Dilanku 2002

Perempuan yang nggak baper saat baca buku atau nonton film Dilan itu kurasa karena dia nggak pernah punya tokoh Dilan dalam hidupnya.

Aku, jelas baper. Aku juga punya sosok Dilan. Kakak kelas yang naksir dan kutaksir balik pas masa SMA tahun 2002. Yang kalau dikenang sekarang pun masih bikin rindu walau berat dan aku nggak kuat.

Dilanku mirip-miriplah sama Dilannya Milea. Suka pake jaket jins juga. Suka baca buku juga. Tapi bandelnya beda. Dilan yang itu ketua geng motor, Dilanku ini ketua pencinta alam di sekolah. Dilan yang itu bodor dan nyentrik, Dilanku ini cool dan nyentrik juga walau nggak seajaib Dilan itu.

Dilanku ini pernah membuat lubang-lubang tembok samping rumahnya. Buat tempat dia latihan manjat. Jarinya sering dibalut tensoplas bekas dia latihan panjat dinding itu. Dia suka nyetel Slank kencang-kencang sampai tetangganya keberisikan. Dia kirimi aku puisi-puisi pendek dan dia yang pertama kali memimpikan aku menulis novel. Kuajak dia surat-suratan pakai disket. Dia ajak aku naik kereta KRL yang sumpek sesak (Dulu KRL Bogor Jakarta amit-amit busuknya) untuk temenin dia beli tali tambang climbing di Cikini. Dia yang ajak aku pertama kali ke Potlot dan lihat langsung konser Slank di rumah mereka, lalu bikinin aku kartu anggota.

Yang paling berkesan tentu saja pas aku ulang tahun 17. Dia tahu kisah namaku dan dia carilah buku karya Pram. Kebetulan waktu itu aku belum punya satu pun buku Pram. Akhirnya pas aku ultah dia kasih ini.

Kenapa malah Rumah Kaca? Karena Bumi Manusia susah dicari, udah nggak ada di toko buku waktu itu. Dan dia bilang sengaja biar aku punya alasan untuk cari tiga buku seri tetralogi Buru lainnya. Buku itu dimasukkan ke kantong oranye itu. Biar aku jadi anak pemberani juga, kapan-kapan harus bisa naik gunung katanya.

Itu tulisan tangannya 🙂
Cerita tentang Annelies sedikit sekali di Rumah Kaca. Jadi dia baca dan tandai begini biar aku nggak repot-repot cari sendiri. 🙂

Ceritaku juga berakhir setelah setahun, sama kayak Dilan dan Milea. Maklum ya emosi remaja, ada masalah sedikit kok ya nggak bisa berjuang dulu gitu. Aku menjauh, lalu dia bilang aku udah nggak asik lagi. Lalu… dia hilang.  🙁

 

Plus Minus 2017

Sebagai makhluk banyak mau dan masih banyak perhitungan sama Allah, memang sudah seharusnya aku menghitung (walau sebetulnya tak akan bisa dihitung betul-betul) nikmat yang sudah kuterima sepanjang 2017 ini. Aku akan pakai metode daftar plus minus, biar kelihatan jelas perbandingan mana yang lebih banyak.

Oke, mari mulai menyusun. Dari minus dulu aja ah.

  1. Ikut program hamil di RS Harapan Kita. Tiga kali inseminasi gagal. Detail dramanya cek postingan aku aja.
  2. Nggak update app messenger facebook sehingga kehilangan beberapa tawaran ngisi acara dongeng dari situ.
  3. Kondisi badan nggak stabil setengah tahun lebih. Hormon berantakan akibat sisa promil.
  4. Ribut kecil sama pasangan, efek samping promil. Sebentar aja tapi.
  5. Nangis pas tau sahabat abis nikah langsung hamil tapi dia ga enak mau bilang ke aku.
  6. Sakit dipijit mbah ‘dukun pijat’ selama coba terapi pas mudik ke kampung halaman suami.
  7. Keuangan habis-habisan untuk promil. Nahan diri dari buang uang di pos tersier dan liburan jarak jauh.

Nah, sekarang daftar plus.

  1. Main ke Sekolah Rakyat di Bintaro. Mendongeng di sana, dan kagum sama rumah lokasi acaranya. Happy.
  2. Dapat bunga dari murid pas valentine.
  3. Main ke YKAKI dan berbagi bahagia sama anak kanker di sana.
  4. Ikut membacakan surat Kartini di acara GIMS di Salihara. Foto bareng Debra Yatim, Jajang C Noor, dkk.
  5. Bisa merayakan ultah ibu-bapak-suami di tiga hari berurutan. Sehat semua dan hepi.
  6. Kenalan sama geng ibu-ibu Bintaro milenial keren dan inspiratif dari acara mendongeng di playdate Rumah Mandar.
  7. Ulang tahun dapat kejutan dari murid sekelas walian. Juga makan-makan dua hari berturut di ruang guru. Lovely week.
  8. Dapat pengalaman mendongeng untuk teman-teman tuna netra di RS Dharmais. Membuka hati dan jiwa.
  9. Manggung ndongeng di Sabuga ITB di acara FAB2017. Kagum lihat dunia sains anak.
  10. Liburan kentjan di Bandung. Main ke NuArt Park.
  11. Ketemu dan dinner bareng Romo Magnis pas isi acara dongeng Hari Pancasila di gereja.
  12. Mentas tari giring-giring Kalimantan di acara recognition sekolah.
  13. Dapat hadiah buku mba Wikan Satriati, yang kemudian aku bawakan dalam dongeng roadshow selama Ramadhan.
  14. Ikut kelas Workshop Cerita Anak Ayo Dongeng Indonesia bersama Sofie Dewayani.
  15. Sukses rekomendasikan buku Genduk jadi bahan ajar murid kelas 10. Menikmati betul proses belajar sastra selama satu semester tahun ajaran ini.
  16. Bikin pentas drama acara 17an di sekolah diangkat dari novel Burung-Burung Manyar, aku gabung lagu nasional dan tari balet.
  17. Nonton Payung Teduh di pensi sekolah sendiri. Menikmati dekor Bynamic 2017 yang kece asyik.
  18. Dapat ilmu dari Sheila Wee, pendongeng Singapura, di kelas dongeng Ayo Dongeng Indonesia.
  19. Ngurus nari Chinese New Year, medley Indo+Hiphop, nari tradisional untuk anak murid yang berangkat ke London dan Korea Selatan. Membuat koreo singing performance murid yang ke China, ngurus medley dance Indonesia-Ballet-Hiphop-India di acara Internationalism Day. Fun!
  20. Dapat hadiah gambar potrait pas hari apresiasi guru. Senang ada murid yang total merupa diriku saat mengajar.
  21. Mendongeng di banyak tempat dan dapat fee pula.
  22. Perdana mendongeng di perusahaan besar!
  23. Menerbitkan buku dongeng pertama: Kisah Seru Binatang Terpopuler di Dunia, terbitan Cikal Aksara. Akhirnya!
  24. Dapat ilmu tentang dongeng boneka ala Papermoon Puppet dan pentas perdana di FDII2017.
  25. Kenalan sama Makassar. Liburan dan kulineran bareng Atre.
  26. Dapat keasyikan baru dari jualan preloved books koleksi lamaku. Jadi punya kenalan baru.
  27. Bisa renovasi rumah, bikin kolam ikan, dan pasang pintu gebyok Jepara idaman suami.

Minus 7:27 Plus. YAK, PEMENANGNYA ADALAH PLUS!

Alhamdulillah, Nel, banyak sukanya daripada dukanya. Makanya, harus banyak banyak bersyukur. Semoga semua plus ini bermanfaat. Semoga semua minus akan berganti plus di tahun 2018. Amin amin amin… ❤

Nambah satu Plus lagi: hidup penuh cinta bersama mas botak ini. Tapi ga keliatan botaknya karena pake topi. Iya pokoknya dia.

Karya Kedua: KISAH SERU BINATANG TERPOPULER DI DUNIA

Senang sekali buku ini akhirnya terbit! 😀

Ide menulis dongeng atau cerita anak ini sebetulnya sudah mulai hinggap di pikiran sejak mulai mendongeng di kegiatan Dongeng Minggu tahun 2010 dulu.

