Ngomel Demi Kejujuran (Catatan Hardiknas 2017)

Suatu hari di kelas 10, kelas dimulai dengan pembicaraan seperti ini.

Murid: Miss, kita belajar apa hari ini?

Saya: Saya mau ngomel dulu.

Murid lain: Miss Arnel mana bisa marah. Eh, bisa sih marah, kalau lagi latihan nari.

Ya, jadi memang saya pada dasarnya tidak mudah marah lalu ngomel-ngomel. Namun, bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah juga, terutama pada hal-hal mendasar berhubungan dengan moral. Kalau pas latihan nari itu bukan marah sih, itu galak tegas aja, karena nari adalah sesuatu yang akan dipentaskan. Saya nggak mau pentas tari yang cuma 4 menit itu jelek dilihat nanti. :))

Akhirnya saya bilang di depan kelas 10 itu, apa yang membuat saya marah. Saya mulai dengan bahas bahwa mengapa selama ini guru selalu mengingatkan murid untuk bekerja dengan jujur. Tentu ada waktunya belajar bersama, diskusi, yang memang perlu bekerja sama. Tapi jika waktunya diminta bekerja mandiri, maka bekerjalah mandiri. Bentuk kerja mandiri itu ya dengan berusaha sendiri, menggunakan kemampuan untuk menganalisis dan mengkreasikan sesuatu sendiri.

Saya juga guru yang sangat menghargai usaha siswa yang telah bekerja jujur dan mandiri. Saya akan beri apresiasi lebih jika saya lihat murid mau berjuang menyampaikan ide dan pemikirannya. Makanya, saya marah betul ketika membaca salah satu tugas menulis puisi buatan seorang siswa yang saya tahu betul itu bukan karya dia.

Saya lanjut mengisi kelas yang hening dan kaget karena melihat gurunya ini nahan geram. (Iya, saya nggak bisa ngomel merentet, paling cuma ketus jatuhnya, hehee). Saya jabarkan mengapa menyontek atau plagiarisme itu sangat menyepelekan beberapa hal.

1. Plagiarisme itu menyepelekan sekolah dan guru. Pelaku seolah meremehkan sekolah yang sudah berusaha mendidik dengan beragam moral value, tapi dia seolah malah menganggap remeh niat memupuk nilai-nilai baik itu. Lalu, dia juga seolah meremehkan guru yang dianggap mudah dibodohi dengan karya palsunya. Seorang guru bahasa bisa dengan mudah lho melacak apakah benar ini karya si murid atau bukan. Guru ‘kan tahu gaya bicara si murid sehari-hari, gaya kalimat tulis dia, gaya dia merangkai kata, seberapa dalam analisisnya, seberapa cerdas pendapatnya, seberapa banyak koleksi diksi yang dia sampaikan. Jadi ketika suatu waktu ada murid yang mengambil karya puisi orang lain di internet, dan gaya bahasanya jauuuh dari kemampuan si murid, ya gampang banget ketahuanlah.

2. Plagiarisme itu menyepelekan kerja orang yang ditiru. Membuat puisi itu tidak mudah lho (dia pasti ngerti itu tidak mudah makanya dia cari cara mudah dengan mengkopi). Penyair membuat karya dengan pengetahuan dan hatinya. Maka ada hak cipta yang sudah menjadi miliknya. Dan sudah sewajibnyalah kita menghargai hak itu.

3. Yang paling penting, plagiarisme itu menyepelekan diri sendiri. Dia menyepelekan kemampuan berpikirnya sendiri. Dia tidak percaya bahwa otaknya mampu bekerja. Dia menganggap dirinya makhluk sepele yang tidak bisa menyusun kata-kata sendiri. Wah, ini sangat bahaya! Pikiran yang tidak boleh dipupuk. Karena kalau disetujui, itu akan semakin merendahkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kejadian ini jadi pelajaran lagi buat saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar. Iya, bukan sekadar ngomel. Mendidik harus memberikan pemahaman. Mendidik itu juga membangun hati manusia dan merawat jiwa baik yang ada di sana.

 

Oya, SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!

– Dari guru kece yang terus belajar

Karya Farah Hafizah, kelas 10, 2017

 

How I Understand Second Failure

How I understand second failure: It feels like this sentence from Han Kang in the novel Vegetarian.

The pain feels like a hole swallowing her up, a source of intense fear and yet, at the same time, a strange, quiet peace.

Yes, I am talking about my second IUI here. The first, failed. Now, failed again.

Satu putaran IUI kedua ini aku tepar banget. Dokter kasih obat dan suntikan yang jauh lebih keras dari yang pertama. Ternyata efek samping di badanku luar biasa. Aku sampai demam, pusing, kram perut dan dada, sampai jalan pun membungkuk-bungkuk. Dokter bilang obat yang kedua (injeksi Menopur) ini sama seperti obat yang dipakai untuk program IVF, tapi dosisnya lebih rendah. Ya ampun, dosis rendahnya aja udah bikin badan begini. Apalagi kalau aku ambil IVF ya. Hmm…

Siklus berjalan dan kemudian… pagi-pagi dapat kejutan bulanan yang tidak kuharapkan. Rasanya kosong, lalu nangis ngusel badan suami, lalu dipukpuk sambil tarik napas panjang. Badan dijejal pakai pain killer dan niat berangkat kerja. Karena kalau istirahat di rumah malah semakin gak sehat pikirannya. Pergilah aku ke sekolah.

Sampai parkiran ada rekan kerja nyapa dan tanya, “Jam berapa ya, Miss? Sudah telat clock in belum ya?”. Aku nggak nyangka sendiri bisa membalasnya dengan tawa hambar, “Hahhaa… I dont care, sir!” Kaget sekaligus lega, karena sepertinya kalimat itu bukan tentang dia, tapi tentang perasaanku pagi itu.

Tapi begitu ketemu teman di lift (dia IVF survivor dua kali), dia tanya apa kabar, meledak juga ini air mata. Dia bilang, “Sabar… Udah nggak usah dibahas aja. Udah kita ngobrol yang lain aja.” Tapi pas masuk ruangan kantor mata masih mau nangis aja, sampai akhirnya pak bos tanya aku kenapa. Rekan kerja yang lain jadi bingung juga mau bersikap gimana. Aku akhirnya malu, lalu ambil tisu dan lap muka. Mana habis itu ngajar jam pertama. Uh ohh, nggak ada waktu buat berduka.

Beberapa jam kemudian saat pikiran sudah tenang, aku diskusi lagi dengan suami. Kita mau istirahat dulu, atau berjuang lagi? Mau coba IUI lagi, atau coba IVF barangkali? Suami membebaskan pilihan kembali ke aku, katanya “yasudah kalau kamu masih kuat”. Aku nengok badan, yang kuat itu semangatku. Rasanya enak kalau berjuang, karena ada harapan yang bisa dikejar.

Maka, kami lalu memutuskan coba IUI sekali lagi. Biar puas aja rasanya kalo dibuat nyanyi… satu dua tiga sayang semuanya. 🎶

 

 

Hebatnya Pertanyaan Terbuka

Mengapa guru sebaiknya sering-sering membuat pertanyaan terbuka? Karena banyak untungnya. Yang membuat pertanyaan terbuka sangat enak dibaca adalah…

  • Guru dapat menemukan beragam pikiran murid yang lebih bebas dalam menyatakan pendapatnya.
  • Murid dapat lebih maksimal menyatakan butir-butir pikirannya.
  • Guru dapat lebih memahami karakter muridnya.
  • Murid dapat peluang lebih luas dalam menyampaikan pengetahuan dan analisisnya.
  • Guru (saya) seringkali dapat nasihat-nasihat yang berguna untuk pengingat diri. Yang bikin baper karena seolah si murid tahu pikiran gurunya. Seperti tulisan di bawah ini, saat dia menganalisis cerpen “Pemanggil Bidadari” karya Noviana Kusumawardhani. :’))
Ayu Laksmi – Kelas 10D (2017)

 

I Love Surprises, (but not) This One…

Ini update dari tulisanku sebelumnya: galau pertama di 2017. Kabarnya adalah… negatif. First IUI: Failed.

Kegagalan macam begini enaknya memang dirayakan di kamar sendiri. Nangis sambil dengar lagu galau bolak balik. Tapi masalahnya, aku baru tahu gagal ini di toilet sekolah. Jumat pagi tadi. Jadi nangisnya langsung di sana. Untungnya ada teman guru di situ, jadi aku lebih bisa menenangkan diri. Dia cerita bahwa dia aja yang pakai program bayi tabung masih juga bisa gagal. Dari enam embrio, yang sukses cuma satu. Frozen embrio apalagi, besar kemungkinan failed. Banyak juga kasus fresh embrio udah nempel bagus di rahim, tapi kemudian gugur.

Intinya, semua proses rekayasa biologi ini tidak ada hasil yang absolut. Yang pegang kuasa absolut cuma satu: TUHAN. Jadi semua harapan kita itu adalah perkara usaha lalu ikhlaskan saja. Semua serahkan pada Dia.

Pas lagi nangis itu tiba-tiba sadar. Sore ini nggak bisa pulang cepat. Harus isi acara mendongeng bareng murid-murid sekolahku di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Jakarta. Otak langsung mikir gimana caranya kontrol emosi sedih jadi ceria. Ini acara sudah lama direncanakan. Nggak mungkin aku batalkan gitu aja. Lalu akhirnya bikin keputusan: Oke, I will do my best. Aku akan tetap mendongeng. Usai dongeng langsung izin pulang duluan. Yak. Minum pain killer dan obat hormon. Sisihkan duka dan pura-pura baik-baik saja.

Di perjalanan, dalam bus sekolah, good mood kupaksa naik. Berlatih dongeng dan lagu-musiknya sepanjang jalan raya, sampai ketemu hujan deras begitu tiba di Salemba. Lalu begitu masuk ke Rumah Kita, eh aku malah senyum terus-terusan. Aku lihat ada beberapa wajah anak-anak yang sudah pernah aku temui sebelumnya. Mereka pasien kanker lama. Ada juga wajah-wajah baru. Dan… mereka lagi santai bercanda dengan teman-temannya, kayak nggak merasa sakit apa-apa.

Aku senyum lagi dan kali ini bukan basa-basi. Mereka ternyata sudah membesarkan hatiku ini. Mereka yang jauh lebih hebat berjuang aja masih bisa tetap tertawa. Mereka yang kenyang obat dan kemoterapi aja masih bisa hepi-hepi. Sementara apalah aku ini yang baru diberikan kegagalan sekali dua kali. Apalah aku ini cuma dikasih cobaan seujung jari.

Aku lalu mendongenglah. Cerita lancar mengalir. Aku baru sadar belakangan, pesan yang ada dalam dongeng tadi adalah pesan buatku juga. Tentang gimana kerja kerasnya burung kecil yang belajar terbang hingga akhirnya bisa lihat pemandangan indah. Usaha-Gagal-Usaha-Gagal, sampai akhirnya Berhasil. Juga tentang doa-doa yang dipanjatkan kodok pemanggil hujan. Setia berharap-berusaha-berdoa, hingga kemudian dapat hasil baiknya.

Akhirnya aku bertahan sampai acara selesai. Nggak jadi pulang duluan. Bahkan sempat kecewa karena harus buru-buru pulang agar nggak kena macet di jalan (yang sebenarnya adalah nggak mungkin nggak kena macet di Jumat sore Jakarta -__-). I was surprise with myself. Surprise with this one. Ohh… dear Almighty. Aku belajar lagi. Kejutan-kejutan hidup memang seharusnya “dinikmati sebaik-baiknya” saja ya. 🙂

Foto oleh @jhonathan.30

Kita Bisa Asalkan Mau

Kayaknya selalu deh setelah kegiatan nari aku membuat refleksi “semua orang bisa mempelajari sesuatu asalkan MAU”. Yaa gimana enggak, setiap kali ada proyek nari di sekolah, hal ini pasti selalu terbukti.

Dua minggu lalu aku dikasih tugas Pak Level Head untuk mengurus murid kelas 10 mementaskan satu tarian dengan lagu mandarin untuk acara Chinese New Year 2017. Aku akhirnya colek beberapa murid yang sudah pernah menari sebelumnya di acara lain. Tapi ternyata ada anak-anak lain yang bilang MAU ikutan. Jujur, pikiranku waktu itu picik banget (maafkan saya ya…). Aku sempat berpikir dalam hati: Hmm, apa kamu bisa, gerakan kamu kaku banget gitu? Apa kamu bisa, kan kaki kamu flat feet? (FYI, dia nggak bisa jongkok). Badan kamu besar, apa bisa nari lincah? (Mungkin ini karena aku pernah punya murid yang kegemukan sampai nggak bisa jinjit).

atas: Hellena, Alya, Diani, Callista       bawah: Khalisha, Danella, Akiela, Metari (Grade 10 – 2017)

Lalu aku ingat, apa sih yang nggak bisa kita lakukan asalkan ada kemauan? Lagipula setelah ngobrol aku baru tahu bahwa ternyata anak-anak ini punya pengalaman nari sebelumnya, pernah nari Ratoh Jaroe dan Panji Semirang. Malu aku pernah berpikir nggak adil. Aku kubur prasangka negatif dan mulailah kami berlatih. Total cuma tiga kali pertemuan. Setiap latihan direkam dalam video, share di line group, jadi mereka bisa buka ulang dan periksa mana gerakan yang masih harus diperbaiki. Selebihnya aku minta mereka latihan sendiri di rumah dan minta mereka bayangkan sampai masuk ke dalam mimpi.

Drama kecil jelang hari H

Pas GR sehari sebelum hari H, ada drama kecil. Satu penari sakit. Aku lumayan cemas karena kalau dia tidak bisa datang di hari H, berarti pola lantai tariannya akan berbeda. Artinya harus berubah lagi. Artinya harus penyesuaian lagi. Akhirnya waktu GR, aku rekam video mereka dan jadinya anak yang sakit itu bisa belajar blocking di rumah. Dan… thank God, dia bisa datang di hari H.

Yang penting mau

Pentas nari 4 menit itu terjadi juga. Ada kesalahan minor sih, tapi buatku itu gapapa banget mengingat latihan yang cuma tiga kali itu. Dan yang penting, mereka mau dan mereka bisa! Terutama anak-anak yang sempat kuragukan dalam hati itu, mereka mematahkan pradugaku (so proud of you, girls! ❤). Kalau waktu latihan bisa lebih lama, aku yakin deh mereka bisa persembahkan yang jauh lebih bagus.

Jadi sekali lagi aku harus garis bawahi: Mempelajari atau melakukan apapun akan sangat asyik dijalani kalau kita MAU dan NIAT. Juga ingat lagi apa kata PAT: Adil sejak dalam pikiran.

Our mirror selfie after perform :)) Thank you so much for “the lesson” :*

 

Wisata Sastra: Burung-Burung Manyar

Liburan Desember 2016 lalu aku dan teman-teman guru bahasa Indonesia di sekolah tempatku bekerja membuat kegiatan yang kunamakan Wisata Sastra. Intinya sih berwisata mengunjungi lokasi yang disebutkan dalam suatu buku sastra. Nah, novel yang kami gunakan sebagai panduan wisata sastra kali ini adalah Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Buku ini sudah tiga tahun digunakan sebagai buku sastra bacaan siswa kelas 11 dan 12. Kebetulan juga tiga temanku itu memang orang yang lumayan karib dengan latar cerita. Maka niat kami menelusuri latar novel ini jadi makin besar, deh.

Burung-Burung Manyar menyebutkan banyak sekali nama tempat, tapi fokus kisahnya di Magelang dan Yogyakarta. Jadi, wisata sastra yang kami lakukan hanya fokus di dua kota itu saja. Video singkat wisata sastra ini sudah aku unggah di sini: Wisata Sastra Burung-Burung Manyar.

Nah, detail tempat-tempat yang kami kunjungi adalah berikut ini.

MAGELANG-TIDAR. Novel dimulai dengan kisah masa kecil Teto yang senang bermain dan berkeliling Tidar. Dari dalam mobil aku membayangkan jalan raya inilah yang dilalui Teto kecil yang riang dan nakal. Aku bisa hirup udara segar pohon yang banyak tumbuh di tepi jalan dan juga melihat Bukit Tidar di kejauhan.

KOMPLEKS KESATRIAN. Teto kecil tinggal di kompleks tangsi militer zaman Belanda masih berkuasa di Indonesia. Ayahnya seorang letnan KNIL dan berhak dapat tempat tinggal sesuai jabatannya. Di sini aku bayangkan mereka tinggal di sebuah rumah dinas yang cukup besar. Kami berkeliling kompleks itu dan mengamati lingkungan yang hijau sambil membayangkan Teto bermain dengan anak kolong di sana, termasuk anak prajurit kroco yang rumahnya kecil. Ohya, kami juga lihat kali depan kompleks berair coklat van houten yang jadi tempat Teto bermain dan mandi-mandi.

AKADEMI MILITER MAGELANG. Lanjut ke AkMil yang jaraknya dekat dengan kompleks rumah tentara tadi. Kami bayangkan ayah Teto pasti sering berada di sini dan Teto juga belajar tentang militer di sini. Kami menyempatkan mampir dan berfoto di gerbang. Sempat takut mengganggu karena mobil kami diparkir dekat pintu masuk. Tapi ternyata dua tentara yang berjaga di pos ramah sekali. Kami menyapa dan mengobrol singkat sambil membicarakan kemungkinan membawa rombongan murid ke sana. Ah, aku kuper, ternyata AkMil sudah sering kedatangan rombongan anak sekolah. Silakan kirim surat izin kunjungan dan nanti akan dibantu pihak AkMil untuk berkeliling kompleks dan museum di dalamnya.

20161221_124640_resized-1

POTROBANGSAN MAGELANG. Sesudah Belanda kalah dan Jepang masuk menguasai Indonesia, ayah Teto ditangkap Kenpeitai. Mereka tidak lagi bisa tinggal di kompleks tentara. Teto kemudian tinggal di daerah Potrobangsan.

20161221_130853_resizedRUMAH SAKIT JIWA KRAMAT MAGELANG. Ini salah satu latar novel yang paling berkesan. Teto dan Verbruggen ke sini dan mendapati Ibu Teto yang telah lama hilang. Dia sakit jiwa dan dirawat di sini sambil terus bilang, “semua sudah kuberikan…” 🙁 RS ini kesannya tenang, damai, nyaman. Kami sempat menemui petugas resepsionis dan mengobrol singkat. Dia bilang RS ini menerima kunjungan study tour sekolah karena di dalamnya ada lokasi yang bisa ditampilkan untuk umum juga. Silakan ajukan surat izin dan mematuhi peraturan yang ada, misalnya tidak sembarangan mengambil gambar di area RS. Ini penting demi kenyamanan pasien dan keluarga pasien.

MUSEUM DIRGANTARA YOGYAKARTA. Sempat Teto tidak percaya orang Indonesia sanggup menerbangkan pesawat. Saat itu Teto sedang bergabung dengan tentara NICA. Dalam novel kemudian disebutkan ada yang namanya Suryadarma dan Adi Sucipto. Nah, bukti kehebatan mereka bisa ditemukan di museum ini. Ada juga pesawat-pesawat yang dipajang di hanggar dalam museum. Dengan tiket masuk Rp5000 saja, museum ini sudah bisa terbilang oke banget.

20161221_154855_resizedGEDUNG AGUNG. Karena kami berangkat ke Magelang kesiangan dan temanku ada yang harus balik ke Solo hari itu juga, jadilah hanya lima lokasi yang bisa dicapai dalam waktu sepertiga hari. Keesokan harinya aku sambung ke Gedung Agung ini. Dalam novel, Gedung Agung disebutkan di bab “Istana Perjuangan”. Teto bersama Atik dan Jana bernostalgia zaman perjuangan dulu sambil kemudian dia mengajak Atik dan Jana membongkar kasus korupsi di Pacific Well Oil Company. Aku cuma lihat-lihat gedung cantik ini dari luar saja. Kalau mau berkunjung ke dalam bisa juga. Prosedurnya bisa dilihat di sini:  http://yogyakarta.panduanwisata.id/headline/tata-cara-berwisata-sejarah-ke-gedung-agung-jogja/

BENTENG VREDEBURG. Letaknya di seberang Gedung Agung. Di sini aku bisa lihat gedung bersejarah dan belajar banyak tentang sejarah perjuangan, termasuk tentang Agresi Militer Belanda tahun 1948 yang banyak disinggung.

KAKI GUNUNG MERAPI. Kalau banyak waktu, asyik juga wisata sastra Burung-Burung Manyar digenapi ke sini. Ikut Lava Tour Merapi, lalu minta diantar singgah di desa Juranggede tempat tokoh Atik dan Ibunya ngobrol galau memikirkan Teto.

Masih ada beberapa lokasi yang tidak sempat kami kunjungi jika harus benar-benar persis seperti novel, misalnya Jalan Cemorojajar dan Kampus UGM. Kalau hanya pakai daftar aku di atas tadi, paling pas dan santai yaa dijalani selama dua hari. Jadi kita benar-benar bisa merasakan isi novel dengan hati yang ikut riang-cinta-cemas-galau seperti Teto dan Atik.

Hmm, berikutnya, wisata sastra ke mana lagi ya?

 

Posting (galau) Pertama di 2017

Posting pertama di 2017.
Akhirnya memberanikan diri juga nulis ini. Sengaja untuk melepas rasa takut, yang pasti tidak akan hilang, tapi semoga bisa berkurang. Iya, mengawali tahun ini kok ya perasaanku cemas. Ada sesuatu yang membuatku takut gagal. Dan sudah jelas apa sebabnya.

Sudah sejak 2014 aku dan suami memutuskan untuk punya anak. Kenapa dibilang memutuskan? Ya, karena aku tidak serta merta diberi hamil seperti kebanyakan pasangan yang menikah. Maka kami memutuskan dan mengusahakan. Ke pengobatan alternatif, ke dokter kandungan dan konsultan fertilitas, ubah pola makan jadi yang serba sehat, dan terakhir balik ke dokter lagi. Jadi dua tahun belakangan ini aku dan suami sudah kenyang makan obat dan suplemen, kenyang jalani prosedur ini itu, kenyang habiskan banyak uang untuk ikhtiar, dan kenyang nangis tentunya.

Sebetulnya aku masih terbilang enak, tidak ada pihak lain yang memaksa aku segera hamil dan punya anak. Ortu dan suami sangat tenang, ingin tapi nggak ngoyo. Lingkungan, ada yang rese dan kepo tapi yaa… biasa-biasa ajalah. Keinginan hamil itu datangnya dari dalam diri sendiri. It’s natural calling. Makanya itu yang membuatku rela ikhtiar ke sana-sini.

Aku ingat aku pernah sangat takut mencoba naik sepeda. Kelas 1 SD waktu itu. Takut jatuh, padahal kaki pun belum menginjak pedal. Tapi semangat ingin bisa gowes keliling kampung begitu besar, makanya lalu aku berani-beranikan coba. Diiringi teriak semangat Mama dari jauh, aku coba juga nggowes si sepeda kecil putih itu dan akhirnya… bisa! Kenangan ini terputar lagi sejak malam tahun baru tadi, tapi galau yang ini rasanya beda. Kurasa karena yang akan kulakukan di tahun 2017 ini bukan percobaan pertama kali. Sudah dua kali gagal aku dengan program hamil. Pertama di RS Hermina Depok, lalu pindah di RS Hermina Serpong. Rasa gagal tentu nggak enak. Capek di mental dan fisik tentunya. Capek biaya juga. Tapi dorongan semangat mencoba itu selalu ada. Makanya aku niatkan coba program hamil lagi, kali ini di RS Harapan Kita, rekomendasi dua teman. Satu teman sukses punya bayi kembar dengan program IVF (In Vitro Fertilization/bayi tabung). Satu teman lagi sangat menyarankanku mencoba juga, meskipun dia sudah pernah IVF dan gagal. 🙁

Iya, tingkat keberhasilan IVF itu hingga 40%, jadi artinya risiko gagalnya masih lebih besar. Dan program ini sama sekali nggak murah. Di RS Harapan Kita itu tim dokter menyarankan kami ikut IUI (Intra Uterine Insemination) dulu. Alasannya karena aku dan suami sebetulnya sehat-sehat aja. Cuma Tuhan aja yang masih kepengen kami puas-puasin pacaran. 🙂 So yeah, meski galau-cemas-takut menghadapi apa yang akan terjadi di tahun 2017 ini, aku tetap semangat saat datang ke RS. Kami dandan hipster dari rumah dan menganggap RS adalah tempat kencan yang cozy.

Oktober 2016 program kami sudah dimulai, dan dua bulan pertama 2017 ini akan jauh lebih intensif. Doa-doa harus lebih banyak dihambur dan amal harus lebih sering ditabur.