My IVF Diary (part 8) – Kuret dan Corona

4 Januari 2020

Sebetulnya duniaku masih suram, pikiran tidak jelas, takut ke RS lagi, tapi dokter menyarankan untuk periksa kondisi usai gagal IVF Desember lalu. Datanglah aku dan Heru ke RS Permata Ibu karena dr. Wisnu sedang praktik di sana. Aku menjalani pemeriksaan dalam lewat vagina, lupa namanya apa. Yang kuingat cuma rasanya mulas, tidak nyaman. Dokter bilang, ditemukan banyak polip di rahim, hingga kemudian dijatuhkan diagnosis hyperplasia endometrium. Dokter langsung sarankan untuk kuret malam itu juga. Di depan dokter aku angguk-angguk nurut, tapi begitu keluar ruang periksa, duduk di bangku lorong, aku nangis akhirnya. Entah, tiba-tiba takut. Tiba-tiba rasa kehilangan itu datang lagi. Otakku bilang, kuret berarti rahim dikorek-korek, dibersihkan, untuk mengambil semua kegagalan.

Melihatku nangis, Heru malah ajak aku tertawa. Jelek katanya mukaku, dilihatin orang pula di ruang tunggu RS itu. Heru lalu beranjak mengurus administrasi karena aku harus rawat inap semalam. Aku duduk sambil menahan panas air mata.

Sesudah masuk ruang rawat inap, Heru menelepon bapak mamaku untuk kasih kabar, yang berujung aku nangis lagi karena tiba-tiba ingat dulu mama pernah kuret juga. Aku nggak mau lihat hape, nggak tega lihat mama dan bapak di layar. Akhirnya dengan sungkan Heru meminta izin dan menutup telepon.

Selebihnya aku cuma merasa lemas terus-terusan. Aku cuma ingat kemudian masuk ruang operasi dengan grasa-grusu seperti di ER Grey’s Anatomy. Semua orang tampak hectic banget. Aku dibius dan sudah… tak ingat apa-apa. Bangun-bangun badan lemas banget. Mau melek susah, mau ngomong susah, tapi aku dengar suara suster ngobrol mau pesan makanan lewat gofood. Aku coba memanggil Heru, tapi kok susah sekali. Heru akhirnya melihat sinyal yang kuberi, lalu dia coba ajak aku bercanda karena dikira aku udah sadar penuh, padahal belum. Malam itu berakhir dengan aku ngantuk terus-terusan dan nangis lagi saat lihat selangkangan penuh olesan betadine.

1 Februari 2020

Dilema yang kurasa kadang lucu juga. Aku takut mengingat semua prosedur yang mesti dilewati. Banyak horornya, banyak nangisnya. Tapi sekaligus aku antusias mencoba juga. Semacam memenuhi rasa ingin tahu dan belajar hal baru.

Maka waktu dokter meminta aku tes darah lanjutan sebelum mencoba FET (Frozen Embryo Transfer), aku nurut dan semangat mengatur jadwal. Tes agregasi trombosit, ACA igm, Anti Beta Glikoprotein, Lupus Antikoagulan.
Habis Rp4.085.000 di lab Prodia. Begitu diambil darah ya lemas juga, enam tabung ya kalau nggak salah lihat. Makanya sebelum pulang ke rumah, Heru ajak makan bakmi sebelah Prodia itu, sambil tunggu hujan reda. Detik itu aku bersyukur karena boleh napas dulu, rehat dulu, setidaknya sebulan sebelum mulai siklus baru lagi.

16 Maret 2020

Setelah sudah dua kali mens aku kembali kepikiran, kapan sih waktu yang tepat untuk mulai FET. Akhirnya aku kirim chat wa ke dokter Wisnu. Ia memintaku datang saja ke Morula sekalian periksa.

Berita corona sebetulnya lumayan mengganggu, maka kami sempat tanyakan bagaimana baiknya menurut dokter. Kami diperbolehkan untuk mulai FET. Heru dan aku kepikiran, ya udahlah mumpung kondisi tubuhku sudah oke, dan masih ada frozen embyro bagus, nggak perlulah tunda-tunda.

Maka jadilah kami tanda tangan surat bermaterai sebagai persetujuan rangkaian tindakan FET. Lalu diberi resep femaplex dan dufarol. Habis sekitar satu juta rupiah. Aku diberi tahu untuk periksa USG lagi seminggu kemudian.

23 Maret 2020

Kekhawatiran tentang virus corona yang mewabah di luar sudah mulai mengganggu rencana kami. Meski begitu, aku dan Heru tetap ke Morula. Rupanya benar, kami terlewat dikabari kebijakan Morula. Jadi, sejak pemerintah mengabarkan ada kasus positif covid-19 di Indonesia, Morula mulai membuat kebijakan penundaan semua program IVF, kecuali yang mendesak dan tanggung berjalan. Nah, sayangnya aku dan Heru sudah terlanjur ke RS. Juga sudah keburu tanda tangan surat mulai FET. Jadi gimana?

Begitu sampai di RS Bethsaida, suasana sudah berubah. Masuk pintu RS, setiap pengunjung diukur suhu badannya. Lalu mengisi buku hadir, menulis keterangan siapa yang perlu konsultasi. Hand sanitizer di mana-mana. Sampai di lantai 7 ruang Morula, suasana sepi. Di situlah kami baru tahu bahwa seharusnya kami tidak perlu datang. Program kami mesti ditunda dulu. Sempat sedikit kecewa, kenapa bukan kemarin-kemarin kami dikabari sehingga tidak perlu beli obat dulu. Tapi yaa udah jalannya emang ajaib begini, jadi ya aku nerima aja.

4 Mei 2020

Oh, aku sangat peduli angka. Makanya ulang tahun kali ini aku kembali kepikiran, dobel kepikirannya. Satu, aku sudah 35 tahun. Dua, tahun ini ada corona.

Usia 35 itu penting buatku karena ini angka yang sering jadi standar ukuran dalam program kehamilan. Pernah baca dulu, pada usia 35 kesuburan perempuan mulai menurun. Pada usia 35 perempuan lebih berisiko untuk hamil dan melahirkan. Kemarin aja waktu embyro transfer pertama kali, penentuan jumlah embryo yang bisa ditanam diukur dari usia juga. Kalau usia 35, boleh tanam dua embryo sehingga bisa jadi bayi kembar. Di bawah 35 tahun sebaiknya jangan. Yah, begitulah, jadi kepikiran sendiri. Padahal dalam program IVF aku masih terhitung muda karena banyak pasangan lain yang usianya di atas 35 dan 40-an yang masih terus berjuang.

Usia 35 tahun ini kok ya ndilalah berbarengan ada corona. Virus brengsek ini memaksa aku kerja di rumah aja, nggak bisa ketemu banyak orang seperti biasanya ketika ultah. Padahal ulang tahunku selama ini nggak pernah sepi, selalu dirayakan bersama murid-murid, ya karena kerja di sekolah juga kan. Juga selalu ramai dirayakan keluarga dan teman. Bahkan biasanya ultah sampai seminggu terus-terusan karena ada aja kejutan dan kado yang berdatangan. Tapi tahun ini beda banget. Sepi. Aku kesepian. Yang mengucapkan pun benar-benar teman dekat atau yang kebetulan tau lewat media sosial aja.

Kemudian aku renungkan, apa barangkali memang jadi sebuah keberuntungan ketika aku tidak (belum) memiliki anak di masa pandemi begini. Aku membayangkan betapa sulitnya orang tua mengurus anak di kondisi serba tidak jelas seperti ini. Meskipun aku tidak juga menafikan betapa jadi keberuntungan yang membahagiakan juga mereka yang bisa selamat melahirkan dalam situasi yang serba membingungkan.

