kelas kilat #PetisiUN

Tadi ada murid di kelas 10 yang bertanya, “Petisi UN apa sih, Miss?”
Akhirnya saya cerita tentang itu dengan semangat walau suara saya sedang serak. Saya minta Ilya, salah seorang murid untuk mencari info tentang Petisi UN di komputer kelas. Proyektor dinyalakan dan satu kelas melihat petisi itu di papan tulis. Saya ceritakan apa yang salah dengan posisi Ujian Nasional. Thami bertanya, reposisi itu apa? Saat ini UN ditempatkan sebagai standar kelulusan. Nah, reposisi bermaksud menempatkan UN sebagai pemetaan kualitas layanan pendidikan di Indonesia.

Tiba-tiba ada murid menyeletuk canda, “Ah, enakan ada UN. Kan gampang, cuma gitu doang, belajar juga cuma sehari aja.” Dengan gemas saya katakan, “Nah, justru itu UN harus dihapus kalau hanya memanjakan anak yang malas belajar begini!” Anak-anak sekelas tertawa serentak. Saya lanjutkan tuduhan saya mengapa UN gampang buat anak sekolah di kota besar. Anak-anak yang terbiasa dengan akses pendidikan mudah dan didukung dengan guru yang berkualitas, tentu tidak aneh jika bisa mengerjakan soal pilihan yang mudah begitu. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang sekolahnya tidak ciamik?

Seorang murid bertanya kenapa saya suara saya meninggi. “Sabar, Miss,” katanya. Saya bilang pada kelas, saya gemas karena saya tidak ingin kalian atau anak saya nanti masih mendapatkan model pendidikan yang tidak membuat cerdas. Indonesia saat ini menempati posisi rendah kualitas pendidikannya di dunia. Kalaupun petisi ini tidak tercapai sekarang, setidaknya saya, kita, sudah berjuang. Cuma diam dan tidak mendukung jelas tidak akan membuat keadaan lebih baik. Jam pelajaran hampir habis, saya tutup persuasi saya dengan kesimpulan bahwa Ujian Nasional sebagai standar kelulusan itu sangatlah tidak adil! Anak-anak mengangguk setuju.

Petisi Ujian Nasional

Komentar para guru besar dan pemerhati pendidikan yang bersuara lantang tentang Petisi UN dapat dilihat di tulisan Karina Adistiana di sini: Petisi Reposisi Ujian Nasional

Ayo, segera dukung Petisi UN di sini sekarang!

Lala Tak Lagi Sombong

Ini naskah drama pendek yang pernah saya buat dan saya sutradarai untuk pentas drama bulan Ramadhan di Sekolah Dasar. Cocok untuk belajar drama anak usia 6-10 tahun. 🙂

LALA TAK LAGI SOMBONG

Tokoh:
Narator, Lala, Ibu, Bapak, Ibu guru, Bapak guru, enam orang Teman

Layar dibuka. Semua pemain berada di posisi atas panggung.

Narator : Inilah kisah tentang Lala.
Seorang anak cantik jelita.
Sungguh beruntung nasib dirinya.
Sudah jelita, pandailah pula.

Lala : Lala lalala… Lala lalala…
Akulah Lala, si cantik jelita!
Wajahku manis seperti manggis.
Otakku pintar seperti Aljabar.

Narator : Saat di rumah bersama bapak ibu.
Lala terlihat sungguh angkuh.

(Lala berjalan menuju bapak ibu.)

Lala : Assalamu’alaikum, bapak dan ibu.
Inilah Lala putri cantikmu.

Bapak, Ibu: Wa’alaikumsalam, Lala anakku.
Ayo masuk dan tutup pintu.

Lala : Wahai Ibu, lihatlah aku!
Kian hari, kian cantik selalu.

Ibu : Kau memang cantik, anakku.
Maka bersyukurlah untuk itu.

Lala : Wahai bapak, lihatlah aku!
Kian hari, kian berilmu.

Bapak : Kau memang pandai, anakku.
Maka bersyukurlah untuk itu.

Ibu : Jangan sampai kamu lupa.
Semua itu dari Allah Taala.
Bersyukurlah atas semua.
Dengan berdoa sepanjang usia.

