My IVF Diary (part 6) – Embryo Transfer

30 November 2019

Kemarin dokter Wisnu dan suster Siska sudah mengingatkan di whatsapp bahwa waktu untuk Embryo Transfer bisa jatuh hari Sabtu ini, tapi bisa juga di hari Senin. Penjelasan tentang mengapa mesti begitu akhirnya kami dapat dari orang laboratorium embryologi.

Aku sempat bingung, kalau manggil orang lab tuh apa ya? Dokter dipanggil dok, suster jadi sus, orang lab? Akhirnya aku panggil Mbak aja. Mbak Alvin. Ia seperti guru pelajaran Biologi dan kami berdua muridnya. Dia menjelaskan semua yang perlu kami ketahui tentang kondisi embrio sejak day 1 hingga day 3. Ini konsultasi penting karena setelah ini pasien harus menentukan langkah berikutnya.

Pada titik ini, aku benar-benar terkesima dengan kemajuan sains. Kagum bisa melihat foto perkawinan ovum dan sperma lewat prosedur ICSI lalu berubah jadi embrio yang hidup, membelah jadi sel, morula, dan jadi embrio potensial. Aku sempat tanya, kalau embrio hidup di luar rahim, dia makan dari mana? Jawabnya, embrio diberi cairan makanan bergizi, juga dibuatkan ruang hidup yang gelap seperti dalam rahim ibu. :”)

Hari ini embrio berada di usia Day 3. Mereka lalu dirangking. Ada 1 poor, 1 moderate, 3 good. Nah, karena ada yang masuk kategori good, maka dokter dan pihak lab embriologi menyarankan agar ditunggu hingga Day 5 hingga masuk tahap blastosis. Setelah diberitahukan semua keunggulan sekaligus risikonya, juga setelah banyak bertanya sampai bingung mau tanya apa lagi, aku dan Heru kemudian menandatangi kertas persetujuan. Jadi, ya, ET akan dilakukan Senin nanti.

2 Desember 2019

Day 5. Apa kabar mereka ya? Jujur aku tidak bisa untuk tidak kepikiran. Bahkan aku lumayan degdegan. Pantas saja dokter meresepkan dua jenis obat untuk diminum sebelum tindakan: obat antinyeri dan obat penenang.

Aku dan Heru dijadwalkan konsultasi kembali dengan Mbak Alvin dari lab embriologi. Hari ini dia menjelaskan bahwa ternyata pada Day 5 ini kami punya empat embrio dengan kategori good. Oh, alhamdulillah. Lalu berapa yang dibisa ditransfer ke tubuh harus didiskusikan lagi, juga harus disetujui dokter.

Tiba di ruang operasi, aku tidak diminta copot semua pakaian. Hanya diminta pakai baju dan tutup kepala pasien seperti itu. Kali ini juga Heru bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi.

Sewaktu aku sudah berbaring di operating theater yang dingin itu, dokter Wisnu masuk dan langsung menembak kami dengan pertanyaan, “Mau dua?” Aku dan Heru langsung ketawa bareng. Kami sudah dijelaskan sebelumnya kalau tanam dua embrio maka kemungkinan jika yang satu embrio luruh, semoga masih ada satu embrio yang bisa bertahan. Atau bisa jadi keduanya bertahan dan menjadi bayi kembar. Oh, ya, tentu saja gemas membayangkannya, meski bayangan indah itu diselimuti segala risiko atas kehamilan ganda. Ibaratnya semua risiko kehamilan dikali dua. Namun kelihatannya dokter Wisnu pede dengan kondisiku. Maka akhirnya kami setuju. Ya, bismillah.

Proses ET ternyata cepat. Kayaknya cuma 10 menit. USG di perut bawah. Pasang cocor bebek dan kateter. Lampu digelapkan. Embryo loading. Embryo in. Berbaring 30 menit. Selesai.

Karena rupanya sedang banyak pasien lain dan aku gak betah disuruh nunggu suster kembali, akhirnya aku memutuskan bangun dengan satu tujuan: pipis. Setelah itu aku dan Heru copot baju pasien dan meninggalkan ruangan dengan pede-pede aja. Sampai di ruang tunggu, suster langsung memanggil kami sambil tertawa. Ternyata kami kayak anak bandel. Kabur dari ruang operasi sendiri. Hahaha. Jadi harusnya pasien dibantu bangun, lalu berbaring di ruang pre-op lagi, dan dikasih makan siang di sana. Ini malah cabut duluan. 😅

Karena terlanjur, akhirnya kami diperbolehkan duduk di sofa ruang tunggu, setelah sebelumnya diberi wejangan oleh suster. Selama two weeks wait ini, sebaiknya ibu jalan pelan-pelan, naik turun tangga gapapa tapi jangan sering-sering, jangan beraktivitas berat, jangan ngegym atau sauna, jangan taruh minyak hangat di area perut, jangan naik motor apalagi berkuda, hindari makan ikan dan daging mentah macam sushi dan rare steak. Jangan lupa diminum obatnya, ada 5 jenis ya, oral dan vaginal. OKE SIAP SUSTER! 😁

Setelah itu Heru mengurus persetujuan Freezing Embryo dan kami berdua harus memberi tanda tangan di kertas perjanjian bermeterai. Oh yes, segala prosedur IVF ini memang sangat berurusan dengan hukum karena sesungguhnya ini demi keamanan dan keselamatan semua pihak.

Semoga saja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh Mbak Alvin, juga suster dan dokter, semoga semua ikhtiar ini akan membawa rejeki untuk ibu bapak. Insya Allah. 💙

Informasi tambahan untuk referensi

Biaya freezing embryo tidak termasuk dalam paket biaya IVF, maka pada tahap ini pasien dikenakan biaya untuk FE itu.

Obat-obatan pasca ET + Freezing Embryo = Rp. 4.380.000

My IVF Diary (part 5) – Ovum Pick Up

27 September 2019

Bangun tidur aku kehausan. Tapi segera ingat bahwa aku memang diminta berpuasa makan minum sejak semalam karena pagi ini waktunya OPU. Ya, Ovum Pick Up.

Sampai di Morula, aku dan Heru langsung diminta ke ruang persiapan. Heru diminta pakai baju begitu dan copot sepatu, ganti pakai sandal model crocs. Trus dia geli sendiri, walau tetap akhirnya milih warna, maunya crocs biru. 😅

Aku juga tentu, pakai baju standar operasi. Juga sudah mandi bersih tidak pakai kosmetik, parfum, cat kuku, perhiasan, dll. Lalu bengong-bengong nunggu di ruang pre-operation ditemani Heru. Sepi banget di sana, jadi aku iseng komentari apa pun yang kulihat dan Heru mencoba menjawab dengan sok bijak. Kenapa ada keset lengket sih di depan ruang operasi? Oh biar kalo ada jarum atau kapas sisa bisa nempel di situ. Kenapa judul ruangannya Operating Theater ya? Wah, berarti nanti kamu ditonton. 😑

Jam 9 akhirnya aku dipanggil masuk ruang operasi. Heru diminta nunggu di luar, eh, diminta ke ruang Men’s room untuk melakukan tugasnya menyiapkan benih-benih cinta (you know what I mean). Sementara aku langsung ditata oleh dua suster Morula kayak ayam potong yang dijual di pasar. Mengangkang lebar. Dokter Wisnu, Suster Siska dan Suster Lulu sudah siap. Suster anestesi lalu memasang alat-alat yang ditempel di jari dan lenganku, selang oksigen di hidungku, pokoknya aku sudah rapi. Lalu nunggu, nunggu, sampai kedinginan karena suhu ruangan kayaknya sengaja dipasang dingin. Ternyata dokter biusnya telat.

Sambil mengisi waktu, dokter Wisnu ngajak ngobrol, nanya aku kerja di mana. Rasanya aneh sih, aku udah ngangkang dan bugil, tapi diajak ngobrol kerjaan, yaa meskipun aku paham tujuannya. Dia juga kemudian pasang lagu. 🎶 Heart beats fast, colors and promises, how to be brave, how can I love when I’m afraid to fall, one step closer, I have died everyday waiting for you… Sumpah, lagunya salah banget.

Seingatku terakhir kulihat jam 09.40. Lalu blep… aku tidak ingat apa-apa, sampai kemudian aku bangun kira-kira jam 12. Suster datang mengecek apakah aku pusing atau mual. Kujawab dengan menggeleng dan bilang, “Lapar.” Suster Siska tersenyum lalu mempersilakan makan siang yang sudah disediakan Morula.

Satu jam kemudian aku baru beranjak dari tempat tidur, karena kepingin pipis. Waktu pipis, ada sisa darah keluar. Buru-buru aku laporkan ke suster, tapi katanya itu wajar. “Tadi sebelum selesai, kami sudah memastikan tidak ada pendarahan dalam,” ujarnya. Jadi berdarahnya itu normal aja. Makanya kemudian juga aku diresepkan obat hormon dan antibiotik untuk diminum beberapa hari ke depan. Lemas, tapi senang juga karena tahap ini akhirnya selesai.

Informasi tambahan untuk referensi

Ibu bapak yang perlu referensi, kemarin aku dan suami ambil paket IVF, detailnya bisa dibaca pada posting part 4. Jadi pada hari OPU ini kami tidak lagi repot dengan biaya besarnya. Kami hanya menebus obat pendukung dan antibiotik sekitar Rp.900.000.

My IVF Diary (part 4) – Diet Sehat Persiapan OPU

25 November 2019

Selamat hari guru! Dan aku sendu karena harus merayakan hari ini di rumah sakit. Pekan ini sebetulnya ada pentas drama kelas 11, tapi aku akan banyak melewatkan pentasnya karena akan ke RS terus.

Pagi sebelum berangkat Heru masak salmon, hadiah buatku yang mual terus rasanya setiap pagi. Ohya, salmon ini salah satu makanan rekomendasi untuk sering dikonsumsi selama program IVF. Diet selama IVF mudah sebetulnya, walau kadang kangen sama beberapa makanan pantangan. Oh, tahu krispi… Oh, yogurt bluberi…

Salmon panggang dan brokoli wortel rebus. Nasi beras hitam cuma buatku. Heru nggak doyan.

Pantangan: kopi, teh, dan apapun yang mengandung kafein. Segala jenis kacang (kacang hijau, kacang tanah, dll., kecuali almond). Tahu, tempe, tauco, susu soya, susu kedelai, cokelat, yogurt. Alkohol dan rokok.

Anjuran: Minum air mineral sehari minimal 3 liter. Menjaga suhu tubuh normal. Makan makanan protein tinggi. Banyak olahraga ringan.

Makanan rekomendasi: Ikan laut (salmon, tuna, gindara). Putih telur 2-3 butir per hari. Brokoli, wortel, tomat, dan semua sayuran dengan vitamin C tinggi. Buah naga, semangka, jeruk manis, dan semua buah yang bervitamin C tinggi.

Sarapan paling gampang. Buah naga kerok sendok. Jeruk peras hangat 500 ml buat berdua.
Telur rebus tiga butir tambah brokoli tumis butter cabai bawang putih.

Bekal buat ke sekolah. Overnight muesli with almond and chia, siram susu tawar. Tambah mangga manis.

Persiapan OPU

Usai cek tensi, suster langsung ajak aku ke lab untuk ambil darah lagi sebanyak satu tabung, untuk mengecek hormon estradiol dan progesteron.

Setelah itu, nggak lama kami langsung ke ruang dokter dan kembali USG. Diperiksa seberapa siap telur yang ada. Dokter Wisnu bilang, ada enam yang berpotensi. Jadi malam nanti harus suntik pemecah telur Ovidrel, sekaligus minum tablet Mefenamic Acid.

Trigger injection. Suntik bentuk pen gini enak banget dipakainya. Gak sakit.

Sebelum pulang, muridku mengirim video boomerang mereka usai pentas drama. Huahh, tiba-tiba nangis dong. Sebulan menyiapkan drama mereka, tapi pas hari H aku nggak bisa nonton. ☹ Tapi hidup ya gitu, harus banyak milih dan terima rasanya. Ya.

Siang itu kami pun pulang dan hampir kehujanan.

Info tambahan untuk referensi

Sebelum OPU nanti, kami harus melunasi biaya prosedur di awal. Jadi, ini biaya yang dikeluarkan pada kunjungan keempat.

USG dan konsultasi dokter + cek darah progesteron dan estradiol + obat + paket IVF end year phase 1-3 = Rp. 36.780.000

My IVF Diary (part 3) – Konsultasi Anestesi

23 November 2019

Kunjungan ketiga ke dokter. Kali ini untuk mengecek seberapa besar telur yang kupunya. Pagi jam 10 itu dr Wisnu memeriksa dan ternyata, telurnya belum mencapai ukuran yang diharapkan. Aku kembali diresepkan suntik Gonal-F untuk memicu pembesaran telur, sekaligus suntik Cetrotide untuk menjaga telurnya jangan pecah dulu. Ini harus dua malam lagi dilakukan, setelah dua malam sebelumnya kami sudah pakai obat serupa.

Di ruang tunggu aku dapat pesan whatsapp dari pakbos. Katanya aku bikin kesalahan kemarin di tempat kerja dan akan dapat memo karena itu. Iya, absen dua hari aja aku udah mulai nggak fokus. Kalau masuk badan ya aneh gitu, tapi aku berusaha bereskan semua kerjaan karena mana tau besoknya harus absen lagi karena ada janji dengan dokter. Tiba-tiba aja pecah itu tangis. Heru bingung. Lalu aku cerita dan responnya tenang seperti biasa. “Kamu harus belajar terus, nggak semua hal bisa kamu kendalikan, nggak semua hal hasilnya sesuai dengan yang kamu harapkan.”

Iya, betul banget. Kayak si telur ini juga. Dokter kira dengan dosis yang diberi di awal sudah cukup membesarkan telur, ternyata belum. Makanya harus tambah dosis lagi. Artinya tambah waktu lagi, tambah sakitnya lagi, tambah biayanya lagi. Tapi yaa manusia memang tugasnya begini kan, usaha terus sekuat-kuatnya.

Bertemu Dokter Anestesi

Kunjungan kali ini kami sekalian dijadwalkan konsultasi dengan dokter anestesi. Iya, besok saat OPU (Ovum Pick Up) badan pasien dibuat tidur biar nggak banyak gerak, agar dokter bisa gampang lakukan tindakan ambil ovumnya. Lagian memang sakit, makanya ya mending dibius.

Dokter anestesinya kocak. Namanya dr. Sulis. Sudah tua dan medhok Jawa bicaranya. Dia jelaskan prosedur anestesi yang akan aku lewati nanti sambil mencatat data pasien dan komentarnya yang jahil. Berat badannya kok pakai koma, buletin aja ya. Beratnya nanti turun nih, kan nanti disuruh puasa dulu. Sebetulnya gak dibius boleh juga, ya asal kuat tahan sakitnya. Dulu di sini dokternya ada enam, tapi satu sudah meninggal. Yhaa~

Heru cengengesan terus. Aku ketawa-tawa terus. Aku dan Heru terus ketawa-tawa keluar ruangan itu sampai kemudian berhenti ketawa saat di kasir. “Haih, kita becanda doang tadi, bayarnya 350 ribu.” Kami ketawa lagi.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + Tambahan GonalF dan Cetrotide + konsultasi anestesi = Rp.5.435.000

My IVF Diary (part 2) – Cek Hormon dan Jantung

19 November 2019

Sudah hari keempat suntik Gonal-F. Tiap pagi rasanya mual sedikit. Tapi makan tetap enak karena nafsu makan kok rasanya meningkat. Badan agak tidak nyaman, seperti melayang. Tapi saat siang rasanya bersemangat. Aku bisa ngajar dan bolak-balik gedung sekolah kayak biasa. Nah, begitu sore, badan baru deh terasa lelah banget. Kupikir normal aja lah ya, namanya juga kerja dan beraktifitas, pasti jadi lelah.

20 November 2019
1. USG dan konsultasi dokter
2. Cek darah hormon
3. Cek EKG (rekam jantung)

Kunjungan kedua. Pagi jam 9.30 aku dan Heru sudah sampai Morula, papasan dengan dr Wisnu di depan lift dan dia menyalami kami.

Kami langsung masuk ke Admisi. Tak lama, aku diperiksa berat badan dan tensi darah. 117/74. Suster tidak beri komentar apa-apa. Aku juga tidak banyak tanya.

Aku lalu menunggu panggilan sambil menyempatkan koreksi ujian. Tapi Heru mengganggu terus, memberi komentar lucu pada foto-foto aku main rollerskate bulan lalu.

Akhirnya kami masuk ruang dokter untuk USG kembali. Kata dokter, telurnya sudah berkembang, yang kanan besar-besar, tapi yang kiri masih kecil. Lalu dokter meminta aku suntik Gonal-F lagi untuk tiga hari ke depan, juga meminta cek hormon lewat darah.

Pokoknya aku merasa biasa saja waktu tiba di lab, sampai kemudian ada drama ini.

Waktu jarum masuk ke kulit terasa agak sakit. Satu dua tabung selesai. Di tabung ketiga aku merasa kesemutan di tangan, lalu lama-lama kepalaku pusing. Perawat menghentikan ambil darah. Lalu pusingku makin hebat. Perawat suruh aku tarik napas dan jangan tutup mata. Aku keringat dingin. Pusing, pusing, pusing. Melek, melek, melek. Mau panggil Heru yang lagi ambilkan minum nggak bisa. Sampai kemudian, huekk. Aku muntah. Perawat kaget.

Heru balik dari ambil air minum dan bingung lihat lantai ruang lab ada muntahan. Bingung juga waktu lihat aku meler dan mau nangis. Heru langsung suruh aku minum teh manis yang sudah dia buatkan. (Lupa banget kami diminta pantang teh dan kopi).

Saat pusing mereda, aku bertanya ke perawat, kenapa aku bisa begitu. Dengan polos perawat bilang kalau dia juga tidak tahu, baru sekali ini dia ambil darah eh pasiennya hampir pingsan lalu muntah. Karena tanggung tinggal satu tabung, aku bilang lanjutkan saja ambil darahnya. Perawat langsung gerak cepat tusuk lagi, sedot darah lagi hingga genap empat tabung.

Rasanya lemas dan mau pulang. Tapi belum bisa karena masih harus cek rekam jantung. Aku permisi dari ruang lab sambil minta maaf ke perawat dan mbak cleaning service yang baru datang. Sambil mengurus printilan biaya yang harus dibayar, Heru menyemangatiku dengan bilang, “Yah, muntahnya. Ketauan deh tadi makan di warteg .”

Aku cek rekam jantung (EKG/ECG) di Medical Check Up room di lantai 2 RS Bethsaida ini. Prosesnya cepat banget. Yang bikin ngeri itu karena ada kabel-kabel yang ditempel di dada, tangan, dan kaki.

Kesannya kayak mau disetrum. Padahal nggak terasa apa-apa. Hasil juga bisa langsung diambil. Aku nggak bisa baca grafiknya sih, tapi ada note “normal”. Syukurlah. Aku mau pulang dan tidur sekarang.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + lab dan cek darah hormon + GonalF tambahan + cek EKG = Rp.6.724.000

My IVF Diary (part 1)

Setelah enam kali IUI (inseminasi) di tiga rumah sakit (Hermina, Harapan Kita, Omni Hospital+Klinik Selaras) dan hasilnya gagal, aku dan Heru absen berusaha setahun. Kami jalan-jalan dan hepi-hepi. Lalu kemudian semangat itu datang lagi. Sekarang kami mencoba lagi, kali ini dengan program bayi tabung atau In Vitro Fertilisation (IVF). Dengan pertimbangan waktu dan jarak, aku memutuskan ikut program di Morula IVF Tangerang. Lokasinya di lantai 7 RS Bethsaida Gading Serpong.

20191117_152418

16 November 2019

  1. Konsultasi dokter
  2. Tanda tangan perjanjian
  3. Tes darah di lab
  4. Sperma analisis
  5. Suntik hormon pertama
  6. Minum vitamin

Pagi jam 07.30 aku dan Heru sudah tiba di Morula. Ini kunjungan kedua. Sebelumnya aku sudah sempat survei dan cari info, makanya kemudian sudah bikin janji sehari sebelumnya dengan dr. Wisnu Setyawan, SpOG(K). Info tentang beliau bisa dilihat di sini.

Awalnya, pasien harus isi data lengkap, juga menyerahkan KTP suami istri dan surat/buku nikah. Semua ini jadi persyaratan awal dan diurus oleh pihak Admisi.

Setelah itu, jam 10.00 akhirnya bertemu dokter Wisnu. Tentu aku sudah baca info tentang IVF, jadi aku tahu aku mesti datang di hari kedua mens. Makanya dokter kemudian bilang sebaiknya bisa langsung dimulai programnya karena waktunya sudah pas. Aku kemudian di-USG transvaginal, juga dites jalur vaginanya apakah mudah untuk nanti dilakukan OPU (Ovum Pick Up) dan ET (Embrio Transfer). Rasanya agak mules sedikit waktu kateter masuk lewat vagina yang dibuka pakai cocor bebek. Tapi sakit itu bisa teralihkan karena kita bisa lihat layar tampilan USG di depan mata. Centang! Fasilitas USG Morula oke.

Setelah itu, dokter membuat timeline rencana program. Juga membuat perhitungan tanggal. Ngbrol dan tanya jawab. Lalu aku dan Heru diresepkan suplemen vitamin.

Keluar dari ruang dokter, kami menandatangani surat perjanjian, kertas beberapa lembar dan tanda tangan di atas materai. Ditulis jelas semua di sana risiko yang mungkin terjadi dan apa hak kewajiban yang dilakukan kedua pihak, pasien dan dokter RS. Aku malas baca detail karena takut mood hepiku rusak. Biar Heru aja yang pahami itu.

Lalu, kami berdua harus tes darah. Aku diambil darah empat tabung. Untuk istri: Anti toxoplasma IGG dan IGM, AMH, LH, FSH, Progesteron, Estradiol, HBSAG, Anti HCV, Anti Rubella IGM dan IGH, Anti HIV. Untuk suami: HBSAG, Anti HCV, Anti HIV.

20191117_143003

Kasihan Heru, pembuluh darahnya kecil, jadi suster harus ganti tangan kanan kiri. Dan lebih sakit rasanya padahal cuma diambil satu tabung saja.

20191117_151409

Lanjut dengan Analisis Sperma untuk suami. Perlu dihighlight nih bagian ini. MorulaIVF Tangerang punya 3 Men’s Room. Fasilitasnya oke meskipun ruangannya kecil. Ada single sofa, wastafel, teve dengan koleksi video porno kualitas HD, majalah dewasa yang up to date, dan bonus minuman Buavita. Men’s room paling bagus dari sejumlah RS yang pernah kami datangi. 🙂

Selesai itu semua, kami diperbolehkan pulang karena pemeriksaan darah dan sperma tadi butuh waktu lama. Kami kembali lagi ke rumah sakit jam 7 malam untuk mengambil obat. Obat apa yang kami dapatkan harus disesuaikan dengan hasil cek darah tadi. Begitu hasilnya sudah keluar, kemudian dianalisis dokter, maka kemudian aku diberikan obat hormon gonal-F untuk disuntikkan di perut selama 4 kali selama 4 malam berturut-turut. Kami pun akhirnya pulang malam itu membawa Gonal-F dalam kantung es, juga vitamin Asta Plus untuk Heru, Dalfarol 200 dan Folamil Gold untuk aku.

Aku dan Heru banyak tertawa hari itu. Menertawai banyak hal kecil di ruang men’s room, acara Insert di teve ruang tunggu, hingga perawat gemas yang dijemput kakaknya. Oh, hari yang melelahkan sekaligus seru.

Info tambahan buat yang perlu tahu

Aku mencatat ini sebagai diary. Kenangan akan usaha perjuangan mencari si buah hati. Semoga saja catatan ini bermanfaat untuk pembaca, terutama untuk ibu bapak yang berencana memilih jalan ini juga. Biasanya suka ada yang bertanya tentang biaya, maka sengaja aku tuliskan di sini sebagai tambahan informasi.

Konsultasi dokter + USG transvaginal + pemeriksaan darah lengkap istri suami + analisis sperma + joining fee + paket obat Program IVF promo akhir tahun 2019 = Rp.22.925.500

Belajar di Wakayama Jepang

Ini tulisan khusus buat yang nanya kenapa aku kemarin ke Jepang. Iya, ke Jepang kemarin dalam rangka kerja. Aku bertugas menemani murid yang jadi perwakilan Indonesia dalam Asian and Oceanian High School Students’ Forum 2018. Acaranya tanggal 24-28 Juli. Tapi aku di Jepang dari 23-30 Juli, karena ada bonus jalan-jalan di Wakayama, tempat forum ini berlangsung.

Enak ya kerja sambil main? Iya, alhamdulillah banget aku dapat kesempatan ini. Bisa kenalan dengan negeri matahari terbit dan guru-guru dari 20 negara peserta, belajar banyak budaya baru, juga berkunjung ke situs andalan daerah Wakayama. Dan semuanya dibiayai oleh pemerintah Jepang! Big thanks to the organizers: Wakayama Prefectural Government, Wakayama Prefectural Board of Education, Organizing Committee of the forum, and ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia).

Discussion and Cooperation with the World

Acara ini pada dasarnya mengajak murid-murid untuk berdiskusi. Meskipun kadang diskusi agak tersendat karena kendala bahasa (ada beberapa yang tidak menguasai bahasa Inggris, baik murid ataupun guru), acara ini menurutku tetap sukses membuat murid-murid usia 15-18 tahun ini bisa saling berbagi ide.

Ada empat tema diskusi yang dibahas di forum ini, yaitu: measures against tsunami and other disasters, environmental issues, tourism and culture, and education. Indonesia yang diwakili oleh murid Binus School Serpong, Kayla Anasya Afriandy, kebagian membahas tsunami. Jadi Kayla bergabung bersama murid dari negara-negara lain membahas topik itu dalam sectional meeting dan general meeting. Ohya, di awal saat opening ceremony, Kayla juga presentasi tentang budaya Indonesia.

Menarik banget deh dengar presentasi perkenalan budaya dari tiap negara. Materinya sebetulnya banyak yang sudah aku tahu karena mudah ditemukan di google, tapi tetap menarik karena dibawakan oleh anak murid dari negara masing-masing itu, dengan bahasa Inggris campur logat khas dan seragam sekolahnya yang bermacam-macam. Nih kusebutkan semua ya berdasarkan abjad. Australia, Brunei Darussalam, Cambodia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Republik of Korea, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philippines, Singapore, Taiwan, Thailand, Turkey, Vietnam. Juga ada murid-murid dari enam prefecture di Jepang: Miyagi, Kanagawa, Aichi, Osaka, Nagasaki, Wakayama.

Di bagian sectional meeting, setiap murid mempresentasikan hasil riset mereka. Ada moderator siswa dan moderator guru (keduanya dari Jepang) dan setiap peserta lain dalam grup itu boleh bertanya. Penonton (guru dan murid-murid undangan dari SMA sekitar) juga dipersilakan bertanya, walau ternyata lebih banyak yang diam saja. Sekali lagi, kendala bahasa.

Dari sectional meeting per grup discussion itu, mereka berdiskusi lagi membahas pertanyaan yang diajukan moderator. Misalnya, grup Tsunami A berdiskusi tentang “apa yang bisa dilakukan kita semua sebagai komunitas untuk mengatasi bencana alam?”

Hasil diskusi ini kemudian dibawa ke General Meeting yang diadakan di Cultural Hall Wakayama City. Siswa per grup duduk di panggung dan menyampaikan ide-idenya. Siswa dari kelompok lain menyimak dan boleh juga bertanya atau berkomentar. Diskusi ini juga disimak oleh peserta satu hall, siswa dan guru SMA Jepang dan bapak ibu undangan. Ada juga konsulat Indonesia yang hadir, dan sempat ngobrol dan berfoto bareng juga.

Acara ditutup dengan Reception bersama governor Wakayama. Semua sibuk ngobrol dan makan-makan, tapi aku sibuk dandanin Kayla karena Indonesia jadi salah satu performer di stage resepsi. Ada anak Myanmar nyanyi, ada anak Filipina dan Mongolia main musik. Sementara Kayla nari Yamko Rambe Yamko Papua. Wooo… langsung dong dia jadi artis. Kuturut bangga sebagai guru yang ngajarin narinya. 😁

Homestay with Japanese Family

Dari pengakuan Kayla dan juga suasana yang aku rasakan, acara ini sukses menyatukan para peserta murid. Anak-anak dari berbagai negara ini langsung kelihatan akrab. Mungkin memang batch 2018 ini kebetulan anak-anaknya klik banget, kenalan trus bisa langsung hangout bareng ketawa ketiwi sampai dini hari. Jangankan mereka ya, aku aja udah langsung friend dengan beberapa murid Jepang di Instagram!

Highlight yang aku salut banget dari forum ini adalah kegiatan homestay. Jadi, murid dari 20 negara ini menginap satu hari di rumah murid Jepang. Pagi hari orangtua murid Jepang itu menjemput di hotel, lalu murid asingnya diajak jalan-jalan ke Donki atau Aeon Mall, lalu makan dan tidur di rumah mereka. Kayla muridku diajak masak barbekyu dan main kembang api oleh anak Jepang host family-nya. Besoknya pas perpisahan, Kayla dibekali banyak banget oleh-oleh dan jajanan Jepang. Ibu host family sampai nangis pas berpisah. Aku yang kebagian ceritanya aja ikut senang lho dengan part ini. Keren!

Sementara itu, guru-guru juga dapat waktu jalan-jalan. Kuceritakan di post berikutnya aja deh yaa! 😁