Kepada anak-anak dan Sahabat Anak

Anak-anak berkuku hitam bergigi gompal tertawa riang.
Mereka bebas main bersama teman, bukan lagi di jalan.

Kalimat itu saya kirim ke akun @kotakhitam_ di twitter tepat setelah melihat anak-anak jalanan di hadapan saya kemarin lalu. Saya begitu yakin gambaran itu akan segera jadi kenangan berharga. Saya bersyukur dapat bertemu anak-anak yang selama ini hanya saya lihat di berita televisi. Anak-anak yang bekerja di lampu merah jalan raya, atau bermain dan tertawa di pinggir sungai dan rel kereta.

Kepada Sahabat Anak (@sahabatanak) saya harus berterima kasih. Saya dapat kesempatan bermain dengan anak-anak itu di Jambore Sahabat Anak XV tanggal 2-3 Juli lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya bergabung dengan teman-teman relawan lain. Saya digabungkan dengan Sahabat Anak Tanah Abang. Lompat Karet nama tenda jambore mereka. Ada sekitar 30 anak di tenda ini. Saya tidak hapal semua karena banyak yang baru berkenalan di saat acara, kecuali setidaknya tiga anak manis ini: Nita (14 tahun), Yuniar (10 tahun), dan Yani (12 tahun). Nama-nama tenda adalah nama permainan anak-anak. Ada 29 kelompok tenda di JSA tahun ini dan semuanya menggunakan nama permainan, seperti congklak, engrang, atau hompimpa. Tema jambore jadi teraplikasi walau tak semua permainan itu bisa dilakukan anak-anak pada saat jambore berlangsung.

Tema “Bermain” ini mengakomodasi hak anak Indonesia yang pertama. Saya pikir ini menjadi poin yang begitu penting dan mendasar mengingat anak-anak ini sebagian besar telah mengalami kehilangan waktu bermain seperti anak-anak seharusnya. Kalau kata Iwan Fals, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, dipaksa pecahkan karang padahal lemah kepal jarinya. Anak-anak kecil itu telah terbebani dengan keharusan mencari nafkah untuk pemenuhan diri sendiri atau membantu kebutuhan orang tua mereka. Sahabat Anak telah berusaha menanamkan pengertian hak bermain ini kepada anak-anak binaan. Saat belajar bimbel harian, mereka sering diingatkan apa saja 10 poin Hak Anak Indonesia (HAI). Di rumah Sahabat Anak poster dipajang. Pada saat jambore lagu HAI dibuat dan dinyanyikan bersama. Manfaat bermain itu pun ditulis besar-besar di punggung kaos kegiatan.

Hamburan pujian banyak terlimpah untuk Sahabat Anak yang sudah menyelenggarakan acara jambore ini kesekian kali. Saya sangat mengapresiasi kebaikan hati mereka semua. Betapa ini adalah hal mulia yang sebetulnya bisa dilakukan banyak orang. Ada sekitar 600 orang mahasiswa dan pekerja yang menjadi pendamping adik-adik ini. Ada pula sejumlah orang yang sibuk menjadi panitia yang repot bekerja sejak empat bulan sebelumnya. Para donatur dan pihak pemerintah, sejumlah artis ibukota, juga keluarga yang bergabung di hari H acara, tentu semua punya niat baik untuk sekitar 1100 anak-anak ini. Tentu nilai-nilai baik pula yang ingin kita ajarkan kepada anak-anak bukan? Misalnya, perihal sopan santun, semangat sekolah, menolong orang, hidup bersih, dan juga kedisiplinan.

Sebab itulah saya gemas ketika acara ini mengalami keterlambatan atau kekurangan fasilitas yang mendukung tujuan baik itu. Saya dan adik-adik dari SA Tanah Abang berangkat pukul lima pagi dari Tanah Abang ke Pasar Minggu. Mereka bahkan sudah bersiap dan berbaris sejak pukul empat pagi. Semangat mereka sangat menggebu. Lalu kami tiba di Kebun Binatang Ragunan pukul 5.30 dan menunggu. Setelah registrasi, kami masuk ke dalam Kebun Binatang dan menjadi yang pertama berfoto kelompok dan masuk ke arena panggung pembuka. Kami lalu menunggu kedatangan 28 kelompok tenda lain yang datang beriringan satu persatu ke lapangan rumput depan panggung itu.