(Lala berjalan ke tengah panggung.)

Narator : Lala juga seorang manusia.
Seringkali ia lupa.
Segalanya jadi sia-sia.
Jika ia lupa berdoa.

Lala : Lala lalala… Lala lalala…
Akulah Lala si cantik jelita.
Tak apalah kalau lupa berdoa.
Wajahku tak’kan jadi buruk rupa.

(Lala berjalan menuju bapak ibu guru.)

Lala : Assalamu’alaikum, bapak ibu guru.
Inilah Lala, murid pandaimu!

Bapak, Ibu guru: Wa’alaikumsalam, Lala.

Ibu guru: Ada perlu apa, Lala?
Bermainlah dengan teman-temanmu.

Lala : Saya malas main dengan mereka.
Mereka tak pandai seperti saya.

Bapak guru: Lala, jangan bicara begitu.
Mereka semua adalah temanmu.
Bodoh dan pandai sama saja.
Semua ciptaan Allah Yang Kuasa.

Lala : Ah, saya malas main dengan mereka.
Mereka tak cantik seperti saya.

Ibu guru: Lala, jangan sombong begitu.
Mereka semua adalah temanmu.
Cantik atau tidak sama saja.
Semua milik Allah Yang Perkasa.

(Lala berjalan ke tengah panggung.)

Narator : Lala oh Lala…
Semakin sombong saja dia.
Dengan penuh keangkuhan.
Ia menemui teman-teman.

(Lala berjalan menuju kelompok teman.)

Teman 1 : Hey, kita main kucing dan tikus, yuk!
Teman 2 : Ayo! Aku jadi kucingnya, ya!
Teman 3 : Iya. Aku jadi tikusnya, ya!

Lala : Aku ikut main, ya!
Tapi aku harus jadi kucingnya.
Karena aku paling cantik.
Aku tak mau jadi tikusnya.

Teman 2 : Ah, sombong sekali kamu!
Siapa saja boleh jadi kucingnya.

Teman 1 : Iya, betul itu.
Kalau kamu gak mau, ya sudah
gak usah ikut saja.

Teman 3 : Iya, main sama yang lain saja.

(Lala kesal. Ia berjalan menuju kelompok teman yang lain.)

Teman 4 : Oke, kita main bola ya sekarang!
Teman 5 : Oke, aku jadi strikernya, ya!
Teman 6 : Tapi kita masih kurang orang, nih!

Lala : Hey, aku ikut ya!
Teman 4 : Boleh. Kamu bisa main bola, kan?
Lala : Aku belum pernah sih. Tapi aku pasti
bisa, aku kan pintar.
Teman 5 : Wooo, sombong sekali kamu!
Kamu harus berlatih untuk bisa main
bola.
Lala : Ah, gak usah latihan aku juga bisa.
Aku kan jago!
Teman 4 : Wooo, memang sombong kamu ya!
Kalau mau jago bola, kamu harus
banyak berlatih dulu.
Teman 6 : Udahlah, kita cari teman-teman yang
lain aja yuk!
Teman 4,5: Iyalah! Yok!

(Lala kesal. Ia kembali ke tengah panggung.)

Lala : Kenapa gak ada yang mau main denganku ya?

Narator : Lala bersedih hati.
Ia bingung sekali.
Mengapa tak ada yang mau main
dengannya?
Padahal ia pandai dan cantik jelita?

Tiba-tiba,
Lala mendengar suara ibunya.
Lala mendengar suara bapaknya.
Lala mendengar suara ibu gurunya.
Lala mendengar suara bapak gurunya.

(Ibu, Bapak, Ibu Guru dan Bapak Guru, berada di sisi panggung, seperti bersuara dari awang-awang.)

Ibu : Ingat-ingat, Lala.
Bersyukur atas apa yang kau punya.

Bapak : Ingat-ingat, Lala.
Semua makhluk milik Allah Taala.

Ibu guru: Ingat-ingat, Lala.
Orang sombong tak disukai teman.

Bapak guru: Ingat-ingat, Lala.
Orang sombong tak disukai Tuhan.

