Bapak dan Genjer-genjer

Sudah sebulan terakhir ini, bapak mendapat kawan baru kala bersantai di bale-bale serambi rumah. Sebuah lagu lama yang terus-menerus diputarnya. Sungguh selalu seperti itu beberapa hari belakangan sampai akhirnya saya agak khawatir sebab ia tampak terlalu terhanyut. Lagu yang tersimpan dalam ponsel murahnya itu mengiringinya melongo menatap langit-langit, lalu kemudian memejamkan mata.

Lagu Gendjer-gendjer, penyanyi Lilis Suryani, itu kawan barunya. Buat saya, lagu itu terdengar menyeramkan. Ya, mungkin karena lagu itu memikul tuduhan nuansa horor, digosipkan sebagai lagu pengiring pembantaian para jenderal pada kisah misteri 30 September 1965. Namun, sebenarnya suara Lilis Suryani yang indah itu memang mendayu-dayu sendu. Seolah itu adalah lagu duka akan kematian. Musiknya terdengar bercampur dengan keresek radio lama. Sungguh, kengerian yang tercipta.

Padahal nyatanya, itu lagu manis tentang sayuran. Itu cerita seorang emak yang ingin memasak sayur genjer. Lalu penguasa pada suatu masa mencemplungkan bumbu politis pada wajan sayur itu. Maka jadilah lagu itu dilarang diperdengarkan. Padahal, lirik lagu berbahasa Osing itu sungguh sederhana.


Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Bapak melek. Dipanggilnya saya. Lalu berhamburlah sebuah cerita. Lagu itu menyayat hati bapak, dan juga hati ibu, katanya. Ia bercerita, di usia ketika ia berada di sekolah dasar, lagu ini begitu populer dinyanyikan. Partai Komunis Indonesia mendapat lagu yang begitu mewakili perjuangan kaum kecil yang mereka usung. Padahal Muhammad Arief, pencipta lagu itu, tidak bermaksud menciptakan lagu yang berat di tahun 1940-an. Lalu jika akhirnya si seniman Banyuwangi ini akhirnya mati dibunuh karena dianggap terlibat PKI, sungguh malang keduanya, si lagu dan si pencipta.

Bapak lanjut bercerita, ia dulu pernah mengajak kawan-kawan kecilnya untuk berdemo di sekolah. Demo kanak-kanak yang menanggung kesedihan sederhana. Guru mereka dibunuh karena dianggap terlibat PKI. Sementara buku-buku PR murid ikut habis terbakar di rumah sang guru. Lalu, bapak kecil ini menyerukan, “Balikno bukuku, balikno bukuku!” Ah, apalah yang bisa dikembalikan, kecuali harapan hidup akan tetap berlanjut.

Sementara cerita ibu tak kalah sendu. Pada bulan kelabu itu, sekolah diliburkan karena ibu guru yang mengajar dikabarkan ditemukan di selokan. Ya, dituduh PKI, lalu teronggok di sana. Ibu di usia kanak sungguh tak tahu mengapa gurunya yang manis mesti mati. Ibu tidak diperbolehkan menangis oleh ayahnya, sebab takut dikira mendukung si ibu guru. Oh, betapa menangis bisa dianggap sebagai bukti keterlibatan. Betapa melepaskan duka saja harus tertahan.

Lalu kalau memang lagu Genjer-genjer ini mengingatkan bapak dan ibu pada kisah seram, kenapa pula lagu itu terus-terus diputar? Justru itu, katanya. Mengenang-ngenang itu menyenangkan, sepahit apapun kenangan itu. Kalau sudah kenyang dikenang, toh lagu bisa dimatikan, lalu kembali pada kenyataan.


Aku gemas. Aku tawarkan jalan tengah. Kubilang pada bapak, “Kebetulan Pak, ini ada lagu Genjer-genjer tapi dengan musik yang lebih modern.” Dengan jedag-jedug-jedag-jedug disko remix. Kuperdengarkan aransemen DubYouth ke telinganya. Tapi rupanya, eksperimen anak muda Jogja itu tak masuk di telinga Bapak. “Kenangannya gak keluar,” ujarnya.

