My IVF Diary (part 3) – Konsultasi Anestesi

23 November 2019

Kunjungan ketiga ke dokter. Kali ini untuk mengecek seberapa besar telur yang kupunya. Pagi jam 10 itu dr Wisnu memeriksa dan ternyata, telurnya belum mencapai ukuran yang diharapkan. Aku kembali diresepkan suntik Gonal-F untuk memicu pembesaran telur, sekaligus suntik Cetrotide untuk menjaga telurnya jangan pecah dulu. Ini harus dua malam lagi dilakukan, setelah dua malam sebelumnya kami sudah pakai obat serupa.

Di ruang tunggu aku dapat pesan whatsapp dari pakbos. Katanya aku bikin kesalahan kemarin di tempat kerja dan akan dapat memo karena itu. Iya, absen dua hari aja aku udah mulai nggak fokus. Kalau masuk badan ya aneh gitu, tapi aku berusaha bereskan semua kerjaan karena mana tau besoknya harus absen lagi karena ada janji dengan dokter. Tiba-tiba aja pecah itu tangis. Heru bingung. Lalu aku cerita dan responnya tenang seperti biasa. “Kamu harus belajar terus, nggak semua hal bisa kamu kendalikan, nggak semua hal hasilnya sesuai dengan yang kamu harapkan.”

Iya, betul banget. Kayak si telur ini juga. Dokter kira dengan dosis yang diberi di awal sudah cukup membesarkan telur, ternyata belum. Makanya harus tambah dosis lagi. Artinya tambah waktu lagi, tambah sakitnya lagi, tambah biayanya lagi. Tapi yaa manusia memang tugasnya begini kan, usaha terus sekuat-kuatnya.

Bertemu Dokter Anestesi

Kunjungan kali ini kami sekalian dijadwalkan konsultasi dengan dokter anestesi. Iya, besok saat OPU (Ovum Pick Up) badan pasien dibuat tidur biar nggak banyak gerak, agar dokter bisa gampang lakukan tindakan ambil ovumnya. Lagian memang sakit, makanya ya mending dibius.

Dokter anestesinya kocak. Namanya dr. Sulis. Sudah tua dan medhok Jawa bicaranya. Dia jelaskan prosedur anestesi yang akan aku lewati nanti sambil mencatat data pasien dan komentarnya yang jahil. Berat badannya kok pakai koma, buletin aja ya. Beratnya nanti turun nih, kan nanti disuruh puasa dulu. Sebetulnya gak dibius boleh juga, ya asal kuat tahan sakitnya. Dulu di sini dokternya ada enam, tapi satu sudah meninggal. Yhaa~

Heru cengengesan terus. Aku ketawa-tawa terus. Aku dan Heru terus ketawa-tawa keluar ruangan itu sampai kemudian berhenti ketawa saat di kasir. “Haih, kita becanda doang tadi, bayarnya 350 ribu.” Kami ketawa lagi.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + Tambahan GonalF dan Cetrotide + konsultasi anestesi = Rp.5.435.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *