Karya Pertama: NOW AND THEN

Benar kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah sebuah keberanian.
Ketika karyamu lahir karena berani, kau akan menjompak-jompak bahagia.
Biarkan mereka yang repot dengan tafsirannya, kau hanya cukup jadi sederhana.

Ini karya pertamaku. Mulanya aku menantang diri untuk ikut dalam Kompetisi Menulis 100% Roman Asli Indonesia yang diadakan penerbit Gagas Media tahun 2010. Aku pilih kategori Classic Romance dan naskahku kuberi judul Lawang. Akhirnya, Karyaku masuk 20 besar. Dan hanya sampai situ, tidak menang juara 1-2-3. Namun, beberapa waktu kemudian ada editor Gagas Media yang mengatakan naskahku berpotensi diterbitkan. Revisi lalala lilili dan diubah judulnya biar lebih menjual katanya, nah… terbitlah novel pertamaku ini di tahun 2012.

  • Judul: Now and Then, Mengetuk Pintu Cinta
  • Penerbit: Gagas Media
  • Tahun terbit: 2012
  • Sinopsis: Novel ini menceritakan kisah cinta Lian si perempuan Cina dan Pras si lelaki Jawa, yang mengalami masalah dalam menyatukan hubungan mereka karena kendala budaya. Latar cerita adalah Kota Semarang, dan setiap bab diberi judul nama-nama tempat di kota itu.

koper

suatu malam seorang gadis berwajah sendu menggeret sebuah koper hitam bersih dari debu
ia masukkan dirinya ke dalam koper bersama kain biru, dua buku, film bisu, dan seikat rindu

koper itu lalu diajaknya bicara:

sampaikan padanya, ia bisa membawamu mendatangiku
aku masih di sini, menunggunya di bawah lampu

14 Juli 2012

Lihat ini…

Sang Penari: Geger Merah Tanpa Sensor

Saya butuh dua kali nonton untuk menerima film Sang Penari dalam hati saya. Pada kesempatan nonton pertama, saya datang sebagai penggemar novel Ronggeng Dukuh Paruk yang gembira ria sebab novel ini telah difilmkan lagi. Di tahun 1980-an sutradara Yasman Yazid dan PT Gramedia Film memang sudah memfilmkannya dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Saya belum menonton film itu, makanya saya begitu bersemangat untuk menonton film Sang Penari karya sutradara Ifa Isfansyah ini. Saya sampai lupa tak memperhatikan detil poster film yang menyatakan bahwa Sang Penari adalah sebuah film yang terinspirasi dari novel.

Sebab disebut terinspirasi, sudah seharusnya saya tidak boleh memaksakan kehendak imajinasi saya hadir dan terpuaskan dalam film tersebut. Tapi nyatanya hal itu tak bisa saya hindari. Saya, bersama dua kawan saya yang sama-sama penggila novel tersebut, sibuk berceloteh ‘tidak terima’ atas sejumlah interpretasi yang dilakukan Salman Aristo, Shanty Harmayn, dan Ifa. Kami lupa bahwa ini adalah sebuah transformasi karya sastra, dan sudah seharusnya sebuah kebebasan penerjemahan dan penafsiran diberikan kepada pembuat transformasi tersebut. Bahkan Ahmad Tohari si pembuat novel pun begitu bijak mempersilakan siapa saja menafsirkan karyanya di sini.

Jadilah di kesempatan nonton yang kedua saya dapat lebih menerima dan merasakan Sang Penari ini dari hati. Saya menikmati pergerakan alur yang dibuat flashback, yang tentu saja berbeda dengan novelnya. Adegan dibuka dengan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang telah menjadi tentara, datang menengok sebuah kampung yang sepi. Sebuah gambaran pengantar Dukuh Paruk usai tragedi 1965. Lalu Rasus menemukan Sakum (Hendro Jarot) si buta yang terpojok di gubuk dan meminta Rasus mencari Srintil.

Cerita pun baru bergulir, kembali ke tahun 1953. Dukuh Paruk hidup dengan kebanggaan akan ronggeng Surti (Happy Salma), penduduk yang riang, dan masa kanak-kanak Srintil dan Rasus. Lalu terjadilah peristiwa keracunan massal tempe bongkrek buatan Santayib, bapak Srintil, yang menewaskan banyak warga termasuk ronggeng dukuh itu. Ini adalah peristiwa penting yang menandai motivasi utama Srintil ingin menjadi ronggeng. Sebuah laku wujud bakti pada dukuh dan juga penebus dosa orang tua. Sebuah penanda keintiman hidup warga Dukuh Paruk mulai hadir di adegan ini. Srintil dan Rasus kecil tidur bersama di rumah Rasus dan diketahui ibu mereka. Serupa itulah persaudaraan yang terjalin di dukuh miskin yang lebih sering hanya bisa makan gaplek ketimbang beras itu.

Adegan beranjak ke tahun 1963. Srintil dan Rasus telah remaja. Dukuh Paruk tampak hijau. Tentu ini berbeda dengan gambaran yang ada di dalam novel. Dukuh Paruk di sana adalah daerah yang sangat gersang bahkan untuk mencabut singkong saja anak-anak kecil mesti membasahi tanah dengan air kencing mereka. Namun dalam film, bocah-bocah gundul itu mencabut singkong dari tanah yang gembur. Pemakluman tentang ini harus sangat diberikan jika kita tahu bahwa tim produksi setidaknya telah berusaha menunggu kemarau datang hingga enam bulan lamanya, tetapi sayang kemarau dan latar kekeringan tidak datang juga.

Srintil (Prisia Nasution) mulai berdialog dengan Rasus di bagian awal ini. Saya menyukai logat Banyumasan mereka yang cukup medok. Kisah cinta mereka, yang memang merupakan inti dari film ini, digambarkan dengan begitu manis. Rasus digambarkan sebagai pemuda polos yang cenderung terlihat dungu. Namun, ia juga seorang pemuda gesit, dan semacam terpandai di antara pemuda dukuh lainnya. Gaya pacaran mereka sederhana, sesederhana memecah buah pepaya di atas batu.

Jiwa ronggeng Srintil mulai dibuka oleh dialog Srintil dan Sakum di depan makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk. Semangat Srintil untuk meronggeng ini ditangkap oleh Sakarya (Landung Simatupang), kakek Srintil, yang kemudian mendatangi Kartareja (Slamet Rahardjo) sebagai dukun ronggeng di dukuh itu. Ada keengganan dalam diri Kartareja sehingga membuatnya tidak datang ke ngibing pertama Srintil. Adegan ini sukses diperankan Prisia dengan wajah muramnya. Ia mampu menjiwai seorang gadis yang belum pandai menari tetapi berhasrat besar untuk membalas dosa emak bapaknya.

Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak dukuh. Seluruh warga menyukai ronggeng sebab itu adalah budaya yang begitu mengakar. Namun, kalimat “Ronggeng ku kayak pohon kelapa. Sapa bae bisa slaman slumun manjat.” menjadi sebuah gugatan seorang kekasih atas dunia ronggeng. Sayangnya, Srintil begitu ingin njoget sehingga Rasus pun mendukungnya dengan memberikan keris Ronggeng Surti. Dukungan itu nyatanya tidak dari hati sebab Rasus melarikan diri ketika malam peresmian Srintil. Apalagi ketika acara bukak klambu digelar sebagai syarat ‘dadi ronggeng’. Penonton di luar budaya ini bisa terkaget-kaget bahwa serupa itulah seksualitas dan harta dimaknai dalam budaya yang tak terjamah agama. Di sini saya puas dengan akting Nyai Kartareja (Dewi Irawan) yang lugas memerankan dukun ronggeng alias mucikari, yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari seorang ronggeng binaannya. Ia juga yang berperan merawat, menasehati, dan mengatur Srintil untuk menghadapi para lelaki.

Srintil sukses menjadi ronggeng sementara Rasus lari dari ketidakmampuannya bersaing dengan lelaki lain. Ia masuk dalam dunia militer awal Indonesia dan menjadi pesuruh yang cekatan. Ia diasuh tokoh Sersan (Tio Pakusadewo), diajari untuk lebih gagah sekaligus belajar membaca. Karakter Rasus berkembang seiring berkembangnya pula kesenian ronggeng di dukuh yang mulai disusupi tokoh Bakar (Lukman Sardi) yang membawa istilah pertentangan rakyat dan borjuis.

Pergerakan kegalauan cinta Srintil pada Rasus cukup ditampilkan dengan baik dalam beberapa penggalan adegan: Emohnya Srintil menari sampai berani menolak Pak Marsusi, jampi-jampi telur ajian putus cinta, iri hati melihat orang menikah, sampai bayi Goder yang memancing hasrat keibuannya. Adegan-adegan itu saya pikir cukup bisa menyiasati permusuhan antara alur novel yang begitu detil dengan durasi film yang tidak bisa panjang.

Kemunculan bagian yang disensor
Yang saya paling puas dari film ini adalah visualisasi kejadian 1965 yang menimpa warga Dukuh Paruk. Ahmad Tohari si pengarang novel pun puas. Ia sendiri tidak membuat deskripsi yang begitu jelas tentang adegan penyiksaan atas warga Dukuh Paruk, atau pembunuhan atas Bakar dan kawan-kawan PKI. Beberapa deskripsi yang ditulisnya tentang rumah tahanan saja sempat disensor oleh Koran Kompas ketika tulisan tersebut muncul pertama kali sebagai cerita bersambung di tahun 1981. Meskipun kemudian bagian yang disensor itu muncul kembali dalam trilogi novel yang disatukan dalam satu buku Ronggeng Dukuh Paruk terbitan Gramedia tahun 2003.

Sebab film ini dibuat di era kebebasan berbicara sekarang, maka pembuat film bisa asyik bereksperimen menyampaikan beragam kode pada penonton melalui benda atau dialog. Kita bisa lihat caping yang dicat merah, arit yang dipegang petani, atau juga mendengar kata ‘merah’ dan ‘dewan revolusi’. Tak ada lagi sensor atas penyebutan Puterpra (Perwira Urusan Teritorial Perlawanan Rakyat) sebagaimana dulu Kompas tak berani menyajikannya. Penonton bisa melihat Sersan Pujo sebagai perwakilan tentara dan keberpihakannya dengan jelas atau adegan pembunuhan aktivis PKI dengan sangat gamblang. Ini sebuah catatan perfilman yang menyenangkan ketika sebuah sejarah gelap bangsa ini mulai dibuka dalam karya film yang nyata. Masyarakat bisa tahu, seperti itulah keadaan buruk yang menimpa banyak saudara kita yang dengan mudah dituduh PKI. Kepolosan warga Dukuh Paruk yang tahu membaca pun tidak kontras diadili dengan kekejaman tentara yang mendapat amanat membersihkan komunis sampai ke akar rumput.

Tafsir atas bagian akhir novel dan bagian akhir film memang sangat berbeda. Saya puas dengan penggambaran penjara Eling-Eling dalam novel yang divisualkan dengan lorong, ruang semacam bunker, gedung tua, yang menampung ratusan tertuduh PKI yang tak bersalah itu. Ketidakpuasan saya terjadi pada satu dua adegan yang tidak jelas memperlihatkan alur akhir hidup Srintil. Dalam novel tertulis Srintil menjadi gila, dan itulah akhirnya. Jelas ini bukan akhir yang menyenangkan untuk penonton kita. Ada proses hebat yang menjadikannya seperti itu, yang agaknya ditampilkan dalam sepotong adegan yang tidak cukup jelas bagi penonton awam. Srintil dibawa Darsun (Teuku Rifnu) kepada seorang lelaki dan diserahkan dengan kalimat “yang penting tidak malu-maluin”. Srintil menyembur ludah ke cermin dan sangat marah sampai ia dikembalikan lagi ke penjara. Mungkin ini adalah perwakilan bagian novel ketika Bajul menjual Srintil pada bosnya. Dan di situlah harga diri Srintil terkoyak dan membuatnya gila.

Seperti apa yang dikatakan Ifa bahwa Sang Penari adalah film cinta, maka sad ending yang sangat tragis itu sepertinya memang dihindari oleh pembuat naskah. Film ini mendramatisasi pertemuan Rasus dan Srintil dengan sangat baik, dan sekaligus mengarahkan pembaca pada dugaan horor dengan kepergian lori yang membawa Srintil dan tahanan lainnya. Beberapa penonton yang bukan pembaca novel menduga Srintil mati. Lalu kemudian, latar berubah menjadi Pasar Dawuan tahun 1975, atau kira-kira 10 tahun setelah adegan kepergian lori itu. Rasus menemukan Srintil meronggeng di sana. Rupanya ia mengamen bersama Sakum. Penonton tidak perlu tahu bagaimana kemudian Srintil bisa selamat dari tragedi merah. Penonton diajak memahami leraian bahwa Rasus menyerahkan keris kepada Srintil. Lalu Srintil pergi bersama Sakum, dan terus menari sepanjang jalan kampung. Sebuah akhir cerita terbuka yang menyenangkan hati pembaca, tetapi tidak mampu membuat saya menangis seperti akhir novel yang begitu mengguncang rasa kemanusiaan saya.

Tulisan ini agaknya bisa berkembang menjadi skripsi kedua atau tesis idaman saya. Namun, sampai di sini, saya sudah cukup terpuaskan. Sebuah film yang mengambil ide dari karya sastra Indonesia sangat perlu didukung dan diapresiasi sehebat mungkin. Apalagi jika di dalamnya membawa misi untuk membuka mata kita dan dunia atas ragam sejarah kelam bangsa kita.

Jenis film: drama
Produksi: Salto Films
Produser: Shanty Harmayn
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Pemain: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Landung Simatupang, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma.
Durasi: 111 menit
Rilis: November 2011

Hamil Hilang dalam Saman

Anak remaja suka dengar cerita horor. Pas banget deh, mereka seru banget waktu diskusi novel kelas Saman bagian bayi ibu Wis yang tiba-tiba menghilang.

Ada satu murid, @jsschrs , yang bercerita tentang pembantunya yang juga pernah mengalami kisah “hamil hilang”, seperti kisah ibu Wisanggeni dalam Saman.

Membahas karya sastra paling enak jika bisa dikaitkan dengan kehidupan nyata. Murid bisa berkaca langsung di cerita keseharian.

Kisah “hamil hilang” itu ternyata sering diberitakan di teve kita. Seorang ibu hamil, tiba-tiba besoknya perutnya rata, bayinya hilang!

Atau ada kisah seorang perempuan yang tidak kawin, tiba-tiba perutnya hamil lalu melahirkan! Fiksi campur nyata! Seru bahas ini di kelas, ya kan @carixza ?

Setelah itu murid sekelas fokus dalam satu konsep belajar yang seru. Masing-masing anak berlomba kisahkan cerita misteri yang mereka tahu.

Saat murid bercerita, saya menilai kemampuan bicara naratif mereka. Mungkin @Jeegee @adrianmikha @ubayHAHA @nabnabibil gak kerasa ya kalau sedang belajar dan dinilai? Kelihatannya murid hanya bagi cerita bergantian saja.

Itulah process of real-life learning. Murid bisa santai belajar tanpa tertekan karena beban ujian. Nilai-nilai belajar bisa didapat di keseharian. #twitedu

Sastra Itu Upil

Di sebuah kelas bahasa Indonesia, saya melempar tanya, apa itu sastra?

Sastra adalah upil. Kotoran hidung yang dianggap jorok itu mempunyai rasa yang khas. Asin. Rasa itu menambah bumbu dunia, sama seperti makanan. Upil juga diasosiasikan seperti emas, yang harus digali di kehidupan. Emas juga melambangkan benda berharga yang harus dicari manusia, begitu ujar salah satu murid kelas 10.

Saya tertawa. Saya senang. Murid saya yang berusia 15 tahun itu telah berusaha menyampaikan pendapatnya tentang apa itu sastra. Bagi sebagian besar murid SMA kelas satu di tahun pelajaran baru ini, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang menggunakan kurikulum asing mungkin dianggap bukan pelajaran penting. Lalu ketika mereka mendapati ada kewajiban membaca karya sastra, sebagian besar murid keburu cemas, sebab membayangkan novel yang tebal, puisi yang sulit dimengerti, atau drama maha absurd.

Maka, saya ajak mereka bermain di awal pertemuan pelajaran. Setelah berkenalan dan mencoba mengingat nama murid satu kelas, saya ajak mereka mengingat kembali, apa sebenarnya sastra itu? Apa benar sastra itu sesuatu yang aneh, sulit, dan tidak menarik untuk dipelajari? Nyatanya, mereka sudah punya konsep tentang sastra, meski sulit merangkainya dalam kalimat. Mereka tahu sastra itu cerita, sastra itu pantun, sastra itu pentas drama. Saya kemudian meminta mereka membuat gambar yang mengilustrasikan pemahaman mereka tentang apa itu sastra. Hasilnya ternyata menarik sekali. Gambar yang mereka buat lucu-lucu.

Ada murid yang menambahkan sifat sastra dalam penjelasan gambarnya. Pemahaman ini dituangkan dengan metafora yang menarik.

Dan sebagian besar murid akan menuliskan kecemasannya tentang sastra, bahwa sastra itu sesuatu yang absurd, atau juga melukiskan manfaat sastra dalam kehidupan.


Dari gambar-gambar ini saya mendapat lebih dari jawaban apa itu sastra. Coretan mereka saya pindai dan jadi penilaian awal sejauh mana pemahaman mereka tentang sastra, sehingga saya bisa menentukan target pencapaian pemahaman berikutnya. Dari kegiatan ini saya juga jadi kenal pribadi mereka. Buat saya, mengenal pribadi murid itu penting agar guru bisa tahu cara yang tepat untuk menyampaikan ilmu kepada berbagai karakter dalam satu kelas. Kesenangan murid pada Spongebob tadi misalnya, bisa saya jadikan bekal untuk menggunakan tokoh-tokoh Bikini Bottom ketika membuat contoh dalam pelajaran berikutnya nanti. Saya perlu menyiapkan cara yang sebisa mungkin dapat dipahami sebagian besar anak, yang dipahami anak yang menggunakan metafora bunga atau yang menggunakan metafora monster.

Saya percaya, gambar mereka tadi berangkat dari apa yang dekat dengan diri mereka. Lucunya, hal itu terbukti pada kisah murid yang mensimilekan sastra seperti upil tadi. Teman-teman anak itu tertawa sambil membocorkan rahasia di depan kelas, bahwa murid saya itu memang suka mengupil. Si anak hanya tertawa, sambil mendekatkan jari ke arah hidungnya. 🙂

Simbah

Saat cemas menunggu kabar dua orang kawan saya yang menjadi relawan di Merapi, saya menuliskan drama ini. Secara kebetulan, drama ini kemudian dipentaskan di acara sekolah untuk donasi Merapi. Drama singkat ini lalu dimainkan oleh murid-murid kelas 8. Apresiasi mereka apik. Penonton pun baik. Melalui cara lelang, drama ini mengumpulkan donasi yang lumayan besar dari orangtua murid.

Saya menuliskan naskah ini dalam cemas dan berselubung misteri. Maka yang tercipta ternyata kisah misteri pula. Ya, hidup itu kan memang misteri?

SIMBAH

Suasana di sebuah posko pengungsi bencana Gunung Merapi. Siang hari penuh debu. Tampak banyak orang beristirahat. Beberapa orang menahan sakit. Mereka berusaha melepas kecemasan.

Di sudut ruangan, seorang petugas jaga sibuk di meja. Seorang relawan datang terburu-buru ke arahnya.

Relawan     :    Masih ada satu!

Petugas      :    (kaget) Apa?

Relawan     :    Ya, masih ada satu di Cangkringan!

Petugas      :    Satu apa? Coba bicara yang jelas.

Relawan     :    Masih ada satu orang tertinggal di Cangkringan.

Petugas      :    (kaget lagi) Lho, bagaimana bisa?

Relawan     :    Ya, dia tertinggal. Lebih tepatnya, sengaja meninggalkan diri.

Petugas      :    (bangkit berdiri) Coba kamu tenang. Lalu coba jelaskan.

Relawan     :    Ya, aku baru dapat info tadi. Ada seorang nenek yang tertinggal di desa itu. Aku tahu langsung dari cucunya.

Petugas      :    Keluarganya ada di sini?

Relawan     :    Ya. Mereka mengungsi dua hari lalu. Satu bapak, satu ibu, dan satu anak kecil. Aku nggak sengaja ngobrol sama mereka. Lalu anaknya yang kecil itu bilang, simbahnya masih ada di Cangkringan.

Petugas      :    Lho, waktu mereka ngungsi, apa simbah itu ndak diajak?

Relawan     :    Itulah. Kata mereka, ndak mau.

Petugas      :    Hmm… (berpikir)

Relawan     :    (tidak sabar) Gimana? Kita harus samper, kan? Aku akan minta tim SAR balik ke sana. Siang ini.

Petugas      :    Tapi di sana masih bahaya. Tadi aku dapat info sore ini mungkin awan panas turun lagi.

Relawan     :    Berarti kita harus cepat!

Petugas      :    Hmm, baik. Nanti aku coba koordinasi dulu dengan tim. Coba kamu tanya dimana rumah simbah itu. Minta anaknya ikut.

Relawan     :    Ya! (beranjak pergi cepat)

Petugas      :    (mengerutkan dahi, bingung sendiri) Hmm, aneh, kenapa dia ndak mau ngungsi?

 

Sang relawan berjalan terburu-buru menuju seorang ibu yang sedang memijat suaminya. Mereka terlihat lelah. Mereka tidak sadar ada seseorang yang datang.

Bapak         :    Menil tadi kemana?

Ibu              :    Lha kan tadi diajak sama mbak-mbak. Bajunya merah. Diajak belajar katanya.

Bapak         :    Hoo… Yaa…

Relawan     :    Permisi, Pak, Bu.

Bapak         :    (menengok) Ya? Eeeh, mas.

Relawan     :    Ya, Pak. Kita harus ke rumah Bapak sekarang.

Bapak         :    Sekarang?

Relawan     :    Ya, mumpung masih bisa.

Bapak         :    Tapi saya ndak bisa ajak. Pokoknya Mas saja yang ajak. Saya ndak bisa.

Relawan     :    Iya, Pak. Saya akan ke sana dengan tim siang ini. Bapak ikut untuk kasih tau jalan. Bisa kan, Pak?

Bapak         :    (menghela napas berat) Bukan saya ndak mau, Mas. Tapi saya memang ndak bisa. Saya ndak bisa maksa ibu saya. (istri mengangguk-angguk)

Relawan     :    Tapi ini demi kebaikan bersama. Biar saya yang urus.

(Bapak menatap ibu. Ibu mengangguk memberi isyarat.)

Bapak         :    Yo wis, Mas.

Relawan     :    (tersenyum) Mari, Pak.

(Relawan dan Bapak berdiri, lalu pergi.)

 

Waktu berlalu. Siang hari. Suasana sepi. Desa Cangkringan tampak seperti desa mati. Semua tampak pucat, putih, dan tidak berdaya. Rumah-rumah tertutup abu tebal. Beberapa pohon tampak tumbang. Tidak terdengar suara apapun.

SAR 1         :    (sambil melihat ke arah kaki) Masih panas!

SAR 2         :    Ini sudah mending ketimbang kemarin.

SAR 3         :    Sepatuku mulai meleleh.

SAR 2         :    Masih untung pakai sepatu.

SAR 1         :    Dimana simbah itu?

SAR 3         :    Kita sisir hutan.

(terus berjalan mencari-cari)

Relawan     :    Biasanya kemana, Pak, kalau siang begini?

Bapak         :    Ngangon kambing. Atau cari kayu. Lha tapi kalau begini, ndak tau juga saya.

Relawan     :    Rumah kosong. Sekitar halaman nggak ada.

Bapak         :    Koyo’e di hutan. Biasanya cari-cari di sana, Mas.

Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu. Salah seorang dari mereka berteriak tiba-tiba.

SAR 1         :    Itu!

SAR 3         :    Mana? Ah, iya itu!

SAR 2         :    Itu bukan, Pak?

Bapak         :    Mana? Mana? Oh ya, mak! Mak! (berteriak)

Mereka berjalan bergegas. Terlihat seorang nenek tua kaget melihat rombongan datang.

SAR 3         :    Simbah! Dari mana, Mbah?

(mendekat dan berusaha menggandeng)

SAR 2         :    Ayo, Mbah. Turun. Wes ra aman di sini.

Simbah       :    Emoh! (ketus)

SAR 1         :    Nanti selak weduse turun lagi, Mbah. Simbah harus ngungsi sekarang. Ben slamet. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh!!!

Relawan     :    Simbah, ini ada Pardi. Ayo, Mbah, turun. Kalau di sini bisa nggak selamat nanti.

Simbah       :    Emoh!

SAR 2         :    (merayu, sambil mencengkeram tangan Simbah ) Tapi Simbah harus turun. Nanti boleh balik lagi kalau sudah aman. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh! Emoh!

 

Tim SAR memaksa Simbah untuk dievakuasi. Simbah meronta-ronta, kukuh menolak untuk pergi dari desa. Dua orang memegang tangannya, menggiringnya ke dalam mobil. Relawan dan Bapak mengikuti dengan cemas.Mereka berjalan menuju mobil.

SAR 2         :    Sudah, Simbah aman di sini. Kita turun sekarang.

Simbah       :    Kulo sibuk! Kulo sibuk!

Relawan     :    Sibuk apa, Mbah?

Simbah       :    Among tamu!

Relawan     :    Among tamu? Terima tamu?

SAR 2         :    Tamu siapa? Sudah ndak apa orang di sini, Mbah.

Simbah       :    Simbah among tamu. Masih rame dari Atas.

Relawan     :    Atas? (bingung)

Simbah       :    Kulo harus balik! Tamune banyak.

SAR 2         :    Ya, Mbah. Nanti.

Relawan     :    (bertanya pada SAR 2) Terima tamu siapa?

Relawan masih bingung dengan keterangan Simbah tadi. Ada rasa ngeri yang tiba-tiba datang. Siapa tamu dari atas yang dimaksud Simbah? Relawan memperhatikan wajah kukuh Simbah. Ada keyakinan dalam wajah tua itu.

Bapak         :    Mas?

Relawan     :    Ya, Pak?

Bapak         :    Jangan dipikirkan.

Relawan     :    Among tamu.Terima tamu siapa maksudnya?

Bapak         :    Sudah Mas. Ndak usah dipikirkan. Makanya, saya ndak bisa maksa dia.

Relawan     :    (mengerutkan dahi) Kenapa?

Bapak         :    Mas, Emak saya ndak waras!

Relawan     :    Ooh!

Mobil terus melaju meninggalkan desa itu. Tidak ada suara apapun, kecuali deru mobil menggilas debu. Desa itu makin sepi. Tanpa penghuni.

 

Selesai