Sesekali saya berharap kenangan sedih bapak dan ibu itu hilang saja. Tapi benar kata bapak. Biar saja cerita itu tak hilang, tapi cukup terkubur saja di pojok ingatan. Sehingga mereka tetap tersenyum, sambil mengenang dengan dendang lagu yang tertahan.

petang 30 September 2011

Girang Pensi, di Mata atau di Hati?

Girang! Itu perasaan saya ketika tahu sekolah tempat saya bekerja mengadakan konser musik. Pensi, istilahnya, pentas seni dan kreasi anak sekolah, seperti yang saya pernah gandrungi sewaktu masa sekolah menengah. Yang segera terbayang adalah kegirangan loncat-loncat mendengar dentum musik dengan dandanan ala remaja. Saya ingat betul, sekolah SMA saya dulu mengundang PAS band. Waktu itu saya merasa seperti anggota keenam geng Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta. Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan…

Kegirangan saya murni terjadi karena saya ingin mengingat kenangan serunya masa sekolah. Beberapa waktu belakangan saya masih sering menonton konser musik, tapi itu bukan pensi sekolah. Nah ini, ada kesempatan di kandang sendiri, maka kata girang itu begitu menjadi-jadi.

Saya tumpahkan kegirangan saya dengan membeli 10 tiket. Saya sebar infonya di twitter, berharap ada kawan yang sama rasa, ingin membunuh kangen masa sekolah. Beberapa teman menyahut, janji bertaut. Namun sebagian membatalkan karena urusan pekerjaan. Ah, betapa kini pekerjaan sering menahan kita untuk bersenang-senang.

Namun, berkah akan lari kepada orang yang tepat. Secara kebetulan teman saya bilang ia punya anak asuh usia remaja yang tentu akan sangat senang jika bisa datang ke konser musik. Sungguh, itu adalah rejeki mereka. Jadilah tiket itu milik tiga murid sekolah keperawatan di ujung Serpong. Semoga sekolah raksasa tempatku bekerja menerima mereka dengan hangat.

Saya tidak tahu apakah murid-murid bisa menangkap kegirangan saya. Saya merasa banyak tebar senyum ke setiap murid yang menyapa ketika amprokan, lalu banyak cengengesan ketika mereka menggoda sebab di sebelah saya ada kawan lelaki. Mungkin mereka merasa bingung kenapa gurunya berlagak seperti mereka. Kenapa gurunya bisa kenal dengan band pengisi acara. Jessica, murid saya usia remaja, tampak aneh kenapa saya bisa tiba-tiba nongkrong bareng band Lunarian di ruang tunggu artis. Saya bilang saja, saya teman mereka. Lalu dia berseru, “Ih, Miss gaul dong yaa!”

Ini pensi terlucu sebab saya menjadi penonton yang serupa artis. Rasanya mata murid tak lepas mengamat-amati saya. Mungkin rasanya lucu melihat guru mereka bergoyang mendengar Endah n Rhesa. Itu tak biasa sebab guru-guru yang lain memilih tidak datang atau sekedar duduk dan mengamati dari jauh saja. Lebih aneh lagi ketika murid panitia melihat saya tiba-tiba di belakang panggung, menemui Nobie dan Angkuy Bottlesmoker dan ngobrol dengan mereka. Ah, agaknya mereka lupa usia saya tak jauh dari mereka. 😀

Namun, kegirangan saya agak buyar usai hadirnya sebuah SMS. Dari Wanto dan Heri, remaja penjaga konter pulsa di sebelah sekolah raksasa ini. “Mbak, di dalam ada konser ya? Siapa artisnya? Mintain tiket masuk kek. Hehe.” Saya langsung merasa tak enak. Mereka itu kedua teman baru saya di kampung Lengkong belakang BSD City ini. Saya cuma bisa bilang “Maaf ya, gak ada tiket lagi. Artisnya Netral.” Mereka membalas, “Netralnya masih ngopi nih di konter, hhe. Tp kok suaranya gak kedengeran ya?” Ah, jelas saja tak terdengar. Gedung serba guna itu agak kedap suara, letaknya pun jauh di tengah area sekolah yang begitu luas. Riuh teriak remaja pun tak terbagi ke lingkungan sekitar. Semua terpendam hanya untuk yang berada di dalam.

Konser selesai tengah malam. Saya tahu konter pulsa itu masih buka. Entah mengapa ketika pulang, saya mengambil jalan lain, dengan kesengajaan agar tak terlihat Wanto dan Herri. Saya kirimi mereka pesan, semoga lain kali saya bisa berbagi kegirangan dengan mereka.

Saya 22!

Foto di samping diambil waktu saya di sekolah. Iya, waktu saya di sekolah, tapi bukan ketika saya masih jadi murid. Gambar ini justru diambil oleh murid saya.

Waktu itu saya jadi tahu, murid-murid itu sangat senang ketika gurunya berlakuan seperti mereka. Di acara pesta kelas itu, saya berpakaian casual seperti mereka, berkacamata lucu, dan berlaku unyu-unyu. Jadi seharusnya saya tidak kaget karena mereka tiba-tiba memeluk saya dan berebutan ingin foto bareng sambil memonyongkan mulut biar tampak imut.

Di acara pentas drama sekolah, saya membebaskan diri untuk berekspresi layaknya remaja. Motivasinya saat itu terlihat formal: untuk menjiwai karakter, walau sebetulnya saya hanya berperan sebagai MC acara. Lalu berhamburlah komentar murid-murid saya yang rerata berusia 17 tahun ini. Sambil nyengir, mereka bilang “Miss gaul deh!” Gaul itu yang semacam apa? Ya, mungkin bergaya ala mereka, semacam foto inilah. 😀

Gaul, unyu, lucu, ah semuda apa sih saya?
Pertanyaan itu asal datangnya bukan dari saya, tapi dari murid-murid remaja saya. Kalau mereka bertanya, “Miss umurnya berapa sih?” saya akan balik bertanya, “menurut kamu berapa?” Lucunya, dua orang murid saya, satu perempuan dan satu lagi lelaki, memberikan jawaban yang sama: 22.

Kontan saya tertawa, dan belagak tersipu malu. Lucu juga taksiran mereka meleset empat umur ke bawah. Saya bukan lantas girang, justru malah berpikir kenapa bisa mereka menerka saya sebegitu muda. Mereka mengatakan beberapa alasan, misalnya muka saya lucu (entah lucu bagaimana) dan cara saya bicara serupa mereka (kalau ini saya sadar). Ketika saya ceritakan ini ke teman seumuran saya, dia punya alasan lain. Katanya, anak remaja belasan itu belum pandai menaksir perkiraan usia, menambah jumlah tahun belajar sekolah dan kuliah. Yah, saya tidak berpikir sejauh itu. Saya cuma merasa senang yang sederhana. Tebakan 22 itu bikin saya tertawa lalu merasa muda. Saya mencoba merumuskan, muda bukan ada di kencangnya kulit remaja saja, atau di gaya gaul remaja ibukota. Muda ada di jiwa saya, yang selalu mau bercanda dan belajar bersama remaja.

You are as young as your faith, as old as your doubt; as young as your self-confidence, as old as your fear; as young as your hope, as old as your despair. ~ Douglas MacArthur

Masjid dan Musala, Ipad dan Esia

Ini Ramadhan pertama yang saya mulai jalani di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Banten. Warga sekitar Jakarta mungkin sudah mengenalnya sebagai daerah elit. Di sisi lain, saya pun mendapati wilayah sekitar BSD yang merupakan kampung penduduk yang tinggal di sana turun-temurun. Dialektika kehidupan terpampang jelas. Saya menginsyafinya ketika beribadah tarawih pekan lalu.