Matahari mulai meninggi. Rangkaian acara pembukaan memakan waktu lama. Sambutan sana-sini, pelepasan balon, menyanyikan yel-yel berurutan, absensi, hiburan, doa pembuka, tanda tangan artis, semua itu menghabiskan banyak waktu. Acara Amazing Race (berkeliling Ragunan sambil menyelesaikan permainan di tiap trek) yang seharusnya dijadwalkan mulai pukul 8 pun harus mundur hingga pukul 10. Anak-anak mengeluhkan kepanasan dan mulai tidak tahan untuk tidak berlarian. Berkali-kali mereka bertanya kapan acara main dimulai dan kapan pergi ke tenda. Ini adalah sebuah hal yang wajar. Sebagian besar peserta JSA adalah anak usia sekolah dasar. Di kelompok tenda saya saja ada dua anak usia 6 tahun. Karena Amazing Race dimulai pukul 10 itu, beberapa anak mulai kelelahan. Meski begitu, semua tertutup semangat untuk melihat binatang-binatang idola dalam kebun binatang. Keterlambatan berikutnya menyusul ketika acara jalan kaki secara ular naga menuju lokasi kemah Ragunan. Iring-iringan 1700 orang tentu butuh pengaturan luar biasa. Kelompok tenda kami meminta untuk jalan lebih dulu mengingat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Anak-anak kecil ini sudah lelah. Sementara mereka masih harus berjalan satu kilometer dari Kebun Binatang ke Bumi Perkemahan. Namun, saya berterima kasih kepada tim dari Tagana yang membantu kelancaran perjalanan kami sepanjang ruas jalan raya Ragunan.

Yang patut menjadi catatan evaluasi adalah panitia dan semua pihak yang terlibat wajib ingat bahwa peserta jambore ini anak-anak dan remaja dengan rentang usia 5/6 tahun yang belum bersekolah hingga usia 17/18 tahun yang baru saja lulus sekolah menengah. Kegiatan yang dilakukan memang sudah diusahakan panitia memenuhi semua kebutuhan anak ini. Namun, ada baiknya jika beberapa kegiatan dipisahkan sesuai kebutuhan usia anak. Anak usia SD akan lebih sulit menunggu dan diminta diam selama sekian jam sebab mereka adalah anak usia aktif bergerak. Berbeda pula dengan anak remaja yang menginginkan jenis permainan yang sesuai usia mereka. Sementara itu, saya mengesampingkan kebutuhan kakak pendamping sebab itu bukan prioritas yang harus dipuaskan dalam jambore ini.

Terkait itu pula, saya bingung sekali ketika pada malam hari di panggung hiburan muncul artis pendatang baru Emily Laras dengan pakaian dress seksi yang mengingatkan saya pada Syahrini. Penonton di sana adalah semua anak peserta jambore dan juga kakak pendamping tentunya. Lalu Emily Laras menyanyikan lagu “Dont Sleep Away” Daniel Sahuleka itu yang dengan miris kocak bertentangan dengan Janji Peserta JSA nomor tiga. Saya menyukai kedatangan band yang saya lupa namanya menyanyikan lagu Laskar Pelangi atau Kepompong, juga dongeng musik Kak Resa yang kelihatan disukai anak-anak kecil. Isi acara untuk anak, maka wajib hukumnya setiap detil acara untuk memenuhi kebutuhan anak, sesuai dengan kebutuhan psikologis anak dan juga mendidik kebaikan untuk anak. Sebaiknya panitia memilah urutan acara. Acara dongeng dan lagu anak ditaruh di jam awal sehingga bisa dinikmati anak kecil. Ketika memasuki acara remaja dan dewasa, anak-anak usia kecil bisa diajak pulang dan tidur di tenda. Dengan begitu, kebutuhan hiburan anak remaja tetap bisa terpenuhi tanpa melanggar hak anak yang lebih kecil.

