My IVF Diary (part 8) – Kuret dan Corona

4 Januari 2020

Sebetulnya duniaku masih suram, pikiran tidak jelas, takut ke RS lagi, tapi dokter menyarankan untuk periksa kondisi usai gagal IVF Desember lalu. Datanglah aku dan Heru ke RS Permata Ibu karena dr. Wisnu sedang praktik di sana. Aku menjalani pemeriksaan dalam lewat vagina, lupa namanya apa. Yang kuingat cuma rasanya mulas, tidak nyaman. Dokter bilang, ditemukan banyak polip di rahim, hingga kemudian dijatuhkan diagnosis hyperplasia endometrium. Dokter langsung sarankan untuk kuret malam itu juga. Di depan dokter aku angguk-angguk nurut, tapi begitu keluar ruang periksa, duduk di bangku lorong, aku nangis akhirnya. Entah, tiba-tiba takut. Tiba-tiba rasa kehilangan itu datang lagi. Otakku bilang, kuret berarti rahim dikorek-korek, dibersihkan, untuk mengambil semua kegagalan.

Melihatku nangis, Heru malah ajak aku tertawa. Jelek katanya mukaku, dilihatin orang pula di ruang tunggu RS itu. Heru lalu beranjak mengurus administrasi karena aku harus rawat inap semalam. Aku duduk sambil menahan panas air mata.

Sesudah masuk ruang rawat inap, Heru menelepon bapak mamaku untuk kasih kabar, yang berujung aku nangis lagi karena tiba-tiba ingat dulu mama pernah kuret juga. Aku nggak mau lihat hape, nggak tega lihat mama dan bapak di layar. Akhirnya dengan sungkan Heru meminta izin dan menutup telepon.

Selebihnya aku cuma merasa lemas terus-terusan. Aku cuma ingat kemudian masuk ruang operasi dengan grasa-grusu seperti di ER Grey’s Anatomy. Semua orang tampak hectic banget. Aku dibius dan sudah… tak ingat apa-apa. Bangun-bangun badan lemas banget. Mau melek susah, mau ngomong susah, tapi aku dengar suara suster ngobrol mau pesan makanan lewat gofood. Aku coba memanggil Heru, tapi kok susah sekali. Heru akhirnya melihat sinyal yang kuberi, lalu dia coba ajak aku bercanda karena dikira aku udah sadar penuh, padahal belum. Malam itu berakhir dengan aku ngantuk terus-terusan dan nangis lagi saat lihat selangkangan penuh olesan betadine.

1 Februari 2020

Dilema yang kurasa kadang lucu juga. Aku takut mengingat semua prosedur yang mesti dilewati. Banyak horornya, banyak nangisnya. Tapi sekaligus aku antusias mencoba juga. Semacam memenuhi rasa ingin tahu dan belajar hal baru.

Maka waktu dokter meminta aku tes darah lanjutan sebelum mencoba FET (Frozen Embryo Transfer), aku nurut dan semangat mengatur jadwal. Tes agregasi trombosit, ACA igm, Anti Beta Glikoprotein, Lupus Antikoagulan.
Habis Rp4.085.000 di lab Prodia. Begitu diambil darah ya lemas juga, enam tabung ya kalau nggak salah lihat. Makanya sebelum pulang ke rumah, Heru ajak makan bakmi sebelah Prodia itu, sambil tunggu hujan reda. Detik itu aku bersyukur karena boleh napas dulu, rehat dulu, setidaknya sebulan sebelum mulai siklus baru lagi.

16 Maret 2020

Setelah sudah dua kali mens aku kembali kepikiran, kapan sih waktu yang tepat untuk mulai FET. Akhirnya aku kirim chat wa ke dokter Wisnu. Ia memintaku datang saja ke Morula sekalian periksa.

Berita corona sebetulnya lumayan mengganggu, maka kami sempat tanyakan bagaimana baiknya menurut dokter. Kami diperbolehkan untuk mulai FET. Heru dan aku kepikiran, ya udahlah mumpung kondisi tubuhku sudah oke, dan masih ada frozen embyro bagus, nggak perlulah tunda-tunda.

Maka jadilah kami tanda tangan surat bermaterai sebagai persetujuan rangkaian tindakan FET. Lalu diberi resep femaplex dan dufarol. Habis sekitar satu juta rupiah. Aku diberi tahu untuk periksa USG lagi seminggu kemudian.

23 Maret 2020

Kekhawatiran tentang virus corona yang mewabah di luar sudah mulai mengganggu rencana kami. Meski begitu, aku dan Heru tetap ke Morula. Rupanya benar, kami terlewat dikabari kebijakan Morula. Jadi, sejak pemerintah mengabarkan ada kasus positif covid-19 di Indonesia, Morula mulai membuat kebijakan penundaan semua program IVF, kecuali yang mendesak dan tanggung berjalan. Nah, sayangnya aku dan Heru sudah terlanjur ke RS. Juga sudah keburu tanda tangan surat mulai FET. Jadi gimana?

Begitu sampai di RS Bethsaida, suasana sudah berubah. Masuk pintu RS, setiap pengunjung diukur suhu badannya. Lalu mengisi buku hadir, menulis keterangan siapa yang perlu konsultasi. Hand sanitizer di mana-mana. Sampai di lantai 7 ruang Morula, suasana sepi. Di situlah kami baru tahu bahwa seharusnya kami tidak perlu datang. Program kami mesti ditunda dulu. Sempat sedikit kecewa, kenapa bukan kemarin-kemarin kami dikabari sehingga tidak perlu beli obat dulu. Tapi yaa udah jalannya emang ajaib begini, jadi ya aku nerima aja.

4 Mei 2020

Oh, aku sangat peduli angka. Makanya ulang tahun kali ini aku kembali kepikiran, dobel kepikirannya. Satu, aku sudah 35 tahun. Dua, tahun ini ada corona.

Usia 35 itu penting buatku karena ini angka yang sering jadi standar ukuran dalam program kehamilan. Pernah baca dulu, pada usia 35 kesuburan perempuan mulai menurun. Pada usia 35 perempuan lebih berisiko untuk hamil dan melahirkan. Kemarin aja waktu embyro transfer pertama kali, penentuan jumlah embryo yang bisa ditanam diukur dari usia juga. Kalau usia 35, boleh tanam dua embryo sehingga bisa jadi bayi kembar. Di bawah 35 tahun sebaiknya jangan. Yah, begitulah, jadi kepikiran sendiri. Padahal dalam program IVF aku masih terhitung muda karena banyak pasangan lain yang usianya di atas 35 dan 40-an yang masih terus berjuang.

Usia 35 tahun ini kok ya ndilalah berbarengan ada corona. Virus brengsek ini memaksa aku kerja di rumah aja, nggak bisa ketemu banyak orang seperti biasanya ketika ultah. Padahal ulang tahunku selama ini nggak pernah sepi, selalu dirayakan bersama murid-murid, ya karena kerja di sekolah juga kan. Juga selalu ramai dirayakan keluarga dan teman. Bahkan biasanya ultah sampai seminggu terus-terusan karena ada aja kejutan dan kado yang berdatangan. Tapi tahun ini beda banget. Sepi. Aku kesepian. Yang mengucapkan pun benar-benar teman dekat atau yang kebetulan tau lewat media sosial aja.

Kemudian aku renungkan, apa barangkali memang jadi sebuah keberuntungan ketika aku tidak (belum) memiliki anak di masa pandemi begini. Aku membayangkan betapa sulitnya orang tua mengurus anak di kondisi serba tidak jelas seperti ini. Meskipun aku tidak juga menafikan betapa jadi keberuntungan yang membahagiakan juga mereka yang bisa selamat melahirkan dalam situasi yang serba membingungkan.

Pada akhirnya aku mesti belajar banyak bersyukur terus. Berterima kasih atas segala pemberian yang sudah kuterima. Sehat dan belajar bahagia selalu. Itu dulu.

My IVF Diary (part 7) – Two Weeks Wait and The Result

9 Desember 2019

Senin ini aku masuk sekolah dan berharap akan santai karena tinggal duduk jaga ujian. Usai jaga, hari sudah siang. Aku makan salmon yang Heru buatkan untuk bekal, lalu jalan ke musola sekolah. Kembali ke ruang guru di lantai 4, badanku keringat dingin. Pinggal pegal, sedikit pusing. Oh, tidak, seperti sakit PMS.

Lewat whatsapp aku laporkan kondisiku ke dr Wisnu. Beliau langsung instruksikan aku untuk bedrest tiga hari. Tenangkan badan, tenangkan pikiran.

