Kelas Inspirasi: Mimpi Itu Gratis, Tak Perlu Beli

Bagaimana saya terlibat dengan program Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar bisa dimulai dengan perkenalan saya dengan Hikmat Hardono. Dari dunia maya kami berkenalan dan dia meminta saya mampir ngobrol di kantor Jalan Galuh. Ketika mampir santai itulah, Hikmat menyampaikan idenya tentang program mengajar ini. Ia memulai dengan bertanya, apa yang biasanya saya lakukan di sekolah, juga bagaimana saya menjalankan kegiatan Dongeng Minggu tiap bulan. Cerita bergulir dan tawaran bergabung dalam program ini pun saya sambut.

Kabarnya, ide ini juga berasal dari masukan banyak orang yang ingin mencoba mengajar bersama Indonesia Mengajar. Namun, mereka tidak bisa mengajar setahun, atau tidak bisa ditempatkan di daerah tujuan mengajar. Atau seperti saya, usia saya tidak memenuhi syarat menjadi pengajar muda. Sementara saya percaya, banyak sekali orang yang ingin menjadi guru, berbagi ilmu dan pengalaman. Itulah yang kemudian dirumuskan. Konsep digodok. Jadilah sebuah konsep mengajar sehari anak-anak kelas 1-6 di 25 SD Jakarta. Volunteer pengajar adalah para pekerja profesional. Tujuannya terlihat sederhana,  tetapi sebenarnya luar biasa: Memberikan inspirasi kepada anak-anak tentang beragam cita-cita.

Maka tersebutlah nama program ini: Kelas Inspirasi. Tim konsep memulai dengan Pilot project yang dilaksanakan pada 18 Februari 2012 di SD Duri Pulo. Diikuti dengan Briefing Volunteer di kantor PGN pada Sabtu 14 April 2012. Para profesional hadir,  berkenalan dengan kelompok, dan menyiapkan rencana pengajaran mereka. Sebagian besar kelompok melakukan meeting tambahan sebelum hari H datang. Tentu saja untuk mempersiapkan diri menjelaskan profesi mereka kepada anak-anak. Bagaimana cara mudah menerangkan apa itu CEO, mining engineer, atau sejarawan? 🙂

 

Yang terjadi pada tanggal 25 April itu adalah manusia dewasa dan anak-anak yang saling terinspirasi. Anak-anak tercerahkan dengan ragam profesi pilihan yang bisa mereka citakan. Tersemangati bahwa siapapun bisa meraih cita-cita selama ada usaha yang hebat. Para volunteer yang kebanyakan merupakan kaum middle class ibukota juga terinspirasi, betapa berbagi itu membahagiakan. Bahwa mereka punya tugas untuk ikut menggalang pendidikan.

Usai acara, saya segera ikut menyuarakan. Konsep Kelas Inspirasi ini harus terus dijalankan. Tak perlu menunggu Indonesia Mengajar merekrut Anda, atau membuatnya di kota Anda. Buatlah sendiri di lingkungan terdekat. Mulai dari SD tempat Anda bersekolah dahulu. Lakukan dalam program CSR kantor Anda. Ajak komunitas dan teman dekat lakukan di panti asuhan/ rumah singgah. Anies Baswedan juga mengingatkan hal itu di hari Evaluasi dan Refleksi tanggal 29 April lalu. Mimpi itu gratis, tidak perlu beli. Jadi sudah seharusnya kita bagi inspirasi kepada anak-anak kita, bermimpi tinggi untuk wujudkan hidup lebih baik.

foto oleh: Octria dan Arnellis

Pendidikan Kearifan Lokal #twitedu

Berikut ini adalah rangkuman tweet saya di #twitedu edisi Pendidikan Kearifan Lokal, Selasa 20 Desember 2011.
Silakan disimak. 🙂

#twitedu malam ini temanya kearifan lokal. Saya coba kaitkan dengan sikap orang dewasa dan remaja belakangan. Kearifan lokal berkaitan dengan etika dan sopan santun berkehidupan. Lokal maksudnya bercermin pada lingkungan sekitar. Sejak kecil ortu sudah harus menanamkan bentuk-bentuk kearifan dalam berhubungan, baik dengan sesama manusia atau alam. Jadilah seorang anak dibekali sopan santun adat setempat. Bagaimana cara balas salam atau bagaimana jika ditanya orang. Bentuk kearifan lokal tentu berbeda-beda. Anak pantai berbeda sikap dengan anak gunung. Anak kota beda pandangan dengan anak desa.

