Kerudung

Sebuah siang yang panas. Ruang kelas SD Kelas 1 itu terasa semakin panas. Mungkin hanya aku yang merasakannya sebab Netha menggelendoti aku dan menembakkan pertanyaan panas itu. Ia yang cerewet luar biasa itu memang tidak bisa membendung pertanyaan apapun yang melintas di benaknya. Yang jelas, pernyataan dan pertanyaan Netha klai ini sangat mengguncang.

“Miss, I want to see your hair…” ujar Netha dengan manjanya.

Kujawab, “Oh, sorry dear, you can’t…”

“Why, Miss?”

“Well, you can’t.”

“Why??”

Yeah, why? Aku mulai tergagap. Ruang kelas terasa semakin panas.

“Umm, yea, just can’t.”

Netha menyerbu.

“Miss, kenapa sih muslim harus pakai kerudung?”

“Hanya yang perempuan, kok…” jawabku berusaha tenang.

“Iya, Netha tau. Tapi kenapa perempuan muslim harus pakai kerudung?”

“Iya, Miss, kenapa, sih?” Albert yang duduk di sebelah Netha tiba-tiba ikut bertanya. Rupanya sejak tadi ia mengikuti pembicaraan kami. Anak ini juga sama cerewetnya dengan Netha.

“Mmm, kenapa, ya?” Aku berusaha mengendalikan pembicaraan sambil mencari-cari jawaban yang tepat untuk kusampaikan pada mereka. Ini pertanyaan yang agak riskan. Bingung aku memilih kata agar tak menyinggung sesuatu yang berkenaan dengan kepercayaan mereka. Tapi kuputuskan untuk bicara saja, nanti idenya juga akan ketemu di sepanjang aku bicara berbusa.

“Mmm, kamu tau kan, perempuan itu makhluk yang indah. Do you agree? Iya loh, perempuan itu makhluk yang cantik, kan?”

Netha mengangguk senang. Albert mengangguk cengengesan.

“Naaah, makhluk yang indah itu harus dilindungi. Kalau gak dilindungi,nanti bisa dinakali orang-orang jahat. Seperti kupu-kupu, ia harus dilindungi supaya sayapnya yang cantik nggak mudah patah.”

Aku memperhatikan wajah ingin tahu mereka. Sejenak aku ragu apakah kalimatku mudah untuk mereka. Jangan-jangan mereka nggak mengerti. Aku juga sedikit ragu dengan perumpamaan kupu-kupu tadi. Apakah tepat hubungannya. Tapi begitu melihat mereka mengangguk-angguk, kuanggap jawabanku berterima.

“Mmm, kamu pernah lihat nggak, ada perempuan yang dinakali orang jahat, karena dia pakai rok yang terlalu pendek? Terus dia dinakali laki-laki gitu.”

Albert menyambar, “Dicolek-colek gitu, ya?”

Oh my God, dari mana dia tahu? Oh, TV mungkin.

“Iya, kayak begitu. Kan kalau dinakali gitu, nanti perempuannya bisa marah, bisa sedih. Kasihan, kan. Nah, perempuan muslim diajak pakai baju panjang, atau pakai baju tertutup, supaya nggak dinakali laki-laki.”

Aku menahan napas dua detik, sambil berharap cemas penjelasanku masuk akal buat mereka. Aku belum tahu alasan lain yang bisa kuajukan jika mereka masih belum puas dengan penjelasan itu. Ternyata, setelah itu jantungku harus berguncang untuk kedua kalinya.

“Ih, Islam baik, ya!” cetus Netha.

“Iya, ya!” sahut Albert, masih sambil cengengesan.

Aku ternganga.

– Jakarta, 2008

Membuat Naskah Pidato berdasarkan Cerpen?

Ini satu contoh tugas integrasi antara materi menulis naskah pidato dan materi pemahaman sastra. Saya coba lakukan ini bersama siswa kelas 10. Dengan menggunakan buku antologi Cerpen Pilihan Kompas 2009, guru memilih beberapa cerpen yang bisa dijadikan dasar penulisan naskah pidato. Siswa akan menjadi salah satu tokoh dalam cerpen yang mereka pilih. Misalnya, Asia Soenargo, murid saya, memilih cerpen “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” dan membuat pidato pledoi Sang Ibu. Dia menghayati tokoh dan kemudian menuliskan pembelaan dirinya dalam peristiwa pembunuhan suaminya. Hasilnya luar biasa menarik! 🙂

Pidato Pembelaan Ibu Radian dalam pengadilan atas pembunuhan Ayah Radian

“Saya tidak bersalah”

Selamat siang, saudara-saudara sekalian. Hari ini saya akan menyatakan bahwa saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah atas pembunuhan suami saya. Saya telah melakukannya, tetapi saya tidak bersalah atas hal itu. Saya tidak merasa bersalah karena saya hanya melakukannya untuk membela diri saya sendiri.

Pembunuhan ini hanya saya lakukan untuk membela diri saya sendiri. Suami saya telah menganiaya saya selama bertahun-tahun. Tentu saja, sudah hal yang layak dan wajar ketika suatu hari emosi saya meledak dan membunuhnya. Hal yang terus ditahan, lama-lama tidak akan bisa dibendung lagi. Hari itu, saya sudah tidak tahan lagi. Selama ini, saya tidak bisa melapor ke siapa-siapa. Saat saya menceritakan penganiayaan yang dilakukan suami saya terhadap saya pada ibu dan bapak saya, hal itu yang mereka katakan. Saya tidak punya pilihan lain. Selain itu, ia juga telah mendesak dan menganiaya anak saya, Radian. Radian juga anaknya, tetapi ia tetap berlaku kasar kepadanya. Jujur saja, saya takut. Saya takut akan apa yang akan terjadi kepada Radian apabila pada suatu saat nanti, saya yang meninggal terlebih dahulu daripada suami saya. Saya terus bertanya kepada diri saya sendiri tentang hal yang mungkin terjadi kepada anak saya, dan kalau saya tega membiarkannya terjadi kepada anak saya sendiri. Saya tidak ingin Radian mengalami hal buruk seperti saya. Saya khawatir akan kesehatan mental anak saya nanti. Ia masih muda, tetapi masih bisa mendapatkan trauma yang dapat melekat kepadanya bertahun-tahun nanti. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bukankah sudah tanggung jawab orang tua untuk menjaga anaknya? Suami saya tidak dapat melakukan hal itu. Oleh karena itu, tentu saja saya harus melakukannya dengan lebih baik lagi untuk Radian. Saya harus melakukannya.

Saya memang menyesal. Mungkin saja ia dapat berubah dengan cara selain kematian. Mungkin saja ia bisa berhenti minum-minum dan menjadi sosok ayah untuk Radian. Oleh karena itu, saya hanya meminta keringanan. Siapa yang akan menjaga Radian nanti? Saya tidak mau anak saya sendirian tanpa orang tua. Ia masih muda. Saya tidak mau ia kehilangan kedua orang tuanya oleh karena kematian. Jangan eksekusi saya. Selamat siang. Terima kasih.

Cerpen dan Ilustrasi

“Mengapa gambarnya begitu?”

Murid sering menanyakan ini kepada saya ketika membaca buku kumpulan cerpen. Tentu saya lemparkan balik pertanyaan itu kepada mereka, “menurutmu kenapa?” Jawaban mereka bermacam-macam, kebanyakan tentu saja merujuk pada kedekatan hubungan isi cerpen. Kadang mereka mengajukan ide gambar lain yang menurutnya lebih baik.

Pertanyaan itu juga sempat terucap ketika saya bersama murid kelas 10 membaca cerpen “Ayat Keempat” karya Joni Syahputra di buku Cerpen KOMPAS Pilihan 2009. Di sana ada ilustrasi karya Budi Kustarto yang melukiskan seorang lelaki berkepala buntung. Kepalanya dipegang sendiri di tangan kiri, sementara tangan kanan memegang keris. Beberapa murid mengatakan gambar itu persis betul dengan tokoh Johan yang dibicarakan dalam cerpen. Galak dan tegas.

Image

 

Setelah membaca cerpen, saya ajak murid untuk menganalisis unsur intrinsik cerpen. Sebelumnya, saya minta murid untuk membuat ilustrasi sederhana untuk latar kejadian. Peristiwa dalam cerita terjadi di daerah Solok, Sumatera Barat. Tepatnya, di sebuah rumah gadang. Maka, murid-murid pun menggambar rumah gadang di kertas analisis mereka. Dengan menggambar, mereka jadi sadar betul seperti apa lokasi kejadian dalam cerpen.

Image

Setelah itu, murid menganalisis tokoh protagonis dan antagonis serta mencari karakternya. Namun, sebelumnya saya minta mereka menggambar ilustrasi tokoh. Beberapa anak membayangkan rupa tokoh dengan begitu baik, beberapa lainnya menyerah hanya menggambar stick-man saja. Tidak masalah, yang penting murid telah coba membayangkan tokoh. Ini juga cara yang menyenangkan untuk anak-anak yang punya kesukaan menggambar. Hasilnya bisa mereka pamerkan ke teman sebangku atau sekelas. Atau minimal, kertas analisis mereka jadi lebih menarik sebab ada ilustrasi buatan mereka sendiri.

Image

Guna Pelawak

Pelawak

Saya mudah kagum pada analisis murid yang berbeda dari kebanyakan jawaban murid lainnya. Ini adalah salah satu contohnya. Anastasia Shierly (kelas 11) menuliskan ini ketika menganalisis cerpen “Klown dengan Lelaki Berkaki Satu” karya Ratna Indraswari Ibrahim. Apa guna pelawak di dunia ini? Ini jawabnya.

“Menjadi seorang pelawak tidak harus dijadikan profesi. Kelucuan seorang pelawak adalah manifestasi sederhana dari relaksasi. Jika tidak ada pelawak sama sekali di dunia, dunia akan menjadi lebih muram dan diisi hanya oleh hal-hal yang artifisial dan kosong. Hiburan memang dapat ditemukan dalam bentuk yang lain, namun tidak sesederhana sebuah tawa.”

Menceritakan Cerpen

Saya punya satu contoh aktivitas yang bisa digunakan untuk melihat kemampuan murid membaca cerpen dengan intensif. Saya tulis tiap-tiap langkah agar mudah ditiru, ya. 🙂

1. Guru memilih sebuah kumpulan cerpen yang akan dibaca murid di kelas. Yang sudah saya lakukan adalah saya ajak murid kelas 10 membaca buku Cerpen Pilihan Kompas 2009.

IMG-20130222-03879

2. Pilih sejumlah cerpen yang akan dianalisis. Bagi kelas menjadi sejumlah kelompok dan beri satu cerpen yang berbeda.

3. Murid akan diajak membuat poster yang berisi hasil pembacaan mereka atas cerpen tersebut. Bagikan karton polos.

4. Guru menjelaskan detil materi yang harus ada dalam poster mereka. Bagikan rubrik penilaian agar murid tahu apa yang harus dicapai.

5. Dalam kelompok, setiap anak berbagi tugas membahas materi isi poster:

Sinopsis; Daya tarik cerpen berdasarkan unsur intrinsik; Nilai-nilai dalam cerpen (nilai sosial, nilai budaya, nilai religi); dan Keterkaitan dengan peristiwa nyata (berita).

6. Beri waktu dalam kelas untuk mengerjakan poster. Bebaskan mereka berkreasi dengan bahan dan desain.

7. Selama mengerjakan poster, murid dipersilakan berdiskusi dengan guru untuk memancing sejauh mana pembacaan mereka terhadap cerpen.

Image

8. Selesai membuat poster, murid kemudian akan mempresentasikan hasil pembacaan mereka di depan kelas. Pastikan murid bisa menjelaskan tulisan mereka dengan berbicara langsung, bukan sekadar membaca ulang tulisan di poster.

9. Murid lain harus menyimak agar murid mendapat informasi dari berbagai cerpen yang berbeda. Murid dari kelompok lain dipersilakan mengajukan pertanyaan dan kelompok di depan sebisa mungkin harus bisa menjawab sendiri sesuai tafsiran mereka.

10. Usai presentasi, poster dipajang di kelas. Guru bisa memberi tambahan tasfir atas cerpen. Murid dipersilakan melihat karya temannya.

IMG-20130221-03871

IMG-20130221-03873

Membaca Cerpen Horor di Kelas

Di kelas 10 tadi, seorang anak keburu menyeletuk, “Aduh, aku nggak suka baca cerpen, nih!”  Padahal, satu buku Cerpen Kompas Pilihan 2009 akan kami pelajari selama satu semester ini.  Saya kemudian bilang, saya akan ajak kalian untuk menikmati cerpen pertama dengan suasana horor. Saya tambahkan bahwa mereka harus memperhatikan peristiwa apa yang terjadi dan siapa pelaku sebenarnya dalam cerita itu. Saya minta bantuan kepada murid-murid untuk menciptakan suasana tenang. Satu dua anak bahkan meminta agar lampu kelas dimatikan saja. Ketertarikan mereka pada kisah horor sangat membantu proses belajar kali ini. 

Sebelum dimulai, saya minta setiap anak menyiapkan satu lembar kertas kosong. “Perhatikan setiap kalimat yang akan saya instruksikan.” Murid-murid mulai bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan. Satu anak lelaki yang biasanya selalu berisik berkata, “Ih, kayaknya seru, nih!” Saya lanjutkan. “Buat sebuah lingkaran yang tidak terlalu besar di tengah kertas kalian.” Murid melakukan. “Simpan dulu kertas kalian, kita akan mulai membaca.”

“Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” karya Avianti Armand, itulah cerpen yang kami baca berantai. Saya minta setiap anak membaca satu paragraf, bergiliran dengan teman di sebelahnya. Sementara yang lain wajib diam dan menekuri buku masing-masing. Satu per satu murid membaca dengan gaya pembacaan mereka masing-masing. Satu suara pembaca dan kesepian kelas membuat suasana menegang. Sesekali ada cekikik tawa tertahan dari beberapa anak ketika menemukan diksi yang menurut mereka menggelikan.

Cerpen selesai dibaca. Napas terhela. Langsung saya katakan, “Tentu ada kesan yang tercipta setiap kali kita selesai membaca karya sastra. Sekarang, ambil kertas yang bergambar lingkaran tadi. Tuliskan di dalam lingkaran itu, satu kata yang terlintas di otak kalian, yang mewakili perasaan kalian setelah membaca cerpen tadi.” 

Beberapa anak terlihat kebingungan. Saya persilakan setiap anak untuk menuliskan apapun perasaan yang mereka rasakan usai membaca cerpen tentang pembunuhan itu.

Image

Beberapa murid saya tembak untuk berbagi. Ada yang bilang, rasanya aneh. Mengapa aneh, tanya saya. Si murid menjawab, tokoh anak kecil bernama Radian yang menggambar lukisan seram itu sangat aneh.

Saya tersenyum dan berkata, “Jangan-jangan, aneh itu sebab kamu menilai dari sudut pandang kamu. Bagaimana jika kamu yang menjadi Radian?” Kelas saya ajak membayangkan, apa rasanya kalau menjadi tokoh. Ini yang harus kita lakukan ketika menganalisis cerita. Kita perlu melihat dari sisi tokoh sehingga nanti kita bisa memahami mengapa konflik bisa terjadi. Setelah itu, kita bisa gali apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis. Juga, adakah nilai-nilai yang bisa kita ambil dari cerita horor ini?

Maka saya ajak murid untuk menjadi Radian, anak kecil yang dianggap aneh tadi, sebab diduga telah membunuh ayahnya. Saya minta mereka melakukan kalimat yang dituliskan sang pengarang di ujung cerita. Begini kutipannya:

Di batas paling bawah dari kertas, tertulis dengan huruf-huruf besar yang mencang-mencong: PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN

Bagaimana cara membuat tulisan yang mencang-mencong? Saya berkata, “Kamu menjadi Radian. Lakukan apa yang Radian tulis “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” itu di bagian bawah kertas kalian, dengan menggunakan tangan yang tidak biasa kalian gunakan untuk menulis sehari-hari.” 

Riuh suara murid mencoba. Murid-murid berkomentar: gampil, aneh, susah, geregetan, biasa saja, kok serem hasilnya. 

Image

Image

Mungkin itu rasanya ketika kita memahami tokoh. Aneh, membingungkan, atau mungkin malah biasa saja. Perasaan menjadi tokoh itulah yang perlu kita gali dalam membaca sastra sehingga nanti kita bisa paham kenapa sebuah cerita mesti ada.

Dicky dan Kamera

Dicky punya mainan baru. Hadiah dari ayah ketika liburan semester satu. Sebuah kamera! Senang sekali dia. Yah, memang bukan kamera baru. Itu kamera digital ukuran saku yang biasa dipakai ayahnya ketika bekerja. Ayah Dicky sudah membeli kamera baru untuk keperluan kerjanya. Jadi, kamera lama itu pun diberikan kepada Dicky.

Sekarang Dicky selalu membawa kamera ke sekolah setiap hari. Jika ada teman yang bertanya tentang benda apa yang menggantung di lehernya, dia akan menjawab, “Ini kamera digital!” Dia begitu senang melihat wajah teman-teman yang memandangnya kagum. Dia merasa hebat memiliki kamera itu. Semua teman kelas 4 tahu hal itu. Bahkan kakak kelas 5 dan 6 juga cemburu. Dicky jadi satu-satunya pemilik kamera digital di sekolah. Kamera milik sendiri, bukan milik orang tua lagi.

Dengan kamera itu, Dicky bisa memotret apa saja. Segala jenis benda difotonya. Saat pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, kamera itu akan bergoyang-goyang di leher Dicky. Setiap menemukan objek menarik di perjalanan, ia akan berhenti menggenjot sepeda. Difotonya semua benda yang menarik matanya. Sebatang pohon kelapa. Seekor kucing kurus. Seonggok kapal kayu. Sebutir batu karang.

Karena berhenti untuk memotret di perjalanan ke sekolah, suatu hari Dicky pun terlambat datang ke sekolah. Ibu guru menegurnya, dan bertanya mengapa.

“Tidak biasanya kamu terlambat datang ke sekolah. Sampai setengah jam begini. Kenapa, Dicky?” tanya Bu Riana, guru kelasnya.

“Saya… Saya memotret, Bu,” jawab Dicky takut.

Kamera yang menggantung di leher Dicky bergoyang ringan. Bu Riana pun menggeleng pelan. Ia persilakan Dicky masuk ke dalam kelas. Sekaligus Bu Riana memberi isyarat, sepulang sekolah Dicky harus menemuinya. Ada sesuatu yang harus dibahas.

Dicky jadi tidak fokus belajar hari itu. Ia tidak mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Diliriknya kamera yang berada dalam tas sekolah. Kemudian, Dicky mencolek lengan Neli.

“Kamu sudah kerjakan PR IPA untuk besok?” tanya Dicky.

“Oh, sudah. Kenapa?” tanya Neli kembali.

“Aku mau lihat jawaban kamu. Boleh?”

