Siapa saya di Serpong sana

Saat berkenalan kita akan menemukan pola. Dengan sadar, pola yang saya buat selalu sama. Pertanyaan pertama, nama. Lalu disambung, mengajar pelajaran apa. Kemudian pertanyaan berikutnya, tinggal di mana. Penciptaan pola tersebut tergantung pada situasi apa saya berada. Kebetulan minggu ini adalah minggu pertama saya memasuki lingkungan pekerjaan baru di sebuah sekolah di Serpong, Banten.

Saya berusaha sebisa mungkin untuk membuat pertanyaan terbuka. Maksudnya supaya aman. Pertanyaan terbuka tidak menjustifikasi jawaban sebelum si-yang-ditanya menjawab. Aman, sebab banyak dugaan bisa salah, jadi lebih baik membiarkan si-yang-ditanya memberikan jawaban. Aman, supaya tidak malu jika dugaan kita salah karena seenaknya menerka di awal tanya.

Astrid. Ekonomi High School. Puspita Loka.
Intan. Bahasa Indonesia High School. BSD City.

Saya membuat pola itu, maka pola yang sama akan berbalik ke saya. Nah, ternyata saya sendiri kerepotan membuat jawaban ringkas.

Arnellis. Bahasa Indonesia High School. Kampung dekat gerbang belakang Binus.

Jawaban ketiga saya biasanya memancing pertanyaan selanjutnya. Menjelaskan daerah tempat kos-kosan saya berada sebetulnya tidak begitu sulit. Namun, membuat orang berhenti mengejar jawaban dan menuntaskan dengan ooo panjang itu tak mudah ternyata.

Saya sadar, jawaban saya kemudian menciptakan praduga berikutnya. Maka saya seharusnya tidak perlu kaget ketika kejadian ini datang. Suatu hari sepulang saya mendapatkan kamar kos-kosan, seorang lelaki paruh baya menegur. Kami berbicara berseberangan di tepian jalan Lengkong. Saya baru saja beranjak meninggalkan kamar yang sudah saya bayar.

“Mbak, jadi ambil kosan situ?” tanyanya lantang agar terdengar saya yang ada di seberang jalan.
“Iya, Pak!” Saya ikut melantangkan suara.
“Kerja di Binus ya?”
“Iya, Pak.”
“OB?”
Saya tak segera menjawab. Si lelaki itu memperjelas.
“Cleaning Serpis?”
Oh! Saya menjawab tak lagi lantang.
“Mmm, guru, Pak.”
Lelaki itu terkejut sedikit, lalu kikuk. Saya juga.
“Oh, ngajar? Saya kira.”

Beberapa hari kemudian saya baru tahu bahwa tetangga sebelah kos-kosan saya umumnya adalah buruh pabrik, satpam, atau pekerja cleaning service di mal atau sekolah di Serpong. Maklum jadinya jika lelaki itu menduga saya pun salah satu dari mereka. Harga kos-kosan dan kontrakan di kampung tempat saya tinggal itu umumnya di bawah 400ribu rupiah per bulan. Kata teman, saya telah merusak pasar. Kenapa? Karena ternyata umumnya guru yang mengajar di sekolah internasional itu tinggal di perumahan sekitar sekolah semacam Serpong Park atau Bumi Serpong Damai. Kalau mengontrak rumah, sewanya sekitar 1 juta per bulan plus-plus. Kata teman, saya mengacaukan dugaan warga kampung. Kenapa “guru” yang dipikir mereka tentu bergaji jauh lebih besar dari petugas cleaning service ini malah tinggal di kontrakan kampung?

Alasan sederhananya karena tentu saya mencari tempat tinggal yang murah. Semua harga sesuai dengan fasilitas dan keadaan yang tersedia. Ada teman yang menilai daerah kos-kosan saya itu terlihat kotor sebab tidak berkonblok atau aspal. Saya malah menyukai tanah padat dan rumput liar. Ada teman yang bilang kelihatannya daerah kos-kosan saya rawan maling. Saya yakin maling pun senang mencuri di perumahan elit. Teman bilang, daerah saya berisik sebab biasanya orang kampung senang menggerombol siang atau malam. Itu benar. Tetangga saya, ada yang merupakan sekelompok buruh pabrik yang mengontrak bersama. Mereka tidak punya televisi. Ketika ingin menonton bola, mereka beramai-ramai ke rumah tetangga depan kamar saya dan menonton bersama di televisi yang ditaruh di ruang tamu. Atau kalau sedang tidak ada yang ingin ditonton, mereka akan berkumpul di teras rumah kontrakannya, lalu memutar lagu-lagu dangdut dari ponsel 500ribuan. Mereka tampak senang. Saya senang-senang saja, selama mereka tidak dengan sengaja ingin mencuri-curi lihat dalam kamar saya yang berjarak dua hasta dari teras mereka.