Narator : Ingat-ingat, Lala.
Tak ada makhluk yang sempurna.

Lala : (menutup muka sejenak)

Ohh, jadi itulah sebabnya.
Mengapa aku tak berteman.
Ohh, maafkan aku wahai semua.
Mengapa aku menjadi alpa.

Sekarang ini aku berjanji.
Aku tak akan sombong lagi.

Narator : Itulah kisah tentang Lala.
Seorang anak cantik jelita.
Sungguh baik sikap hatinya.
Sudah jelita, tak sombong pula.

Layar tertutup. SELESAI.

Hari Guru yang Lucu dan Haru

Daripada sekadar merayakan Hari Guru dengan upacara dan seremonial yang seadanya, bagaimana jika kita buat acara yang seru dan lucu? Ini contohnya yang dilakukan di sekolah Binus Serpong. Konsepnya, pada hari Guru 25 November, guru diberikan penghargaan oleh murid dan sekolah dalam sebuah rangkaian acara sehari berjudul Teacher Appreciation Day.

Yang paling bikin seru buat saya adalah dresscode guru. Hari itu semua guru diajak untuk memakai seragam sekolah murid. Lalu, guru akan berparade di aula sekolah. Lucu! 😀

Guru pakai baju murid!
Kembali ke masa muda: pakai seragam sekolah murid!

Sepanjang hari belajar, guru dibebaskan dari tugas mengajar. Guru justru menjadi murid yang duduk di bangku murid. Nah, guru mata pelajaran pada hari sebelumnya telah menawarkan kepada murid, siapa yang ingin menjadi guru pelajaran tersebut. Guru akan memberikan materi ajar dan mempersilakan murid untuk menyampaikannya di kelas. Si murid-guru akan mendapatkan pengalaman langsung seperti apa rasanya degdegan di depan kelas, menjelaskan rincian materi ajar, dan mengajak temannya belajar bersama. Ini salah satu cara seru untuk membuat model belajar yang berorientasi pada murid. Bonus serunya untuk murid-guru, dia bisa iseng meniru cara berpakaian gurunya! 😀

Saya dan Sasti
Saya dan Rahma

Di ruang guru, ada sebuah kue untuk para guru yang diberikan oleh kepala sekolah. Sedikit bentuk apresiasi yang sangat menyenangkan untuk membuat guru tertawa. Murid bersama perwakilan OSIS bisa membantu sekolah menyelenggarakan acara ini. Mintakan ide dari mereka, hasilnya tentu sangat manis dan berkesan.

kue dari kepala sekolah

Ini contohnya, murid berinisiatif untuk membuat kartu ucapan untuk guru dan sebuah suvenir yang berguna untuk keperluan mengajar. Saat membaca isi kartu ucapan itu, ah… rasanya sungguh haru. Rasanya seperti dapat surat cinta. 🙂

Kartu ucapan untuk guru

kultwit pagi: #integratedstudies

Tweet Sarapan, Kamis 15 November 2012

#integratedstudies RT @tempodotco: Di SD, Tak Ada lagi Pelajaran IPA-IPS http://bit.ly/ZvKlbo
Pagi-pagi langsung cemas. Semoga wartawan benar bisa sajikan berita “IPA IPS hilang” dengan jelas. Lebih cemas lagi pada orang setengah tahu yang sok tahu pada berita “IPA IPS hilang”. Peleburan ilmu justru tidak dibahasnya.

Radio Buku @radiobuku: @arnellism peleburan ilmu yg bagaimana maksudnya.
Oke, saya ulang twit saya tentang #integratedstudies ya 🙂

Setahu saya, kurikulum baru itu bukan IPA dilebur dengan IPS ya. Meskipun itu tetap bisa dilakukan. Materi IPA dan IPS itu dilebur ke dalam semua pelajaran lainnya. Saya pernah lakukan ini di sekolah kurikulum IB. Oya, IB itu International Baccalaureate, ya. Contohnya gini: Dalam setahun, dalam semua tingkat kelas, akan ada TEMA belajar. Ini jadi dasar guru menyiapkan RPP. Misalnya: tema cawu satu itu Manusia Mengalami Perubahan. Nah, semua materi belajar harus mengacu ke situ. Ketika belajar #integratedstudies, murid ditanya, manusia berubah seperti apa. Tubuhnya! Dari bayi sampai dewasa. Nah, itu IPA. Selain fisik, apalagi yang berubah? Bayi makan dan main, sekarang aku sekolah, nanti gede bikin perusahaan. Nah, itu IPS!

