Tips Membacakan Dongeng (Read Aloud)

Bagaimana cara asyik membacakan dongeng? Ini coba aku bagi beberapa tip untuk orangtua yaa…

Sebelum

• Pastikan orangtua dan anak siap untuk membaca dan mendengar cerita. Waktunya bisa di saat santai, atau sebelum tidur.

• Bebaskan anak memilih ceritanya sendiri. Jika anak memilih cerita yang sama terus, biarkan saja. Itu tanda dia nyaman dan menyukai cerita tersebut.

• Sebaiknya anak dan orangtua duduk berdampingan membaca bersama. Ini penting untuk membangun kedekatan hubungan anak dan orangtua.

Selama

• Bercerita tidak perlu lama-lama. Untuk anak balita cukup 5-7 menit. Untuk anak usia SD, maksimal 20 menit saja. Maka dari itu, kita perlu mengatur tempo membaca, atau memotong cerita dan melanjutkannya esok hari.

• Mulailah membaca sesuai nada dan suasana dalam cerita. Kisahkan secara dramatis. Jika tokoh dalam cerita berbisik, maka buatlah suara berbisik.  Jika ada suara binatang, tirukanlah bunyinya.

• Sebisa mungkin lafalkan setiap kata dengan benar. Ini bagus pula untuk melatih anak memahami setiap makna kata dan ujaran.

• Lakukan improvisasi. Misalnya, mengubah nama tokoh dalam cerita dengan nama anak atau minta anak membaca bagian tertentu, atau melakukan gerakan ringan dengan tangannya.

Setelah

• Akhiri cerita secara mengesankan, misalnya dengan helaan napas lega. Jangan langsung menutup buku begitu saja.

• Lakukan tanya jawab sederhana untuk melihat apakah anak memahami cerita tadi. Tanyai juga apa yang bisa ia pelajari dari cerita tersebut. Boleh juga orangtua menyisipkan tambahan pesan baik sebagai penutup.

 

Belajar dari Gulita

Waktu pertama kali dapat undangan mendongeng untuk anak kanker dan tuna netra, aku langsung merinding. Aku sudah beberapa kali mendongeng untuk anak kanker. Tapi, anak-anak tuna netra? Oh, buatku pribadi, mata sungguhlah anugerah indera yang luar biasa. Aku merinding karena tidak bisa membayangkan hidup dalam gulita, tak bisa melihat benda dan rupa. Aku selama ini juga belum pernah berinteraksi dengan tuna netra. Makanya aku lumayan cemas memikirkan dongeng seperti apa yang akan aku bawakan.

Dua hari sebelum pentas, aku dan Dandi Ukulele berlatih khusus untuk acara ini. Dongengnya aku ambil dari salah satu cerita yang ada dalam buku dongengku yang segera terbit (pasti aku kabari nanti ya!). Judulnya “Greyo”, tentang gajah abu-abu yang belajar berbagi. Kami mengulang ceritanya beberapa kali, menambahkan banyak deskripsi yang detail. Di otakku saat itu adalah memikirkan agar cerita bisa sejelas mungkin diterima para anak tuna netra.

Baru saat tiba di RS Dharmais aku tahu bahwa peserta acara ini banyak sekali. Kata panitia, seratus orang! Mereka datang dari empat yayasan, yaitu: Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Rumah Harapan Indonesia, Yayasan Mitra Netra, dan Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin. Sebelum acara dimulai, aku melihat satu-dua anak tuna netra. Mereka menuju toilet ditemani pendamping. Persis ketika aku melihat cekung di tempat bola mata itu seharusnya berada, mataku berkaca-kaca. Buru-buru aku bilang ke Dandi bahwa aku nggak kuat. Baper 🙁. Di otakku yang polos ini, aku bayangkan betapa menderitanya mereka tidak bisa melihat. Betapa menakutkannya hidup dalam gelap. (Iya, aku memang paling takut dengan gelap dan mati lampu :/ ). Tapi lalu Dandi bilang, “Menderita itu kan menurut lo. Bisa jadi mereka bisa menerima dirinya, nggak merasa menderita.” Ohh, langsung aku sadar. Kita (aku terutama) yang bermata dan berindera lengkap aja kadang masih nggak bisa menerima kekurangan diri sendiri. Anggota tubuh tidak lengkap, atau tidak berfungsi normal, bukan berarti harus merasa paling tak berdaya. Jadi, menerima kondisi diri sendiri itu datangnya dari hati dan pikiran yang bersyukur. 

Aku dan Dandi Ukulele, bersama Zelda.

Lalu datanglah seorang gadis tuna netra didampingi ibunya. Zelda dan ibunya. Mereka duduk di sebelah kami. Rupanya ini Zelda Maharani, yang belakangan baru kuketahui dia pernah jadi kontestan acara menyanyi Mamamia Indosiar 2014. Usianya kini 16 tahun. Sudah jago betul main piano (dan alat musik lain!) dan tentu saja hobi menyanyi. Dia juga hobi membaca buku, dan aktif di media sosial seperti remaja lainnya. Anaknya periang. Auranya menyenangkan. Aku yang nggak sempat ngobrol banyak aja langsung kesiram energi hidupnya. Semangatnya menular banget!

Merayakan ulang tahun untuk yang lahir bulan Mei. Yayasan Mitra Netra juga ultah Mei. Iya, aku juga!

Respon anak tuna netra saat aku mendongeng

Untuk sebuah pengalaman pertama, aku belajar saaangat banyak dari anak-anak tuna netra ini. Mereka jauh lebih menyimak (bukan cuma mendengar lho ya) ketimbang orang biasa. Tertawa kencang, teriak menjawab pertanyaan, ikut bernyanyi riang, justru datangnya dari mereka. Mereka kelihatan sangat enjoy mendengar dongeng musikal yang kami bawakan. And I’m sooo happy with that! #baperlagi

Kebayang kan, betapa kita sering kehilangan momen, justru saat mata kita terbuka, saat indera kita berfungsi semua.

Satu pelajaran lagi yang kudapat, waktu Zelda di atas panggung bilang begini ke sahabat netra dan kanker dan untuk penonton lainnya juga:

“Kalau kamu merasa sedih, ingat, yang bisa membuat kamu senang lagi hanya diri kamu sendiri.”

All Pics: Heru Rudiyanto

Satu Dua Tiga, Gagal Semuanya

Nah, sekarang udah sah boleh nyanyi “satu dua tiga gagal semuanya…”. Iya, ini update dari tulisanku sebelumnya. Jadi Mei 2017 ini lengkap tiga kali coba program hamil dengan IUI.

Nggak bisa ngomong banyak sekarang. Aku mau istirahat dulu. Simpan harapan dan cita-cita dulu. Mungkin nanti kalau semangat sudah terkumpul lagi, aku coba segala usaha lagi.

Ngomel Demi Kejujuran (Catatan Hardiknas 2017)

Suatu hari di kelas 10, kelas dimulai dengan pembicaraan seperti ini.

Murid: Miss, kita belajar apa hari ini?

Saya: Saya mau ngomel dulu.

Murid lain: Miss Arnel mana bisa marah. Eh, bisa sih marah, kalau lagi latihan nari.

Ya, jadi memang saya pada dasarnya tidak mudah marah lalu ngomel-ngomel. Namun, bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah juga, terutama pada hal-hal mendasar berhubungan dengan moral. Kalau pas latihan nari itu bukan marah sih, itu galak tegas aja, karena nari adalah sesuatu yang akan dipentaskan. Saya nggak mau pentas tari yang cuma 4 menit itu jelek dilihat nanti. :))

Akhirnya saya bilang di depan kelas 10 itu, apa yang membuat saya marah. Saya mulai dengan bahas bahwa mengapa selama ini guru selalu mengingatkan murid untuk bekerja dengan jujur. Tentu ada waktunya belajar bersama, diskusi, yang memang perlu bekerja sama. Tapi jika waktunya diminta bekerja mandiri, maka bekerjalah mandiri. Bentuk kerja mandiri itu ya dengan berusaha sendiri, menggunakan kemampuan untuk menganalisis dan mengkreasikan sesuatu sendiri.

Saya juga guru yang sangat menghargai usaha siswa yang telah bekerja jujur dan mandiri. Saya akan beri apresiasi lebih jika saya lihat murid mau berjuang menyampaikan ide dan pemikirannya. Makanya, saya marah betul ketika membaca salah satu tugas menulis puisi buatan seorang siswa yang saya tahu betul itu bukan karya dia.

Saya lanjut mengisi kelas yang hening dan kaget karena melihat gurunya ini nahan geram. (Iya, saya nggak bisa ngomel merentet, paling cuma ketus jatuhnya, hehee). Saya jabarkan mengapa menyontek atau plagiarisme itu sangat menyepelekan beberapa hal.

1. Plagiarisme itu menyepelekan sekolah dan guru. Pelaku seolah meremehkan sekolah yang sudah berusaha mendidik dengan beragam moral value, tapi dia seolah malah menganggap remeh niat memupuk nilai-nilai baik itu. Lalu, dia juga seolah meremehkan guru yang dianggap mudah dibodohi dengan karya palsunya. Seorang guru bahasa bisa dengan mudah lho melacak apakah benar ini karya si murid atau bukan. Guru ‘kan tahu gaya bicara si murid sehari-hari, gaya kalimat tulis dia, gaya dia merangkai kata, seberapa dalam analisisnya, seberapa cerdas pendapatnya, seberapa banyak koleksi diksi yang dia sampaikan. Jadi ketika suatu waktu ada murid yang mengambil karya puisi orang lain di internet, dan gaya bahasanya jauuuh dari kemampuan si murid, ya gampang banget ketahuanlah.

