My IVF Diary (part 2) – Cek Hormon dan Jantung

19 November 2019

Sudah hari keempat suntik Gonal-F. Tiap pagi rasanya mual sedikit. Tapi makan tetap enak karena nafsu makan kok rasanya meningkat. Badan agak tidak nyaman, seperti melayang. Tapi saat siang rasanya bersemangat. Aku bisa ngajar dan bolak-balik gedung sekolah kayak biasa. Nah, begitu sore, badan baru deh terasa lelah banget. Kupikir normal aja lah ya, namanya juga kerja dan beraktifitas, pasti jadi lelah.

20 November 2019
1. USG dan konsultasi dokter
2. Cek darah hormon
3. Cek EKG (rekam jantung)

Kunjungan kedua. Pagi jam 9.30 aku dan Heru sudah sampai Morula, papasan dengan dr Wisnu di depan lift dan dia menyalami kami.

Kami langsung masuk ke Admisi. Tak lama, aku diperiksa berat badan dan tensi darah. 117/74. Suster tidak beri komentar apa-apa. Aku juga tidak banyak tanya.

Aku lalu menunggu panggilan sambil menyempatkan koreksi ujian. Tapi Heru mengganggu terus, memberi komentar lucu pada foto-foto aku main rollerskate bulan lalu.

Akhirnya kami masuk ruang dokter untuk USG kembali. Kata dokter, telurnya sudah berkembang, yang kanan besar-besar, tapi yang kiri masih kecil. Lalu dokter meminta aku suntik Gonal-F lagi untuk tiga hari ke depan, juga meminta cek hormon lewat darah.

Pokoknya aku merasa biasa saja waktu tiba di lab, sampai kemudian ada drama ini.

Waktu jarum masuk ke kulit terasa agak sakit. Satu dua tabung selesai. Di tabung ketiga aku merasa kesemutan di tangan, lalu lama-lama kepalaku pusing. Perawat menghentikan ambil darah. Lalu pusingku makin hebat. Perawat suruh aku tarik napas dan jangan tutup mata. Aku keringat dingin. Pusing, pusing, pusing. Melek, melek, melek. Mau panggil Heru yang lagi ambilkan minum nggak bisa. Sampai kemudian, huekk. Aku muntah. Perawat kaget.

Heru balik dari ambil air minum dan bingung lihat lantai ruang lab ada muntahan. Bingung juga waktu lihat aku meler dan mau nangis. Heru langsung suruh aku minum teh manis yang sudah dia buatkan. (Lupa banget kami diminta pantang teh dan kopi).

Saat pusing mereda, aku bertanya ke perawat, kenapa aku bisa begitu. Dengan polos perawat bilang kalau dia juga tidak tahu, baru sekali ini dia ambil darah eh pasiennya hampir pingsan lalu muntah. Karena tanggung tinggal satu tabung, aku bilang lanjutkan saja ambil darahnya. Perawat langsung gerak cepat tusuk lagi, sedot darah lagi hingga genap empat tabung.

Rasanya lemas dan mau pulang. Tapi belum bisa karena masih harus cek rekam jantung. Aku permisi dari ruang lab sambil minta maaf ke perawat dan mbak cleaning service yang baru datang. Sambil mengurus printilan biaya yang harus dibayar, Heru menyemangatiku dengan bilang, “Yah, muntahnya. Ketauan deh tadi makan di warteg .”

Aku cek rekam jantung (EKG/ECG) di Medical Check Up room di lantai 2 RS Bethsaida ini. Prosesnya cepat banget. Yang bikin ngeri itu karena ada kabel-kabel yang ditempel di dada, tangan, dan kaki.

Kesannya kayak mau disetrum. Padahal nggak terasa apa-apa. Hasil juga bisa langsung diambil. Aku nggak bisa baca grafiknya sih, tapi ada note “normal”. Syukurlah. Aku mau pulang dan tidur sekarang.

Info tambahan untuk referensi

USG dan konsultasi dokter + lab dan cek darah hormon + GonalF tambahan + cek EKG = Rp.6.724.000

My IVF Diary (part 1)

Setelah enam kali IUI (inseminasi) di tiga rumah sakit (Hermina, Harapan Kita, Omni Hospital+Klinik Selaras) dan hasilnya gagal, aku dan Heru absen berusaha setahun. Kami jalan-jalan dan hepi-hepi. Lalu kemudian semangat itu datang lagi. Sekarang kami mencoba lagi, kali ini dengan program bayi tabung atau In Vitro Fertilisation (IVF). Dengan pertimbangan waktu dan jarak, aku memutuskan ikut program di Morula IVF Tangerang. Lokasinya di lantai 7 RS Bethsaida Gading Serpong.