Pada akhirnya aku mesti belajar banyak bersyukur terus. Berterima kasih atas segala pemberian yang sudah kuterima. Sehat dan belajar bahagia selalu. Itu dulu.

Puisi 2004-2008



UNTUK KAHARINGAN
 
hijau, aku layu
harap embun dapat kupakai mandi
bukan hanya bagi mata
itu mengambau namanya!
 
biru, aku sendu
harap daksa tenggelam saja
dan berselimut pasir gelapmu
jangan sampai ia galiku!
 
matari cerlang
bunga rekah
nyiur ngipuk
kapanku bersamamu?
 
2004


 8 MARET

Ah, tiba senja...
Lakumu manakah saja?
Kurasa kita tlah setuju
untuk tak hanya cari senjata,
tapi juga tunduknya.
Dan jika capaian itu belum di tangan
ingatkanku tuk beri genggaman.
 
2005


DALAM DUA DUGA
 
terlalu pening ia memilih
racun di gelas biru atau jingga
sementara merah darahnya
sudah tak lagi aliri kepala
pria dungu itu akhirnya mengadu
pada pemilik hitam dunia raya
 
2006



PETANG NATAL
 
membariskan manik jadi tujuh
dikomandoi benang doa
 
menggunting sgala cemas keruh
di bayangan hitam perca
 
mengharap lunas pedih peluh
ditunaikan kilau caya
 
2007


DINGIN SUBUH
 
dia masih diikat kabut
tangannya menggapai tepian ranjang
meregang di kayu coklat terpanggang
 
wajah tuanya melengut
sungai kecil menganak di sudut lembah
sebelum tiba merapat pada yang disembah
 
getar purba kian akut
batu apung kecil digamit manja
merebus hangus si cair saga
 
kabut semakin kalut
mencekik jakun ceking yang turun naik
sesakkan jiwa berbalut harum taik
 
2007



KORENG LORENG
 
Meski daun-daun yang menempel di bajumu
berwarna segar seperti sayur
yang dibeli pembantu sebelah pintu,
pantat papan nama hebatmu
menguapkan daging busuk
yang dibakar seribu candu.
 
Kalau lengan kirimu dihancurkan mesiu,
jangan minta bebat kawan putihku!
 
2007



SONETA DAUN JAMBU
 
asap kelabu berpegangan dalam bola-bola hampa
menggelinding bersama di pipih granit
menciumi ilalang tua yang sembunyi genit
memantul dalam gelombang tanpa busa
 
bisa kepul mengendapi pias tuanya
merangsek genapi isi palung
membalur ungu carik selubung
mengisutkan lembar matari jingga
 
sekompi bayu menyerbu tanpa ragu
godamnya membelah bola jadi debu
terhambur karna pelawak tak bisa lucu
 
basah daun jambu memanggil bayu pulang
hisap duka dan merapat dalam kandang
hapus luka dan melumat sgala berang
 
2007



PADA KAWAN
 
Aku mencintaimu, kawan.
Seperti semut yang menepi jalan
memberi lapang untuk Sulaiman.
 
2007
 
 
DEPAN KAMPUS GANESHA
 
Ternyata menangisimu yang berjalan terburu-buru
melintasi taman burung dengan tapak berbatu
tak lebih lama dari menjilati es krim putih meleleh
dan usapan kawan yang beri sebotol besar teh.
 
Aku segera berlalu.
Tak lagi menoleh.
 
11 November 2007
 
 
 
YANG SLALU GIGIH
 
Aku meragukan niatnya
yang tertelan bersama
kunyah gado-gado depan taman kota.
 
Ia ingin menjadi kepala negara
mengemudikan kapal saat banjir besar tiba
menggumam asa merapal doa.
 
Tapi yagutsnya malah dibawa serta
untuk ditimang saat lelah mendayung raga.
 
2007
 
 
RABU BAU
 
Hari rabuku biasanya bau
Ya, memang tak slalu
Tapi biasanya begitu
 
Muridku semua bersepatu
Bagus-bagus, tampak baru
Jadi kakinya tak berdebu
 
Muridku semua berbaju
Halus licin kain blacu
Rapi jali tanpa ragu
 
Tapi setiap rabu
Kelasku slalu bau
Langu, ya, langu
Menyengat hidung pesekku
Tapi terpaksa juga kuhidu
Yah, mau tak mau
 
Aku benar tak tau
Bukan harum sagu
Bukan lembut abu
 
Ternyata aku tau
Inilah baunya dungu
Penjara otak muridku
 
27 Februari 2008
 
 
 
PESAN
 
anak itu mengirim pesan
tak cukup singkat serangkaian
begini ia katakan:
 
“maaf jika kami mengecewakan
minggu ini terlalu melelahkan
seribu tugas menumpuk nyatu
minta hati satu per satu
ingin rasanya jadi amuba
tapi padaya kami tak bisa
jadi lelagi mohon maafkan
smoga ibu benarlah paham”
 
apa aku harus berdiam
tugas dibuang ke jahanam?
begini ku katakan:
 
“relakan saja dideru ilmu
agar tak dungu hari tuamu”
 
27 Februari 2008
 
 
 


My IVF Diary (part 7) – Two Weeks Wait and The Result

9 Desember 2019

Senin ini aku masuk sekolah dan berharap akan santai karena tinggal duduk jaga ujian. Usai jaga, hari sudah siang. Aku makan salmon yang Heru buatkan untuk bekal, lalu jalan ke musola sekolah. Kembali ke ruang guru di lantai 4, badanku keringat dingin. Pinggal pegal, sedikit pusing. Oh, tidak, seperti sakit PMS.

Lewat whatsapp aku laporkan kondisiku ke dr Wisnu. Beliau langsung instruksikan aku untuk bedrest tiga hari. Tenangkan badan, tenangkan pikiran.

12 Desember 2019

Siang tadi aku pipis dan menemukan flek coklat di celana. Gelap. Lemas. Kupanggil Heru dan kubilang, “Kayaknya aku mens.” Langsung aku menangis. Meraung.

13 Desember 2019

Jam setengah 1 malam, terbangun lalu tiba-tiba muntah hebat. Keringat dingin, pusing, lelah. Kembali tidur. Jam setengah 2, terbangun lagi dan muntah lagi. Sudah tak ada lagi sisa makanan, hanya cairan. Coba istirahat lagi. Jam setengah 3 lewat, lagi-lagi terbangun dan muntah. Yang keluar adalah cairan kuning. Lelah. Pusing. Tidur lagi. Jam 4 subuh, sekali lagi terbangun untuk muntah. Si cairan kuning itu keluar sampai habis.

Dokter Wisnu kemarin sempat bilang “masih ada harapan” saat kukabari tentang flek coklat kemarin. Bagaimana pun penentuannya adalah hari ini, dengan tes darah Beta HCG.

Jam 9 pagi diambil darah satu tabung. Lalu sempat ketemu dokter Wisnu juga dan melaporkan kondisiku yang pusing, mual, dan muntah-muntah semalam. Dia kemudian iseng mengajak cek USG transvaginal yang kemudian ternyata benar, memang belum terlihat apa-apa. “Tunggu hasil cek darah, ya,” katanya.

Jujur saja, aku dan Heru sempat ge’er. Mengira segala mual ini adalah gejala positif. Bahwa kemungkinannya cukup oke dengan melihat semangat dokter dan suster yang walaupun netral, tapi cukup membuat kami senang.

Tapi ternyata… sore hari hasil lab itu datang dan menyatakan… negatif.

Kali ini aku tidak meraung. Aku cuma merasa kosong.

