Siapa saya di Serpong sana

Saat berkenalan kita akan menemukan pola. Dengan sadar, pola yang saya buat selalu sama. Pertanyaan pertama, nama. Lalu disambung, mengajar pelajaran apa. Kemudian pertanyaan berikutnya, tinggal di mana. Penciptaan pola tersebut tergantung pada situasi apa saya berada. Kebetulan minggu ini adalah minggu pertama saya memasuki lingkungan pekerjaan baru di sebuah sekolah di Serpong, Banten.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk membuat pertanyaan terbuka. Maksudnya supaya aman. Pertanyaan terbuka tidak menjustifikasi jawaban sebelum si-yang-ditanya menjawab. Aman, sebab banyak dugaan bisa salah, jadi lebih baik membiarkan si-yang-ditanya memberikan jawaban. Aman, supaya tidak malu jika dugaan kita salah karena seenaknya menerka di awal tanya.

Astrid. Ekonomi High School. Puspita Loka.
Intan. Bahasa Indonesia High School. BSD City.

Saya membuat pola itu, maka pola yang sama akan berbalik ke saya. Nah, ternyata saya sendiri kerepotan membuat jawaban ringkas.

Arnellis. Bahasa Indonesia High School. Kampung dekat gerbang belakang Binus.

Jawaban ketiga saya biasanya memancing pertanyaan selanjutnya. Menjelaskan daerah tempat kos-kosan saya berada sebetulnya tidak begitu sulit. Namun, membuat orang berhenti mengejar jawaban dan menuntaskan dengan ooo panjang itu tak mudah ternyata.

Saya sadar, jawaban saya kemudian menciptakan praduga berikutnya. Maka saya seharusnya tidak perlu kaget ketika kejadian ini datang. Suatu hari sepulang saya mendapatkan kamar kos-kosan, seorang lelaki paruh baya menegur. Kami berbicara berseberangan di tepian jalan Lengkong. Saya baru saja beranjak meninggalkan kamar yang sudah saya bayar.

“Mbak, jadi ambil kosan situ?” tanyanya lantang agar terdengar saya yang ada di seberang jalan.
“Iya, Pak!” Saya ikut melantangkan suara.
“Kerja di Binus ya?”
“Iya, Pak.”
“OB?”
Saya tak segera menjawab. Si lelaki itu memperjelas.
“Cleaning Serpis?”
Oh! Saya menjawab tak lagi lantang.
“Mmm, guru, Pak.”
Lelaki itu terkejut sedikit, lalu kikuk. Saya juga.
“Oh, ngajar? Saya kira.”

Beberapa hari kemudian saya baru tahu bahwa tetangga sebelah kos-kosan saya umumnya adalah buruh pabrik, satpam, atau pekerja cleaning service di mal atau sekolah di Serpong. Maklum jadinya jika lelaki itu menduga saya pun salah satu dari mereka. Harga kos-kosan dan kontrakan di kampung tempat saya tinggal itu umumnya di bawah 400ribu rupiah per bulan. Kata teman, saya telah merusak pasar. Kenapa? Karena ternyata umumnya guru yang mengajar di sekolah internasional itu tinggal di perumahan sekitar sekolah semacam Serpong Park atau Bumi Serpong Damai. Kalau mengontrak rumah, sewanya sekitar 1 juta per bulan plus-plus. Kata teman, saya mengacaukan dugaan warga kampung. Kenapa “guru” yang dipikir mereka tentu bergaji jauh lebih besar dari petugas cleaning service ini malah tinggal di kontrakan kampung?

Alasan sederhananya karena tentu saya mencari tempat tinggal yang murah. Semua harga sesuai dengan fasilitas dan keadaan yang tersedia. Ada teman yang menilai daerah kos-kosan saya itu terlihat kotor sebab tidak berkonblok atau aspal. Saya malah menyukai tanah padat dan rumput liar. Ada teman yang bilang kelihatannya daerah kos-kosan saya rawan maling. Saya yakin maling pun senang mencuri di perumahan elit. Teman bilang, daerah saya berisik sebab biasanya orang kampung senang menggerombol siang atau malam. Itu benar. Tetangga saya, ada yang merupakan sekelompok buruh pabrik yang mengontrak bersama. Mereka tidak punya televisi. Ketika ingin menonton bola, mereka beramai-ramai ke rumah tetangga depan kamar saya dan menonton bersama di televisi yang ditaruh di ruang tamu. Atau kalau sedang tidak ada yang ingin ditonton, mereka akan berkumpul di teras rumah kontrakannya, lalu memutar lagu-lagu dangdut dari ponsel 500ribuan. Mereka tampak senang. Saya senang-senang saja, selama mereka tidak dengan sengaja ingin mencuri-curi lihat dalam kamar saya yang berjarak dua hasta dari teras mereka.

Saya perlu tinggal di kampung. Itu alasan sok filosofis mungkin. Saya merasa perlu menjaga keseimbangan diri saya sendiri dari jungkat-jungkit kelas sosial yang selalu saya hadapi tiap hari. Rumah orang tua saya juga ada di kampung. Lalu saya bekerja di sekolah yang murid-muridnya mungkin bahkan tak pernah menginjak tanah kampung. Berdirilah saya di tengah, antara kampung dan kota, yang memang begitu nyata berdampingan di tanah Banten ini.

Ah, semoga tempat tinggal ini bisa terus membuat saya peka atas ketimpangan Indonesia yang tampaknya masih betah terjadi ini.

Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.


	

Another Failed

Hari ini saya mulai menulis blog diantar dengan dua kegagalan. Pertama, tidak menang lomba menulis novel yang diadakan sebuah penerbit buku populer. Kedua, tidak lolos seleksi kerja di tempat yang tampak ideal bagi pendidikan Indonesia.

Keduanya membuat saya sedih dan gatal minta perhatian teman. Reaksi balasan mereka bermacam-macam. Kebanyakan bilang, nggak apa, pasti ada kesempatan berikutnya, di tempat lainnya. Ada juga yang bilang, kamu udah menang karena udah mencoba.

Teman lain beda rumusan. Dia bilang, you’re not failed, cuma jalan yang agak berbeda dari perkiraan aja. Seorang teman malah lebih tegas bilang, its another achievement! Semua tergantung bagaimana kita menghayatinya.

Ya, saya berusaha memahami itu semua. Lalu berusaha menerima dan bersyukur atas apa yang masih saya punya sekarang. Masih punya kerjaan yang lumayan. Masih bisa menulis kecil-kecilan.

Lalu saya menghibur diri dengan ngobrol bareng anak-anak kelas 8 (2 SMP). Mendengar curhat kisah asmara mereka yang lugu dan malu-malu. Asyik makan coklat dari mereka sambil dihembus angin sore. Saya iri dengan kisah mereka yang tampak masih jauh dari kegagalan. Mereka masih asyik merayakan kemudahan. Seorang anak bercerita, dia dapat hadiah sepatu seharga 1,3 juta dari cowo yang menyukainya (baru gebetan belum jadian). Ah, detik itu saya iri, dan saya tau saya masih gagal memaknai syukur dan ikhlas.

Tapi biar gagal, saya tetap harus terus mencoba kan? Iya.