“Kamu sudah kerjakan sendiri belum?”

“Belum, sih.”

“Yah, kamu coba kerjakan sendiri dulu, dong! Baru nanti kamu boleh lihat jawabanku.”

“Hmmhh,” sahut Dicky malas-malasan.

Dicky memerhatikan Bu Riana. Ia sedang sibuk menerangkan soal kepada teman-teman di barisan depan. Dicky memerhatikan Neli. Ia sibuk mengerjakan soalnya sendiri. Saat itulah sebuah ide tercetus di kepalanya. Dicky mengeluarkan kamera digitalnya. Diarahkannya kamera itu ke kertas dalam buku PR Neli, dan… cekrek! Cekrek! Cekrek! Dicky memotret jawaban Neli!

“Yak! Waktunya selesai! Silakan kalian kumpulkan latihan hari ini!” ujar Bu Riana.

Dicky kaget. Ia bereskan kamera cepat-cepat. Dia kembalikan buku Neli ke dalam tas. Ia menengok kanan kiri. Tidak ada yang melihat dia melakukan itu. Ah, aman, pikirnya.

***

Siang hari di ruang guru. Dicky harus bertemu dengan Bu Riana, berbicara tentang masalah datang terlambat hari itu. Bu Riana mengulang pertanyaan yang sama, kenapa Dicky terlambat datang ke sekolah. Dicky pun mengulang jawaban yang sama, karena ia memotret.

“Memotret itu sebuah hobi yang bagus.” Bu Riana melanjutkan kata.

Dicky berbinar mendengar jawaban Bu Riana. Ia merasa keren ketika memegang kamera. Dengan membawa kamera ke mana saja, Dicky merasa hebat.

“Coba, boleh Ibu lihat hasil karya foto kamu pagi ini?”

Dengan sigap Dicky menyerahkan kamera itu pada Bu Riana.

“Ibu lihat saja sendiri. Foto saya bagus-bagus!” seru Dicky bangga.

Bu Riana menyalakan kamera. Ia membuka arsip foto dalam kamera. Sebuah foto tampil dalam layar. Wajah Dicky berseri-seri. Sebaliknya, kening Bu Riana berkerut. Ia mendapati sebuah foto tulisan di kertas buku. Digesernya foto itu ke foto sebelumnya. Sebuah gambar kertas lainnya. Foto berikutnya, lagi-lagi sama. Foto berikutnya, sebutir batu karang. Seonggok kapal kayu. Seekor kucing kurus. Sebatang pohon kelapa.

Jari Bu Riana mengembalikan foto kembali ke foto tulisan di kertas buku itu. Dengan dahi berkerut, Bu Riana menunjukkan gambar itu kepada Dicky.

“Ini apa?”

Dicky tersentak kaget. Itu foto jawaban PR Neli yang ia contek tadi. Tiba-tiba Dicky lemas. Ia tertangkap basah.

“Dicky, memotret itu sebuah hobi yang bagus. Tapi bisa jadi hobi yang tidak bagus, ketika salah digunakan.”

Dicky hanya bisa menunduk malu.

“Sibuk memotret sampai terlambat datang ke sekolah, itu bukan hal yang bagus. Lalu, memotret pekerjaan orang dengan tujuan yang tidak baik, bagaimana menurut kamu?”

Dicky diam saja. Namun, ia sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Dengan kamera ia merasa lebih hebat dari anak-anak lainnya. Bahkan dengan kamera ia jadi lupa waktu dan mencontek pekerjaan teman. Ia sadar, sebuah benda yang berfungsi baik seharusnya digunakan untuk hal-hal yang baik juga.

Dicky mengangkat muka dan berkata kepada Bu Riana, “Maafkan saya, Bu.”

Bu Riana hanya mengangguk. Ia senang Dicky menyadari sikapnya tadi. Ia kemudian tersenyum dan berkata, “Ibu suka foto kapal kayu kamu.”

Dicky pun tersenyum.