Kurikulum sekolah sudah seharusnya memahami kearifan lokal. Tak bisa kita gunakan satu buku ajar untuk anak-anak di beda daerah. Pahami struktur budaya lokal. Maka hasilnya, Ujian Nasional di Indonesia pun tak bisa dibuat sama soalnya. Sekolah harus membuat pelajaran yang sesuai dg adat setempat. Anak sungai tak bisa dipaksa kenal bus kota. Itu bukan kearifan lokal. Anak sungai harus diajari pelajaran fisika yang tepat. Gimana cara bangun jembatan. Ekonomi? Sumber Daya Alam apa yang bisa dimanfaatkan dari sungai. Pelajaran PLBJ (Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta) ya hanya diajarkan untuk anak sekolah Jakarta. Pengetahuan tentang Jakarta yang harus diketahui anak luar pulau Jawa adalah bahwa Jakarta adalah ibukota negara/pusat pemerintahan. Tak bijak jika pendidikan memaksa anak Maluku harus tahu ondel-ondel. Sementara anak Jakarta tak tahu di mana letak Pulau Buru. Pendidikan dengan basis kearifan lokal diharapkan membuat anak cinta daerah, dan berkeinginan mengembangkan daerahnya.

“@kurniasepta: kearifan lokal itu dikembangkan lewat pelajaran muatan lokal, eh tp knp bahasa inggris masuk mulok?” Ayo bahas! Kenapa bahasa Inggris termasuk muatan lokal dalam pelajaran nasional? Sebenarnya muatan lokal itu apa? Saya kurang memahami istilah kurikulum nasional. Tapi agaknya mulok dimaksudkan jadi pelajaran tambahan. Ini lucunya. Yang termasuk mulok sekarang ini adalah pelajaran bahasa daerah, bahasa Inggris, dan/atau komputer. Kategorinya tambahan saja. Agaknya kenapa bahasa Inggris dimasukkan sebagai mulok, ya karena itu dianggap pelajaran tambahan. Pelajaran wajib adalah bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Inggris diharapkan jadi muatan tambahan untuk meningkatkan pengetahuan agar bisa kembangkan budaya lokal. Setelah anak paham dunia lokalnya, bahasa Inggris bisa dipakai untuk memahami pengetahuan lain yang berguna untuk daerahnya.

“@kurniasepta: @arnellism #twitedu Siapa yg menciptakan kearifan lokal?” Pertanyaannya luas sekali. Yuk coba kita diskusi. Siapa pencipta kearifan lokal? Manusia yang ciptakan. Orang tua kita. Agar anak cucunya bisa nikmati dunia lebih lama. Kearifan lokal mengajarkan anak Kalimantan tak asal bunuh orang utan. Mereka harus tahu apa guna hewan itu. Fungsi ortu dan guru adalah mengajarkan anak untuk pahami kenapa orang utan dan hutan harus dilindungi. Di sinilah hadir kearifan lokal. Kasus pembunuhan orang utan oleh warga setempat adalah bukti pendidikan di sana belum berbasis kearifan lokal. Pelajaran Ekonomi harus diselipi pendidikan kearifan lokal. Manusia jangan asal cari untung lalu bebas babat hutan seisinya. Nah, pendidikan kearifan lokal tidak boleh berhenti di SD. Anak SMP dan SMA harus lebih banyak diskusi pentingnya hal ini.

“@bincangedukasi: Apa sih manfaat mempertimbangkan Kearifan Lokal dlm pendidikan di era globalisasi ini?” Era globalisasi begini sangat harus diimbangi dengan pendidikan kearifan lokal. Selain baik, teknologi punya sifat merusak juga. Era global membebaskan budaya luar menyerang budaya lokal. Kearifan lokal harus berbicara untuk mengatasinya. Kasus punk di Aceh itu adalah contoh bentroknya budaya lokal dengan budaya asing. Bagaimana kearifan lokal berperan? Jika pendidikan kearifan lokal berjalan dengan baik, topik ‘punk di Aceh’ itu harusnya bisa ditangani dengan mudah.
Banyak contoh masih kurangnya pendidikan kearifan lokal di negara ini. Kasus Freeport dan Mesuji misalnya.
Ada berapa kampus yang punya jurusan pertanian, perikanan, dan kelautan di Indonesia? Di mana kita belajar kearifan lokal?

“@_kawit: @bincangedukasi @arnellism lalu bagaimana dengan brick dance? Beat box? Suffle dance? Normal kah?” Boleh saja pelajari itu. Di sekolah saya anak-anak juga sedang gandrung suffle dance dan KPop. Tak apa, selama bertanggung jawab untuk tak lupa budaya sendiri. Tapi kearifan lokal anak kota memang jadi bias. Lokal buat mereka adalah budaya dunia. Jangan kaget jika kearifaan lokal anak SMA Jakarta sekarang adalah kerjakan tugas di StarBucks atau Sevel. Bentukan lokal kota. Kearifan lokal gagal terjadi ketika anak kota itu berantem karena rebutan tongkrongan di Sevel.
Pelajaran Sosiologi harus mengajarkan bagaimana bersikap arif dalam budaya kota yang dianut remaja di kota besar.
Prinsipnya sama, anak kota harus paham dulu bagaimana menyikapi mal atau gadget, sebelum pelajari tongkonan atau badik.

Kesimpulan: mari pelajari segala sumber daya lokal dan gunakan untuk kemajuan daerah masing-masing dengan arif bijaksana.

T dan J, kritis!

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi Selasa 8 November 2011


Mendidik anak berpikir kritis, mulailah dengan bertanya. Bebaskan anak bertanya apapun. Sejak kecil, orang tua harus mencontohkan cara bertanya, sebab nyatanya bertanya itu tidak mudah juga. “Apa ini?” dan “Apa itu?” harus sudah mulai diajarkan orang tua sejak anak masih bayi. Ketika TK, anak akan terbiasa bertanya ini juga. Ketika SD, orang tua ajak anak bertanya lebih dari sekadar “apa”. Konsep 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, How) sudah harus diperkenalkan. Ketika SMP dan SMA anak bisa diajak berpikir lebih di pertanyaan “why” dan “how”. Ini puncak berpikir kritis.

Ketika anak sudah terbiasa bertanya, anak harus diajak untuk bisa mencari jawaban sendiri. Bertanya dan menjawab itulah yang harus terus dipupuk agar anak selalu berpikir kritis. Bahan ajar? Kehidupan sehari-hari. Banyak membaca buku/internet tentu akan berguna untuk melatih anak bertanya lalu menjawab sendiri. Kritis adalah hasil.

Orang tua harus senang, bukan sebaliknya, saat anak bertanya atau banyak komentar. Itu tanda anak yang berpikir kritis! Guru harus biasakan murid untuk bertanya juga. Tidak hanya melulu menjawab soal. Kalau anak kritis pada hal-hal sensitif semacam agama atau seks gimana? Orang tua dan guru tetap harus menjawab dengan bijak. Saya percaya pada dasarnya manusia (anak-anak juga) tentu punya kesadaran untuk bertanya. Itulah modal berpikir kritis. Tinggal orang tua, guru, dan anak itu sendiri yang harus menajamkan kebiasaan kritis dalam menganalisis masalah.

“Bagaimana ajarkan berpikir kritis di sekolah? Benarkah bagian ini agak terabaikan karena beratnya beban kurikulum?” tanya seorang pemerhati pendidikan. Saya sendiri merasa hal itu agak benar adanya. Ketika guru dan murid dibebani kurikulum yang berorientasi nilai saja, kegiatan kelas kebanyakan hanya menjawab pertanyaan. Seorang lain bilang, jika ingin membuat budaya berpikir kritis muncul di sekolah, kita perlu ubah dua hal: tes dan pola pikir guru. Saya sedikit tidak setuju. Tes atau ujian tetap perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana anak bisa berpikir kritis dalam media tulis. Di kelas, sistem penilaian silang antarmurid (siswa mengoreksi pekerjaan teman) bisa digunakan untuk latihan berpikir kritis. Di beragam pelajaran, ajak siswa mencari kaitan topik yang sedang dipelajari dengan kehidupan harian. Misal, apa guna belajar trigonometri?

Saya pendukung “kuliah harus lulus dengan skripsi”. Ini adalah pembuktian siswa mampu berpikir kritis. Saya mengkritik kebijaksanaan universitas yang memperbolehkan mahasiswa lulus tanpa skripsi. Hanya penuhi kuliah lalu bisa lulus? Dalam skripsi, mahasiswa harus mengajukan sebuah pertanyaan dan sekaligus menjawabnya melalui penelitian. Mahasiswa harus kritis menuliskan rumusan masalah. Lalu buktikan jawaban di bagian analisis. Ujian berpikir kritis itu terjadi di sidang skripsi. Mahasiswa menjelaskan jawaban pada beberapa penguji. Usai lulus kuliah, pendidikan berpikir kritis akan terus berlanjut. Meski bukan di bangku akademis.

Nah, ayo kita biasakan berpikir kritis. Mulai dari kicau di media twitter juga boleh. 🙂

Patok

Aku pernah begitu benci pada Jakarta. Mungkin di usia 11 tahun itu aku tak paham betul arti benci. Namun, aku merasakan kekesalan luar biasa dengan kota tetangga itu. Kota itu yang memaksaku harus belajar keras hanya demi bisa memasuki gerbangnya.

Aku mulai mendapatkan pendidikan formal pertama di daerah ini, kota kecil sebelah Tenggara Jakarta. Saat itu, daerah ini adalah kota kecil administratif Bogor. Aku si kecil usia 4 tahun ditemani ayah berjalan kaki dari rumah ke sebuah Taman Kanak-kanak di tepi jalan raya. TK itu berada di perbatasan dua kampung, yaitu Kampung Pal dan Kampung Areman. Ada tanah rumput yang tampak luas di mata kecilku. Itulah tanah pertama yang kusebut lapangan bermain. Di seberang jalan raya depan sekolah TK, terlihat hamparan sawah dan empang. Pohon petai cina menghiasi tepian tanah yang berbatasan dengan jalan raya dari aspal. Kelak dua tempat itu akan menjadi wilayah kekuasaanku di usia sekolah dasar.