Malam ketiga Ramadhan, saya berkunjung ke Masjid Asy Syarif atau dikenal juga dengan nama masjid Al Azhar, karena lokasinya berada dalam kompleks sekolah Al Azhar BSD. Jam tujuh malam saya tiba di masjid hijau yang terletak di belakang Hutan Kota BSD itu. Saya turun dari motor Intan, kawan Katolik saya yang sebelumnya menemani saya berbuka puasa. Usai berdadah-dadah dengan Intan, saya menyeberang jalan menuju masjid berwarna hijau itu, mengatasi sejumlah motor dan mobil yang akan masuk ke halaman luas masjid tersebut.

Ibu-ibu bergamis chiffon sudah memenuhi ruang solat bagian perempuan. Ada air minum merk Aqua di dekat sajadah mereka. Rupanya masjid ini menyediakan air kemasan itu dengan gratis. Di sebelah aqua, kertas selebaran terhampar. Isinya penjelasan tentang Surah Al Anbiya, yang akan dibacakan pada waktu tarawih. Kata ibu-ibu di sebelah saya, buletin itu ada setiap hari, memberi informasi dan ilmu pada jamaah.

Sebelum tarawih dimulai, seorang bapak berjalan-jalan mengajak para lelaki merapatkan shaf. Ia terlihat mencolok. Di tangannya tergenggam sebuah Ipad. Belum sempat otak berkomentar, mikrofon di mimbar bergetar. Seorang pengurus masjid membacakan laporan uang amal. Matanya melirik ke benda menyala di tangannya. Sebuah Ipad lagi. Dia menyerukan terima kasih pada jamaah. Dalam tiga hari Ramadhan itu, uang masjid sudah terkumpul enam juta rupiah.

Solat berjalan khusyuk. Suasana tenang. Kipas angin menghembus nyaman. Saya ingin terus tarawih di sana kalau saja ada angkutan umum yang mudah dicari sepulang tarawih. Nyatanya, pukul setengah sembilan, jamaah bubar menuju mobil masing-masing, saya kelabakan mencari angkot yang sudah off-narik di lingkungan BSD.

Walhasil, hari berikutnya saya putuskan untuk tarawih di musala dekat kos-kosan. Itu salah satu musala di Kampung Lengkong, belakang kawasan BSD City. Jamaah perempuan hanya 10 orang. Para lelaki adalah tetangga kontrakan sebelah. Sisanya adalah kerabat Pak Haji Satab, si empunya tanah musala. Saya tiba-tiba rikuh sebab diperhatikan terus. Ternyata cuma saya yang berangkat dengan pakaian tunik dan jilbab, sementara ibu-ibu lain langsung pakai mukena dari rumah.

Solat dimulai. Tirai pemisah serupa seprai bergoyang ringan, memisah jamaah lelaki dan perempuan. Semua berjalan normal di telinga saya sampai pada bagian mengucap amin usai Al-Fatihah. Semua lelaki (kurang lebih 20 orang) meneriakkan ‘amin’ itu keras-keras. Amin pun bergaung di ruangan 50 meter persegi itu. Hati saya terkejut. Sangat tidak nyaman rasanya meminta pada Tuhan dengan cara berteriak.

Sayangnya itu terus berlangsung di setiap dua rakaat tarawih. Kalikan dengan sepuluh. Namun, ketika solat witir, teriakan amin itu tak terdengar. Amin melembut. Saya langsung berkesimpulan, mungkin mereka teriakkan amin supaya tak mengantuk selama ibadah. Saya sendiri jelas makin tak mengantuk ketika tiba-tiba terdengar suara panggilan ponsel dari jamaah pria. Irama dangdut bergema meningkahi lantunan ayat yang dibacakan imam dengan terburu-buru. Usai salam, seorang lelaki keluar musola. Kulihat tangannya menggenggam ponsel Esia hidayah. Warnanya senada kusen musala ini yang dilapisi cat minyak, hijau putih.