2. Plagiarisme itu menyepelekan kerja orang yang ditiru. Membuat puisi itu tidak mudah lho (dia pasti ngerti itu tidak mudah makanya dia cari cara mudah dengan mengkopi). Penyair membuat karya dengan pengetahuan dan hatinya. Maka ada hak cipta yang sudah menjadi miliknya. Dan sudah sewajibnyalah kita menghargai hak itu.

3. Yang paling penting, plagiarisme itu menyepelekan diri sendiri. Dia menyepelekan kemampuan berpikirnya sendiri. Dia tidak percaya bahwa otaknya mampu bekerja. Dia menganggap dirinya makhluk sepele yang tidak bisa menyusun kata-kata sendiri. Wah, ini sangat bahaya! Pikiran yang tidak boleh dipupuk. Karena kalau disetujui, itu akan semakin merendahkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kejadian ini jadi pelajaran lagi buat saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar. Iya, bukan sekadar ngomel. Mendidik harus memberikan pemahaman. Mendidik itu juga membangun hati manusia dan merawat jiwa baik yang ada di sana.

 

Oya, SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!

– Dari guru kece yang terus belajar

Karya Farah Hafizah, kelas 10, 2017

 

How I Understand Second Failure

How I understand second failure: It feels like this sentence from Han Kang in the novel Vegetarian.

The pain feels like a hole swallowing her up, a source of intense fear and yet, at the same time, a strange, quiet peace.

Yes, I am talking about my second IUI here. The first, failed. Now, failed again.

Satu putaran IUI kedua ini aku tepar banget. Dokter kasih obat dan suntikan yang jauh lebih keras dari yang pertama. Ternyata efek samping di badanku luar biasa. Aku sampai demam, pusing, kram perut dan dada, sampai jalan pun membungkuk-bungkuk. Dokter bilang obat yang kedua (injeksi Menopur) ini sama seperti obat yang dipakai untuk program IVF, tapi dosisnya lebih rendah. Ya ampun, dosis rendahnya aja udah bikin badan begini. Apalagi kalau aku ambil IVF ya. Hmm…

Siklus berjalan dan kemudian… pagi-pagi dapat kejutan bulanan yang tidak kuharapkan. Rasanya kosong, lalu nangis ngusel badan suami, lalu dipukpuk sambil tarik napas panjang. Badan dijejal pakai pain killer dan niat berangkat kerja. Karena kalau istirahat di rumah malah semakin gak sehat pikirannya. Pergilah aku ke sekolah.

Sampai parkiran ada rekan kerja nyapa dan tanya, “Jam berapa ya, Miss? Sudah telat clock in belum ya?”. Aku nggak nyangka sendiri bisa membalasnya dengan tawa hambar, “Hahhaa… I dont care, sir!” Kaget sekaligus lega, karena sepertinya kalimat itu bukan tentang dia, tapi tentang perasaanku pagi itu.

Tapi begitu ketemu teman di lift (dia IVF survivor dua kali), dia tanya apa kabar, meledak juga ini air mata. Dia bilang, “Sabar… Udah nggak usah dibahas aja. Udah kita ngobrol yang lain aja.” Tapi pas masuk ruangan kantor mata masih mau nangis aja, sampai akhirnya pak bos tanya aku kenapa. Rekan kerja yang lain jadi bingung juga mau bersikap gimana. Aku akhirnya malu, lalu ambil tisu dan lap muka. Mana habis itu ngajar jam pertama. Uh ohh, nggak ada waktu buat berduka.

Beberapa jam kemudian saat pikiran sudah tenang, aku diskusi lagi dengan suami. Kita mau istirahat dulu, atau berjuang lagi? Mau coba IUI lagi, atau coba IVF barangkali? Suami membebaskan pilihan kembali ke aku, katanya “yasudah kalau kamu masih kuat”. Aku nengok badan, yang kuat itu semangatku. Rasanya enak kalau berjuang, karena ada harapan yang bisa dikejar.

