Kaitan Sains dan Seni : Diskusi MLI 26 Juni 2013

Rabu lalu, ada kegiatan diskusi bulanan MLI (Moedomo Learning Initiative) di perpustakaan ITB (Institut Teknologi Bandung). Topiknya menarik, Kaitan Sains dan Seni, yang dibahas oleh Prof. Susanto Imam Rahayu, Phd. (FMIPA Kimia ITB). Sambil mendengarkan penjelasan beliau, saya mengetik twit bertagar #SainsdanSeni. Catatan di bawah ini bersumber pada pembicara dan hadirin dalam diskusi yang sebisa mungkin saya tuliskan dalam bahasa mereka, atau saya singkat dalam bahasa saya sendiri.

Susanto: Scientist and Artist itu mirip-mirip. Scientist is an Artist. Banyak ahli sains yang seorang seniman. Teknologi berbeda dari sains, teknologi lebih tua dari sains. Kesamaan scientist dan artist adalah keduanya sama-sama menggunakan kreativitas dan mencari kebenaran. Artist dan scientist terjangkiti penyakit yang sama, menyendiri untuk menemukan hasil karya. Hasil kerja scientist dapat diulang. Otokritik orang dapat memperbarui hasil karya. Artist tidak begini. Scientist mengolah yang nyata menjadi abstraksi. Artist mengolah yang abstrak menjadi sesuatu yang nyata. Sayangnya sekarang, anak-anak sekarang belajar sains dengan dry. Kering. Cuma hitung-hitungan tanpa tahu arahnya kemana. Ada kisah, Einstein kalau lagi pusing, dia akan main musik dulu. Einstein pun sebut itu bekerja.

Iwan Pranoto (Matematika ITB): Apa itu eksak? Rupanya ilmu sains tidak se”eksak” bayangan orang awam. Pemisahan sains, seni, humaniora, menyebabkan anak-anak melihat sains itu superior dibanding ilmu lain. Ini bahaya!

Susanto: Art erat kaitannya dengan ritual keagamaan. Ada tarian, lagu, musik. Itu sejak dahulu memang begitu. Dulunya art dan sains memang menyatu. Namun, perkembangannya jadi terpisah karena ada perbedaan penekanan kajian. Sains mencoba menjawab, the real world itu ada atau tidak? Pikiran orang sains begini ya? Itulah objektivitas, walau sifatnya tidak absolut. Makanya ada penelitian berulang-ulang, untuk menguji the real world tadi.

Susanto: Tadinya musik hanya musik, persembahan untuk Tuhan, macam Bach begitu. Makin ke sini, musik jadi ekspresi perasaan. Itu sebabnya kita bisa kebawa perasaan saat mendengar musik sekarang, karena musiknya memang mengandung perasaan komposernya. Ada joke: Makin nggak berguna, itulah art.

Imam Bukhori (Seni Rupa ITB): Seni rupa dianggap anomali dalam kampus sains. Hmm. Tak ada profesor Seni Rupa atau arsitektur karena untuk menjadi profesor itu harus memenuhi pengujian ala sains. Padahal secara keilmuan, banyak seniman, desainer, arsitek, yang sudah pantas menyandang gelar profesor. Dalam dunia akademis, bisa menggambar tak lantas bisa menjadi arsitek/seniman. Harus belajar sains juga. Cara bekerja seniman itu partikular sekali. Di masa depan, sangat penting sains dan seni bersatu. Contohnya: gadget. Nggak bisa itu orang sains dan orang seni kerja sendiri-sendiri. Perkembangan hidup dunia butuh kemajuan keduanya bersama! Seharusnya kampus teknik punya mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Budaya Dasar sebab itu penting sekali.

Susanto: Ujian Nasional itu menjadikan pelajaran hanya rumus-rumus, tanpa keindahan sama sekali. Tantangan di Indonesia, kita tidak punya tradisi akademis yang mapan. Pendidikan sarjana harusnya tidak mengkotak-kotakkan ilmu. Sayangnya di Indonesia masih begitu. Dilema kita: sarjana S1 kok belum bisa apa-apa? Harusnya jangan aneh jika ketemu S1 Kimia, lalu berakhir jadi guru besar Ekonomi. Pendidikan harusnya begini. Dulunya semua sains bersatu. Tapi makin ke sini jadi sendiri-sendiri. Fisika, Kimia, Bio, Math, tak bersatu. Bahayanya, pengkotak-kotakan sains ini malah menyempitkan kajian untuk mensejahterakan manusia. Dari pengalaman Susanto, di Amrik tahun 75 belajar Kimia tuh baru mulai di kelas 3 SMA. Jadi kebayang, wajar dong ya anak-anak sekarang megap-megap ketemu Kimia di kelas 10. Hmm. Culture dan seni harusnya masuk di pelajaran sekolah. Bukan sebagai unit ekskul saja. Tapi keberadaan UKM budaya dan seni di kampus teknik (ITB) sangat patut diapreasiasi sebagai keseimbangan belajar sains dan seni.

