Lala Tak Lagi Sombong

Ini naskah drama pendek yang pernah saya buat dan saya sutradarai untuk pentas drama bulan Ramadhan di Sekolah Dasar. Cocok untuk belajar drama anak usia 6-10 tahun. 🙂

LALA TAK LAGI SOMBONG

Tokoh:
Narator, Lala, Ibu, Bapak, Ibu guru, Bapak guru, enam orang Teman

Layar dibuka. Semua pemain berada di posisi atas panggung.

Narator : Inilah kisah tentang Lala.
Seorang anak cantik jelita.
Sungguh beruntung nasib dirinya.
Sudah jelita, pandailah pula.

Lala : Lala lalala… Lala lalala…
Akulah Lala, si cantik jelita!
Wajahku manis seperti manggis.
Otakku pintar seperti Aljabar.

Narator : Saat di rumah bersama bapak ibu.
Lala terlihat sungguh angkuh.

(Lala berjalan menuju bapak ibu.)

Lala : Assalamu’alaikum, bapak dan ibu.
Inilah Lala putri cantikmu.

Bapak, Ibu: Wa’alaikumsalam, Lala anakku.
Ayo masuk dan tutup pintu.

Lala : Wahai Ibu, lihatlah aku!
Kian hari, kian cantik selalu.

Ibu : Kau memang cantik, anakku.
Maka bersyukurlah untuk itu.

Lala : Wahai bapak, lihatlah aku!
Kian hari, kian berilmu.

Bapak : Kau memang pandai, anakku.
Maka bersyukurlah untuk itu.

Ibu : Jangan sampai kamu lupa.
Semua itu dari Allah Taala.
Bersyukurlah atas semua.
Dengan berdoa sepanjang usia.

(Lala berjalan ke tengah panggung.)

Narator : Lala juga seorang manusia.
Seringkali ia lupa.
Segalanya jadi sia-sia.
Jika ia lupa berdoa.

Lala : Lala lalala… Lala lalala…
Akulah Lala si cantik jelita.
Tak apalah kalau lupa berdoa.
Wajahku tak’kan jadi buruk rupa.

(Lala berjalan menuju bapak ibu guru.)

Lala : Assalamu’alaikum, bapak ibu guru.
Inilah Lala, murid pandaimu!

Bapak, Ibu guru: Wa’alaikumsalam, Lala.

Ibu guru: Ada perlu apa, Lala?
Bermainlah dengan teman-temanmu.

Lala : Saya malas main dengan mereka.
Mereka tak pandai seperti saya.

Bapak guru: Lala, jangan bicara begitu.
Mereka semua adalah temanmu.
Bodoh dan pandai sama saja.
Semua ciptaan Allah Yang Kuasa.

Lala : Ah, saya malas main dengan mereka.
Mereka tak cantik seperti saya.

Ibu guru: Lala, jangan sombong begitu.
Mereka semua adalah temanmu.
Cantik atau tidak sama saja.
Semua milik Allah Yang Perkasa.

(Lala berjalan ke tengah panggung.)

Narator : Lala oh Lala…
Semakin sombong saja dia.
Dengan penuh keangkuhan.
Ia menemui teman-teman.

(Lala berjalan menuju kelompok teman.)

Teman 1 : Hey, kita main kucing dan tikus, yuk!
Teman 2 : Ayo! Aku jadi kucingnya, ya!
Teman 3 : Iya. Aku jadi tikusnya, ya!

Lala : Aku ikut main, ya!
Tapi aku harus jadi kucingnya.
Karena aku paling cantik.
Aku tak mau jadi tikusnya.

Teman 2 : Ah, sombong sekali kamu!
Siapa saja boleh jadi kucingnya.

Teman 1 : Iya, betul itu.
Kalau kamu gak mau, ya sudah
gak usah ikut saja.

Teman 3 : Iya, main sama yang lain saja.

(Lala kesal. Ia berjalan menuju kelompok teman yang lain.)

Teman 4 : Oke, kita main bola ya sekarang!
Teman 5 : Oke, aku jadi strikernya, ya!
Teman 6 : Tapi kita masih kurang orang, nih!

Lala : Hey, aku ikut ya!
Teman 4 : Boleh. Kamu bisa main bola, kan?
Lala : Aku belum pernah sih. Tapi aku pasti
bisa, aku kan pintar.
Teman 5 : Wooo, sombong sekali kamu!
Kamu harus berlatih untuk bisa main
bola.
Lala : Ah, gak usah latihan aku juga bisa.
Aku kan jago!
Teman 4 : Wooo, memang sombong kamu ya!
Kalau mau jago bola, kamu harus
banyak berlatih dulu.
Teman 6 : Udahlah, kita cari teman-teman yang
lain aja yuk!
Teman 4,5: Iyalah! Yok!

(Lala kesal. Ia kembali ke tengah panggung.)

Lala : Kenapa gak ada yang mau main denganku ya?

Narator : Lala bersedih hati.
Ia bingung sekali.
Mengapa tak ada yang mau main
dengannya?
Padahal ia pandai dan cantik jelita?

Tiba-tiba,
Lala mendengar suara ibunya.
Lala mendengar suara bapaknya.
Lala mendengar suara ibu gurunya.
Lala mendengar suara bapak gurunya.

(Ibu, Bapak, Ibu Guru dan Bapak Guru, berada di sisi panggung, seperti bersuara dari awang-awang.)

Ibu : Ingat-ingat, Lala.
Bersyukur atas apa yang kau punya.

Bapak : Ingat-ingat, Lala.
Semua makhluk milik Allah Taala.

Ibu guru: Ingat-ingat, Lala.
Orang sombong tak disukai teman.

Bapak guru: Ingat-ingat, Lala.
Orang sombong tak disukai Tuhan.

Narator : Ingat-ingat, Lala.
Tak ada makhluk yang sempurna.

Lala : (menutup muka sejenak)

Ohh, jadi itulah sebabnya.
Mengapa aku tak berteman.
Ohh, maafkan aku wahai semua.
Mengapa aku menjadi alpa.

Sekarang ini aku berjanji.
Aku tak akan sombong lagi.

Narator : Itulah kisah tentang Lala.
Seorang anak cantik jelita.
Sungguh baik sikap hatinya.
Sudah jelita, tak sombong pula.

Layar tertutup. SELESAI.

Story Telling oleh anak (2)

Ini adalah tulisan lanjutan dari “Story Telling untuk anak SMA”. Pencerita pada tulisan itu adalah guru. Nah, bagaimana jika sekarang murid yang berperan sebagai pencerita?

Seorang guru bahasa sangat dianjurkan untuk menggunakan kegiatan bercerita di kelas. Murid-murid senang mendengar cerita, seperti mereka senang mendengar curhat temannya. Sekarang, buatlah murid yang bercerita di kelas. Jika tidak ada persiapan khusus, guru bisa gunakan cara paling mudah. Tunjuk beberapa nama murid atau mempersilakan siapa saja yang ingin membacakan cerita di depan kelas. Pastikan mereka punya kemampuan vokal yang cukup baik agar teman-teman lain bisa menyimak cerita dengan maksimal.

Tentukan cerpen, drama, atau penggalan novel mana yang akan dibacakan. Guru membagi tugas, siapa yang akan membacakan paragraf mana, atau siapa yang akan berperan sebagai tokoh apa. Ajak murid pencerita menghayati peran dan murid pendengar untuk memahami cerita.

Guru sebaiknya mengukur lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca berantai ini. Pertimbangkan berapa lama cerita selesai dibaca, termasuk jika murid butuh waktu untuk konsentrasi atau ketika ada kesalahan baca. Akan lebih baik jika guru sudah menyiapkan murid-murid yang akan bercerita di pertemuan sebelumnya. Biarkan mereka yang berbagi tugas bagian membaca dan mereka bisa berlatih dulu sebelum tampil di pertemuan kelas nanti.

Untuk anak SMP, kegiatan mendongeng kelompok bagus dijadikan penilaian kompetensi menulis dan berbicara. Murid dalam kelompok membuat sebuah cerita, bisa tokoh nyata atau fabel. Nanti mereka pula yang akan mementaskannya. Guru menyiapkan rubrik penilaian yang mencakup aspek menulis naskah, cara bercerita (artikulasi, vokal, intonasi), penggunaan alat dan kostum, dan kerjasama kelompok. Kelompok lain akan melakukan penilaian kepada kelompok yang sedang pentas sebagai penerapan student-self-assessment. Kritik dan saran disampaikan oleh murid kepada temannya di akhir kelas. Tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi juga tak boleh dilupakan.


Untuk anak SD, gunakan boneka/mainan untuk membantu anak-anak berperan menjadi pencerita. Guru harus memastikan bahwa cerita yang dibawakan sudah diketahui oleh anak. Cerita bisa diambil dari buku yang pernah mereka baca bersama, atau bisa juga dongeng buatan mereka sendiri. Pastikan mereka bertanggung jawab menjadi tokoh. Beri pembagian tugas pada sejumlah anak, siapa menjadi ayam, siapa menjadi pohon, siapa menjadi raja, misalnya.

Guru bertugas sebagai penjaga alur. Biarkan anak menciptakan dialog mereka sendiri. Boleh juga kembangkan pop idea yang hadir dari anak. Guru tinggal arahkan pada tujuan akhir cerita. Ketika cerita sampai pada klimaksnya, guru mengajak murid ke penyelesaian dan buat anak berdiskusi. Apa rasanya ya menjadi tokoh dalam cerita? Bagaimana jika teman lain mengubah alur cerita? Bagaimana jika akhir cerita dibuat berbeda? Pancing terus anak dengan pertanyaan yang membuatnya bernalar.

Kira-kira begitu yang pernah saya lihat dan lakukan. Ada ide lainnya, kawan? 🙂

Story Telling untuk anak (1)

Seorang teman di twitter kemarin bertanya, bagaimana ya melakukan story telling untuk anak SMA dengan menarik?

Sederhananya, ada dua pilihan pencerita di kelas. Bisa si guru, atau si murid. Jika si guru yang akan melakukan story telling itu, guru tersebut harus punya kemampuan bercerita dengan menarik. Caranya bagaimana? Jelas, buat persiapan dulu agar tidak canggung di kelas.

1. Bahan cerita mana?
Apa yang mau diceritakan? Sebuah cerpen, penggalan novel, atau dialog drama? Pastikan cerita yang dipilih bisa didiskusikan seusai cerita disampaikan.

2. Pendengar mau apa?
Apa yang guru harapkan dari murid akan menentukan persiapan bercerita. Jika murid diminta hanya mendengar cerita saja, guru bisa fokus pada persiapan diri sendiri. Murid cukup diminta mendengarkan dan bertanya di akhir cerita. Jika guru merasa perlu murid mengetahui juga apa yang sedang diceritakan, murid harus dibekali dengan kertas bacaan. Berilah mereka cerpen yang Anda bacakan, atau minta mereka siapkan novel kelas. Sambil mereka baca, guru bercerita di depan kelas.

3. Ceritanya bagaimana?
Menarik minat remaja mendengar cerita tentu harus memakai jurus jitu. Dasar yang harus dimiliki adalah teknik membaca lancar. Perhatikan: vokal yang pas didengar seisi kelas, artikulasi dan nada sesuai kalimat, dan juga mimik pencerita. Tambahkan gerak yang sesuai dengan adegan dalam cerita. Boleh juga gunakan kostum yang mendukung cerita, seperti selendang atau topi.

4. Bagaimana memulainya?
Penting sekali mencuri perhatian di kesempatan pertama, persis di judul cerita. Pakai pengantar dulu, sampaikan bahwa cerita yang akan dibawakan berkaitan dengan hidup murid Anda. Gambarkan sedikit rangkuman cerita dengan ekspresi maksimal. Contoh yang pernah saya lakukan di kelas seperti ini:


“Hari ini, saya akan bercerita cepat dan ringkas bagian pertama novel Gadis Pantai. Sesuai judulnya, cerita ini tentang seorang gadis yang berusia 14 tahun, persis seusia kalian, murid-murid di kelas ini… (saya menunjuk seisi kelas). Bayangkan, di usia kalian yang semuda ini, yang masih bisa duduk di kelas seperti sekarang, tiba-tiba… harus menikah dengan seorang bapak-bapak yang tidak kalian kenal! (biasanya murid perempuan bergidik di sini) Kalian yang lelaki silakan bayangkan, teman-teman perempuan di sebelah kamu, harus menikah dengan oom-oom! (biasanya mereka tertawa di sini) Nah… langsung saja ya saya bercerita. Bermula seperti ini…”

5. Saat bercerita gimana? Mengakhirinya?
Bacakan cerita dengan sungguh-sungguh. Ajak murid mendengar dan terlibat dalam cerita. Tanyakan pendapat mereka secara acak di tengah cerita tentang sikap tokoh. Bandingkan dengan kisah hidup tokoh idola mereka. Selipkan penjelasan tentang kosakata yang belum pernah mereka dengar. Mainkan nada suara di klimaks cerita, kemudian menurun untuk akhir cerita. Semakin dramatis guru berkata-kata, murid akan terpesona dan bisa memahami cerita.

Ya, kira-kira seperti itu. 🙂
Bagaimana jika murid yang jadi pencerita?

Belajar Sejarah di TKP

Saat berkunjung ke Kota Lama, Semarang, kemarin, saya hanya berkeliling tanpa mendapatkan informasi yang cukup banyak. Padahal ada banyak bangunan lama yang menarik sekali. Tentu juga ada kisah sejarah yang menarik pula untuk didengar. Anak-anak sekolah seharusnya bisa belajar dari lingkungan seperti ini. Pelajaran sejarah misalnya, tentu akan lebih seru jika diadakan langsung di lokasinya. Saya jadi berpikir, bagaimana ya cara agar tempat bersejarah di suatu kota bisa bermanfaat lebih untuk pendidikan anak?

Ada beberapa yang saya pikirkan waktu itu.
* Mendongeng di bangunan tua
Orang tua atau guru bisa mendongengkan kisah bersejarah dengan lebih dramatis jika dilakukan di lokasi kejadian. Sebaiknya orang tua/guru mencari data dahulu tentang cerita sejarah yang akan disampaikan. Misalnya, cerita diniatkan untuk menjawab kenapa Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang memiliki dua semut besar di atap bangunannya? Nah, pencerita bisa buku cerita atau boneka semut sebagai alat peraga untuk anak di usia TK dan SD. Untuk kelompok yang lebih besar, boleh juga undang pendongeng terkenal untuk bercerita dengan cara yang tentu menarik.

* Anak di usia SMP dan SMA bisa diminta mencari data tentang peristiwa bersejarah yang terkait dengan tempat tersebut. Cari dulu data di buku-buku atau di internet, buat ringkasannya lalu datang bersama kelas ke lokasi cerita. Presentasikan hasil temuan riset sebelumnya di sana. Tentu rasanya akan lebih menarik daripada sekadar presentasi di kelas, kan?

* Murid SMP dan SMA bisa juga ditantang untuk membuat proyek menarik tentang tempat sejarah. Misalnya melakukan rally foto atau film pendek bersama kelompok kelas. Hasilnya akan dibuat pameran dan ditonton di sekolah. Atau ajak murid membantu pemerintah daerah untuk membuat booklet informasi wisata tentang tempat-tempat bersejarah. Tentu lebih asyik belajar dan menghasilkan kreasi nyata untuk daerah kita.

Tentu ada ide lain ya? Yuk, berbagi!

Teknologi Sekarang Buat Belajar Jadi Senang

“Saya cari data di bebe, ya!”

Kalimat itu sering terucap dari mulut murid-murid saya ketika ada tugas yang membutuhkan pencarian data. Ketika saya menjawab, “Silakan!”, mereka pun akan senang. Bebe atau Blackberry memang sering jadi solusi cepat untuk kebutuhan tugas murid di era teknologi tinggi sekarang ini. Apalagi di daerah perkotaan, benda elektronik seperti ponsel pintar adalah makanan bagi murid. Bahkan posisinya melebihi kebutuhan mereka akan sarapan. Setiap pagi mereka lebih memilih menggenggam Blackberry ketimbang roti.

ponsel dan laptop di meja murid

Sebagai guru dari anak-anak yang karib dengan gadget itu, saya pun merasa harus mengikuti perkembangan mereka. Saya tidak ingin menciptakan jarak yang semakin jauh karena rentang usia guru dan murid sudah jauh terpaut puluhan tahun. Langkah pertama, saya coba mengakrabkan diri dengan cara ikut menggunakan ponsel itu. Itu salah satu upaya yang bisa saya jangkau. Namun, bukanlah kewajiban kita untuk harus memiliki semua gadget karena dana kita tentu terbatas. Jika dana Anda berlebih, boleh juga Anda memiliki benda elektronik lain yang banyak juga dimiliki oleh remaja kota besar sekarang. Tujuan guru memiliki gadget keren sebaiknya jangan hanya supaya bisa menyamai pergaulan murid. Sebisa mungkin kita harus pergunakan benda teknologi itu untuk kebutuhan pembelajaran. Ketika ada tugas, murid bisa dipersilakan menggunakan ponsel pintar mereka untuk mencari informasi di internet.

Banyak sekolah yang sudah memiliki komputer di kelas. Banyak juga sekolah yang memperbolehkan muridnya membawa laptop ke kelas. Banyak anak kota besar juga sudah biasa menggunakan kamera dan video handycam. Semua media itu sudah seharusnya dimaksimalkan untuk kegiatan belajar yang menyenangkan. Guru dari berbagai mata pelajaran bisa mengajak murid menciptakan banyak proyek belajar dengan desain seni yang menarik. Misalnya, tugas pelajaran kimia dalam bentuk komik animasi, laporan pelajaran ekonomi dengan proyek video, atau membuat podcast untuk pelajaran bahasa.

Pengetahuan teknologi yang sudah dipunya anak dan remaja itu harus dipergunakan untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Persilakan mereka berkreasi dengan pengetahuan mereka dan biarkan guru menjadi mentor mereka. Misalnya ketika murid diajak untuk membuat tugas membuat grafik di pelajaran bahasa Indonesia, ajak murid berkreasi lebih maksimal dengan teknologi. Suatu kali murid saya membuat karya menarik, yaitu sebuah grafik dengan lampu-lampu yang digunakan sebagai penanda data. Mereka merangkai sistem listrik sederhana pada papan grafik itu. Ketika tugas ini dipresentasikan di kelas, pertunjukan hasil penelitian mereka menjadi lebih menarik untuk dilihat.

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat akses mudah untuk menggunakan teknologi? Adalah tugas kita untuk menciptakan kesempatan itu untuk mereka. Pada suatu kesempatan di kegiatan Dongeng Minggu di Depok, saya dan teman-teman datang membawa CD film, laptop, dan proyektor. Biasanya anak-anak di sana belajar lewat dongeng yang dibawakan oleh kakak pendongeng menggunakan boneka-boneka binatang. Namun kali itu, kami mencoba hal lain dengan teknologi yang akrab dengan kami, tetapi belum akrab untuk mereka. Kami memutarkan film kartun anak yang mengajarkan tentang ikhlas. Anak-anak duduk manis menyimak film, tanpa merasa terbebani bahwa mereka sedang belajar. Tentu ini menyenangkan untuk anak-anak.

Adik-adik Dongeng Minggu menonton film dengan proyektor.

Masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membuat suasana yang asyik untuk belajar. Yang paling penting kita siapkan adalah keinginan untuk berkreasi, baik dari guru dan juga murid. Setelah itu, pasti ada banyak alat teknologi yang bisa kita dipakai. Maksimalkan penggunaannya dan jangan kaget jika anak-anak bisa belajar dengan hati senang.