My IVF Diary (part 6) – Embryo Transfer

30 November 2019

Kemarin dokter Wisnu dan suster Siska sudah mengingatkan di whatsapp bahwa waktu untuk Embryo Transfer bisa jatuh hari Sabtu ini, tapi bisa juga di hari Senin. Penjelasan tentang mengapa mesti begitu akhirnya kami dapat dari orang laboratorium embryologi.

Aku sempat bingung, kalau manggil orang lab tuh apa ya? Dokter dipanggil dok, suster jadi sus, orang lab? Akhirnya aku panggil Mbak aja. Mbak Alvin. Ia seperti guru pelajaran Biologi dan kami berdua muridnya. Dia menjelaskan semua yang perlu kami ketahui tentang kondisi embrio sejak day 1 hingga day 3. Ini konsultasi penting karena setelah ini pasien harus menentukan langkah berikutnya.

Pada titik ini, aku benar-benar terkesima dengan kemajuan sains. Kagum bisa melihat foto perkawinan ovum dan sperma lewat prosedur ICSI lalu berubah jadi embrio yang hidup, membelah jadi sel, morula, dan jadi embrio potensial. Aku sempat tanya, kalau embrio hidup di luar rahim, dia makan dari mana? Jawabnya, embrio diberi cairan makanan bergizi, juga dibuatkan ruang hidup yang gelap seperti dalam rahim ibu. :”)

Hari ini embrio berada di usia Day 3. Mereka lalu dirangking. Ada 1 poor, 1 moderate, 3 good. Nah, karena ada yang masuk kategori good, maka dokter dan pihak lab embriologi menyarankan agar ditunggu hingga Day 5 hingga masuk tahap blastosis. Setelah diberitahukan semua keunggulan sekaligus risikonya, juga setelah banyak bertanya sampai bingung mau tanya apa lagi, aku dan Heru kemudian menandatangi kertas persetujuan. Jadi, ya, ET akan dilakukan Senin nanti.

2 Desember 2019

Day 5. Apa kabar mereka ya? Jujur aku tidak bisa untuk tidak kepikiran. Bahkan aku lumayan degdegan. Pantas saja dokter meresepkan dua jenis obat untuk diminum sebelum tindakan: obat antinyeri dan obat penenang.

Aku dan Heru dijadwalkan konsultasi kembali dengan Mbak Alvin dari lab embriologi. Hari ini dia menjelaskan bahwa ternyata pada Day 5 ini kami punya empat embrio dengan kategori good. Oh, alhamdulillah. Lalu berapa yang dibisa ditransfer ke tubuh harus didiskusikan lagi, juga harus disetujui dokter.

Tiba di ruang operasi, aku tidak diminta copot semua pakaian. Hanya diminta pakai baju dan tutup kepala pasien seperti itu. Kali ini juga Heru bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi.

Sewaktu aku sudah berbaring di operating theater yang dingin itu, dokter Wisnu masuk dan langsung menembak kami dengan pertanyaan, “Mau dua?” Aku dan Heru langsung ketawa bareng. Kami sudah dijelaskan sebelumnya kalau tanam dua embrio maka kemungkinan jika yang satu embrio luruh, semoga masih ada satu embrio yang bisa bertahan. Atau bisa jadi keduanya bertahan dan menjadi bayi kembar. Oh, ya, tentu saja gemas membayangkannya, meski bayangan indah itu diselimuti segala risiko atas kehamilan ganda. Ibaratnya semua risiko kehamilan dikali dua. Namun kelihatannya dokter Wisnu pede dengan kondisiku. Maka akhirnya kami setuju. Ya, bismillah.

Proses ET ternyata cepat. Kayaknya cuma 10 menit. USG di perut bawah. Pasang cocor bebek dan kateter. Lampu digelapkan. Embryo loading. Embryo in. Berbaring 30 menit. Selesai.

