Mengambil Ide dari Novel, Mengubah Jadi Persuasi

Di kelas 10 siswa akan mendapatkan topik persuasi di pelajaran Bahasa Indonesia. Coba guru tanyakan ke siswa, pasti mereka bisa menyebutkan berbagai contoh aplikasi kalimat ajakan yang mereka temukan di kehidupan.

  • Resensi (buku, film, musik)
  • Iklan (komersial, layanan masyarakat)

Nah, guru bisa langsung mengajak siswa mendesain sebuah promosi dengan bahasa persuasif tentunya. Inspirasinya bisa diambil dari novel sastra yang sudah siswa baca. Nah, ini beberapa contohnya:

 

Dalam satu poster ada dua materi. Yang atas adalah resensi novel Genduk. Yang bawah adalah promosi wisata ke Gunung Sindoro, latar novel Genduk. Kegiatan yang dilakukan dalam wisata itu juga berdasarkan bagian dalam novel. Ini bisa diwujudkan betulan oleh guru jadi wisata sastra!
Ini gemas sekali. Membuat promosi kue nastar karena dalam cerita Genduk, ada tokoh yang menawarkan kue nastar ke Genduk. Satu bagian cerita berubah menjadi karya iklan. Keren!

Kegiatan ini juga bisa dipakai untuk penilaian guru. Guru dapat melihat beberapa hal sebagai bahan penilaian.

  • Apakah siswa sudah menampilkan kalimat persuasi?
  • Apakah sudah cukup bisa mempersuasi pembaca?
  • Apakah penggunakan kalimat sudah koheren? Ejaan dan tanda baca sesuai EBI?
  • Apakah karya ditampilkan dengan desain yang menarik dari segi bahan, warna, komposisi tulisan, dll.?

Silakan dicoba yaa, ibu bapak guru! ๐Ÿ™‚

 

 

Belajar Narasi dengan Minidrama

Menurut KBBI V, narasi adalah…

Setelah tahu pengertian, lalu bagaimana menerapkan cara membuat narasi? Ini saya bagi kegiatan yang sudah pernah saya lakukan bersama siswa kelas 10 SMA ya.

  1. Ajak siswa membaca contoh narasi langsung. Bisa gunakan novel, atau cerpen jika rencana pelajarannya hanya sebentar. Minta siswa memahami betul-betul cerita yang dimaksud.
  2. Temukan unsur pembentuk narasi. Siswa akan melihat bahwa dalam narasi terdapat: Tokoh, Aksi, dan Alur. Kisah dibawakan dalam sebuah Sudut Pandang. Ini penting agar siswa paham ketika membuat narasi mereka sendiri.
  3. Menulis narasi baru dengan mengganti sudut pandang. Ajak siswa mengubah cerita yang sudah mereka baca itu menjadi cerita dengan sudut pandang tokoh lain. Contoh: Saya dan murid sedang menggunakan novel Genduk karya Sundari Mardjuki. Sudut pandang yang digunakan adalah Genduk, seorang anak gadis. Nah, tantangan siswa adalah menceritakan ulang salah satu fragmen cerita dengan sudut pandang Sapto, teman lelaki Genduk. Atau sudut pandang Yung, ibu Genduk. Siswa bisa tulis ulang kalimat per kalimat dengan mengubah “kata ganti tokoh”. Misalnya, dalam novel disebutkan Sapto menawariku kue nastar diubah menjadi Aku tawari Genduk kue nastar yang kubawa.
  4. Menambahkan pikiran tokoh. Ini bagian asyiknya. Siswa bisa menduga dan menciptakan cerita tambahan versinya sendiri. Misalnya, Genduk tidak tahu mengapa Sapto menawarinya kue nastar, maka siswa boleh memberi tahu pembaca bahwa ternyata Sapto menyukai Genduk.
  5. Membacakan dan memerankan narasi. Hasil naskah narasi baru yang berbeda sudut pandang itu kemudian dipentaskan dengan sederhana di kelas. Minidrama! Secara berkelompok, siswa berbagi tugas menjadi narator, Genduk, dan Sapto. Lalu narator akan membacakan tulisan narasi versi mereka. Siswa yang berperan sebagai Genduk dan Sapto akan melakukan apa yang dibacakan narator. Saat ada bagian dialog, pemeran Genduk dan Sapto akan mengucapkan dialognya. Kira-kira seperti di foto ini contohnya.
Adegan Genduk dan Sapto bertemu usai acara Wiwitan. (Gideon, Jessica, Kemal, 10M 2017)

Contoh lain misalnya ini.

Adegan Yung memarahi Genduk usai acara Wiwitan. (Anli, Keisha, Mario, 10M 2017)

Bagaimana guru menilai? Boleh gunakan rubrik dengan aspek penilaian:

  1. Perubahan sudut pandang baru pada naskah narasi
  2. Koherensi kalimat pada naskah narasi
  3. Ejaan dan tanda baca pada naskah narasi
  4. Vokal dan akting pada pembacaan narasi
  5. Intonasi dan pelafalan pada pembacaan narasi
  6. Properti/Kostum pendukung pada pembacaan narasi

Kegiatan ini bisa dilakukan dalam waktu 4 x 40 menit durasi pelajaran. Lama pentas per kelompok cukup 5 menit saja. Respon yang saya dapatkan, mereka bilang minidrama ini seru dan asyik. ๐Ÿ™‚

Menulis Berita Berdasarkan Novel

Tahun ajaran 2017-2018 ini saya kembali mengajar siswa kelas 11. Saya senang, karena saya memang suka materi-materi di level ini. Salah satunya yaitu berita. Dalam kurikulum KTSP disebutkan siswa kelas 11 diharapkan menguasai cara menyampaikan informasi berita. Mereka akan diajak membuat naskah berita, dan juga praktik membacakan berita. Nah, sebelum mereka membacakan berita, tentu siswa harus memahami dulu seperti apakah naskah berita, dan bagaimana cara menulis naskah berita. Sekolah yang menggunakan novel sebagai bahan pembelajaran sastra bisa juga menggapai materi ini sekaligus. Berikut saya jabarkan tahapan-tahapan membuat assessment berita menggunakan novel.

  1. Membaca bagian novel yang mengandung informasi sejarah.ย Saya dan siswa kelas 11 tahun ini sedang membaca novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Kami membaca bagian Buah Gugur dan mencari peristiwa sejarah di sana. Ditemukanlah informasi tentang KNIL yang dibubarkan oleh Jepang akibat kekalahan Belanda.
  2. Menemukan unsur 5W1H. Kami kemudian mencari unsur 5W dan 1H dari bagian novel itu. Unsur ini disusun menjadi kerangka tulisan. Paragraf 1 atau Kepala Berita adalah What-Where-When-Who-Why, paragraf 2 atau Badan Berita adalah How, dan paragraf 3 adalah Ekor Berita.
  3. Menyusun naskah yang aktual. Saya minta siswa membayangkan bahwa mereka benar-benar menjadi wartawan di masa Jepang itu. Mereka sungguh-sungguh mengalami peristiwa agar syarat AKTUAL dapat terjadi. Ini penting dilakukan saat menyusun naskah.
  4. Merangkai kalimat. Gunakan konjungsi dan gaya bahasa ala surat kabar. Boleh juga ditambahkan kalimat langsung seolah-olah tokoh dalam novel benar-benar diwawancarai oleh siswa.

Nah, ini salah satu pekerjaan murid yang bagus betul hasilnya. ๐Ÿ™‚

Belanda Berlutut, Dai Nippon Ambil Alih

(Jumat, 20 Maret 1942) ย Dini hari, pukul 06.00 pagi, radio Jepang “Cahaya Asia” Cabang Surakarta mengumumkan pengambilalihan properti-properti Konin Klijk Nederlands Indisch Leger yang berupa aset militer serta kepemilikan pribadi tentara-tentara KNIL.

Rumah-rumah perwira KNIL telah diklaim sebagai jarahan perang dan kemudian ditempati oleh perwira-perwira Jepang. “Saya bersama keluarga saya diusir dari Tangsi Militer Magelang,” ungkap Brajabasuki, seorang mantan perwira KNIL yang dulunya berpangkat kapten. “Sekarang saya tinggal di sebuah rumah kecil di Kampung Patrabangsan.”

Sejak berdirinya pemerintah militer Jepang di Hindia Timur, Tangsi Militer Magelang telah dijadikan markas operasi polisi militer Jepang. Pengambilalihan Hindia Timur oleh Jepang telah memperkuat posisinya di Pasifik Selatan. Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengeluarkan pernyataan: Matahari telah terbit dari Timur.

  • Fayes Gatri (11G, Agustus 2017)

Proyek Menulis Persuasi

Karena sekarang sedang tren gaya tulisan dengan poin-poin seperti “Lima Alasan Kamu Harus Pilih ini” atau “10 Fakta Tentang Si Anu”, maka saya coba ajak murid untuk menulis gaya tulisan serupa.