20191117_152418

16 November 2019

  1. Konsultasi dokter
  2. Tanda tangan perjanjian
  3. Tes darah di lab
  4. Sperma analisis
  5. Suntik hormon pertama
  6. Minum vitamin

Pagi jam 07.30 aku dan Heru sudah tiba di Morula. Ini kunjungan kedua. Sebelumnya aku sudah sempat survei dan cari info, makanya kemudian sudah bikin janji sehari sebelumnya dengan dr. Wisnu Setyawan, SpOG(K). Info tentang beliau bisa dilihat di sini.

Awalnya, pasien harus isi data lengkap, juga menyerahkan KTP suami istri dan surat/buku nikah. Semua ini jadi persyaratan awal dan diurus oleh pihak Admisi.

Setelah itu, jam 10.00 akhirnya bertemu dokter Wisnu. Tentu aku sudah baca info tentang IVF, jadi aku tahu aku mesti datang di hari kedua mens. Makanya dokter kemudian bilang sebaiknya bisa langsung dimulai programnya karena waktunya sudah pas. Aku kemudian di-USG transvaginal, juga dites jalur vaginanya apakah mudah untuk nanti dilakukan OPU (Ovum Pick Up) dan ET (Embrio Transfer). Rasanya agak mules sedikit waktu kateter masuk lewat vagina yang dibuka pakai cocor bebek. Tapi sakit itu bisa teralihkan karena kita bisa lihat layar tampilan USG di depan mata. Centang! Fasilitas USG Morula oke.

Setelah itu, dokter membuat timeline rencana program. Juga membuat perhitungan tanggal. Ngbrol dan tanya jawab. Lalu aku dan Heru diresepkan suplemen vitamin.

Keluar dari ruang dokter, kami menandatangani surat perjanjian, kertas beberapa lembar dan tanda tangan di atas materai. Ditulis jelas semua di sana risiko yang mungkin terjadi dan apa hak kewajiban yang dilakukan kedua pihak, pasien dan dokter RS. Aku malas baca detail karena takut mood hepiku rusak. Biar Heru aja yang pahami itu.

Lalu, kami berdua harus tes darah. Aku diambil darah empat tabung. Untuk istri: Anti toxoplasma IGG dan IGM, AMH, LH, FSH, Progesteron, Estradiol, HBSAG, Anti HCV, Anti Rubella IGM dan IGH, Anti HIV. Untuk suami: HBSAG, Anti HCV, Anti HIV.

20191117_143003

Kasihan Heru, pembuluh darahnya kecil, jadi suster harus ganti tangan kanan kiri. Dan lebih sakit rasanya padahal cuma diambil satu tabung saja.

20191117_151409

Lanjut dengan Analisis Sperma untuk suami. Perlu dihighlight nih bagian ini. MorulaIVF Tangerang punya 3 Men’s Room. Fasilitasnya oke meskipun ruangannya kecil. Ada single sofa, wastafel, teve dengan koleksi video porno kualitas HD, majalah dewasa yang up to date, dan bonus minuman Buavita. Men’s room paling bagus dari sejumlah RS yang pernah kami datangi. 🙂

Selesai itu semua, kami diperbolehkan pulang karena pemeriksaan darah dan sperma tadi butuh waktu lama. Kami kembali lagi ke rumah sakit jam 7 malam untuk mengambil obat. Obat apa yang kami dapatkan harus disesuaikan dengan hasil cek darah tadi. Begitu hasilnya sudah keluar, kemudian dianalisis dokter, maka kemudian aku diberikan obat hormon gonal-F untuk disuntikkan di perut selama 4 kali selama 4 malam berturut-turut. Kami pun akhirnya pulang malam itu membawa Gonal-F dalam kantung es, juga vitamin Asta Plus untuk Heru, Dalfarol 200 dan Folamil Gold untuk aku.

Aku dan Heru banyak tertawa hari itu. Menertawai banyak hal kecil di ruang men’s room, acara Insert di teve ruang tunggu, hingga perawat gemas yang dijemput kakaknya. Oh, hari yang melelahkan sekaligus seru.

