Tentang Rambut di Toilet

photo (3)

“Cuma mau bilang, yang buang rambut di wastafel tolong dibuang sendiri, dikumpulin + taro di tempat sampah. Do not depend on ISS. It’s your trash.

Thank you,

Whoever you are ๐Ÿ™‚

PS: Rambutnya bikin wastafel kesumbat. Kasian ISS.”

 

Ini saya temukan di toilet perempuan di lantai 4 gedung sekolah saya. It’s kinda sweet. Bentuk kepedulian siswa pada pekerja cleaning service yang setiap hari menjaga kebersihan di sekolah.

Kertas ini sudah hampir dua bulan menggantung di tembok. Pernah saya tanya pada ibu petugas kebersihan di situ: kenapa tidak dicopot?ย Jawabnya sederhana: Nggak apa-apa, saya senang dibantu begini. ๐Ÿ™‚

Cara Memakan Novel Atheis

Akhirnya merasakan juga satu semester mempelajari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Kenyang, dari Agustus sampai Desember 2015 lalu. Awalnya kebetulan memang. Buku bersampul hijau ini diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka. Jadinya saya berani mengusulkan untuk pakai buku ini sebagai bahan bacaan wajib di sekolah. Maklum, untuk mengajukan penggunaan suatu buku, guru harus memperhitungkan ketersediaan buku di penerbit. Akhirnya, jadilah buku ini bisa dipakai oleh ratusan siswa kelas 10 sekolah saya.

Ada banyak juga yang sudah kami (saya dan murid) lakukan terhadap novel ini. Berikut ini saya susun beberapa cara memakan novel ini. Semoga siswa Anda juga bisa jadi lahap ya makannya. ๐Ÿ™‚

  • Reading Response. Sebetulnya semua aktivitas yang dilakukan sepanjang semester adalah merespon bacaan. Bentuk Reading Response biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan panduan tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik novel. Biasanya dicetak di kertas sebagai handout dan assessment siswa. Berikut ini contohnya:

Bacalah bagian 1-3 novel Atheis, kemudian carilah sudut pandang siapa yang sedang berbicara dalam bagian itu? Mengapa terjadi perbedaan sudut pandang pencerita?

Perhatikan tabel yang berisi kutipan novel Atheis ini. Tentukan manakah kutipan yang mengandung nilai budaya! Mana saja buktinya?

  • Game Benar atau Salah. Dengan memakai papan kertas bertuliskan B dan S, permainan ini lumayan seru dilakukan. Guru menampilkan powerpoint berisi kalimat-kalimat dari novel. Murid bergiliran memegang papan B dan S itu. Murid kemudian akan menebak, apakah pernyataan di papan tulis itu Benar atau Salah. Permainan ini juga bisa dilakukan lisan saja, tidak perlu pakai proyektor dan komputer. Guru tinggal menyebutkan satu kalimat, lalu siswa menebak.

photo (2)

  • Mengumpulkan nama semua tokoh. Dengan siswa mengumpulkan nama tokoh, siswa bisa sambil mengingat kembali apa peran dari masing-masing tokoh. Bisa pula sebagai bahan analisis tentang karakter tiap tokoh.
  • Mencari deskripsi. Siswa dapat menilai langsung bagaimana bentuk paragraf deskripsi yang digunakan pengarang dalam novel. Jadi, guru bukan hanya mengenalkan teori deskripsi saja, bukan hanya mencontohkan potongan paragraf deskripsi saja. Siswa jadi tahu fungsi deskripsi dalam sebuah bacaan. Siswa bisa bilang, “Ohh, ini yang namanya deskripsi, bisa membuat cerita jadi lebih detail, ya.”
  • Teka Teki Silang. Nah, ini favorit siswa saya. Mereka suka sekali mengerjakan TTS yang pertanyaannya berdasarkan novel ini. Untuk membuat TTS, guru harus mencari sejumlah kata yang akan dibuat jawaban. Bisa diambil dari nama tokoh, nama lokasi, atau kata khas di dalam novel. Untuk membuat TTS, saya biasanya menggunakan aplikasi di web ini: ย http://worksheets.theteacherscorner.net/make-your-own/crossword/
  • Game detektif. Ini baru saya coba buat setelah saya tahu anak-anak sangat suka misteri. Mendekati akhir cerita, siswa akan bertanya-tanya tentang akhir nasib Hasan si tokoh utama. Saya persiapkan sebuah permainan. Sebuah kertas bertuliskan “Apa penyebab kematian Hasan?”. Lalu setiap kelompok siswa diberikan sebuah amplop yang berisi potongan petunjuk. Siswa kemudian berdiskusi, memisahkan mana yang fakta dan opini. Kemudian siswa akan menyimpulkan, berdasarkan fakta yang ada, Hasan meninggal dengan cara apa.

photo (1)

  • Menulis resensi. Setelah siswa selesai membaca novel dengan tuntas, kegiatan ini bisa dilakukan. Ajak siswa menuliskan kritik mereka atas novel melalui resensi. Anak juga bisa belajar menulis persuasi, mengajak teman lain untuk ikut membaca novel ini juga.

Jadi Editor Buku Anak Bertanya

Saat nulis ini, saya berusaha mengingat-ingat lagi, kapan persisnya pertama kali kenal Pak Hendra Gunawan. Kok ya nggak ingat juga. He-he. Seingat saya pertama kali kenal ya karena saling follow di twitter. Lalu saya baru tahu kemudian Pak Hendra ini seorang profesor matematika di ITB. Lalu rasanya tak lama sejak itu, tahun 2013, ia mengajak saya bergabung di proyek keren berjudul Anak Bertanya. Tahu, kan, website yang menampung pertanyaan anak-anak dan dijawab oleh para pakar itu?

Nah, saya diminta menjadi editor untuk memeriksa sejumlah artikel jawaban para pakar. Untuk tugas ini saya tidak bekerja sendiri, tapi berdua bersama teman bernama Eveline. Kerja penyuntingannya sebetulnya sederhana sekali. Iya, jawaban para pakar kebanyakan sudah bagus-bagus. Makanya saya senang jadi editor di Anak Bertanya.

photoLalu Pak Hendra menawarkan keasyikan berikutnya, saya diminta memeriksa buku Anak Bertanya jilid 2b. Well, sebetulnya ngedit tandem bersama Pak Hendra, sih. Untuk penerbitan jilid dua ini, saya memeriksa tulisan tentang Karya & Aksi Manusia serta Isu Sosial & Ekonomi. Sementara, jilid 2a tentang Alam & Kehidupan serta Bumi & Lingkungan, disunting oleh Pak Hendra dan Pak Dasapta Erwin Irawan.ย 

Nah, sekarang bagian promosinya. Ini buku penting. Ini buku bagus.

Buku ini dipersembahkan khusus bagi anak-anak di seluruh Indonesia yang tak pernah berhenti bertanya dan mencari jawaban.

Buku ini juga dipersembahkan untuk orang tua yang seringkali kebingungan menjawab pertanyaan anak-anak yang maha kritis. Misalnya, mengapaย orang harus punya cita-cita? Mengapa orang harus belajar berulang-ulang? Bagaimana kalau matahari tidak ada? Apa warna air sebenarnya? Pertanyaan yang kelihatan sederhana, tapi perlu jawaban tidak sederhana, kan? ๐Ÿ™‚

Jika berminat memiliki satu paket buku ini (Jilid 1a-1b-2a-2b) seharga Rp100ribu saja (tidak termasuk ongkos kirim), silakan pesan ke twitter @AnakBertanya. Atau kalau mau berdonasi, silakan lihat infonya di bawah ini ya.

CVlxbLbWoAEEDq2

 

Chika dan TSAD 2015

Bertukar Peran sudah jadi tradisi perayaan Hari Guru di sekolahku. Guru menjadi murid dan murid menjadi guru. Guru akan menyimak kelas dan murid akan mengajar. Ya, termasuk bertukar seragam juga. Tujuannya, supaya murid bisa memahami pekerjaan guru dan bisa mengapresiasi dengan lebih baik. Ini sesuai dengan judul acaranya, Teacher and Staff Appreciation Day.

Tahun ini, kelas Bahasa Indonesia saya diampu oleh Salsabila Chika. Dia mengajar di kelas 10A, bercerita tentang novel Atheis yang sedang kami pelajari. Chika menjelaskan kisah “Kartini dan Anwar di penginapan” sementara teman-temannya mendengarkan. Sesekali ada protes atau celetukan jika Chika menyebutkan apa yang terjadi dengan kode yang samar.

Sambil menjelaskan, Chika meminta teman-temannya untuk mengisi kertas tanggapan membaca (reading response). Ia akan memanggil nama temannya secara acak, dengan metode silang, sehingga mereka selalu awas. Saat ada teman yang berisik sendiri di pojok kelas, Chika memanggil nama mereka sambil melotot matanya. ๐Ÿ™‚

Jelas Chika sukses mengajar di hari itu. Tidak semua murid yang jadi guru berhasil mengatur kelas seperti dia (bahkan biasanya di kelas lain si muridguru cuma memberikan free time). Saya hanya memberikan lesson plan lisan dan materi ajar kepadanya dan Chika bisa mengaplikasikanya sendiri.

Mengutip gaya bahasa Hasan dalam Atheis, yang nyata kini ialah bahwa aku sekarang sudah berganti keadaan. Keadaan bahagia sejati. ๐Ÿ™‚

A Note from Lovely Man

 
Ini epic sekali pemirsa! A NOTE FROM DONNY DAMARA! ๐Ÿ˜„ Iyaa jadi ceritanya ini dikasih murid kelas 10 yang minggu lalu kutugaskan melakukan wawancara.  Johan, Farrell, dan Andra dari kelas 10F, mereka ketemu Donny Damara di Citos dan mengajukan pertanyaan yang sudah disiapkan. Donny sudah kasih pesan sebelumnya, ia ingin ditanya pertanyaan yang “nggak standar”. Jadilah tiga murid saya degdegan seru menyiapkan pertanyaan panduan. Setelah ketemu Donny langsung, Johan bilang, “Ternyata Om Donny orangnya baik banget. Asyik. Seru. Jadi nggak takut lagi ngobrolnya.”

Nah, pengalaman belajar ini yang saya harap terjadi. Dan benar telah tercipta. Senang rasanya. Apalagi dapat note cantik dari Mister Lovely Man itu. ๐Ÿ™‚

Jari Ungu

Namanya Gemintang, usianya tiga tahun. Dia sangat penasaran kenapa semua orang di rumahnya tiba-tiba punya tanda ungu di jari-jari mereka. Saya katakan padanya, habis nyoblos Pemilu. Tentu saja dia belum paham apa itu Pemilu. Yang dia paham adalah tanda habis nyoblos itu lucu. Dia ingin punya juga. Lalu, dengan krayon mainannya, dia coba membuat tanda itu juga. “Gak bica,” katanya. Aku tertawa saja. Politik bisa jadi hal sederhana di mata kanak-kanak.

20140409-110547.jpg