung kepikiran, “Wah ini bahan seru banget buat diskusi pelajaran Geografi!” Dari Ice Age 1 sampai 4, itu kan rangkaian cerita proses tumbuh kembang bumi ini. Semua materi ajar geografi ada di situ. Potongan film Ice Age bisa dipakai untuk prolog pembelajaran geografi. Guru lalu memoderatori murid untuk diskusi kelas. Ambil cupilkan film yang bisa jadi bahan diskusi. Misalnya, opening Ice Age 4 untuk topik ‘lapisan bumi’. Guru bisa ajak murid bandingkan teori lapisan bumi dengan adegan si Scratch tupai itu.

Kasih pertanyaan skeptis: Samakah dengan teori yang kamu temukan di buku? Mungkinkah tokoh film itu melakukan hal itu di inti bumi? Kartun. Anak-anak suka itu. Harusnya ini bisa jadi pembuka diskusi yang seru di kelas. Pancing dengan pertanyaan yang membuat murid bernalar. Semacam “Mungkinkah hal itu terjadi?” atau “Bagaimana jika terjadi sebaliknya?” Akhir cerita film Ice Age itu bisa sekali jadi bahan berpikir kritis. Apa yang terjadi selanjutnya dengan bumi?

Menurut teman saya yang seorang geologist, film Ice Age 4 sukses menggambarkan proses pembentukan benua dengan sederhana. Pas untuk anak. Dalam film itu, patahan atau tumbukan lempeng bumi dideskripsikan dengan cepat. Anak dapat visualisasi proses. nah, guru bertugas mendampingi murid untuk selalu skeptis pada adegan film. Misal: mengapa tak ada tsunami saat lempeng bumi patah?

Untuk anak SD, bisa juga Ice Age 4 dipakai untuk belajar sains dasar. Dulu bumi satu benua, lalu pecah, lalu… putar filmnya! 🙂 Hasil diskusi bisa ditampilkan dalam banyak cara. Buat gambar proses; komik lanjutan cerita; presentasi hipotesis geologist cilik.

Tentang benua Atlantis yang hilang! Guru kasih beberapa teori ilmuwan tentang itu, bandingkan dalam film Ice Age 4, biarkan murid yang diskusi.

Apa lagi ya? Ah, guru geografi kreatif pasti bisa cari ide-ide manrik tentang pembelajaran seru di Ice Age itu. Atau sudah ada yang pernah coba belajar pakai film Ice Age ini? Berbagi dong ke guru dan ortu lain di sini.

Belajar Sejarah di TKP

Saat berkunjung ke Kota Lama, Semarang, kemarin, saya hanya berkeliling tanpa mendapatkan informasi yang cukup banyak. Padahal ada banyak bangunan lama yang menarik sekali. Tentu juga ada kisah sejarah yang menarik pula untuk didengar. Anak-anak sekolah seharusnya bisa belajar dari lingkungan seperti ini. Pelajaran sejarah misalnya, tentu akan lebih seru jika diadakan langsung di lokasinya. Saya jadi berpikir, bagaimana ya cara agar tempat bersejarah di suatu kota bisa bermanfaat lebih untuk pendidikan anak?

Ada beberapa yang saya pikirkan waktu itu.
* Mendongeng di bangunan tua
Orang tua atau guru bisa mendongengkan kisah bersejarah dengan lebih dramatis jika dilakukan di lokasi kejadian. Sebaiknya orang tua/guru mencari data dahulu tentang cerita sejarah yang akan disampaikan. Misalnya, cerita diniatkan untuk menjawab kenapa Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang memiliki dua semut besar di atap bangunannya? Nah, pencerita bisa buku cerita atau boneka semut sebagai alat peraga untuk anak di usia TK dan SD. Untuk kelompok yang lebih besar, boleh juga undang pendongeng terkenal untuk bercerita dengan cara yang tentu menarik.

* Anak di usia SMP dan SMA bisa diminta mencari data tentang peristiwa bersejarah yang terkait dengan tempat tersebut. Cari dulu data di buku-buku atau di internet, buat ringkasannya lalu datang bersama kelas ke lokasi cerita. Presentasikan hasil temuan riset sebelumnya di sana. Tentu rasanya akan lebih menarik daripada sekadar presentasi di kelas, kan?

* Murid SMP dan SMA bisa juga ditantang untuk membuat proyek menarik tentang tempat sejarah. Misalnya melakukan rally foto atau film pendek bersama kelompok kelas. Hasilnya akan dibuat pameran dan ditonton di sekolah. Atau ajak murid membantu pemerintah daerah untuk membuat booklet informasi wisata tentang tempat-tempat bersejarah. Tentu lebih asyik belajar dan menghasilkan kreasi nyata untuk daerah kita.

Tentu ada ide lain ya? Yuk, berbagi!