Karena rupanya sedang banyak pasien lain dan aku gak betah disuruh nunggu suster kembali, akhirnya aku memutuskan bangun dengan satu tujuan: pipis. Setelah itu aku dan Heru copot baju pasien dan meninggalkan ruangan dengan pede-pede aja. Sampai di ruang tunggu, suster langsung memanggil kami sambil tertawa. Ternyata kami kayak anak bandel. Kabur dari ruang operasi sendiri. Hahaha. Jadi harusnya pasien dibantu bangun, lalu berbaring di ruang pre-op lagi, dan dikasih makan siang di sana. Ini malah cabut duluan. 😅

Karena terlanjur, akhirnya kami diperbolehkan duduk di sofa ruang tunggu, setelah sebelumnya diberi wejangan oleh suster. Selama two weeks wait ini, sebaiknya ibu jalan pelan-pelan, naik turun tangga gapapa tapi jangan sering-sering, jangan beraktivitas berat, jangan ngegym atau sauna, jangan cat atau keriting rambut dulu, jangan taruh minyak hangat di area perut, jangan naik motor apalagi berkuda, hindari makan ikan dan daging mentah macam sushi dan rare steak. Jangan lupa diminum obatnya, ada 5 jenis ya, oral dan vaginal. OKE SIAP SUSTER! 😁

Setelah itu Heru mengurus persetujuan Freezing Embryo dan kami berdua harus memberi tanda tangan di kertas perjanjian bermeterai. Oh yes, segala prosedur IVF ini memang sangat berurusan dengan hukum karena sesungguhnya ini demi keamanan dan keselamatan semua pihak.

Semoga saja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh Mbak Alvin, juga suster dan dokter, semoga semua ikhtiar ini akan membawa rejeki untuk ibu bapak. Insya Allah. 💙

Informasi tambahan untuk referensi

Biaya freezing embryo tidak termasuk dalam paket biaya IVF, maka pada tahap ini pasien dikenakan biaya untuk FE itu.

Obat-obatan pasca ET + Freezing Embryo = Rp. 4.380.000

My IVF Diary (part 5) – Ovum Pick Up

27 September 2019

Bangun tidur aku kehausan. Tapi segera ingat bahwa aku memang diminta berpuasa makan minum sejak semalam karena pagi ini waktunya OPU. Ya, Ovum Pick Up.

Sampai di Morula, aku dan Heru langsung diminta ke ruang persiapan. Heru diminta pakai baju begitu dan copot sepatu, ganti pakai sandal model crocs. Trus dia geli sendiri, walau tetap akhirnya milih warna, maunya crocs biru. 😅

Aku juga tentu, pakai baju standar operasi. Juga sudah mandi bersih tidak pakai kosmetik, parfum, cat kuku, perhiasan, dll. Lalu bengong-bengong nunggu di ruang pre-operation ditemani Heru. Sepi banget di sana, jadi aku iseng komentari apa pun yang kulihat dan Heru mencoba menjawab dengan sok bijak. Kenapa ada keset lengket sih di depan ruang operasi? Oh biar kalo ada jarum atau kapas sisa bisa nempel di situ. Kenapa judul ruangannya Operating Theater ya? Wah, berarti nanti kamu ditonton. 😑

Jam 9 akhirnya aku dipanggil masuk ruang operasi. Heru diminta nunggu di luar, eh, diminta ke ruang Men’s room untuk melakukan tugasnya menyiapkan benih-benih cinta (you know what I mean). Sementara aku langsung ditata oleh dua suster Morula kayak ayam potong yang dijual di pasar. Mengangkang lebar. Dokter Wisnu, Suster Siska dan Suster Lulu sudah siap. Suster anestesi lalu memasang alat-alat yang ditempel di jari dan lenganku, selang oksigen di hidungku, pokoknya aku sudah rapi. Lalu nunggu, nunggu, sampai kedinginan karena suhu ruangan kayaknya sengaja dipasang dingin. Ternyata dokter biusnya telat.