Mari kita baca buku cerita tentang perubahan! Dongeng Cindelaras bahasa Indonesia, juga belajar kosakata bahasa Inggris ya! Menulis! Bisa jadi nilai pelajaran bahasa Indonesia, juga menguji pemahaman nalar science dan social di #integratedstudies tadi.

Radio Buku ‏@radiobuku: @arnellism jadi nama pelajarannya #bahasa kan? diperkenalkan cerita. mencipta cerita?
Kelas bahasa itu wajib ada. Di seluruh dunia itu jadi pelajaran dasar. Sejak SD harus bikin karya tulis, dan sastra! Hmm, nilai moral agama dan PKn harusnya jelas bisa lebur dalam #integratedstudies itu. Tanpa perlu berdiri sebagai matpel sendiri.

Radio Buku ‏@radiobuku: @arnellism bentuk peleburannya jadi apa ya. kayak gak naik kelas setelah gagal debat besar di konstituante. Sejauh ini sih, tetap ada kelas agama terpisah dari pelajaran inti. Susah kan Alfatihah dan Doa Maria dipelajari bareng di kelas?
Radio Buku @radiobuku: cik @arnellism agama itu pelajaran dasar atau ekskul dlm #integratedstudies? ini titik panas antara….. *broker #bukupelajaran. Ini bedanya Indonesia dengan negara lain kayaknya. Agama itu masih dibutuhkan, diminta ortu untuk jadi ilmu dasar di SD.

Radio Buku ‏@radiobuku: @arnellism terus pernah berpikir bahwa state ini dibangun dengan pembajaan jiwa kebangsaan. napa gak jadi #pelajarandasar. Jiwa kebangsaan itu ya. Hmm, anak sekarang banyak yang gak tau Indonesia Raya loh. Ya, harus jadi pelajaran dasar nih.
Radio Buku ‏@radiobuku: @arnellism nah, pelajaran dasar kebangsaan itu adalah mereka “diajari” #sejarahkampung (di desa atau kota). Jalan2 deh. Banyak sekolah di kota (iya, JKT) yang tidak mengajarkan sejarah bangsa. Saya pribadi selipkan itu di sastra deh.

Oya, matematika, konsep perubahan sudah jelas sekali. Belajar tambah kurang kali bagi. Tambah soal cerita, itu sudah #integratedstudies. Bicara hasil, dari pengalaman saya ngajar #integratedstudies di anak SD kelas 1, mereka suka karena tema itu bikin mudah & sederhana.

Radio Buku ‏@radiobuku: @arnellism itu lebih mengena. apalagi banyak mainnya. pelajaran agama leburnya kayak apa ya? *broker #bukupelajaran makin frustasi Belajar nilai agama, lebih tepatnya. Moral itu yang dibentuk, dikaitkan dengan materi belajar. Detil ini harus ditulis di RPP. Ini serunya lagi. Guru harus bikin materi pelajaran sendiri! Gak ada itu LKS umum. Mana bisa anak luar Jawa pake LKS begitu? Nah, broker buku pelajaran harus lebih kreatif lagi! Harusnya mendidik guru, bukan cuma murid! Tantangannya: Sekolah dan Guru harus kerja super kreatif! Susah memang bikin #integratedstudies begini. Ide baik pemerintah ingin terapkan #integratedstudies ini di sekolah negeri saya dukung! Maka, bersiap bikin juga pelatihan guru.

Nah, yang paling bikin kesal dari semua serunya model belajar #integratedstudies ini adalah… ketemu UN lagi di kelas 6! Reaksi datang dari anak sebagai pembelajar loh ya. Konsep #integratedstudies itu bentrok berat dengan UN yang cuma hapalan itu! Jadi, tolong ya Pak Nuh dkk, coba berikan penjelasan pada saya gimana bisa #integratedstudies diujikan dengan model UN non-esai gitu.

