Puisi 2004-2008



UNTUK KAHARINGAN
 
hijau, aku layu
harap embun dapat kupakai mandi
bukan hanya bagi mata
itu mengambau namanya!
 
biru, aku sendu
harap daksa tenggelam saja
dan berselimut pasir gelapmu
jangan sampai ia galiku!
 
matari cerlang
bunga rekah
nyiur ngipuk
kapanku bersamamu?
 
2004


 8 MARET

Ah, tiba senja...
Lakumu manakah saja?
Kurasa kita tlah setuju
untuk tak hanya cari senjata,
tapi juga tunduknya.
Dan jika capaian itu belum di tangan
ingatkanku tuk beri genggaman.
 
2005


DALAM DUA DUGA
 
terlalu pening ia memilih
racun di gelas biru atau jingga
sementara merah darahnya
sudah tak lagi aliri kepala
pria dungu itu akhirnya mengadu
pada pemilik hitam dunia raya
 
2006



PETANG NATAL
 
membariskan manik jadi tujuh
dikomandoi benang doa
 
menggunting sgala cemas keruh
di bayangan hitam perca
 
mengharap lunas pedih peluh
ditunaikan kilau caya
 
2007


DINGIN SUBUH
 
dia masih diikat kabut
tangannya menggapai tepian ranjang
meregang di kayu coklat terpanggang
 
wajah tuanya melengut
sungai kecil menganak di sudut lembah
sebelum tiba merapat pada yang disembah
 
getar purba kian akut
batu apung kecil digamit manja
merebus hangus si cair saga
 
kabut semakin kalut
mencekik jakun ceking yang turun naik
sesakkan jiwa berbalut harum taik
 
2007



KORENG LORENG
 
Meski daun-daun yang menempel di bajumu
berwarna segar seperti sayur
yang dibeli pembantu sebelah pintu,
pantat papan nama hebatmu
menguapkan daging busuk
yang dibakar seribu candu.
 
Kalau lengan kirimu dihancurkan mesiu,
jangan minta bebat kawan putihku!
 
2007



SONETA DAUN JAMBU
 
asap kelabu berpegangan dalam bola-bola hampa
menggelinding bersama di pipih granit
menciumi ilalang tua yang sembunyi genit
memantul dalam gelombang tanpa busa
 
bisa kepul mengendapi pias tuanya
merangsek genapi isi palung
membalur ungu carik selubung
mengisutkan lembar matari jingga
 
sekompi bayu menyerbu tanpa ragu
godamnya membelah bola jadi debu
terhambur karna pelawak tak bisa lucu
 
basah daun jambu memanggil bayu pulang
hisap duka dan merapat dalam kandang
hapus luka dan melumat sgala berang
 
2007



PADA KAWAN
 
Aku mencintaimu, kawan.
Seperti semut yang menepi jalan
memberi lapang untuk Sulaiman.
 
2007
 
 
DEPAN KAMPUS GANESHA
 
Ternyata menangisimu yang berjalan terburu-buru
melintasi taman burung dengan tapak berbatu
tak lebih lama dari menjilati es krim putih meleleh
dan usapan kawan yang beri sebotol besar teh.
 
Aku segera berlalu.
Tak lagi menoleh.
 
11 November 2007
 
 
 
YANG SLALU GIGIH
 
Aku meragukan niatnya
yang tertelan bersama
kunyah gado-gado depan taman kota.
 
Ia ingin menjadi kepala negara
mengemudikan kapal saat banjir besar tiba
menggumam asa merapal doa.
 
Tapi yagutsnya malah dibawa serta
untuk ditimang saat lelah mendayung raga.
 
2007
 
 
RABU BAU
 
Hari rabuku biasanya bau
Ya, memang tak slalu
Tapi biasanya begitu
 
Muridku semua bersepatu
Bagus-bagus, tampak baru
Jadi kakinya tak berdebu
 
Muridku semua berbaju
Halus licin kain blacu
Rapi jali tanpa ragu
 
Tapi setiap rabu
Kelasku slalu bau
Langu, ya, langu
Menyengat hidung pesekku
Tapi terpaksa juga kuhidu
Yah, mau tak mau
 
Aku benar tak tau
Bukan harum sagu
Bukan lembut abu
 
Ternyata aku tau
Inilah baunya dungu
Penjara otak muridku
 
27 Februari 2008
 
 
 
PESAN
 
anak itu mengirim pesan
tak cukup singkat serangkaian
begini ia katakan:
 
“maaf jika kami mengecewakan
minggu ini terlalu melelahkan
seribu tugas menumpuk nyatu
minta hati satu per satu
ingin rasanya jadi amuba
tapi padaya kami tak bisa
jadi lelagi mohon maafkan
smoga ibu benarlah paham”
 
apa aku harus berdiam
tugas dibuang ke jahanam?
begini ku katakan:
 
“relakan saja dideru ilmu
agar tak dungu hari tuamu”
 
27 Februari 2008
 
 
 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *