That awkward moment when…

your student suddenly ask you, “Miss, miss mantannya sodara aku ya?”

Spicles banget nggak lo kalo tau-tau ada anak murid ngomong gini. Baru aja keluar kelas di hari Senin, ada murid cewe melintas dan menanyakan itu. Dia sebutlah nama satu lelaki. Ugh, nama yang paling nggak mau saya dengar lagi. Udah dibuang ke tempat sampah, kok tau-tau kembali?

Di waktu singkat itu, nih murid berceritalah, weekend kemarin dia ada acara keluarga, trus salah satu sepupunya nanya apa ada guru bernama Arnellis di sekolahnya. Si murid bilang iya. Trus sepupunya itu ngaku mantan pacar saya.

Demi terlihat cool, saya cuma bilang, “Ohh, kamu sodaranya?” Lalu lempar senyum dan segera berlalu sambil sok ketawa-ketawa. Padahal dalam hati, oh no, ini murid pegang kartu saya banget. Sambil sebel sama dunia, kenapa sih masa lalu sering kembali hadir tanpa disengaja?

Soyong Kusayang

IMG_4237

Tari Soyong sangat berkesan buat saya. Sebulan sebelum tampil, mulanya saya diminta untuk menampilkan tarian untuk acara Internationalism Week di sekolah. Ceritanya pertunjukan untuk mewakili negara Indonesia. Kebetulan tanggal perayaannya adalah 28 Oktober 2015, Hari Sumpah Pemuda. Jadi, motivasi untuk mengiyakan tawaran itu jadi semakin kuat.

Masalahnya… saya tidak tahu siapa yang harus saya ajak menari. Murid yang biasa menari bersama saya sudah kelas 12 dan tidak bisa diganggu. Yang tampil harus dari kelas 10 atau 11. Jadinya saya mencoba menghubungi Vivi, satu anak yang gabung di ekskul tari tahun kemarin, dan saya cari dua orang lagi, siapa saja yang mau deh. Akhirnya ketemulah Aya dan Miranda dari kelas 10. Kenapa saya pilih mereka? Gampang saja. Karena mereka mau. Punya hasrat. Mau belajar. Mau mencoba. Itu kan yang terpenting?

Kami mempelajari tari itu lewat Youtube – Tari Soyong. Masing-masing dari kami mempelajari sendiri di rumah. Kemudian kami berlatih beberapa kali pertemuan. Iya, saya jadi murid juga. Namun, karena saya berstatus guru, jadinya ya mereka masih juga minta diajari. Padahal kami sama-sama belajar dari nol juga.

Saya belajar lebih dari sekadar menari lewat Soyong ini. Saya belajar gemulai karena ini pertama kalinya saya nari Jawa. Belajar menginstruksikan gerakan, terutama kepada Aya yang kidal. Belajar menularkan pede ke Aya dan Miranda yang baru pertama kali tampil nari. Belajar sabar menghadapi waktu latihan yang cuma sebulan. Plus juga belajar irit mengurus kostum, sampur, dan asesoris yang merogoh kantong sendiri (itu semua yang dipakai penari saya beli dengan harga murah terbaik di Tokopedia. 🙂 Nah, obi kuning itu saya jahit sendiri.)

Kenangan tentang Tari Soyong bikin hati senang, bahagia. Apalagi saat Aya bilang, “Ms, thank you udah ngasih kesempatan aku buat nari. Aku jadi jauh lebih percaya diri. Terima kasih karena udah ngajarin aku berbagai macam hal.” Aih, makin sayang rasanya sama Soyong. <3

photo (4)