Ohya, masalah besar berikutnya adalah masalah air dan kebersihan. Begitu sampai di tenda, acara mandi jadi agenda repot untuk anak-anak dan pendamping sebab ternyata kamar mandi yang berfungsi baik hanya kurang dari 10 saja. Lampu tak ada di beberapa kamar mandi. Panitia menyediakan bilik mandi semacam di lokasi pengungsian, tetapi tak ada ember dan air. Jadi, sebagian besar anak dan kakak kreatif sekali memakai keran di masjid untuk keramas dan sikat gigi. Yang menyedihkan, ada anak kecil yang mencoba buang air besar di selokan tempat wudu yang kecil itu. Dari sini saja adik-adik dan kakak mulai kesulitan menaati janji JSA nomor delapan. Urusan kebersihan sampah memang bisa tertangani dengan baik. Anak-anak paham dimana sampah harus dibuang dan acara operasi semut adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Kritik saya untuk pengelola Buper Ragunan, seharusnya segala fasilitas diperbaiki dan dipersiapkan untuk menampung kebutuhan penyewa lokasi. Ini penting demi kenyamanan bersama.

Kegiatan permainan hari Minggu sangat ditunggu. Sembilan pos permainan yang disiapkan panitia sangat menarik dan disukai anak-anak. Anak usia SD, SMP, dan SMA, serta kakak pendamping juga terlibat dalam permainan bersama-sama. Saya bisa merasakan bahagianya tawa anak-anak di balik keringat semangat mereka. Saya yakin perasaan saya sama dengan kakak pendamping lain, terutama yang baru pertama kali ini punya kesempatan bergaul bersama anak jalanan. Kamilah yang sangat beruntung mendapat pengalaman tidur di terpal tenda sementara selama ini tidur santai di kasur empuk. Kami yang dapat pengalaman tidak mandi dan kesulitan buang air dengan nyaman. Pengalaman kebersamaan sosial itulah yang coba dibangun. Kebersamaan anak berkuku gompal hitam bersandal kotor dan kakak bersepatu kets dan berkulit kaki halus.

Kepada Sahabat Anak saya berterima kasih, dan kepada anak-anak itu saya sangat berterima kasih. Belajar dan bermain dan hidup layak adalah hak mereka.

Sahabat Anak Tanah Abang

Starbucks UI

Saya gamang.

Sepanjang siang saya ngobrol dengan beberapa kawan tentang Indonesia dan wilayah perbatasan. Kami menertawakan kegetiran, ketidaktahuan, dan kehebohan cara berpikir anak Jakarta dalam memandang wilayah Indonesia yang di luar jauh. Ngobrol sana-sini itu berujung pada keinginan mampir ke Perpustakaan Pusat UI yang baru dibangun. Banyak orang bilang, ini perpus raksasa di Asia Tenggara.

Sampailah saya di sana. Lalu saya gamang.

Di Perpus Baru kampus biru ini, sebuah tulisan hijau menyala silau. Sekejap saja, hati merah saya berdarah resah. Teringat saya ucapan kawan saya dari Universitas Pattimura Ambon, kampus ini terlalu sombong ketika membawa nama Indonesia. Kampus ini lupa membungkuk bahwa beban yang dibawanya berat. Seberapa kenal kampus ini dengan Indonesia? Baru saja saya dan teman-teman membahas susahnya pendidikan di Indonesia luar, lalu sekarang di mata saya pendidikan Indonesia dicerminkan dengan tulisan Starbucks yang mentereng.

Mungkin saya yang tidak gaul, tidak modern, sebab cuma bisa nongkrong di warkop pinggir kampung. Tapi saya benar-benar resah dengan gerai kopi milik asing ini berdiri gagah menempel di bangunan UI. Semacam parasit. Saya pikir anak-anak UI cukup pintar memahami apa arti brand ini dan kesan yang ditimbulkan olehnya. Beli kopi seharga tujuh kali kopi warkop, mainkan komputer Apple Imac yang tersedia di ruang dalam perpus ini, dan kamulah anak kampusnya Indonesia. Atau sebaliknya, pinjam buku harus repot-repot ke sini sebab buku itu tak lagi ada di perpus fakultas, lalu tengok kantong saku tinggal sisa lima ribu, tak cukup telepon ibu di pulau seberang, dan kamulah anak kampusnya Indonesia.

Saya menatap gedung dengan nanar. Di sebelah saya ada Irwanto, mahasiswa UI asal Kepulauan Riau. Ia memegang segelas plastik kopi yang dibeli dari pedagang jinjing yang lewat depan kami, gelengan kepalanya lemas.

Saya melenggang pulang. Lagu Kampus Depok yang ditulis Bimbim Slank di tahun 1993 terngiang. Lagu dari album “Lagu Sedih” itu pas dengan hati saya. Kata Bimbim, lirik ini “meletup di perjalanan habis manggung di UI” dan saya baru memahaminya sekarang.

Banyak orang bicara tentang kebebasan
Banyak orang bicara tentang keyakinan
Dan banyak orang bicara tentang keadilan
Banyak orang bicara tentang perubahan

Semuanya cuma dalam bisikan
Semuanya nggak berbuat apa-apa
Semuanya hanya tutup mata saja
Semuanya nggak berbuat apa-apa!!

Serdadu Kumbang

Harapan terlihat di kalimat Amek, anak kecil sumbing, tokoh dalam film Serdadu Kumbang, produksi Alenia Pictures. Harapan lulus Ujian Nasional terlihat di kata-kata Amek dan kawan-kawan, juga di Minun kakak Amek. Harapan-harapan lain tentang pendidikan terucap pula lewat mulut para pemeran film yang mengangkat banyak nama terkenal semacam Putu Wijaya, Titi Sjuman, dan Lukman Sardi itu.

Harapan juga muncul di diri saya sebagai penonton. Pun pada teman saya, yang juga seorang guru. Kami berharap film ini memberikan cerita pendidikan yang haru, inspiratif, dan mudah dicontoh anak-anak.

Ide cerita terbelah, antara pencapaian Ujian Nasional, peran Ayah penipu, cita-cita kanak-kanak, dan kegagalan sekolah sebagai institusi pendidikan. Ide yang menumpuk itu kemudian membuat penggarapan masalah menjadi tak dalam.

Saya tertarik pada kasus UN yang diangkat dalam film ini. Namun, ternyata perjuangan Amek dkk sebagai anak SD yang sudah pernah tidak lulus UN sebelumnya, tidak terlihat dengan maksimal. Ada penggambaran kegiatan belajar di sekolah, tetapi hanya sebatas belajar harian, bukan persiapan UN. Ada penggambaran kegiatan belajar tambahan yang dilakukan oleh Guru Imbok (Ririn Ekawati) tetapi motivasi guru itu tidak dibangun dengan apik. Sama pula tidak apiknya dengan akhir cerita yang mengejutkan, si Amek dapat operasi bibir sumbing gratis. Bagian ini mengagetkan sebab sejak awal penonton hanya disajikan sedikit keterangan bahwa dia ingin menjadi presenter berita. Dalam sinopsis dikatakan dia tidak percaya diri sebab sumbing itu menghalangi harapannya untuk menggapai cita-cita itu. Sementara sepanjang film, tidak ada penggarapan karakter yang dalam bahwa Amek bermasalah dengan kekurangan fisiknya.

Minun kakak Amek si pintar matematika, yang gagal lulus UN bersama 26 kawan lainnya, digambarkan mati terjatuh dari pohon sebab kecewa tak lulus ujian. Menurut saya ini adalah konflik besar, yang sayangnya tidak dibangun permasalahannya sejak awal. Tidak ada penggambaran bagaimana hebatnya perjuangan anak-anak SMP Bukit Mantar, Sumbawa itu mempersiapkan UN. Ketika tiba-tiba satu SMP itu tidak lulus, sementara satu SD yang sebangunan lulus, terasa ada yang sangat aneh.

Gambaran Pak Alim (Lukman Sardi) yang mendidik secara militer atau Kepala Sekolah (Dorman Borisman) yang tak peduli juga tidak mendukung masalah Ujian Nasional yang saya pikir bisa jadi isu utama yang sangat hebat. Apa pula fungsi Pak Ketut (Surya Saputra) seorang karyawan PT Newmont yang sangat hanya serupa tempelan di film ini? Kebetulan Newmont adalah sponsor utama, tetapi sayang sekali kehadiran sekolah Newmont di sini tak lebih dari tempelan semata. Orang awam pasti akan bingung, ada kegiatan apa itu Amek dkk berkunjung ke sekolah internasional tanpa ada penjelasan yang berkaitan dengan alur cerita?