Pas! RT @timpakul: @arnellism @radiobuku #bukupelajaran integrasi pembelajaran bisa mix bidang belajar apapun, tergantung kreativitas guru.
Radio Buku ‏@radiobuku: @arnellism @timpakul udah nemu intinya: guru kreatif. soalnya ada UN. ya modar. perjuangan teman2 ya hapus dulu “UN(DP)=LSM” itu.

Nah, bisa juga. RT @timpakul: Mungkin bahasanya #integratedlearning ya…

#doapagi terima kasih atas sarapan kurikulum yang sangat mengenyangkan itu 🙂

Hari Kostum!

Ini satu cara seru untuk remaja menyalurkan ekspresi diri: Pakai kostum di sekolah!

Ya, menurut saya, sekolah perlu mengadakan acara ini satu dua kali dalam setahun. Gunakan hari-hari besar nasional atau internasional sebagai waktu pelaksanaannya. Bisa juga digunakan untuk perayaan ulang tahun sekolah yang menggunakan tema tertentu. Atau, misalnya, sesuaikan dengan salah satu materi pelajaran sosiologi atau seni rupa.

Yang paling bikin seru, ajak semua penghuni sekolah untuk turut serta berkostum ria. Murid, guru, dan semua karyawan sekolah! Sebisa mungkin, gunakan ini sebagai ajang berkreasi menciptakan kostum dengan bahan-bahan yang ada di rumah. Kalau perlu, dilarang menyewa kostum dari rental busana, supaya anak makin kreatif bermain bahan dan mencipta asesoris sendiri.

Ini satu contoh kostum ala Yunani hasil kreasi saya dan murid. Perhatikan detilnya deh! 🙂

 

Dicky dan Kamera

Dicky punya mainan baru. Hadiah dari ayah ketika liburan semester satu. Sebuah kamera! Senang sekali dia. Yah, memang bukan kamera baru. Itu kamera digital ukuran saku yang biasa dipakai ayahnya ketika bekerja. Ayah Dicky sudah membeli kamera baru untuk keperluan kerjanya. Jadi, kamera lama itu pun diberikan kepada Dicky.

Sekarang Dicky selalu membawa kamera ke sekolah setiap hari. Jika ada teman yang bertanya tentang benda apa yang menggantung di lehernya, dia akan menjawab, “Ini kamera digital!” Dia begitu senang melihat wajah teman-teman yang memandangnya kagum. Dia merasa hebat memiliki kamera itu. Semua teman kelas 4 tahu hal itu. Bahkan kakak kelas 5 dan 6 juga cemburu. Dicky jadi satu-satunya pemilik kamera digital di sekolah. Kamera milik sendiri, bukan milik orang tua lagi.

Dengan kamera itu, Dicky bisa memotret apa saja. Segala jenis benda difotonya. Saat pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, kamera itu akan bergoyang-goyang di leher Dicky. Setiap menemukan objek menarik di perjalanan, ia akan berhenti menggenjot sepeda. Difotonya semua benda yang menarik matanya. Sebatang pohon kelapa. Seekor kucing kurus. Seonggok kapal kayu. Sebutir batu karang.

Karena berhenti untuk memotret di perjalanan ke sekolah, suatu hari Dicky pun terlambat datang ke sekolah. Ibu guru menegurnya, dan bertanya mengapa.

“Tidak biasanya kamu terlambat datang ke sekolah. Sampai setengah jam begini. Kenapa, Dicky?” tanya Bu Riana, guru kelasnya.

“Saya… Saya memotret, Bu,” jawab Dicky takut.

Kamera yang menggantung di leher Dicky bergoyang ringan. Bu Riana pun menggeleng pelan. Ia persilakan Dicky masuk ke dalam kelas. Sekaligus Bu Riana memberi isyarat, sepulang sekolah Dicky harus menemuinya. Ada sesuatu yang harus dibahas.

Dicky jadi tidak fokus belajar hari itu. Ia tidak mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Diliriknya kamera yang berada dalam tas sekolah. Kemudian, Dicky mencolek lengan Neli.

