Teknologi Sekarang Buat Belajar Jadi Senang

“Saya cari data di bebe, ya!”

Kalimat itu sering terucap dari mulut murid-murid saya ketika ada tugas yang membutuhkan pencarian data. Ketika saya menjawab, “Silakan!”, mereka pun akan senang. Bebe atau Blackberry memang sering jadi solusi cepat untuk kebutuhan tugas murid di era teknologi tinggi sekarang ini. Apalagi di daerah perkotaan, benda elektronik seperti ponsel pintar adalah makanan bagi murid. Bahkan posisinya melebihi kebutuhan mereka akan sarapan. Setiap pagi mereka lebih memilih menggenggam Blackberry ketimbang roti.

ponsel dan laptop di meja murid

Sebagai guru dari anak-anak yang karib dengan gadget itu, saya pun merasa harus mengikuti perkembangan mereka. Saya tidak ingin menciptakan jarak yang semakin jauh karena rentang usia guru dan murid sudah jauh terpaut puluhan tahun. Langkah pertama, saya coba mengakrabkan diri dengan cara ikut menggunakan ponsel itu. Itu salah satu upaya yang bisa saya jangkau. Namun, bukanlah kewajiban kita untuk harus memiliki semua gadget karena dana kita tentu terbatas. Jika dana Anda berlebih, boleh juga Anda memiliki benda elektronik lain yang banyak juga dimiliki oleh remaja kota besar sekarang. Tujuan guru memiliki gadget keren sebaiknya jangan hanya supaya bisa menyamai pergaulan murid. Sebisa mungkin kita harus pergunakan benda teknologi itu untuk kebutuhan pembelajaran. Ketika ada tugas, murid bisa dipersilakan menggunakan ponsel pintar mereka untuk mencari informasi di internet.

Banyak sekolah yang sudah memiliki komputer di kelas. Banyak juga sekolah yang memperbolehkan muridnya membawa laptop ke kelas. Banyak anak kota besar juga sudah biasa menggunakan kamera dan video handycam. Semua media itu sudah seharusnya dimaksimalkan untuk kegiatan belajar yang menyenangkan. Guru dari berbagai mata pelajaran bisa mengajak murid menciptakan banyak proyek belajar dengan desain seni yang menarik. Misalnya, tugas pelajaran kimia dalam bentuk komik animasi, laporan pelajaran ekonomi dengan proyek video, atau membuat podcast untuk pelajaran bahasa.

Pengetahuan teknologi yang sudah dipunya anak dan remaja itu harus dipergunakan untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Persilakan mereka berkreasi dengan pengetahuan mereka dan biarkan guru menjadi mentor mereka. Misalnya ketika murid diajak untuk membuat tugas membuat grafik di pelajaran bahasa Indonesia, ajak murid berkreasi lebih maksimal dengan teknologi. Suatu kali murid saya membuat karya menarik, yaitu sebuah grafik dengan lampu-lampu yang digunakan sebagai penanda data. Mereka merangkai sistem listrik sederhana pada papan grafik itu. Ketika tugas ini dipresentasikan di kelas, pertunjukan hasil penelitian mereka menjadi lebih menarik untuk dilihat.

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat akses mudah untuk menggunakan teknologi? Adalah tugas kita untuk menciptakan kesempatan itu untuk mereka. Pada suatu kesempatan di kegiatan Dongeng Minggu di Depok, saya dan teman-teman datang membawa CD film, laptop, dan proyektor. Biasanya anak-anak di sana belajar lewat dongeng yang dibawakan oleh kakak pendongeng menggunakan boneka-boneka binatang. Namun kali itu, kami mencoba hal lain dengan teknologi yang akrab dengan kami, tetapi belum akrab untuk mereka. Kami memutarkan film kartun anak yang mengajarkan tentang ikhlas. Anak-anak duduk manis menyimak film, tanpa merasa terbebani bahwa mereka sedang belajar. Tentu ini menyenangkan untuk anak-anak.

Adik-adik Dongeng Minggu menonton film dengan proyektor.

Masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membuat suasana yang asyik untuk belajar. Yang paling penting kita siapkan adalah keinginan untuk berkreasi, baik dari guru dan juga murid. Setelah itu, pasti ada banyak alat teknologi yang bisa kita dipakai. Maksimalkan penggunaannya dan jangan kaget jika anak-anak bisa belajar dengan hati senang.

 

MobTech untuk Pendidikan

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi, Selasa 17 Januari 2012

Pemanfaatan Mobile Technology untuk Pendidikan
@bincangedukasi: Tweeps, pk 19.30 kt mulai #twitedu ttg pemanfaatan mobile technology utk pendidikan yaa. Sudah siap kan?

Lihat saja apa yang selalu murid-murid pegang di kota-kota Indonesia sekarang? Sebuah ponsel pintar. Alat main, juga belajar. Anak remaja sebagian besar sudah dibekali hape. Mereka biasa main Bebe bahkan Ipad di sekolah. Ini media belajar juga. Ada beberapa sekolah yang punya kebijakan terbuka tentang penggunaan ponsel pintar di kelas. Murid bisa browsing data tugas via Bebe/Ipad. Murid bisa pakai Hp/Bb/Ipad tentu dengan pengawasan guru. Yaa, supaya ketika diminta cari data, gak lalu malah main games. Ini tantangan super buat guru, gimana cara mereka mengajak murid SMP/SMA memanfaatkan mobile tech dengan maksimal untuk belajar. Saya sering gunakan BBM untuk ingatkan murid kumpulkan tugas. Efektif sekali. Murid dan guru bisa berinteraksi tanpa batas waktu. Di awal tahun ajaran, murid dan guru sekelas bisa buat Blackberry group atau Jarkom SMS untuk memudahkan sebar info belajar.

@kreshna: Adakah etika/etiket yang mengatur tentang komunikasi guru/murid di media online & di luar jam sekolah?
Di awal tahun ajaran, guru berkenalan dengan ortu murid. Di situlah waktunya kasih kebijakan bersama. Jam berapa guru bisa dihubungi. Ada kebijakan sekolah yang ikut mengatur jam komunikasi guru dan ortu. Misalnya, ortu hanya boleh telepon/SMS selama jam sekolah. Ada juga guru yang perbolehkan ortu SMS bebas waktu, tapi jangan telepon. Ortu dan guru harus paham waktu privasi masing-masing. Nah, begitu juga dengan murid-murid SMP/SMA. Beri kebijakan bersama di awal tahun. Ini no hape saya. Silakan telepon/teks saya di jam sekian.

@kreshna: Atau mungkin batasan profesionalitas hubungan guru dan murid. Adakah yg terkait dgn media & waktunya? Profesionalitas guru dan murid tergantung media dan waktu? Hmm, ini bergantung pada kebijakan diri sendiri dan sekolah. Ada sekolah yang punya aturan agar guru dan murid hanya berhubungan pada jam sekolah. Di luar jam, hanya boleh tanya tugas. Banyak pula sekolah yang persilakan guru tanggung jawab sendiri tentang hubungan profesionalnya dengan murid. Saya suka yang ini. Bagi saya, guru itu pekerjaan belajar yang tidak berbatas waktu. Makanya saya berusaha untuk bebaskan anak tanya di jam luar sekolah. Tentu saja dengan etika yang wajar. Anak sopan akan tanya dulu bolehkan dia menelepon gurunya waktu malam untuk tanya PR. Saya pernah di-Ping BBM berkali-kali. Jika terasa mengganggu, bicarakan saja dengan muridnya. Buat aturan bersama. Twitter! Wah, ini media yang sering saya pakai untuk bicara/tegur sapa dengan murid. Waktunya tak berbatas. Yang penting jaga etika.

@bincangedukasi: Kebanyakan guru belum manfaatkan mobile tech dalam pendidikan ya rasanya? Bagaimana cara meyakinkan mereka tentang manfaatnya?
Berbagilah ilmu dengan guru lain di kantor. Atau saat rapat, bagi cerita bahwa mobtech ini berguna juga kok untuk pendidikan. Jangan paksakan juga guru yang belum biasa dengan alat tekno untuk langsung bermain dengan tekno. Dia harus kenal benda tekno dulu. Murid juga perlu maklum. Ada guru yg tidak bisa buka email tugas murid di hapenya. Atau yang lama mengetik SMS. Kemudahan dan kesulitan penggunaan mobtech harus dibahas bersama di kelas. Diskusi aja, gimana guru-murid bisa manfaatkan itu bersama.

@bincangedukasi: Konten pendidikan apa saja yang bisa dibagi melalui mobile devices? Mungkinkan pengajaran juga dilakukan dengan mobile devices?
Konten pelajaran bisa juga kok dibagi lewat mobile tech. Broadcast message BBM bisa untuk sebarkan bahan ajar loh. Semacam kejutan: Kirim broadcast sebuah rumus fisika. Minta murid cari di buku. Jadi penyulut belajar besok di kelas. Saya pernah review materi ujian di twitter. Beri hashtag dan mereka bisa pantau. Bisa tanya jawab juga. Ngobrol pelajaran via BBM juga saya sering. Lokasi tak berbatas, yang penting klop aja waktu guru dan muridnya.

@ratnakristanti: Kalau tentang konten twitternya gimana, Mbak? Kan kadang mbak tidak hanya ngobrol dengan murid. Atau ada aturan juga pas ngobrol dengan murid?
Kalau tentang konten twitter, ini bisa jadi topik #twitedu berikutnya ya. Ini berkaitan dengan #PersonalBranding. Yang pasti untuk bahas materi pelajaran, saya bisa pakai twitter. Murid bisa cari kapan saja di mana saja selama ada tagar topiknya.

@Lutfi_333: Pertanyaan yang sering dihadapi guru yang ingin gunakan mobile tech adalah soal kesetaraan: tidak semua murid pake mobile/smartphone. Solusinya?
Untuk kegiatan kelas, buat tugas dalam kelompok. Satu punya smartphone bertugas cari data, yang lain mencatat. Bisa kok! Tugas rumah, murid bisa pakai PC di rumah atau warnet. Semua bisa asal ada niat belajar teknologi.

@Lutfi_333: Yang menjadi permasalahan nggak semua siswa punya akun twitter/Fb. Nah cara mengatasinya bagaimana??
Ya, ketika guru ingin beri materi tambahan di twitter, diharapkan semua murid sudah punya akun. Tapi ingat, pembelajaran di twitter itu sifatnya tambahan. Maka bukan kewajiban murid untuk harus ikut serta di sana.

@kurniasepta: Ini @bincangedukasi topik2nya #twitedu terlalu di atas angin, kurang menyentuh akar rumput. Ah, Indonesia.
@gurubimbel: Bahasan#twitedu tentang mobile technology memang hanya cocok untuk sekolah kalangan menengah ke atas.
Jangan terjebak bahwa mobile techno itu hanya sebatas gadget mahal. Hape murah pun itu mobtech. Remaja akar rumput juga pakai itu. Hape murah dengan fasilitas Fb bisa dipakai untuk media belajar juga. Untuk komunikasi, bisa pakai jarkom SMS. Menurut @Amung_Palupi Radio, TV, Toa, Surat Post, Layar tancep, Motor, bahkan person untuk konseling itu adalah Mobile Tech juga. Menurutnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan: @Amung_Palupi: yang pernah dilakuin sih, 1. Meminta teman untuk mengirimkan bahan ajar ke desa lewat post memprosesinya seperti MLM. 2. Dengan bahan dari teman yang kemungkinan sedikit maka gunakanlah VOV dari toa mushola. Sementara menurut @ayu_kartikadewi: mobile devices bisa jadi alat yang menarik untuk mengenalkan huruf.

