Penyalahgunaan Sensor Film

Berikut ini adalah paragraf argumentatif untuk topik debat karya murid saya di soal ujian harian Bahasa Indonesia SMA Kelas 12. Sebuah masukan bagus dari pikiran remaja untuk perfilman kita.

ketika-lembaga-sensor-film-katakan-tidak1

Sementara orang-orang ribut mengenai pornografi dan hal-hal yang tidak senonoh dalam sebuah film, saya sebagai seorang remaja yang akan melangkah menuju umur yang dianggap dewasa mempertanyakan penggunaan sensor film di Indonesia. Sebagai pihak kontra, saya menyataan bahwa sensor film tidak diperlukan.

Pada dasarnya semua film memiliki batasan umur bagi penontonnya. Para produser sudah menargetkan karya mereka kepada umur-umur tertentu. Lantas mengapa hal tersebut tidak bisa dianggap cukup? Mengapa film harus melalui sensor lagi? Tidak hanya pada layar lebar bioskop. Film-film Barat yang ditayangkan di televisi dalam acara tengah malam juga harus melalui sensor. Sebenarnya apa gunanya sebuah sensor? Mengapa perempuan-perempuan di pantai menggunakan bikini dipertunjukkan, tetapi perempuan menggunakan pakaian dalam terkena sensor? Mengapa adegan seks dilarang, tetapi adegan pembunuhan dibiarkan saja dan disiarkan ke seluruh negara?

Orang-orang mungkin tahu film Hansel and Gretel: The Witch Hunter. Pada bioskop TransTV saat hampir tengah malam, film itu diputar. Dan benar saja, adegan seks dalam film itu langsung dipotong, tetapi adegan mereka memotong-motong bagian badan dan kepala tetap disiarkan. Apakah sebenarnya yang ingin dicapai dengan penggunaan sensor film?

Kita semua tahu bahwa dalam sebuah tayangan selalu ada batasan umur. U untuk Umum, BO untuk Bimbingan Orangtua, R untuk Remaja, dan D untuk Dewasa. Pada dasarnya produser akan menghindari hal-hal yang berdampak buruk untuk anak-anak untuk film umum. Yang saya tidak mengerti adalah mengapa film dewasa harus melewati sensor? Orang dewasa lebih bertanggung jawab dan tahu benar hal-hal di film tersebut yang membuat sebuah film distempel sebagai “untuk dewasa”. Tidak seperti anak-anak yang masih serba ingin tahu dan coba-coba. Tentu kita sebagai orang dewasa tidak akan mencoba-coba menusuk orang dengan gergaji, bukan?

Pada dasarnya sensor film Indonesia sebaiknya dihentikan, karena yang dipertunjukkan kepada umum adalah adegan berdarah-darah penuh kekerasan serta bahasa kasar yang dianggap lulus sensor. Hal ini dapat merusak psikologi anak yang bisa beranggapan bahwa seks adalah hal tabu tetapi pembunuhan dan kekerasan adalah hal yang wajar.

Dengan ini saya simpulkan bahwa sensor film lebih baik ditiadakan atau direvisi kembali, karena hal tersebut dapat merusak mentalitas maupun pandangan anak dan remaja kebanyakan.

– Hosiana Eunike, 24 Februari 2014

sumber gambar: tourismnews.co.id

 

Bermain Kuis Benar Salah

Remaja senang diajak bermain-main. Kita bisa gunakan permainan kuis untuk cara belajar sastra. Saya pernah coba ini untuk belajar intrinsik cerpen. Silakan dicontek jika pas buat kelas Anda. 🙂

1. Baca penggalan cerpen (bisa juga novel atau drama) dengan cara silent reading. Membaca bersama secara bergantian juga bisa dilakukan untuk membuat kelas fokus membaca dengan durasi yang sama.
2. Kelas akan dibagi menjadi dua bagian: kelompok kiri dan kanan. Bisa juga kelompok laki-laki dan perempuan. Setiap jawaban yang benar akan masuk kantong nilai kelompok.
3. Guru sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan terkait cerita yang dibaca. Pertanyaan harus bersifat pasti benar atau salahnya.
4. Murid akan memegang kertas papan yang bertuliskan huruf B atau S. Saat guru memberikan pertanyaan kepadanya, murid dipersilakan menjawab dengan mengacungkan papan itu.
5. Guru akan langsung memberitahukan kunci jawaban per nomor.
6. Papan B/S diberikan pada teman di sebelahnya. Dia akan menjawab soal berikutnya. Demikian seterusnya.
7. Kantong nilai akan dibacakan setelah semua pertanyaan disampaikan. Kelompok pemenang akan diberi tepuk tangan paling meriah! #prokprokprok
20140305-123524.jpg