Dalam ingatan masa kecilku, aku hanya tahu aku bersekolah di daerah Pal. Murni sesempit itu pengetahuan geografisku. Kemudian, di TK itulah aku mulai mengenal nama kota Jakarta. Kata ibu guru manis yang mengajarku, kota Jakarta adalah ibukota Indonesia, nama negara yang lagunya mulai kuhapalkan sejak sekolah untuk dinyanyikan setiap Senin pagi. Ibukota itu apa, aku tak begitu paham. Ibu guru bilang, ibukota itu seperti ibu jari. Kuperhatikan jemariku. Ibu jari itu lebih besar dari jari-jari lainnya. Bentuknya gemuk, tak seperti jari-jari lain yang terlihat kurus. Maka itulah yang kupahami: ibukota adalah kota besar yang berisi orang-orang gemuk.

Kata ibu guru TK, untuk pergi ke Jakarta, aku hanya perlu jalan kaki saja. Nyatanya aku belum pernah membuktikannya sampai aku lulus sekolah kanak-kanak itu. Ketika ada kegiatan tur ke Taman Mini di Jakarta Timur, aku pergi dengan menggunakan bus besar. Lalu ketika aku dan teman-teman pergi belajar manasik haji di Jakarta Pusat, kami juga naik bus besar. Di nalar kecilku, pergi dengan bus adalah pergi jauh. Maka aku tak begitu percaya jika bu guru bilang Jakarta bisa dicapai dengan jalan kaki saja.

Namun, aku sadar ternyata kata-kata bu guru TK itu benar. Lulus dari sekolah TK, aku mulai diperbolehkan main menjelajah kampung. Kegiatan itu membawaku pada sebuah patok batu setinggi lutut. Di badan patok semen itu tertulis kata-kata yang kemudian kupahami sebagai tanda batas daerahku dan Jakarta. Aku menemukannya di dekat empang di ujung kampung. Ya, empang dan sawah yang kerap kulihat dulu dari seberang sekolah TK dulu. Rasanya semacam menemukan harta karun, walau aku tak mencarinya dengan repot-repot. Seorang teman yang merajai wilayah empang dan sawah itulah yang menunjukkannya.

“Jadi, sekarang kita ada di Depok,” ujar teman kecilku jumawa.
Kemudian, ia melangkahkan kakinya melewati patok itu. “Nah, sekarang aku ada di Jakarta!”

Ingat betul aku wajah sumringahnya. Aku turut riang. Itu jadi semacam pelajaran geografi yang luar biasa. Aku ikut melangkahi patok tersebut dan rasanya Jakarta menjadi begitu sederhana. Jakarta hanya sebatas selangkangan. Kami tertawa bersama. Kami ambil ranting yang dijadikan tongkat pegangan ketika meniti batang pohon kelapa, melanjutkan perjalanan ke ujung empang yang merupakan tanah ibukota.

Sejak SD kelas satu hingga kelas lima aku terus bermain ke sawah dan empang itu. Butuh waktu lima menit naik sepeda atau 15 menit jalan santai. Aku dan teman-teman sambil memegang plastik berisi air limun akan berkumpul di rumah terakhir sebelum memasuki areal sawah. Di sana kami menghabiskan limun dan membuangnya ke tong bekas cat tembok. Tangan kami bebas. Kami mulai meniti batang bambu susun lima, melewati kali kecil yang merupakan pecahan Kali Baru dari Bogor. Kami memotong ranting pohon rendah dan menjadikannya pedang-pedangan. Kami mengumpulkan kumbang kecil yang sangit baunya dan menangkapi capung jarum. Semuanya adalah kesenangan masa kecil yang terasa besar.
Secara tak sadar kami selalu bolak-balik melewati patok itu tanpa menganggapnya sesuatu yang berharga lagi. Patok itu tak lagi aku kagumi. Aku dan teman-teman berjalan mengangkanginya hampir setiap sore usai sekolah. Ia menjadi benda biasa. Aku tak pernah lagi terantuk patok semen yang mulai aus sebab dijadikan alas main ulek-ulekan. Aku tanpa sadar tak lagi merasa Jakarta dan Depok adalah sebuah jarak. Setidaknya begitu hingga kenaikan kelas enam tiba.
Waktu itu, ibu pulang ke rumah usai meninggalkan dua tiga ibu yang mengobrol di mulut jalan. Dicarinya bapak dan kulihat mereka berbicara serius. Aku yang masih menikmati peringkat lima yang tertulis di rapor sekolah kemudian dipanggil bapak. Aku didudukkan mereka. Bapak membuka pembicaraan di meja ruang tamu bernuansa jingga. Aku ingat betul kalimat pembuka bapak.

“Nak, kamu harus sekolah di Jakarta.”
Aku tak paham maksud bapak. Kalimat itu tak menjelaskan alasan apapun yang bisa dipahami otak 11 tahunku.
“Kamu harus melanjutkan SMP di Jakarta, biar nanti SMA bisa gampang diterima di Jakarta juga.”
Aku beranikan diri bertanya, “Kenapa?”
“Biar gampang cari kerja di Jakarta nantinya.”

Bapak melepas napas perlahan. Ibu mengangguk-angguk. Ada penolakan yang tak bisa kusampaikan di sana. Saat itu aku baru menyadari betapa aku menyukai daerah tempat tinggalku. Aku telah lama mencintai sawah dan empang. Aku menyukai jalan raya yang tidak terlalu sulit diseberangi. Aku menyukai jalan kaki ke sekolah. Lalu sekarang aku diminta untuk bersekolah di Jakarta, yang entah mengapa ternyata masih terdengar jauh di telinga. Aku tak berani mengangguk atau menggeleng. Bapak masih meneruskan kalimatnya menjadi sebuah syarat.
“Kamu harus bisa rangking satu di kelas enam nanti. Harus bisa dapat NEM tinggi. Biar gampang masuk SMP di Jakarta. Makanya mulai sekarang kamu harus lebih rajin belajar. Jangan main-main lagi. Apalagi panas-panasan di sawah.”

Napasku saat itu menderu. Bapak dan ibu mulai membatasi hak bermainku. Ada yang terenggut di sana. Namun, label anak penurut yang selama ini begitu dipuja para orang tua mengharuskanku tak berkata apa-apa. Aku masuk ke dalam kamar dan merencanakan ide penumpahan emosi. Esok harinya telah kutetapkan sebagai hari eksekusi.

Pagi hari pertama liburan kenaikan kelas lima. Aku pamit pada bapak sambil menggamit sepeda. Bapak tidak bertanya kemana aku akan pergi. Larangan pergi ke sawah rupanya baru akan berlaku di hari pertama kelas enam nanti. Aku menggenjot sepedaku perlahan meninggalkan rumah. Angin pagi menghembuskan aroma sabun mandi ke belakang. Satu tetes air dari rambut keritingku jatuh di kening. Genjotan kakiku makin cepat. Tak ada niat untuk memanggil teman untuk bergabung. Aku punya misi yang harus segera dilarung.

Sampai jalan pelur terakhir sebelum masuk ke sawah, aku menatap lurus-lurus hijau campur cokelat warna yang terbentang di mata. Kumiringkan sepeda menyandar ke pagar besi rumah orang di sana. Aku berjalan meniti jembatan bambu, lalu tanah merah, lalu tanah berumput, lalu batang kelapa gembus, lalu tanah merah basah, lalu tanah rumput, lalu jembatan kelapa panjang, hingga tiba di tanah merah bawah pepohonan. Mataku langsung tertuju pada benda yang begitu ingin kujumpai sejak semalam. Patok batas Jakarta-Bogor.

Kukeluarkan spidol kecil hitam dari dalam kantong samping celana. Satu spidol biru tua menyembul. Akhirnya kukeluarkan keduanya. Kemudian aku bingung. Aku ingin mencoret kata-kata di sana. Namun, baru kusadar sekarang, kata-kata itu timbul dari bidang datar patok. Pasti tidak akan sulit kucoret jika itu hanya tulisan yang tercetak saja. Emosiku makin meninggi. Tulisan Jakarta itu begitu menyebalkan. Ada semacam nasionalisme kampung halaman yang menyeruak dari dada kecilku saat itu. Aku masih tidak paham dengan maksud bapak. Aku bertanya-tanya tapi belum sempat menemukan jawaban. Apa benar tak ada sekolah bagus di Depok? Mengapa aku harus sekolah di Jakarta? Mengapa aku harus bekerja di Jakarta? Pikiran kanak-kanakku yang teramat jarang pergi keluar kampung tak mampu menjawab pertanyaan itu. Maka kemudian tak hanya spidol hitam yang bergerak mencoreti badan patok itu, tetapi si biru pun ikut serta. Aku membuat patok itu tampak serupa batik bermotif kacau balau. Belum puas, aku mencari batu segenggaman tangan. Begitu kutemukan, langsung kubawa dan kutumbukkan ke patok itu. Kupukulkan batu itu berkali–kali ke patok tanpa arah yang jelas. Hingga akhirnya ujung semen patok itu jatuh ke tanah. Gompal.
Aku pernah begitu benci pada Jakarta. Aku pernah menghancurkan setengah badan patok batas Jakarta-Bogor. Aku terlalu percaya bahwa aku tak perlu sekolah di Jakarta. Aku terlalu percaya Depok masih menjanjikan peluang kerja. Namun, nyatanya kebencianku hanya sebatas melukai patok itu. Aku kemudian meneruskan sekolah menengah pertama dan menengah atas di Jakarta. Meski begitu, kemudian aku kembali kuliah di Depok. Aku ingin berkuliah di kampusnya Indonesia. Aku membelokkan pilihan. Keinginan menjadi dokter kuubah menjadi psikolog hanya supaya aku bisa berkuliah di daerah Depok. Aku ingin kembali tinggal di kampung halaman. Aku ingin pergi sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda.

Sekarang patok itu tidak terlihat di sawah. Patok-patok kecil itu berubah menjadi tugu kecil di tepi Jalan Raya Bogor dan menjadi gerbang besar di ujung jalan Margonda Raya. Kota Depok sekarang bukan kota kecil lagi. Dia mulai digemuki penduduk. Dia mulai ditumbuhi lima mal belanja. Kebencianku pada Jakarta agaknya telah memudar. Entah mengapa, mungkin karena kulihat sekarang Depok telah serupa ibukota. (*)

27 Juni 2011

Hilangkah Tradisi Bercerita?

*Dari #EduStory bersama @IDcerita
Senin 10 Oktober 2011

Mau gabung #EduStory @IDcerita malam ini. Temanya “Hilangnya Tradisi Bercerita”. Benarkah demikian?

Saya masih percaya betul, tradisi bercerita masih ada, tetapi banyak yang berubah bentuk, lebih digital.

Sekarang sudah banyak buku dongeng singkat 7 menit yang mudah dibacakan orang tua atau pengasuh untuk anak-anak.

Dongeng dalam bentuk digital, rekaman, juga mudah diunduh di internet. Warga kota pasti mudah mengakses ini.

Gimana dengan di daerah? Sejumlah tradisi bercerita lisan masih dipertahankan dalam bentuk kesenian daerah atau dongeng simbah.

Beragam sastra lisan adalah bentuk #EduStory juga. Didong, wayang, makyong, atau teater rakyat contohnya.

Sastra lisan ini kebanyakan diperdengarkan untuk usia dewasa, tapi tak jarang juga khusus diperdengarkan untuk anak-anak.

Di Papua, ada “mop” yaitu tradisi bercerita di depan orang-orang, biasanya lelucon. Anak-anak juga sering melakukan ini.

Intinya sih saya percaya diri, tradisi bercerita akan terus ada, selama masih banyak yang peduli pada pendidikan.

Mendengar Curhat Anak

Saya selalu percaya, mendengar adalah sebuah kebaikan. Memberi telinga kita kepada orang lain, menampung cerita, adalah sebuah amal yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Mendengar penting dilakukan manusia kepada sesama. Apalagi bagi anak-anak. Mereka pun manusia yang harus didengar suaranya. Saya percaya, mendengar cerita anak-anak (dan remaja) adalah salah satu cara mudah untuk menyelamatkan anak bangsa.

Sebutlah istilah mendengar cerita dengan kata ‘curhat’. Anak dan remaja dalam usianya yang penuh gejolak perkembangan, tentu menyimpan segudang cerita yang ingin dicurhatkan. Cerita ini dapat disimpan dalam hati mereka, atau dapat mereka bagi ke teman sebayanya. Orang tua mendapat kewajiban utama sebagai orang yang harus tahu curhat anak. Mendengar curhat anak adalah wujud kasih sayang mendasar sebab itu adalah bentuk perhatian sederhana yang tulus.

Tidak hanya orang tua yang bisa mendengar cerita anak. Setiap dari kita pun bisa, sebab tidak ada alasan tidak bisa, kecuali memang tidak ingin peduli pada anak. Kita bisa dengar cerita adik kecil kita, saudara sepupu, adik pacar, anak tetangga, anak penjual koran, murid sekolah, atau pengamen anak di jalanan. Ketika niat mendengarkan sudah ada, kita tinggal ciptakan sapaan, kemudian pertanyaan.

Dengan mendengar curhat anak, kita bisa mengetahui pengalaman yang telah dilaluinya. Cerita bisa menjawab pertanyaan guru di kelas, di-bully teman sekolah, tak bisa main bola di tanah lapang, atau kurang setoran ke bos ngamen, bisa kita peroleh ketika curhat. Telinga yang kita pasang akan sangat berharga untuk anak sebab mereka mendapat tempat untuk mengeluarkan masalahnya. Keluhan anak itu merupakan cerminan masalah negara pula. Anak menjadi subjek utama di sekolah. Kebaikan dan kekurangan yang terjadi dalam sistem sekolah bisa dilihat dalam cerita anak. Tidak tersedianya lahan bermain atau tidak punya waktu bermain sebab harus bekerja di jalan juga merupakan masalah sosial negara. Seringkali kita mendapati permasalahan sosial pendidikan anak yang diangkat dalam wacana pemerintahan bersumber dari pemikiran orang dewasa saja. Padahal masalah sebenarnya harus kita dengar langsung dari anak sebab merekalah yang mengalami keterlibatan utama.

Jadilah teman curhat anak. Saat anak mendapat rasa nyaman, pembelajaran dapat masuk dengan lebih mudah. Kita semua tentu percaya, belajar dapat dilakukan di mana saja, tak harus didapat di bangku sekolah formal. Pelajaran yang tertulis dalam rangka akademis pun bisa disisipkan di sesi curhat anak itu. Nasihat hidup bisa dibagi saat mengobrol sebelum tidur. Kisah ilmu alam atau matematika bisa diceritakan ketika jalan-jalan. Saya pikir, kuncinya adalah bersabar untuk jadi teman anak. Hubungan yang terbuka dan akrab antara anak-anak (dan remaja) dengan orang dewasa akan memudahkan kita menyelamatkan keseluruhan bangsa Indonesia.

Kepada anak-anak dan Sahabat Anak

Anak-anak berkuku hitam bergigi gompal tertawa riang.
Mereka bebas main bersama teman, bukan lagi di jalan.

Kalimat itu saya kirim ke akun @kotakhitam_ di twitter tepat setelah melihat anak-anak jalanan di hadapan saya kemarin lalu. Saya begitu yakin gambaran itu akan segera jadi kenangan berharga. Saya bersyukur dapat bertemu anak-anak yang selama ini hanya saya lihat di berita televisi. Anak-anak yang bekerja di lampu merah jalan raya, atau bermain dan tertawa di pinggir sungai dan rel kereta.

Kepada Sahabat Anak (@sahabatanak) saya harus berterima kasih. Saya dapat kesempatan bermain dengan anak-anak itu di Jambore Sahabat Anak XV tanggal 2-3 Juli lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya bergabung dengan teman-teman relawan lain. Saya digabungkan dengan Sahabat Anak Tanah Abang. Lompat Karet nama tenda jambore mereka. Ada sekitar 30 anak di tenda ini. Saya tidak hapal semua karena banyak yang baru berkenalan di saat acara, kecuali setidaknya tiga anak manis ini: Nita (14 tahun), Yuniar (10 tahun), dan Yani (12 tahun). Nama-nama tenda adalah nama permainan anak-anak. Ada 29 kelompok tenda di JSA tahun ini dan semuanya menggunakan nama permainan, seperti congklak, engrang, atau hompimpa. Tema jambore jadi teraplikasi walau tak semua permainan itu bisa dilakukan anak-anak pada saat jambore berlangsung.

Tema “Bermain” ini mengakomodasi hak anak Indonesia yang pertama. Saya pikir ini menjadi poin yang begitu penting dan mendasar mengingat anak-anak ini sebagian besar telah mengalami kehilangan waktu bermain seperti anak-anak seharusnya. Kalau kata Iwan Fals, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, dipaksa pecahkan karang padahal lemah kepal jarinya. Anak-anak kecil itu telah terbebani dengan keharusan mencari nafkah untuk pemenuhan diri sendiri atau membantu kebutuhan orang tua mereka. Sahabat Anak telah berusaha menanamkan pengertian hak bermain ini kepada anak-anak binaan. Saat belajar bimbel harian, mereka sering diingatkan apa saja 10 poin Hak Anak Indonesia (HAI). Di rumah Sahabat Anak poster dipajang. Pada saat jambore lagu HAI dibuat dan dinyanyikan bersama. Manfaat bermain itu pun ditulis besar-besar di punggung kaos kegiatan.

Hamburan pujian banyak terlimpah untuk Sahabat Anak yang sudah menyelenggarakan acara jambore ini kesekian kali. Saya sangat mengapresiasi kebaikan hati mereka semua. Betapa ini adalah hal mulia yang sebetulnya bisa dilakukan banyak orang. Ada sekitar 600 orang mahasiswa dan pekerja yang menjadi pendamping adik-adik ini. Ada pula sejumlah orang yang sibuk menjadi panitia yang repot bekerja sejak empat bulan sebelumnya. Para donatur dan pihak pemerintah, sejumlah artis ibukota, juga keluarga yang bergabung di hari H acara, tentu semua punya niat baik untuk sekitar 1100 anak-anak ini. Tentu nilai-nilai baik pula yang ingin kita ajarkan kepada anak-anak bukan? Misalnya, perihal sopan santun, semangat sekolah, menolong orang, hidup bersih, dan juga kedisiplinan.

Sebab itulah saya gemas ketika acara ini mengalami keterlambatan atau kekurangan fasilitas yang mendukung tujuan baik itu. Saya dan adik-adik dari SA Tanah Abang berangkat pukul lima pagi dari Tanah Abang ke Pasar Minggu. Mereka bahkan sudah bersiap dan berbaris sejak pukul empat pagi. Semangat mereka sangat menggebu. Lalu kami tiba di Kebun Binatang Ragunan pukul 5.30 dan menunggu. Setelah registrasi, kami masuk ke dalam Kebun Binatang dan menjadi yang pertama berfoto kelompok dan masuk ke arena panggung pembuka. Kami lalu menunggu kedatangan 28 kelompok tenda lain yang datang beriringan satu persatu ke lapangan rumput depan panggung itu.

Matahari mulai meninggi. Rangkaian acara pembukaan memakan waktu lama. Sambutan sana-sini, pelepasan balon, menyanyikan yel-yel berurutan, absensi, hiburan, doa pembuka, tanda tangan artis, semua itu menghabiskan banyak waktu. Acara Amazing Race (berkeliling Ragunan sambil menyelesaikan permainan di tiap trek) yang seharusnya dijadwalkan mulai pukul 8 pun harus mundur hingga pukul 10. Anak-anak mengeluhkan kepanasan dan mulai tidak tahan untuk tidak berlarian. Berkali-kali mereka bertanya kapan acara main dimulai dan kapan pergi ke tenda. Ini adalah sebuah hal yang wajar. Sebagian besar peserta JSA adalah anak usia sekolah dasar. Di kelompok tenda saya saja ada dua anak usia 6 tahun. Karena Amazing Race dimulai pukul 10 itu, beberapa anak mulai kelelahan. Meski begitu, semua tertutup semangat untuk melihat binatang-binatang idola dalam kebun binatang. Keterlambatan berikutnya menyusul ketika acara jalan kaki secara ular naga menuju lokasi kemah Ragunan. Iring-iringan 1700 orang tentu butuh pengaturan luar biasa. Kelompok tenda kami meminta untuk jalan lebih dulu mengingat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Anak-anak kecil ini sudah lelah. Sementara mereka masih harus berjalan satu kilometer dari Kebun Binatang ke Bumi Perkemahan. Namun, saya berterima kasih kepada tim dari Tagana yang membantu kelancaran perjalanan kami sepanjang ruas jalan raya Ragunan.