Hendra Gunawan (Matematika ITB): Menurut Pak Susanto, matematika itu lebih dekat ke sains atau ke seni?
Susanto: Matematika justru lebih dekat ke bahasa. Bahasa untuk memproses informasi. Hmm, kenapa ada kebanyakan fakultas atau jurusan kuliah? Karena masyarakat membagi pembagian lahan kerja. Lupa esensi.

Hadirin (mahasiswa): Dukun tradisional itu scientist bukan?
Susanto: Dukun bukan scientist karena dia hanya pengguna, tidak mencari tau penyebab kenapa obat bisa berguna.

Hadirin (mahasiswa): Kenapa ya waktu di sekolah dulu pelajaran seni kadang terasa nggak asyik?
Susanto: Seharusnya tahun pertama kuliah justru diajar para guru besar! Bukannya oleh dosen-dosen muda. Mahasiswa muda tidak percaya diri dengan pilihannya, dosen muda masih tidak percaya diri juga, yang terjadi adalah kebingungan. Justru kehadiran guru besar mengajar mahasiswa tahun pertama itu memberi kepercayaan diri untuk belajar terus.

Iwan Pranoto menutup diskusi: Di sini, sains hanya dipelajari sebagai fungsi, lupa esensinya bahwa ada unsur seni untuk bersenang-senang. Kalimat penutup diskusi dewasa ini adalah seperti seks, sains seharusnya sering dikerjakan bukan untuk fungsinya.

Mencari Yang Baru di Seminar Sastra

Sudah lama saya tidak mengikuti kuliah sastra formal. Terakhir lulus S1 tahun 2007, dan setelah itu tak pernah belajar akademis bersama dosen. Makanya ketika ada kesempatan untuk mengikuti seminar sastra, saya bersemangat sekali. Saya yang haus ilmu kemudian berkunjung ke Bandung untuk mengikuti Seminar Internasional Sastra Bandung 2013, pada 11-12 Juni di Hotel Majesty.

IMG-20130611-00074

Dari seorang panitia saya tahu bahwa acara ini ingin mengajak banyak orang untuk menulis, bukan hanya mendengar sebagai peserta. Seratusan orang yang kebanyakan dari Balai Bahasa dan dosen universitas di seluruh Indonesia pun hadir sebagai pemakalah. Sisanya, dua puluhan orang sebagai peserta. Hanya tiga peserta yang adalah guru sekolah, termasuk saya.

Saat itu saya merasakan sekali semangat di dada, dan harapan ingin menemukan ilmu yang baru. Beberapa di antaranya memuaskan, saya mendapat pengetahuan yang membuat saya tersenyum dan menyisakan diskusi panas. Namun, sisanya, para pemakalah hanya sekadar membaca tulisan di layar, sekadar bicara tanpa memberikan ilmu baru. Di hari kedua bahkan acara dipadatkan oleh panitia, sehingga ada enam pemakalah yang melakukan presentasi dalam waktu satu jam. Sungguh tidak memuaskan jika acara ini dimaksudkan sebagai ajang tukar dan sebar ilmu.

Jadi, saya tuliskan saja di bawah ini, sejumlah ilmu yang baru buat saya, dan menyenangkan untuk dibicarakan lebih lanjut.

Mahsun, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Sastra: Geosastra, kajian sastra bandingan yang melihat dari kajian geografis dan historis suatu teks. Mahsun kemudian membantah pendapat Levi Strauss “perubahan cerita di beda wilayah itu terjadi akibat dari produk imajinasi” dengan “perubahan cerita terjadi sebab adanya kesamaan asal geografis suatu cerita.”

Aquarini Priyatna, Universitas Padjajaran: Narasi autobiografis mampu membuka ruang berdialog antar perempuan. Dia menganalisis bahwa wacana seksualitas sudah ada sejak 1959 di Indonesia melalui novel berbahasa Sunda berjudul Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito. Perempuan yang bernarasi juga menciptakan fragmentasi dan koherensi dalam hidup, yang mirip dialami perempuan lain juga.

