I Love Surprises, (but not) This One…

Ini update dari tulisanku sebelumnya: galau pertama di 2017. Kabarnya adalah… negatif. First IUI: Failed.

Kegagalan macam begini enaknya memang dirayakan di kamar sendiri. Nangis sambil dengar lagu galau bolak balik. Tapi masalahnya, aku baru tahu gagal ini di toilet sekolah. Jumat pagi tadi. Jadi nangisnya langsung di sana. Untungnya ada teman guru di situ, jadi aku lebih bisa menenangkan diri. Dia cerita bahwa dia aja yang pakai program bayi tabung masih juga bisa gagal. Dari enam embrio, yang sukses cuma satu. Frozen embrio apalagi, besar kemungkinan failed. Banyak juga kasus fresh embrio udah nempel bagus di rahim, tapi kemudian gugur.

Intinya, semua proses rekayasa biologi ini tidak ada hasil yang absolut. Yang pegang kuasa absolut cuma satu: TUHAN. Jadi semua harapan kita itu adalah perkara usaha lalu ikhlaskan saja. Semua serahkan pada Dia.

Pas lagi nangis itu tiba-tiba sadar. Sore ini nggak bisa pulang cepat. Harus isi acara mendongeng bareng murid-murid sekolahku di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Jakarta. Otak langsung mikir gimana caranya kontrol emosi sedih jadi ceria. Ini acara sudah lama direncanakan. Nggak mungkin aku batalkan gitu aja. Lalu akhirnya bikin keputusan: Oke, I will do my best. Aku akan tetap mendongeng. Usai dongeng langsung izin pulang duluan. Yak. Minum pain killer dan obat hormon. Sisihkan duka dan pura-pura baik-baik saja.

Di perjalanan, dalam bus sekolah, good mood kupaksa naik. Berlatih dongeng dan lagu-musiknya sepanjang jalan raya, sampai ketemu hujan deras begitu tiba di Salemba. Lalu begitu masuk ke Rumah Kita, eh aku malah senyum terus-terusan. Aku lihat ada beberapa wajah anak-anak yang sudah pernah aku temui sebelumnya. Mereka pasien kanker lama. Ada juga wajah-wajah baru. Dan… mereka lagi santai bercanda dengan teman-temannya, kayak nggak merasa sakit apa-apa.

Aku senyum lagi dan kali ini bukan basa-basi. Mereka ternyata sudah membesarkan hatiku ini. Mereka yang jauh lebih hebat berjuang aja masih bisa tetap tertawa. Mereka yang kenyang obat dan kemoterapi aja masih bisa hepi-hepi. Sementara apalah aku ini yang baru diberikan kegagalan sekali dua kali. Apalah aku ini cuma dikasih cobaan seujung jari.

Aku lalu mendongenglah. Cerita lancar mengalir. Aku baru sadar belakangan, pesan yang ada dalam dongeng tadi adalah pesan buatku juga. Tentang gimana kerja kerasnya burung kecil yang belajar terbang hingga akhirnya bisa lihat pemandangan indah. Usaha-Gagal-Usaha-Gagal, sampai akhirnya Berhasil. Juga tentang doa-doa yang dipanjatkan kodok pemanggil hujan. Setia berharap-berusaha-berdoa, hingga kemudian dapat hasil baiknya.

Akhirnya aku bertahan sampai acara selesai. Nggak jadi pulang duluan. Bahkan sempat kecewa karena harus buru-buru pulang agar nggak kena macet di jalan (yang sebenarnya adalah nggak mungkin nggak kena macet di Jumat sore Jakarta -__-). I was surprise with myself. Surprise with this one. Ohh… dear Almighty. Aku belajar lagi. Kejutan-kejutan hidup memang seharusnya “dinikmati sebaik-baiknya” saja ya. ūüôā

Foto oleh @jhonathan.30

Posting (galau) Pertama di 2017

Posting pertama di 2017.
Akhirnya memberanikan diri juga nulis ini. Sengaja untuk melepas rasa takut, yang pasti tidak akan hilang, tapi semoga bisa berkurang. Iya, mengawali tahun ini kok ya perasaanku cemas. Ada sesuatu yang membuatku takut gagal. Dan sudah jelas apa sebabnya.

Sudah sejak 2014 aku dan suami memutuskan untuk punya anak. Kenapa dibilang memutuskan? Ya, karena aku tidak serta merta diberi hamil seperti kebanyakan pasangan yang menikah. Maka kami memutuskan dan mengusahakan. Ke pengobatan alternatif, ke dokter kandungan dan konsultan fertilitas, ubah pola makan jadi yang serba sehat, dan terakhir balik ke dokter lagi. Jadi dua tahun belakangan ini aku dan suami sudah kenyang makan obat dan suplemen, kenyang jalani prosedur ini itu, kenyang habiskan banyak uang untuk ikhtiar, dan kenyang nangis tentunya.

Sebetulnya aku masih terbilang enak, tidak ada pihak lain yang memaksa aku segera hamil dan punya anak. Ortu dan suami sangat tenang, ingin tapi nggak ngoyo. Lingkungan, ada yang rese dan kepo tapi yaa… biasa-biasa ajalah. Keinginan hamil itu datangnya dari dalam diri sendiri. It’s natural calling. Makanya itu yang membuatku rela ikhtiar ke sana-sini.

Aku ingat aku pernah sangat takut mencoba naik sepeda. Kelas 1 SD waktu itu. Takut jatuh, padahal kaki pun belum menginjak pedal. Tapi semangat ingin bisa gowes keliling kampung begitu besar, makanya lalu aku berani-beranikan coba. Diiringi teriak semangat Mama dari jauh, aku coba juga nggowes si sepeda kecil putih itu dan akhirnya… bisa! Kenangan ini terputar lagi sejak malam tahun baru tadi, tapi galau yang ini rasanya beda. Kurasa karena yang akan kulakukan di tahun 2017 ini bukan percobaan pertama kali. Sudah dua kali gagal aku dengan program hamil. Pertama di RS Hermina Depok, lalu pindah di RS Hermina Serpong. Rasa gagal tentu nggak enak. Capek di mental dan fisik tentunya. Capek biaya juga. Tapi dorongan semangat mencoba itu selalu ada. Makanya aku niatkan coba program hamil lagi, kali ini di RS Harapan Kita, rekomendasi dua teman. Satu teman sukses punya bayi kembar dengan program IVF (In Vitro Fertilization/bayi tabung). Satu teman lagi sangat menyarankanku mencoba juga, meskipun dia sudah pernah IVF dan gagal. ūüôĀ

Iya, tingkat keberhasilan IVF itu hingga 40%, jadi artinya risiko gagalnya masih lebih besar. Dan program ini sama sekali nggak murah. Di RS Harapan Kita itu tim dokter menyarankan kami ikut IUI (Intra Uterine Insemination) dulu. Alasannya karena aku dan suami sebetulnya sehat-sehat aja. Cuma Tuhan aja yang masih kepengen kami puas-puasin pacaran. ūüôā¬†So yeah, meski galau-cemas-takut menghadapi apa yang akan terjadi di tahun 2017 ini, aku tetap semangat saat datang ke RS. Kami dandan hipster dari rumah dan menganggap RS adalah tempat kencan yang cozy.

Oktober 2016 program kami sudah dimulai, dan dua bulan pertama 2017 ini akan jauh lebih intensif. Doa-doa harus lebih banyak dihambur dan amal harus lebih sering ditabur.

Seujung Kuku Guru Zirah

Pada suatu hari saya membagi info tentang  lomba video pendek dari Kemdikbud. Saya share di Twitter dan Line. Murid-murid biasanya lebih update di Line sih, jadi saya post begini di timeline.


Ada yang memberi jempol, cuma satu orang. Ada juga yang nulis komen. Eeh komennya macam begini.


