Membuat Naskah Pidato berdasarkan Cerpen?

Ini satu contoh tugas integrasi antara materi menulis naskah pidato dan materi pemahaman sastra. Saya coba lakukan ini bersama siswa kelas 10. Dengan menggunakan buku antologi Cerpen Pilihan Kompas 2009, guru memilih beberapa cerpen yang bisa dijadikan dasar penulisan naskah pidato. Siswa akan menjadi salah satu tokoh dalam cerpen yang mereka pilih. Misalnya, Asia Soenargo, murid saya, memilih cerpen “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” dan membuat pidato pledoi Sang Ibu. Dia menghayati tokoh dan kemudian menuliskan pembelaan dirinya dalam peristiwa pembunuhan suaminya. Hasilnya luar biasa menarik! đŸ™‚

Pidato Pembelaan Ibu Radian dalam pengadilan atas pembunuhan Ayah Radian

“Saya tidak bersalah”

Selamat siang, saudara-saudara sekalian. Hari ini saya akan menyatakan bahwa saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah atas pembunuhan suami saya. Saya telah melakukannya, tetapi saya tidak bersalah atas hal itu. Saya tidak merasa bersalah karena saya hanya melakukannya untuk membela diri saya sendiri.

Pembunuhan ini hanya saya lakukan untuk membela diri saya sendiri. Suami saya telah menganiaya saya selama bertahun-tahun. Tentu saja, sudah hal yang layak dan wajar ketika suatu hari emosi saya meledak dan membunuhnya. Hal yang terus ditahan, lama-lama tidak akan bisa dibendung lagi. Hari itu, saya sudah tidak tahan lagi. Selama ini, saya tidak bisa melapor ke siapa-siapa. Saat saya menceritakan penganiayaan yang dilakukan suami saya terhadap saya pada ibu dan bapak saya, hal itu yang mereka katakan. Saya tidak punya pilihan lain. Selain itu, ia juga telah mendesak dan menganiaya anak saya, Radian. Radian juga anaknya, tetapi ia tetap berlaku kasar kepadanya. Jujur saja, saya takut. Saya takut akan apa yang akan terjadi kepada Radian apabila pada suatu saat nanti, saya yang meninggal terlebih dahulu daripada suami saya. Saya terus bertanya kepada diri saya sendiri tentang hal yang mungkin terjadi kepada anak saya, dan kalau saya tega membiarkannya terjadi kepada anak saya sendiri. Saya tidak ingin Radian mengalami hal buruk seperti saya. Saya khawatir akan kesehatan mental anak saya nanti. Ia masih muda, tetapi masih bisa mendapatkan trauma yang dapat melekat kepadanya bertahun-tahun nanti. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bukankah sudah tanggung jawab orang tua untuk menjaga anaknya? Suami saya tidak dapat melakukan hal itu. Oleh karena itu, tentu saja saya harus melakukannya dengan lebih baik lagi untuk Radian. Saya harus melakukannya.

Saya memang menyesal. Mungkin saja ia dapat berubah dengan cara selain kematian. Mungkin saja ia bisa berhenti minum-minum dan menjadi sosok ayah untuk Radian. Oleh karena itu, saya hanya meminta keringanan. Siapa yang akan menjaga Radian nanti? Saya tidak mau anak saya sendirian tanpa orang tua. Ia masih muda. Saya tidak mau ia kehilangan kedua orang tuanya oleh karena kematian. Jangan eksekusi saya. Selamat siang. Terima kasih.

Temani Aku Bunda

Pukul 8 pagi, Sabtu 6 April lalu, saya sudah ada di Epicentrum XXI Jakarta. Saya datang untuk menonton “Temani Aku Bunda” bersama Kresha Aditya dan Deta Ratna Kristanti dari Bincang Edukasi. Suasana ramai oleh orang-orang yang sering terlibat di acara pendidikan. Kami tertawa satire atas pertanyaan kenapa yang datang orang-orang ini lagi. Seharusnya acara pendidikan ini ditonton juga oleh para pejabat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

IMG-20130406-03982

Temani Aku Bunda adalah sebuah video dokumenter. Footage video diambil oleh Irma Winda Lubis, seorang ibu yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Ia dan suami berjuang untuk anaknya, Abrar, yang terintimidasi oleh pihak sekolah SD yang menyuruh Abrar untuk memberikan jawaban Ujian Nasional kepada teman-temannya. Anda harus saksikan sendiri video ini dan lihat betapa mengenaskannya orang dewasa (guru dan kepala sekolah) menyuruh anak untuk berbuat jahat. Ada rekaman jelas bagaimana guru meminta anak-anak murid  pintar untuk membuat kesepakatan untuk merahasiakan kecurangan yang akan berlangsung di ujian esok harinya. Gila, sekolah mendoktrin anak kecil untuk tidak jujur! Menyontek jelas perbuatan curang. Dan kecurangan itu diajarkan di sekolah? Anda bisa bayangkan sendiri, apa jadinya generasi mereka nanti. Generasi sakit.

IMG-20130406-03984

Jika Anda berminat untuk memiliki DVD video ini, atau mengadakan kegiatan nonton bersama dan diskusi, silakan hubungi kampunghalaman.org. Video ini perlu ditonton oleh murid, guru, orang tua, pihak sekolah, dan semua yang memang peduli pendidikan yang jujur.

IMG-20130406-03983

Ujian Nasional masih tidak membawa keuntungan jelas untuk bangsa ini. Reposisi fungsi Ujian Nasional mesti dilakukan segera. Cek laman petisi UN ini dan beri dukunganmu untuk pendidikan Indonesia!

IMG-20130406-03990