Menarikan Tandok

image

Ada acara Internationalism Week di sekolah. Pada hari H perayaannya, Kamis 24 Oktober lalu, saya dan murid-murid menarikan tarian panen dari daerah Sumatera Utara. Sengaja tari ini dipentaskan untuk mengingat bahwa tarian panen banyak dilakukan di Indonesia, dan juga di negara lain di dunia.

Yang di atas kepala kami itulah yang dinamakan tandok, atau bakul beras. Iya, kami menari sambil membawa beras itu di kepala! Itu yang membuat tarian ini seru ditonton karena penari mesti menjaga keseimbangan beras sekaligus bergerak dengan lincah dan indah.

Dari tari ini saya juga belajar bahwa tarian bisa jadi media rasa syukur manusia pada pencipta. Gerakannya lincah, lambang kebahagiaan bahwa hasil panen melimpah. Ada juga gerakan semacam doa memuja syukur pada Tuhan. Senyum harus diperlihatkan sepanjang tarian sebagai tanda rasa suka cita. Menyenangkan sekali menarikannya. Semoga masih ada hasil panen dari tanah kita sendiri, bukan impor beras dari negeri orang, sehingga Tari Tandok ini masih bisa kita tarikan.

image

Mengomentari Kutipan Sastra

Mengomentari itu bukan sekadar asal bicara. Kemampuan berargumen memang mesti sering terus dilatih. Dalam kelas sastra, ini ada satu contoh yang bisa dilakukan. Ambil satu kutipan paragraf dalam novel dan mintalah murid membuat sebuah paragraf argumentasi yang menjelaskan opini mereka yang didukung dengan contoh nyata.

Misalnya ini, ungkapan Minke pada dirinya sendiri ketika dia didandani baju Jawa dengan desain oleh Moreno, seorang Eropa, untuk persiapan acara pelantikan bapaknya sebagai bupati. Kutipan diambil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang dipelajari murid kelas 12.

Jelas aku keturunan satria Jawa maka sendiri seorang satria Jawa juga. Hanya mengapa justru bukan orang Jawa yang membikin aku jadi begini gagah? Dan ganteng? Mengapa orang Eropa? Mungkin Itali? Mungkin tak pernah mengenakannya sendiri? Sudah sejak Amangkurat I pakaian raja-raja Jawa dibikin dan direncanakan oleh orang Eropa. Kata Moreno, maaf, Tuan hanya punya selimut sebelum kami datang. Pada bagian bawa, bagian atas, kepala, hanya selimut! Sungguh menyakitkan.

Seorang murid saya menjawab begini:
Produksi!
(M. Ari Ramadhan, 12F, 2013)

Persis seperti kalimat yang sering didengungkan Pram: Bangsa kita harus berproduksi, bukan cuma makan hasil kerja bangsa lain!

Dear Diary, aku kecewa di FestivalGIM…

5 Oktober 2013
Dear Diary,

Tadi sore aku pulang dari acara Festival Gerakan Indonesia Mengajar dengan hati kecewa. Jauh-jauh aku datang dari Depok, menempuh jalanan macet dengan angkutan umum selama tiga jam, rupanya aku tidak bisa membawakan dongeng yang sudah kupersiapkan. Aku datang ke acara itu karena sudah diundang oleh Asti, salah satu Pengajar Muda yang jadi panitia. Dia mengajakku untuk ikut serta #KerjaBakti di Teater Dongeng. Dia tahu aku punya kegiatan Dongeng Minggu yang sudah berjalan 3 tahun itu. Aku berterima kasih sekali pada Granasti yang sudah mengapresiasi dengan manis, jadi kuiyakan tawarannya dan mengajak Wulan temanku untuk ikut serta.