Haduhh… PLZ…

Sebetulnya normal banget ya murid laki-laki “menggoda” guru perempuannya. Remaja ya umurnya puber, lagi belajar menarik perhatian lawan jenis. Bosan menggoda teman seumuran, kadang mereka menguji diri, bisa nggak atau berani nggak menggoda wanita dewasa. Bentuknya bisa sekadar bercanda sederhana, tapi bisa juga kelepasan jadi serius. Pernah dengar kan ada murid yang serius ‘nembak’ gurunya?

Pertanyaannya kemudian, kok bisa sih mereka berani menggoda saya? Apa saya seunyu itu? Apa saya seseksi Guru Zirah favorit murid badung macam Iwan Fals? Hehee, nggak lah. Bodi saya nggak montok. Cuma seujung kukunya Zirah.

Buat yang belum tahu lagu “Guru Zirah”, ini liriknya.
Dia cantiknya guru muda kelasku/ Zirah namamu asli cangkokan Jawa/ Busana biasa saja/ Ramping kau punya pinggang/ Tahi lalatmu genit nangkring di jidat/ Goda batinku kilikitik imanku/ Pantatmu aduhai/ Bagai salak raksasa
Merah bibirmu bukan polesan pabrik/ Mulus kulitmu tak perlu lagi ke salon/ Betismu bukan main/ Indah bak padi bunting

Tidur pun aku tak nyenyak/ Sebelum aku sebutkan/ Namamu/ Guru Zirah bodi montok/ Rasanya ingin punya bank/ Tuk traktir engkau seorang/ Impianku/ Guru Zirah bodi montok

Baru melihat kaki ibu melangkah/ Hati di dalam dag dig dug mirip beduk/ Apalagi he he he/ Tak kan kuat ku berdiri/ Zirah guruku ibu manis bak permen/ Berilah les privat agar otakku paten/ Hadiahku tas plastik/ Boleh pesan di butik

Tidur pun aku tak nyenyak/ Sebelum aku sebutkan/ Namamu/ Guru Zirah bodi montok/ Rasanya ingin punya bank/ Tuk traktir engkau seorang/ Impianku/ Guru Zirah VeWe Kodok

Kalau setuju kita bolos sehari/ Bohong sedikit mungkin Tuhan tak marah/ Asmara tak bedakan/ Aku murid kau guru/ Kebun binatang lokasi yang ideal/ Murah meriah ongkos buat pacaran/ Ku tahu gaji ibu/ Hanya cukup untuk beli tahu/ Tidur pun aku tak nyenyak/ Sebelum aku sebutkan/ Namamu/ Guru Zirah bodi montok

Cerita 4 Mei Tahun Ini

Seumur-umur belum pernah merasa sedih saat ulang tahun. Meskipun nggak pernah selalu ada acara khusus, tanggal ultah biasanya aku sambut bahagia. Selalu ada aja keluarga, kumpulan teman, atau murid satu kelas yang membuat tanggal itu jadi raya.

Tahun ini beda. Rasa sedih mulai menekan sejak awal bulan. Entah, rasanya kali ini benar-benar baru melepas masa remaja. Bhay 30, welcome 31. Ada banyak ketakutan dan kecemasan yang datang. Ada banyak keinginan yang dibarengi penderitaan. Ngerti sih teorinya, hidup harus dibawa bersyukur, harus banyak ikhlas, harus banyak bahagia di pikiran, tapi… melaksanakan segala teori itu tidak mudah. Oke, niat bisa kencang di hari ultah, tapi membuatnya kencang sepanjang tahun berjalan itu yang susah.

Lalu, pagi tanggal 3 Mei, aku dipeluk suami. Dia tanya aku mau apa buat ultah besok. Aku cuma bisa jawab dengan tangis. Pagi itu aku datang bulan¬†lagi. Kami berdoa dalam hati masing-masing, dan ditutup dengan ucapannya, “Sabar ya…”

Lalu, pagi ini tanggal 4 Mei. Haru datang lagi ketika buka Fb notifikasi, ada pesan dari murid alumni di negeri seberang. Pengingat lagi bahwa Bapak pernah kasih aku nama sekeren ini.

photo (1)

Lalu subuh pesan singkat dari Bapak datang. “Mengenang peristiwa anak manusia yang lahir di dunia sekarang sudah dewasa. Selamat semoga sehat, selalu murah rizki, doa orang tua selalu mengiringi.” Tangis pecah lagi. Setelah dapat pengingat-pengingat itu, aku yang tadinya mau break berobat kandungan yang sudah jalan dua tahun ini, jadi kembali yakin untuk meneruskan. Oke, sore nanti¬†datang¬†ke dokter obgyn lagi.

