Menciptakan Dongeng yang Bernilai

Aku beruntung sekali bisa belajar kelas dongeng dari Sheila Wee, seorang storyteller profesional dari Singapura.

Yang paling kusuka dari workshop ini adalah para peserta diajak membuat cerita sendiri. Sheila memberikan kami outline cara membuat cerita yang bisa selalu kita pakai untuk membuat dongeng karya sendiri. Nah, berikut ini adalah Original Value Story Template dari Sheila Wee.

What value do you wish to promote? 

Decide on a main character for the story. For young children, an animal can work as well as human character.

Create a character first impression. Who is her/his name? Age? Create a brief description of the character’s physical appearance and their main character traits. Remember that you want your audience to identify with this character on an emotional level, so try and create similarities between the character and your target audience.

Decide the character’s goal. In this story what does the main character want, or need to do, or want or need to have? Remember that for the audience to identify emotionally with the main character, the goal must be one that they see as worthy, and one that they might have themselves, if they were in the same circumstances.

Why hasn’t the character got what he or she wanted? What has got in the way of achieving that goal? Is there an external problem? Or is it a character trait (a flaw) that is preventing progress towards the goal? Or is it a combination of the two? To make your story more effective, choose problems, and flows that are likely resonate with your audience. Can the value you are trying to transmit be brought out in the way the character struggles to overcome the obstacles?

What does your character do to overcome the obstacles that they face? How can you emphasise the struggles your character goes through to overcome these challenges? How does your character react to their struggles to achieve their goal? How can you show your character’s similarity to your target audience in the way they react to their challenges?

How is the story going to end? Remember that children need stories with a positive ending. Without baldly stating the value, is there a way in which you can emphasise the value in the conclusion of the story? How might you open up a discussion on the story and the values it contains?

Menulis Berita Berdasarkan Novel

Tahun ajaran 2017-2018 ini saya kembali mengajar siswa kelas 11. Saya senang, karena saya memang suka materi-materi di level ini. Salah satunya yaitu berita. Dalam kurikulum KTSP disebutkan siswa kelas 11 diharapkan menguasai cara menyampaikan informasi berita. Mereka akan diajak membuat naskah berita, dan juga praktik membacakan berita. Nah, sebelum mereka membacakan berita, tentu siswa harus memahami dulu seperti apakah naskah berita, dan bagaimana cara menulis naskah berita. Sekolah yang menggunakan novel sebagai bahan pembelajaran sastra bisa juga menggapai materi ini sekaligus. Berikut saya jabarkan tahapan-tahapan membuat assessment berita menggunakan novel.

  1. Membaca bagian novel yang mengandung informasi sejarah. Saya dan siswa kelas 11 tahun ini sedang membaca novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya. Kami membaca bagian Buah Gugur dan mencari peristiwa sejarah di sana. Ditemukanlah informasi tentang KNIL yang dibubarkan oleh Jepang akibat kekalahan Belanda.
  2. Menemukan unsur 5W1H. Kami kemudian mencari unsur 5W dan 1H dari bagian novel itu. Unsur ini disusun menjadi kerangka tulisan. Paragraf 1 atau Kepala Berita adalah What-Where-When-Who-Why, paragraf 2 atau Badan Berita adalah How, dan paragraf 3 adalah Ekor Berita.
  3. Menyusun naskah yang aktual. Saya minta siswa membayangkan bahwa mereka benar-benar menjadi wartawan di masa Jepang itu. Mereka sungguh-sungguh mengalami peristiwa agar syarat AKTUAL dapat terjadi. Ini penting dilakukan saat menyusun naskah.
  4. Merangkai kalimat. Gunakan konjungsi dan gaya bahasa ala surat kabar. Boleh juga ditambahkan kalimat langsung seolah-olah tokoh dalam novel benar-benar diwawancarai oleh siswa.

Nah, ini salah satu pekerjaan murid yang bagus betul hasilnya. 🙂

Belanda Berlutut, Dai Nippon Ambil Alih

(Jumat, 20 Maret 1942)  Dini hari, pukul 06.00 pagi, radio Jepang “Cahaya Asia” Cabang Surakarta mengumumkan pengambilalihan properti-properti Konin Klijk Nederlands Indisch Leger yang berupa aset militer serta kepemilikan pribadi tentara-tentara KNIL.

Rumah-rumah perwira KNIL telah diklaim sebagai jarahan perang dan kemudian ditempati oleh perwira-perwira Jepang. “Saya bersama keluarga saya diusir dari Tangsi Militer Magelang,” ungkap Brajabasuki, seorang mantan perwira KNIL yang dulunya berpangkat kapten. “Sekarang saya tinggal di sebuah rumah kecil di Kampung Patrabangsan.”

Sejak berdirinya pemerintah militer Jepang di Hindia Timur, Tangsi Militer Magelang telah dijadikan markas operasi polisi militer Jepang. Pengambilalihan Hindia Timur oleh Jepang telah memperkuat posisinya di Pasifik Selatan. Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengeluarkan pernyataan: Matahari telah terbit dari Timur.

  • Fayes Gatri (11G, Agustus 2017)

Rekonstruksi Cerita Rakyat

Nggak nyesel aku bolak balik kirim email untuk minta tukar supervisi kelas di acara Career Day 30 Mei lalu. Aku mengincar ikut kelas Clara Evi Citraningtyas. Ia adalah seorang penulis cerita anak, dosen sastra di Universitas Pelita Harapan, peneliti cerita rakyat, dan juga ibu dari Karina, muridku kelas 10. Kami sempat berbalas email di awal tahun ajaran 2016-2017. Dia mengapresiasi sekolah Binus Serpong yang menggunakan novel sastra sebagai media pembelajaran. Jadilah aku penasaran ingin bertemu beliau, sekaligus mau belajar juga darinya.

Bu Clara ini ramah sekali. Presentasinya jelas dan menyenangkan. Kebayang deh, mahasiswanya pasti suka diajar beliau. Ia mula-mula menceritakan serunya jadi dosen, peneliti, dan penulis sekaligus. Ia menekankan bahwa pekerjaan mengajar itu keep her brain young. Setuju banget! Aku juga awet muda kan karena ngajar remaja terus. :))

Nah, berikutnya Bu Clara menampilkan PPT ulasan singkat hasil risetnya tentang rekonstruksi cerita rakyat. Apa itu rekonstruksi segala? Bu Clara mengatakan bahwa jika sastra pada umumnya bersifat dulce et utile, maka cerita rakyat untuk anak mestilah bersifat utile et dulce alias mendidik dan menghibur. Fungsi mendidik harus didahulukan. Maka pertanyaan kemudian muncul ketika menghadapi cerita rakyat yang dirasa kurang menawarkan unsur pendidikan yang sesuai zaman. Dia memberi contoh beberapa kisah princess Disney. Folklore aslinya mengandung unsur kekerasan dan kekejaman (pernah dengar kan kisah Cinderela harus potong jari kaki agar muat di sepatu kaca itu?), tapi kemudian cerita itu direkonstruksi atau ditulis ulang sesuai nilai-nilai yang berlaku di masa kini. Tidak lagi ada kisah kejam. Adanya kisah baik dan happy ending.

Nah, bagaimana dengan cerita rakyat Indonesia? Kebetulan aku dan murid kelas 10 membahas topik ini. Pernah aku singgung di kelas, apakah relevan kisah ibu mengutuk anak jadi batu dengan kehidupan masa kini? Sudah ada beberapa anak yang berpikir bahwa anak hari gini nggak bisa ditakut-takuti dengan kutukan. Atau, ada pula yang mempertanyakan kenapa ibu Malin Kundang begitu jahat dan pendendam? Mengapa Malin tak diampuni? Bu Clara menambahkan bahwa cerita rakyat ini bisa memberi efek yang kurang baik bagi pembaca anak-anak. Anak dapat merasa bahwa jika dirinya melakukan kesalahan, tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki diri. Seperti Malin, jika sudah berbuat salah, ia harus dihukum dan hidupnya pun berakhir. Padahal, saat kini kita tengah gencar memupuk nilai-nilai perjuangan. Kesalahan dapat dibayar dengan sikap yang lebih baik. Di sinilah rekonstruksi cerita rakyat menjadi penting.

Rekonstruksi cerita rakyat bukan berarti menghilangkan kisah asli yang berada di masyarakat. Kisah-kisah itu akan tetap ada. Namun, sastra klasik haruslah bertumbuh. Ia anonim dan dinamis, maka kisahnya dapat diperbarui. Cerita rakyat yang telah direkonstruksi dapat berjalan berdampingan dengan kisah aslinya. Bu Clara menyarankan, anak kecil sebaiknya diperkenalkan dengan kisah rekonstruksi terlebih dahulu. Baru kemudian di masa SMP dan SMA, mereka dapat mempelajari lebih dalam kisah aslinya.

Bu Clara juga menunjukkan beberapa karya cerita rakyat yang sudah diteliti dan direkonstruksi olehnya. Misalnya buku berjudul Nilam Kandung, rekonstruksi dari kisah Malin Kundang. Ini adalah wujud dari riset yang merupakan Program Hibah Bersaing 2014 atas biaya Dirjen Dikti Kemendikbud. Ada juga judul-judul lainnya seperti Cintarela dari kisah Cinderela, juga kumpulan cerita dalam Rekonstruksi Cerita Rakyat Indonesia Modern seri 1 dan 2.

Di akhir sesi, Bu Clara membagikan buku-bukunya tadi kepada anak-anak yang hadir. Aku sendiri dapat empat buku! Asyik betul ya, dapat ilmu dan dapat buku bagus untuk bahan ajar tahun depan! ❤

Tips Membacakan Dongeng (Read Aloud)

Bagaimana cara asyik membacakan dongeng? Ini coba aku bagi beberapa tip untuk orangtua yaa…

Sebelum

• Pastikan orangtua dan anak siap untuk membaca dan mendengar cerita. Waktunya bisa di saat santai, atau sebelum tidur.

• Bebaskan anak memilih ceritanya sendiri. Jika anak memilih cerita yang sama terus, biarkan saja. Itu tanda dia nyaman dan menyukai cerita tersebut.

• Sebaiknya anak dan orangtua duduk berdampingan membaca bersama. Ini penting untuk membangun kedekatan hubungan anak dan orangtua.

Selama

• Bercerita tidak perlu lama-lama. Untuk anak balita cukup 5-7 menit. Untuk anak usia SD, maksimal 20 menit saja. Maka dari itu, kita perlu mengatur tempo membaca, atau memotong cerita dan melanjutkannya esok hari.

• Mulailah membaca sesuai nada dan suasana dalam cerita. Kisahkan secara dramatis. Jika tokoh dalam cerita berbisik, maka buatlah suara berbisik.  Jika ada suara binatang, tirukanlah bunyinya.

• Sebisa mungkin lafalkan setiap kata dengan benar. Ini bagus pula untuk melatih anak memahami setiap makna kata dan ujaran.

• Lakukan improvisasi. Misalnya, mengubah nama tokoh dalam cerita dengan nama anak atau minta anak membaca bagian tertentu, atau melakukan gerakan ringan dengan tangannya.

Setelah

• Akhiri cerita secara mengesankan, misalnya dengan helaan napas lega. Jangan langsung menutup buku begitu saja.

• Lakukan tanya jawab sederhana untuk melihat apakah anak memahami cerita tadi. Tanyai juga apa yang bisa ia pelajari dari cerita tersebut. Boleh juga orangtua menyisipkan tambahan pesan baik sebagai penutup.

 

Belajar dari Gulita

Waktu pertama kali dapat undangan mendongeng untuk anak kanker dan tuna netra, aku langsung merinding. Aku sudah beberapa kali mendongeng untuk anak kanker. Tapi, anak-anak tuna netra? Oh, buatku pribadi, mata sungguhlah anugerah indera yang luar biasa. Aku merinding karena tidak bisa membayangkan hidup dalam gulita, tak bisa melihat benda dan rupa. Aku selama ini juga belum pernah berinteraksi dengan tuna netra. Makanya aku lumayan cemas memikirkan dongeng seperti apa yang akan aku bawakan.

Dua hari sebelum pentas, aku dan Dandi Ukulele berlatih khusus untuk acara ini. Dongengnya aku ambil dari salah satu cerita yang ada dalam buku dongengku yang segera terbit (pasti aku kabari nanti ya!). Judulnya “Greyo”, tentang gajah abu-abu yang belajar berbagi. Kami mengulang ceritanya beberapa kali, menambahkan banyak deskripsi yang detail. Di otakku saat itu adalah memikirkan agar cerita bisa sejelas mungkin diterima para anak tuna netra.

Baru saat tiba di RS Dharmais aku tahu bahwa peserta acara ini banyak sekali. Kata panitia, seratus orang! Mereka datang dari empat yayasan, yaitu: Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Rumah Harapan Indonesia, Yayasan Mitra Netra, dan Panti Sosial Bina Netra Cahaya Batin. Sebelum acara dimulai, aku melihat satu-dua anak tuna netra. Mereka menuju toilet ditemani pendamping. Persis ketika aku melihat cekung di tempat bola mata itu seharusnya berada, mataku berkaca-kaca. Buru-buru aku bilang ke Dandi bahwa aku nggak kuat. Baper 🙁. Di otakku yang polos ini, aku bayangkan betapa menderitanya mereka tidak bisa melihat. Betapa menakutkannya hidup dalam gelap. (Iya, aku memang paling takut dengan gelap dan mati lampu :/ ). Tapi lalu Dandi bilang, “Menderita itu kan menurut lo. Bisa jadi mereka bisa menerima dirinya, nggak merasa menderita.” Ohh, langsung aku sadar. Kita (aku terutama) yang bermata dan berindera lengkap aja kadang masih nggak bisa menerima kekurangan diri sendiri. Anggota tubuh tidak lengkap, atau tidak berfungsi normal, bukan berarti harus merasa paling tak berdaya. Jadi, menerima kondisi diri sendiri itu datangnya dari hati dan pikiran yang bersyukur. 

Aku dan Dandi Ukulele, bersama Zelda.

Lalu datanglah seorang gadis tuna netra didampingi ibunya. Zelda dan ibunya. Mereka duduk di sebelah kami. Rupanya ini Zelda Maharani, yang belakangan baru kuketahui dia pernah jadi kontestan acara menyanyi Mamamia Indosiar 2014. Usianya kini 16 tahun. Sudah jago betul main piano (dan alat musik lain!) dan tentu saja hobi menyanyi. Dia juga hobi membaca buku, dan aktif di media sosial seperti remaja lainnya. Anaknya periang. Auranya menyenangkan. Aku yang nggak sempat ngobrol banyak aja langsung kesiram energi hidupnya. Semangatnya menular banget!

Merayakan ulang tahun untuk yang lahir bulan Mei. Yayasan Mitra Netra juga ultah Mei. Iya, aku juga!

Respon anak tuna netra saat aku mendongeng

Untuk sebuah pengalaman pertama, aku belajar saaangat banyak dari anak-anak tuna netra ini. Mereka jauh lebih menyimak (bukan cuma mendengar lho ya) ketimbang orang biasa. Tertawa kencang, teriak menjawab pertanyaan, ikut bernyanyi riang, justru datangnya dari mereka. Mereka kelihatan sangat enjoy mendengar dongeng musikal yang kami bawakan. And I’m sooo happy with that! #baperlagi

Kebayang kan, betapa kita sering kehilangan momen, justru saat mata kita terbuka, saat indera kita berfungsi semua.