Terlalu banyak deux et machina serba kebetulan yang tiba-tiba, atau lanturan yang tak terjelaskan. Amek main pacuan kuda, Amek operasi sumbing, Minun bisa menebus kuda seharga 4 juta, mengintip rok bu guru, atau bahkan kumbang yang tak terjelaskan sebagai metafora apa.

Sekali lagi akan jadi diskusi panjang, kepada siapa film ini ditujukan. Ini film tentang anak-anak atau film untuk anak. Saya dan teman guru saja tak paham betul, bagaimana dengan anak-anak? Harapan saya untuk dapat kisah garapan besar tentang pendidikan pun cerai. Tapi harapan sekadar mendapat hiburan film keluarga lumayan tergapai.

Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.


	

podcast

Beberapa waktu ini saya baru mengenal kata ‘podcast’. Media ini berarti sebuah file rekaman yang dapat disebar dan diunduh via internet. Podcast dapat berupa rekaman audio atau video yang memuat informasi atau cerita. Nah, ini pas sekali jadi media belajar di era teknologi informatika sekarang ini. Cara membuat podcast juga mudah. Rekam saja cerita atau info yang ingin kita sampaikan dengan recorder, alat rekam di handphone, atau bahkan di studio rekaman.

Saya lalu coba membuat podcast cerita anak dari Dongeng Minggu yang biasa saya bawakan tiap bulan di rumah. Suara direkam, tambah musik, dan hasilnya, jadilah dua cerita “Suara Yang Luar Biasa Indah” dan “Bebek Ingin Terbang”. Coba dengar dan unduh deh di koleksi podcast http://indonesiabercerita.org.

Kata teman dan murid saya, podcast saya lucu, walau masih harus diperbaiki di sana sini. Buat saya, modal utama membuat podcast yang menarik adalah bahasa yang tepat dengan intonasi dan artikulasi yang jelas. Saya masih semangat untuk membuat podcast lainnya. Yuk, coba juga!

Simbah

Saat cemas menunggu kabar dua orang kawan saya yang menjadi relawan di Merapi, saya menuliskan drama ini. Secara kebetulan, drama ini kemudian dipentaskan di acara sekolah untuk donasi Merapi. Drama singkat ini lalu dimainkan oleh murid-murid kelas 8. Apresiasi mereka apik. Penonton pun baik. Melalui cara lelang, drama ini mengumpulkan donasi yang lumayan besar dari orangtua murid.

Saya menuliskan naskah ini dalam cemas dan berselubung misteri. Maka yang tercipta ternyata kisah misteri pula. Ya, hidup itu kan memang misteri?

SIMBAH

Suasana di sebuah posko pengungsi bencana Gunung Merapi. Siang hari penuh debu. Tampak banyak orang beristirahat. Beberapa orang menahan sakit. Mereka berusaha melepas kecemasan.

Di sudut ruangan, seorang petugas jaga sibuk di meja. Seorang relawan datang terburu-buru ke arahnya.

Relawan     :    Masih ada satu!

Petugas      :    (kaget) Apa?

Relawan     :    Ya, masih ada satu di Cangkringan!

Petugas      :    Satu apa? Coba bicara yang jelas.

Relawan     :    Masih ada satu orang tertinggal di Cangkringan.

Petugas      :    (kaget lagi) Lho, bagaimana bisa?

Relawan     :    Ya, dia tertinggal. Lebih tepatnya, sengaja meninggalkan diri.

Petugas      :    (bangkit berdiri) Coba kamu tenang. Lalu coba jelaskan.

Relawan     :    Ya, aku baru dapat info tadi. Ada seorang nenek yang tertinggal di desa itu. Aku tahu langsung dari cucunya.

Petugas      :    Keluarganya ada di sini?

Relawan     :    Ya. Mereka mengungsi dua hari lalu. Satu bapak, satu ibu, dan satu anak kecil. Aku nggak sengaja ngobrol sama mereka. Lalu anaknya yang kecil itu bilang, simbahnya masih ada di Cangkringan.

