Pertama Kali Bertemu Eka Kurniawan

Dari twitter aku menemukan ada kelas menulis bersama Eka Kurniawan. Agak mepet aku memutuskan untuk ikut. Satu, harganya lumayan. Dua, sudah ada jadwal mendongeng di kampus FIB pada tanggal itu. Untunglah dua hal yang bikin ragu itu masih bisa dikompromikan. Maka, siang 17 Desember itu aku mengejar ke Kemang ditemani babang gojek.

kelasmenuliseka

Aku harus sangat bersyukur akhirnya memilih untuk hadir. Begitu datang aku bertemu dengan Eliza Vitri Handayani dari Intersastra sang penyelenggara acara. Darinya aku tahu bahwa kelas ini akan jadi kelas privat. Rupanya peserta hanya lima orang. Nyam, eksklusif! Bahkan jauh lebih privat ketika tahu akhirnya hanya ada tiga peserta yang sukses datang. Satu peserta adalah Melissa Rampen, seorang dokter spesialis penerbangan (iya, langka!), dan satu lagi Sandi, seorang peneliti dari UI.

Eka Kurniawan membuka kelas dengan mengajak kami berkenalan. Lalu, usai semua menyebutkan sedikit keterangan tentang diri, aku mulai bersiap memegang hape untuk mencatat. Semacam bisa membaca pikiran, Eka mulai berbicara bahwa sebaiknya kami tidak usah mencatat. Jauhkan gadget. Belajar mengingat. Kemudian dia menjelaskan bahwa sesungguhnya menulis adalah pekerjaan berpikir. Penjelasan panjangnya bisa dibawa di salah satu tulisan Eka di sini: Apa yang Harus Diajarkan di Kelas Menulis.

Ada beberapa hal yang bisa aku tuliskan dari penjelasannya yang panjang di hari itu. Ya, ia terlihat senang berbicara. Tenang, serius, dan tampak banyak sekali ide yang melintas di kepalanya. Eka mengatakan menulis sesungguhnya adalah:

  1. Mencatat
  2. Berbagi
  3. Berkreasi

Ia mempersilakan pertanyaan datang dan kemudian ia menjelaskan kembali dengan banyak contoh. Aku menyimak sambil terus mengangguk-angguk dalam hati. Eka yang berbicara ini persis seperti Eka yang menulis: mampu mengisahkan cerita dengan alur yang penuh cabang, juga mampu kembali ke gagasan awal. Meskipun begitu Eka lebih asyik menulis saja deh. Aku tidak mengantuk saat membaca bukunya, tetapi menyimaknya berbicara panjang dengan tempo yang cenderung monoton, hmm… aku mesti menahan bosan dan rasa gatal bertanya. :))

img_20161217_202629_resized

Kemudian ia menggambar segitiga gagasan seperti dalam foto di atas. Ia tinggalkan kami lima menit, memesan minuman di cafe bawah dan mempersilakan kami memikirkan gagasan (sebuah masalah) yang kami pilih untuk menjadi bahan tulisan. Ini berguna untuk memastikan tulisan tidak melenceng kemana-mana.

Misalkan begini: cerita tentang rambut keriting. Perhatikan apa gagasan lain yang setara (horisontal) dengan gagasan itu. Sebutlah: rambut lurus, botak, rambut berwarna. Pastikan kita hanya menceritakan tentang masalah rambut keriting, bukan masalah lain. Kemudian, perhatikan juga apa gagasan yang mendukung (vertikal) pengembangan gagasan itu. Misalkan: rambut keriting sulit diatur, rambut keriting membuat malu, rambut keriting tidak bikin pede.

Waktu tiga jam rasanya belum cukup. Masih banyak yang kepengen diobrolkan dengan Eka. Tapi seperti yang dia bilang, dia sadar perkara teknis menulis juga penting dan tidak akan bisa dihabiskan dalam kelas sehari, namun yang lebih penting dan harus sering diasah adalah berpikir. Sebab menulis adalah kerja berpikir.

Aku sudah membawa buku Cantik Itu Luka hari itu sehingga aku segera meminta tandatangan dari Eka. Sesudah itu, selayaknya dendam dengan idola, aku membayar tuntas dengan foto bersama.

Melissa, Eliza Vitri, Eka Kurniawan, aku, Sandi
Melissa, Eliza Vitri, Eka Kurniawan, aku, Sandi

20161217_175103_resized

 

Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang saya hormati….

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 telah muncul tiga dokumen yang berisi konsep kebudayaan Indonesia. Ketiga dokumen kebudayaan itu adalah Surat Kepercayaan Gelanggang (1951); Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra, 1956); dan Manifest Kebudayaan (1963).

Konsep kebudayaan yang dicitakan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang mengacu ke arah kebudayaan Barat yang bersifat sekuler, antroposentris serta elitis. Agaknya para pemikir kebudayan saat itu masih sangat terpesona oleh kemajuan Barat sehingga mereka mencitakan kebudayaan Indonesia berkiblat ke Barat.

Situasi perang dingin yang mulai menghangat menjelang tahun 1960-an menyeret Indonesia ke dalam tarik-menarik antara pengaruh blok Barat dan blok Timur, juga di bidang pemikiran kebudayaan. Maka sebagai tandingan atas lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang yang mengarah ke Barat, lahirlah Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang mengarah ke blok sosialis di Timur, sama-sama sekuler, antroposentris, tapi punya kecenderungan populis. Meskipun begitu, polemik kebudayaan pun berkecamuk sengit di antara pendukung kedua kubu tersebut.

Di tengah sengitnya polemik antara pengikut “kebudayaan Barat” dan pengikut “kebudayaan Timur” yang sama-sama sekuler itu muncullah pada tahun 1963 Manifest Kebudayaan yang seolah-olah hadir sebagai konsep alternatif kebudayaan Indonesia. Tetapi ternyata Manifest Kebudayaan, yang pada kalimat terakhirnya berbunyi “Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami”, disanggah dan dicerca habis-habisan oleh para pengikut Mukadimah Lekra.

Bagi para budayawan Lekra, baik SKG maupun MK mereka anggap sebagai konsep kebudayaan yang sama-sama borjuis. Dan pembantaian kebudayaan ini baru berakhir pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, dan Lekra pun gulung tikar.

Hadirin yang saya muliakan….

Saya mulai berkarya sastra pada tahun 1971. Sebagai pribadi yang dekat dengan orang-orang Lesbumi saya memilih dengan sadar konsep kebudayaan yang berfalsafah Pancasila sebagai yang tercantum dalam Manifest Kebudayaan. Karena mengakui Pancasila sebagai falsafah kebudayaan Indonesia maka dalam berkarya saya punya niatan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi maupun kepentingan kesusastraan semata.

Demikianlah, maka selalu ada pertanyaan yang mendasar yang muncul ketika saya akan memulai menulis sebuah karya. Pertanyaan itu:

Pertama, “Mengapa kamu menulis karya sastra?”

Kedua, “Apa niatmu melakukan hal itu?”

Mengapa seorang sastrawan, dalam hal ini saya menulis karya sastra, jawabnya sederhana. Yakni, karena saya punya kegelisahan jiwa dan ingin melahirkan kegelisahan itu. Setelah kegelisahan itu lahir sebagai karya sastra, maka terserah kepada masyarakat; mau membaca, lalu menangkap kandungan nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, atau membiarkan karya saya tersimpan di rak-rak buku. Dalam hal ini saya sebagai penulis sudah menyelesaikan bagian saya.

Tentang niat menulis karya satra jawabannya banyak. Adalah sah apabila karya sastra ditulis dengan niat mengaktualisasikan diri. Siapa saja boleh membangun eksistensi dirinya dengan jalan menulis karya sastra. Bahkan boleh saja sebuah karya sastra ditulis dengan niat mendapatkan uang, dan mengarahkan karya itu agar laris di pasaran. Ada lagi jawaban yang sering terdengar bahwa sastra ditulis demi kesusastraan itu sendiri.

Sebagai orang biasa dalam dunia kesusastraan Indonesia, saya merasa semua penjelasan itu ada benarnya. Tetapi buat saya semua itu tidak menjadi jawaban yang tuntas. Memang karena menulis karya sastra maka saya mendapat uang, dan nama saya dikenal di tengah masyarakat. Namun masih ada yang belum terwakili melalui penjelasan itu. Uang dan nama bukan segalanya. Atau, apakah saya bersastra untuk kesusastraan semata? Tidak cukup juga. Penjelasan ini seperti membawa saya ke arah jalan buntu.

Hadirin yang saya hormati….

Setiap karya sastra lahir dari seorang yang berada dalam keadaan sadar. Dengan demikian karya sastra lahir dengan sebuah motivasi atau maksud. Dan bila maksud itu bukan hanya untuk pemenuhan kepentingan sempit (cari uang, cari nama, atau sastra untuk sastra) maka adakah sesuatu yang lebih mendasar?

Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka niat harus ditata dan dibangun dengan baik agar setiap karya sastra yang saya tulis bisa dipertanggungjawabkan. Jadi apa niat saya bersastra?

Seluruh karya sastra saya ditulis dengan niat menjalankan perintah, “Hai orang-orang beriman, jadilah kalian pembela-pembela Tuhan”.

Apakah Tuhan butuh pembelaan? Tuhan Mahaperkasa, Mahamandiri Mahakuasa, jadi Tuhan sama sekali tidak butuh pembelaan. Meyakini pribadi Tuhan butuh pembelaan adalah kekonyolan yang nyata. Maka kewajiban menjadi pembela Tuhan sesuangguhnya adalah kewajiban membela amanat dan “alamat”-Nya.