Yang patut menjadi catatan evaluasi adalah panitia dan semua pihak yang terlibat wajib ingat bahwa peserta jambore ini anak-anak dan remaja dengan rentang usia 5/6 tahun yang belum bersekolah hingga usia 17/18 tahun yang baru saja lulus sekolah menengah. Kegiatan yang dilakukan memang sudah diusahakan panitia memenuhi semua kebutuhan anak ini. Namun, ada baiknya jika beberapa kegiatan dipisahkan sesuai kebutuhan usia anak. Anak usia SD akan lebih sulit menunggu dan diminta diam selama sekian jam sebab mereka adalah anak usia aktif bergerak. Berbeda pula dengan anak remaja yang menginginkan jenis permainan yang sesuai usia mereka. Sementara itu, saya mengesampingkan kebutuhan kakak pendamping sebab itu bukan prioritas yang harus dipuaskan dalam jambore ini.

Terkait itu pula, saya bingung sekali ketika pada malam hari di panggung hiburan muncul artis pendatang baru Emily Laras dengan pakaian dress seksi yang mengingatkan saya pada Syahrini. Penonton di sana adalah semua anak peserta jambore dan juga kakak pendamping tentunya. Lalu Emily Laras menyanyikan lagu “Dont Sleep Away” Daniel Sahuleka itu yang dengan miris kocak bertentangan dengan Janji Peserta JSA nomor tiga. Saya menyukai kedatangan band yang saya lupa namanya menyanyikan lagu Laskar Pelangi atau Kepompong, juga dongeng musik Kak Resa yang kelihatan disukai anak-anak kecil. Isi acara untuk anak, maka wajib hukumnya setiap detil acara untuk memenuhi kebutuhan anak, sesuai dengan kebutuhan psikologis anak dan juga mendidik kebaikan untuk anak. Sebaiknya panitia memilah urutan acara. Acara dongeng dan lagu anak ditaruh di jam awal sehingga bisa dinikmati anak kecil. Ketika memasuki acara remaja dan dewasa, anak-anak usia kecil bisa diajak pulang dan tidur di tenda. Dengan begitu, kebutuhan hiburan anak remaja tetap bisa terpenuhi tanpa melanggar hak anak yang lebih kecil.

Ohya, masalah besar berikutnya adalah masalah air dan kebersihan. Begitu sampai di tenda, acara mandi jadi agenda repot untuk anak-anak dan pendamping sebab ternyata kamar mandi yang berfungsi baik hanya kurang dari 10 saja. Lampu tak ada di beberapa kamar mandi. Panitia menyediakan bilik mandi semacam di lokasi pengungsian, tetapi tak ada ember dan air. Jadi, sebagian besar anak dan kakak kreatif sekali memakai keran di masjid untuk keramas dan sikat gigi. Yang menyedihkan, ada anak kecil yang mencoba buang air besar di selokan tempat wudu yang kecil itu. Dari sini saja adik-adik dan kakak mulai kesulitan menaati janji JSA nomor delapan. Urusan kebersihan sampah memang bisa tertangani dengan baik. Anak-anak paham dimana sampah harus dibuang dan acara operasi semut adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Kritik saya untuk pengelola Buper Ragunan, seharusnya segala fasilitas diperbaiki dan dipersiapkan untuk menampung kebutuhan penyewa lokasi. Ini penting demi kenyamanan bersama.

Kegiatan permainan hari Minggu sangat ditunggu. Sembilan pos permainan yang disiapkan panitia sangat menarik dan disukai anak-anak. Anak usia SD, SMP, dan SMA, serta kakak pendamping juga terlibat dalam permainan bersama-sama. Saya bisa merasakan bahagianya tawa anak-anak di balik keringat semangat mereka. Saya yakin perasaan saya sama dengan kakak pendamping lain, terutama yang baru pertama kali ini punya kesempatan bergaul bersama anak jalanan. Kamilah yang sangat beruntung mendapat pengalaman tidur di terpal tenda sementara selama ini tidur santai di kasur empuk. Kami yang dapat pengalaman tidak mandi dan kesulitan buang air dengan nyaman. Pengalaman kebersamaan sosial itulah yang coba dibangun. Kebersamaan anak berkuku gompal hitam bersandal kotor dan kakak bersepatu kets dan berkulit kaki halus.

Kepada Sahabat Anak saya berterima kasih, dan kepada anak-anak itu saya sangat berterima kasih. Belajar dan bermain dan hidup layak adalah hak mereka.

Sahabat Anak Tanah Abang