Catatan Kecil untuk Farewell My School

20140508-160923.jpg

Waktu yang pas untuk menonton film semestinya bisa membuat makna film jadi lebih kena di hati. Itu yang terjadi pada saya ketika menonton film dokumenter Farewell My School di ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia, Sabtu 26 April 2014. Sabtu itu, pagi harinya saya menghadiri wisuda sekolah. Saya menangis di sana, ketika bersalaman dengan murid-murid yang sudah bersama saya selama tiga tahun di SMA. Ada murid yang bertanya, “kenapa menangis?” Jawabnya, karena pengalaman bersama membentuk sebuah perasaan sentimentil. Saya rasa itu juga yang dialami Lintang, tokoh sentral dalam film dokumenter 13 menit ini. Dia murid Rawinala, sebuah sekolah pendidikan dwituna. Lintang menyandang low vision blind, tidak buta total, melainkan bisa melihat meski samar. Penonton diberi kesempatan melihat seperti apa cara Lintang membaca. Sebuah proses belajar yang mengiris hati. Semakin menyayat hati ketika Lintang mesti menghadapi perpisahan dengan temannya. Acara yang disuguhkan begitu baik sebab menampilkan kemampuan siswa, hasil yang telah dicapai selama sekolah. Lintang bermain drum, menunjukkan keahliannya bermusik. Teman lain bermain keyboard dan bernyanyi. Penampilan hebat yang memancing air mata dan membuat saya banjir tangis juga.

Ucu Agustin mengambil sudut tokoh anak dan persahabatannya. Perpisahan dengan teman yang senasib jadi lebih terasa mengharukan untuk Lintang. Bagaimana jika sudut yang diambil adalah guru? Atau orangtua Lintang? Tentu tangis dan penceritaan yang keluar akan berbeda. Bisa jadi mungkin lebih mengena untuk orang yang merasa perpisahan bagi anak adalah hal yang biasa saja.

Penyalahgunaan Sensor Film

Berikut ini adalah paragraf argumentatif untuk topik debat karya murid saya di soal ujian harian Bahasa Indonesia SMA Kelas 12. Sebuah masukan bagus dari pikiran remaja untuk perfilman kita.

ketika-lembaga-sensor-film-katakan-tidak1

Sementara orang-orang ribut mengenai pornografi dan hal-hal yang tidak senonoh dalam sebuah film, saya sebagai seorang remaja yang akan melangkah menuju umur yang dianggap dewasa mempertanyakan penggunaan sensor film di Indonesia. Sebagai pihak kontra, saya menyataan bahwa sensor film tidak diperlukan.

Pada dasarnya semua film memiliki batasan umur bagi penontonnya. Para produser sudah menargetkan karya mereka kepada umur-umur tertentu. Lantas mengapa hal tersebut tidak bisa dianggap cukup? Mengapa film harus melalui sensor lagi? Tidak hanya pada layar lebar bioskop. Film-film Barat yang ditayangkan di televisi dalam acara tengah malam juga harus melalui sensor. Sebenarnya apa gunanya sebuah sensor? Mengapa perempuan-perempuan di pantai menggunakan bikini dipertunjukkan, tetapi perempuan menggunakan pakaian dalam terkena sensor? Mengapa adegan seks dilarang, tetapi adegan pembunuhan dibiarkan saja dan disiarkan ke seluruh negara?

Orang-orang mungkin tahu film Hansel and Gretel: The Witch Hunter. Pada bioskop TransTV saat hampir tengah malam, film itu diputar. Dan benar saja, adegan seks dalam film itu langsung dipotong, tetapi adegan mereka memotong-motong bagian badan dan kepala tetap disiarkan. Apakah sebenarnya yang ingin dicapai dengan penggunaan sensor film?

Kita semua tahu bahwa dalam sebuah tayangan selalu ada batasan umur. U untuk Umum, BO untuk Bimbingan Orangtua, R untuk Remaja, dan D untuk Dewasa. Pada dasarnya produser akan menghindari hal-hal yang berdampak buruk untuk anak-anak untuk film umum. Yang saya tidak mengerti adalah mengapa film dewasa harus melewati sensor? Orang dewasa lebih bertanggung jawab dan tahu benar hal-hal di film tersebut yang membuat sebuah film distempel sebagai “untuk dewasa”. Tidak seperti anak-anak yang masih serba ingin tahu dan coba-coba. Tentu kita sebagai orang dewasa tidak akan mencoba-coba menusuk orang dengan gergaji, bukan?

Pada dasarnya sensor film Indonesia sebaiknya dihentikan, karena yang dipertunjukkan kepada umum adalah adegan berdarah-darah penuh kekerasan serta bahasa kasar yang dianggap lulus sensor. Hal ini dapat merusak psikologi anak yang bisa beranggapan bahwa seks adalah hal tabu tetapi pembunuhan dan kekerasan adalah hal yang wajar.

Dengan ini saya simpulkan bahwa sensor film lebih baik ditiadakan atau direvisi kembali, karena hal tersebut dapat merusak mentalitas maupun pandangan anak dan remaja kebanyakan.

– Hosiana Eunike, 24 Februari 2014

sumber gambar: tourismnews.co.id

 

Isu Anak-Anak di #FestivalSinemaPrancis

Catatan ini harus saya buat, mengingat ada beberapa isu tentang anak yang muncul dengan menarik di Kompilasi Film Pendek Indonesia di Festival Sinema Prancis, Kineforum, Sabtu (7/12) kemarin. Total ada delapan film pendek yang diputar, tapi ada tiga film yang menarik perhatian saya.

Lembar Jawaban Kita
IMAG0808
Saya suka isu yang diangkat film ini: Ujian Nasional. Materi yang diangkat Sofyana sudah banyak saya dengar karena saya tahu sejumlah kasus kecurangan dalam pelaksanaan UN. Sebetulnya ini sudah jadi rahasia umum (sudah banyak juga yang membocorkannya ke publik) bahwa guru dan murid bekerjasama untuk berbagi jawaban dalam UN. Buat yang belum pernah tahu kasus gilanya UN, adegan guru di akhir cerita bisa jadi kejutan yang mengagetkan. Saya tidak kaget, tapi tetap saja sedih melihatnya.

Adegan bertukar jawaban antarmurid sengaja diberi musik komikal. Penonton jadi tertawa-tawa. Entah, mungkin mereka geli melihat anak kecil bisa kompak sekali menyiasati gelagat curang. Atau mungkin penonton mendapati diri mereka sendiri di sana. Saya sendiri bergeming. Sedih. Satu yang saya suka, cara kamera membuka adegan awal film. Ibu-ibu digiring polisi, lalu “dimasukkan” ke balik jeruji besi. Rupanya itu adalah pagar sekolah. Rupanya ibu-ibu itu adalah wali murid, dan rupanya polisi itu adalah penjaga keamanan Ujian Nasional. Hahaha, adegan ini membuat saya tertawa ngenes. Cuma di Indonesia lho ada ujian anak sekolah yang mesti dijaga oleh aparat keamanan macam kerusuhan! Gila! Tapi nyata ada. Film ini perlu sekali ditonton unsur mendukung kampanye #HentikanUN dan #petisiUN. Saya yakin Sofyana akan mendukung kampanye itu.

Halaman Belakang
IMAG0809
Ceritanya bisa membuat penonton awam bengong karena tak paham buat apa menyajikan gambar anak kecil yang sibuk bermain, bermain, dan bermain saja tanpa ada masalah. Padahal, justru “masalah” hadir dan ada di sana. Kita bisa menemukannya dalam sejumlah kode bunyi dan sikap tokoh dewasa. Tapi apa yang dilakukan si anak? Dia terus bermain-main saja. Entah tidak peduli, entah tidak tahu. Namun di akhir cerita saya melihat anak ini hirau juga pada sekitarnya. Sebab itulah ia merasa kesepian dan “tak senang” yang terlihat dari warna hitam putih yang dipakai Yusuf dalam film ini.

