My IVF Diary (part 2) – Cek Hormon dan Jantung

19 November 2019

Sudah hari keempat suntik Gonal-F. Tiap pagi rasanya mual sedikit. Tapi makan tetap enak karena nafsu makan kok rasanya meningkat. Badan agak tidak nyaman, seperti melayang. Tapi saat siang rasanya bersemangat. Aku bisa ngajar dan bolak-balik gedung sekolah kayak biasa. Nah, begitu sore, badan baru deh terasa lelah banget. Kupikir normal aja lah ya, namanya juga kerja dan beraktifitas, pasti jadi lelah.

20 November 2019
1. USG dan konsultasi dokter
2. Cek darah hormon
3. Cek EKG (rekam jantung)

Kunjungan kedua. Pagi jam 9.30 aku dan Heru sudah sampai Morula, papasan dengan dr Wisnu di depan lift dan dia menyalami kami.

Kami langsung masuk ke Admisi. Tak lama, aku diperiksa berat badan dan tensi darah. 117/74. Suster tidak beri komentar apa-apa. Aku juga tidak banyak tanya.

Aku lalu menunggu panggilan sambil menyempatkan koreksi ujian. Tapi Heru mengganggu terus, memberi komentar lucu pada foto-foto aku main rollerskate bulan lalu.

Akhirnya kami masuk ruang dokter untuk USG kembali. Kata dokter, telurnya sudah berkembang, yang kanan besar-besar, tapi yang kiri masih kecil. Lalu dokter meminta aku suntik Gonal-F lagi untuk tiga hari ke depan, juga meminta cek hormon lewat darah.

Pokoknya aku merasa biasa saja waktu tiba di lab, sampai kemudian ada drama ini.

Waktu jarum masuk ke kulit terasa agak sakit. Satu dua tabung selesai. Di tabung ketiga aku merasa kesemutan di tangan, lalu lama-lama kepalaku pusing. Perawat menghentikan ambil darah. Lalu pusingku makin hebat. Perawat suruh aku tarik napas dan jangan tutup mata. Aku keringat dingin. Pusing, pusing, pusing. Melek, melek, melek. Mau panggil Heru yang lagi ambilkan minum nggak bisa. Sampai kemudian, huekk. Aku muntah. Perawat kaget.

Heru balik dari ambil air minum dan bingung lihat lantai ruang lab ada muntahan. Bingung juga waktu lihat aku meler dan mau nangis. Heru langsung suruh aku minum teh manis yang sudah dia buatkan. (Lupa banget kami diminta pantang teh dan kopi).

Saat pusing mereda, aku bertanya ke perawat, kenapa aku bisa begitu. Dengan polos perawat bilang kalau dia juga tidak tahu, baru sekali ini dia ambil darah eh pasiennya hampir pingsan lalu muntah. Karena tanggung tinggal satu tabung, aku bilang lanjutkan saja ambil darahnya. Perawat langsung gerak cepat tusuk lagi, sedot darah lagi hingga genap empat tabung.

Rasanya lemas dan mau pulang. Tapi belum bisa karena masih harus cek rekam jantung. Aku permisi dari ruang lab sambil minta maaf ke perawat dan mbak cleaning service yang baru datang. Sambil mengurus printilan biaya yang harus dibayar, Heru menyemangatiku dengan bilang, “Yah, muntahnya. Ketauan deh tadi makan di warteg .”

Aku cek rekam jantung (EKG/ECG) di Medical Check Up room di lantai 2 RS Bethsaida ini. Prosesnya cepat banget. Yang bikin ngeri itu karena ada kabel-kabel yang ditempel di dada, tangan, dan kaki.

Kesannya kayak mau disetrum. Padahal nggak terasa apa-apa. Hasil juga bisa langsung diambil. Aku nggak bisa baca grafiknya sih, tapi ada note “normal”. Syukurlah. Aku mau pulang dan tidur sekarang.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + lab dan cek darah hormon + GonalF tambahan + cek EKG = Rp.6.724.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *