Belajar dari Gulita

Waktu pertama kali dapat undangan mendongeng untuk anak kanker dan tuna netra, aku langsung merinding. Aku sudah beberapa kali mendongeng untuk anak kanker. Tapi, anak-anak tuna netra? Oh, buatku pribadi, mata sungguhlah anugerah indera yang luar biasa. Aku merinding karena tidak bisa membayangkan hidup dalam gulita, tak bisa melihat benda dan rupa. Aku selama ini juga belum pernah berinteraksi dengan tuna netra. Makanya aku lumayan cemas memikirkan dongeng seperti apa yang akan aku bawakan.

Dua hari sebelum pentas, aku dan Dandi Ukulele berlatih khusus untuk acara ini. Dongengnya aku ambil dari salah satu cerita yang ada dalam buku dongengku yang segera terbit (pasti aku kabari nanti ya!). Judulnya “Greyo”, tentang gajah abu-abu yang belajar berbagi. Kami mengulang ceritanya beberapa kali, menambahkan banyak deskripsi yang detail. Di otakku saat itu adalah memikirkan agar cerita bisa sejelas mungkin diterima para anak tuna netra.

Baru saat tiba di RS Dharmais aku tahu bahwa peserta acara ini banyak sekali. Kata panitia, seratus orang! Mereka datang dari empat yayasan, yaitu: Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Rumah Harapan Indonesia, Yayasan Mitra Netra, dan Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin. Sebelum acara dimulai, aku melihat satu-dua anak tuna netra. Mereka menuju toilet ditemani pendamping. Persis ketika aku melihat cekung di tempat bola mata itu seharusnya berada, mataku berkaca-kaca. Buru-buru aku bilang ke Dandi bahwa aku nggak kuat. Baper 🙁. Di otakku yang polos ini, aku bayangkan betapa menderitanya mereka tidak bisa melihat. Betapa menakutkannya hidup dalam gelap. (Iya, aku memang paling takut dengan gelap dan mati lampu :/ ). Tapi lalu Dandi bilang, “Menderita itu kan menurut lo. Bisa jadi mereka bisa menerima dirinya, nggak merasa menderita.” Ohh, langsung aku sadar. Kita (aku terutama) yang bermata dan berindera lengkap aja kadang masih nggak bisa menerima kekurangan diri sendiri. Anggota tubuh tidak lengkap, atau tidak berfungsi normal, bukan berarti harus merasa paling tak berdaya. Jadi, menerima kondisi diri sendiri itu datangnya dari hati dan pikiran yang bersyukur. 

Aku dan Dandi Ukulele, bersama Zelda.

Lalu datanglah seorang gadis tuna netra didampingi ibunya. Zelda dan ibunya. Mereka duduk di sebelah kami. Rupanya ini Zelda Maharani, yang belakangan baru kuketahui dia pernah jadi kontestan acara menyanyi Mamamia Indosiar 2014. Usianya kini 16 tahun. Sudah jago betul main piano (dan alat musik lain!) dan tentu saja hobi menyanyi. Dia juga hobi membaca buku, dan aktif di media sosial seperti remaja lainnya. Anaknya periang. Auranya menyenangkan. Aku yang nggak sempat ngobrol banyak aja langsung kesiram energi hidupnya. Semangatnya menular banget!

Merayakan ulang tahun untuk yang lahir bulan Mei. Yayasan Mitra Netra juga ultah Mei. Iya, aku juga!

Respon anak tuna netra saat aku mendongeng

Untuk sebuah pengalaman pertama, aku belajar saaangat banyak dari anak-anak tuna netra ini. Mereka jauh lebih menyimak (bukan cuma mendengar lho ya) ketimbang orang biasa. Tertawa kencang, teriak menjawab pertanyaan, ikut bernyanyi riang, justru datangnya dari mereka. Mereka kelihatan sangat enjoy mendengar dongeng musikal yang kami bawakan. And I’m sooo happy with that! #baperlagi

Kebayang kan, betapa kita sering kehilangan momen, justru saat mata kita terbuka, saat indera kita berfungsi semua.

Satu pelajaran lagi yang kudapat, waktu Zelda di atas panggung bilang begini ke sahabat netra dan kanker dan untuk penonton lainnya juga:

“Kalau kamu merasa sedih, ingat, yang bisa membuat kamu senang lagi hanya diri kamu sendiri.”

All Pics: Heru Rudiyanto

Satu Dua Tiga, Gagal Semuanya

Nah, sekarang udah sah boleh nyanyi “satu dua tiga gagal semuanya…”. Iya, ini update dari tulisanku sebelumnya. Jadi Mei 2017 ini lengkap tiga kali coba program hamil dengan IUI.