@gurubimbel: Ibu, di Banten masih banyak kan yang ke sekolah tanpa alas kaki? Lalu bagaimana mereka bisa mengenal mobile technology?
Apa yang tidak mungkin? Mengapa anak yang ke sekolah tak pakai alas kaki maka tak bisa kenal mobile tech? Maka perkenalkanlah. Jika tadi yg dimaksud mobile tech hanya sebatas ponsel dan laptop, itu pun masih memungkinkan utk disebar kepada anak-anak di pelosok. Jika pemerintah atau lembaga besar tidak memberi bantuan, maka lakukanlah sendiri dengan apa yang dipunya di sekitar.

Kesimpulan #twitedu ini: Manfaatkan maksimal mobile technology yang ada di sekitar. Segala rupa bentuk dan jenis. Semua berguna untuk belajar. Satu lagi: guru, murid, dan ortu, semua harus berpikir positif. Mobile techno bisa digunakan dengan cara praktis dan hasilnya bisa baik. Nah, berpikir positif bisa dimulai dengan menghindari kata ‘tapi’.

Pendidikan Kearifan Lokal #twitedu

Berikut ini adalah rangkuman tweet saya di #twitedu edisi Pendidikan Kearifan Lokal, Selasa 20 Desember 2011.
Silakan disimak. 🙂

#twitedu malam ini temanya kearifan lokal. Saya coba kaitkan dengan sikap orang dewasa dan remaja belakangan. Kearifan lokal berkaitan dengan etika dan sopan santun berkehidupan. Lokal maksudnya bercermin pada lingkungan sekitar. Sejak kecil ortu sudah harus menanamkan bentuk-bentuk kearifan dalam berhubungan, baik dengan sesama manusia atau alam. Jadilah seorang anak dibekali sopan santun adat setempat. Bagaimana cara balas salam atau bagaimana jika ditanya orang. Bentuk kearifan lokal tentu berbeda-beda. Anak pantai berbeda sikap dengan anak gunung. Anak kota beda pandangan dengan anak desa.

Kurikulum sekolah sudah seharusnya memahami kearifan lokal. Tak bisa kita gunakan satu buku ajar untuk anak-anak di beda daerah. Pahami struktur budaya lokal. Maka hasilnya, Ujian Nasional di Indonesia pun tak bisa dibuat sama soalnya. Sekolah harus membuat pelajaran yang sesuai dg adat setempat. Anak sungai tak bisa dipaksa kenal bus kota. Itu bukan kearifan lokal. Anak sungai harus diajari pelajaran fisika yang tepat. Gimana cara bangun jembatan. Ekonomi? Sumber Daya Alam apa yang bisa dimanfaatkan dari sungai. Pelajaran PLBJ (Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta) ya hanya diajarkan untuk anak sekolah Jakarta. Pengetahuan tentang Jakarta yang harus diketahui anak luar pulau Jawa adalah bahwa Jakarta adalah ibukota negara/pusat pemerintahan. Tak bijak jika pendidikan memaksa anak Maluku harus tahu ondel-ondel. Sementara anak Jakarta tak tahu di mana letak Pulau Buru. Pendidikan dengan basis kearifan lokal diharapkan membuat anak cinta daerah, dan berkeinginan mengembangkan daerahnya.

“@kurniasepta: kearifan lokal itu dikembangkan lewat pelajaran muatan lokal, eh tp knp bahasa inggris masuk mulok?” Ayo bahas! Kenapa bahasa Inggris termasuk muatan lokal dalam pelajaran nasional? Sebenarnya muatan lokal itu apa? Saya kurang memahami istilah kurikulum nasional. Tapi agaknya mulok dimaksudkan jadi pelajaran tambahan. Ini lucunya. Yang termasuk mulok sekarang ini adalah pelajaran bahasa daerah, bahasa Inggris, dan/atau komputer. Kategorinya tambahan saja. Agaknya kenapa bahasa Inggris dimasukkan sebagai mulok, ya karena itu dianggap pelajaran tambahan. Pelajaran wajib adalah bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Inggris diharapkan jadi muatan tambahan untuk meningkatkan pengetahuan agar bisa kembangkan budaya lokal. Setelah anak paham dunia lokalnya, bahasa Inggris bisa dipakai untuk memahami pengetahuan lain yang berguna untuk daerahnya.

“@kurniasepta: @arnellism #twitedu Siapa yg menciptakan kearifan lokal?” Pertanyaannya luas sekali. Yuk coba kita diskusi. Siapa pencipta kearifan lokal? Manusia yang ciptakan. Orang tua kita. Agar anak cucunya bisa nikmati dunia lebih lama. Kearifan lokal mengajarkan anak Kalimantan tak asal bunuh orang utan. Mereka harus tahu apa guna hewan itu. Fungsi ortu dan guru adalah mengajarkan anak untuk pahami kenapa orang utan dan hutan harus dilindungi. Di sinilah hadir kearifan lokal. Kasus pembunuhan orang utan oleh warga setempat adalah bukti pendidikan di sana belum berbasis kearifan lokal. Pelajaran Ekonomi harus diselipi pendidikan kearifan lokal. Manusia jangan asal cari untung lalu bebas babat hutan seisinya. Nah, pendidikan kearifan lokal tidak boleh berhenti di SD. Anak SMP dan SMA harus lebih banyak diskusi pentingnya hal ini.

“@bincangedukasi: Apa sih manfaat mempertimbangkan Kearifan Lokal dlm pendidikan di era globalisasi ini?” Era globalisasi begini sangat harus diimbangi dengan pendidikan kearifan lokal. Selain baik, teknologi punya sifat merusak juga. Era global membebaskan budaya luar menyerang budaya lokal. Kearifan lokal harus berbicara untuk mengatasinya. Kasus punk di Aceh itu adalah contoh bentroknya budaya lokal dengan budaya asing. Bagaimana kearifan lokal berperan? Jika pendidikan kearifan lokal berjalan dengan baik, topik ‘punk di Aceh’ itu harusnya bisa ditangani dengan mudah.
Banyak contoh masih kurangnya pendidikan kearifan lokal di negara ini. Kasus Freeport dan Mesuji misalnya.
Ada berapa kampus yang punya jurusan pertanian, perikanan, dan kelautan di Indonesia? Di mana kita belajar kearifan lokal?

“@_kawit: @bincangedukasi @arnellism lalu bagaimana dengan brick dance? Beat box? Suffle dance? Normal kah?” Boleh saja pelajari itu. Di sekolah saya anak-anak juga sedang gandrung suffle dance dan KPop. Tak apa, selama bertanggung jawab untuk tak lupa budaya sendiri. Tapi kearifan lokal anak kota memang jadi bias. Lokal buat mereka adalah budaya dunia. Jangan kaget jika kearifaan lokal anak SMA Jakarta sekarang adalah kerjakan tugas di StarBucks atau Sevel. Bentukan lokal kota. Kearifan lokal gagal terjadi ketika anak kota itu berantem karena rebutan tongkrongan di Sevel.
Pelajaran Sosiologi harus mengajarkan bagaimana bersikap arif dalam budaya kota yang dianut remaja di kota besar.
Prinsipnya sama, anak kota harus paham dulu bagaimana menyikapi mal atau gadget, sebelum pelajari tongkonan atau badik.

Kesimpulan: mari pelajari segala sumber daya lokal dan gunakan untuk kemajuan daerah masing-masing dengan arif bijaksana.

T dan J, kritis!

Dari #twitedu bersama @bincangedukasi Selasa 8 November 2011


Mendidik anak berpikir kritis, mulailah dengan bertanya. Bebaskan anak bertanya apapun. Sejak kecil, orang tua harus mencontohkan cara bertanya, sebab nyatanya bertanya itu tidak mudah juga. “Apa ini?” dan “Apa itu?” harus sudah mulai diajarkan orang tua sejak anak masih bayi. Ketika TK, anak akan terbiasa bertanya ini juga. Ketika SD, orang tua ajak anak bertanya lebih dari sekadar “apa”. Konsep 5W dan 1H (What, Who, Where, When, Why, How) sudah harus diperkenalkan. Ketika SMP dan SMA anak bisa diajak berpikir lebih di pertanyaan “why” dan “how”. Ini puncak berpikir kritis.

Ketika anak sudah terbiasa bertanya, anak harus diajak untuk bisa mencari jawaban sendiri. Bertanya dan menjawab itulah yang harus terus dipupuk agar anak selalu berpikir kritis. Bahan ajar? Kehidupan sehari-hari. Banyak membaca buku/internet tentu akan berguna untuk melatih anak bertanya lalu menjawab sendiri. Kritis adalah hasil.

Orang tua harus senang, bukan sebaliknya, saat anak bertanya atau banyak komentar. Itu tanda anak yang berpikir kritis! Guru harus biasakan murid untuk bertanya juga. Tidak hanya melulu menjawab soal. Kalau anak kritis pada hal-hal sensitif semacam agama atau seks gimana? Orang tua dan guru tetap harus menjawab dengan bijak. Saya percaya pada dasarnya manusia (anak-anak juga) tentu punya kesadaran untuk bertanya. Itulah modal berpikir kritis. Tinggal orang tua, guru, dan anak itu sendiri yang harus menajamkan kebiasaan kritis dalam menganalisis masalah.

“Bagaimana ajarkan berpikir kritis di sekolah? Benarkah bagian ini agak terabaikan karena beratnya beban kurikulum?” tanya seorang pemerhati pendidikan. Saya sendiri merasa hal itu agak benar adanya. Ketika guru dan murid dibebani kurikulum yang berorientasi nilai saja, kegiatan kelas kebanyakan hanya menjawab pertanyaan. Seorang lain bilang, jika ingin membuat budaya berpikir kritis muncul di sekolah, kita perlu ubah dua hal: tes dan pola pikir guru. Saya sedikit tidak setuju. Tes atau ujian tetap perlu dilakukan untuk menilai sejauh mana anak bisa berpikir kritis dalam media tulis. Di kelas, sistem penilaian silang antarmurid (siswa mengoreksi pekerjaan teman) bisa digunakan untuk latihan berpikir kritis. Di beragam pelajaran, ajak siswa mencari kaitan topik yang sedang dipelajari dengan kehidupan harian. Misal, apa guna belajar trigonometri?

Saya pendukung “kuliah harus lulus dengan skripsi”. Ini adalah pembuktian siswa mampu berpikir kritis. Saya mengkritik kebijaksanaan universitas yang memperbolehkan mahasiswa lulus tanpa skripsi. Hanya penuhi kuliah lalu bisa lulus? Dalam skripsi, mahasiswa harus mengajukan sebuah pertanyaan dan sekaligus menjawabnya melalui penelitian. Mahasiswa harus kritis menuliskan rumusan masalah. Lalu buktikan jawaban di bagian analisis. Ujian berpikir kritis itu terjadi di sidang skripsi. Mahasiswa menjelaskan jawaban pada beberapa penguji. Usai lulus kuliah, pendidikan berpikir kritis akan terus berlanjut. Meski bukan di bangku akademis.

Nah, ayo kita biasakan berpikir kritis. Mulai dari kicau di media twitter juga boleh. 🙂

Hamil Hilang dalam Saman

Anak remaja suka dengar cerita horor. Pas banget deh, mereka seru banget waktu diskusi novel kelas Saman bagian bayi ibu Wis yang tiba-tiba menghilang.

Ada satu murid, @jsschrs , yang bercerita tentang pembantunya yang juga pernah mengalami kisah “hamil hilang”, seperti kisah ibu Wisanggeni dalam Saman.

Membahas karya sastra paling enak jika bisa dikaitkan dengan kehidupan nyata. Murid bisa berkaca langsung di cerita keseharian.

Kisah “hamil hilang” itu ternyata sering diberitakan di teve kita. Seorang ibu hamil, tiba-tiba besoknya perutnya rata, bayinya hilang!

Atau ada kisah seorang perempuan yang tidak kawin, tiba-tiba perutnya hamil lalu melahirkan! Fiksi campur nyata! Seru bahas ini di kelas, ya kan @carixza ?

Setelah itu murid sekelas fokus dalam satu konsep belajar yang seru. Masing-masing anak berlomba kisahkan cerita misteri yang mereka tahu.

Saat murid bercerita, saya menilai kemampuan bicara naratif mereka. Mungkin @Jeegee @adrianmikha @ubayHAHA @nabnabibil gak kerasa ya kalau sedang belajar dan dinilai? Kelihatannya murid hanya bagi cerita bergantian saja.

Itulah process of real-life learning. Murid bisa santai belajar tanpa tertekan karena beban ujian. Nilai-nilai belajar bisa didapat di keseharian. #twitedu

Girang Pensi, di Mata atau di Hati?

Girang! Itu perasaan saya ketika tahu sekolah tempat saya bekerja mengadakan konser musik. Pensi, istilahnya, pentas seni dan kreasi anak sekolah, seperti yang saya pernah gandrungi sewaktu masa sekolah menengah. Yang segera terbayang adalah kegirangan loncat-loncat mendengar dentum musik dengan dandanan ala remaja. Saya ingat betul, sekolah SMA saya dulu mengundang PAS band. Waktu itu saya merasa seperti anggota keenam geng Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta. Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan…

Kegirangan saya murni terjadi karena saya ingin mengingat kenangan serunya masa sekolah. Beberapa waktu belakangan saya masih sering menonton konser musik, tapi itu bukan pensi sekolah. Nah ini, ada kesempatan di kandang sendiri, maka kata girang itu begitu menjadi-jadi.

Saya tumpahkan kegirangan saya dengan membeli 10 tiket. Saya sebar infonya di twitter, berharap ada kawan yang sama rasa, ingin membunuh kangen masa sekolah. Beberapa teman menyahut, janji bertaut. Namun sebagian membatalkan karena urusan pekerjaan. Ah, betapa kini pekerjaan sering menahan kita untuk bersenang-senang.

Namun, berkah akan lari kepada orang yang tepat. Secara kebetulan teman saya bilang ia punya anak asuh usia remaja yang tentu akan sangat senang jika bisa datang ke konser musik. Sungguh, itu adalah rejeki mereka. Jadilah tiket itu milik tiga murid sekolah keperawatan di ujung Serpong. Semoga sekolah raksasa tempatku bekerja menerima mereka dengan hangat.

Saya tidak tahu apakah murid-murid bisa menangkap kegirangan saya. Saya merasa banyak tebar senyum ke setiap murid yang menyapa ketika amprokan, lalu banyak cengengesan ketika mereka menggoda sebab di sebelah saya ada kawan lelaki. Mungkin mereka merasa bingung kenapa gurunya berlagak seperti mereka. Kenapa gurunya bisa kenal dengan band pengisi acara. Jessica, murid saya usia remaja, tampak aneh kenapa saya bisa tiba-tiba nongkrong bareng band Lunarian di ruang tunggu artis. Saya bilang saja, saya teman mereka. Lalu dia berseru, “Ih, Miss gaul dong yaa!”

Ini pensi terlucu sebab saya menjadi penonton yang serupa artis. Rasanya mata murid tak lepas mengamat-amati saya. Mungkin rasanya lucu melihat guru mereka bergoyang mendengar Endah n Rhesa. Itu tak biasa sebab guru-guru yang lain memilih tidak datang atau sekedar duduk dan mengamati dari jauh saja. Lebih aneh lagi ketika murid panitia melihat saya tiba-tiba di belakang panggung, menemui Nobie dan Angkuy Bottlesmoker dan ngobrol dengan mereka. Ah, agaknya mereka lupa usia saya tak jauh dari mereka. 😀

Namun, kegirangan saya agak buyar usai hadirnya sebuah SMS. Dari Wanto dan Heri, remaja penjaga konter pulsa di sebelah sekolah raksasa ini. “Mbak, di dalam ada konser ya? Siapa artisnya? Mintain tiket masuk kek. Hehe.” Saya langsung merasa tak enak. Mereka itu kedua teman baru saya di kampung Lengkong belakang BSD City ini. Saya cuma bisa bilang “Maaf ya, gak ada tiket lagi. Artisnya Netral.” Mereka membalas, “Netralnya masih ngopi nih di konter, hhe. Tp kok suaranya gak kedengeran ya?” Ah, jelas saja tak terdengar. Gedung serba guna itu agak kedap suara, letaknya pun jauh di tengah area sekolah yang begitu luas. Riuh teriak remaja pun tak terbagi ke lingkungan sekitar. Semua terpendam hanya untuk yang berada di dalam.

Konser selesai tengah malam. Saya tahu konter pulsa itu masih buka. Entah mengapa ketika pulang, saya mengambil jalan lain, dengan kesengajaan agar tak terlihat Wanto dan Herri. Saya kirimi mereka pesan, semoga lain kali saya bisa berbagi kegirangan dengan mereka.

Saya 22!

Foto di samping diambil waktu saya di sekolah. Iya, waktu saya di sekolah, tapi bukan ketika saya masih jadi murid. Gambar ini justru diambil oleh murid saya.

Waktu itu saya jadi tahu, murid-murid itu sangat senang ketika gurunya berlakuan seperti mereka. Di acara pesta kelas itu, saya berpakaian casual seperti mereka, berkacamata lucu, dan berlaku unyu-unyu. Jadi seharusnya saya tidak kaget karena mereka tiba-tiba memeluk saya dan berebutan ingin foto bareng sambil memonyongkan mulut biar tampak imut.

Di acara pentas drama sekolah, saya membebaskan diri untuk berekspresi layaknya remaja. Motivasinya saat itu terlihat formal: untuk menjiwai karakter, walau sebetulnya saya hanya berperan sebagai MC acara. Lalu berhamburlah komentar murid-murid saya yang rerata berusia 17 tahun ini. Sambil nyengir, mereka bilang “Miss gaul deh!” Gaul itu yang semacam apa? Ya, mungkin bergaya ala mereka, semacam foto inilah. 😀

Gaul, unyu, lucu, ah semuda apa sih saya?
Pertanyaan itu asal datangnya bukan dari saya, tapi dari murid-murid remaja saya. Kalau mereka bertanya, “Miss umurnya berapa sih?” saya akan balik bertanya, “menurut kamu berapa?” Lucunya, dua orang murid saya, satu perempuan dan satu lagi lelaki, memberikan jawaban yang sama: 22.

Kontan saya tertawa, dan belagak tersipu malu. Lucu juga taksiran mereka meleset empat umur ke bawah. Saya bukan lantas girang, justru malah berpikir kenapa bisa mereka menerka saya sebegitu muda. Mereka mengatakan beberapa alasan, misalnya muka saya lucu (entah lucu bagaimana) dan cara saya bicara serupa mereka (kalau ini saya sadar). Ketika saya ceritakan ini ke teman seumuran saya, dia punya alasan lain. Katanya, anak remaja belasan itu belum pandai menaksir perkiraan usia, menambah jumlah tahun belajar sekolah dan kuliah. Yah, saya tidak berpikir sejauh itu. Saya cuma merasa senang yang sederhana. Tebakan 22 itu bikin saya tertawa lalu merasa muda. Saya mencoba merumuskan, muda bukan ada di kencangnya kulit remaja saja, atau di gaya gaul remaja ibukota. Muda ada di jiwa saya, yang selalu mau bercanda dan belajar bersama remaja.

You are as young as your faith, as old as your doubt; as young as your self-confidence, as old as your fear; as young as your hope, as old as your despair. ~ Douglas MacArthur