Saya perlu tinggal di kampung. Itu alasan sok filosofis mungkin. Saya merasa perlu menjaga keseimbangan diri saya sendiri dari jungkat-jungkit kelas sosial yang selalu saya hadapi tiap hari. Rumah orang tua saya juga ada di kampung. Lalu saya bekerja di sekolah yang murid-muridnya mungkin bahkan tak pernah menginjak tanah kampung. Berdirilah saya di tengah, antara kampung dan kota, yang memang begitu nyata berdampingan di tanah Banten ini.

Ah, semoga tempat tinggal ini bisa terus membuat saya peka atas ketimpangan Indonesia yang tampaknya masih betah terjadi ini.

Kepada anak-anak dan Sahabat Anak

Anak-anak berkuku hitam bergigi gompal tertawa riang.
Mereka bebas main bersama teman, bukan lagi di jalan.

Kalimat itu saya kirim ke akun @kotakhitam_ di twitter tepat setelah melihat anak-anak jalanan di hadapan saya kemarin lalu. Saya begitu yakin gambaran itu akan segera jadi kenangan berharga. Saya bersyukur dapat bertemu anak-anak yang selama ini hanya saya lihat di berita televisi. Anak-anak yang bekerja di lampu merah jalan raya, atau bermain dan tertawa di pinggir sungai dan rel kereta.

Kepada Sahabat Anak (@sahabatanak) saya harus berterima kasih. Saya dapat kesempatan bermain dengan anak-anak itu di Jambore Sahabat Anak XV tanggal 2-3 Juli lalu. Ini adalah kesempatan pertama saya bergabung dengan teman-teman relawan lain. Saya digabungkan dengan Sahabat Anak Tanah Abang. Lompat Karet nama tenda jambore mereka. Ada sekitar 30 anak di tenda ini. Saya tidak hapal semua karena banyak yang baru berkenalan di saat acara, kecuali setidaknya tiga anak manis ini: Nita (14 tahun), Yuniar (10 tahun), dan Yani (12 tahun). Nama-nama tenda adalah nama permainan anak-anak. Ada 29 kelompok tenda di JSA tahun ini dan semuanya menggunakan nama permainan, seperti congklak, engrang, atau hompimpa. Tema jambore jadi teraplikasi walau tak semua permainan itu bisa dilakukan anak-anak pada saat jambore berlangsung.

Tema “Bermain” ini mengakomodasi hak anak Indonesia yang pertama. Saya pikir ini menjadi poin yang begitu penting dan mendasar mengingat anak-anak ini sebagian besar telah mengalami kehilangan waktu bermain seperti anak-anak seharusnya. Kalau kata Iwan Fals, anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, dipaksa pecahkan karang padahal lemah kepal jarinya. Anak-anak kecil itu telah terbebani dengan keharusan mencari nafkah untuk pemenuhan diri sendiri atau membantu kebutuhan orang tua mereka. Sahabat Anak telah berusaha menanamkan pengertian hak bermain ini kepada anak-anak binaan. Saat belajar bimbel harian, mereka sering diingatkan apa saja 10 poin Hak Anak Indonesia (HAI). Di rumah Sahabat Anak poster dipajang. Pada saat jambore lagu HAI dibuat dan dinyanyikan bersama. Manfaat bermain itu pun ditulis besar-besar di punggung kaos kegiatan.

Hamburan pujian banyak terlimpah untuk Sahabat Anak yang sudah menyelenggarakan acara jambore ini kesekian kali. Saya sangat mengapresiasi kebaikan hati mereka semua. Betapa ini adalah hal mulia yang sebetulnya bisa dilakukan banyak orang. Ada sekitar 600 orang mahasiswa dan pekerja yang menjadi pendamping adik-adik ini. Ada pula sejumlah orang yang sibuk menjadi panitia yang repot bekerja sejak empat bulan sebelumnya. Para donatur dan pihak pemerintah, sejumlah artis ibukota, juga keluarga yang bergabung di hari H acara, tentu semua punya niat baik untuk sekitar 1100 anak-anak ini. Tentu nilai-nilai baik pula yang ingin kita ajarkan kepada anak-anak bukan? Misalnya, perihal sopan santun, semangat sekolah, menolong orang, hidup bersih, dan juga kedisiplinan.

Sebab itulah saya gemas ketika acara ini mengalami keterlambatan atau kekurangan fasilitas yang mendukung tujuan baik itu. Saya dan adik-adik dari SA Tanah Abang berangkat pukul lima pagi dari Tanah Abang ke Pasar Minggu. Mereka bahkan sudah bersiap dan berbaris sejak pukul empat pagi. Semangat mereka sangat menggebu. Lalu kami tiba di Kebun Binatang Ragunan pukul 5.30 dan menunggu. Setelah registrasi, kami masuk ke dalam Kebun Binatang dan menjadi yang pertama berfoto kelompok dan masuk ke arena panggung pembuka. Kami lalu menunggu kedatangan 28 kelompok tenda lain yang datang beriringan satu persatu ke lapangan rumput depan panggung itu.

Matahari mulai meninggi. Rangkaian acara pembukaan memakan waktu lama. Sambutan sana-sini, pelepasan balon, menyanyikan yel-yel berurutan, absensi, hiburan, doa pembuka, tanda tangan artis, semua itu menghabiskan banyak waktu. Acara Amazing Race (berkeliling Ragunan sambil menyelesaikan permainan di tiap trek) yang seharusnya dijadwalkan mulai pukul 8 pun harus mundur hingga pukul 10. Anak-anak mengeluhkan kepanasan dan mulai tidak tahan untuk tidak berlarian. Berkali-kali mereka bertanya kapan acara main dimulai dan kapan pergi ke tenda. Ini adalah sebuah hal yang wajar. Sebagian besar peserta JSA adalah anak usia sekolah dasar. Di kelompok tenda saya saja ada dua anak usia 6 tahun. Karena Amazing Race dimulai pukul 10 itu, beberapa anak mulai kelelahan. Meski begitu, semua tertutup semangat untuk melihat binatang-binatang idola dalam kebun binatang. Keterlambatan berikutnya menyusul ketika acara jalan kaki secara ular naga menuju lokasi kemah Ragunan. Iring-iringan 1700 orang tentu butuh pengaturan luar biasa. Kelompok tenda kami meminta untuk jalan lebih dulu mengingat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Anak-anak kecil ini sudah lelah. Sementara mereka masih harus berjalan satu kilometer dari Kebun Binatang ke Bumi Perkemahan. Namun, saya berterima kasih kepada tim dari Tagana yang membantu kelancaran perjalanan kami sepanjang ruas jalan raya Ragunan.

Yang patut menjadi catatan evaluasi adalah panitia dan semua pihak yang terlibat wajib ingat bahwa peserta jambore ini anak-anak dan remaja dengan rentang usia 5/6 tahun yang belum bersekolah hingga usia 17/18 tahun yang baru saja lulus sekolah menengah. Kegiatan yang dilakukan memang sudah diusahakan panitia memenuhi semua kebutuhan anak ini. Namun, ada baiknya jika beberapa kegiatan dipisahkan sesuai kebutuhan usia anak. Anak usia SD akan lebih sulit menunggu dan diminta diam selama sekian jam sebab mereka adalah anak usia aktif bergerak. Berbeda pula dengan anak remaja yang menginginkan jenis permainan yang sesuai usia mereka. Sementara itu, saya mengesampingkan kebutuhan kakak pendamping sebab itu bukan prioritas yang harus dipuaskan dalam jambore ini.

Terkait itu pula, saya bingung sekali ketika pada malam hari di panggung hiburan muncul artis pendatang baru Emily Laras dengan pakaian dress seksi yang mengingatkan saya pada Syahrini. Penonton di sana adalah semua anak peserta jambore dan juga kakak pendamping tentunya. Lalu Emily Laras menyanyikan lagu “Dont Sleep Away” Daniel Sahuleka itu yang dengan miris kocak bertentangan dengan Janji Peserta JSA nomor tiga. Saya menyukai kedatangan band yang saya lupa namanya menyanyikan lagu Laskar Pelangi atau Kepompong, juga dongeng musik Kak Resa yang kelihatan disukai anak-anak kecil. Isi acara untuk anak, maka wajib hukumnya setiap detil acara untuk memenuhi kebutuhan anak, sesuai dengan kebutuhan psikologis anak dan juga mendidik kebaikan untuk anak. Sebaiknya panitia memilah urutan acara. Acara dongeng dan lagu anak ditaruh di jam awal sehingga bisa dinikmati anak kecil. Ketika memasuki acara remaja dan dewasa, anak-anak usia kecil bisa diajak pulang dan tidur di tenda. Dengan begitu, kebutuhan hiburan anak remaja tetap bisa terpenuhi tanpa melanggar hak anak yang lebih kecil.

Ohya, masalah besar berikutnya adalah masalah air dan kebersihan. Begitu sampai di tenda, acara mandi jadi agenda repot untuk anak-anak dan pendamping sebab ternyata kamar mandi yang berfungsi baik hanya kurang dari 10 saja. Lampu tak ada di beberapa kamar mandi. Panitia menyediakan bilik mandi semacam di lokasi pengungsian, tetapi tak ada ember dan air. Jadi, sebagian besar anak dan kakak kreatif sekali memakai keran di masjid untuk keramas dan sikat gigi. Yang menyedihkan, ada anak kecil yang mencoba buang air besar di selokan tempat wudu yang kecil itu. Dari sini saja adik-adik dan kakak mulai kesulitan menaati janji JSA nomor delapan. Urusan kebersihan sampah memang bisa tertangani dengan baik. Anak-anak paham dimana sampah harus dibuang dan acara operasi semut adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan bersama. Kritik saya untuk pengelola Buper Ragunan, seharusnya segala fasilitas diperbaiki dan dipersiapkan untuk menampung kebutuhan penyewa lokasi. Ini penting demi kenyamanan bersama.

Kegiatan permainan hari Minggu sangat ditunggu. Sembilan pos permainan yang disiapkan panitia sangat menarik dan disukai anak-anak. Anak usia SD, SMP, dan SMA, serta kakak pendamping juga terlibat dalam permainan bersama-sama. Saya bisa merasakan bahagianya tawa anak-anak di balik keringat semangat mereka. Saya yakin perasaan saya sama dengan kakak pendamping lain, terutama yang baru pertama kali ini punya kesempatan bergaul bersama anak jalanan. Kamilah yang sangat beruntung mendapat pengalaman tidur di terpal tenda sementara selama ini tidur santai di kasur empuk. Kami yang dapat pengalaman tidak mandi dan kesulitan buang air dengan nyaman. Pengalaman kebersamaan sosial itulah yang coba dibangun. Kebersamaan anak berkuku gompal hitam bersandal kotor dan kakak bersepatu kets dan berkulit kaki halus.

Kepada Sahabat Anak saya berterima kasih, dan kepada anak-anak itu saya sangat berterima kasih. Belajar dan bermain dan hidup layak adalah hak mereka.

Sahabat Anak Tanah Abang

Starbucks UI

Saya gamang.

Sepanjang siang saya ngobrol dengan beberapa kawan tentang Indonesia dan wilayah perbatasan. Kami menertawakan kegetiran, ketidaktahuan, dan kehebohan cara berpikir anak Jakarta dalam memandang wilayah Indonesia yang di luar jauh. Ngobrol sana-sini itu berujung pada keinginan mampir ke Perpustakaan Pusat UI yang baru dibangun. Banyak orang bilang, ini perpus raksasa di Asia Tenggara.

Sampailah saya di sana. Lalu saya gamang.

Di Perpus Baru kampus biru ini, sebuah tulisan hijau menyala silau. Sekejap saja, hati merah saya berdarah resah. Teringat saya ucapan kawan saya dari Universitas Pattimura Ambon, kampus ini terlalu sombong ketika membawa nama Indonesia. Kampus ini lupa membungkuk bahwa beban yang dibawanya berat. Seberapa kenal kampus ini dengan Indonesia? Baru saja saya dan teman-teman membahas susahnya pendidikan di Indonesia luar, lalu sekarang di mata saya pendidikan Indonesia dicerminkan dengan tulisan Starbucks yang mentereng.

Mungkin saya yang tidak gaul, tidak modern, sebab cuma bisa nongkrong di warkop pinggir kampung. Tapi saya benar-benar resah dengan gerai kopi milik asing ini berdiri gagah menempel di bangunan UI. Semacam parasit. Saya pikir anak-anak UI cukup pintar memahami apa arti brand ini dan kesan yang ditimbulkan olehnya. Beli kopi seharga tujuh kali kopi warkop, mainkan komputer Apple Imac yang tersedia di ruang dalam perpus ini, dan kamulah anak kampusnya Indonesia. Atau sebaliknya, pinjam buku harus repot-repot ke sini sebab buku itu tak lagi ada di perpus fakultas, lalu tengok kantong saku tinggal sisa lima ribu, tak cukup telepon ibu di pulau seberang, dan kamulah anak kampusnya Indonesia.

Saya menatap gedung dengan nanar. Di sebelah saya ada Irwanto, mahasiswa UI asal Kepulauan Riau. Ia memegang segelas plastik kopi yang dibeli dari pedagang jinjing yang lewat depan kami, gelengan kepalanya lemas.

Saya melenggang pulang. Lagu Kampus Depok yang ditulis Bimbim Slank di tahun 1993 terngiang. Lagu dari album “Lagu Sedih” itu pas dengan hati saya. Kata Bimbim, lirik ini “meletup di perjalanan habis manggung di UI” dan saya baru memahaminya sekarang.

Banyak orang bicara tentang kebebasan
Banyak orang bicara tentang keyakinan
Dan banyak orang bicara tentang keadilan
Banyak orang bicara tentang perubahan

Semuanya cuma dalam bisikan
Semuanya nggak berbuat apa-apa
Semuanya hanya tutup mata saja
Semuanya nggak berbuat apa-apa!!

Sanctum

Kalau di film Sanctum, peribahasa “sambil menyelam minum air” terasa begitu harfiah. Film drama perjalanan tim eksplorasi gua yang terjebak banjir dalam gua bawah tanah itu mementahkan peribahasa tadi. Ya, ketika kau terjebak air di mana-mana, dalam gua gelap tak ada cahaya kecuali senter yang habis batere pula, maka berenang dan menyelam mencari jalan keluar bukan lagi jadi pilihan, melainkan keharusan.

 

Yang saya tahu, keadaan lelah dan panik memancing emosi dan mematikan pikiran. Saya pernah mengalaminya ketika naik gunung. Nah ini, perjalanan manusia yang dihajar alam di Sanctum ini, menimbulkan pertengkaran antar manusia, depresi lalu menyerah, bahkan niatan membunuh satu dengan yang lain. Maha dahsyat arti lelah dan lapar, keduanya mematikan ketenangan berpikir, lalu membunuh kemanusiaan.

Yah, saya mulas nonton ini. Perut bergejolak. Ibu bapak saya yang nonton bareng saya juga sama mulas. Kami menutup film bukan dengan menghela napas, tapi justru menghirup. Syukurlah, kami masih punya napas bebas.

Serdadu Kumbang

Harapan terlihat di kalimat Amek, anak kecil sumbing, tokoh dalam film Serdadu Kumbang, produksi Alenia Pictures. Harapan lulus Ujian Nasional terlihat di kata-kata Amek dan kawan-kawan, juga di Minun kakak Amek. Harapan-harapan lain tentang pendidikan terucap pula lewat mulut para pemeran film yang mengangkat banyak nama terkenal semacam Putu Wijaya, Titi Sjuman, dan Lukman Sardi itu.

Harapan juga muncul di diri saya sebagai penonton. Pun pada teman saya, yang juga seorang guru. Kami berharap film ini memberikan cerita pendidikan yang haru, inspiratif, dan mudah dicontoh anak-anak.

Ide cerita terbelah, antara pencapaian Ujian Nasional, peran Ayah penipu, cita-cita kanak-kanak, dan kegagalan sekolah sebagai institusi pendidikan. Ide yang menumpuk itu kemudian membuat penggarapan masalah menjadi tak dalam.

Saya tertarik pada kasus UN yang diangkat dalam film ini. Namun, ternyata perjuangan Amek dkk sebagai anak SD yang sudah pernah tidak lulus UN sebelumnya, tidak terlihat dengan maksimal. Ada penggambaran kegiatan belajar di sekolah, tetapi hanya sebatas belajar harian, bukan persiapan UN. Ada penggambaran kegiatan belajar tambahan yang dilakukan oleh Guru Imbok (Ririn Ekawati) tetapi motivasi guru itu tidak dibangun dengan apik. Sama pula tidak apiknya dengan akhir cerita yang mengejutkan, si Amek dapat operasi bibir sumbing gratis. Bagian ini mengagetkan sebab sejak awal penonton hanya disajikan sedikit keterangan bahwa dia ingin menjadi presenter berita. Dalam sinopsis dikatakan dia tidak percaya diri sebab sumbing itu menghalangi harapannya untuk menggapai cita-cita itu. Sementara sepanjang film, tidak ada penggarapan karakter yang dalam bahwa Amek bermasalah dengan kekurangan fisiknya.

Minun kakak Amek si pintar matematika, yang gagal lulus UN bersama 26 kawan lainnya, digambarkan mati terjatuh dari pohon sebab kecewa tak lulus ujian. Menurut saya ini adalah konflik besar, yang sayangnya tidak dibangun permasalahannya sejak awal. Tidak ada penggambaran bagaimana hebatnya perjuangan anak-anak SMP Bukit Mantar, Sumbawa itu mempersiapkan UN. Ketika tiba-tiba satu SMP itu tidak lulus, sementara satu SD yang sebangunan lulus, terasa ada yang sangat aneh.

Gambaran Pak Alim (Lukman Sardi) yang mendidik secara militer atau Kepala Sekolah (Dorman Borisman) yang tak peduli juga tidak mendukung masalah Ujian Nasional yang saya pikir bisa jadi isu utama yang sangat hebat. Apa pula fungsi Pak Ketut (Surya Saputra) seorang karyawan PT Newmont yang sangat hanya serupa tempelan di film ini? Kebetulan Newmont adalah sponsor utama, tetapi sayang sekali kehadiran sekolah Newmont di sini tak lebih dari tempelan semata. Orang awam pasti akan bingung, ada kegiatan apa itu Amek dkk berkunjung ke sekolah internasional tanpa ada penjelasan yang berkaitan dengan alur cerita?

Terlalu banyak deux et machina serba kebetulan yang tiba-tiba, atau lanturan yang tak terjelaskan. Amek main pacuan kuda, Amek operasi sumbing, Minun bisa menebus kuda seharga 4 juta, mengintip rok bu guru, atau bahkan kumbang yang tak terjelaskan sebagai metafora apa.

Sekali lagi akan jadi diskusi panjang, kepada siapa film ini ditujukan. Ini film tentang anak-anak atau film untuk anak. Saya dan teman guru saja tak paham betul, bagaimana dengan anak-anak? Harapan saya untuk dapat kisah garapan besar tentang pendidikan pun cerai. Tapi harapan sekadar mendapat hiburan film keluarga lumayan tergapai.

Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.


	

podcast

Beberapa waktu ini saya baru mengenal kata ‘podcast’. Media ini berarti sebuah file rekaman yang dapat disebar dan diunduh via internet. Podcast dapat berupa rekaman audio atau video yang memuat informasi atau cerita. Nah, ini pas sekali jadi media belajar di era teknologi informatika sekarang ini. Cara membuat podcast juga mudah. Rekam saja cerita atau info yang ingin kita sampaikan dengan recorder, alat rekam di handphone, atau bahkan di studio rekaman.

Saya lalu coba membuat podcast cerita anak dari Dongeng Minggu yang biasa saya bawakan tiap bulan di rumah. Suara direkam, tambah musik, dan hasilnya, jadilah dua cerita “Suara Yang Luar Biasa Indah” dan “Bebek Ingin Terbang”. Coba dengar dan unduh deh di koleksi podcast http://indonesiabercerita.org.

Kata teman dan murid saya, podcast saya lucu, walau masih harus diperbaiki di sana sini. Buat saya, modal utama membuat podcast yang menarik adalah bahasa yang tepat dengan intonasi dan artikulasi yang jelas. Saya masih semangat untuk membuat podcast lainnya. Yuk, coba juga!