12 Desember 2019

Siang tadi aku pipis dan menemukan flek coklat di celana. Gelap. Lemas. Kupanggil Heru dan kubilang, “Kayaknya aku mens.” Langsung aku menangis. Meraung.

13 Desember 2019

Jam setengah 1 malam, terbangun lalu tiba-tiba muntah hebat. Keringat dingin, pusing, lelah. Kembali tidur. Jam setengah 2, terbangun lagi dan muntah lagi. Sudah tak ada lagi sisa makanan, hanya cairan. Coba istirahat lagi. Jam setengah 3 lewat, lagi-lagi terbangun dan muntah. Yang keluar adalah cairan kuning. Lelah. Pusing. Tidur lagi. Jam 4 subuh, sekali lagi terbangun untuk muntah. Si cairan kuning itu keluar sampai habis.

Dokter Wisnu kemarin sempat bilang “masih ada harapan” saat kukabari tentang flek coklat kemarin. Bagaimana pun penentuannya adalah hari ini, dengan tes darah Beta HCG.

Jam 9 pagi diambil darah satu tabung. Lalu sempat ketemu dokter Wisnu juga dan melaporkan kondisiku yang pusing, mual, dan muntah-muntah semalam. Dia kemudian iseng mengajak cek USG transvaginal yang kemudian ternyata benar, memang belum terlihat apa-apa. “Tunggu hasil cek darah, ya,” katanya.

Jujur saja, aku dan Heru sempat ge’er. Mengira segala mual ini adalah gejala positif. Bahwa kemungkinannya cukup oke dengan melihat semangat dokter dan suster yang walaupun netral, tapi cukup membuat kami senang.

Tapi ternyata… sore hari hasil lab itu datang dan menyatakan… negatif.

Kali ini aku tidak meraung. Aku cuma merasa kosong.

My IVF Diary (part 6) – Embryo Transfer

30 November 2019

Kemarin dokter Wisnu dan suster Siska sudah mengingatkan di whatsapp bahwa waktu untuk Embryo Transfer bisa jatuh hari Sabtu ini, tapi bisa juga di hari Senin. Penjelasan tentang mengapa mesti begitu akhirnya kami dapat dari orang laboratorium embryologi.

Aku sempat bingung, kalau manggil orang lab tuh apa ya? Dokter dipanggil dok, suster jadi sus, orang lab? Akhirnya aku panggil Mbak aja. Mbak Alvin. Ia seperti guru pelajaran Biologi dan kami berdua muridnya. Dia menjelaskan semua yang perlu kami ketahui tentang kondisi embrio sejak day 1 hingga day 3. Ini konsultasi penting karena setelah ini pasien harus menentukan langkah berikutnya.

Pada titik ini, aku benar-benar terkesima dengan kemajuan sains. Kagum bisa melihat foto perkawinan ovum dan sperma lewat prosedur ICSI lalu berubah jadi embrio yang hidup, membelah jadi sel, morula, dan jadi embrio potensial. Aku sempat tanya, kalau embrio hidup di luar rahim, dia makan dari mana? Jawabnya, embrio diberi cairan makanan bergizi, juga dibuatkan ruang hidup yang gelap seperti dalam rahim ibu. :”)

Hari ini embrio berada di usia Day 3. Mereka lalu dirangking. Ada 1 poor, 1 moderate, 3 good. Nah, karena ada yang masuk kategori good, maka dokter dan pihak lab embriologi menyarankan agar ditunggu hingga Day 5 hingga masuk tahap blastosis. Setelah diberitahukan semua keunggulan sekaligus risikonya, juga setelah banyak bertanya sampai bingung mau tanya apa lagi, aku dan Heru kemudian menandatangi kertas persetujuan. Jadi, ya, ET akan dilakukan Senin nanti.

2 Desember 2019

Day 5. Apa kabar mereka ya? Jujur aku tidak bisa untuk tidak kepikiran. Bahkan aku lumayan degdegan. Pantas saja dokter meresepkan dua jenis obat untuk diminum sebelum tindakan: obat antinyeri dan obat penenang.

Aku dan Heru dijadwalkan konsultasi kembali dengan Mbak Alvin dari lab embriologi. Hari ini dia menjelaskan bahwa ternyata pada Day 5 ini kami punya empat embrio dengan kategori good. Oh, alhamdulillah. Lalu berapa yang dibisa ditransfer ke tubuh harus didiskusikan lagi, juga harus disetujui dokter.

Tiba di ruang operasi, aku tidak diminta copot semua pakaian. Hanya diminta pakai baju dan tutup kepala pasien seperti itu. Kali ini juga Heru bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi.

Sewaktu aku sudah berbaring di operating theater yang dingin itu, dokter Wisnu masuk dan langsung menembak kami dengan pertanyaan, “Mau dua?” Aku dan Heru langsung ketawa bareng. Kami sudah dijelaskan sebelumnya kalau tanam dua embrio maka kemungkinan jika yang satu embrio luruh, semoga masih ada satu embrio yang bisa bertahan. Atau bisa jadi keduanya bertahan dan menjadi bayi kembar. Oh, ya, tentu saja gemas membayangkannya, meski bayangan indah itu diselimuti segala risiko atas kehamilan ganda. Ibaratnya semua risiko kehamilan dikali dua. Namun kelihatannya dokter Wisnu pede dengan kondisiku. Maka akhirnya kami setuju. Ya, bismillah.

Proses ET ternyata cepat. Kayaknya cuma 10 menit. USG di perut bawah. Pasang cocor bebek dan kateter. Lampu digelapkan. Embryo loading. Embryo in. Berbaring 30 menit. Selesai.

Karena rupanya sedang banyak pasien lain dan aku gak betah disuruh nunggu suster kembali, akhirnya aku memutuskan bangun dengan satu tujuan: pipis. Setelah itu aku dan Heru copot baju pasien dan meninggalkan ruangan dengan pede-pede aja. Sampai di ruang tunggu, suster langsung memanggil kami sambil tertawa. Ternyata kami kayak anak bandel. Kabur dari ruang operasi sendiri. Hahaha. Jadi harusnya pasien dibantu bangun, lalu berbaring di ruang pre-op lagi, dan dikasih makan siang di sana. Ini malah cabut duluan. 😅

Karena terlanjur, akhirnya kami diperbolehkan duduk di sofa ruang tunggu, setelah sebelumnya diberi wejangan oleh suster. Selama two weeks wait ini, sebaiknya ibu jalan pelan-pelan, naik turun tangga gapapa tapi jangan sering-sering, jangan beraktivitas berat, jangan ngegym atau sauna, jangan cat atau keriting rambut dulu, jangan taruh minyak hangat di area perut, jangan naik motor apalagi berkuda, hindari makan ikan dan daging mentah macam sushi dan rare steak. Jangan lupa diminum obatnya, ada 5 jenis ya, oral dan vaginal. OKE SIAP SUSTER! 😁

Setelah itu Heru mengurus persetujuan Freezing Embryo dan kami berdua harus memberi tanda tangan di kertas perjanjian bermeterai. Oh yes, segala prosedur IVF ini memang sangat berurusan dengan hukum karena sesungguhnya ini demi keamanan dan keselamatan semua pihak.

Semoga saja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh Mbak Alvin, juga suster dan dokter, semoga semua ikhtiar ini akan membawa rejeki untuk ibu bapak. Insya Allah. 💙

Informasi tambahan untuk referensi

Biaya freezing embryo tidak termasuk dalam paket biaya IVF, maka pada tahap ini pasien dikenakan biaya untuk FE itu.

Obat-obatan pasca ET + Freezing Embryo = Rp. 4.380.000

My IVF Diary (part 5) – Ovum Pick Up

27 September 2019

Bangun tidur aku kehausan. Tapi segera ingat bahwa aku memang diminta berpuasa makan minum sejak semalam karena pagi ini waktunya OPU. Ya, Ovum Pick Up.

Sampai di Morula, aku dan Heru langsung diminta ke ruang persiapan. Heru diminta pakai baju begitu dan copot sepatu, ganti pakai sandal model crocs. Trus dia geli sendiri, walau tetap akhirnya milih warna, maunya crocs biru. 😅

Aku juga tentu, pakai baju standar operasi. Juga sudah mandi bersih tidak pakai kosmetik, parfum, cat kuku, perhiasan, dll. Lalu bengong-bengong nunggu di ruang pre-operation ditemani Heru. Sepi banget di sana, jadi aku iseng komentari apa pun yang kulihat dan Heru mencoba menjawab dengan sok bijak. Kenapa ada keset lengket sih di depan ruang operasi? Oh biar kalo ada jarum atau kapas sisa bisa nempel di situ. Kenapa judul ruangannya Operating Theater ya? Wah, berarti nanti kamu ditonton. 😑

Jam 9 akhirnya aku dipanggil masuk ruang operasi. Heru diminta nunggu di luar, eh, diminta ke ruang Men’s room untuk melakukan tugasnya menyiapkan benih-benih cinta (you know what I mean). Sementara aku langsung ditata oleh dua suster Morula kayak ayam potong yang dijual di pasar. Mengangkang lebar. Dokter Wisnu, Suster Siska dan Suster Lulu sudah siap. Suster anestesi lalu memasang alat-alat yang ditempel di jari dan lenganku, selang oksigen di hidungku, pokoknya aku sudah rapi. Lalu nunggu, nunggu, sampai kedinginan karena suhu ruangan kayaknya sengaja dipasang dingin. Ternyata dokter biusnya telat.

Sambil mengisi waktu, dokter Wisnu ngajak ngobrol, nanya aku kerja di mana. Rasanya aneh sih, aku udah ngangkang dan bugil, tapi diajak ngobrol kerjaan, yaa meskipun aku paham tujuannya. Dia juga kemudian pasang lagu. 🎶 Heart beats fast, colors and promises, how to be brave, how can I love when I’m afraid to fall, one step closer, I have died everyday waiting for you… Sumpah, lagunya salah banget.

Seingatku terakhir kulihat jam 09.40. Lalu blep… aku tidak ingat apa-apa, sampai kemudian aku bangun kira-kira jam 12. Suster datang mengecek apakah aku pusing atau mual. Kujawab dengan menggeleng dan bilang, “Lapar.” Suster Siska tersenyum lalu mempersilakan makan siang yang sudah disediakan Morula.

Satu jam kemudian aku baru beranjak dari tempat tidur, karena kepingin pipis. Waktu pipis, ada sisa darah keluar. Buru-buru aku laporkan ke suster, tapi katanya itu wajar. “Tadi sebelum selesai, kami sudah memastikan tidak ada pendarahan dalam,” ujarnya. Jadi berdarahnya itu normal aja. Makanya kemudian juga aku diresepkan obat hormon dan antibiotik untuk diminum beberapa hari ke depan. Lemas, tapi senang juga karena tahap ini akhirnya selesai.

Informasi tambahan untuk referensi

Ibu bapak yang perlu referensi, kemarin aku dan suami ambil paket IVF, detailnya bisa dibaca pada posting part 4. Jadi pada hari OPU ini kami tidak lagi repot dengan biaya besarnya. Kami hanya menebus obat pendukung dan antibiotik sekitar Rp.900.000.

My IVF Diary (part 4) – Diet Sehat Persiapan OPU

25 November 2019

Selamat hari guru! Dan aku sendu karena harus merayakan hari ini di rumah sakit. Pekan ini sebetulnya ada pentas drama kelas 11, tapi aku akan banyak melewatkan pentasnya karena akan ke RS terus.

Pagi sebelum berangkat Heru masak salmon, hadiah buatku yang mual terus rasanya setiap pagi. Ohya, salmon ini salah satu makanan rekomendasi untuk sering dikonsumsi selama program IVF. Diet selama IVF mudah sebetulnya, walau kadang kangen sama beberapa makanan pantangan. Oh, tahu krispi… Oh, yogurt bluberi…

Salmon panggang dan brokoli wortel rebus. Nasi beras hitam cuma buatku. Heru nggak doyan.

Pantangan: kopi, teh, dan apapun yang mengandung kafein. Segala jenis kacang (kacang hijau, kacang tanah, dll., kecuali almond). Tahu, tempe, tauco, susu soya, susu kedelai, cokelat, yogurt. Alkohol dan rokok.

Anjuran: Minum air mineral sehari minimal 3 liter. Menjaga suhu tubuh normal. Makan makanan protein tinggi. Banyak olahraga ringan.

Makanan rekomendasi: Ikan laut (salmon, tuna, gindara). Putih telur 2-3 butir per hari. Brokoli, wortel, tomat, dan semua sayuran dengan vitamin C tinggi. Buah naga, semangka, jeruk manis, dan semua buah yang bervitamin C tinggi.

Sarapan paling gampang. Buah naga kerok sendok. Jeruk peras hangat 500 ml buat berdua.
Telur rebus tiga butir tambah brokoli tumis butter cabai bawang putih.

Bekal buat ke sekolah. Overnight muesli with almond and chia, siram susu tawar. Tambah mangga manis.

Persiapan OPU

Usai cek tensi, suster langsung ajak aku ke lab untuk ambil darah lagi sebanyak satu tabung, untuk mengecek hormon estradiol dan progesteron.

Setelah itu, nggak lama kami langsung ke ruang dokter dan kembali USG. Diperiksa seberapa siap telur yang ada. Dokter Wisnu bilang, ada enam yang berpotensi. Jadi malam nanti harus suntik pemecah telur Ovidrel, sekaligus minum tablet Mefenamic Acid.

Trigger injection. Suntik bentuk pen gini enak banget dipakainya. Gak sakit.

Sebelum pulang, muridku mengirim video boomerang mereka usai pentas drama. Huahh, tiba-tiba nangis dong. Sebulan menyiapkan drama mereka, tapi pas hari H aku nggak bisa nonton. ☹ Tapi hidup ya gitu, harus banyak milih dan terima rasanya. Ya.

Siang itu kami pun pulang dan hampir kehujanan.

Info tambahan untuk referensi

Sebelum OPU nanti, kami harus melunasi biaya prosedur di awal. Jadi, ini biaya yang dikeluarkan pada kunjungan keempat.

USG dan konsultasi dokter + cek darah progesteron dan estradiol + obat + paket IVF end year phase 1-3 = Rp. 36.780.000

My IVF Diary (part 3) – Konsultasi Anestesi

23 November 2019

Kunjungan ketiga ke dokter. Kali ini untuk mengecek seberapa besar telur yang kupunya. Pagi jam 10 itu dr Wisnu memeriksa dan ternyata, telurnya belum mencapai ukuran yang diharapkan. Aku kembali diresepkan suntik Gonal-F untuk memicu pembesaran telur, sekaligus suntik Cetrotide untuk menjaga telurnya jangan pecah dulu. Ini harus dua malam lagi dilakukan, setelah dua malam sebelumnya kami sudah pakai obat serupa.

Di ruang tunggu aku dapat pesan whatsapp dari pakbos. Katanya aku bikin kesalahan kemarin di tempat kerja dan akan dapat memo karena itu. Iya, absen dua hari aja aku udah mulai nggak fokus. Kalau masuk badan ya aneh gitu, tapi aku berusaha bereskan semua kerjaan karena mana tau besoknya harus absen lagi karena ada janji dengan dokter. Tiba-tiba aja pecah itu tangis. Heru bingung. Lalu aku cerita dan responnya tenang seperti biasa. “Kamu harus belajar terus, nggak semua hal bisa kamu kendalikan, nggak semua hal hasilnya sesuai dengan yang kamu harapkan.”

Iya, betul banget. Kayak si telur ini juga. Dokter kira dengan dosis yang diberi di awal sudah cukup membesarkan telur, ternyata belum. Makanya harus tambah dosis lagi. Artinya tambah waktu lagi, tambah sakitnya lagi, tambah biayanya lagi. Tapi yaa manusia memang tugasnya begini kan, usaha terus sekuat-kuatnya.

Bertemu Dokter Anestesi

Kunjungan kali ini kami sekalian dijadwalkan konsultasi dengan dokter anestesi. Iya, besok saat OPU (Ovum Pick Up) badan pasien dibuat tidur biar nggak banyak gerak, agar dokter bisa gampang lakukan tindakan ambil ovumnya. Lagian memang sakit, makanya ya mending dibius.

Dokter anestesinya kocak. Namanya dr. Sulis. Sudah tua dan medhok Jawa bicaranya. Dia jelaskan prosedur anestesi yang akan aku lewati nanti sambil mencatat data pasien dan komentarnya yang jahil. Berat badannya kok pakai koma, buletin aja ya. Beratnya nanti turun nih, kan nanti disuruh puasa dulu. Sebetulnya gak dibius boleh juga, ya asal kuat tahan sakitnya. Dulu di sini dokternya ada enam, tapi satu sudah meninggal. Yhaa~

Heru cengengesan terus. Aku ketawa-tawa terus. Aku dan Heru terus ketawa-tawa keluar ruangan itu sampai kemudian berhenti ketawa saat di kasir. “Haih, kita becanda doang tadi, bayarnya 350 ribu.” Kami ketawa lagi.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + Tambahan GonalF dan Cetrotide + konsultasi anestesi = Rp.5.435.000

My IVF Diary (part 2) – Cek Hormon dan Jantung

19 November 2019

Sudah hari keempat suntik Gonal-F. Tiap pagi rasanya mual sedikit. Tapi makan tetap enak karena nafsu makan kok rasanya meningkat. Badan agak tidak nyaman, seperti melayang. Tapi saat siang rasanya bersemangat. Aku bisa ngajar dan bolak-balik gedung sekolah kayak biasa. Nah, begitu sore, badan baru deh terasa lelah banget. Kupikir normal aja lah ya, namanya juga kerja dan beraktifitas, pasti jadi lelah.

20 November 2019
1. USG dan konsultasi dokter
2. Cek darah hormon
3. Cek EKG (rekam jantung)

Kunjungan kedua. Pagi jam 9.30 aku dan Heru sudah sampai Morula, papasan dengan dr Wisnu di depan lift dan dia menyalami kami.

Kami langsung masuk ke Admisi. Tak lama, aku diperiksa berat badan dan tensi darah. 117/74. Suster tidak beri komentar apa-apa. Aku juga tidak banyak tanya.

Aku lalu menunggu panggilan sambil menyempatkan koreksi ujian. Tapi Heru mengganggu terus, memberi komentar lucu pada foto-foto aku main rollerskate bulan lalu.

Akhirnya kami masuk ruang dokter untuk USG kembali. Kata dokter, telurnya sudah berkembang, yang kanan besar-besar, tapi yang kiri masih kecil. Lalu dokter meminta aku suntik Gonal-F lagi untuk tiga hari ke depan, juga meminta cek hormon lewat darah.

Pokoknya aku merasa biasa saja waktu tiba di lab, sampai kemudian ada drama ini.

Waktu jarum masuk ke kulit terasa agak sakit. Satu dua tabung selesai. Di tabung ketiga aku merasa kesemutan di tangan, lalu lama-lama kepalaku pusing. Perawat menghentikan ambil darah. Lalu pusingku makin hebat. Perawat suruh aku tarik napas dan jangan tutup mata. Aku keringat dingin. Pusing, pusing, pusing. Melek, melek, melek. Mau panggil Heru yang lagi ambilkan minum nggak bisa. Sampai kemudian, huekk. Aku muntah. Perawat kaget.

Heru balik dari ambil air minum dan bingung lihat lantai ruang lab ada muntahan. Bingung juga waktu lihat aku meler dan mau nangis. Heru langsung suruh aku minum teh manis yang sudah dia buatkan. (Lupa banget kami diminta pantang teh dan kopi).

Saat pusing mereda, aku bertanya ke perawat, kenapa aku bisa begitu. Dengan polos perawat bilang kalau dia juga tidak tahu, baru sekali ini dia ambil darah eh pasiennya hampir pingsan lalu muntah. Karena tanggung tinggal satu tabung, aku bilang lanjutkan saja ambil darahnya. Perawat langsung gerak cepat tusuk lagi, sedot darah lagi hingga genap empat tabung.

Rasanya lemas dan mau pulang. Tapi belum bisa karena masih harus cek rekam jantung. Aku permisi dari ruang lab sambil minta maaf ke perawat dan mbak cleaning service yang baru datang. Sambil mengurus printilan biaya yang harus dibayar, Heru menyemangatiku dengan bilang, “Yah, muntahnya. Ketauan deh tadi makan di warteg .”

Aku cek rekam jantung (EKG/ECG) di Medical Check Up room di lantai 2 RS Bethsaida ini. Prosesnya cepat banget. Yang bikin ngeri itu karena ada kabel-kabel yang ditempel di dada, tangan, dan kaki.

Kesannya kayak mau disetrum. Padahal nggak terasa apa-apa. Hasil juga bisa langsung diambil. Aku nggak bisa baca grafiknya sih, tapi ada note “normal”. Syukurlah. Aku mau pulang dan tidur sekarang.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + lab dan cek darah hormon + GonalF tambahan + cek EKG = Rp.6.724.000