Murid kelas 10 baru saja menyelesaikan membaca novel Atheis, maka jadi saat yang pas untuk membuat tulisan yang mengajak siswa lain untuk membaca novel ini juga. Ini sesuai dengan objektif pembelajaran yaitu membuat tulisan persuasi. Ini salah satu contoh karyanya.

20161129_130638
Karya: Ferandra Tiodora, Jasmine Sativa, Rachel Savy (10J, 2016) Mereka mencetak tulisan di kertas lain kemudian menempelkannya di kertas dasar. Tapi itu bukan bagian menariknya. Yang membuat aku suka adalah gaya bahasa mereka. Khas remaja periang.

Bebaskan anak memilih warna dan gambar yang mereka inginkan. Tapi, tentu saja harus yang sesuai dan mendukung konten. Guru dan murid bisa membuat kesepakatan di awal. Berikan juga rubrik penilaian di awal agar anak tahu ekspektasi yang diharapkan. Saya mengatakan bahwa harus ada dua konten persuasif yang mesti mereka tunjukkan dalam karya mereka. Satu konten harus berkaitan dengan novel Atheis, dan satu lagi bebas tentang apa saja asalkan persuasif. Maka mereka boleh membuat iklan, atau resensi, atau tips. Yang penting target pembacanya adalah remaja.

20161128_082205
Karya: Alicia, Ayu Laksmi, Nadia Alma (10D, 2016) Kertas bertuliskan Atheis dan Rudy Habibie itu bentuknya semacam buku, bisa dibuka. Jadi hemat ruang dan ada semacam info rahasia di baliknya.
20161129_105643-1
Karya: Benayu Hagie, I Gusti Lanang Wira, Stevanus (10M, 2016) Mereka membayangkan novel Atheis diluncurkan ulang. Dapat tanda tangan penulis, tapi bukan berarti penulisnya hadir di acara itu yaa ๐Ÿ™‚

 

 

Permainan Kalimat Persuasif

Ini yang saya dan murid lakukan di TSAD (Teacher and Staff Appreciation Day) tahun 2016 ini. Saya jadi murid dan diminta guru (yang adalah muridku) untuk bermain dengan kata persuasif.

screenshot_20161129-160336

Cara mainnya begini:

  1. Guru menyiapkan beberapa kata dalam kartu undian. Satu bundel kata ajakan/perintah dan satu bundel kata benda.
  2. Dua siswa akan maju dan memilih satu kartu kata.
  3. Dengan berpasangan, siswa akan menyusun kalimat dengan merangkai kata secara bergantian.
  4. Setiap pasangan akan melakukan hal yang sama dengan kata yang berbeda. Pemenangnya adalah yang bisa membuat kalimat paling panjang, sepanjang-panjangnya.

Kegiatan ini pas dilakukan untuk 20 murid (10 pasang) selama 30 menit.

Contohnya bisa dilihat di video ini yaa… ๐Ÿ™‚ ย https://youtu.be/8nzEP1goU-g

 

 

 

 

Belajar Lagi dari Ahmad Tohari

SAM_1148

Agak sulit saya menulis cerita panjang tentang pengalaman memandu acara Author Talk tanggal 1 Juni lalu. Itu hari yang terlalu menyenangkan. Jelas saja, bisa berbincang kembali dengan Ahmad Tohari yang terkemas dalam acara sekolah yang asyik. Jadi, yang akan saya bagi di sini adalah kesan-kesan utama saja.

Saya membuka sesi Bincang Pengarang itu dengan kalimat, “Terakhir kita mengobrol seperti ini tahun 2007 ya Pak, waktu saya nulis skripsi (Sensor Atas Karya Sastra). Sekarang, bahagia sekali saya bisa membawa Bapak untuk mengobrol santai lagi, tidak hanya dengan saya, tetapi juga dengan murid-murid saya…”

Saya lalu bercerita bahwa malam sebelumnya (31/5), kami (Heny, Roys, saya) menjemput Pak Tohari di Bentara Budaya Jakarta. Kami tidak tahu bahwa malam itu ada acara Malam Jamuan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Kami juga tidak tahu bahwa cerpen pemenangnya adalah “Anak Itu Mau Mengencingi Jakarta?” karya Ahmad Tohari. Acara belum usai, ia justru buru-buru pulang dari acara dan ikut kami pulang ke Serpong. Saya tanya, “Mengapa Pak? Padahal Bapak bintangnya malam itu.” Beliau menjawab sederhana, “Saya sudah membuat janji dengan kalian akan menuju Serpong jam 9 malam. Ya, saya harus penuhi janji saya.” Teringat piala patung Nyoman Nuarta yang terbungkus kardus di jok belakang mobil jemputan saya malam itu, saya kembali mengejar, “Lalu, seberapa penting sebuah penghargaan untuk Bapak?” Jawabnya, “Saya tidak mengejar penghargaan. Tugas saya menulis. Jika kemudian ada yang memberi penghargaan, tentu saya apresiasi.”