Lalu, pagi ini, di ruang kantor guru, nangis lagi ketika ada rekan departemen Bahasa Indonesia yang mengucapkan selamat ulang tahun. Nangis yang beneran nangis! Mereka bingung karena aku dikenal tukang nyengir di sekolah. Sampai akhirnya dipeluk seorang guru Biologi perempuan, yang kepadanya aku harus bercerita dan berguru, bagaimana bisa tegar dan tabah menghadapi hasrat punya bayi. Yeah, hari melodrama.

Lalu, begitu sampai kelas untuk CA time (jam wali kelas), ruang kelas gelap, tidak ada satu pun muridku di sana. Ah, becanda nih. Emang masih jaman ya bikin surprise yang bikin kesel orang yang lagi ultah? Sampai aku kirim pesan di grup line: “I have bad day and you all make it worst.” KZL! ¬†Lalu aku balik ke ruang guru, dan mereka mengejar. Takut takut ketuk pintu, dan ternyata satu kelas datang bawa kue berlilin dan bunga. Ya lalu nangisku kembali PETJAH! ¬†Gemes-gemes gimana gitu lho. Mengutip apa kata salah satu murid paling ndregil, “sebandel-bandelnya kita, masih inget dong kapan tanggal ultah CA (wali kelas)nya!” ¬†Iya, iya, bisaan. :’)

photo (6)
Bunga dari muridku, Rayi, dan pantun nasi uduk. ūüėÄ

Itu tadi tangis ke berapa ya? Setelah itu badan capek banget. Kayak habis olahraga, lari pagi keliling kampung Lengkong Karya. Tapi hari ini masih panjang. Tahun ini juga masih panjang. Semoga semangat “HAPPY” di kata happy birthday itu selalu ada. <3

photo 1 (9)
Kue dari murid kelas 10D, yang langsung dicomot-comotin coklatnya. “Kenapa angkanya 1?” tanyaku. Jawab Tika, “Itu tanda 1 tahun kita bersama…” #eaaa #baper
photo 2 (8)
Ini nih kelas 10D yang sok mau kasih kejutan tapi malah bikin baper. Tapi siangnya aku udah ketawa-ketawa lagi sih. :))
photo (7)
Kado dari departemen Bahasa Indonesia HS. Isinya Soe Hok Gie banget. Harus ke gunung segera! ¬†“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah.”

 

 

 

That awkward moment when…

your student suddenly ask you, “Miss, miss mantannya sodara aku ya?”

Spicles banget nggak lo kalo tau-tau ada anak murid ngomong gini. Baru aja keluar kelas di hari Senin, ada murid cewe melintas dan menanyakan itu. Dia sebutlah nama satu lelaki. Ugh, nama yang paling nggak mau saya dengar lagi. Udah dibuang ke tempat sampah, kok tau-tau kembali?

Di waktu singkat itu, nih murid berceritalah, weekend kemarin dia ada acara keluarga, trus salah satu sepupunya nanya apa ada guru bernama Arnellis di sekolahnya. Si murid bilang iya. Trus sepupunya itu ngaku mantan pacar saya.

Demi terlihat cool, saya cuma bilang, “Ohh, kamu sodaranya?” Lalu lempar senyum dan segera berlalu sambil sok ketawa-ketawa. Padahal dalam hati, oh no, ini murid pegang kartu saya banget. Sambil sebel sama dunia, kenapa sih masa lalu sering kembali hadir tanpa disengaja?

Kenapa Anak Tetangga Sering Main ke Rumah Saya?