Aku mulai menawarkan proposal ke penerbit tahun 2014. Hingga akhirnya disambut oleh penerbit Cikal Aksara. Agak lama prosesnya karena kesibukan kedua pihak, sampai akhirnya naskah rampung tahun 2016. Lalu kebut ilustrasi dan sunting sampai akhirnya bisa terbit Juli 2017!

Sebenarnya ini adalah karya bersama aku dan Heru Rudiyanto, mas suami. Kami persembahkan ini untuk calon anak kami berdua kelak. 🙂

  • Judul: Kisah Seru Binatang Terpopuler di Dunia
  • Penerbit: Cikal Aksara
  • Tahun terbit: 2017
  • Kisah dongeng binatang tentang semangat berjuang, keberanian, dan pantang menyerah.
  • Berisi 20 cerita dan tips mendongeng untuk orang tua.
  • Dilengkapi barcode link video Youtube aku mendongeng dari tiga judul cerita.

Satu Dua Tiga, Gagal Semuanya

Nah, sekarang udah sah boleh nyanyi “satu dua tiga gagal semuanya…”. Iya, ini update dari tulisanku sebelumnya. Jadi Mei 2017 ini lengkap tiga kali coba program hamil dengan IUI.

Nggak bisa ngomong banyak sekarang. Aku mau istirahat dulu. Simpan harapan dan cita-cita dulu. Mungkin nanti kalau semangat sudah terkumpul lagi, aku coba segala usaha lagi.

Ngomel Demi Kejujuran (Catatan Hardiknas 2017)

Suatu hari di kelas 10, kelas dimulai dengan pembicaraan seperti ini.

Murid: Miss, kita belajar apa hari ini?

Saya: Saya mau ngomel dulu.

Murid lain: Miss Arnel mana bisa marah. Eh, bisa sih marah, kalau lagi latihan nari.

Ya, jadi memang saya pada dasarnya tidak mudah marah lalu ngomel-ngomel. Namun, bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah juga, terutama pada hal-hal mendasar berhubungan dengan moral. Kalau pas latihan nari itu bukan marah sih, itu galak tegas aja, karena nari adalah sesuatu yang akan dipentaskan. Saya nggak mau pentas tari yang cuma 4 menit itu jelek dilihat nanti. :))

Akhirnya saya bilang di depan kelas 10 itu, apa yang membuat saya marah. Saya mulai dengan bahas bahwa mengapa selama ini guru selalu mengingatkan murid untuk bekerja dengan jujur. Tentu ada waktunya belajar bersama, diskusi, yang memang perlu bekerja sama. Tapi jika waktunya diminta bekerja mandiri, maka bekerjalah mandiri. Bentuk kerja mandiri itu ya dengan berusaha sendiri, menggunakan kemampuan untuk menganalisis dan mengkreasikan sesuatu sendiri.

Saya juga guru yang sangat menghargai usaha siswa yang telah bekerja jujur dan mandiri. Saya akan beri apresiasi lebih jika saya lihat murid mau berjuang menyampaikan ide dan pemikirannya. Makanya, saya marah betul ketika membaca salah satu tugas menulis puisi buatan seorang siswa yang saya tahu betul itu bukan karya dia.

Saya lanjut mengisi kelas yang hening dan kaget karena melihat gurunya ini nahan geram. (Iya, saya nggak bisa ngomel merentet, paling cuma ketus jatuhnya, hehee). Saya jabarkan mengapa menyontek atau plagiarisme itu sangat menyepelekan beberapa hal.

1. Plagiarisme itu menyepelekan sekolah dan guru. Pelaku seolah meremehkan sekolah yang sudah berusaha mendidik dengan beragam moral value, tapi dia seolah malah menganggap remeh niat memupuk nilai-nilai baik itu. Lalu, dia juga seolah meremehkan guru yang dianggap mudah dibodohi dengan karya palsunya. Seorang guru bahasa bisa dengan mudah lho melacak apakah benar ini karya si murid atau bukan. Guru ‘kan tahu gaya bicara si murid sehari-hari, gaya kalimat tulis dia, gaya dia merangkai kata, seberapa dalam analisisnya, seberapa cerdas pendapatnya, seberapa banyak koleksi diksi yang dia sampaikan. Jadi ketika suatu waktu ada murid yang mengambil karya puisi orang lain di internet, dan gaya bahasanya jauuuh dari kemampuan si murid, ya gampang banget ketahuanlah.

