Wisata Sastra: Burung-Burung Manyar

Liburan Desember 2016 lalu aku dan teman-teman guru bahasa Indonesia di sekolah tempatku bekerja membuat kegiatan yang kunamakan Wisata Sastra. Intinya sih berwisata mengunjungi lokasi yang disebutkan dalam suatu buku sastra. Nah, novel yang kami gunakan sebagai panduan wisata sastra kali ini adalah Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Buku ini sudah tiga tahun digunakan sebagai buku sastra bacaan siswa kelas 11 dan 12. Kebetulan juga tiga temanku itu memang orang yang lumayan karib dengan latar cerita. Maka niat kami menelusuri latar novel ini jadi makin besar, deh.

Burung-Burung Manyar menyebutkan banyak sekali nama tempat, tapi fokus kisahnya di Magelang dan Yogyakarta. Jadi, wisata sastra yang kami lakukan hanya fokus di dua kota itu saja. Video singkat wisata sastra ini sudah aku unggah di sini: Wisata Sastra Burung-Burung Manyar.

Nah, detail tempat-tempat yang kami kunjungi adalah berikut ini.

MAGELANG-TIDAR. Novel dimulai dengan kisah masa kecil Teto yang senang bermain dan berkeliling Tidar. Dari dalam mobil aku membayangkan jalan raya inilah yang dilalui Teto kecil yang riang dan nakal. Aku bisa hirup udara segar pohon yang banyak tumbuh di tepi jalan dan juga melihat Bukit Tidar di kejauhan.

KOMPLEKS KESATRIAN. Teto kecil tinggal di kompleks tangsi militer zaman Belanda masih berkuasa di Indonesia. Ayahnya seorang letnan KNIL dan berhak dapat tempat tinggal sesuai jabatannya. Di sini aku bayangkan mereka tinggal di sebuah rumah dinas yang cukup besar. Kami berkeliling kompleks itu dan mengamati lingkungan yang hijau sambil membayangkan Teto bermain dengan anak kolong di sana, termasuk anak prajurit kroco yang rumahnya kecil. Ohya, kami juga lihat kali depan kompleks berair coklat van houten yang jadi tempat Teto bermain dan mandi-mandi.

AKADEMI MILITER MAGELANG. Lanjut ke AkMil yang jaraknya dekat dengan kompleks rumah tentara tadi. Kami bayangkan ayah Teto pasti sering berada di sini dan Teto juga belajar tentang militer di sini. Kami menyempatkan mampir dan berfoto di gerbang. Sempat takut mengganggu karena mobil kami diparkir dekat pintu masuk. Tapi ternyata dua tentara yang berjaga di pos ramah sekali. Kami menyapa dan mengobrol singkat sambil membicarakan kemungkinan membawa rombongan murid ke sana. Ah, aku kuper, ternyata AkMil sudah sering kedatangan rombongan anak sekolah. Silakan kirim surat izin kunjungan dan nanti akan dibantu pihak AkMil untuk berkeliling kompleks dan museum di dalamnya.

20161221_124640_resized-1

POTROBANGSAN MAGELANG. Sesudah Belanda kalah dan Jepang masuk menguasai Indonesia, ayah Teto ditangkap Kenpeitai. Mereka tidak lagi bisa tinggal di kompleks tentara. Teto kemudian tinggal di daerah Potrobangsan.

20161221_130853_resizedRUMAH SAKIT JIWA KRAMAT MAGELANG. Ini salah satu latar novel yang paling berkesan. Teto dan Verbruggen ke sini dan mendapati Ibu Teto yang telah lama hilang. Dia sakit jiwa dan dirawat di sini sambil terus bilang, “semua sudah kuberikan…” 🙁 RS ini kesannya tenang, damai, nyaman. Kami sempat menemui petugas resepsionis dan mengobrol singkat. Dia bilang RS ini menerima kunjungan study tour sekolah karena di dalamnya ada lokasi yang bisa ditampilkan untuk umum juga. Silakan ajukan surat izin dan mematuhi peraturan yang ada, misalnya tidak sembarangan mengambil gambar di area RS. Ini penting demi kenyamanan pasien dan keluarga pasien.

MUSEUM DIRGANTARA YOGYAKARTA. Sempat Teto tidak percaya orang Indonesia sanggup menerbangkan pesawat. Saat itu Teto sedang bergabung dengan tentara NICA. Dalam novel kemudian disebutkan ada yang namanya Suryadarma dan Adi Sucipto. Nah, bukti kehebatan mereka bisa ditemukan di museum ini. Ada juga pesawat-pesawat yang dipajang di hanggar dalam museum. Dengan tiket masuk Rp5000 saja, museum ini sudah bisa terbilang oke banget.

20161221_154855_resizedGEDUNG AGUNG. Karena kami berangkat ke Magelang kesiangan dan temanku ada yang harus balik ke Solo hari itu juga, jadilah hanya lima lokasi yang bisa dicapai dalam waktu sepertiga hari. Keesokan harinya aku sambung ke Gedung Agung ini. Dalam novel, Gedung Agung disebutkan di bab “Istana Perjuangan”. Teto bersama Atik dan Jana bernostalgia zaman perjuangan dulu sambil kemudian dia mengajak Atik dan Jana membongkar kasus korupsi di Pacific Well Oil Company. Aku cuma lihat-lihat gedung cantik ini dari luar saja. Kalau mau berkunjung ke dalam bisa juga. Prosedurnya bisa dilihat di sini:  http://yogyakarta.panduanwisata.id/headline/tata-cara-berwisata-sejarah-ke-gedung-agung-jogja/

BENTENG VREDEBURG. Letaknya di seberang Gedung Agung. Di sini aku bisa lihat gedung bersejarah dan belajar banyak tentang sejarah perjuangan, termasuk tentang Agresi Militer Belanda tahun 1948 yang banyak disinggung.

KAKI GUNUNG MERAPI. Kalau banyak waktu, asyik juga wisata sastra Burung-Burung Manyar digenapi ke sini. Ikut Lava Tour Merapi, lalu minta diantar singgah di desa Juranggede tempat tokoh Atik dan Ibunya ngobrol galau memikirkan Teto.

Masih ada beberapa lokasi yang tidak sempat kami kunjungi jika harus benar-benar persis seperti novel, misalnya Jalan Cemorojajar dan Kampus UGM. Kalau hanya pakai daftar aku di atas tadi, paling pas dan santai yaa dijalani selama dua hari. Jadi kita benar-benar bisa merasakan isi novel dengan hati yang ikut riang-cinta-cemas-galau seperti Teto dan Atik.

Hmm, berikutnya, wisata sastra ke mana lagi ya?