Tadi pagi saya tiba-tiba bertanya kepada suami saya, “Kenapa ya anak-anak kecil sering main ke rumah kita?”¬†Padahal, kami belum punya anak yang bisa diajak main oleh mereka. Namun, hampir setiap hari ada saja balita anak tetangga yang datang. Mereka akan berjalan setengah berlari, menegur kami, mengajak bicara patah-patah, lalu masuk ke rumah. Biasanya para pengasuh mereka akan sibuk meminta mereka ke luar rumah saya, mungkin karena sungkan atau tak enak mengganggu kami yang akan berangkat bekerja.

Sore hari sepulang kerja pun adegannya sama. Bianca dan Fadhlah langganan saya. Ada juga Alga, Fany, Caca, Khansa, yang sesekali datang. Bianca (2 tahun) yang paling sering, hampir tak pernah absen. Biasanya dia akan mengejar saya dan suami yang pulang kerja sore, lalu masuk dan duduk di karpet bulu. Lalu dia akan minta minum atau kerupuk. Kalau energi saya masih berlebih, saya ajak dia membaca buku cerita bersama.

Yang baru sering main adalah Alga. Anak lelaki empat tahun ini dicap “bandel” oleh ibu-ibu komplek sini. Anaknya memang kelewat aktif, petakilan, dan cerewet. Pertama kali dia main ke rumah kami, saya ajak dia main bola empuk dan belajar lempar tangkap. Sampai magrib dia tidak mau pulang. Sampai harus saya angkat semi geret dan mengembalikannya pulang. Sementara pagi tadi, tiba-tiba Alga main ke rumah tanpa saya tahu. Saya di dapur dan rupanya ia sudah asyik baca buku cerita yang ada di ruang tamu dengan tenang.

Pertanyaan saya tadi akhirnya dijawab suami. Katanya, “Ya karena kita memperbolehkan mereka main.” Benar juga, mereka sering datang karena mereka merasa diterima. Alasan kedua, saya dan suami agak tidak sadar (mungkin sadar juga sih) telah menciptakan semacam playground buat anak-anak, atau anak kami kelak. Yah, macam beginilah yang membuat mereka betah. ūüôā

photo 1 (2)photo 2 (1)

Dear Diary, aku kecewa di FestivalGIM…

5 Oktober 2013
Dear Diary,

Tadi sore aku pulang dari acara Festival Gerakan Indonesia Mengajar dengan hati kecewa. Jauh-jauh aku datang dari Depok, menempuh jalanan macet dengan angkutan umum selama tiga jam, rupanya aku tidak bisa membawakan dongeng yang sudah kupersiapkan. Aku datang ke acara itu karena sudah diundang oleh Asti, salah satu Pengajar Muda yang jadi panitia. Dia mengajakku untuk ikut serta #KerjaBakti di Teater Dongeng. Dia tahu aku punya kegiatan Dongeng Minggu yang sudah berjalan 3 tahun itu. Aku berterima kasih sekali pada Granasti yang sudah mengapresiasi dengan manis, jadi kuiyakan tawarannya dan mengajak Wulan temanku untuk ikut serta.

Acara FestivalGIM sebetulnya sangat mengagumkan. Ini wadah yang pas buat orang kota (Jakarta dan sekitarnya) untuk menyumbang sesuatu untuk pendidikan anak-anak di luar Jawa. Ya, aksi sosial mereka bisa dengan mudah dilihat di timeline twitter. Oya, ada 10 wahana yang bisa dipilih peserta KerjaBakti. Misalnya, menulis surat semangat untuk anak-anak nusantara, membuat Kartupedia berisi rangkuman pengetahuan, atau merekam lagu anak dan daerah. Terlihat seru ya! Aku sendiri suka dengan kelas orientasi di ruang selamat datang yang sangat bagus untuk membarakan semangat peserta. Dan memang terlihat antuasiasme peserta begitu besar. Ya, ini semua sebuah kemasan gaya beramal yang menarik.