“Kamu sudah kerjakan PR IPA untuk besok?” tanya Dicky.

“Oh, sudah. Kenapa?” tanya Neli kembali.

“Aku mau lihat jawaban kamu. Boleh?”

“Kamu sudah kerjakan sendiri belum?”

“Belum, sih.”

“Yah, kamu coba kerjakan sendiri dulu, dong! Baru nanti kamu boleh lihat jawabanku.”

“Hmmhh,” sahut Dicky malas-malasan.

Dicky memerhatikan Bu Riana. Ia sedang sibuk menerangkan soal kepada teman-teman di barisan depan. Dicky memerhatikan Neli. Ia sibuk mengerjakan soalnya sendiri. Saat itulah sebuah ide tercetus di kepalanya. Dicky mengeluarkan kamera digitalnya. Diarahkannya kamera itu ke kertas dalam buku PR Neli, dan… cekrek! Cekrek! Cekrek! Dicky memotret jawaban Neli!

“Yak! Waktunya selesai! Silakan kalian kumpulkan latihan hari ini!” ujar Bu Riana.

Dicky kaget. Ia bereskan kamera cepat-cepat. Dia kembalikan buku Neli ke dalam tas. Ia menengok kanan kiri. Tidak ada yang melihat dia melakukan itu. Ah, aman, pikirnya.

***

Siang hari di ruang guru. Dicky harus bertemu dengan Bu Riana, berbicara tentang masalah datang terlambat hari itu. Bu Riana mengulang pertanyaan yang sama, kenapa Dicky terlambat datang ke sekolah. Dicky pun mengulang jawaban yang sama, karena ia memotret.

“Memotret itu sebuah hobi yang bagus.” Bu Riana melanjutkan kata.

Dicky berbinar mendengar jawaban Bu Riana. Ia merasa keren ketika memegang kamera. Dengan membawa kamera ke mana saja, Dicky merasa hebat.

“Coba, boleh Ibu lihat hasil karya foto kamu pagi ini?”

Dengan sigap Dicky menyerahkan kamera itu pada Bu Riana.

“Ibu lihat saja sendiri. Foto saya bagus-bagus!” seru Dicky bangga.

Bu Riana menyalakan kamera. Ia membuka arsip foto dalam kamera. Sebuah foto tampil dalam layar. Wajah Dicky berseri-seri. Sebaliknya, kening Bu Riana berkerut. Ia mendapati sebuah foto tulisan di kertas buku. Digesernya foto itu ke foto sebelumnya. Sebuah gambar kertas lainnya. Foto berikutnya, lagi-lagi sama. Foto berikutnya, sebutir batu karang. Seonggok kapal kayu. Seekor kucing kurus. Sebatang pohon kelapa.

Jari Bu Riana mengembalikan foto kembali ke foto tulisan di kertas buku itu. Dengan dahi berkerut, Bu Riana menunjukkan gambar itu kepada Dicky.

“Ini apa?”

Dicky tersentak kaget. Itu foto jawaban PR Neli yang ia contek tadi. Tiba-tiba Dicky lemas. Ia tertangkap basah.

“Dicky, memotret itu sebuah hobi yang bagus. Tapi bisa jadi hobi yang tidak bagus, ketika salah digunakan.”

Dicky hanya bisa menunduk malu.

“Sibuk memotret sampai terlambat datang ke sekolah, itu bukan hal yang bagus. Lalu, memotret pekerjaan orang dengan tujuan yang tidak baik, bagaimana menurut kamu?”

Dicky diam saja. Namun, ia sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Dengan kamera ia merasa lebih hebat dari anak-anak lainnya. Bahkan dengan kamera ia jadi lupa waktu dan mencontek pekerjaan teman. Ia sadar, sebuah benda yang berfungsi baik seharusnya digunakan untuk hal-hal yang baik juga.

Dicky mengangkat muka dan berkata kepada Bu Riana, “Maafkan saya, Bu.”

Bu Riana hanya mengangguk. Ia senang Dicky menyadari sikapnya tadi. Ia kemudian tersenyum dan berkata, “Ibu suka foto kapal kayu kamu.”

Dicky pun tersenyum.