2. Plagiarisme itu menyepelekan kerja orang yang ditiru. Membuat puisi itu tidak mudah lho (dia pasti ngerti itu tidak mudah makanya dia cari cara mudah dengan mengkopi). Penyair membuat karya dengan pengetahuan dan hatinya. Maka ada hak cipta yang sudah menjadi miliknya. Dan sudah sewajibnyalah kita menghargai hak itu.

3. Yang paling penting, plagiarisme itu menyepelekan diri sendiri. Dia menyepelekan kemampuan berpikirnya sendiri. Dia tidak percaya bahwa otaknya mampu bekerja. Dia menganggap dirinya makhluk sepele yang tidak bisa menyusun kata-kata sendiri. Wah, ini sangat bahaya! Pikiran yang tidak boleh dipupuk. Karena kalau disetujui, itu akan semakin merendahkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kejadian ini jadi pelajaran lagi buat saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar. Iya, bukan sekadar ngomel. Mendidik harus memberikan pemahaman. Mendidik itu juga membangun hati manusia dan merawat jiwa baik yang ada di sana.

 

Oya, SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!

– Dari guru kece yang terus belajar

Karya Farah Hafizah, kelas 10, 2017

 

How I Understand Second Failure

How I understand second failure: It feels like this sentence from Han Kang in the novel Vegetarian.

The pain feels like a hole swallowing her up, a source of intense fear and yet, at the same time, a strange, quiet peace.

Yes, I am talking about my second IUI here. The first, failed. Now, failed again.

Satu putaran IUI kedua ini aku tepar banget. Dokter kasih obat dan suntikan yang jauh lebih keras dari yang pertama. Ternyata efek samping di badanku luar biasa. Aku sampai demam, pusing, kram perut dan dada, sampai jalan pun membungkuk-bungkuk. Dokter bilang obat yang kedua (injeksi Menopur) ini sama seperti obat yang dipakai untuk program IVF, tapi dosisnya lebih rendah. Ya ampun, dosis rendahnya aja udah bikin badan begini. Apalagi kalau aku ambil IVF ya. Hmm…

Siklus berjalan dan kemudian… pagi-pagi dapat kejutan bulanan yang tidak kuharapkan. Rasanya kosong, lalu nangis ngusel badan suami, lalu dipukpuk sambil tarik napas panjang. Badan dijejal pakai pain killer dan niat berangkat kerja. Karena kalau istirahat di rumah malah semakin gak sehat pikirannya. Pergilah aku ke sekolah.

Sampai parkiran ada rekan kerja nyapa dan tanya, “Jam berapa ya, Miss? Sudah telat clock in belum ya?”. Aku nggak nyangka sendiri bisa membalasnya dengan tawa hambar, “Hahhaa… I dont care, sir!” Kaget sekaligus lega, karena sepertinya kalimat itu bukan tentang dia, tapi tentang perasaanku pagi itu.

Tapi begitu ketemu teman di lift (dia IVF survivor dua kali), dia tanya apa kabar, meledak juga ini air mata. Dia bilang, “Sabar… Udah nggak usah dibahas aja. Udah kita ngobrol yang lain aja.” Tapi pas masuk ruangan kantor mata masih mau nangis aja, sampai akhirnya pak bos tanya aku kenapa. Rekan kerja yang lain jadi bingung juga mau bersikap gimana. Aku akhirnya malu, lalu ambil tisu dan lap muka. Mana habis itu ngajar jam pertama. Uh ohh, nggak ada waktu buat berduka.

Beberapa jam kemudian saat pikiran sudah tenang, aku diskusi lagi dengan suami. Kita mau istirahat dulu, atau berjuang lagi? Mau coba IUI lagi, atau coba IVF barangkali? Suami membebaskan pilihan kembali ke aku, katanya “yasudah kalau kamu masih kuat”. Aku nengok badan, yang kuat itu semangatku. Rasanya enak kalau berjuang, karena ada harapan yang bisa dikejar.