Petugas      :    Lho, waktu mereka ngungsi, apa simbah itu ndak diajak?

Relawan     :    Itulah. Kata mereka, ndak mau.

Petugas      :    Hmm… (berpikir)

Relawan     :    (tidak sabar) Gimana? Kita harus samper, kan? Aku akan minta tim SAR balik ke sana. Siang ini.

Petugas      :    Tapi di sana masih bahaya. Tadi aku dapat info sore ini mungkin awan panas turun lagi.

Relawan     :    Berarti kita harus cepat!

Petugas      :    Hmm, baik. Nanti aku coba koordinasi dulu dengan tim. Coba kamu tanya dimana rumah simbah itu. Minta anaknya ikut.

Relawan     :    Ya! (beranjak pergi cepat)

Petugas      :    (mengerutkan dahi, bingung sendiri) Hmm, aneh, kenapa dia ndak mau ngungsi?

 

Sang relawan berjalan terburu-buru menuju seorang ibu yang sedang memijat suaminya. Mereka terlihat lelah. Mereka tidak sadar ada seseorang yang datang.

Bapak         :    Menil tadi kemana?

Ibu              :    Lha kan tadi diajak sama mbak-mbak. Bajunya merah. Diajak belajar katanya.

Bapak         :    Hoo… Yaa…

Relawan     :    Permisi, Pak, Bu.

Bapak         :    (menengok) Ya? Eeeh, mas.

Relawan     :    Ya, Pak. Kita harus ke rumah Bapak sekarang.

Bapak         :    Sekarang?

Relawan     :    Ya, mumpung masih bisa.

Bapak         :    Tapi saya ndak bisa ajak. Pokoknya Mas saja yang ajak. Saya ndak bisa.

Relawan     :    Iya, Pak. Saya akan ke sana dengan tim siang ini. Bapak ikut untuk kasih tau jalan. Bisa kan, Pak?

Bapak         :    (menghela napas berat) Bukan saya ndak mau, Mas. Tapi saya memang ndak bisa. Saya ndak bisa maksa ibu saya. (istri mengangguk-angguk)

Relawan     :    Tapi ini demi kebaikan bersama. Biar saya yang urus.

(Bapak menatap ibu. Ibu mengangguk memberi isyarat.)

Bapak         :    Yo wis, Mas.

Relawan     :    (tersenyum) Mari, Pak.

(Relawan dan Bapak berdiri, lalu pergi.)

 

Waktu berlalu. Siang hari. Suasana sepi. Desa Cangkringan tampak seperti desa mati. Semua tampak pucat, putih, dan tidak berdaya. Rumah-rumah tertutup abu tebal. Beberapa pohon tampak tumbang. Tidak terdengar suara apapun.

SAR 1         :    (sambil melihat ke arah kaki) Masih panas!

SAR 2         :    Ini sudah mending ketimbang kemarin.

SAR 3         :    Sepatuku mulai meleleh.

SAR 2         :    Masih untung pakai sepatu.

SAR 1         :    Dimana simbah itu?

SAR 3         :    Kita sisir hutan.

(terus berjalan mencari-cari)

Relawan     :    Biasanya kemana, Pak, kalau siang begini?

Bapak         :    Ngangon kambing. Atau cari kayu. Lha tapi kalau begini, ndak tau juga saya.

Relawan     :    Rumah kosong. Sekitar halaman nggak ada.

Bapak         :    Koyo’e di hutan. Biasanya cari-cari di sana, Mas.

Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu. Salah seorang dari mereka berteriak tiba-tiba.

SAR 1         :    Itu!

SAR 3         :    Mana? Ah, iya itu!

SAR 2         :    Itu bukan, Pak?

Bapak         :    Mana? Mana? Oh ya, mak! Mak! (berteriak)

Mereka berjalan bergegas. Terlihat seorang nenek tua kaget melihat rombongan datang.

SAR 3         :    Simbah! Dari mana, Mbah?

(mendekat dan berusaha menggandeng)

SAR 2         :    Ayo, Mbah. Turun. Wes ra aman di sini.