Sambil mengisi waktu, dokter Wisnu ngajak ngobrol, nanya aku kerja di mana. Rasanya aneh sih, aku udah ngangkang dan bugil, tapi diajak ngobrol kerjaan, yaa meskipun aku paham tujuannya. Dia juga kemudian pasang lagu. 🎶 Heart beats fast, colors and promises, how to be brave, how can I love when I’m afraid to fall, one step closer, I have died everyday waiting for you… Sumpah, lagunya salah banget.

Seingatku terakhir kulihat jam 09.40. Lalu blep… aku tidak ingat apa-apa, sampai kemudian aku bangun kira-kira jam 12. Suster datang mengecek apakah aku pusing atau mual. Kujawab dengan menggeleng dan bilang, “Lapar.” Suster Siska tersenyum lalu mempersilakan makan siang yang sudah disediakan Morula.

Satu jam kemudian aku baru beranjak dari tempat tidur, karena kepingin pipis. Waktu pipis, ada sisa darah keluar. Buru-buru aku laporkan ke suster, tapi katanya itu wajar. “Tadi sebelum selesai, kami sudah memastikan tidak ada pendarahan dalam,” ujarnya. Jadi berdarahnya itu normal aja. Makanya kemudian juga aku diresepkan obat hormon dan antibiotik untuk diminum beberapa hari ke depan. Lemas, tapi senang juga karena tahap ini akhirnya selesai.

Informasi tambahan untuk referensi

Ibu bapak yang perlu referensi, kemarin aku dan suami ambil paket IVF, detailnya bisa dibaca pada posting part 4. Jadi pada hari OPU ini kami tidak lagi repot dengan biaya besarnya. Kami hanya menebus obat pendukung dan antibiotik sekitar Rp.900.000.

My IVF Diary (part 4) – Diet Sehat Persiapan OPU

25 November 2019

Selamat hari guru! Dan aku sendu karena harus merayakan hari ini di rumah sakit. Pekan ini sebetulnya ada pentas drama kelas 11, tapi aku akan banyak melewatkan pentasnya karena akan ke RS terus.

Pagi sebelum berangkat Heru masak salmon, hadiah buatku yang mual terus rasanya setiap pagi. Ohya, salmon ini salah satu makanan rekomendasi untuk sering dikonsumsi selama program IVF. Diet selama IVF mudah sebetulnya, walau kadang kangen sama beberapa makanan pantangan. Oh, tahu krispi… Oh, yogurt bluberi…

Salmon panggang dan brokoli wortel rebus. Nasi beras hitam cuma buatku. Heru nggak doyan.

Pantangan: kopi, teh, dan apapun yang mengandung kafein. Segala jenis kacang (kacang hijau, kacang tanah, dll., kecuali almond). Tahu, tempe, tauco, susu soya, susu kedelai, cokelat, yogurt. Alkohol dan rokok.

Anjuran: Minum air mineral sehari minimal 3 liter. Menjaga suhu tubuh normal. Makan makanan protein tinggi. Banyak olahraga ringan.

Makanan rekomendasi: Ikan laut (salmon, tuna, gindara). Putih telur 2-3 butir per hari. Brokoli, wortel, tomat, dan semua sayuran dengan vitamin C tinggi. Buah naga, semangka, jeruk manis, dan semua buah yang bervitamin C tinggi.

Sarapan paling gampang. Buah naga kerok sendok. Jeruk peras hangat 500 ml buat berdua.
Telur rebus tiga butir tambah brokoli tumis butter cabai bawang putih.

Bekal buat ke sekolah. Overnight muesli with almond and chia, siram susu tawar. Tambah mangga manis.

Persiapan OPU

Usai cek tensi, suster langsung ajak aku ke lab untuk ambil darah lagi sebanyak satu tabung, untuk mengecek hormon estradiol dan progesteron.

Setelah itu, nggak lama kami langsung ke ruang dokter dan kembali USG. Diperiksa seberapa siap telur yang ada. Dokter Wisnu bilang, ada enam yang berpotensi. Jadi malam nanti harus suntik pemecah telur Ovidrel, sekaligus minum tablet Mefenamic Acid.