Maka, kami lalu memutuskan coba IUI sekali lagi. Biar puas aja rasanya kalo dibuat nyanyi… satu dua tiga sayang semuanya. 🎶

 

 

Hebatnya Pertanyaan Terbuka

Mengapa guru sebaiknya sering-sering membuat pertanyaan terbuka? Karena banyak untungnya. Yang membuat pertanyaan terbuka sangat enak dibaca adalah…

  • Guru dapat menemukan beragam pikiran murid yang lebih bebas dalam menyatakan pendapatnya.
  • Murid dapat lebih maksimal menyatakan butir-butir pikirannya.
  • Guru dapat lebih memahami karakter muridnya.
  • Murid dapat peluang lebih luas dalam menyampaikan pengetahuan dan analisisnya.
  • Guru (saya) seringkali dapat nasihat-nasihat yang berguna untuk pengingat diri. Yang bikin baper karena seolah si murid tahu pikiran gurunya. Seperti tulisan di bawah ini, saat dia menganalisis cerpen “Pemanggil Bidadari” karya Noviana Kusumawardhani. :’))
Ayu Laksmi – Kelas 10D (2017)

 

I Love Surprises, (but not) This One…

Ini update dari tulisanku sebelumnya: galau pertama di 2017. Kabarnya adalah… negatif. First IUI: Failed.

Kegagalan macam begini enaknya memang dirayakan di kamar sendiri. Nangis sambil dengar lagu galau bolak balik. Tapi masalahnya, aku baru tahu gagal ini di toilet sekolah. Jumat pagi tadi. Jadi nangisnya langsung di sana. Untungnya ada teman guru di situ, jadi aku lebih bisa menenangkan diri. Dia cerita bahwa dia aja yang pakai program bayi tabung masih juga bisa gagal. Dari enam embrio, yang sukses cuma satu. Frozen embrio apalagi, besar kemungkinan failed. Banyak juga kasus fresh embrio udah nempel bagus di rahim, tapi kemudian gugur.

Intinya, semua proses rekayasa biologi ini tidak ada hasil yang absolut. Yang pegang kuasa absolut cuma satu: TUHAN. Jadi semua harapan kita itu adalah perkara usaha lalu ikhlaskan saja. Semua serahkan pada Dia.

Pas lagi nangis itu tiba-tiba sadar. Sore ini nggak bisa pulang cepat. Harus isi acara mendongeng bareng murid-murid sekolahku di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Jakarta. Otak langsung mikir gimana caranya kontrol emosi sedih jadi ceria. Ini acara sudah lama direncanakan. Nggak mungkin aku batalkan gitu aja. Lalu akhirnya bikin keputusan: Oke, I will do my best. Aku akan tetap mendongeng. Usai dongeng langsung izin pulang duluan. Yak. Minum pain killer dan obat hormon. Sisihkan duka dan pura-pura baik-baik saja.

Di perjalanan, dalam bus sekolah, good mood kupaksa naik. Berlatih dongeng dan lagu-musiknya sepanjang jalan raya, sampai ketemu hujan deras begitu tiba di Salemba. Lalu begitu masuk ke Rumah Kita, eh aku malah senyum terus-terusan. Aku lihat ada beberapa wajah anak-anak yang sudah pernah aku temui sebelumnya. Mereka pasien kanker lama. Ada juga wajah-wajah baru. Dan… mereka lagi santai bercanda dengan teman-temannya, kayak nggak merasa sakit apa-apa.

Aku senyum lagi dan kali ini bukan basa-basi. Mereka ternyata sudah membesarkan hatiku ini. Mereka yang jauh lebih hebat berjuang aja masih bisa tetap tertawa. Mereka yang kenyang obat dan kemoterapi aja masih bisa hepi-hepi. Sementara apalah aku ini yang baru diberikan kegagalan sekali dua kali. Apalah aku ini cuma dikasih cobaan seujung jari.

Aku lalu mendongenglah. Cerita lancar mengalir. Aku baru sadar belakangan, pesan yang ada dalam dongeng tadi adalah pesan buatku juga. Tentang gimana kerja kerasnya burung kecil yang belajar terbang hingga akhirnya bisa lihat pemandangan indah. Usaha-Gagal-Usaha-Gagal, sampai akhirnya Berhasil. Juga tentang doa-doa yang dipanjatkan kodok pemanggil hujan. Setia berharap-berusaha-berdoa, hingga kemudian dapat hasil baiknya.

Akhirnya aku bertahan sampai acara selesai. Nggak jadi pulang duluan. Bahkan sempat kecewa karena harus buru-buru pulang agar nggak kena macet di jalan (yang sebenarnya adalah nggak mungkin nggak kena macet di Jumat sore Jakarta -__-). I was surprise with myself. Surprise with this one. Ohh… dear Almighty. Aku belajar lagi. Kejutan-kejutan hidup memang seharusnya “dinikmati sebaik-baiknya” saja ya. 🙂

Foto oleh @jhonathan.30