Simbah       :    Emoh! (ketus)

SAR 1         :    Nanti selak weduse turun lagi, Mbah. Simbah harus ngungsi sekarang. Ben slamet. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh!!!

Relawan     :    Simbah, ini ada Pardi. Ayo, Mbah, turun. Kalau di sini bisa nggak selamat nanti.

Simbah       :    Emoh!

SAR 2         :    (merayu, sambil mencengkeram tangan Simbah ) Tapi Simbah harus turun. Nanti boleh balik lagi kalau sudah aman. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh! Emoh!

 

Tim SAR memaksa Simbah untuk dievakuasi. Simbah meronta-ronta, kukuh menolak untuk pergi dari desa. Dua orang memegang tangannya, menggiringnya ke dalam mobil. Relawan dan Bapak mengikuti dengan cemas.Mereka berjalan menuju mobil.

SAR 2         :    Sudah, Simbah aman di sini. Kita turun sekarang.

Simbah       :    Kulo sibuk! Kulo sibuk!

Relawan     :    Sibuk apa, Mbah?

Simbah       :    Among tamu!

Relawan     :    Among tamu? Terima tamu?

SAR 2         :    Tamu siapa? Sudah ndak apa orang di sini, Mbah.

Simbah       :    Simbah among tamu. Masih rame dari Atas.

Relawan     :    Atas? (bingung)

Simbah       :    Kulo harus balik! Tamune banyak.

SAR 2         :    Ya, Mbah. Nanti.

Relawan     :    (bertanya pada SAR 2) Terima tamu siapa?

Relawan masih bingung dengan keterangan Simbah tadi. Ada rasa ngeri yang tiba-tiba datang. Siapa tamu dari atas yang dimaksud Simbah? Relawan memperhatikan wajah kukuh Simbah. Ada keyakinan dalam wajah tua itu.

Bapak         :    Mas?

Relawan     :    Ya, Pak?

Bapak         :    Jangan dipikirkan.

Relawan     :    Among tamu.Terima tamu siapa maksudnya?

Bapak         :    Sudah Mas. Ndak usah dipikirkan. Makanya, saya ndak bisa maksa dia.

Relawan     :    (mengerutkan dahi) Kenapa?

Bapak         :    Mas, Emak saya ndak waras!

Relawan     :    Ooh!

Mobil terus melaju meninggalkan desa itu. Tidak ada suara apapun, kecuali deru mobil menggilas debu. Desa itu makin sepi. Tanpa penghuni.

 

Selesai

 

 

 

 

Another Failed

Hari ini saya mulai menulis blog diantar dengan dua kegagalan. Pertama, tidak menang lomba menulis novel yang diadakan sebuah penerbit buku populer. Kedua, tidak lolos seleksi kerja di tempat yang tampak ideal bagi pendidikan Indonesia.

Keduanya membuat saya sedih dan gatal minta perhatian teman. Reaksi balasan mereka bermacam-macam. Kebanyakan bilang, nggak apa, pasti ada kesempatan berikutnya, di tempat lainnya. Ada juga yang bilang, kamu udah menang karena udah mencoba.

Teman lain beda rumusan. Dia bilang, you’re not failed, cuma jalan yang agak berbeda dari perkiraan aja. Seorang teman malah lebih tegas bilang, its another achievement! Semua tergantung bagaimana kita menghayatinya.

Ya, saya berusaha memahami itu semua. Lalu berusaha menerima dan bersyukur atas apa yang masih saya punya sekarang. Masih punya kerjaan yang lumayan. Masih bisa menulis kecil-kecilan.

Lalu saya menghibur diri dengan ngobrol bareng anak-anak kelas 8 (2 SMP). Mendengar curhat kisah asmara mereka yang lugu dan malu-malu. Asyik makan coklat dari mereka sambil dihembus angin sore. Saya iri dengan kisah mereka yang tampak masih jauh dari kegagalan. Mereka masih asyik merayakan kemudahan. Seorang anak bercerita, dia dapat hadiah sepatu seharga 1,3 juta dari cowo yang menyukainya (baru gebetan belum jadian). Ah, detik itu saya iri, dan saya tau saya masih gagal memaknai syukur dan ikhlas.

Tapi biar gagal, saya tetap harus terus mencoba kan? Iya.