Musikalisasi Puisi Itu Apa?

Saya tidak bisa main alat musik. Makanya, saya selalu kagum jika ada orang yang bisa memainkan alat musik. Apalagi jika mereka anak-anak dan remaja, terlebih lagi murid-murid saya.

Saya tidak pandai menciptakan puisi. Makanya, saya selalu kagum pada penyair yang bisa memainkan kata-kata. Menyusun makna dalam serangkum rangkai lema.

Menariknya, kedua seni itu, musik dan puisi, rupanya mulai banyak berkahwin dan menjelma anak baru bernama musikalisasi puisi. Saya sendiri belum memahami bagaimana sebuah karya bisa disebut sebagai musikalisasi puisi. Saya pikir, sebuah larik puisi yang diaransemen, diberi nada, merupa lagu, itulah sudah disebut musikalisasi puisi. Sayangnya, sebab itulah saya dan murid-murid kalah dalam lomba yang diadakan di suatu sekolah. Rupanya konsep yang ada di benak juri berbeda dengan konsep yang kami pahami. Saat saya dan murid-murid bertanya kepada juri, dengan niat belajar ilmu baru, kami mendapati sebuah pengertian bahwa musikalisasi puisi lebih seperti dramatisasi puisi. Puisi dibacakan, dinyanyikan, dan juga digerakkan. Salah satu juri bilang, “Ini performing art. Kalau cuma bermain musik, apa bedanya dengan ngeband?” Sedikit bingung saya coba mencerna, apa ngeband itu bukan performing art?

Saya teringat Ari Reda, yang karya musikalisasi puisinya begitu saya suka. Mereka membawakannya dengan sederhana, tapi menurut saya itu sudah cukup disebut sebagai transformasi puisi jadi lagu. Pada akhirnya, murid-murid saya yang terbiasa mendapatkan penilaian dengan rubrik yang jelas, harus belajar memahami. Penilaian yang diberikan juri berusaha memenuhi kategori penilaian versi panitia, yaitu: kesesuaian tema puisi dan instrumen musik, penampilan/artistik (kostum, tata rias, penguasaan panggung), penghayatan dan ekspresi, serta kekompakan tim. Perhatikan, ada penilaian artistik panggung di situ. Jadi, saya memahami bahwa musikalisasi puisi yang diinginkan dalam hal ini serupa dramatisasi puisi.

Namun, saya pribadi sudah berbahagia dengan hasil kreasi murid saya. Keberanian mereka menafsir puisi, kemudian mengubahnya menjadi lirik lagu, sangat saya apresiasi. Saya mendapatkan rasa lain ketika mendengar puisi “Cahaya Bulan” Soe Hok Gie. Silakan simak video ( ini ) dan ( ini ) lalu katakan kepada saya, bagaimana saya bisa untuk tidak kagum pada mereka? 🙂

Belajar dari Jepara (1)

Berkat twitter, saya berkenalan dengan Alvin Noor. Ia seorang guru pelajaran komputer di SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah. Maka begitu saya punya acara di kota Kartini itu, saya langsung menyusun janji bertemu dengan beliau. Saya senang berkenalan dengan rekan guru di kota lain. Pasti akan ada banyak hal yang bisa dipelajari. Benar saja, Pak Alvin yang malam itu datang bersama istri dan anak perempuannya, mengajak saya bercerita ke sana ke mari tentang kondisi sekolah di Jepara secara umum. Ketika saya tanya, seberapa melek anak-anak dan guru pada social media, beliau menjawab: masih belum banyak yang menggunakannya sebagai media pembelajaran aktif. Ia juga menceritakan kendala yang dihadapi, tetapi wajahnya yang optimis membuat pembicaraan satu jam kami begitu menyenangkan. Bahkan terlalu menyenangkan sebab di ujung percakapan, Pak Alvin melontarkan satu ide dadakan. Dia meminta saya untuk menjadi guru tamu di sekolahnya. Saya kaget, sekaligus merasa tertantang. Saya iyakan dan bersiap datang ke sekolah pada hari Sabtu, 27 Oktober itu.