Info tambahan buat yang perlu tahu

Aku mencatat ini sebagai diary. Kenangan akan usaha perjuangan mencari si buah hati. Semoga saja catatan ini bermanfaat untuk pembaca, terutama untuk ibu bapak yang berencana memilih jalan ini juga. Biasanya suka ada yang bertanya tentang biaya, maka sengaja aku tuliskan di sini sebagai tambahan informasi.

Konsultasi dokter + USG transvaginal + pemeriksaan darah lengkap istri suami + analisis sperma + joining fee + paket obat Program IVF promo akhir tahun 2019 = Rp.22.925.500

Pendidikan Seks Lewat Sastra

Kaget. Hari ini masih ada guru yang nggak mau menyinggung topik seksualitas di kelas. Padahal tujuannya untuk pendidikan. Lagipula ini topik yang tak terhindarkan. Ayolah, remaja bisa akses topik itu di media sosial. Dari line today sampai lambe turah. Jadi daripada sembunyi baca tak terarah, kan lebih baik didiskusikan di kelas bersama orang dewasa?

Untung masih ada kelas sastra ya. Kita bisa diskusi topik apa saja dalam metafora bahasa. Seperti hari ini, aku dan murid bahas cerpen tentang topik kemiskinan Jakarta yang bikin perempuan sampai jual diri, lalu murid nyeletuk membandingkan dengan kasus prostitusi artis VA yang lagi rame itu.

Guru sudah seharusnya bisa menyambungkan materi ajar dengan konteks kehidupan sehari-hari. Jadi murid paham, buat apa sih aku capek-capek baca novel tebal, atau buat apa sih aku kerjakan soal-soal trigonometri yang susah ini. Murid bisa kita ajak untuk punya bayangan bagaimana teori pelajaran itu berfungsi di dunia nyata. Dari cerpen “Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” karya Ahmad Tohari yang sedang kupakai di kelas 11 ini misalnya, murid bisa kita ajak diskusi, mengapa bisa ada kemiskinan di ibukota, mengapa ya ada perempuan yang menjual berahi demi makan sehari-hari, mengapa juga ada artis yang sudah kaya tapi masih menjual berahi juga? Nah, dari teori sastra yang ada, siswa menganalisis, lalu kemudian mencari apa fungsi analisis itu buat mereka. Misalnya dari analisis tokoh, kita tahu bahwa ternyata si tokoh juga enggan melacur. Atau misalnya, meskipun tokoh abai pada moralitas dari pelacur, setidaknya dia menjaga moralitas di sisi lain. Si tokoh mengembangkan nilai-nilai hidupnya sendiri. Dari analisis itu kita dapat memahami maksud cerita, kemudian memahami bahwa kehidupan sekejam itu, lalu bisa ambil amanat buat kehidupan kita sendiri. Lebih jauh lagi, guru juga bisa ajak murid memikirkan untuk menciptakan solusi atas masalah itu.

Sekali lagi, guru harus bisa mengajak murid memahami teori pelajaran dan bagaimana fungsinya dalam dunia nyata. Misalnya, guru fisika minta murid untuk kerjakan satu rumus, lalu bilang nah itu salah satu hitungan yang digunakan untuk membangun jembatan lho. Simpel, kan? Tapi yang simpel ini sering kali lupa guru sampaikan. Guru sering asyik dengan teori saja, kerjakan latihan-latihan saja. Atau bahkan mungkin gurunya yang enggan jelaskan kaitan semua teori itu dengan dunia nyata?

Ini pengingat buat kita semua wahai guru, nggak usah takut bahas topik apapun dengan siswa, termasuk topik seks. Bahas aja dengan SERSAN, serius tapi santai. Yakin deh, kelas akan jadi asyik, pelajaran tetap masuk di hati.

Buku yang Kubaca Sepanjang 2018

Sekadar catatan pengingat tentang buku-buku yang berhasil tuntas kubaca dan satu kalimat kesan tentangnya.

  1. Bakat Menggonggong, Kumpulan Cerita Pendek, Dea Anugrah. Kesan: Penuh metafora yang kurang kunikmati enaknya.
  2. Rough Lawyer, novel, John Grisham. Kesan: Lumayan seru untuk mengisi waktu luang.
  3. Ilusi Imperia, novel, Akmal Nasery Basral. Kesan: Kita butuh banyak novel jurnalis macam ini.
  4. Silk Worm, novel, Robert Galbraith. Kesan: Masih tentang detektif Strike yang seru dan kompleks dan endingnya asyik.
  5. The Dinner, novel, Herman Koch. Kesan: Aku suka detailnya yang menggambarkan pikiran orangtua tentang anaknya.
  6. The Woman in Cabin 10, novel, Ruth Ware. Kesan: Akhirnya bikin kaget  misteri yang menyenangkan.
  7. A Head Full of Ghost, novel, Paul Tremblay. Kesan: Sungguh ngilu dan seram ini tapi sungguh membukakan pikiran kita yang ngakunya tidak sakit jiwa.
  8. Daddy’s Little Girl, novel, Vinca Calista. Kesan: Ribet bahasanya dan terlalu aneh.
  9. Laksamana Malahayati: Sang Perempuan Keumala, novel, Endang Moerdopo. Kesan: Bermanfaat sekali untuk membantuku mendapat gambaran tentang Malahayati untuk kudongengkan di Taman Mini.
  10. Laut Bercerita, novel, Leila S. Chudori. Kesan: Sungguh menambah pengetahuan gambaran tentang kekejaman penculikan 98.
  11. Himne Bunga-Bunga di Ladang, kumpulan cerpen, Clara Ng. Kesan: Agak kaget baca Clara Ng yang berbeda dengan cerita anak yang biasa kubaca.
  12. We Have Always Lived in the Castle, novel, Shirley Jackson. Kesan: Suram dan serem.
  13. Aruna dan Lidahnya, novel, Laksmi Pamuntjak. Kesan: Absurd tapi detailnya enak, tidak seringan filmnya.
  14. Tawa Gadis Padang Sampah, kumpulan cerpen, Ahmad Tohari. Kesan: Sederhana dan menyentuh kehidupan orang kecil seperti yang biasa Ahmad Tohari lakukan.
  15. Fatimah Chen Chen, novel, Motinggo Busye. Kesan: Terlalu melodrama tapi tetap perlu kita baca.
  16. Na Willa, novel, Reda Gaudiamo. Kesan: Ringan dan asyik dibaca karena dalam bahasa kanak-kanak.
  17. Na Willa dan rumah dalam gang, novel, Reda Gaudiamo. Kesan: Lebih asyik dari Na Willa buku satu.
  18. Mata Malam, novel, Han Kang. Kesan: Habis baca ini aku bengong ikut ngilu baca sejarah Korea dari sudut pandang mata yang lihat mayat tiap hari.
  19. The Woman in The Window, novel, A.J. Finn. Kesan: Misteri tetangga yang asyik dikepoin.
  20. Second Chance Revenge, novel, Anggun Prameswari. Kesan: Pop tapi asyik.
  21. Hush Little Baby, novel, Anggun Prameswari. Kesan: Bangga karena temanku ini sukses bikin novel misteri drama rumah tangga yang endingnya mengejutkan.
  22. Tiba Sebelum Berangkat, novel, Faisal Oddang. Kesan: Buku bagus tapi aku nggak yakin bisa bawa ini jadi bahan bacaan wajib anak SMA.
  23. Kasur Tanah Cerpen Pilihan Kompas 2017, kumpulan cerpen. Kesan: Nah ini pasti aku pakai buat tahun ajaran depan.
  24. Kisah dari Sumba, cerita anak, Maria Monica Wihardja. Kesan: Ilustrasi dan fontnya bagus.
  25. Balada si Roy, novel remaja, Gol A Gong. Kesan: Klasiknya kisah anak muda 80-an. Agak membosankan di awal tapi makin akhir seru juga.
  26. Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, catatan Pulau Buru, Pramoedya Ananta Toer. Kesan: Merinding sampai terbawa tidur dan kepikiran terus selama aku bawa pergi ke Pulau Buru.
  27. Gadis Pantai, novel, Pramoedya Ananta Toer. Kesan: Bolak-balik baca ini karena jadi buku wajib kelas 11 sekolahku tapi nggak pernah bosan, selalu nemu sesuatu perasaan haru yang baru.

Belajar Tsunami di Inamura-no-Hi no Yakata

Sedih banget waktu dengar kabar ada tsunami di Palu. Iya, seperti yang sudah kutulis di postingan sebelumnya, beberapa bulan lalu aku main ke Jepang dan belajar tentang tsunami di sana. Makanya jadi sedih banget pas dengar ada tsunami lagi di Indonesia.  🙁

Di Jepang kemarin, aku beruntung bisa berkunjung ke Inamura-no-Hi no Yakata Hamaguchi Goryo Archives and Tsunami Educational Center di Hirokawa, Wakayama. Siapa itu Goryo? Dia adalah seorang lelaki yang kisahnya menginspirasi United Nations untuk menjadikan tanggal 5 Nov sebagai Tsunami Awareness Day.

Hamaguchi Goryo dan Kisah Inamura-no-Hi

Alkisah pada tahun 1854, Jepang (Kota Hiromura) dilanda gempa besar yang dikenal dengan nama gempa Ansei Nankai. Gempa itu memicu tsunami. Hamaguchi Goryo ini menyerukan warga untuk menyelamatkan diri ke tanah yang lebih tinggi.

Namun, masih banyak warga yang belum juga tiba di lokasi aman. Maka Goryo berinisiatif membakar inamura (daun padi/jerami) agar jadi petunjuk bagi para korban menuju lokasi aman. Inamura ini berhasil menyelamatkan nyawa orang-orang dari bencana tsunami itu.

Di kemudian hari, Goryo melontarkan ide untuk membangun tembok laut di desanya. Panjangnya 600 meter, lebarnya 20 meter, dan tingginya 5 meter. Semua warga desa bahu-membahu membangun tembok pengaman tsunami itu. Dengan dana pribadinya, Goryo membiayai pembangunan tembok laut itu. Sejak saat itu, tembok laut itu telah meminimalisasi dampak tsunami yang menyerang kota.

Kisah Goryo ini memberi kita pelajaran tentang kesiagaan menghadapi bencana. Kisah ini juga disebarkan di buku pelajaran anak SD Jepang di masa dulu.

Di Museum itu aku dapat beberapa pelajaran. Misalnya:

– ortu dan anak haruslah bersama-sama menyiapkan survival kit. Bentuknya tas yang gampang diambil kilat saat gempa terasa di rumah. Menyiapkan bersama ini penting banget karena semua anggota keluarga sadar apa yang harus dipersiapkan saat bencana terjadi.

– ortu dan anak sama-sama berjanji untuk menyelamatkan diri sendiri langsung di mana pun sedang berada. Jangan tunggu-tungguan. Langsung ke muster point atau titik aman. Ini penting untuk mengurangi jumlah korban jiwa akibat terlalu lama saling mencari hingga kurang waktu untuk menyelamatkan diri sendiri.

– edukasi siaga bencana itu dilakukan sejak dini. Anak-anak TK udah sering dilatih drill gempa. Dan terus dilakukan saat SD SMP SMA. Anak jadi terbiasa dan tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan ada juga drill yang dilakukan lingkungan, kayak per RT gitu. Bagus banget deh, semoga Indonesia bisa coba juga ya mulai latihan evakuasi serius per lingkungan macam itu.

Beberapa foto informasi tentang museum tsunami itu bisa dilihat di bawah ini ya.

I love this idea. Make an icon, a hero, so kids would love to learn more about the topic.

They have this audio visual room. We use 3d glasses to watch two short film about tsunami.

Silakan juga tengok website mereka di: Tsunami Educational Center.

 

Belajar di Wakayama Jepang

Ini tulisan khusus buat yang nanya kenapa aku kemarin ke Jepang. Iya, ke Jepang kemarin dalam rangka kerja. Aku bertugas menemani murid yang jadi perwakilan Indonesia dalam Asian and Oceanian High School Students’ Forum 2018. Acaranya tanggal 24-28 Juli. Tapi aku di Jepang dari 23-30 Juli, karena ada bonus jalan-jalan di Wakayama, tempat forum ini berlangsung.

Enak ya kerja sambil main? Iya, alhamdulillah banget aku dapat kesempatan ini. Bisa kenalan dengan negeri matahari terbit dan guru-guru dari 20 negara peserta, belajar banyak budaya baru, juga berkunjung ke situs andalan daerah Wakayama. Dan semuanya dibiayai oleh pemerintah Jepang! Big thanks to the organizers: Wakayama Prefectural Government, Wakayama Prefectural Board of Education, Organizing Committee of the forum, and ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia).

Discussion and Cooperation with the World

Acara ini pada dasarnya mengajak murid-murid untuk berdiskusi. Meskipun kadang diskusi agak tersendat karena kendala bahasa (ada beberapa yang tidak menguasai bahasa Inggris, baik murid ataupun guru), acara ini menurutku tetap sukses membuat murid-murid usia 15-18 tahun ini bisa saling berbagi ide.

Ada empat tema diskusi yang dibahas di forum ini, yaitu: measures against tsunami and other disasters, environmental issues, tourism and culture, and education. Indonesia yang diwakili oleh murid Binus School Serpong, Kayla Anasya Afriandy, kebagian membahas tsunami. Jadi Kayla bergabung bersama murid dari negara-negara lain membahas topik itu dalam sectional meeting dan general meeting. Ohya, di awal saat opening ceremony, Kayla juga presentasi tentang budaya Indonesia.

Menarik banget deh dengar presentasi perkenalan budaya dari tiap negara. Materinya sebetulnya banyak yang sudah aku tahu karena mudah ditemukan di google, tapi tetap menarik karena dibawakan oleh anak murid dari negara masing-masing itu, dengan bahasa Inggris campur logat khas dan seragam sekolahnya yang bermacam-macam. Nih kusebutkan semua ya berdasarkan abjad. Australia, Brunei Darussalam, Cambodia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Republik of Korea, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philippines, Singapore, Taiwan, Thailand, Turkey, Vietnam. Juga ada murid-murid dari enam prefecture di Jepang: Miyagi, Kanagawa, Aichi, Osaka, Nagasaki, Wakayama.

Di bagian sectional meeting, setiap murid mempresentasikan hasil riset mereka. Ada moderator siswa dan moderator guru (keduanya dari Jepang) dan setiap peserta lain dalam grup itu boleh bertanya. Penonton (guru dan murid-murid undangan dari SMA sekitar) juga dipersilakan bertanya, walau ternyata lebih banyak yang diam saja. Sekali lagi, kendala bahasa.

Dari sectional meeting per grup discussion itu, mereka berdiskusi lagi membahas pertanyaan yang diajukan moderator. Misalnya, grup Tsunami A berdiskusi tentang “apa yang bisa dilakukan kita semua sebagai komunitas untuk mengatasi bencana alam?”

Hasil diskusi ini kemudian dibawa ke General Meeting yang diadakan di Cultural Hall Wakayama City. Siswa per grup duduk di panggung dan menyampaikan ide-idenya. Siswa dari kelompok lain menyimak dan boleh juga bertanya atau berkomentar. Diskusi ini juga disimak oleh peserta satu hall, siswa dan guru SMA Jepang dan bapak ibu undangan. Ada juga konsulat Indonesia yang hadir, dan sempat ngobrol dan berfoto bareng juga.

Acara ditutup dengan Reception bersama governor Wakayama. Semua sibuk ngobrol dan makan-makan, tapi aku sibuk dandanin Kayla karena Indonesia jadi salah satu performer di stage resepsi. Ada anak Myanmar nyanyi, ada anak Filipina dan Mongolia main musik. Sementara Kayla nari Yamko Rambe Yamko Papua. Wooo… langsung dong dia jadi artis. Kuturut bangga sebagai guru yang ngajarin narinya. 😁

Homestay with Japanese Family

Dari pengakuan Kayla dan juga suasana yang aku rasakan, acara ini sukses menyatukan para peserta murid. Anak-anak dari berbagai negara ini langsung kelihatan akrab. Mungkin memang batch 2018 ini kebetulan anak-anaknya klik banget, kenalan trus bisa langsung hangout bareng ketawa ketiwi sampai dini hari. Jangankan mereka ya, aku aja udah langsung friend dengan beberapa murid Jepang di Instagram!

Highlight yang aku salut banget dari forum ini adalah kegiatan homestay. Jadi, murid dari 20 negara ini menginap satu hari di rumah murid Jepang. Pagi hari orangtua murid Jepang itu menjemput di hotel, lalu murid asingnya diajak jalan-jalan ke Donki atau Aeon Mall, lalu makan dan tidur di rumah mereka. Kayla muridku diajak masak barbekyu dan main kembang api oleh anak Jepang host family-nya. Besoknya pas perpisahan, Kayla dibekali banyak banget oleh-oleh dan jajanan Jepang. Ibu host family sampai nangis pas berpisah. Aku yang kebagian ceritanya aja ikut senang lho dengan part ini. Keren!

Sementara itu, guru-guru juga dapat waktu jalan-jalan. Kuceritakan di post berikutnya aja deh yaa! 😁