Maka, kami lalu memutuskan coba IUI sekali lagi. Biar puas aja rasanya kalo dibuat nyanyi… satu dua tiga sayang semuanya. 🎶

 

 

I Love Surprises, (but not) This One…

Ini update dari tulisanku sebelumnya: galau pertama di 2017. Kabarnya adalah… negatif. First IUI: Failed.

Kegagalan macam begini enaknya memang dirayakan di kamar sendiri. Nangis sambil dengar lagu galau bolak balik. Tapi masalahnya, aku baru tahu gagal ini di toilet sekolah. Jumat pagi tadi. Jadi nangisnya langsung di sana. Untungnya ada teman guru di situ, jadi aku lebih bisa menenangkan diri. Dia cerita bahwa dia aja yang pakai program bayi tabung masih juga bisa gagal. Dari enam embrio, yang sukses cuma satu. Frozen embrio apalagi, besar kemungkinan failed. Banyak juga kasus fresh embrio udah nempel bagus di rahim, tapi kemudian gugur.

Intinya, semua proses rekayasa biologi ini tidak ada hasil yang absolut. Yang pegang kuasa absolut cuma satu: TUHAN. Jadi semua harapan kita itu adalah perkara usaha lalu ikhlaskan saja. Semua serahkan pada Dia.

Pas lagi nangis itu tiba-tiba sadar. Sore ini nggak bisa pulang cepat. Harus isi acara mendongeng bareng murid-murid sekolahku di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Jakarta. Otak langsung mikir gimana caranya kontrol emosi sedih jadi ceria. Ini acara sudah lama direncanakan. Nggak mungkin aku batalkan gitu aja. Lalu akhirnya bikin keputusan: Oke, I will do my best. Aku akan tetap mendongeng. Usai dongeng langsung izin pulang duluan. Yak. Minum pain killer dan obat hormon. Sisihkan duka dan pura-pura baik-baik saja.

Di perjalanan, dalam bus sekolah, good mood kupaksa naik. Berlatih dongeng dan lagu-musiknya sepanjang jalan raya, sampai ketemu hujan deras begitu tiba di Salemba. Lalu begitu masuk ke Rumah Kita, eh aku malah senyum terus-terusan. Aku lihat ada beberapa wajah anak-anak yang sudah pernah aku temui sebelumnya. Mereka pasien kanker lama. Ada juga wajah-wajah baru. Dan… mereka lagi santai bercanda dengan teman-temannya, kayak nggak merasa sakit apa-apa.

Aku senyum lagi dan kali ini bukan basa-basi. Mereka ternyata sudah membesarkan hatiku ini. Mereka yang jauh lebih hebat berjuang aja masih bisa tetap tertawa. Mereka yang kenyang obat dan kemoterapi aja masih bisa hepi-hepi. Sementara apalah aku ini yang baru diberikan kegagalan sekali dua kali. Apalah aku ini cuma dikasih cobaan seujung jari.

Aku lalu mendongenglah. Cerita lancar mengalir. Aku baru sadar belakangan, pesan yang ada dalam dongeng tadi adalah pesan buatku juga. Tentang gimana kerja kerasnya burung kecil yang belajar terbang hingga akhirnya bisa lihat pemandangan indah. Usaha-Gagal-Usaha-Gagal, sampai akhirnya Berhasil. Juga tentang doa-doa yang dipanjatkan kodok pemanggil hujan. Setia berharap-berusaha-berdoa, hingga kemudian dapat hasil baiknya.

Akhirnya aku bertahan sampai acara selesai. Nggak jadi pulang duluan. Bahkan sempat kecewa karena harus buru-buru pulang agar nggak kena macet di jalan (yang sebenarnya adalah nggak mungkin nggak kena macet di Jumat sore Jakarta -__-). I was surprise with myself. Surprise with this one. Ohh… dear Almighty. Aku belajar lagi. Kejutan-kejutan hidup memang seharusnya “dinikmati sebaik-baiknya” saja ya. 🙂

Foto oleh @jhonathan.30