Sebelumnya, acara sudah dimulai dengan pementasan drama fragmen novel Ronggeng Dukuh Paruk oleh kelas 11. Saya duduk di sebelah Pak Tohari persis, jadi saya bisa lihat dia senyum, tertawa pada adegan yang lucu, dan juga saat dia dua kali mengambil tisu untuk mengusap haru di matanya.

SAM_1054

Setelah pentas drama itu selesai, Pak Tohari dengan sigap langsung menuju panggung dan mengajak para pemain berfoto. Lalu, dia menghampiri para pemain, menyalaminya satu persatu dengan hangat.

SAM_1121

Kembali lagi ke sesi tanya jawab. Setelah menjawab satu dua, Pak Tohari memutuskan untuk berdiri. Penonton bertepuk karenanya. Mungkin Pak Tohari merasa ucapannya akan lebih terasa jika disampaikan dengan penuh karib. Ada banyak yang dia sampaikan, beberapa tentang hal-hal yang sudah saya ketahui sebelumnya dari wawancara dulu dan beberapa literatur. Satu yang sangat saya suka hari itu, dia mengajak murid (dan juga guru atau siapapun) untuk mulai menulis. Katanya: Tulislah kisah cinta yang cengeng, tidak apa-apa… Tulislah puisi cengeng, tidak apa-apa… Yang penting kamu mulai menulis…

SAM_1175

Malam sebelumnya, saya bilang padanya, besok ada sesi tanda tangan. Kalau Bapak nanti lelah, mungkin cukup beberapa buku saja. Saya bisa buatkan kuis, pemenangnya boleh minta tanda tangan Bapak. Namun, dia langsung jawab, tidak… saya akan tanda tangani semua bukunya selama saya bisa. Dan benar saja, setumpuk buku milik murid dan guru ludes dia tanda tangani semuanya.

SAM_1189

Ya, begitulah. Saya belajar banyak lagi dari lelaki ini. Seorang sederhana yang tak membela siapapun selain rasa kemanusiaan, ajaran Tuhan yang paling hakiki.

 

Cara Menganalisis Pidato

Ini salah satu cara untuk menganalisis pidato yang saya lakukan kemarin bersama murid kelas 12. Mereka membaca naskah Pidato Pelantikan Joko Widodo, 2014, “Di Bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi”. Murid membaca dengan saksama, memahami struktur pidato itu, kemudian diminta untuk mencari satu quote yang menarik baginya.

Berikut ini beberapa contoh jawaban murid-murid saya.

photo 1 (5)

“Dan kita tidak pernah betul-betul merdeka tanpa kerja keras.” Kalimat ini saya pilih karena kalimat tersebut merupakan suatu motivasi bagi orang-orang Indonesia agar ikut serta dalam membangun negeri. Kalimat ini juga bisa dijadikan quote dalam hidupย kita saya agar tidak malas-malasan dalam belajar supaya bisa lulus kelas SMA. (Felicia, 12B, 2016)

photo 3Satu kalimat yang bisa dijadikan quote adalah “Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri” karena kalimat ini memiliki efek yang kuat (penduduk negara maritim) dan sangat pas dengan salah satu isi pidato Joko Widodo, yaitu untuk mengembalikan status negara maritim. ย (Bayu, 12C, 2016)

photo 2 (4)

“Kita akan kembangkan layar yang kuat”. Arti yang saya tangkap adalah untuk selalu berjuang, tidak mudah menyerah atau goyah. Saya memilih ini karena sikap ini diperlukan bagi para pemuda Indonesia. Karena dari pengalaman saya, generasi muda ini, setidaknya teman-teman saya, kebanyakan mempunyai sikap dan mental pasrah dan mudah menyerah. Oleh karena itu, pengeluhan-pengeluhan yang dikeluarkan dari mereka tidak akan membantu mereka untuk menjadi orang yang sukses. (Kris, 12A, 2016)

Bagus-bagus ya jawabannya? Menurut saya ini adalah salah satu bentuk aplikasi belajar yang asyik. Apa yang dipelajari bukan sekadar teori, tetapi benar-benar bisa murid kaitkan dengan kehidupan mereka sendiri. Semacam, ada hikmahnya, begitu. ๐Ÿ™‚