Kausalitas
IMAG0810
Idenya tak baru. Sudah banyak dibahas oleh psikolog di surat kabar tentang kausalitas sikap anak di sekolah/lingkungan dengan pengalaman hidup di rumah. Pelajar yang terlibat tawuran bisa disebabkan oleh adanya kekerasan yang dilihat atau dialami di rumah. Sebetulnya premis ini masih bisa menarik ditonton kalau saja para pemain dewasa bisa berakting natural. Aktor anak yang bermain di sini malah bisa berakting lebih baik. Film ini bolehlah dijadikan contoh visual untuk pembelajaran bimbingan konseling di sekolah.

Hasil kompetisi ini sudah diumumkan. Yusuf Radjamuda dengan “Halaman Belakang” dihadiahi gelar Sutradara Terbaik dan berhak ke ajang film pendek internasional Clermont-Ferrand, Prancis. Satu lagi, BW Purbanegara dengan filmnya “Kamu di Kanan Aku Senang” sebagai Penulis Skrip Terbaik dapat hadiah belajar selama sebulan di sekolah sinematografi di Paris. Sementara Sofyana Ali Bindar dan “Lembar Jawaban Kita” mendapat penghargaan khusus juri. Selamat!

Temani Aku Bunda

Pukul 8 pagi, Sabtu 6 April lalu, saya sudah ada di Epicentrum XXI Jakarta. Saya datang untuk menonton “Temani Aku Bunda” bersama Kresha Aditya dan Deta Ratna Kristanti dari Bincang Edukasi. Suasana ramai oleh orang-orang yang sering terlibat di acara pendidikan. Kami tertawa satire atas pertanyaan kenapa yang datang orang-orang ini lagi. Seharusnya acara pendidikan ini ditonton juga oleh para pejabat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

IMG-20130406-03982

Temani Aku Bunda adalah sebuah video dokumenter. Footage video diambil oleh Irma Winda Lubis, seorang ibu yang menjadi tokoh utama dalam film ini. Ia dan suami berjuang untuk anaknya, Abrar, yang terintimidasi oleh pihak sekolah SD yang menyuruh Abrar untuk memberikan jawaban Ujian Nasional kepada teman-temannya. Anda harus saksikan sendiri video ini dan lihat betapa mengenaskannya orang dewasa (guru dan kepala sekolah) menyuruh anak untuk berbuat jahat. Ada rekaman jelas bagaimana guru meminta anak-anak murid  pintar untuk membuat kesepakatan untuk merahasiakan kecurangan yang akan berlangsung di ujian esok harinya. Gila, sekolah mendoktrin anak kecil untuk tidak jujur! Menyontek jelas perbuatan curang. Dan kecurangan itu diajarkan di sekolah? Anda bisa bayangkan sendiri, apa jadinya generasi mereka nanti. Generasi sakit.

IMG-20130406-03984

Jika Anda berminat untuk memiliki DVD video ini, atau mengadakan kegiatan nonton bersama dan diskusi, silakan hubungi kampunghalaman.org. Video ini perlu ditonton oleh murid, guru, orang tua, pihak sekolah, dan semua yang memang peduli pendidikan yang jujur.

IMG-20130406-03983

Ujian Nasional masih tidak membawa keuntungan jelas untuk bangsa ini. Reposisi fungsi Ujian Nasional mesti dilakukan segera. Cek laman petisi UN ini dan beri dukunganmu untuk pendidikan Indonesia!

IMG-20130406-03990

Ice Age dan Geografi

Hola! Siapa di sini guru geografi?

Tadi saya nonton film Ice Age 4 dan langsung kepikiran, “Wah ini bahan seru banget buat diskusi pelajaran Geografi!” Dari Ice Age 1 sampai 4, itu kan rangkaian cerita proses tumbuh kembang bumi ini. Semua materi ajar geografi ada di situ. Potongan film Ice Age bisa dipakai untuk prolog pembelajaran geografi. Guru lalu memoderatori murid untuk diskusi kelas. Ambil cupilkan film yang bisa jadi bahan diskusi. Misalnya, opening Ice Age 4 untuk topik ‘lapisan bumi’. Guru bisa ajak murid bandingkan teori lapisan bumi dengan adegan si Scratch tupai itu.

Kasih pertanyaan skeptis: Samakah dengan teori yang kamu temukan di buku? Mungkinkah tokoh film itu melakukan hal itu di inti bumi? Kartun. Anak-anak suka itu. Harusnya ini bisa jadi pembuka diskusi yang seru di kelas. Pancing dengan pertanyaan yang membuat murid bernalar. Semacam “Mungkinkah hal itu terjadi?” atau “Bagaimana jika terjadi sebaliknya?” Akhir cerita film Ice Age itu bisa sekali jadi bahan berpikir kritis. Apa yang terjadi selanjutnya dengan bumi?

Menurut teman saya yang seorang geologist, film Ice Age 4 sukses menggambarkan proses pembentukan benua dengan sederhana. Pas untuk anak. Dalam film itu, patahan atau tumbukan lempeng bumi dideskripsikan dengan cepat. Anak dapat visualisasi proses. nah, guru bertugas mendampingi murid untuk selalu skeptis pada adegan film. Misal: mengapa tak ada tsunami saat lempeng bumi patah?

Untuk anak SD, bisa juga Ice Age 4 dipakai untuk belajar sains dasar. Dulu bumi satu benua, lalu pecah, lalu… putar filmnya! 🙂 Hasil diskusi bisa ditampilkan dalam banyak cara. Buat gambar proses; komik lanjutan cerita; presentasi hipotesis geologist cilik.

Tentang benua Atlantis yang hilang! Guru kasih beberapa teori ilmuwan tentang itu, bandingkan dalam film Ice Age 4, biarkan murid yang diskusi.

Apa lagi ya? Ah, guru geografi kreatif pasti bisa cari ide-ide manrik tentang pembelajaran seru di Ice Age itu. Atau sudah ada yang pernah coba belajar pakai film Ice Age ini? Berbagi dong ke guru dan ortu lain di sini.

Sang Penari: Geger Merah Tanpa Sensor

Saya butuh dua kali nonton untuk menerima film Sang Penari dalam hati saya. Pada kesempatan nonton pertama, saya datang sebagai penggemar novel Ronggeng Dukuh Paruk yang gembira ria sebab novel ini telah difilmkan lagi. Di tahun 1980-an sutradara Yasman Yazid dan PT Gramedia Film memang sudah memfilmkannya dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Saya belum menonton film itu, makanya saya begitu bersemangat untuk menonton film Sang Penari karya sutradara Ifa Isfansyah ini. Saya sampai lupa tak memperhatikan detil poster film yang menyatakan bahwa Sang Penari adalah sebuah film yang terinspirasi dari novel.

Sebab disebut terinspirasi, sudah seharusnya saya tidak boleh memaksakan kehendak imajinasi saya hadir dan terpuaskan dalam film tersebut. Tapi nyatanya hal itu tak bisa saya hindari. Saya, bersama dua kawan saya yang sama-sama penggila novel tersebut, sibuk berceloteh ‘tidak terima’ atas sejumlah interpretasi yang dilakukan Salman Aristo, Shanty Harmayn, dan Ifa. Kami lupa bahwa ini adalah sebuah transformasi karya sastra, dan sudah seharusnya sebuah kebebasan penerjemahan dan penafsiran diberikan kepada pembuat transformasi tersebut. Bahkan Ahmad Tohari si pembuat novel pun begitu bijak mempersilakan siapa saja menafsirkan karyanya di sini.

Jadilah di kesempatan nonton yang kedua saya dapat lebih menerima dan merasakan Sang Penari ini dari hati. Saya menikmati pergerakan alur yang dibuat flashback, yang tentu saja berbeda dengan novelnya. Adegan dibuka dengan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang telah menjadi tentara, datang menengok sebuah kampung yang sepi. Sebuah gambaran pengantar Dukuh Paruk usai tragedi 1965. Lalu Rasus menemukan Sakum (Hendro Jarot) si buta yang terpojok di gubuk dan meminta Rasus mencari Srintil.

Cerita pun baru bergulir, kembali ke tahun 1953. Dukuh Paruk hidup dengan kebanggaan akan ronggeng Surti (Happy Salma), penduduk yang riang, dan masa kanak-kanak Srintil dan Rasus. Lalu terjadilah peristiwa keracunan massal tempe bongkrek buatan Santayib, bapak Srintil, yang menewaskan banyak warga termasuk ronggeng dukuh itu. Ini adalah peristiwa penting yang menandai motivasi utama Srintil ingin menjadi ronggeng. Sebuah laku wujud bakti pada dukuh dan juga penebus dosa orang tua. Sebuah penanda keintiman hidup warga Dukuh Paruk mulai hadir di adegan ini. Srintil dan Rasus kecil tidur bersama di rumah Rasus dan diketahui ibu mereka. Serupa itulah persaudaraan yang terjalin di dukuh miskin yang lebih sering hanya bisa makan gaplek ketimbang beras itu.

Adegan beranjak ke tahun 1963. Srintil dan Rasus telah remaja. Dukuh Paruk tampak hijau. Tentu ini berbeda dengan gambaran yang ada di dalam novel. Dukuh Paruk di sana adalah daerah yang sangat gersang bahkan untuk mencabut singkong saja anak-anak kecil mesti membasahi tanah dengan air kencing mereka. Namun dalam film, bocah-bocah gundul itu mencabut singkong dari tanah yang gembur. Pemakluman tentang ini harus sangat diberikan jika kita tahu bahwa tim produksi setidaknya telah berusaha menunggu kemarau datang hingga enam bulan lamanya, tetapi sayang kemarau dan latar kekeringan tidak datang juga.

Srintil (Prisia Nasution) mulai berdialog dengan Rasus di bagian awal ini. Saya menyukai logat Banyumasan mereka yang cukup medok. Kisah cinta mereka, yang memang merupakan inti dari film ini, digambarkan dengan begitu manis. Rasus digambarkan sebagai pemuda polos yang cenderung terlihat dungu. Namun, ia juga seorang pemuda gesit, dan semacam terpandai di antara pemuda dukuh lainnya. Gaya pacaran mereka sederhana, sesederhana memecah buah pepaya di atas batu.

Jiwa ronggeng Srintil mulai dibuka oleh dialog Srintil dan Sakum di depan makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk. Semangat Srintil untuk meronggeng ini ditangkap oleh Sakarya (Landung Simatupang), kakek Srintil, yang kemudian mendatangi Kartareja (Slamet Rahardjo) sebagai dukun ronggeng di dukuh itu. Ada keengganan dalam diri Kartareja sehingga membuatnya tidak datang ke ngibing pertama Srintil. Adegan ini sukses diperankan Prisia dengan wajah muramnya. Ia mampu menjiwai seorang gadis yang belum pandai menari tetapi berhasrat besar untuk membalas dosa emak bapaknya.

Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak dukuh. Seluruh warga menyukai ronggeng sebab itu adalah budaya yang begitu mengakar. Namun, kalimat “Ronggeng ku kayak pohon kelapa. Sapa bae bisa slaman slumun manjat.” menjadi sebuah gugatan seorang kekasih atas dunia ronggeng. Sayangnya, Srintil begitu ingin njoget sehingga Rasus pun mendukungnya dengan memberikan keris Ronggeng Surti. Dukungan itu nyatanya tidak dari hati sebab Rasus melarikan diri ketika malam peresmian Srintil. Apalagi ketika acara bukak klambu digelar sebagai syarat ‘dadi ronggeng’. Penonton di luar budaya ini bisa terkaget-kaget bahwa serupa itulah seksualitas dan harta dimaknai dalam budaya yang tak terjamah agama. Di sini saya puas dengan akting Nyai Kartareja (Dewi Irawan) yang lugas memerankan dukun ronggeng alias mucikari, yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari seorang ronggeng binaannya. Ia juga yang berperan merawat, menasehati, dan mengatur Srintil untuk menghadapi para lelaki.

Srintil sukses menjadi ronggeng sementara Rasus lari dari ketidakmampuannya bersaing dengan lelaki lain. Ia masuk dalam dunia militer awal Indonesia dan menjadi pesuruh yang cekatan. Ia diasuh tokoh Sersan (Tio Pakusadewo), diajari untuk lebih gagah sekaligus belajar membaca. Karakter Rasus berkembang seiring berkembangnya pula kesenian ronggeng di dukuh yang mulai disusupi tokoh Bakar (Lukman Sardi) yang membawa istilah pertentangan rakyat dan borjuis.

Pergerakan kegalauan cinta Srintil pada Rasus cukup ditampilkan dengan baik dalam beberapa penggalan adegan: Emohnya Srintil menari sampai berani menolak Pak Marsusi, jampi-jampi telur ajian putus cinta, iri hati melihat orang menikah, sampai bayi Goder yang memancing hasrat keibuannya. Adegan-adegan itu saya pikir cukup bisa menyiasati permusuhan antara alur novel yang begitu detil dengan durasi film yang tidak bisa panjang.

Kemunculan bagian yang disensor
Yang saya paling puas dari film ini adalah visualisasi kejadian 1965 yang menimpa warga Dukuh Paruk. Ahmad Tohari si pengarang novel pun puas. Ia sendiri tidak membuat deskripsi yang begitu jelas tentang adegan penyiksaan atas warga Dukuh Paruk, atau pembunuhan atas Bakar dan kawan-kawan PKI. Beberapa deskripsi yang ditulisnya tentang rumah tahanan saja sempat disensor oleh Koran Kompas ketika tulisan tersebut muncul pertama kali sebagai cerita bersambung di tahun 1981. Meskipun kemudian bagian yang disensor itu muncul kembali dalam trilogi novel yang disatukan dalam satu buku Ronggeng Dukuh Paruk terbitan Gramedia tahun 2003.

Sebab film ini dibuat di era kebebasan berbicara sekarang, maka pembuat film bisa asyik bereksperimen menyampaikan beragam kode pada penonton melalui benda atau dialog. Kita bisa lihat caping yang dicat merah, arit yang dipegang petani, atau juga mendengar kata ‘merah’ dan ‘dewan revolusi’. Tak ada lagi sensor atas penyebutan Puterpra (Perwira Urusan Teritorial Perlawanan Rakyat) sebagaimana dulu Kompas tak berani menyajikannya. Penonton bisa melihat Sersan Pujo sebagai perwakilan tentara dan keberpihakannya dengan jelas atau adegan pembunuhan aktivis PKI dengan sangat gamblang. Ini sebuah catatan perfilman yang menyenangkan ketika sebuah sejarah gelap bangsa ini mulai dibuka dalam karya film yang nyata. Masyarakat bisa tahu, seperti itulah keadaan buruk yang menimpa banyak saudara kita yang dengan mudah dituduh PKI. Kepolosan warga Dukuh Paruk yang tahu membaca pun tidak kontras diadili dengan kekejaman tentara yang mendapat amanat membersihkan komunis sampai ke akar rumput.

Tafsir atas bagian akhir novel dan bagian akhir film memang sangat berbeda. Saya puas dengan penggambaran penjara Eling-Eling dalam novel yang divisualkan dengan lorong, ruang semacam bunker, gedung tua, yang menampung ratusan tertuduh PKI yang tak bersalah itu. Ketidakpuasan saya terjadi pada satu dua adegan yang tidak jelas memperlihatkan alur akhir hidup Srintil. Dalam novel tertulis Srintil menjadi gila, dan itulah akhirnya. Jelas ini bukan akhir yang menyenangkan untuk penonton kita. Ada proses hebat yang menjadikannya seperti itu, yang agaknya ditampilkan dalam sepotong adegan yang tidak cukup jelas bagi penonton awam. Srintil dibawa Darsun (Teuku Rifnu) kepada seorang lelaki dan diserahkan dengan kalimat “yang penting tidak malu-maluin”. Srintil menyembur ludah ke cermin dan sangat marah sampai ia dikembalikan lagi ke penjara. Mungkin ini adalah perwakilan bagian novel ketika Bajul menjual Srintil pada bosnya. Dan di situlah harga diri Srintil terkoyak dan membuatnya gila.

Seperti apa yang dikatakan Ifa bahwa Sang Penari adalah film cinta, maka sad ending yang sangat tragis itu sepertinya memang dihindari oleh pembuat naskah. Film ini mendramatisasi pertemuan Rasus dan Srintil dengan sangat baik, dan sekaligus mengarahkan pembaca pada dugaan horor dengan kepergian lori yang membawa Srintil dan tahanan lainnya. Beberapa penonton yang bukan pembaca novel menduga Srintil mati. Lalu kemudian, latar berubah menjadi Pasar Dawuan tahun 1975, atau kira-kira 10 tahun setelah adegan kepergian lori itu. Rasus menemukan Srintil meronggeng di sana. Rupanya ia mengamen bersama Sakum. Penonton tidak perlu tahu bagaimana kemudian Srintil bisa selamat dari tragedi merah. Penonton diajak memahami leraian bahwa Rasus menyerahkan keris kepada Srintil. Lalu Srintil pergi bersama Sakum, dan terus menari sepanjang jalan kampung. Sebuah akhir cerita terbuka yang menyenangkan hati pembaca, tetapi tidak mampu membuat saya menangis seperti akhir novel yang begitu mengguncang rasa kemanusiaan saya.

Tulisan ini agaknya bisa berkembang menjadi skripsi kedua atau tesis idaman saya. Namun, sampai di sini, saya sudah cukup terpuaskan. Sebuah film yang mengambil ide dari karya sastra Indonesia sangat perlu didukung dan diapresiasi sehebat mungkin. Apalagi jika di dalamnya membawa misi untuk membuka mata kita dan dunia atas ragam sejarah kelam bangsa kita.

Jenis film: drama
Produksi: Salto Films
Produser: Shanty Harmayn
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Pemain: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Landung Simatupang, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma.
Durasi: 111 menit
Rilis: November 2011

Sanctum

Kalau di film Sanctum, peribahasa “sambil menyelam minum air” terasa begitu harfiah. Film drama perjalanan tim eksplorasi gua yang terjebak banjir dalam gua bawah tanah itu mementahkan peribahasa tadi. Ya, ketika kau terjebak air di mana-mana, dalam gua gelap tak ada cahaya kecuali senter yang habis batere pula, maka berenang dan menyelam mencari jalan keluar bukan lagi jadi pilihan, melainkan keharusan.

 

Yang saya tahu, keadaan lelah dan panik memancing emosi dan mematikan pikiran. Saya pernah mengalaminya ketika naik gunung. Nah ini, perjalanan manusia yang dihajar alam di Sanctum ini, menimbulkan pertengkaran antar manusia, depresi lalu menyerah, bahkan niatan membunuh satu dengan yang lain. Maha dahsyat arti lelah dan lapar, keduanya mematikan ketenangan berpikir, lalu membunuh kemanusiaan.

Yah, saya mulas nonton ini. Perut bergejolak. Ibu bapak saya yang nonton bareng saya juga sama mulas. Kami menutup film bukan dengan menghela napas, tapi justru menghirup. Syukurlah, kami masih punya napas bebas.