Alvin Noor, guru SMAN 1 Jepara, beserta putrinya

Kelas X-4 menjadi teman yang sangat seru di Sabtu pagi itu. Saya berbagi cerita bahwa internet (dalam hal ini twitter) yang sudah memungkinkan saya hadir di tengah mereka. Saya kemudian bercerita tentang nama saya, tentang membaca, juga tentang sastra. Saya katakan pada mereka, beruntunglah mereka memiliki kampung halaman yang menyimpan cerita bersejarah. Jepara, kota tempat lahir Kartini, perempuan yang namanya begitu santer dibicarakan perihal pembaharuan wanita Indonesia. Seharusnya remaja ini bisa yang menghasilkan karya sastra sebab ada segudang hal istimewa di kota mereka.

Berbagi cerita pengalaman belajar di sekolah lain

Saya kutip apa kata Pramoedya, yang pernah membuat novel berjudul Panggil Aku Kartini Saja, menulis itu pekerjaan yang butuh keberanian. Semua bisa menulis, jadi cuma masalah kamu mau menulis atau tidak. Beberapa murid mengangguk-angguk setuju. Saya langsung ajak mereka menciptakan satu cerita bersama. Sebutlah sebuah latihan dasar membuat antologi. Murid di barisan depan saya minta menggambarkan satu binatang apa pun yang pertama kali melintas di benak mereka. Kemudian, kertas digeser ke teman di sebelahnya, lalu biarkan mereka menuliskan satu kalimat yang menceritakan tentang binatang itu. Kertas lalu diteruskan ke teman di belakang mereka. “Bebaskan imajinasi kalian, berceritalah tentang apa saja.”

Murid menceritakan karya cerita berantai mereka dengan penuh percaya diri.

Akhirnya, jadilah sebuah paragraf pendek yang sangat menarik. Murid perwakilan kelompok maju ke depan membacakan karya mereka. Kelas sangat meriah, penuh tawa, mendengar khayalan teman-teman sendiri. Di akhir pembacaan, saya berterima kasih atas apresiasi mereka pada karya yang sudah mereka buat. Saya katakan, beranilah menulis, itu dulu. Mulailah bercerita tentang diri sendiri, kemudian tentang lingkunganmu, kemudian tentang bangsamu. Dua orang murid menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dari kegiatan tadi. Ada sebuah kalimat yang begitu baik dari seorang murid bernama Rizal Maulana, begini katanya: Kita harus berani mengeluarkan unek-unek dalam bentuk tulisan untuk dibaca orang lain. Ah, terima kasih, Jepara!

Video kegiatan pada waktu itu bisa dilihat di sini. 😉
baca tautan: Belajar dari Jepara (2)

Belajar dari Jepara (2)

Cerita berantai selalu menyenangkan untuk dilakukan. Murid-murid kelas X-4 SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah, juga menyukainya. Pada kesempatan lalu, Sabtu 27 Oktober lalu, saya ajak mereka membuat cerita tentang binatang. Murid bergantian menciptakan kalimat bebas yang tetap berkaitan dengan gambar di kertas. Seorang murid mengatakan di akhir kelas, kegiatan ini sangat menarik sebab mereka bisa mengetahui banyak diksi yang beragam. Mereka juga bisa mengenal beragam jenis paragraf dan gaya penceritaan. Lihat saja buktinya di bawah ini. 🙂

Ragam diksi menjadi pengetahuan baru untuk teman sekelas.

Kura-kura atau Penyu?

Kepik

Kisah komedi selalu hadir dalam imaji remaja.

Sapi atau Jenglot?

Kelinci Horor

Seorang murid di kelompok ini mengaku terpengaruh gaya cerita Raditya Dika.

Kucing Garong

Cerita yang sesuai dengan fantasi remaja.

Ikan

Domba

Bisa juga menghasilkan gaya penulisan berita. Ini contohnya.

