Bermain Boneka BelKup ala Papermoon Puppet

Di sela super sibuknya acara sekolah bulan Oktober, beruntung aku masih bisa gabung di proyek boneka Belalang Kupu-Kupu (BelKup). Awalnya, tujuh relawan Ayo Dongeng Indonesia (Budi, Catur, Desri, Dhyan, Hendra, Maya, Rika) berguru ke Papermoon Puppet di Yogya. Selama tiga hari dua malam, mereka saling berkenalan dengan Papermoon dan tukar cerita. Besoknya setelah pemanasan, mereka belajar manipulating object  dan dilanjutkan dengan menyiapkan pentas kecil berkelompok. Prosesnya dari membuat cerita, membuat boneka, dan besoknya latihan menggerakkan boneka, berlatih cerita, kemudian pentas.

Lalu, semua ilmu yang didapat di sana dibagi deh dengan teman-teman lain di grup BelKup. Sampai akhirnya diputuskan BelKup pentas perdana di Festival Dongeng Internasional Indonesia 2017. Untuk edisi kisah “Biru” kemarin, tim BelKup adalah berikut ini.

  • Penulis naskah: Aio
  • Biru: Catur & Hendra
  • Ibu: Dhyan & Rika
  • Enggang: Budi
  • Peri-peri: Annisa, Desri, DeKa, Nia
  • Musik: Bonchie, Dandi Ukulele, Uncle Ardi
  • Narator: Arnel

 

Belakang (ki-ka): Dandi, Budi, Hendra, Catur, Rika, Dhyan, Ardi
Depan (ki-ka): Arnel, Desri, DeKa, Annisa, Nia, Bonchie

Meniupkan Nyawa Boneka

Produksi boneka ini termasuk kilat, hanya sebulan dan efektif dikerjakan hanya saat akhir pekan. Aku termasuk yang nggak sering bisa bantu produksi boneka kertas ini. Tapi pas sempat ikut datang produksi keroyokan karena diburu kejar tayang, aku belajar bahwa membuat boneka kertas ini sama sekali nggak asal. Jangan cuma lihat lalu bilang “Ah, gitu doang apa susahnya?” Kelihatannya mungkin hanya menggunting, menempel, dan mengecat, padahal aslinya ada proses yang paling susah, yaitu “meniupkan nyawa”. Papermoon bilang, orang yang akan mementaskan itulah yang mesti membuat boneka itu juga. Maka kedekatan hati antara pemain dan bonekanya sudah tercipta sejak awal. Lagipula, pemain yang membuat akan lebih paham apa yang harus dilakukan jika boneka mengalami kerusakan atau kendala apa-apa.

Coba tebak bahan apa saja yang dipakai untuk membuat boneka ini?

Boneka ini sudah seharusnya diperlakukan sebagai karya seni. Maka ketika menghidupkan boneka kertas ini, Kak Catur bilang pemain haruslah ikhlas. Biarkan boneka yang hidup dan bercerita lewat gerakannya. Lepaskan ego pemain yang biasanya jadi pusat perhatian. Pemain justru dilarang menunjukkan ekspresi wajahnya. Nah, ini dia tantangan yang cukup sulit buat kebanyakan pemain yang sehari-harinya pendongeng. Kak Rika bilang, bermain boneka ini berbeda dengan mendongeng dengan alat peraga boneka. Dengan boneka kertas ini, pemain justru tidak boleh melakukan kontak mata dengan penonton. Biarkan mata boneka saja yang bicara sendiri. Biarkan boneka yang hidup dan bercerita.

Ditambah Narasi

Kalau pernah menonton Papermoon, kamu bisa lihat bahwa kisahnya dewasa dan murni tak ada narasi dari pemain. Nah, berbeda dengan mereka, untuk kisah “Biru” kemarin, tim BelKup menambahkan narasi. Ini dilakukan demi para pendengar anak-anak dengan beragam usia dan kebutuhannya. Adanya narasi membuat kisah ini lebih mudah untuk dipahami. Aku yang bertugas menjadi narator juga bahkan harus membacakan dialog dengan ekspresi, misalnya percakapan Biru dan Enggang.

Karena aku jadi narator, aku gampang menangkap respon penonton di depanku. Ada yang bengong terkesima, ada yang berbinar matanya, ada juga yang bereaksi spontan menebak “Yah, Biru mati?” Ini tentu reaksi yang sangat menyenangkan. Apalagi usai acara ketika kami diminta berkumpul di teras gedung PerpusNasRI itu, wah… boneka-boneka ini dikerubungi anak-anak dan orangtuanya! Ada juga yang menatap kagum, mau pegang dan colek bonekanya tapi malu-malu. Banyak juga yang antre minta foto bareng. Menyenangkan sekali!

Semoga kisah Biru kemarin bermanfaat untuk para penonton, ya. Dan semoga BelKup bisa berkarya lagi di lain kesempatan! 😊

 

Foto dari: Dandi Ukulele & tim dokumentasi FDII2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *