Sanctum

Kalau di film Sanctum, peribahasa “sambil menyelam minum air” terasa begitu harfiah. Film drama perjalanan tim eksplorasi gua yang terjebak banjir dalam gua bawah tanah itu mementahkan peribahasa tadi. Ya, ketika kau terjebak air di mana-mana, dalam gua gelap tak ada cahaya kecuali senter yang habis batere pula, maka berenang dan menyelam mencari jalan keluar bukan lagi jadi pilihan, melainkan keharusan.

 

Yang saya tahu, keadaan lelah dan panik memancing emosi dan mematikan pikiran. Saya pernah mengalaminya ketika naik gunung. Nah ini, perjalanan manusia yang dihajar alam di Sanctum ini, menimbulkan pertengkaran antar manusia, depresi lalu menyerah, bahkan niatan membunuh satu dengan yang lain. Maha dahsyat arti lelah dan lapar, keduanya mematikan ketenangan berpikir, lalu membunuh kemanusiaan.

Yah, saya mulas nonton ini. Perut bergejolak. Ibu bapak saya yang nonton bareng saya juga sama mulas. Kami menutup film bukan dengan menghela napas, tapi justru menghirup. Syukurlah, kami masih punya napas bebas.

Serdadu Kumbang

Harapan terlihat di kalimat Amek, anak kecil sumbing, tokoh dalam film Serdadu Kumbang, produksi Alenia Pictures. Harapan lulus Ujian Nasional terlihat di kata-kata Amek dan kawan-kawan, juga di Minun kakak Amek. Harapan-harapan lain tentang pendidikan terucap pula lewat mulut para pemeran film yang mengangkat banyak nama terkenal semacam Putu Wijaya, Titi Sjuman, dan Lukman Sardi itu.

Harapan juga muncul di diri saya sebagai penonton. Pun pada teman saya, yang juga seorang guru. Kami berharap film ini memberikan cerita pendidikan yang haru, inspiratif, dan mudah dicontoh anak-anak.

Ide cerita terbelah, antara pencapaian Ujian Nasional, peran Ayah penipu, cita-cita kanak-kanak, dan kegagalan sekolah sebagai institusi pendidikan. Ide yang menumpuk itu kemudian membuat penggarapan masalah menjadi tak dalam.

Saya tertarik pada kasus UN yang diangkat dalam film ini. Namun, ternyata perjuangan Amek dkk sebagai anak SD yang sudah pernah tidak lulus UN sebelumnya, tidak terlihat dengan maksimal. Ada penggambaran kegiatan belajar di sekolah, tetapi hanya sebatas belajar harian, bukan persiapan UN. Ada penggambaran kegiatan belajar tambahan yang dilakukan oleh Guru Imbok (Ririn Ekawati) tetapi motivasi guru itu tidak dibangun dengan apik. Sama pula tidak apiknya dengan akhir cerita yang mengejutkan, si Amek dapat operasi bibir sumbing gratis. Bagian ini mengagetkan sebab sejak awal penonton hanya disajikan sedikit keterangan bahwa dia ingin menjadi presenter berita. Dalam sinopsis dikatakan dia tidak percaya diri sebab sumbing itu menghalangi harapannya untuk menggapai cita-cita itu. Sementara sepanjang film, tidak ada penggarapan karakter yang dalam bahwa Amek bermasalah dengan kekurangan fisiknya.

Minun kakak Amek si pintar matematika, yang gagal lulus UN bersama 26 kawan lainnya, digambarkan mati terjatuh dari pohon sebab kecewa tak lulus ujian. Menurut saya ini adalah konflik besar, yang sayangnya tidak dibangun permasalahannya sejak awal. Tidak ada penggambaran bagaimana hebatnya perjuangan anak-anak SMP Bukit Mantar, Sumbawa itu mempersiapkan UN. Ketika tiba-tiba satu SMP itu tidak lulus, sementara satu SD yang sebangunan lulus, terasa ada yang sangat aneh.

Gambaran Pak Alim (Lukman Sardi) yang mendidik secara militer atau Kepala Sekolah (Dorman Borisman) yang tak peduli juga tidak mendukung masalah Ujian Nasional yang saya pikir bisa jadi isu utama yang sangat hebat. Apa pula fungsi Pak Ketut (Surya Saputra) seorang karyawan PT Newmont yang sangat hanya serupa tempelan di film ini? Kebetulan Newmont adalah sponsor utama, tetapi sayang sekali kehadiran sekolah Newmont di sini tak lebih dari tempelan semata. Orang awam pasti akan bingung, ada kegiatan apa itu Amek dkk berkunjung ke sekolah internasional tanpa ada penjelasan yang berkaitan dengan alur cerita?

Terlalu banyak deux et machina serba kebetulan yang tiba-tiba, atau lanturan yang tak terjelaskan. Amek main pacuan kuda, Amek operasi sumbing, Minun bisa menebus kuda seharga 4 juta, mengintip rok bu guru, atau bahkan kumbang yang tak terjelaskan sebagai metafora apa.

Sekali lagi akan jadi diskusi panjang, kepada siapa film ini ditujukan. Ini film tentang anak-anak atau film untuk anak. Saya dan teman guru saja tak paham betul, bagaimana dengan anak-anak? Harapan saya untuk dapat kisah garapan besar tentang pendidikan pun cerai. Tapi harapan sekadar mendapat hiburan film keluarga lumayan tergapai.

Bapak Mencari Kos-kosan

Hari ini aku mencari kos-kosan di dekat tempat kerja baru di daerah Serpong. Aku ditemani bapak. Seharusnya cerita ini menjadi kisah yang biasa saja, sampai kejadian ini mengubahnya.

Setiba di lokasi kos-kosan yang kutaksir itu, aku dan bapak menghampiri si bapak tua. Dia bersarung, berkoko, dan berpeci ala haji. Aku mengucap salam. Bapakku juga. Lalu bapakku bertanya, “Pak, ada kontrakan kosong nggak? Buat ini bocah saya.”

Kalimat pertama bapak itu adalah,”Hah? Beneran?”

Aku dan bapak bercelingukan. Aku sigap menjawab,”Ya, iya bener, Pak.”

Si bapak tua memicing mata, keningnya berkeriput. “Seriusan cari kontrakan?”

Aku bingung tak paham mengapa dia seperti menaruh curiga. Aku menjawab, “Ya serius, Pak. Ini buat saya.”

Si bapak tua masih menatap kami aneh, tapi dia memberikan kami kunci kontrakan kosong dan mempersilakan kami melihat-lihat keadaan. Aku sibuk mengamati ruang kamar, melihat langit-langit kusam, ketika bapakku keluar dan berniat ajak pak tua bicara. Aku menemukan kamar bagus, dan menego dengan anak si bapak tua yang menemaniku, sementara kulihat di kejauhan bapakku masih sibuk mengobrol dengan pak tua.

Kosan yang kutaksir sudah kudapat. Ijab kabul selesai. Aku menghampiri bapak, berniat mengajaknya pulang.

“Ayo, Pak, sudah selesai. Yuk, pulang.”

Bapakku permisi kepada si Pak tua, “Permisi, Pak, ini anak ajak pulang.”

Bapak tua itu mempersilakan. Kami berdua mengucap salam, dan meninggalkannya.

Sebelum bapakku menstarter kendaraan, tiba-tiba ia berkata, “Nak, Pak Tua itu nuduh kamu istri simpanan Bapak.”

Oh! Aku kaget sekali. Jadi, adalah aneh ya seorang bapak mengantar anaknya yang telah dewasa mencari rumah tinggal?

Kusahut cepat kalimat bapak, “Hah, pikiran jelek itu ada padanya, sebab mungkin dia sendiri yang punya istri simpanan!”

Bapak menyambar, “Kenapa kamu balik menuduh? Ketawakan saja. Ini lucu, kok.”

Bapak tertawa kecil. Aku jadi malu. Harusnya memang cerita begini ditertawakan saja.


	

podcast

Beberapa waktu ini saya baru mengenal kata ‘podcast’. Media ini berarti sebuah file rekaman yang dapat disebar dan diunduh via internet. Podcast dapat berupa rekaman audio atau video yang memuat informasi atau cerita. Nah, ini pas sekali jadi media belajar di era teknologi informatika sekarang ini. Cara membuat podcast juga mudah. Rekam saja cerita atau info yang ingin kita sampaikan dengan recorder, alat rekam di handphone, atau bahkan di studio rekaman.

Saya lalu coba membuat podcast cerita anak dari Dongeng Minggu yang biasa saya bawakan tiap bulan di rumah. Suara direkam, tambah musik, dan hasilnya, jadilah dua cerita “Suara Yang Luar Biasa Indah” dan “Bebek Ingin Terbang”. Coba dengar dan unduh deh di koleksi podcast http://indonesiabercerita.org.

Kata teman dan murid saya, podcast saya lucu, walau masih harus diperbaiki di sana sini. Buat saya, modal utama membuat podcast yang menarik adalah bahasa yang tepat dengan intonasi dan artikulasi yang jelas. Saya masih semangat untuk membuat podcast lainnya. Yuk, coba juga!

Simbah

Saat cemas menunggu kabar dua orang kawan saya yang menjadi relawan di Merapi, saya menuliskan drama ini. Secara kebetulan, drama ini kemudian dipentaskan di acara sekolah untuk donasi Merapi. Drama singkat ini lalu dimainkan oleh murid-murid kelas 8. Apresiasi mereka apik. Penonton pun baik. Melalui cara lelang, drama ini mengumpulkan donasi yang lumayan besar dari orangtua murid.

Saya menuliskan naskah ini dalam cemas dan berselubung misteri. Maka yang tercipta ternyata kisah misteri pula. Ya, hidup itu kan memang misteri?

SIMBAH

Suasana di sebuah posko pengungsi bencana Gunung Merapi. Siang hari penuh debu. Tampak banyak orang beristirahat. Beberapa orang menahan sakit. Mereka berusaha melepas kecemasan.

Di sudut ruangan, seorang petugas jaga sibuk di meja. Seorang relawan datang terburu-buru ke arahnya.

Relawan     :    Masih ada satu!

Petugas      :    (kaget) Apa?

Relawan     :    Ya, masih ada satu di Cangkringan!

Petugas      :    Satu apa? Coba bicara yang jelas.

Relawan     :    Masih ada satu orang tertinggal di Cangkringan.

Petugas      :    (kaget lagi) Lho, bagaimana bisa?

Relawan     :    Ya, dia tertinggal. Lebih tepatnya, sengaja meninggalkan diri.

Petugas      :    (bangkit berdiri) Coba kamu tenang. Lalu coba jelaskan.

Relawan     :    Ya, aku baru dapat info tadi. Ada seorang nenek yang tertinggal di desa itu. Aku tahu langsung dari cucunya.

Petugas      :    Keluarganya ada di sini?

Relawan     :    Ya. Mereka mengungsi dua hari lalu. Satu bapak, satu ibu, dan satu anak kecil. Aku nggak sengaja ngobrol sama mereka. Lalu anaknya yang kecil itu bilang, simbahnya masih ada di Cangkringan.

Petugas      :    Lho, waktu mereka ngungsi, apa simbah itu ndak diajak?

Relawan     :    Itulah. Kata mereka, ndak mau.

Petugas      :    Hmm… (berpikir)

Relawan     :    (tidak sabar) Gimana? Kita harus samper, kan? Aku akan minta tim SAR balik ke sana. Siang ini.

Petugas      :    Tapi di sana masih bahaya. Tadi aku dapat info sore ini mungkin awan panas turun lagi.

Relawan     :    Berarti kita harus cepat!

Petugas      :    Hmm, baik. Nanti aku coba koordinasi dulu dengan tim. Coba kamu tanya dimana rumah simbah itu. Minta anaknya ikut.

Relawan     :    Ya! (beranjak pergi cepat)

Petugas      :    (mengerutkan dahi, bingung sendiri) Hmm, aneh, kenapa dia ndak mau ngungsi?

 

Sang relawan berjalan terburu-buru menuju seorang ibu yang sedang memijat suaminya. Mereka terlihat lelah. Mereka tidak sadar ada seseorang yang datang.

Bapak         :    Menil tadi kemana?

Ibu              :    Lha kan tadi diajak sama mbak-mbak. Bajunya merah. Diajak belajar katanya.

Bapak         :    Hoo… Yaa…

Relawan     :    Permisi, Pak, Bu.

Bapak         :    (menengok) Ya? Eeeh, mas.

Relawan     :    Ya, Pak. Kita harus ke rumah Bapak sekarang.

Bapak         :    Sekarang?

Relawan     :    Ya, mumpung masih bisa.

Bapak         :    Tapi saya ndak bisa ajak. Pokoknya Mas saja yang ajak. Saya ndak bisa.

Relawan     :    Iya, Pak. Saya akan ke sana dengan tim siang ini. Bapak ikut untuk kasih tau jalan. Bisa kan, Pak?

Bapak         :    (menghela napas berat) Bukan saya ndak mau, Mas. Tapi saya memang ndak bisa. Saya ndak bisa maksa ibu saya. (istri mengangguk-angguk)

Relawan     :    Tapi ini demi kebaikan bersama. Biar saya yang urus.

(Bapak menatap ibu. Ibu mengangguk memberi isyarat.)

Bapak         :    Yo wis, Mas.

Relawan     :    (tersenyum) Mari, Pak.

(Relawan dan Bapak berdiri, lalu pergi.)

 

Waktu berlalu. Siang hari. Suasana sepi. Desa Cangkringan tampak seperti desa mati. Semua tampak pucat, putih, dan tidak berdaya. Rumah-rumah tertutup abu tebal. Beberapa pohon tampak tumbang. Tidak terdengar suara apapun.

SAR 1         :    (sambil melihat ke arah kaki) Masih panas!

SAR 2         :    Ini sudah mending ketimbang kemarin.

SAR 3         :    Sepatuku mulai meleleh.

SAR 2         :    Masih untung pakai sepatu.

SAR 1         :    Dimana simbah itu?

SAR 3         :    Kita sisir hutan.

(terus berjalan mencari-cari)

Relawan     :    Biasanya kemana, Pak, kalau siang begini?

Bapak         :    Ngangon kambing. Atau cari kayu. Lha tapi kalau begini, ndak tau juga saya.

Relawan     :    Rumah kosong. Sekitar halaman nggak ada.

Bapak         :    Koyo’e di hutan. Biasanya cari-cari di sana, Mas.

Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu. Salah seorang dari mereka berteriak tiba-tiba.

SAR 1         :    Itu!

SAR 3         :    Mana? Ah, iya itu!

SAR 2         :    Itu bukan, Pak?

Bapak         :    Mana? Mana? Oh ya, mak! Mak! (berteriak)

Mereka berjalan bergegas. Terlihat seorang nenek tua kaget melihat rombongan datang.

SAR 3         :    Simbah! Dari mana, Mbah?

(mendekat dan berusaha menggandeng)

SAR 2         :    Ayo, Mbah. Turun. Wes ra aman di sini.

Simbah       :    Emoh! (ketus)

SAR 1         :    Nanti selak weduse turun lagi, Mbah. Simbah harus ngungsi sekarang. Ben slamet. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh!!!

Relawan     :    Simbah, ini ada Pardi. Ayo, Mbah, turun. Kalau di sini bisa nggak selamat nanti.

Simbah       :    Emoh!

SAR 2         :    (merayu, sambil mencengkeram tangan Simbah ) Tapi Simbah harus turun. Nanti boleh balik lagi kalau sudah aman. Ayo, Mbah.

Simbah       :    Emoh! Emoh!

 

Tim SAR memaksa Simbah untuk dievakuasi. Simbah meronta-ronta, kukuh menolak untuk pergi dari desa. Dua orang memegang tangannya, menggiringnya ke dalam mobil. Relawan dan Bapak mengikuti dengan cemas.Mereka berjalan menuju mobil.

SAR 2         :    Sudah, Simbah aman di sini. Kita turun sekarang.

Simbah       :    Kulo sibuk! Kulo sibuk!

Relawan     :    Sibuk apa, Mbah?

Simbah       :    Among tamu!

Relawan     :    Among tamu? Terima tamu?

SAR 2         :    Tamu siapa? Sudah ndak apa orang di sini, Mbah.

Simbah       :    Simbah among tamu. Masih rame dari Atas.

Relawan     :    Atas? (bingung)

Simbah       :    Kulo harus balik! Tamune banyak.

SAR 2         :    Ya, Mbah. Nanti.

Relawan     :    (bertanya pada SAR 2) Terima tamu siapa?

Relawan masih bingung dengan keterangan Simbah tadi. Ada rasa ngeri yang tiba-tiba datang. Siapa tamu dari atas yang dimaksud Simbah? Relawan memperhatikan wajah kukuh Simbah. Ada keyakinan dalam wajah tua itu.

Bapak         :    Mas?

Relawan     :    Ya, Pak?

Bapak         :    Jangan dipikirkan.

Relawan     :    Among tamu.Terima tamu siapa maksudnya?

Bapak         :    Sudah Mas. Ndak usah dipikirkan. Makanya, saya ndak bisa maksa dia.

Relawan     :    (mengerutkan dahi) Kenapa?

Bapak         :    Mas, Emak saya ndak waras!

Relawan     :    Ooh!

Mobil terus melaju meninggalkan desa itu. Tidak ada suara apapun, kecuali deru mobil menggilas debu. Desa itu makin sepi. Tanpa penghuni.

 

Selesai

 

 

 

 

Another Failed

Hari ini saya mulai menulis blog diantar dengan dua kegagalan. Pertama, tidak menang lomba menulis novel yang diadakan sebuah penerbit buku populer. Kedua, tidak lolos seleksi kerja di tempat yang tampak ideal bagi pendidikan Indonesia.

Keduanya membuat saya sedih dan gatal minta perhatian teman. Reaksi balasan mereka bermacam-macam. Kebanyakan bilang, nggak apa, pasti ada kesempatan berikutnya, di tempat lainnya. Ada juga yang bilang, kamu udah menang karena udah mencoba.

Teman lain beda rumusan. Dia bilang, you’re not failed, cuma jalan yang agak berbeda dari perkiraan aja. Seorang teman malah lebih tegas bilang, its another achievement! Semua tergantung bagaimana kita menghayatinya.

Ya, saya berusaha memahami itu semua. Lalu berusaha menerima dan bersyukur atas apa yang masih saya punya sekarang. Masih punya kerjaan yang lumayan. Masih bisa menulis kecil-kecilan.

Lalu saya menghibur diri dengan ngobrol bareng anak-anak kelas 8 (2 SMP). Mendengar curhat kisah asmara mereka yang lugu dan malu-malu. Asyik makan coklat dari mereka sambil dihembus angin sore. Saya iri dengan kisah mereka yang tampak masih jauh dari kegagalan. Mereka masih asyik merayakan kemudahan. Seorang anak bercerita, dia dapat hadiah sepatu seharga 1,3 juta dari cowo yang menyukainya (baru gebetan belum jadian). Ah, detik itu saya iri, dan saya tau saya masih gagal memaknai syukur dan ikhlas.

Tapi biar gagal, saya tetap harus terus mencoba kan? Iya.