Kamu Guru Hebat? Ceritakan!

Image

Saya deg-degan. Tangan saya bergetar. Memegang mic tidak menyelamatkan. Saya tidak ingin menyampaikan ke hadirin Bincang Edukasi 14 kemarin bahwa saya deg-degan. Sebab, dua pembicara sebelumnya, Lestia Primayanti dan Yosea  Kurnianto sudah mengatakan itu juga. Jadi saya simpan saja dan sok asyik mulai menyampaikan materi saya pagi itu: Drama sebagai proses pembelajaran sastra.

Biasanya saya tak pernah ragu menyampaikan segala perasaan saya di kelas. Di depan murid, saya tak menutupi jika sedang merasa cemas, galau, atau senang yang terlalu. Saya pernah mendengar ada guru yang mengatakan jangan terlalu membawa perasaan pribadi dalam kelas. Murid bisa tidak menghormati. Justru menurut saya, perasaan adalah hal penting dan sangat mendukung dalam proses belajar. Apalagi pelajaran sastra.

Bined14

 

Sastra itu hidup. Di kelas sastra, murid dan guru bersama mempelajari hidup yang tentu saja penuh dengan segala rasa. Perasaan itulah yang digali, perasaan diri sendiri terhadap satu masalah hidup, kemudian nanti memahami perasaan orang lain atas masalah hidup lain. Karena itulah, saya membiarkan murid mengetahui perasaan saya di kelas dan saya pun ingin tahu perasaan murid di kelas. Kami menggali perasaan terhadap buku-buku sastra yang kami baca. Kami merasakan hidup.

Lalu di acara Bincang Edukasi itu, kenapa saya menutupi rasa cemas saya? Mungkin saya grogi sebab ada banyak guru-guru hebat di sana. Mungkin juga saya malu, merasa belum jadi apa-apa. Rupanya kecemasan saya ditampar oleh materi presentan berikutnya, Dedi Dwitagama.

Image

Kata Pak Dedi, guru hebat itu sedikit. Guru hebat yang berani menunjukkan diri lebih sedikit lagi. Saya kemudian bertanya-tanya, siapa yang bisa melabeli seseorang itu hebat? Lalu, apa saya sudah bisa dikatakan hebat? Saya curiga kegugupan saya tadi sebab saya tidak percaya diri bahwa  saya pun hebat.

Seharusnya, kita mempunyai kesadaran diri pada apa yang kita capai. Seharusnya, kita meyakini bahwa pencapaian itu baik untuk kita, juga untuk orang lain. Sadar bahwa diri hebat memang bisa mencemplungkan diri pada kesombongan. Kemudian ketika kita bercerita apa saja prestasi yang kita capai, orang bisa nyinyir mengatakan bahwa itu pamer. Namun, di sisi lain, berbagi cerita tentang prestasi bisa juga menginspirasi orang lain. Mana tahu jika kisah hebat kita bisa membuat orang lain ingin melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih hebat.

Saran dari Pak Dedi sebagian sudah saya lakukan. Buatlah blog, ceritakan apa hal menarik yang terjadi di kelas. Berbagilah cerita pelajaran baik yang muncul saat belajar. Yang masih harus dicoba: Sebarkan prestasi dirimu di banyak kesempatan, dan percayalah bahwa itu bisa memberi semangat pada guru lain. Kesimpulannya, kalau kamu guru hebat, maka ceritakan!

Karya Tulis di Sekolah

Apa tujuan membuat karya tulis di sekolah?
Memberikan pemahaman terhadap siswa agar dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan. Mengajak siswa dapat menuangkan ide secara sistematis dan terstruktur.

Materi yang dianalisis bagaimana?
1. Relevan dengan situasi dan kondisi yang ada.
2. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3. Masalah dibatasi sesempit mungkin.

Struktur penulisan karya tulis itu seperti apa?

Bagian Awal, terdiri dari:

1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan
3. Lembar Pengesahan
4. Abstraksi
5. Kata Pengantar
6. Daftar Isi
7. Daftar tabel, grafik, diagram, bagan, peta dan sebagainya

Bagian Tengah, terdiri dari:

1. Pendahuluan
2. Landasan Teori atau Tinjauan Pustaka
3. Metode Penelitian
4. Analisis Data dan Pembahasan
5. Kesimpulan dan Saran

Bagian Akhir, terdiri dari:

1. Daftar Pustaka
2. Lampiran

 

Ada penjelasan lebih lanjut tentang struktur karya tulis?

A. BAGIAN AWAL
1. Halaman Judul; Ditulis sesuai dengan cover depan sesuai aturan yang ada.

2. Lembar Pernyataan; Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan karya tulis ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.

3. Lembar Pengesahan; Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing atau guru pembina, Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing.

4. Abstraksi; Yakni berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan karya tulis dengan maksimal 1 halaman.

5. Kata Pengantar; Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan karya tulis (contoh: kepala sekolah, guru, orang tua, dan teman).

6. Halaman Daftar Isi; Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman.

7. Halaman Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram

B. BAGIAN TENGAH

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah; Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b. Rumusan Masalah; Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c. Batasan Masalah; Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
d. Tujuan Penelitian; Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.
e. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a. Studi Pustaka : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b. Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c. Gabungan : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
f. Sistematika Penulisan; Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Karya tulis ilmiah

2. Landasan Teori; Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.

3. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.

4. Analisis Data dan Pembahasan; Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.

5. Kesimpulan (dan Saran); Berisi Kesimpulan, yaitu jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
Boleh ditambahkan Saran yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.

B. BAGIAN AKHIR

1. Daftar Pustaka; Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan

2. Lampiran; Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.

 

Bagaimana teknik penyajian tulisan itu?

Penomoran Bab serta subbab

Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
II ………. (Judul Bab)
2.1 ………………..(Judul Subbab)
2.2 ………………..(Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
– Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, font 14, tebal.
– Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, font 12, tebal.

Penomoran Halaman

Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…). Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.

Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.

Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.

Format Pengetikan

Kertas ukuran A4
Margin Atas: 4 cm/ Bawah: 3 cm/ Kiri: 4 cm/ Kanan: 3 cm
Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
Jenis huruf (Font) : Times New Roman.
Ukuran / variasi huruf : Judul Bab 14 / tebal + huruf kapital
Isi 12 / huruf normal; Subbab 12 / tebal/ huruf normal


Pada pelajaran apa saja karya tulis ini dipakai?

Apa saja!

Membaca Cerpen Horor di Kelas

Di kelas 10 tadi, seorang anak keburu menyeletuk, “Aduh, aku nggak suka baca cerpen, nih!”  Padahal, satu buku Cerpen Kompas Pilihan 2009 akan kami pelajari selama satu semester ini.  Saya kemudian bilang, saya akan ajak kalian untuk menikmati cerpen pertama dengan suasana horor. Saya tambahkan bahwa mereka harus memperhatikan peristiwa apa yang terjadi dan siapa pelaku sebenarnya dalam cerita itu. Saya minta bantuan kepada murid-murid untuk menciptakan suasana tenang. Satu dua anak bahkan meminta agar lampu kelas dimatikan saja. Ketertarikan mereka pada kisah horor sangat membantu proses belajar kali ini. 

Sebelum dimulai, saya minta setiap anak menyiapkan satu lembar kertas kosong. “Perhatikan setiap kalimat yang akan saya instruksikan.” Murid-murid mulai bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan. Satu anak lelaki yang biasanya selalu berisik berkata, “Ih, kayaknya seru, nih!” Saya lanjutkan. “Buat sebuah lingkaran yang tidak terlalu besar di tengah kertas kalian.” Murid melakukan. “Simpan dulu kertas kalian, kita akan mulai membaca.”

“Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” karya Avianti Armand, itulah cerpen yang kami baca berantai. Saya minta setiap anak membaca satu paragraf, bergiliran dengan teman di sebelahnya. Sementara yang lain wajib diam dan menekuri buku masing-masing. Satu per satu murid membaca dengan gaya pembacaan mereka masing-masing. Satu suara pembaca dan kesepian kelas membuat suasana menegang. Sesekali ada cekikik tawa tertahan dari beberapa anak ketika menemukan diksi yang menurut mereka menggelikan.

Cerpen selesai dibaca. Napas terhela. Langsung saya katakan, “Tentu ada kesan yang tercipta setiap kali kita selesai membaca karya sastra. Sekarang, ambil kertas yang bergambar lingkaran tadi. Tuliskan di dalam lingkaran itu, satu kata yang terlintas di otak kalian, yang mewakili perasaan kalian setelah membaca cerpen tadi.” 

Beberapa anak terlihat kebingungan. Saya persilakan setiap anak untuk menuliskan apapun perasaan yang mereka rasakan usai membaca cerpen tentang pembunuhan itu.

Image

Beberapa murid saya tembak untuk berbagi. Ada yang bilang, rasanya aneh. Mengapa aneh, tanya saya. Si murid menjawab, tokoh anak kecil bernama Radian yang menggambar lukisan seram itu sangat aneh.

Saya tersenyum dan berkata, “Jangan-jangan, aneh itu sebab kamu menilai dari sudut pandang kamu. Bagaimana jika kamu yang menjadi Radian?” Kelas saya ajak membayangkan, apa rasanya kalau menjadi tokoh. Ini yang harus kita lakukan ketika menganalisis cerita. Kita perlu melihat dari sisi tokoh sehingga nanti kita bisa memahami mengapa konflik bisa terjadi. Setelah itu, kita bisa gali apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis. Juga, adakah nilai-nilai yang bisa kita ambil dari cerita horor ini?

Maka saya ajak murid untuk menjadi Radian, anak kecil yang dianggap aneh tadi, sebab diduga telah membunuh ayahnya. Saya minta mereka melakukan kalimat yang dituliskan sang pengarang di ujung cerita. Begini kutipannya:

Di batas paling bawah dari kertas, tertulis dengan huruf-huruf besar yang mencang-mencong: PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN

Bagaimana cara membuat tulisan yang mencang-mencong? Saya berkata, “Kamu menjadi Radian. Lakukan apa yang Radian tulis “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” itu di bagian bawah kertas kalian, dengan menggunakan tangan yang tidak biasa kalian gunakan untuk menulis sehari-hari.” 

Riuh suara murid mencoba. Murid-murid berkomentar: gampil, aneh, susah, geregetan, biasa saja, kok serem hasilnya. 

Image

Image

Mungkin itu rasanya ketika kita memahami tokoh. Aneh, membingungkan, atau mungkin malah biasa saja. Perasaan menjadi tokoh itulah yang perlu kita gali dalam membaca sastra sehingga nanti kita bisa paham kenapa sebuah cerita mesti ada.