Amanat Tuhan kepada manusia tidak lain adalah keadaban kehidupan, yang dibangun melalui penegakan nilai-nilai keadaban seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik, dan seterusnya.

Jelasnya, amanat Tuhan kepada manusia adalah penyebaran kasih sayang kepada seluruh isi alam. Melalui karya sastra yang semuanya menyangkut kehidupan orang-orang terpinggirkan saya bermaksud memberikan kasih sayang kepada mereka. Tentu, pembelaan secara sastrawi melalui kesaksian dan pewartaan tidak akan serta merta mengubah keadaan orang-orang teraniaya itu. Sastra hanya punya tugas mengetuk nurani masyarakat bila terjadi gelaja yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban.

Maka apakah pembelaan terhadap nilai-nilai keadaban melalui karya sastra bisa berhasil?

Sastra hanya menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu narasi cerita kepada pembaca. Sastra hanya menyapa jiwa. Maka pembaca sendiri yang kalau mau, mengolah penghayatan nilai-nilai itu menjadi kesadaran dalam jiwanya. Dan bila perkembangannya berlanjut akan kesadaran itu akan bergerak menjadi perilaku nyata.

Para hadirin yang baik….

Pemberdayaan sastra sebagai “pembelaan” terhadap Tuhan juga bisa diarahkan kepada (alamat-alamat) Tuhan. Tuhan Yang Mahabijaksana tentu mahatahu bahwa kita adalah ciptaan yang begitu lemah dan nisbi. Oleh karena kita tidak akan mampu mencapai Dirinya Yang Mahakuat dan Mutlak. Maka dengan kasihsayang-Nya, Tuhan ‘menuliskan alamat-alamat-Nya’ di bumi yang bisa dan mudah kita capai. Demikian, maka orangtua kita, kaum miskin, anak yatim, mereka yang tertindas adalah orang-orang yang pantas kita yakini menjadi ‘alamat-alamat’ Tuhan.

(Kita juga percaya tentang adanya percakapan antara seorang penghuni neraka yang bertanya, “Ya Tuhan, mengapa aku Engkau masukkan ke dalam neraka ini?” dan Tuhan menjawab, “Karena kamu tidak menjenguk ketika Aku sakit.” Si penghuni neraka bertanya lagi, “Bagaimana Engkau Yang Mahakuasa sakit?” Tuhan menjawab, “Tetanggamu yang sakit, dan kau tidak menjenguknya.”)

Istilah ‘tetangga yang sakit’ tentu bisa ditafsir secara lebih luas menjadi orang-orang di sekeliling kita yang menderita, baik secara badani, batini, maupun sosial. Mereka bisa berwujud sebagai kaum gelandangan, anak-anak yang tak sempat bersekolah, mereka yang dihukum secara zalim, dan sebagainya.

Dan sastra yang bertanggung jawab kepada keadaban punya kewajiban membela mereka. Tentu sesuai dengan kodratnya, pembelaan yang bisa dilakukan oleh sastra terhadap “Aku yang sakit” yakni kaum miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya, adalah pembelaan yang bersifat moral-sastrawi. Demikian, karena sastra tidak punya kekuatan apapun kecuali sesuatu yang diharapkan bisa menyentuh kesadaran dan jiwa manusia.

Hadirin yang mulia….

Karya sastra hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang lebih dulu telah cukup membaca. Dan tentu bukan suatu kebetulan bila membaca merupakan perintah pertama Tuhan dalam kitab suci kita: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…”

Sasaran apakah kiranya yang diperintahkan Tuhan untuk dibaca oleh manusia?

Tentu bukan hanya kitab melainkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi yang semuanya adalah milik Tuhan semata. Orang Minang bilang alam takambang jadi guru, orang Jawa bilang meguru maca sastra kang gumelar. Kedua ungkapan itu mempunyai maskud yang sama, bahwa manusia diperintahkan membaca seluruh ciptaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi. Karena, tidak ada kesia-siaan dalam penciptaan setiap makhluk; semuanya hadir membawa bukti-bukti kebesaran-Nya.

Bila manusia membaca dengan nama Tuhan terhadap sasaran yang baik maupun sasaran buruk, dia akan mendapat berkah ilmu dan kearifan. Membaca sejarah atau perilaku orang baik akan didapat pengetahuan dan kesadaran untuk menirunya.

Sebaliknya, membaca dengan nama Tuhan perilaku orang-orang yang mungkar maka akan dapat pengetahuan dan kesadaran untuk tidak menolaknya. Bahkan pembacaan yang ikhlas atas benda-benda yang kotor pun kita akan sampai kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan. Misalnya, di bawah lensa mikroskop kita akan melihat kehidupan makhluk ciptaan Tuhan yang berwujud jutaan bateria dalam secuil tinja manusia.

Hadirin yang terhormat….

Dalam pengalaman pribadi sebagai sastrawan, saya pernah menghadapi kondisi batin yang berat yakni ketika hendak menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk pada tahun 1980.

Novel tersebut menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Dua kata kunci “ronggeng” dan “PKI” adalah dua hal yang sering dianggap berada di luar batas wilayah kesantrian dari mana saya berasal. Selain itu, hal-hal yang berbau PKI adalah isu yang amat sensitif pada era Suharto terutama di mata aparat keamanan.

Maka ketika novel ini seleai terbit pada tahun 1984, sebagian masyarakat menanggapinya dengan bertanya bernada menggugat, mengapa sasaran yang saya pilih adalah dunia ronggeng, yang terlibat PKI pula? Ya, semua orang tahu ronggeng adalah perempuan penari kesenian tradisi yang mengobral birahi. Maka pantas para santri dicegah, untuk menjauhinya.

Tetapi pada sisi lain, sejak saya masih ingusan dan ikut tahlilan selalu dibacakan ayat, “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…”.

Maka saya pun berpikir dan percaya perwujudan ronggeng pun merupakan gejala yang harus dibaca (dengan nama Allah); dari mana, bagaimana, mengapa. Dengan demikian, kita bisa menyikapinya dengan pengetahuan cukup.

Hadirin yang saya muliakan….

Mulai tahun 1960 PKI mulai membangun kekuatan fisik untuk melakukan makar. Di daerah saya, Banyumas, mereka membentuk kekuatan bersenjata di bawah tanah. Pasukan ini sering melakukan perampokan untuk merampas harta sekaligus menciptakan kerawanan sosial. Kurang ajarnya mereka mengaku sebagai pasukan DI/TII ketika melakukan penggarongan dan pembunuhan. Kami baru tahu siapa mereka sebenarnya setelah mereka tertangkap. Di antara pasukan yang mengaku DI/TII itu ada guru saya yang menjadi aktivis PKI.

Dalam dunia sastra, saya membaca karya-karya penulis kiri di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat serta buletin Indonesia Baru. Mereka suka sekali menista para tokoh agama; terutama kiai dan haji. Keluarga kami sendiri dinistakan oleh Barisan Tani Indonesia (di bawah PKI) sebagai tuan tanah dan setan desa yang harus diganyang hanya karena kami memiliki 1,5 hektar sawah. Maka tak kurang-kurang rasa sakit saya karena ulah orang-orang komunis.

Maka saya senang ketika PKI ternyata kalah dalam kudeta tahun 1965. Tetapi kemudian saya melihat gejala yang luar biasa. Rumah mereka dibakar massa. Bahkan mereka ditembak mati di depan umum, di depan mata saya. Di seluruh Indonesia ratusan ribu dibunuh. Keluarga mereka dilucuti hak-hak sipilnya hingga tiga atau empat generasi. Ini gejala kemanusiaan yang dahsyat, dan muncul pertanyaan dalam jiwa saya; apakah kekejaman massif ini tidak melanggar keadaban? Dan, bagaimana saya harus memahami sabda Tuhan bahwa Dirinya adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang?

Demikian, maka dalam novel RDP terasa ada empati saya terhadap mereka, terutama terhadap orang-orang biasa yang dibunuh karena dituduh terlibat PKI. Dalam keyakinan saya, empati ini adalah pembelaan terhadap keadaban yang menjadi amanat Tuhan. Sayangnya, pihak aparat keamanan memandang sikap saya ini sebagai bukti kedekatan saya dengan kaum komunis sehingga saya diinterogasi selama lima hari di Jakarta. Lima hari yang berat. Untung ada hari kelima ada interogator yang bertanya kepada saya, adakah orang yang bisa menjamin saya bukan simpatisan komunis.

Pertanyaan tersebut terasa indah di telinga saya. Maka kemudian saya menulis sebuah nama dengan nomor teleponnya. Saya menyilakan para interogator menghubungi si empunya. Nama yang saya tulis: Abdurrahman Wahid.

Mereka ternyata membeku saja, dan saya boleh pulang.

Hadirin yang saya hormati….

Saya mengakhiri pidato ini dengan permohonan ampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan saya, serta permohonan maaf kepada hadirin atas segala kelancangan saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 28 Maret 2014

Ahmad Tohari

Kata Siswa tentang Marxisme dalam Novel Atheis

Sekali lagi tahun ini saya dan murid kelas 10 memakai novel Atheis untuk diskusi sastra. Dalam satu kutipan di novel karya Achdiat Karta Mihardja itu, tokoh Rusli mengatakan seperti ini:

“Dan kiasan yang diambil oleh Marx itu tidak kurang tepatnya ialah Tuhan itu (atau persisnya Marx itu bilang ‘agama’), bahwa agama itu adalah madat bagi manusia. Apa itu artinya?”

Itu tiada lain artinya ialah bahwa seperti halnya dengan madat, Tuhan atau agama itu adalah satu sumber pelipur hati bagi orang-orang yang berada dalam kesengsaraan dan kesusahan. Suatu sumber untuk melupakan segala kesedihan dan penderitaan dalam dunia yang tidak sempurna ini. Sesungguhnya janganlah kita lupakan bahwa (seperti tempo hari saya uraikan kepada Saudara,) agama dan Tuhan adalah hasil atau akibat dari sesuatu masyarakat yang tidak sempurna, tegasnya ciptaan atau bikinan manusia juga. Manusia dalam keadaan serba kekurangan.”  (Atheis, hlm. 108-109)

Pernah saya dan murid-murid mendiskusikan hal ini di kelas. Beberapa masih bingung dengan mengapa agama disamakan dengan madat atau candu. Mengapa agama bisa bersifat adiktif? Beberapa dari mereka ada juga yang sudah mengerti dan membantah konsep marxisme di sini. Ya, saya akui memang kami tidak membaca buku Karl Marx secara khusus untuk memahami konsep marxisme (Ini PR kami semua! #crossheart). Makanya wajar jika masih banyak murid yang bingung, apalagi untuk mereka yang belum terbiasa membaca novel.

Menyenangkannya adalah, banyak juga murid yang bisa menyampaikan pendapat mereka, baik setuju atau tidak setuju pada kutipan tersebut. Yang saya suka adalah bahwa pendapat mereka begitu dekat mencirikan remaja. Ini dua contoh dari mereka. 🙂

jonathan
Jonathan Julian, 2016

karina

Karina Viella Darminto, 2016

Pertama Kali Bertemu Soesilo Toer

Satu setengah jam, dari pukul setengah tiga sampai empat sore, tanggal 30 Juni 2016, aku ngobrol dengan adik Pramoedya Ananta Toer itu. Aku tidak mengira akan bertemu dengannya. Ceritanya aku hanya ingin ikut saudara yang mengantar mebel pesanan ke Blora. Kebetulan memang aku sedang mudik di Jepara. Lalu aku ingat, di Blora ada Pataba, dan kuminta pada suamiku untuk mampir ke sana. Tanya suamiku, “Apa itu?” “Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa.”

IMG_8504

Satu lagi yang tidak kukira adalah kondisi Pataba itu. Sesampainya di Jalan Sumbawa Jetis, aku mencari nomor 40, seperti informasi yang kudapat di internet. Tapi mobilku nyasar sedikit ke Jalan Halmahera sampai depan SMPN 5. Rupanya rumah Pataba itu letaknya di siku jalan, mojok. Kelak aku tahu, lokasinya jadi semacam lelucon satir. Rumahnya di pojok, persis seperti penghuninya yang sering dipojokkan.

Pagar rumah pojokan itu miring, daunnya dikait dengan seutas tali. Ragu aku dan suamiku melangkah masuk, menyintas halaman tanah berumput yang kurang terawat baik. Sepi sekali. Kami menuju rumah lumayan besar yang terasnya terbuat dari tempelan berbagai jenis potongan keramik itu. Teras kecil itu berhias banyak butiran hitam. Tahi. Lalu datanglah pemiliknya, tiga ekor kambing besar, yang dari gelagatnya seperti ingin ngusel. Sementara aku kaget-kaget-takut, suamiku berinisiatif menyeru salam beberapa kali, sampai kemudian pintu rumah dibuka. Seorang lelaki tua menyambut ramah. Brewoknya putih memenuhi separuh wajah. Ia berpakaian batik gombrong dan sarung yang sama gombrongnya. Kami bersalaman dan dia menyebut namanya: Soesilo.

Tadinya aku mengira akan menemui orang lain, semacam pengurus khusus yang mengelola perpus itu. Tapi aku beruntung, ketemu langsung dengan Pak Soesilo. Pataba memang perpus liar, diurus sendiri oleh keluarga Toer yang tersisa. Ya, Pak Soesilo Toer inilah yang kini mengurusnya, bersama anak dan istri yang menempati rumah itu. Oh ya, rumah itu adalah milik mendiang Mastoer, orang tuanya, direktur Institut Boedi Oetomo di Blora tahun 1920an. Sudah pernah direnovasi, tidak seburuk yang pernah diceritakan Pram dalam novel Bukan Pasar Malam. Tapi tidak juga lantas menjadi sangat bagus, karena Pak Soesilo kemudian bercerita sejumlah kendala dan intrik keluarga yang menceritakan tentang renovasi rumah itu. Katanya, Pram, Koesalah, dan dirinya memang ingin membangun perpustakaan di rumah peninggalan Mastoer itu. Pram ingin bangunan itu ditingkat tiga. Agar muat menyimpan koleksi buku, dan bisa dibuat tempat berbagai acara sastra dan budaya. Adik-adiknya mendukung, tapi rupanya ada kendala keluarga lain. Akhirnya sampai Pram meninggal tahun 2006, bangunan hanya direnovasi seadanya. Niat membuat perpus tetap dijalankan. Bangunan dapur samping rumah dijadikan awal mulanya.

IMG_8521

Di ruangan inilah aku bertamu. Pintunya berat dan hanya bisa terbuka sedikit. Ruangan di dalamnya gelap, hanya diterangi cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Ada buku-buku bertumpuk di meja dan kursi. Dinding penuh dengan foto dan gambar tokoh dalam pigura. Eh, si kambing rupanya mengikutiku. Kepalanya melongok masuk dari pintu. Pak Soesilo santai saja. Suamiku akhirnya menutup pintu, takut kambing masuk dan memakan buku. Pak Soesilo malah tertawa, menunjukkan contoh lembaran kertas yang robek separuh, dimakan kambing itu katanya.

IMG_8524

Soesilo Toer ini pendongeng. Usianya hampir 80 tahun, tapi tetap ceriwis sekali bercerita macam-macam, menjawab semua pertanyaan yang kuajukan. Ngobrol santai itu seolah tanpa jeda. Karena memang asyik sekali. Ada banyak ‘rahasia keluarga’ yang ia bagikan cuma-cuma. Cerita ia di Rusia dan dapat gelar Phd di sana, pacaran dengan cewek bule (sama seperti Pram ini ya), cerita kanker prostat yang dialaminya (juga dialami Pram), cerita perlakuan tetangga dan warga pada keluarga, juga cerita tentang saudara dan anak Pram lainnya. Dia juga bertanya, ”Kamu tahu, Pram itu mati terbunuh, dibunuh, atau bunuh diri?” Gila, kataku dalam hati. Aku buru-buru menggeleng sambil menanti jawaban. Dia pun menceritakan “apa” yang terjadi dari sudut pandangnya. Aku terlongo-longo. Sempat aku merasa, ini kisah teramat sensitif, kok bisa-bisanya ia membaginya denganku? Oh, rupanya ia juga sudah menyajikannya dalam buku Pram dari Dalam. Berarti ia ingin banyak orang mengetahui kebenarannya, setidaknya dari sudut pandang dia. “Semua sudah saya tulis di situ,” katanya.

IMG_8555

Akhirnya aku memborong lima seri kisah Pram yang ditulisnya. Bonus dua buku tambahan. Juga kuminta ia menerakan tanda tangan di tiap buku. Lalu aku sadar, aku belum menyebutkan namaku sejak tadi.

“Namaku Arnellis, Pak.”
“Annelies?”
“Arnellis, pakai r. Bapakku takut kalau namanya terlalu sama dengan Annelies. Hehee…”
“Itu Annelies,” katanya menunjuk sebuah lukisan di atas kepalaku. Aku melongok dan menemukan gambar cat, seorang perempuan yang tak segera terlihat cantik.
“Lalu, ini mau ditandatangani kepada siapa? Annelies saja ya?”
“Eh, jangan ah, Arnellis saja, pakai r…”
“Oh… ya sudah.”

Tak lupa aku mengajaknya berfoto. Kuminta juga untuk bertemu dengan anaknya yang sejak tadi disebutnya bernama Benee Santoso. Begitu keluar, rupanya ia seorang pemuda 20-an yang ganteng-ganteng-kalem. Kami berfoto di ruangan itu, juga di teras.

IMG_8540

Lalu, kami mampir juga masuk ke ruang rumah utama. Buku yang baru dicetak Pataba ditaruh di situ. Foto-foto menghias dinding dan buku-buku terjejer di rak. Tadi sempat kutanya pada Pak Soesilo, kenapa tidak minta bantuan anak mahasiswa jurusan perpus, bantu merapikan dan mengkatalog. Jawabnya “Biar diurus sendiri saja, biar tetap jadi perpustakaan liar, hehe…” Sama saja seperti Pram, keras kepala betul, kupikir. Tapi kemudian ia menambahkan, bahwa ia nantinya akan menghibahkan bangunan dan perpus ini kepada pemerintah. Jika ditaksir, ada seharga 30 miliar lebih. “Tak usahlah ada warisan untuk keluarga, biar ini jadi warisan untuk negara.”

IMG_8547

Agak sulit menyudahi pertemuan itu, tapi aku harus kembali pulang ke Jepara. Pak Soesilo dan Benee mengantar kami ke pagar. Menyesali kami yang belum sempat mencoba sate Blora. Sambil memastikan kami masuk mobil, ia menunjukkan rute jalan pulang. “Sehat-sehat terus ya, Pak, nanti aku mampir lagi,” kataku. “Ya… terima kasih,” sahutnya sambil melambaikan tangan.

 

foto: Heru Rudiyanto

 

Belajar Lagi dari Ahmad Tohari

SAM_1148

Agak sulit saya menulis cerita panjang tentang pengalaman memandu acara Author Talk tanggal 1 Juni lalu. Itu hari yang terlalu menyenangkan. Jelas saja, bisa berbincang kembali dengan Ahmad Tohari yang terkemas dalam acara sekolah yang asyik. Jadi, yang akan saya bagi di sini adalah kesan-kesan utama saja.

Saya membuka sesi Bincang Pengarang itu dengan kalimat, “Terakhir kita mengobrol seperti ini tahun 2007 ya Pak, waktu saya nulis skripsi (Sensor Atas Karya Sastra). Sekarang, bahagia sekali saya bisa membawa Bapak untuk mengobrol santai lagi, tidak hanya dengan saya, tetapi juga dengan murid-murid saya…”

Saya lalu bercerita bahwa malam sebelumnya (31/5), kami (Heny, Roys, saya) menjemput Pak Tohari di Bentara Budaya Jakarta. Kami tidak tahu bahwa malam itu ada acara Malam Jamuan Cerpen Pilihan Kompas 2015. Kami juga tidak tahu bahwa cerpen pemenangnya adalah “Anak Itu Mau Mengencingi Jakarta?” karya Ahmad Tohari. Acara belum usai, ia justru buru-buru pulang dari acara dan ikut kami pulang ke Serpong. Saya tanya, “Mengapa Pak? Padahal Bapak bintangnya malam itu.” Beliau menjawab sederhana, “Saya sudah membuat janji dengan kalian akan menuju Serpong jam 9 malam. Ya, saya harus penuhi janji saya.” Teringat piala patung Nyoman Nuarta yang terbungkus kardus di jok belakang mobil jemputan saya malam itu, saya kembali mengejar, “Lalu, seberapa penting sebuah penghargaan untuk Bapak?” Jawabnya, “Saya tidak mengejar penghargaan. Tugas saya menulis. Jika kemudian ada yang memberi penghargaan, tentu saya apresiasi.”

Sebelumnya, acara sudah dimulai dengan pementasan drama fragmen novel Ronggeng Dukuh Paruk oleh kelas 11. Saya duduk di sebelah Pak Tohari persis, jadi saya bisa lihat dia senyum, tertawa pada adegan yang lucu, dan juga saat dia dua kali mengambil tisu untuk mengusap haru di matanya.

SAM_1054

Setelah pentas drama itu selesai, Pak Tohari dengan sigap langsung menuju panggung dan mengajak para pemain berfoto. Lalu, dia menghampiri para pemain, menyalaminya satu persatu dengan hangat.

SAM_1121

Kembali lagi ke sesi tanya jawab. Setelah menjawab satu dua, Pak Tohari memutuskan untuk berdiri. Penonton bertepuk karenanya. Mungkin Pak Tohari merasa ucapannya akan lebih terasa jika disampaikan dengan penuh karib. Ada banyak yang dia sampaikan, beberapa tentang hal-hal yang sudah saya ketahui sebelumnya dari wawancara dulu dan beberapa literatur. Satu yang sangat saya suka hari itu, dia mengajak murid (dan juga guru atau siapapun) untuk mulai menulis. Katanya: Tulislah kisah cinta yang cengeng, tidak apa-apa… Tulislah puisi cengeng, tidak apa-apa… Yang penting kamu mulai menulis…

SAM_1175

Malam sebelumnya, saya bilang padanya, besok ada sesi tanda tangan. Kalau Bapak nanti lelah, mungkin cukup beberapa buku saja. Saya bisa buatkan kuis, pemenangnya boleh minta tanda tangan Bapak. Namun, dia langsung jawab, tidak… saya akan tanda tangani semua bukunya selama saya bisa. Dan benar saja, setumpuk buku milik murid dan guru ludes dia tanda tangani semuanya.

SAM_1189

Ya, begitulah. Saya belajar banyak lagi dari lelaki ini. Seorang sederhana yang tak membela siapapun selain rasa kemanusiaan, ajaran Tuhan yang paling hakiki.

 

Cara Memakan Novel Atheis

Akhirnya merasakan juga satu semester mempelajari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Kenyang, dari Agustus sampai Desember 2015 lalu. Awalnya kebetulan memang. Buku bersampul hijau ini diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka. Jadinya saya berani mengusulkan untuk pakai buku ini sebagai bahan bacaan wajib di sekolah. Maklum, untuk mengajukan penggunaan suatu buku, guru harus memperhitungkan ketersediaan buku di penerbit. Akhirnya, jadilah buku ini bisa dipakai oleh ratusan siswa kelas 10 sekolah saya.

Ada banyak juga yang sudah kami (saya dan murid) lakukan terhadap novel ini. Berikut ini saya susun beberapa cara memakan novel ini. Semoga siswa Anda juga bisa jadi lahap ya makannya. 🙂

  • Reading Response. Sebetulnya semua aktivitas yang dilakukan sepanjang semester adalah merespon bacaan. Bentuk Reading Response biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan panduan tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik novel. Biasanya dicetak di kertas sebagai handout dan assessment siswa. Berikut ini contohnya:

Bacalah bagian 1-3 novel Atheis, kemudian carilah sudut pandang siapa yang sedang berbicara dalam bagian itu? Mengapa terjadi perbedaan sudut pandang pencerita?

Perhatikan tabel yang berisi kutipan novel Atheis ini. Tentukan manakah kutipan yang mengandung nilai budaya! Mana saja buktinya?

  • Game Benar atau Salah. Dengan memakai papan kertas bertuliskan B dan S, permainan ini lumayan seru dilakukan. Guru menampilkan powerpoint berisi kalimat-kalimat dari novel. Murid bergiliran memegang papan B dan S itu. Murid kemudian akan menebak, apakah pernyataan di papan tulis itu Benar atau Salah. Permainan ini juga bisa dilakukan lisan saja, tidak perlu pakai proyektor dan komputer. Guru tinggal menyebutkan satu kalimat, lalu siswa menebak.

photo (2)

  • Mengumpulkan nama semua tokoh. Dengan siswa mengumpulkan nama tokoh, siswa bisa sambil mengingat kembali apa peran dari masing-masing tokoh. Bisa pula sebagai bahan analisis tentang karakter tiap tokoh.
  • Mencari deskripsi. Siswa dapat menilai langsung bagaimana bentuk paragraf deskripsi yang digunakan pengarang dalam novel. Jadi, guru bukan hanya mengenalkan teori deskripsi saja, bukan hanya mencontohkan potongan paragraf deskripsi saja. Siswa jadi tahu fungsi deskripsi dalam sebuah bacaan. Siswa bisa bilang, “Ohh, ini yang namanya deskripsi, bisa membuat cerita jadi lebih detail, ya.”
  • Teka Teki Silang. Nah, ini favorit siswa saya. Mereka suka sekali mengerjakan TTS yang pertanyaannya berdasarkan novel ini. Untuk membuat TTS, guru harus mencari sejumlah kata yang akan dibuat jawaban. Bisa diambil dari nama tokoh, nama lokasi, atau kata khas di dalam novel. Untuk membuat TTS, saya biasanya menggunakan aplikasi di web ini:  http://worksheets.theteacherscorner.net/make-your-own/crossword/
  • Game detektif. Ini baru saya coba buat setelah saya tahu anak-anak sangat suka misteri. Mendekati akhir cerita, siswa akan bertanya-tanya tentang akhir nasib Hasan si tokoh utama. Saya persiapkan sebuah permainan. Sebuah kertas bertuliskan “Apa penyebab kematian Hasan?”. Lalu setiap kelompok siswa diberikan sebuah amplop yang berisi potongan petunjuk. Siswa kemudian berdiskusi, memisahkan mana yang fakta dan opini. Kemudian siswa akan menyimpulkan, berdasarkan fakta yang ada, Hasan meninggal dengan cara apa.

photo (1)

  • Menulis resensi. Setelah siswa selesai membaca novel dengan tuntas, kegiatan ini bisa dilakukan. Ajak siswa menuliskan kritik mereka atas novel melalui resensi. Anak juga bisa belajar menulis persuasi, mengajak teman lain untuk ikut membaca novel ini juga.

Atheis dan Sidomuncul

Di akhir semester satu, setelah kami selesai membaca novel Atheis, saya membuat evaluasi pembelajaran dengan cara ini. Siswa diajak memilih siapa tokoh favorit mereka dan menyertakan alasannya. Siswa juga diajak untuk berefleksi, apa yang bisa dipelajari dari tokoh tersebut. Plus, siswa diminta memberi rating pakai bintang-bintang. 🙂

Berikut ini contoh hasilnya.

photo 1 (3)

Evaluasi lainnya muncul dalam ujian akhir semester. Salah satu bentuk assessment yang diberikan adalah membuat sebuah paragraf kritik atas novel Atheis. Harapan para guru adalah siswa dapat menyampaikan pengetahuan mereka atas novel tersebut, dan lebih jauh lagi, dapat menilai kelebihan dan kekurangan novel.

Khusus untuk gambar di bawah ini, rasanya saya masih gagal memberikan pengetahuan dasar tentang novel. Meskipun lucu, habis kata saya membacanya.

photo 2 (2)

Ini Pekerjaan Rumah untuk saya, belajar lagi bagaimana cara membuat evaluasi hasil pembelajaran yang benar-benar merasuk ke jiwa siswa.