Masjid dan musala, apalah bedanya? Bukan pada Ipad atau Esia yang hadir di dalamnya. Bukan pada kemewahan ekonomi para jamaahnya. Masjid atau musala hanya berbeda luas ukuran. Keduanya sama rumah Tuhan. Tinggal tugas pribadi, bagaimana menghidupkannya dengan segala kualitas diri dan kesiapan untuk bertemu Tuhan. Saya percaya, Tuhan itu tuan rumah maha ramah ketika menyambut tamunya. Subhanallah.

Siapa saya di Serpong sana

Saat berkenalan kita akan menemukan pola. Dengan sadar, pola yang saya buat selalu sama. Pertanyaan pertama, nama. Lalu disambung, mengajar pelajaran apa. Kemudian pertanyaan berikutnya, tinggal di mana. Penciptaan pola tersebut tergantung pada situasi apa saya berada. Kebetulan minggu ini adalah minggu pertama saya memasuki lingkungan pekerjaan baru di sebuah sekolah di Serpong, Banten.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk membuat pertanyaan terbuka. Maksudnya supaya aman. Pertanyaan terbuka tidak menjustifikasi jawaban sebelum si-yang-ditanya menjawab. Aman, sebab banyak dugaan bisa salah, jadi lebih baik membiarkan si-yang-ditanya memberikan jawaban. Aman, supaya tidak malu jika dugaan kita salah karena seenaknya menerka di awal tanya.

Astrid. Ekonomi High School. Puspita Loka.
Intan. Bahasa Indonesia High School. BSD City.

Saya membuat pola itu, maka pola yang sama akan berbalik ke saya. Nah, ternyata saya sendiri kerepotan membuat jawaban ringkas.

Arnellis. Bahasa Indonesia High School. Kampung dekat gerbang belakang Binus.

Jawaban ketiga saya biasanya memancing pertanyaan selanjutnya. Menjelaskan daerah tempat kos-kosan saya berada sebetulnya tidak begitu sulit. Namun, membuat orang berhenti mengejar jawaban dan menuntaskan dengan ooo panjang itu tak mudah ternyata.

Saya sadar, jawaban saya kemudian menciptakan praduga berikutnya. Maka saya seharusnya tidak perlu kaget ketika kejadian ini datang. Suatu hari sepulang saya mendapatkan kamar kos-kosan, seorang lelaki paruh baya menegur. Kami berbicara berseberangan di tepian jalan Lengkong. Saya baru saja beranjak meninggalkan kamar yang sudah saya bayar.

“Mbak, jadi ambil kosan situ?” tanyanya lantang agar terdengar saya yang ada di seberang jalan.
“Iya, Pak!” Saya ikut melantangkan suara.
“Kerja di Binus ya?”
“Iya, Pak.”
“OB?”
Saya tak segera menjawab. Si lelaki itu memperjelas.
“Cleaning Serpis?”
Oh! Saya menjawab tak lagi lantang.
“Mmm, guru, Pak.”
Lelaki itu terkejut sedikit, lalu kikuk. Saya juga.
“Oh, ngajar? Saya kira.”

Beberapa hari kemudian saya baru tahu bahwa tetangga sebelah kos-kosan saya umumnya adalah buruh pabrik, satpam, atau pekerja cleaning service di mal atau sekolah di Serpong. Maklum jadinya jika lelaki itu menduga saya pun salah satu dari mereka. Harga kos-kosan dan kontrakan di kampung tempat saya tinggal itu umumnya di bawah 400ribu rupiah per bulan. Kata teman, saya telah merusak pasar. Kenapa? Karena ternyata umumnya guru yang mengajar di sekolah internasional itu tinggal di perumahan sekitar sekolah semacam Serpong Park atau Bumi Serpong Damai. Kalau mengontrak rumah, sewanya sekitar 1 juta per bulan plus-plus. Kata teman, saya mengacaukan dugaan warga kampung. Kenapa “guru” yang dipikir mereka tentu bergaji jauh lebih besar dari petugas cleaning service ini malah tinggal di kontrakan kampung?

Alasan sederhananya karena tentu saya mencari tempat tinggal yang murah. Semua harga sesuai dengan fasilitas dan keadaan yang tersedia. Ada teman yang menilai daerah kos-kosan saya itu terlihat kotor sebab tidak berkonblok atau aspal. Saya malah menyukai tanah padat dan rumput liar. Ada teman yang bilang kelihatannya daerah kos-kosan saya rawan maling. Saya yakin maling pun senang mencuri di perumahan elit. Teman bilang, daerah saya berisik sebab biasanya orang kampung senang menggerombol siang atau malam. Itu benar. Tetangga saya, ada yang merupakan sekelompok buruh pabrik yang mengontrak bersama. Mereka tidak punya televisi. Ketika ingin menonton bola, mereka beramai-ramai ke rumah tetangga depan kamar saya dan menonton bersama di televisi yang ditaruh di ruang tamu. Atau kalau sedang tidak ada yang ingin ditonton, mereka akan berkumpul di teras rumah kontrakannya, lalu memutar lagu-lagu dangdut dari ponsel 500ribuan. Mereka tampak senang. Saya senang-senang saja, selama mereka tidak dengan sengaja ingin mencuri-curi lihat dalam kamar saya yang berjarak dua hasta dari teras mereka.

Saya perlu tinggal di kampung. Itu alasan sok filosofis mungkin. Saya merasa perlu menjaga keseimbangan diri saya sendiri dari jungkat-jungkit kelas sosial yang selalu saya hadapi tiap hari. Rumah orang tua saya juga ada di kampung. Lalu saya bekerja di sekolah yang murid-muridnya mungkin bahkan tak pernah menginjak tanah kampung. Berdirilah saya di tengah, antara kampung dan kota, yang memang begitu nyata berdampingan di tanah Banten ini.

Ah, semoga tempat tinggal ini bisa terus membuat saya peka atas ketimpangan Indonesia yang tampaknya masih betah terjadi ini.

Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.


	

Another Failed

Hari ini saya mulai menulis blog diantar dengan dua kegagalan. Pertama, tidak menang lomba menulis novel yang diadakan sebuah penerbit buku populer. Kedua, tidak lolos seleksi kerja di tempat yang tampak ideal bagi pendidikan Indonesia.

Keduanya membuat saya sedih dan gatal minta perhatian teman. Reaksi balasan mereka bermacam-macam. Kebanyakan bilang, nggak apa, pasti ada kesempatan berikutnya, di tempat lainnya. Ada juga yang bilang, kamu udah menang karena udah mencoba.

Teman lain beda rumusan. Dia bilang, you’re not failed, cuma jalan yang agak berbeda dari perkiraan aja. Seorang teman malah lebih tegas bilang, its another achievement! Semua tergantung bagaimana kita menghayatinya.

Ya, saya berusaha memahami itu semua. Lalu berusaha menerima dan bersyukur atas apa yang masih saya punya sekarang. Masih punya kerjaan yang lumayan. Masih bisa menulis kecil-kecilan.

Lalu saya menghibur diri dengan ngobrol bareng anak-anak kelas 8 (2 SMP). Mendengar curhat kisah asmara mereka yang lugu dan malu-malu. Asyik makan coklat dari mereka sambil dihembus angin sore. Saya iri dengan kisah mereka yang tampak masih jauh dari kegagalan. Mereka masih asyik merayakan kemudahan. Seorang anak bercerita, dia dapat hadiah sepatu seharga 1,3 juta dari cowo yang menyukainya (baru gebetan belum jadian). Ah, detik itu saya iri, dan saya tau saya masih gagal memaknai syukur dan ikhlas.

Tapi biar gagal, saya tetap harus terus mencoba kan? Iya.