Rekonstruksi Cerita Rakyat

Nggak nyesel aku bolak balik kirim email untuk minta tukar supervisi kelas di acara Career Day 30 Mei lalu. Aku mengincar ikut kelas Clara Evi Citraningtyas. Ia adalah seorang penulis cerita anak, dosen sastra di Universitas Pelita Harapan, peneliti cerita rakyat, dan juga ibu dari Karina, muridku kelas 10. Kami sempat berbalas email di awal tahun ajaran 2016-2017. Dia mengapresiasi sekolah Binus Serpong yang menggunakan novel sastra sebagai media pembelajaran. Jadilah aku penasaran ingin bertemu beliau, sekaligus mau belajar juga darinya.

Bu Clara ini ramah sekali. Presentasinya jelas dan menyenangkan. Kebayang deh, mahasiswanya pasti suka diajar beliau. Ia mula-mula menceritakan serunya jadi dosen, peneliti, dan penulis sekaligus. Ia menekankan bahwa pekerjaan mengajar itu keep her brain young. Setuju banget! Aku juga awet muda kan karena ngajar remaja terus. :))

Nah, berikutnya Bu Clara menampilkan PPT ulasan singkat hasil risetnya tentang rekonstruksi cerita rakyat. Apa itu rekonstruksi segala? Bu Clara mengatakan bahwa jika sastra pada umumnya bersifat dulce et utile, maka cerita rakyat untuk anak mestilah bersifat utile et dulce alias mendidik dan menghibur. Fungsi mendidik harus didahulukan. Maka pertanyaan kemudian muncul ketika menghadapi cerita rakyat yang dirasa kurang menawarkan unsur pendidikan yang sesuai zaman. Dia memberi contoh beberapa kisah princess Disney. Folklore aslinya mengandung unsur kekerasan dan kekejaman (pernah dengar kan kisah Cinderela harus potong jari kaki agar muat di sepatu kaca itu?), tapi kemudian cerita itu direkonstruksi atau ditulis ulang sesuai nilai-nilai yang berlaku di masa kini. Tidak lagi ada kisah kejam. Adanya kisah baik dan happy ending.

Nah, bagaimana dengan cerita rakyat Indonesia? Kebetulan aku dan murid kelas 10 membahas topik ini. Pernah aku singgung di kelas, apakah relevan kisah ibu mengutuk anak jadi batu dengan kehidupan masa kini? Sudah ada beberapa anak yang berpikir bahwa anak hari gini nggak bisa ditakut-takuti dengan kutukan. Atau, ada pula yang mempertanyakan kenapa ibu Malin Kundang begitu jahat dan pendendam? Mengapa Malin tak diampuni? Bu Clara menambahkan bahwa cerita rakyat ini bisa memberi efek yang kurang baik bagi pembaca anak-anak. Anak dapat merasa bahwa jika dirinya melakukan kesalahan, tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki diri. Seperti Malin, jika sudah berbuat salah, ia harus dihukum dan hidupnya pun berakhir. Padahal, saat kini kita tengah gencar memupuk nilai-nilai perjuangan. Kesalahan dapat dibayar dengan sikap yang lebih baik. Di sinilah rekonstruksi cerita rakyat menjadi penting.

Rekonstruksi cerita rakyat bukan berarti menghilangkan kisah asli yang berada di masyarakat. Kisah-kisah itu akan tetap ada. Namun, sastra klasik haruslah bertumbuh. Ia anonim dan dinamis, maka kisahnya dapat diperbarui. Cerita rakyat yang telah direkonstruksi dapat berjalan berdampingan dengan kisah aslinya. Bu Clara menyarankan, anak kecil sebaiknya diperkenalkan dengan kisah rekonstruksi terlebih dahulu. Baru kemudian di masa SMP dan SMA, mereka dapat mempelajari lebih dalam kisah aslinya.

Bu Clara juga menunjukkan beberapa karya cerita rakyat yang sudah diteliti dan direkonstruksi olehnya. Misalnya buku berjudul Nilam Kandung, rekonstruksi dari kisah Malin Kundang. Ini adalah wujud dari riset yang merupakan Program Hibah Bersaing 2014 atas biaya Dirjen Dikti Kemendikbud. Ada juga judul-judul lainnya seperti Cintarela dari kisah Cinderela, juga kumpulan cerita dalam Rekonstruksi Cerita Rakyat Indonesia Modern seri 1 dan 2.

Di akhir sesi, Bu Clara membagikan buku-bukunya tadi kepada anak-anak yang hadir. Aku sendiri dapat empat buku! Asyik betul ya, dapat ilmu dan dapat buku bagus untuk bahan ajar tahun depan! ❤

Tips Membacakan Dongeng (Read Aloud)

Bagaimana cara asyik membacakan dongeng? Ini coba aku bagi beberapa tip untuk orangtua yaa…

Sebelum

• Pastikan orangtua dan anak siap untuk membaca dan mendengar cerita. Waktunya bisa di saat santai, atau sebelum tidur.

• Bebaskan anak memilih ceritanya sendiri. Jika anak memilih cerita yang sama terus, biarkan saja. Itu tanda dia nyaman dan menyukai cerita tersebut.

• Sebaiknya anak dan orangtua duduk berdampingan membaca bersama. Ini penting untuk membangun kedekatan hubungan anak dan orangtua.

Selama

• Bercerita tidak perlu lama-lama. Untuk anak balita cukup 5-7 menit. Untuk anak usia SD, maksimal 20 menit saja. Maka dari itu, kita perlu mengatur tempo membaca, atau memotong cerita dan melanjutkannya esok hari.

• Mulailah membaca sesuai nada dan suasana dalam cerita. Kisahkan secara dramatis. Jika tokoh dalam cerita berbisik, maka buatlah suara berbisik.  Jika ada suara binatang, tirukanlah bunyinya.

• Sebisa mungkin lafalkan setiap kata dengan benar. Ini bagus pula untuk melatih anak memahami setiap makna kata dan ujaran.

• Lakukan improvisasi. Misalnya, mengubah nama tokoh dalam cerita dengan nama anak atau minta anak membaca bagian tertentu, atau melakukan gerakan ringan dengan tangannya.

Setelah

• Akhiri cerita secara mengesankan, misalnya dengan helaan napas lega. Jangan langsung menutup buku begitu saja.

• Lakukan tanya jawab sederhana untuk melihat apakah anak memahami cerita tadi. Tanyai juga apa yang bisa ia pelajari dari cerita tersebut. Boleh juga orangtua menyisipkan tambahan pesan baik sebagai penutup.