Ya, gitu deh Diary, pas aku datang di kelas Teater Dongeng, aku disambut seorang panitia perempuan berkerudung abu-abu. Dia menjelaskan sedikit teknisnya dan langsung persilakan aku dan Wulan untuk mendongeng. Aku bertanya, apa boleh aku menaruh naskah di dekat kamera. Maklum, aku dan Wulan kelelahan kena macet perjalanan sehingga butuh waktu mikir ekstra. Si panitia yang tak kutahu namanya itu bilang dengan nada bicaranya yang terkesan angkuh: “Saya sarankan sih nggak usah pakai naskah, improvisasi aja. Naskah itu bisa mengganggu. Ya kalau pernah atau biasa mendongeng sih tahu ya.” Aku dan Wulan hanya bilang “ya…” sambil teringat anak-anak Dongeng Minggu.

Ruang K1 yang ditunjuk panitia untuk tempatku mendongeng rupanya masih penuh. Maka, aku gabung saja ke ruang K2 yang diperbolehkan jadi tempat Wulan. Dia tengah Wulan mendongeng, eh… Juru Kamera bilang memory-cardnya penuh. Jadi Wulan mesti berhenti sebentar. Dia mengutak atik, lalu persilakan kami melanjutkan. Di tengah kami mendongeng lanjutan, video berhenti lagi, mediacard betul-betul penuh. Dia minta maaf, bilang dia akan mentransfernya dulu. Ya sudah, Wulan dan aku terpaksa harus menunggu. Panitia (Sari) minta maaf dan menemani kami di ruang dongeng K2. Ruang sebelah K1 masih terisi pendongeng lain. Ya sudah, aku, Wulan, dan Sari mengobrol. Sudah jam setengah lima lewat (mungkin 04.50). Aku tanya lagi kenapa lama betul mentransfernya. Akhirnya salah satu panitia lelaki kasih ide, ya sudah pakai kamera lain aja, tapi dongeng mesti diulang dari awal, karena biar tidak merepotkan panitia ketika mengedit. Mereka minta maaf. Wulan dan aku tak masalah, lalu mendongenglah kami.

Pas selesai dongeng Wulan, kami keluar. Ruangan K1 pintunya masih tutup. Aku bermaksud menunggu dan menyiapkan boneka dongeng, tapi si panitia perempuan berkerudung abu-abu itu bilang: “Maaf ya kelasnya ditutup. Selesai. Karena mau upacara penutupan.” Aku bilang: “Yah, saya kan belum mendongeng.” Saat itu jam 5 sore. Dan aku bilang aku bisa mendongeng 5 menit saja, menggunakan hak tiket yang sudah kudapat. Tapi si Panitia itu bilang dengan tegas: “Maaf harus selesai ya. Karena mau upacara di bawah.”

Aku protes: “Tadi panitianya lama, habiskan waktu untuk transfer data dan kami disuruh menunggu.” Si Panitia Abu-abu itu bilang: “Lagian nggak datang dari jam 9 pagi.” Kaget. Aku balas bilang: “Bukan masalah datang dari pagi atau enggak, tadi panitia lama jadi jatah waktunya terbuang.” Si Panitia itu menyahut lagi: “Ya tapi nggak datang dari 9 pagi, kan. Maaf ya.” Kecewa, aku bereskan boneka yang tak terpakai, dan beranjak pergi. Wulan temanku bertanya-tanya kenapa si Panitia bisa-bisanya memberi jawaban ketus begitu. Dikira setiap orang bisa dan harus datang sejak pagi tanpa punya urusan lain yang mesti dikerjakan lebih dulu?

Begitu kami keluar dari bilik dongeng, sampai di area lain, rupanya masih banyak peserta KerjaBakti yang masih beraktivitas, belum bubaran untuk menuju upacara. Aku kemudian mengecek jadwal acara, rupanya upacara dilakukan pukul 05.30. AH! Aku kecewa sekali ditolak panitia dengan sikap yang tidak ramah tadi. ūüôĀ

Gitu deh, Diary, aku sedih. Kadang, mau beramal ada aja halangannya, ya. :’|