Acara FestivalGIM sebetulnya sangat mengagumkan. Ini wadah yang pas buat orang kota (Jakarta dan sekitarnya) untuk menyumbang sesuatu untuk pendidikan anak-anak di luar Jawa. Ya, aksi sosial mereka bisa dengan mudah dilihat di timeline twitter. Oya, ada 10 wahana yang bisa dipilih peserta KerjaBakti. Misalnya, menulis surat semangat untuk anak-anak nusantara, membuat Kartupedia berisi rangkuman pengetahuan, atau merekam lagu anak dan daerah. Terlihat seru ya! Aku sendiri suka dengan kelas orientasi di ruang selamat datang yang sangat bagus untuk membarakan semangat peserta. Dan memang terlihat antuasiasme peserta begitu besar. Ya, ini semua sebuah kemasan gaya beramal yang menarik.

Ya, gitu deh Diary, pas aku datang di kelas Teater Dongeng, aku disambut seorang panitia perempuan berkerudung abu-abu. Dia menjelaskan sedikit teknisnya dan langsung persilakan aku dan Wulan untuk mendongeng. Aku bertanya, apa boleh aku menaruh naskah di dekat kamera. Maklum, aku dan Wulan kelelahan kena macet perjalanan sehingga butuh waktu mikir ekstra. Si panitia yang tak kutahu namanya itu bilang dengan nada bicaranya yang terkesan angkuh: “Saya sarankan sih nggak usah pakai naskah, improvisasi aja. Naskah itu bisa mengganggu. Ya kalau pernah atau biasa mendongeng sih tahu ya.” Aku dan Wulan hanya bilang “ya…” sambil teringat anak-anak Dongeng Minggu.

Ruang K1 yang ditunjuk panitia untuk tempatku mendongeng rupanya masih penuh. Maka, aku gabung saja ke ruang K2 yang diperbolehkan jadi tempat Wulan. Dia tengah Wulan mendongeng, eh… Juru Kamera bilang memory-cardnya penuh. Jadi Wulan mesti berhenti sebentar. Dia mengutak atik, lalu persilakan kami melanjutkan. Di tengah kami mendongeng lanjutan, video berhenti lagi, mediacard betul-betul penuh. Dia minta maaf, bilang dia akan mentransfernya dulu. Ya sudah, Wulan dan aku terpaksa harus menunggu. Panitia (Sari) minta maaf dan menemani kami di ruang dongeng K2. Ruang sebelah K1 masih terisi pendongeng lain. Ya sudah, aku, Wulan, dan Sari mengobrol. Sudah jam setengah lima lewat (mungkin 04.50). Aku tanya lagi kenapa lama betul mentransfernya. Akhirnya salah satu panitia lelaki kasih ide, ya sudah pakai kamera lain aja, tapi dongeng mesti diulang dari awal, karena biar tidak merepotkan panitia ketika mengedit. Mereka minta maaf. Wulan dan aku tak masalah, lalu mendongenglah kami.

Pas selesai dongeng Wulan, kami keluar. Ruangan K1 pintunya masih tutup. Aku bermaksud menunggu dan menyiapkan boneka dongeng, tapi si panitia perempuan berkerudung abu-abu itu bilang: “Maaf ya kelasnya ditutup. Selesai. Karena mau upacara penutupan.” Aku bilang: “Yah, saya kan belum mendongeng.” Saat itu jam 5 sore. Dan aku bilang aku bisa mendongeng 5 menit saja, menggunakan hak tiket yang sudah kudapat. Tapi si Panitia itu bilang dengan tegas: “Maaf harus selesai ya. Karena mau upacara di bawah.”

Aku protes: “Tadi panitianya lama, habiskan waktu untuk transfer data dan kami disuruh menunggu.” Si Panitia Abu-abu itu bilang: “Lagian nggak datang dari jam 9 pagi.” Kaget. Aku balas bilang: “Bukan masalah datang dari pagi atau enggak, tadi panitia lama jadi jatah waktunya terbuang.” Si Panitia itu menyahut lagi: “Ya tapi nggak datang dari 9 pagi, kan. Maaf ya.” Kecewa, aku bereskan boneka yang tak terpakai, dan beranjak pergi. Wulan temanku bertanya-tanya kenapa si Panitia bisa-bisanya memberi jawaban ketus begitu. Dikira setiap orang bisa dan harus datang sejak pagi tanpa punya urusan lain yang mesti dikerjakan lebih dulu?