Nggak bisa ngomong banyak sekarang. Aku mau istirahat dulu. Simpan harapan dan cita-cita dulu. Mungkin nanti kalau semangat sudah terkumpul lagi, aku coba segala usaha lagi.

Ngomel Demi Kejujuran (Catatan Hardiknas 2017)

Suatu hari di kelas 10, kelas dimulai dengan pembicaraan seperti ini.

Murid: Miss, kita belajar apa hari ini?

Saya: Saya mau ngomel dulu.

Murid lain: Miss Arnel mana bisa marah. Eh, bisa sih marah, kalau lagi latihan nari.

Ya, jadi memang saya pada dasarnya tidak mudah marah lalu ngomel-ngomel. Namun, bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah juga, terutama pada hal-hal mendasar berhubungan dengan moral. Kalau pas latihan nari itu bukan marah sih, itu galak tegas aja, karena nari adalah sesuatu yang akan dipentaskan. Saya nggak mau pentas tari yang cuma 4 menit itu jelek dilihat nanti. :))

Akhirnya saya bilang di depan kelas 10 itu, apa yang membuat saya marah. Saya mulai dengan bahas bahwa mengapa selama ini guru selalu mengingatkan murid untuk bekerja dengan jujur. Tentu ada waktunya belajar bersama, diskusi, yang memang perlu bekerja sama. Tapi jika waktunya diminta bekerja mandiri, maka bekerjalah mandiri. Bentuk kerja mandiri itu ya dengan berusaha sendiri, menggunakan kemampuan untuk menganalisis dan mengkreasikan sesuatu sendiri.

Saya juga guru yang sangat menghargai usaha siswa yang telah bekerja jujur dan mandiri. Saya akan beri apresiasi lebih jika saya lihat murid mau berjuang menyampaikan ide dan pemikirannya. Makanya, saya marah betul ketika membaca salah satu tugas menulis puisi buatan seorang siswa yang saya tahu betul itu bukan karya dia.

Saya lanjut mengisi kelas yang hening dan kaget karena melihat gurunya ini nahan geram. (Iya, saya nggak bisa ngomel merentet, paling cuma ketus jatuhnya, hehee). Saya jabarkan mengapa menyontek atau plagiarisme itu sangat menyepelekan beberapa hal.

1. Plagiarisme itu menyepelekan sekolah dan guru. Pelaku seolah meremehkan sekolah yang sudah berusaha mendidik dengan beragam moral value, tapi dia seolah malah menganggap remeh niat memupuk nilai-nilai baik itu. Lalu, dia juga seolah meremehkan guru yang dianggap mudah dibodohi dengan karya palsunya. Seorang guru bahasa bisa dengan mudah lho melacak apakah benar ini karya si murid atau bukan. Guru ‘kan tahu gaya bicara si murid sehari-hari, gaya kalimat tulis dia, gaya dia merangkai kata, seberapa dalam analisisnya, seberapa cerdas pendapatnya, seberapa banyak koleksi diksi yang dia sampaikan. Jadi ketika suatu waktu ada murid yang mengambil karya puisi orang lain di internet, dan gaya bahasanya jauuuh dari kemampuan si murid, ya gampang banget ketahuanlah.

2. Plagiarisme itu menyepelekan kerja orang yang ditiru. Membuat puisi itu tidak mudah lho (dia pasti ngerti itu tidak mudah makanya dia cari cara mudah dengan mengkopi). Penyair membuat karya dengan pengetahuan dan hatinya. Maka ada hak cipta yang sudah menjadi miliknya. Dan sudah sewajibnyalah kita menghargai hak itu.

3. Yang paling penting, plagiarisme itu menyepelekan diri sendiri. Dia menyepelekan kemampuan berpikirnya sendiri. Dia tidak percaya bahwa otaknya mampu bekerja. Dia menganggap dirinya makhluk sepele yang tidak bisa menyusun kata-kata sendiri. Wah, ini sangat bahaya! Pikiran yang tidak boleh dipupuk. Karena kalau disetujui, itu akan semakin merendahkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kejadian ini jadi pelajaran lagi buat saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar. Iya, bukan sekadar ngomel. Mendidik harus memberikan pemahaman. Mendidik itu juga membangun hati manusia dan merawat jiwa baik yang ada di sana.

 

Oya, SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!

– Dari guru kece yang terus belajar

Karya Farah Hafizah, kelas 10, 2017