Zamzam Hariro, Kantor Bahasa Provinsi NTB: Novel Alice’s Adventure in Wonderland sudah dialihwacanakan dalam bahasa Sasak. Interpretasi bahasa muncul dan terjadi perubahan konteks yang tidak sesuai konteks lokal.

Maimunah, FIB Univ Airlangga Surabaya: Gender performativitas dalam film Betty Bencong Slebor (1978). Dengan menggunakan kajian metode penelitian kualitatif dan teori Queer terutama gender performativity oleh Judith Butler, hasilnya adalah dalam film ini terdapat upaya melawan hegemoni patriarki. Betty Benyamin menjalani the process of selfhood melalui majikan perempuannya. Betty juga menunjukkan performativitas yang ekonomis. (Sepulang dari seminar, saya menonton film ini lewat youtube dan mencocokkan hasil kajian Bu Maimunah. Menarik sekali.)

Akbar Aria Bramantya, Universitas Pendidikan Indonesia: Kakeknya adalah seorang penutur jangjawokan ngaleungit, sebuah mantra masyarakat Sunda yang digunakan untuk menghilang. Kalimat mantra itu pendek, ada campuran bahasa Sunda Cirebon dan Jawa, serta bernuansa Islami. (Kajian mahasiswa ini membuat saya berpikir untuk menjadikannya novel kedua.)

Melani Budianta dan Budi Darma

Di Seminar Internasional Sastra Bandung (SISBA) 2013 lalu, akhirnya saya berkesempatan bertemu lagi dengan Melani Budianta, dan bertemu pertama kali dengan Budi Darma. Saya senang memperhatikan cara mereka menyapa hadirin. Bu Melani menggunakan “teman-teman” sementara Pak Budi menggunakan “Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang terhormat”.

Melani Budianta menyampaikan “Efek Hermione: Menjembatani Sastra dan Gerakan Pemberdayaan” sementara Budi Darma membahas “Psikologi dan Sastra”.

melani

budi darma

Kakak

Percakapan saya dan Cindy (6 tahun), anak rekan guru, dalam mobil ortunya yang mengantar saya pulang seusai acara sekolah.

Cindy: Kakak rumahnya di mana?
Saya: (senyum girang dipanggil kakak) Dekat sekolah Binus.
Cindy: Kalo ke sekolah tinggal jalan kaki ya?
Saya: Iya, dekat banget sih.
Cindy: Kakak di Binus jadi guru apa murid?
Saya: (senyum girang dan bahagia, hampir lupa menjawab) Oh. Jadi guru.
Cindy: (bengong sambil mengamati saya yang senyum-senyum terus)

😀

Indonesian Culture Week 2013

Di sekolah internasional yang kini banyak menjamur di kota besar di Indonesia, kegiatan menumbuhkan kesadaran pada anak tentang budaya adalah sesuatu yang harus dilakukan. Ini salah satu contoh yang bisa ditiru: mengadakan pekan budaya Indonesia.

Anak murid dilibatkan langsung sebagai pengisi acara. Mementaskan tarian tradisional dari suku lain tentu menciptakan pengalaman belajar yang menarik.

Image

Beberapa minggu sebelum hari H, murid berlatih dan mengalami proses belajar budaya secara langsung.

Image

Murid diajak mengenal pakaian daerah dengan cara mengenakannya. Kesadaran muncul ketika mereka bisa berkata bahwa baju daerah itu keren.

Image

Buat Apa Sekolah?

Suatu malam, saya bersama dua teman zine ini nongkrong bareng. Kami ngobrol macam-macam, tapi ada satu cerita yang paling melekat sampai saya pulang. Salah satu teman saya menceritakan betapa parahnya sekolah SMP dia dulu. Seberapa parah?  Mari ikut saya membayangkan. Di sekolah dia dahulu, daerah Tangerang udik di awal tahun 1990-an, kegiatan berantem itu adalah semacam kegiatan rutin serupa upacara bendera. Hampir tiap hari ada saja anak yang berantem fisik habis-habisan. Tawuran antar kampung dengan senjata tajam kadang-kadang masuk ke dalam area sekolah. Bayangkan cerita ini juga: Ada anak yang terancam tidak naik kelas, ia justru membawa bapaknya datang ke sekolah. Si bapak akan mendatangi Bu Guru dengan membawa golok, mengancam supaya anaknya bisa naik kelas. Ini lagi yang lebih gila: Anak-anak itu biasa mempertontonkan kegiatan seks di kelas. Bukan nonton video porno, tapi nonton langsung temannya berbuat seks di kelas!