Begitu kami keluar dari bilik dongeng, sampai di area lain, rupanya masih banyak peserta KerjaBakti yang masih beraktivitas, belum bubaran untuk menuju upacara. Aku kemudian mengecek jadwal acara, rupanya upacara dilakukan pukul 05.30. AH! Aku kecewa sekali ditolak panitia dengan sikap yang tidak ramah tadi. 🙁

Gitu deh, Diary, aku sedih. Kadang, mau beramal ada aja halangannya, ya. :’|

Kerudung

Sebuah siang yang panas. Ruang kelas SD Kelas 1 itu terasa semakin panas. Mungkin hanya aku yang merasakannya sebab Netha menggelendoti aku dan menembakkan pertanyaan panas itu. Ia yang cerewet luar biasa itu memang tidak bisa membendung pertanyaan apapun yang melintas di benaknya. Yang jelas, pernyataan dan pertanyaan Netha klai ini sangat mengguncang.

“Miss, I want to see your hair…” ujar Netha dengan manjanya.

Kujawab, “Oh, sorry dear, you can’t…”

“Why, Miss?”

“Well, you can’t.”

“Why??”

Yeah, why? Aku mulai tergagap. Ruang kelas terasa semakin panas.

“Umm, yea, just can’t.”

Netha menyerbu.

“Miss, kenapa sih muslim harus pakai kerudung?”

“Hanya yang perempuan, kok…” jawabku berusaha tenang.

“Iya, Netha tau. Tapi kenapa perempuan muslim harus pakai kerudung?”

“Iya, Miss, kenapa, sih?” Albert yang duduk di sebelah Netha tiba-tiba ikut bertanya. Rupanya sejak tadi ia mengikuti pembicaraan kami. Anak ini juga sama cerewetnya dengan Netha.

“Mmm, kenapa, ya?” Aku berusaha mengendalikan pembicaraan sambil mencari-cari jawaban yang tepat untuk kusampaikan pada mereka. Ini pertanyaan yang agak riskan. Bingung aku memilih kata agar tak menyinggung sesuatu yang berkenaan dengan kepercayaan mereka. Tapi kuputuskan untuk bicara saja, nanti idenya juga akan ketemu di sepanjang aku bicara berbusa.

“Mmm, kamu tau kan, perempuan itu makhluk yang indah. Do you agree? Iya loh, perempuan itu makhluk yang cantik, kan?”

Netha mengangguk senang. Albert mengangguk cengengesan.

“Naaah, makhluk yang indah itu harus dilindungi. Kalau gak dilindungi,nanti bisa dinakali orang-orang jahat. Seperti kupu-kupu, ia harus dilindungi supaya sayapnya yang cantik nggak mudah patah.”

Aku memperhatikan wajah ingin tahu mereka. Sejenak aku ragu apakah kalimatku mudah untuk mereka. Jangan-jangan mereka nggak mengerti. Aku juga sedikit ragu dengan perumpamaan kupu-kupu tadi. Apakah tepat hubungannya. Tapi begitu melihat mereka mengangguk-angguk, kuanggap jawabanku berterima.

“Mmm, kamu pernah lihat nggak, ada perempuan yang dinakali orang jahat, karena dia pakai rok yang terlalu pendek? Terus dia dinakali laki-laki gitu.”

Albert menyambar, “Dicolek-colek gitu, ya?”

Oh my God, dari mana dia tahu? Oh, TV mungkin.

“Iya, kayak begitu. Kan kalau dinakali gitu, nanti perempuannya bisa marah, bisa sedih. Kasihan, kan. Nah, perempuan muslim diajak pakai baju panjang, atau pakai baju tertutup, supaya nggak dinakali laki-laki.”

Aku menahan napas dua detik, sambil berharap cemas penjelasanku masuk akal buat mereka. Aku belum tahu alasan lain yang bisa kuajukan jika mereka masih belum puas dengan penjelasan itu. Ternyata, setelah itu jantungku harus berguncang untuk kedua kalinya.

“Ih, Islam baik, ya!” cetus Netha.

“Iya, ya!” sahut Albert, masih sambil cengengesan.

Aku ternganga.

– Jakarta, 2008