Trigger injection. Suntik bentuk pen gini enak banget dipakainya. Gak sakit.

Sebelum pulang, muridku mengirim video boomerang mereka usai pentas drama. Huahh, tiba-tiba nangis dong. Sebulan menyiapkan drama mereka, tapi pas hari H aku nggak bisa nonton. ☹ Tapi hidup ya gitu, harus banyak milih dan terima rasanya. Ya.

Siang itu kami pun pulang dan hampir kehujanan.

Info tambahan untuk referensi

Sebelum OPU nanti, kami harus melunasi biaya prosedur di awal. Jadi, ini biaya yang dikeluarkan pada kunjungan keempat.

USG dan konsultasi dokter + cek darah progesteron dan estradiol + obat + paket IVF end year phase 1-3 = Rp. 36.780.000

My IVF Diary (part 3) – Konsultasi Anestesi

23 November 2019

Kunjungan ketiga ke dokter. Kali ini untuk mengecek seberapa besar telur yang kupunya. Pagi jam 10 itu dr Wisnu memeriksa dan ternyata, telurnya belum mencapai ukuran yang diharapkan. Aku kembali diresepkan suntik Gonal-F untuk memicu pembesaran telur, sekaligus suntik Cetrotide untuk menjaga telurnya jangan pecah dulu. Ini harus dua malam lagi dilakukan, setelah dua malam sebelumnya kami sudah pakai obat serupa.

Di ruang tunggu aku dapat pesan whatsapp dari pakbos. Katanya aku bikin kesalahan kemarin di tempat kerja dan akan dapat memo karena itu. Iya, absen dua hari aja aku udah mulai nggak fokus. Kalau masuk badan ya aneh gitu, tapi aku berusaha bereskan semua kerjaan karena mana tau besoknya harus absen lagi karena ada janji dengan dokter. Tiba-tiba aja pecah itu tangis. Heru bingung. Lalu aku cerita dan responnya tenang seperti biasa. “Kamu harus belajar terus, nggak semua hal bisa kamu kendalikan, nggak semua hal hasilnya sesuai dengan yang kamu harapkan.”

Iya, betul banget. Kayak si telur ini juga. Dokter kira dengan dosis yang diberi di awal sudah cukup membesarkan telur, ternyata belum. Makanya harus tambah dosis lagi. Artinya tambah waktu lagi, tambah sakitnya lagi, tambah biayanya lagi. Tapi yaa manusia memang tugasnya begini kan, usaha terus sekuat-kuatnya.

Bertemu Dokter Anestesi

Kunjungan kali ini kami sekalian dijadwalkan konsultasi dengan dokter anestesi. Iya, besok saat OPU (Ovum Pick Up) badan pasien dibuat tidur biar nggak banyak gerak, agar dokter bisa gampang lakukan tindakan ambil ovumnya. Lagian memang sakit, makanya ya mending dibius.

Dokter anestesinya kocak. Namanya dr. Sulis. Sudah tua dan medhok Jawa bicaranya. Dia jelaskan prosedur anestesi yang akan aku lewati nanti sambil mencatat data pasien dan komentarnya yang jahil. Berat badannya kok pakai koma, buletin aja ya. Beratnya nanti turun nih, kan nanti disuruh puasa dulu. Sebetulnya gak dibius boleh juga, ya asal kuat tahan sakitnya. Dulu di sini dokternya ada enam, tapi satu sudah meninggal. Yhaa~

Heru cengengesan terus. Aku ketawa-tawa terus. Aku dan Heru terus ketawa-tawa keluar ruangan itu sampai kemudian berhenti ketawa saat di kasir. “Haih, kita becanda doang tadi, bayarnya 350 ribu.” Kami ketawa lagi.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + Tambahan GonalF dan Cetrotide + konsultasi anestesi = Rp.5.435.000