My IVF Diary (part 6) – Embryo Transfer

30 November 2019

Kemarin dokter Wisnu dan suster Siska sudah mengingatkan di whatsapp bahwa waktu untuk Embryo Transfer bisa jatuh hari Sabtu ini, tapi bisa juga di hari Senin. Penjelasan tentang mengapa mesti begitu akhirnya kami dapat dari orang laboratorium embryologi.

Aku sempat bingung, kalau manggil orang lab tuh apa ya? Dokter dipanggil dok, suster jadi sus, orang lab? Akhirnya aku panggil Mbak aja. Mbak Alvin. Ia seperti guru pelajaran Biologi dan kami berdua muridnya. Dia menjelaskan semua yang perlu kami ketahui tentang kondisi embrio sejak day 1 hingga day 3. Ini konsultasi penting karena setelah ini pasien harus menentukan langkah berikutnya.

Pada titik ini, aku benar-benar terkesima dengan kemajuan sains. Kagum bisa melihat foto perkawinan ovum dan sperma lewat prosedur ICSI lalu berubah jadi embrio yang hidup, membelah jadi sel, morula, dan jadi embrio potensial. Aku sempat tanya, kalau embrio hidup di luar rahim, dia makan dari mana? Jawabnya, embrio diberi cairan makanan bergizi, juga dibuatkan ruang hidup yang gelap seperti dalam rahim ibu. :”)

Hari ini embrio berada di usia Day 3. Mereka lalu dirangking. Ada 1 poor, 1 moderate, 3 good. Nah, karena ada yang masuk kategori good, maka dokter dan pihak lab embriologi menyarankan agar ditunggu hingga Day 5 hingga masuk tahap blastosis. Setelah diberitahukan semua keunggulan sekaligus risikonya, juga setelah banyak bertanya sampai bingung mau tanya apa lagi, aku dan Heru kemudian menandatangi kertas persetujuan. Jadi, ya, ET akan dilakukan Senin nanti.

2 Desember 2019

Day 5. Apa kabar mereka ya? Jujur aku tidak bisa untuk tidak kepikiran. Bahkan aku lumayan degdegan. Pantas saja dokter meresepkan dua jenis obat untuk diminum sebelum tindakan: obat antinyeri dan obat penenang.

Aku dan Heru dijadwalkan konsultasi kembali dengan Mbak Alvin dari lab embriologi. Hari ini dia menjelaskan bahwa ternyata pada Day 5 ini kami punya empat embrio dengan kategori good. Oh, alhamdulillah. Lalu berapa yang dibisa ditransfer ke tubuh harus didiskusikan lagi, juga harus disetujui dokter.

Tiba di ruang operasi, aku tidak diminta copot semua pakaian. Hanya diminta pakai baju dan tutup kepala pasien seperti itu. Kali ini juga Heru bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi.

Sewaktu aku sudah berbaring di operating theater yang dingin itu, dokter Wisnu masuk dan langsung menembak kami dengan pertanyaan, “Mau dua?” Aku dan Heru langsung ketawa bareng. Kami sudah dijelaskan sebelumnya kalau tanam dua embrio maka kemungkinan jika yang satu embrio luruh, semoga masih ada satu embrio yang bisa bertahan. Atau bisa jadi keduanya bertahan dan menjadi bayi kembar. Oh, ya, tentu saja gemas membayangkannya, meski bayangan indah itu diselimuti segala risiko atas kehamilan ganda. Ibaratnya semua risiko kehamilan dikali dua. Namun kelihatannya dokter Wisnu pede dengan kondisiku. Maka akhirnya kami setuju. Ya, bismillah.

Proses ET ternyata cepat. Kayaknya cuma 10 menit. USG di perut bawah. Pasang cocor bebek dan kateter. Lampu digelapkan. Embryo loading. Embryo in. Berbaring 30 menit. Selesai.

Karena rupanya sedang banyak pasien lain dan aku gak betah disuruh nunggu suster kembali, akhirnya aku memutuskan bangun dengan satu tujuan: pipis. Setelah itu aku dan Heru copot baju pasien dan meninggalkan ruangan dengan pede-pede aja. Sampai di ruang tunggu, suster langsung memanggil kami sambil tertawa. Ternyata kami kayak anak bandel. Kabur dari ruang operasi sendiri. Hahaha. Jadi harusnya pasien dibantu bangun, lalu berbaring di ruang pre-op lagi, dan dikasih makan siang di sana. Ini malah cabut duluan. 😅

Karena terlanjur, akhirnya kami diperbolehkan duduk di sofa ruang tunggu, setelah sebelumnya diberi wejangan oleh suster. Selama two weeks wait ini, sebaiknya ibu jalan pelan-pelan, naik turun tangga gapapa tapi jangan sering-sering, jangan beraktivitas berat, jangan ngegym atau sauna, jangan cat atau keriting rambut dulu, jangan taruh minyak hangat di area perut, jangan naik motor apalagi berkuda, hindari makan ikan dan daging mentah macam sushi dan rare steak. Jangan lupa diminum obatnya, ada 5 jenis ya, oral dan vaginal. OKE SIAP SUSTER! 😁

Setelah itu Heru mengurus persetujuan Freezing Embryo dan kami berdua harus memberi tanda tangan di kertas perjanjian bermeterai. Oh yes, segala prosedur IVF ini memang sangat berurusan dengan hukum karena sesungguhnya ini demi keamanan dan keselamatan semua pihak.

Semoga saja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh Mbak Alvin, juga suster dan dokter, semoga semua ikhtiar ini akan membawa rejeki untuk ibu bapak. Insya Allah. 💙

Informasi tambahan untuk referensi

Biaya freezing embryo tidak termasuk dalam paket biaya IVF, maka pada tahap ini pasien dikenakan biaya untuk FE itu.

Obat-obatan pasca ET + Freezing Embryo = Rp. 4.380.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *