Berpidato sebagai Tokoh Novel Bumi Manusia

Sekolah yang beruntung punya fasilitas buku, serta kemapanan materi peserta didik, mesti mencoba menggunakan model pembelajaran sastra ini. Ini satu contoh yang baru saja saya coba lakukan bersama murid kelas 12 SMA. Kami membaca novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Murid-murid menganalisis cerita, mencoba memahami jalan pikiran tokoh, kemudian mencoba menyuarakan pikiran tokoh dalam bentuk pidato.

Objektif yang ingin dicapai dari pembelajaran ini jadinya meluas. Tidak hanya murid memahami intrinsik dan ekstrinsik novel, tetapi juga memahami pidato. Saya mengembangkan ini dari objektif KTSP, yang dipadukan dengan bahan sastra kelas. Sebagai pengantar, murid digiring untuk memahami pidato melalui contoh langsung. Kebetulan sekolah ini mempunyai komputer kelas dan proyektor, maka tak sulit untuk menampilkan video pidato. Saya ambil contoh pidato Obama dan Oprah saat “50th anniversary celebrations of Martin Luther KIng’s I Have a Dream”. Topik anti rasisme bisa mereka gunakan sebagai bahan inspirasi sebab temanya serupa dengan masalah apartheid dalam Bumi Manusia. ¬†

Dari video ini  mereka belajar, bagaimana struktur pidato yang baik, bagaimana cara menyampaikan argumentasi dalam pidato, apa metode pidato yang pas untuk diri mereka, juga bagaimana menyampaikan persuasi yang baik dalam pidato. Dari situ, mereka bisa dapat gambaran saat mengerjakan naskah pidato mereka sendiri. Oya, tugas ini bisa dibuat tugas berpasangan, satu orang membuat naskah dan satu orang lagi yang akan membacakan pidatonya.

Image

May Marais (Arintha Vysistha) dan Jean Marais (Ardiya Nugraha)

Supaya lebih menarik, ajak murid untuk menggunakan kostum tokoh ketika hari pembacaan pidato tiba. Penilaian kostum ini dimasukkan juga dalam rubrik penilaian. Ini kegiatan super asyik! Murid akan sibuk menentukan pakaian dalam lemari mereka yang sesuai dengan karakter tokoh. Murid bisa asyik membayangkan, dan bahkan mengubah dirinya menjadi tokoh cerita. Kostum ini tentu juga berguna untuk membuat mereka lebih menghayati peran ketika berpidato. Murid lain yang menonton bisa juga saling mengomentari, sesuaikah kostum tokoh itu seperti deskripsi dalam cerita?

Image

Herman Mellema (Pangeran Edyana Putra), Nyai Ontosoroh (Aulia Sabrina), Minke (M. Ryan Dirgantara), Annelies Mellema (Sellina Windri), Robert Mellema (James Hendry)

Dari apa yang sudah terjadi, rupanya murid-murid bisa “serius tapi santai” ketika melakukan pidato ini. Ketegangan berbicara di depan orang tentu saja masih ada. Namun, saya yakin mereka menikmati proses belajar ini. Ada Minem yang tertawa-tawa karena berusaha melafalkan logat Jawa, ada Jean yang tak paham benar cara melafalkan bonjour, ada juga Robert Mellema yang begitu dingin menyuarakan kebenciannya pada pribumi. Kelas jadi menyenangkan. Murid-murid yang menyimak jadi turut belajar juga dari tokoh yang nyata ada di depan mereka.

Jika kamu menggunakan novel untuk belajar sastra di kelas, kegiatan ini wajib dicoba! Seru!

Anak Telanjang di Kelas

Jadi, begini situasinya:

Seorang guru perempuan baru saja masuk ke kelas 10 setelah pelajaran olahraga. Terlihat sebagian murid perempuan dan lelaki sudah ada di sana. Beberapa merapikan pakaian olahraga, beberapa menyisir rambut, bersiap untuk pelajaran berikutnya. Tiba-tiba terdengar genjreng gitar dari barisan belakang. Si guru menengok, dan ia melihat seorang anak lelaki berdiri di sana, memakai baju seragam. Gitar berada di depan tubuhnya. “Oh, no!” kata si guru. Si anak lelaki memakai baju seragamnya, tetapi tidak celananya. Si guru menegur, meminta si anak memakai celananya segera. Lalu, si guru berbalik, menyiapkan papan tulis. Tiba-tiba gitar terdengar lagi. Rupanya si anak ini masih juga bermain dengan gitarnya, dan belum memakai celananya. Teman-teman lain mulai memperhatikan dia. Si guru akhirnya meminta si anak lelaki ini segera memakai celananya. Si guru menunggui sampai si anak selesai berpakaian. Si anak yang berbadan kecil dan terlihat polos itu kemudian memakai celana, ya… di depan guru perempuan dan teman-teman lainnya.

Mendengar kisah itu saya jadi sibuk bertanya-tanya:

– Mengapa si anak remaja tak malu hanya mengenakan celana dalam di kelas yang ramai?

– Mengapa si anak remaja lelaki ini tak malu bertelanjang sampai ditegur guru perempuan?

– Bagaimana cara mengajarkan kepada anak remaja tentang rasa malu?

– Apa mungkin si anak merasa bercelana-dalam sudah cukup baginya, sama seperti bercelana-renang ketika berenang?

– Sebenarnya apa fungsi pakaian: sekadar pelindung tubuh dari cuaca atau juga menimbulkan penghargaan atas tubuh?

– Bagaimana seharusnya orang tua mengajarkan tentang tubuh dan berpakaian pada anak?

Saya butuh banyak masukan dari semuanya. Mari kita diskusi!