Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.


	

Another Failed

Hari ini saya mulai menulis blog diantar dengan dua kegagalan. Pertama, tidak menang lomba menulis novel yang diadakan sebuah penerbit buku populer. Kedua, tidak lolos seleksi kerja di tempat yang tampak ideal bagi pendidikan Indonesia.

Keduanya membuat saya sedih dan gatal minta perhatian teman. Reaksi balasan mereka bermacam-macam. Kebanyakan bilang, nggak apa, pasti ada kesempatan berikutnya, di tempat lainnya. Ada juga yang bilang, kamu udah menang karena udah mencoba.

Teman lain beda rumusan. Dia bilang, you’re not failed, cuma jalan yang agak berbeda dari perkiraan aja. Seorang teman malah lebih tegas bilang, its another achievement! Semua tergantung bagaimana kita menghayatinya.

Ya, saya berusaha memahami itu semua. Lalu berusaha menerima dan bersyukur atas apa yang masih saya punya sekarang. Masih punya kerjaan yang lumayan. Masih bisa menulis kecil-kecilan.

Lalu saya menghibur diri dengan ngobrol bareng anak-anak kelas 8 (2 SMP). Mendengar curhat kisah asmara mereka yang lugu dan malu-malu. Asyik makan coklat dari mereka sambil dihembus angin sore. Saya iri dengan kisah mereka yang tampak masih jauh dari kegagalan. Mereka masih asyik merayakan kemudahan. Seorang anak bercerita, dia dapat hadiah sepatu seharga 1,3 juta dari cowo yang menyukainya (baru gebetan belum jadian). Ah, detik itu saya iri, dan saya tau saya masih gagal memaknai syukur dan ikhlas.

Tapi biar gagal, saya tetap harus terus mencoba kan? Iya.