Kambing

baca tautan: Belajar dari Jepara (1)

Meramu Novel Jadi Berita

Seorang rekan guru bahasa Indonesia di sekolah saya kemarin membuat sebuah penilaian pemahaman sastra yang inovatif. Ia membuat ramuan KTSP dan novel kelas yang tersaji dengan menarik. Rencana Intan, nama guru tersebut, telah kami coba di kelas 11 dan menurut saya, hasilnya begitu menyenangkan untuk dibaca.

Sekolah kami menggunakan novel Arok Dedes sebagai bahan bacaan sastra. Jika dilihat pada KTSP kelas XI, terdapat kompetensi menulis berupa “mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman/ringkasan; menulis ringkasan isi buku”. Membuat ringkasan cerita saja sebetulnya bisa sangat mudah dilakukan setelah murid membaca. Mereka bisa menceritakan ulang dengan bahasa sederhana. Sayangnya, itu sama sekali tidak menantang untuk murid SMA. Lagipula rangkuman isi novel bisa dengan mudah didapatkan di internet. Dari pemikiran itulah Intan menawarkan model penilaian lain.

Murid diajak membuat berita berdasarkan novel yang mereka baca. Tentu saja tantangannya menjadi lebih sulit. Berita itu biasanya aktual, sementara cerita dalam novel Arok Dedes terjadi di masa lampau. Selain itu, siswa jadi harus benar-benar membaca sebelum bisa menemukan unsur 5W 1H pembentuk berita. Tentu saja tidak semua isi novel yang digunakan sebagai sumber berita. Murid dipersilakan memilih bagian yang mereka mau dari bab-bab novel itu. Guru kemudian mengajak siswa mempersiapkan kerangka penulisan. Ajak pula mereka membayangkan bahwa kisah fiksi dalam novel ini benar-benar terjadi serupa fakta.

Kesulitan hanya terjadi pada murid yang enggan membaca, itu saja. Selebihnya, murid-murid pasti bisa mengerjakannya. Guru bisa menilai dua kemampuan dari kegiatan ini: membaca dan menulis. Saya yakin semua sekolah dengan beragam kurikulum bisa menggunakan ini, selama disesuaikan dengan metode belajar murid di kelas. Berikut ini adalah salah satu contoh karya murid yang begitu apik. Saya senang membacanya. Anda jugakah? 🙂

Kelud Meletus, Tewaskan Warga dan Kuburkan Kediri

KEDIRI (18/9) Amarah Bathari Durga kembali meledak. Lagi-lagi ulah ksatria yang berkhianat kepada para dewa. Kemarin pagi, terjadilah letusan besar dari puncak Sang Kelud yang menutupi seluruh Kediri dengan kegelapan abunya yang tebal dan hitam. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa sejumlah tiang api menyembur dari beberapa titik di kawasan pegunungan. Gempa yang besar pun dirasakan oleh rakyat yang ada di kota.

Berdasarkan laporan dari sang Paramesywari, Dedes, yaitu istri Sang Akuwu Tumapel, dikabarkan bahwa Sang Akuwu Tumapel telah menghilang ditelan tanah dalam hujan abu tersebut. Saat ini para pengawal istana masih belum dapat memastikan hilangnya sang akuwu dikarenakan kondisi pasca letusan yang masih berbahaya.

Dedes, yang tak lama lalu baru menikah dengan Sang Akuwu menyatakan bahwa semua ini bermula dari dipindahkannya Patung Bathari Durga kepada Bilik Agung. Maka marahlah Sang Bathari Durga karena Tunggul Ametung dan satrianya telah meninggikan para leluhurnya di atas segalanya.

Saat ini proses evakuasi di kawasan Selatan Kediri telah dimulai, dengan ratusan rakyat yang masih terkubur di bawah abu, baik hidup maupun mati. Keberadaan sang akuwu hingga kini masih dicari, dan para brahmana memastikan bahwa akibat peristiwa ini matahari tak akan muncul hingga tiga hari ke depan. Diharapkan bahwa Sang Akuwu akan selamat.

Ki Jagat Pramoeditya, Harian Kediri

Dave Gregory, Ki Jagat Pramoeditya