Saya tahu ada banyak hal ajaib yang bisa muncul di sekolah, tapi yang seperti cerita teman saya itu… wah itu sangat gila. Saya langsung berpikir, buat apa sekolah kalau kelakuan masih barbar begitu? Saya syok sekali membayangkan sebuah institusi pendidikan yang seharusnya mengajarkan moral justru malah jadi tempat pembangkangan moral. Sekolah menjadi tidak ada artinya. Saya tanyakan pada teman saya itu, bagaimana kondisi sekolah itu di tahun-tahun sekarang? Kabarnya, fasilitas sekolah sudah lebih bagus, pendidikan juga sudah lebih baik. Tapi saya curiga, kehancuran moral di sana cuma berubah bentuk, sebab si teman ini bercerita bahwa sekolah itu berdiri dekat lokasi rumah bordil yang diamini warga sekitar.

Fungsi Sekolah

Semua orang sudah paham bahwa sekolah adalah tempat mendidik orang. Kebanyakan anak di dunia akan memasuki institusi formal semacam ini, sejak kecil usia 6 tahun hingga usia sebelum 20. Kemudian sekolah dilanjutkan lagi ke institusi lanjutan bernama universitas. Sejak anak lahir, orang tua biasanya sudah memikirkan adegan “menyekolahkan anak” ini. Begitulah, sekolah jadi sebuah keharusan dalam hidup.

Dulu sekali di masa sebelum Masehi, anak belajar hidup dari orang tuanya di rumah. Namun kemudian, orang tua dirasa tak mencukupi bekal ilmu anak. Ada ilmu yang perlu didapatkan dari orang lain. Muncullah sekolah, sebuah konsep sederhana berupa menggabungkan beberapa orang yang butuh ilmu lebih dalam suatu tempat. Kata ‘sekolah’ itu sendiri berasal dari bahasa Yunani  σχολή (scholē) yang artinya ‘masa senggang’ atau ‘kemewahan’. Arti itu berkembang menjadi ‘sekumpulan orang yang mendapat pendidikan dari seorang guru’. Di masa Socrates, nyatanya memang hanya orang kaya yang bisa mengisi masa senggangnya dengan berguru ilmu baru. Sementara anak lainnya mesti bekerja dan berguru pada orang tua sendiri.

Sekolah dalam bentuk formal kemudian berkembang di banyak kebudayaan kuno seperti Yunani, Roma, India, dan Cina. Kebudayaan Islam juga mulai memunculkan madrasah di abad 9 Masehi. Semuanya punya prinsip dasar sama, menciptakan sebuah sistem yang mengajarkan pendidikan dan pengetahuan untuk generasi penerus. Bentuk pengajaran dari sistem itu adalah anak akan diajarkan ilmu matematika, ilmu alam, ilmu sosial, dan tambahan ilmu sesuai promosi setiap sekolah.

Kembali lagi ke cerita teman saya tadi, jadi apa fungsi sekolah jika di dalamnya seorang anak tidak mendapatkan ilmu pembentukan moral? Memang anak tetap mendapatkan sesuatu, setidaknya ilmu berhitung dan pengetahuan umum. Anak dapat banyak teman karena memang sekolah menjadi tempat mengumpulkan orang. Namun, kalau sekadar tahu ilmu umum, anak bisa saja mendapatkannya lewat koran, buku, atau internet. Tak perlulah bersekolah formal.

Saya jadi teringat Septi Peni Wulandari, teman yang baru saya kenal di suatu acara pendidikan. Ia adalah seorang perempuan mandiri berlabel ibu rumah tangga profesional (cek www.ibuprofesional.com). Ia bersama suami mendidik sendiri tiga orang anaknya di rumah. Bukan homeschooling, melainkan home educating, lebih dari sekadar bersekolah di rumah. Darinya saya tahu, bukan berarti institusi sekolah formal tidak berguna, tapi pendidikan keluarga adalah yang paling penting untuk mengembangkan karakter anak. Ia bahkan menciptakan sendiri kurikulum yang harus dijalankan anaknya di rumah, dengan jadwal yang teratur layaknya di sekolah formal. Hasilnya, dua orang anaknya yang berusia belasan sudah menjadi pengusaha dan bahkan bisa memberi pekerjaan warga sekitar rumahnya.

Dari cerita teman-teman itu saya belajar lagi, pendidikan yang terpenting tetaplah berasal dari rumah. Pendidikan sekolah hanya pelengkap. Ilmu pengetahuan itu penting, dan ilmu moral karakter itu lebih penting. Karena kalau cuma sekadar berseragam dan berkumpul di kelas, hmm… buat apa sekolah?

*artikel ini ditulis untuk zine SlaveMade #2