Kakak

Percakapan saya dan Cindy (6 tahun), anak rekan guru, dalam mobil ortunya yang mengantar saya pulang seusai acara sekolah.

Cindy: Kakak rumahnya di mana?
Saya: (senyum girang dipanggil kakak) Dekat sekolah Binus.
Cindy: Kalo ke sekolah tinggal jalan kaki ya?
Saya: Iya, dekat banget sih.
Cindy: Kakak di Binus jadi guru apa murid?
Saya: (senyum girang dan bahagia, hampir lupa menjawab) Oh. Jadi guru.
Cindy: (bengong sambil mengamati saya yang senyum-senyum terus)

😀

Guru Kontrak

Tanggal 2 Mei, hari pendidikan kemarin, saya menangis karena gagal jadi guru tetap di sekolah yang sudah saya jalani selama dua tahun terakhir. Saya gagal lolos seleksi yang modelnya seperti persentase Ujian Nasional yang sering saya gugat itu. Sedih.

Namun, seorang orang tua murid mendukung saya untuk terus bekerja di sana, tanpa perlu melihat status. Kenapa? Karena ternyata murid-murid membutuhkan saya. Testimoni mereka yang menguatkan saya bahwa saya adalah guru yang cukup baik dan menyenangkan.

Meski keadilan tetap harus dipertanyakan, tetapi hidup mesti tetap dijalani, kan? Sekarang 4 Mei, saya ulang tahun. Banyak doa datang dari murid. Saya aminkan semua, semoga saya bisa bekerja dan belajar untuk mereka dengan bahagia.

Kamu Guru Hebat? Ceritakan!

Image

Saya deg-degan. Tangan saya bergetar. Memegang mic tidak menyelamatkan. Saya tidak ingin menyampaikan ke hadirin Bincang Edukasi 14 kemarin bahwa saya deg-degan. Sebab, dua pembicara sebelumnya, Lestia Primayanti dan Yosea  Kurnianto sudah mengatakan itu juga. Jadi saya simpan saja dan sok asyik mulai menyampaikan materi saya pagi itu: Drama sebagai proses pembelajaran sastra.

Biasanya saya tak pernah ragu menyampaikan segala perasaan saya di kelas. Di depan murid, saya tak menutupi jika sedang merasa cemas, galau, atau senang yang terlalu. Saya pernah mendengar ada guru yang mengatakan jangan terlalu membawa perasaan pribadi dalam kelas. Murid bisa tidak menghormati. Justru menurut saya, perasaan adalah hal penting dan sangat mendukung dalam proses belajar. Apalagi pelajaran sastra.

Bined14

 

Sastra itu hidup. Di kelas sastra, murid dan guru bersama mempelajari hidup yang tentu saja penuh dengan segala rasa. Perasaan itulah yang digali, perasaan diri sendiri terhadap satu masalah hidup, kemudian nanti memahami perasaan orang lain atas masalah hidup lain. Karena itulah, saya membiarkan murid mengetahui perasaan saya di kelas dan saya pun ingin tahu perasaan murid di kelas. Kami menggali perasaan terhadap buku-buku sastra yang kami baca. Kami merasakan hidup.

Lalu di acara Bincang Edukasi itu, kenapa saya menutupi rasa cemas saya? Mungkin saya grogi sebab ada banyak guru-guru hebat di sana. Mungkin juga saya malu, merasa belum jadi apa-apa. Rupanya kecemasan saya ditampar oleh materi presentan berikutnya, Dedi Dwitagama.

Image

Kata Pak Dedi, guru hebat itu sedikit. Guru hebat yang berani menunjukkan diri lebih sedikit lagi. Saya kemudian bertanya-tanya, siapa yang bisa melabeli seseorang itu hebat? Lalu, apa saya sudah bisa dikatakan hebat? Saya curiga kegugupan saya tadi sebab saya tidak percaya diri bahwa  saya pun hebat.

Seharusnya, kita mempunyai kesadaran diri pada apa yang kita capai. Seharusnya, kita meyakini bahwa pencapaian itu baik untuk kita, juga untuk orang lain. Sadar bahwa diri hebat memang bisa mencemplungkan diri pada kesombongan. Kemudian ketika kita bercerita apa saja prestasi yang kita capai, orang bisa nyinyir mengatakan bahwa itu pamer. Namun, di sisi lain, berbagi cerita tentang prestasi bisa juga menginspirasi orang lain. Mana tahu jika kisah hebat kita bisa membuat orang lain ingin melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih hebat.

Saran dari Pak Dedi sebagian sudah saya lakukan. Buatlah blog, ceritakan apa hal menarik yang terjadi di kelas. Berbagilah cerita pelajaran baik yang muncul saat belajar. Yang masih harus dicoba: Sebarkan prestasi dirimu di banyak kesempatan, dan percayalah bahwa itu bisa memberi semangat pada guru lain. Kesimpulannya, kalau kamu guru hebat, maka ceritakan!

Karya Pertama: NOW AND THEN

Benar kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah sebuah keberanian.
Ketika karyamu lahir karena berani, kau akan menjompak-jompak bahagia.
Biarkan mereka yang repot dengan tafsirannya, kau hanya cukup jadi sederhana.

Ini karya pertamaku. Mulanya aku menantang diri untuk ikut dalam Kompetisi Menulis 100% Roman Asli Indonesia yang diadakan penerbit Gagas Media tahun 2010. Aku pilih kategori Classic Romance dan naskahku kuberi judul Lawang. Akhirnya, Karyaku masuk 20 besar. Dan hanya sampai situ, tidak menang juara 1-2-3. Namun, beberapa waktu kemudian ada editor Gagas Media yang mengatakan naskahku berpotensi diterbitkan. Revisi lalala lilili dan diubah judulnya biar lebih menjual katanya, nah… terbitlah novel pertamaku ini di tahun 2012.

  • Judul: Now and Then, Mengetuk Pintu Cinta
  • Penerbit: Gagas Media
  • Tahun terbit: 2012
  • Sinopsis: Novel ini menceritakan kisah cinta Lian si perempuan Cina dan Pras si lelaki Jawa, yang mengalami masalah dalam menyatukan hubungan mereka karena kendala budaya. Latar cerita adalah Kota Semarang, dan setiap bab diberi judul nama-nama tempat di kota itu.

Aku 27

Apa yang kuharapkan dari ulang tahun di usia 27?
Bukan sebuah kue manis walaupun ketika itu hadir, kepahitan dunia lekas menyingkir.

Tak perlu ada perayaan gemilang, dan memang selalu begitu sejak kecil hingga sekarang. Jadi, yang ada adalah setumpuk haru ketika aku menyiapkan pernak pernik makanan dan hadiah kecil untuk anak-anak tetangga. Semacam kebahagiaan yang biasa ada di pesta ulang tahun anak-anak yang jelas menyenangkan rasanya.

Lalu, apa yang hadir di usia 27 ini?
Sebuah doa luar biasa dari saudara yang bahkan tidak kukenal namanya.