Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang saya hormati….

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 telah muncul tiga dokumen yang berisi konsep kebudayaan Indonesia. Ketiga dokumen kebudayaan itu adalah Surat Kepercayaan Gelanggang (1951); Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra, 1956); dan Manifest Kebudayaan (1963).

Konsep kebudayaan yang dicitakan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang mengacu ke arah kebudayaan Barat yang bersifat sekuler, antroposentris serta elitis. Agaknya para pemikir kebudayan saat itu masih sangat terpesona oleh kemajuan Barat sehingga mereka mencitakan kebudayaan Indonesia berkiblat ke Barat.

Situasi perang dingin yang mulai menghangat menjelang tahun 1960-an menyeret Indonesia ke dalam tarik-menarik antara pengaruh blok Barat dan blok Timur, juga di bidang pemikiran kebudayaan. Maka sebagai tandingan atas lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang yang mengarah ke Barat, lahirlah Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang mengarah ke blok sosialis di Timur, sama-sama sekuler, antroposentris, tapi punya kecenderungan populis. Meskipun begitu, polemik kebudayaan pun berkecamuk sengit di antara pendukung kedua kubu tersebut.

Di tengah sengitnya polemik antara pengikut “kebudayaan Barat” dan pengikut “kebudayaan Timur” yang sama-sama sekuler itu muncullah pada tahun 1963 Manifest Kebudayaan yang seolah-olah hadir sebagai konsep alternatif kebudayaan Indonesia. Tetapi ternyata Manifest Kebudayaan, yang pada kalimat terakhirnya berbunyi “Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami”, disanggah dan dicerca habis-habisan oleh para pengikut Mukadimah Lekra.

Bagi para budayawan Lekra, baik SKG maupun MK mereka anggap sebagai konsep kebudayaan yang sama-sama borjuis. Dan pembantaian kebudayaan ini baru berakhir pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, dan Lekra pun gulung tikar.

Hadirin yang saya muliakan….

Saya mulai berkarya sastra pada tahun 1971. Sebagai pribadi yang dekat dengan orang-orang Lesbumi saya memilih dengan sadar konsep kebudayaan yang berfalsafah Pancasila sebagai yang tercantum dalam Manifest Kebudayaan. Karena mengakui Pancasila sebagai falsafah kebudayaan Indonesia maka dalam berkarya saya punya niatan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi maupun kepentingan kesusastraan semata.

Demikianlah, maka selalu ada pertanyaan yang mendasar yang muncul ketika saya akan memulai menulis sebuah karya. Pertanyaan itu:

Pertama, “Mengapa kamu menulis karya sastra?”

Kedua, “Apa niatmu melakukan hal itu?”

Mengapa seorang sastrawan, dalam hal ini saya menulis karya sastra, jawabnya sederhana. Yakni, karena saya punya kegelisahan jiwa dan ingin melahirkan kegelisahan itu. Setelah kegelisahan itu lahir sebagai karya sastra, maka terserah kepada masyarakat; mau membaca, lalu menangkap kandungan nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, atau membiarkan karya saya tersimpan di rak-rak buku. Dalam hal ini saya sebagai penulis sudah menyelesaikan bagian saya.

Tentang niat menulis karya satra jawabannya banyak. Adalah sah apabila karya sastra ditulis dengan niat mengaktualisasikan diri. Siapa saja boleh membangun eksistensi dirinya dengan jalan menulis karya sastra. Bahkan boleh saja sebuah karya sastra ditulis dengan niat mendapatkan uang, dan mengarahkan karya itu agar laris di pasaran. Ada lagi jawaban yang sering terdengar bahwa sastra ditulis demi kesusastraan itu sendiri.

Sebagai orang biasa dalam dunia kesusastraan Indonesia, saya merasa semua penjelasan itu ada benarnya. Tetapi buat saya semua itu tidak menjadi jawaban yang tuntas. Memang karena menulis karya sastra maka saya mendapat uang, dan nama saya dikenal di tengah masyarakat. Namun masih ada yang belum terwakili melalui penjelasan itu. Uang dan nama bukan segalanya. Atau, apakah saya bersastra untuk kesusastraan semata? Tidak cukup juga. Penjelasan ini seperti membawa saya ke arah jalan buntu.

Hadirin yang saya hormati….

Setiap karya sastra lahir dari seorang yang berada dalam keadaan sadar. Dengan demikian karya sastra lahir dengan sebuah motivasi atau maksud. Dan bila maksud itu bukan hanya untuk pemenuhan kepentingan sempit (cari uang, cari nama, atau sastra untuk sastra) maka adakah sesuatu yang lebih mendasar?

Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka niat harus ditata dan dibangun dengan baik agar setiap karya sastra yang saya tulis bisa dipertanggungjawabkan. Jadi apa niat saya bersastra?

Seluruh karya sastra saya ditulis dengan niat menjalankan perintah, “Hai orang-orang beriman, jadilah kalian pembela-pembela Tuhan”.

Apakah Tuhan butuh pembelaan? Tuhan Mahaperkasa, Mahamandiri Mahakuasa, jadi Tuhan sama sekali tidak butuh pembelaan. Meyakini pribadi Tuhan butuh pembelaan adalah kekonyolan yang nyata. Maka kewajiban menjadi pembela Tuhan sesuangguhnya adalah kewajiban membela amanat dan “alamat”-Nya.

Amanat Tuhan kepada manusia tidak lain adalah keadaban kehidupan, yang dibangun melalui penegakan nilai-nilai keadaban seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik, dan seterusnya.

Jelasnya, amanat Tuhan kepada manusia adalah penyebaran kasih sayang kepada seluruh isi alam. Melalui karya sastra yang semuanya menyangkut kehidupan orang-orang terpinggirkan saya bermaksud memberikan kasih sayang kepada mereka. Tentu, pembelaan secara sastrawi melalui kesaksian dan pewartaan tidak akan serta merta mengubah keadaan orang-orang teraniaya itu. Sastra hanya punya tugas mengetuk nurani masyarakat bila terjadi gelaja yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban.

Maka apakah pembelaan terhadap nilai-nilai keadaban melalui karya sastra bisa berhasil?

Sastra hanya menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu narasi cerita kepada pembaca. Sastra hanya menyapa jiwa. Maka pembaca sendiri yang kalau mau, mengolah penghayatan nilai-nilai itu menjadi kesadaran dalam jiwanya. Dan bila perkembangannya berlanjut akan kesadaran itu akan bergerak menjadi perilaku nyata.

Para hadirin yang baik….

Pemberdayaan sastra sebagai “pembelaan” terhadap Tuhan juga bisa diarahkan kepada (alamat-alamat) Tuhan. Tuhan Yang Mahabijaksana tentu mahatahu bahwa kita adalah ciptaan yang begitu lemah dan nisbi. Oleh karena kita tidak akan mampu mencapai Dirinya Yang Mahakuat dan Mutlak. Maka dengan kasihsayang-Nya, Tuhan ‘menuliskan alamat-alamat-Nya’ di bumi yang bisa dan mudah kita capai. Demikian, maka orangtua kita, kaum miskin, anak yatim, mereka yang tertindas adalah orang-orang yang pantas kita yakini menjadi ‘alamat-alamat’ Tuhan.

(Kita juga percaya tentang adanya percakapan antara seorang penghuni neraka yang bertanya, “Ya Tuhan, mengapa aku Engkau masukkan ke dalam neraka ini?” dan Tuhan menjawab, “Karena kamu tidak menjenguk ketika Aku sakit.” Si penghuni neraka bertanya lagi, “Bagaimana Engkau Yang Mahakuasa sakit?” Tuhan menjawab, “Tetanggamu yang sakit, dan kau tidak menjenguknya.”)

Istilah ‘tetangga yang sakit’ tentu bisa ditafsir secara lebih luas menjadi orang-orang di sekeliling kita yang menderita, baik secara badani, batini, maupun sosial. Mereka bisa berwujud sebagai kaum gelandangan, anak-anak yang tak sempat bersekolah, mereka yang dihukum secara zalim, dan sebagainya.

Dan sastra yang bertanggung jawab kepada keadaban punya kewajiban membela mereka. Tentu sesuai dengan kodratnya, pembelaan yang bisa dilakukan oleh sastra terhadap “Aku yang sakit” yakni kaum miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya, adalah pembelaan yang bersifat moral-sastrawi. Demikian, karena sastra tidak punya kekuatan apapun kecuali sesuatu yang diharapkan bisa menyentuh kesadaran dan jiwa manusia.

Hadirin yang mulia….

Karya sastra hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang lebih dulu telah cukup membaca. Dan tentu bukan suatu kebetulan bila membaca merupakan perintah pertama Tuhan dalam kitab suci kita: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…”

Sasaran apakah kiranya yang diperintahkan Tuhan untuk dibaca oleh manusia?

Tentu bukan hanya kitab melainkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi yang semuanya adalah milik Tuhan semata. Orang Minang bilang alam takambang jadi guru, orang Jawa bilang meguru maca sastra kang gumelar. Kedua ungkapan itu mempunyai maskud yang sama, bahwa manusia diperintahkan membaca seluruh ciptaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi. Karena, tidak ada kesia-siaan dalam penciptaan setiap makhluk; semuanya hadir membawa bukti-bukti kebesaran-Nya.

Bila manusia membaca dengan nama Tuhan terhadap sasaran yang baik maupun sasaran buruk, dia akan mendapat berkah ilmu dan kearifan. Membaca sejarah atau perilaku orang baik akan didapat pengetahuan dan kesadaran untuk menirunya.

Sebaliknya, membaca dengan nama Tuhan perilaku orang-orang yang mungkar maka akan dapat pengetahuan dan kesadaran untuk tidak menolaknya. Bahkan pembacaan yang ikhlas atas benda-benda yang kotor pun kita akan sampai kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan. Misalnya, di bawah lensa mikroskop kita akan melihat kehidupan makhluk ciptaan Tuhan yang berwujud jutaan bateria dalam secuil tinja manusia.

Hadirin yang terhormat….

Dalam pengalaman pribadi sebagai sastrawan, saya pernah menghadapi kondisi batin yang berat yakni ketika hendak menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk pada tahun 1980.

Novel tersebut menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Dua kata kunci “ronggeng” dan “PKI” adalah dua hal yang sering dianggap berada di luar batas wilayah kesantrian dari mana saya berasal. Selain itu, hal-hal yang berbau PKI adalah isu yang amat sensitif pada era Suharto terutama di mata aparat keamanan.

Maka ketika novel ini seleai terbit pada tahun 1984, sebagian masyarakat menanggapinya dengan bertanya bernada menggugat, mengapa sasaran yang saya pilih adalah dunia ronggeng, yang terlibat PKI pula? Ya, semua orang tahu ronggeng adalah perempuan penari kesenian tradisi yang mengobral birahi. Maka pantas para santri dicegah, untuk menjauhinya.

Tetapi pada sisi lain, sejak saya masih ingusan dan ikut tahlilan selalu dibacakan ayat, “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…”.

Maka saya pun berpikir dan percaya perwujudan ronggeng pun merupakan gejala yang harus dibaca (dengan nama Allah); dari mana, bagaimana, mengapa. Dengan demikian, kita bisa menyikapinya dengan pengetahuan cukup.

Hadirin yang saya muliakan….

Mulai tahun 1960 PKI mulai membangun kekuatan fisik untuk melakukan makar. Di daerah saya, Banyumas, mereka membentuk kekuatan bersenjata di bawah tanah. Pasukan ini sering melakukan perampokan untuk merampas harta sekaligus menciptakan kerawanan sosial. Kurang ajarnya mereka mengaku sebagai pasukan DI/TII ketika melakukan penggarongan dan pembunuhan. Kami baru tahu siapa mereka sebenarnya setelah mereka tertangkap. Di antara pasukan yang mengaku DI/TII itu ada guru saya yang menjadi aktivis PKI.

Dalam dunia sastra, saya membaca karya-karya penulis kiri di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat serta buletin Indonesia Baru. Mereka suka sekali menista para tokoh agama; terutama kiai dan haji. Keluarga kami sendiri dinistakan oleh Barisan Tani Indonesia (di bawah PKI) sebagai tuan tanah dan setan desa yang harus diganyang hanya karena kami memiliki 1,5 hektar sawah. Maka tak kurang-kurang rasa sakit saya karena ulah orang-orang komunis.

Maka saya senang ketika PKI ternyata kalah dalam kudeta tahun 1965. Tetapi kemudian saya melihat gejala yang luar biasa. Rumah mereka dibakar massa. Bahkan mereka ditembak mati di depan umum, di depan mata saya. Di seluruh Indonesia ratusan ribu dibunuh. Keluarga mereka dilucuti hak-hak sipilnya hingga tiga atau empat generasi. Ini gejala kemanusiaan yang dahsyat, dan muncul pertanyaan dalam jiwa saya; apakah kekejaman massif ini tidak melanggar keadaban? Dan, bagaimana saya harus memahami sabda Tuhan bahwa Dirinya adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang?

Demikian, maka dalam novel RDP terasa ada empati saya terhadap mereka, terutama terhadap orang-orang biasa yang dibunuh karena dituduh terlibat PKI. Dalam keyakinan saya, empati ini adalah pembelaan terhadap keadaban yang menjadi amanat Tuhan. Sayangnya, pihak aparat keamanan memandang sikap saya ini sebagai bukti kedekatan saya dengan kaum komunis sehingga saya diinterogasi selama lima hari di Jakarta. Lima hari yang berat. Untung ada hari kelima ada interogator yang bertanya kepada saya, adakah orang yang bisa menjamin saya bukan simpatisan komunis.

Pertanyaan tersebut terasa indah di telinga saya. Maka kemudian saya menulis sebuah nama dengan nomor teleponnya. Saya menyilakan para interogator menghubungi si empunya. Nama yang saya tulis: Abdurrahman Wahid.

Mereka ternyata membeku saja, dan saya boleh pulang.

Hadirin yang saya hormati….

Saya mengakhiri pidato ini dengan permohonan ampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan saya, serta permohonan maaf kepada hadirin atas segala kelancangan saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 28 Maret 2014

Ahmad Tohari

Mengajak Murid Menolak Lupa Peristiwa 30S65

Tak ada pelajaran sejarah di sekolah bukanlah halangan bagi murid untuk tetap belajar sejarah. Lewat sastra yang mengandung sejarah Indonesia, murid bisa mempelajari banyak hal yang terjadi di masa lalu. Selama semester pertama kemarin, saya dan murid-murid kelas 11 telah mempraktikkan pelajaran sejarah lewat buku sastra. Proses belajar tersebut akan saya sajikan dalam urutan berikut ini.

1. Di awal tahun ajaran, murid diajak membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Pilihan novel ini disesuaikan dengan usia siswa (15-17 tahun), dan tentu saja nilai sejarah yang ada di dalamnya

2. Setelah membaca (kurang lebih selama 5 minggu belajar), siswa diperlihatkan video pendek berbagai versi Gerakan 30S. Atau, silakan cari ragam video serupa di Youtube.

3. Visual is always win. Maka, guru menampilkan Powerpoint Presentation yang memuat gambar-gambar yang berkaitan dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Peristiwa 30 September 1965. Tentu saja guru harus menguasai novel, lalu mengambil kutipan yang bisa dibahas terkait peristiwa sejarah ini. Misalnya: dalam cerita RDP disebutkan Srintil bertemu Tri Murdo, pemain musik yang memainkan lagu Genjer-Genjer. Guru bisa memasukkan pengetahuan sejarah tentang “Genjer-Genjer” itu. Tambahkan juga video lagu Genjer-Genjer dari Youtube, dan foto sayuran genjer sebagai pelengkap.

4. Guru lalu mengajak siswa membaca dan membahas Bab 5 Lintang Kemukus Dini Hari (buku kedua trilogi RDP). Ajak mereka mengungkapkan pengetahuan awal tentang “peristiwa tentara saling bunuh di Jakarta”.

5. Guru meminta murid untuk mencari tahu sendiri berbagai artikel tentang peristiwa bersejarah yang kelam ini. Kalau mencari bebas di internet, murid akan menemukan banyak sekali sumber, dan bisa jadi kebingungan sendiri. Untuk permulaan, artikel di wikipedia ini cukup untuk menjadi gambaran umum tentang peristiwa tersebut.

6. Sebagai latihan tambahan, guru bisa menampilkan berbagai kata kunci yang ada dalam novel. Misal: merah, ronggeng rakyat, tuan tanah, caping hijau, jenderal. Siswa diminta berdiskusi dalam kelompok untuk mencari tahu lagi apa makna kata-kata tersebut. Kemudian, guru membuat kuis tanya jawab untuk melihat pengetahuan siswa, bisakah mereka mengaitkan kata kunci dalam cerita itu dengan peristiwa dalam kejadian nyata.

7. Terakhir, sebagai penilaian pemahaman, siswa diminta menulis esai singkat. Dalam kertas ujian, siswa dapat membaca ulang kutipan novel Ronggeng Dukuh Paruk, lalu menjelaskan pengetahuan sejarah Peristiwa 30S65 yang sudah mereka pahami. Rubrik penilaian guru dituliskan di kertas itu juga, sehingga siswa tahu apa yang harus mereka sampaikan untuk memenuhi standar ekspektasi.

 

Ini salah satu hasil esai buatan siswa saya. Salah satu contoh yang cukup menggembirakan. 🙂

Pada bab 5 novel Ronggeng Dukuh Paruk terdapat peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi di Indonesia dan dikaitkan dengan cerita di novel tersebut. Dari situ dapat diambil beberapa nilai sejarah dan efek dari peristiwa itu terhadap desa-desa terpencil seperti Dukuh Paruk. Dari kutipan tersebut, kelompok Bakar ini merupakan bagian dari Partai Komunis Indonesia. Pak Bakar dan kelompoknya ini memanfaatkan warga Dukuh Paruk, terutama Srintil, untuk menyebarluaskan tentang PKI. Kelompok ronggeng Srintil dan PKI tidak punya kaitan langsung karena mereka tidak tahu akan keberadaan PKI. Yang mereka lakukan hanyalah menggelar pentas ronggeng atas nama kelompok Bakar tanpa tahu maksud tersembunyi Pak Bakar. Karena itu, warga Dukuh Paruk dianggap sebagai anggota dari PKI.

Di kutipan tersebut dijelaskan bahwa ada peristiwa pembunuhan di Jakarta. Peristiwa ini terjadi di Indonesia pada tanggal 30 September 1965 dan dikenal dengan nama Gerakan 30 September PKI atau G30S/PKI. Peristiwa itu terjadi di Jakarta, lebih tepatnya di Lubang Buaya, tempat enam jendral diculik, dibunuh, dan dikuburkan di Lubang Buaya. Peristiwa ini terjadi pada malam 30 September sampai 1 Oktober tahun 1965. Para jendral tersebut ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 oleh TNI. Akhirnya, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila karena Indonesia bebas dari malam G30S/PKI. Seperti namanya, pelaku yang diduga melakukan pembantaian G30S adalah PKI, tetapi hal ini masih belum terbukti jelas. Ada beberapa versi yang mempunyai pelaku berbeda yaitu Soekarno, Soeharto, Angkatan Darat, bahkan ada versi mengatakan bahwa ada campur tangan Amerika atau CIA dalam peristiwa ini. Ada enam korban yakni enam jendral yang meninggal pada peristiwa ini, sedangkan Jendral Nasution dapat selamat namun anaknya yang berumur lima tahun, Ade Irma, dan ajudannya meninggal malam itu.

Pada saat peristiwa ini, kepemimpinan ada di tangan presiden Soekarno yang pada zaman itu mencoba menerapkan Nasakom. Hal ini juga diduga menjadi pemicu bagi PKI, di peristiwa ini PKI diduga membunuh pemimpin-pemimpin tinggi Indonesia untuk merebut kekuasaan dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Setelah peristiwa tersebut masyarakat yang diduga terlibat dalam PKI ditangkap dan dibunuh dalam peristiwa Pembantaian di Indonesia 1965-1966. Tujuan utama dari pembantaian ini adalah untuk ‘membersihkan’ Indonesia dari partai komunis dan agar peristiwa seperti G30S/PKI tidak terjadi lagi. Tak ada jumlah pasti korban dari peristiwa ini. Sampai sekarang keberadaan PKI dilarang keras di Indonesia.  (Shantika Aqilla Kurnia/kelas 11/September 2014)

Mandela dan Remaja Hari Gini

Hari ini Nelson Mandela meninggal dunia. Timeline twitter dipenuhi beragam kicau tentang dia. Muncul juga dua tiga tweet di timeline saya yang menampilkan gambar tweet anak remaja yang seragam bertanya “Siapa itu Nelson Mandela?”. Oh, mereka benar-benar tak tahu siapa tokoh Afrika jauh itu. Tengok di malesbanget ini deh bagaimana sebagian remaja sekarang buta sejarah dunia.

Saya sendiri senyum kecut melihat itu. Tidak aneh juga. Pelajaran sejarah memang ada di sekolah-sekolah, tapi tidak benar-benar ada. Bahkan ada juga sekolah yang tidak punya mata pelajaran sejarah. Dulu zaman tahun 80-90an ada yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dan porsinya lumayan dipentingkan. Namun, setelah era itu pelajaran sejarah hanya pelajaran sampingan. Saya kurang tahu persisnya berapa jam pelajaran sejarah hadir untuk anak-anak di sekolah setiap pekan. Jadi, harap maklum kalau generasi 2000an ini tidak kenal pengetahuan sejarah, apalagi memahaminya.

Untungnya, awal semester lalu saya sempat menyempilkan materi sejarah di pelajaran sastra. Kelas 12 sedang belajar novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Mereka membaca bagian awal novel, ada tokoh Minke yang mendapat perlakuan kasar dari Herman Mellema yang berbeda ras dengannya. Lewat cerita ini, murid saya ajak untuk mencari tahu masalah sosial yang ada dalam novel. Saya memberi kata kunci “apartheid”, kemudian murid mencari tahu sendiri apa arti kata itu. Untuk anak yang tinggal di kota besar yang dekat dengan sumber informasi internet, tugas semacam ini tentu tak susah dilakukan.

 

ImageKerinton, Reggie, Audry, Pritta, Theo mempresentasikan Politik Apartheid di kelas 12

Dari proses riset itulah akhirnya mereka menemukan nama Nelson Mandela. Mereka jadi tahu siapa dia, apa yang dia alami di negaranya. Mereka juga menemukan foto-foto menarik (sebagian besar menyeramkan) tentang bagaimana kulit hitam dan putih dibedakan. Data dan foto itu mereka masukkan ke dalam slide powwrpoint. Mereka kemudian mempresentasikan hasil temuannya kepada teman-teman lain. Kostum tak lupa dipakai, untuk menunjukkan pemahaman mereka tentang isu rasial yang terjadi di Hindia Belanda.

Mungkin teman-teman yang sekadar mendengar presentasi tidak akan mendapatkan pemahaman dalam seperti murid yang mencari tahu sendiri tentang Mandela. Tapi setidaknya ada proses transfer pengetahuan. Mereka dapat ilmu sejarah langsung dari cerita temannya. Guru hanya bertindak sebagai mentor kelas. Ya, tugas guru di sini adalah menciptakan kondisi yang menumbuhkan hasrat belajar murid. Meski pelajaran sejarah tak ada di sekolah mereka, nyatanya bisa juga kok sejarah dihadirkan dari pelajaran lainnya. Kalau sudah ada pelajaran sejarah, ajaklah anak untuk belajar sendiri mengenal sejarah dengan cara yang asyik.

“If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.” – Nelson Mandela

 

 

 

 

 

Belajar Sejarah di TKP

Saat berkunjung ke Kota Lama, Semarang, kemarin, saya hanya berkeliling tanpa mendapatkan informasi yang cukup banyak. Padahal ada banyak bangunan lama yang menarik sekali. Tentu juga ada kisah sejarah yang menarik pula untuk didengar. Anak-anak sekolah seharusnya bisa belajar dari lingkungan seperti ini. Pelajaran sejarah misalnya, tentu akan lebih seru jika diadakan langsung di lokasinya. Saya jadi berpikir, bagaimana ya cara agar tempat bersejarah di suatu kota bisa bermanfaat lebih untuk pendidikan anak?

Ada beberapa yang saya pikirkan waktu itu.
* Mendongeng di bangunan tua
Orang tua atau guru bisa mendongengkan kisah bersejarah dengan lebih dramatis jika dilakukan di lokasi kejadian. Sebaiknya orang tua/guru mencari data dahulu tentang cerita sejarah yang akan disampaikan. Misalnya, cerita diniatkan untuk menjawab kenapa Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang memiliki dua semut besar di atap bangunannya? Nah, pencerita bisa buku cerita atau boneka semut sebagai alat peraga untuk anak di usia TK dan SD. Untuk kelompok yang lebih besar, boleh juga undang pendongeng terkenal untuk bercerita dengan cara yang tentu menarik.

* Anak di usia SMP dan SMA bisa diminta mencari data tentang peristiwa bersejarah yang terkait dengan tempat tersebut. Cari dulu data di buku-buku atau di internet, buat ringkasannya lalu datang bersama kelas ke lokasi cerita. Presentasikan hasil temuan riset sebelumnya di sana. Tentu rasanya akan lebih menarik daripada sekadar presentasi di kelas, kan?

* Murid SMP dan SMA bisa juga ditantang untuk membuat proyek menarik tentang tempat sejarah. Misalnya melakukan rally foto atau film pendek bersama kelompok kelas. Hasilnya akan dibuat pameran dan ditonton di sekolah. Atau ajak murid membantu pemerintah daerah untuk membuat booklet informasi wisata tentang tempat-tempat bersejarah. Tentu lebih asyik belajar dan menghasilkan kreasi nyata untuk daerah kita.

Tentu ada ide lain ya? Yuk, berbagi!

Sang Penari: Geger Merah Tanpa Sensor

Saya butuh dua kali nonton untuk menerima film Sang Penari dalam hati saya. Pada kesempatan nonton pertama, saya datang sebagai penggemar novel Ronggeng Dukuh Paruk yang gembira ria sebab novel ini telah difilmkan lagi. Di tahun 1980-an sutradara Yasman Yazid dan PT Gramedia Film memang sudah memfilmkannya dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng. Saya belum menonton film itu, makanya saya begitu bersemangat untuk menonton film Sang Penari karya sutradara Ifa Isfansyah ini. Saya sampai lupa tak memperhatikan detil poster film yang menyatakan bahwa Sang Penari adalah sebuah film yang terinspirasi dari novel.

Sebab disebut terinspirasi, sudah seharusnya saya tidak boleh memaksakan kehendak imajinasi saya hadir dan terpuaskan dalam film tersebut. Tapi nyatanya hal itu tak bisa saya hindari. Saya, bersama dua kawan saya yang sama-sama penggila novel tersebut, sibuk berceloteh ‘tidak terima’ atas sejumlah interpretasi yang dilakukan Salman Aristo, Shanty Harmayn, dan Ifa. Kami lupa bahwa ini adalah sebuah transformasi karya sastra, dan sudah seharusnya sebuah kebebasan penerjemahan dan penafsiran diberikan kepada pembuat transformasi tersebut. Bahkan Ahmad Tohari si pembuat novel pun begitu bijak mempersilakan siapa saja menafsirkan karyanya di sini.

Jadilah di kesempatan nonton yang kedua saya dapat lebih menerima dan merasakan Sang Penari ini dari hati. Saya menikmati pergerakan alur yang dibuat flashback, yang tentu saja berbeda dengan novelnya. Adegan dibuka dengan Rasus (Nyoman Oka Antara) yang telah menjadi tentara, datang menengok sebuah kampung yang sepi. Sebuah gambaran pengantar Dukuh Paruk usai tragedi 1965. Lalu Rasus menemukan Sakum (Hendro Jarot) si buta yang terpojok di gubuk dan meminta Rasus mencari Srintil.

Cerita pun baru bergulir, kembali ke tahun 1953. Dukuh Paruk hidup dengan kebanggaan akan ronggeng Surti (Happy Salma), penduduk yang riang, dan masa kanak-kanak Srintil dan Rasus. Lalu terjadilah peristiwa keracunan massal tempe bongkrek buatan Santayib, bapak Srintil, yang menewaskan banyak warga termasuk ronggeng dukuh itu. Ini adalah peristiwa penting yang menandai motivasi utama Srintil ingin menjadi ronggeng. Sebuah laku wujud bakti pada dukuh dan juga penebus dosa orang tua. Sebuah penanda keintiman hidup warga Dukuh Paruk mulai hadir di adegan ini. Srintil dan Rasus kecil tidur bersama di rumah Rasus dan diketahui ibu mereka. Serupa itulah persaudaraan yang terjalin di dukuh miskin yang lebih sering hanya bisa makan gaplek ketimbang beras itu.

Adegan beranjak ke tahun 1963. Srintil dan Rasus telah remaja. Dukuh Paruk tampak hijau. Tentu ini berbeda dengan gambaran yang ada di dalam novel. Dukuh Paruk di sana adalah daerah yang sangat gersang bahkan untuk mencabut singkong saja anak-anak kecil mesti membasahi tanah dengan air kencing mereka. Namun dalam film, bocah-bocah gundul itu mencabut singkong dari tanah yang gembur. Pemakluman tentang ini harus sangat diberikan jika kita tahu bahwa tim produksi setidaknya telah berusaha menunggu kemarau datang hingga enam bulan lamanya, tetapi sayang kemarau dan latar kekeringan tidak datang juga.

Srintil (Prisia Nasution) mulai berdialog dengan Rasus di bagian awal ini. Saya menyukai logat Banyumasan mereka yang cukup medok. Kisah cinta mereka, yang memang merupakan inti dari film ini, digambarkan dengan begitu manis. Rasus digambarkan sebagai pemuda polos yang cenderung terlihat dungu. Namun, ia juga seorang pemuda gesit, dan semacam terpandai di antara pemuda dukuh lainnya. Gaya pacaran mereka sederhana, sesederhana memecah buah pepaya di atas batu.

Jiwa ronggeng Srintil mulai dibuka oleh dialog Srintil dan Sakum di depan makam Ki Secamenggala, leluhur Dukuh Paruk. Semangat Srintil untuk meronggeng ini ditangkap oleh Sakarya (Landung Simatupang), kakek Srintil, yang kemudian mendatangi Kartareja (Slamet Rahardjo) sebagai dukun ronggeng di dukuh itu. Ada keengganan dalam diri Kartareja sehingga membuatnya tidak datang ke ngibing pertama Srintil. Adegan ini sukses diperankan Prisia dengan wajah muramnya. Ia mampu menjiwai seorang gadis yang belum pandai menari tetapi berhasrat besar untuk membalas dosa emak bapaknya.

Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak dukuh. Seluruh warga menyukai ronggeng sebab itu adalah budaya yang begitu mengakar. Namun, kalimat “Ronggeng ku kayak pohon kelapa. Sapa bae bisa slaman slumun manjat.” menjadi sebuah gugatan seorang kekasih atas dunia ronggeng. Sayangnya, Srintil begitu ingin njoget sehingga Rasus pun mendukungnya dengan memberikan keris Ronggeng Surti. Dukungan itu nyatanya tidak dari hati sebab Rasus melarikan diri ketika malam peresmian Srintil. Apalagi ketika acara bukak klambu digelar sebagai syarat ‘dadi ronggeng’. Penonton di luar budaya ini bisa terkaget-kaget bahwa serupa itulah seksualitas dan harta dimaknai dalam budaya yang tak terjamah agama. Di sini saya puas dengan akting Nyai Kartareja (Dewi Irawan) yang lugas memerankan dukun ronggeng alias mucikari, yang selalu berusaha mengambil keuntungan dari seorang ronggeng binaannya. Ia juga yang berperan merawat, menasehati, dan mengatur Srintil untuk menghadapi para lelaki.

Srintil sukses menjadi ronggeng sementara Rasus lari dari ketidakmampuannya bersaing dengan lelaki lain. Ia masuk dalam dunia militer awal Indonesia dan menjadi pesuruh yang cekatan. Ia diasuh tokoh Sersan (Tio Pakusadewo), diajari untuk lebih gagah sekaligus belajar membaca. Karakter Rasus berkembang seiring berkembangnya pula kesenian ronggeng di dukuh yang mulai disusupi tokoh Bakar (Lukman Sardi) yang membawa istilah pertentangan rakyat dan borjuis.

Pergerakan kegalauan cinta Srintil pada Rasus cukup ditampilkan dengan baik dalam beberapa penggalan adegan: Emohnya Srintil menari sampai berani menolak Pak Marsusi, jampi-jampi telur ajian putus cinta, iri hati melihat orang menikah, sampai bayi Goder yang memancing hasrat keibuannya. Adegan-adegan itu saya pikir cukup bisa menyiasati permusuhan antara alur novel yang begitu detil dengan durasi film yang tidak bisa panjang.

Kemunculan bagian yang disensor
Yang saya paling puas dari film ini adalah visualisasi kejadian 1965 yang menimpa warga Dukuh Paruk. Ahmad Tohari si pengarang novel pun puas. Ia sendiri tidak membuat deskripsi yang begitu jelas tentang adegan penyiksaan atas warga Dukuh Paruk, atau pembunuhan atas Bakar dan kawan-kawan PKI. Beberapa deskripsi yang ditulisnya tentang rumah tahanan saja sempat disensor oleh Koran Kompas ketika tulisan tersebut muncul pertama kali sebagai cerita bersambung di tahun 1981. Meskipun kemudian bagian yang disensor itu muncul kembali dalam trilogi novel yang disatukan dalam satu buku Ronggeng Dukuh Paruk terbitan Gramedia tahun 2003.

Sebab film ini dibuat di era kebebasan berbicara sekarang, maka pembuat film bisa asyik bereksperimen menyampaikan beragam kode pada penonton melalui benda atau dialog. Kita bisa lihat caping yang dicat merah, arit yang dipegang petani, atau juga mendengar kata ‘merah’ dan ‘dewan revolusi’. Tak ada lagi sensor atas penyebutan Puterpra (Perwira Urusan Teritorial Perlawanan Rakyat) sebagaimana dulu Kompas tak berani menyajikannya. Penonton bisa melihat Sersan Pujo sebagai perwakilan tentara dan keberpihakannya dengan jelas atau adegan pembunuhan aktivis PKI dengan sangat gamblang. Ini sebuah catatan perfilman yang menyenangkan ketika sebuah sejarah gelap bangsa ini mulai dibuka dalam karya film yang nyata. Masyarakat bisa tahu, seperti itulah keadaan buruk yang menimpa banyak saudara kita yang dengan mudah dituduh PKI. Kepolosan warga Dukuh Paruk yang tahu membaca pun tidak kontras diadili dengan kekejaman tentara yang mendapat amanat membersihkan komunis sampai ke akar rumput.

Tafsir atas bagian akhir novel dan bagian akhir film memang sangat berbeda. Saya puas dengan penggambaran penjara Eling-Eling dalam novel yang divisualkan dengan lorong, ruang semacam bunker, gedung tua, yang menampung ratusan tertuduh PKI yang tak bersalah itu. Ketidakpuasan saya terjadi pada satu dua adegan yang tidak jelas memperlihatkan alur akhir hidup Srintil. Dalam novel tertulis Srintil menjadi gila, dan itulah akhirnya. Jelas ini bukan akhir yang menyenangkan untuk penonton kita. Ada proses hebat yang menjadikannya seperti itu, yang agaknya ditampilkan dalam sepotong adegan yang tidak cukup jelas bagi penonton awam. Srintil dibawa Darsun (Teuku Rifnu) kepada seorang lelaki dan diserahkan dengan kalimat “yang penting tidak malu-maluin”. Srintil menyembur ludah ke cermin dan sangat marah sampai ia dikembalikan lagi ke penjara. Mungkin ini adalah perwakilan bagian novel ketika Bajul menjual Srintil pada bosnya. Dan di situlah harga diri Srintil terkoyak dan membuatnya gila.

Seperti apa yang dikatakan Ifa bahwa Sang Penari adalah film cinta, maka sad ending yang sangat tragis itu sepertinya memang dihindari oleh pembuat naskah. Film ini mendramatisasi pertemuan Rasus dan Srintil dengan sangat baik, dan sekaligus mengarahkan pembaca pada dugaan horor dengan kepergian lori yang membawa Srintil dan tahanan lainnya. Beberapa penonton yang bukan pembaca novel menduga Srintil mati. Lalu kemudian, latar berubah menjadi Pasar Dawuan tahun 1975, atau kira-kira 10 tahun setelah adegan kepergian lori itu. Rasus menemukan Srintil meronggeng di sana. Rupanya ia mengamen bersama Sakum. Penonton tidak perlu tahu bagaimana kemudian Srintil bisa selamat dari tragedi merah. Penonton diajak memahami leraian bahwa Rasus menyerahkan keris kepada Srintil. Lalu Srintil pergi bersama Sakum, dan terus menari sepanjang jalan kampung. Sebuah akhir cerita terbuka yang menyenangkan hati pembaca, tetapi tidak mampu membuat saya menangis seperti akhir novel yang begitu mengguncang rasa kemanusiaan saya.

Tulisan ini agaknya bisa berkembang menjadi skripsi kedua atau tesis idaman saya. Namun, sampai di sini, saya sudah cukup terpuaskan. Sebuah film yang mengambil ide dari karya sastra Indonesia sangat perlu didukung dan diapresiasi sehebat mungkin. Apalagi jika di dalamnya membawa misi untuk membuka mata kita dan dunia atas ragam sejarah kelam bangsa kita.

Jenis film: drama
Produksi: Salto Films
Produser: Shanty Harmayn
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Pemain: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Landung Simatupang, Dewi Irawan, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma.
Durasi: 111 menit
Rilis: November 2011

Bapak dan Genjer-genjer

Sudah sebulan terakhir ini, bapak mendapat kawan baru kala bersantai di bale-bale serambi rumah. Sebuah lagu lama yang terus-menerus diputarnya. Sungguh selalu seperti itu beberapa hari belakangan sampai akhirnya saya agak khawatir sebab ia tampak terlalu terhanyut. Lagu yang tersimpan dalam ponsel murahnya itu mengiringinya melongo menatap langit-langit, lalu kemudian memejamkan mata.

Lagu Gendjer-gendjer, penyanyi Lilis Suryani, itu kawan barunya. Buat saya, lagu itu terdengar menyeramkan. Ya, mungkin karena lagu itu memikul tuduhan nuansa horor, digosipkan sebagai lagu pengiring pembantaian para jenderal pada kisah misteri 30 September 1965. Namun, sebenarnya suara Lilis Suryani yang indah itu memang mendayu-dayu sendu. Seolah itu adalah lagu duka akan kematian. Musiknya terdengar bercampur dengan keresek radio lama. Sungguh, kengerian yang tercipta.

Padahal nyatanya, itu lagu manis tentang sayuran. Itu cerita seorang emak yang ingin memasak sayur genjer. Lalu penguasa pada suatu masa mencemplungkan bumbu politis pada wajan sayur itu. Maka jadilah lagu itu dilarang diperdengarkan. Padahal, lirik lagu berbahasa Osing itu sungguh sederhana.


Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Bapak melek. Dipanggilnya saya. Lalu berhamburlah sebuah cerita. Lagu itu menyayat hati bapak, dan juga hati ibu, katanya. Ia bercerita, di usia ketika ia berada di sekolah dasar, lagu ini begitu populer dinyanyikan. Partai Komunis Indonesia mendapat lagu yang begitu mewakili perjuangan kaum kecil yang mereka usung. Padahal Muhammad Arief, pencipta lagu itu, tidak bermaksud menciptakan lagu yang berat di tahun 1940-an. Lalu jika akhirnya si seniman Banyuwangi ini akhirnya mati dibunuh karena dianggap terlibat PKI, sungguh malang keduanya, si lagu dan si pencipta.

Bapak lanjut bercerita, ia dulu pernah mengajak kawan-kawan kecilnya untuk berdemo di sekolah. Demo kanak-kanak yang menanggung kesedihan sederhana. Guru mereka dibunuh karena dianggap terlibat PKI. Sementara buku-buku PR murid ikut habis terbakar di rumah sang guru. Lalu, bapak kecil ini menyerukan, “Balikno bukuku, balikno bukuku!” Ah, apalah yang bisa dikembalikan, kecuali harapan hidup akan tetap berlanjut.

Sementara cerita ibu tak kalah sendu. Pada bulan kelabu itu, sekolah diliburkan karena ibu guru yang mengajar dikabarkan ditemukan di selokan. Ya, dituduh PKI, lalu teronggok di sana. Ibu di usia kanak sungguh tak tahu mengapa gurunya yang manis mesti mati. Ibu tidak diperbolehkan menangis oleh ayahnya, sebab takut dikira mendukung si ibu guru. Oh, betapa menangis bisa dianggap sebagai bukti keterlibatan. Betapa melepaskan duka saja harus tertahan.

Lalu kalau memang lagu Genjer-genjer ini mengingatkan bapak dan ibu pada kisah seram, kenapa pula lagu itu terus-terus diputar? Justru itu, katanya. Mengenang-ngenang itu menyenangkan, sepahit apapun kenangan itu. Kalau sudah kenyang dikenang, toh lagu bisa dimatikan, lalu kembali pada kenyataan.


Aku gemas. Aku tawarkan jalan tengah. Kubilang pada bapak, “Kebetulan Pak, ini ada lagu Genjer-genjer tapi dengan musik yang lebih modern.” Dengan jedag-jedug-jedag-jedug disko remix. Kuperdengarkan aransemen DubYouth ke telinganya. Tapi rupanya, eksperimen anak muda Jogja itu tak masuk di telinga Bapak. “Kenangannya gak keluar,” ujarnya.

Sesekali saya berharap kenangan sedih bapak dan ibu itu hilang saja. Tapi benar kata bapak. Biar saja cerita itu tak hilang, tapi cukup terkubur saja di pojok ingatan. Sehingga mereka tetap tersenyum, sambil mengenang dengan dendang lagu yang tertahan.

petang 30 September 2011