Satu pelajaran lagi yang kudapat, waktu Zelda di atas panggung bilang begini ke sahabat netra dan kanker dan untuk penonton lainnya juga:

“Kalau kamu merasa sedih, ingat, yang bisa membuat kamu senang lagi hanya diri kamu sendiri.”

All Pics: Heru Rudiyanto

Satu Dua Tiga, Gagal Semuanya

Nah, sekarang udah sah boleh nyanyi “satu dua tiga gagal semuanya…”. Iya, ini update dari tulisanku sebelumnya. Jadi Mei 2017 ini lengkap tiga kali coba program hamil dengan IUI.

Nggak bisa ngomong banyak sekarang. Aku mau istirahat dulu. Simpan harapan dan cita-cita dulu. Mungkin nanti kalau semangat sudah terkumpul lagi, aku coba segala usaha lagi.

Ngomel Demi Kejujuran (Catatan Hardiknas 2017)

Suatu hari di kelas 10, kelas dimulai dengan pembicaraan seperti ini.

Murid: Miss, kita belajar apa hari ini?

Saya: Saya mau ngomel dulu.

Murid lain: Miss Arnel mana bisa marah. Eh, bisa sih marah, kalau lagi latihan nari.

Ya, jadi memang saya pada dasarnya tidak mudah marah lalu ngomel-ngomel. Namun, bukan berarti saya nggak bisa marah. Saya bisa marah juga, terutama pada hal-hal mendasar berhubungan dengan moral. Kalau pas latihan nari itu bukan marah sih, itu galak tegas aja, karena nari adalah sesuatu yang akan dipentaskan. Saya nggak mau pentas tari yang cuma 4 menit itu jelek dilihat nanti. :))

Akhirnya saya bilang di depan kelas 10 itu, apa yang membuat saya marah. Saya mulai dengan bahas bahwa mengapa selama ini guru selalu mengingatkan murid untuk bekerja dengan jujur. Tentu ada waktunya belajar bersama, diskusi, yang memang perlu bekerja sama. Tapi jika waktunya diminta bekerja mandiri, maka bekerjalah mandiri. Bentuk kerja mandiri itu ya dengan berusaha sendiri, menggunakan kemampuan untuk menganalisis dan mengkreasikan sesuatu sendiri.

Saya juga guru yang sangat menghargai usaha siswa yang telah bekerja jujur dan mandiri. Saya akan beri apresiasi lebih jika saya lihat murid mau berjuang menyampaikan ide dan pemikirannya. Makanya, saya marah betul ketika membaca salah satu tugas menulis puisi buatan seorang siswa yang saya tahu betul itu bukan karya dia.

Saya lanjut mengisi kelas yang hening dan kaget karena melihat gurunya ini nahan geram. (Iya, saya nggak bisa ngomel merentet, paling cuma ketus jatuhnya, hehee). Saya jabarkan mengapa menyontek atau plagiarisme itu sangat menyepelekan beberapa hal.

1. Plagiarisme itu menyepelekan sekolah dan guru. Pelaku seolah meremehkan sekolah yang sudah berusaha mendidik dengan beragam moral value, tapi dia seolah malah menganggap remeh niat memupuk nilai-nilai baik itu. Lalu, dia juga seolah meremehkan guru yang dianggap mudah dibodohi dengan karya palsunya. Seorang guru bahasa bisa dengan mudah lho melacak apakah benar ini karya si murid atau bukan. Guru ‘kan tahu gaya bicara si murid sehari-hari, gaya kalimat tulis dia, gaya dia merangkai kata, seberapa dalam analisisnya, seberapa cerdas pendapatnya, seberapa banyak koleksi diksi yang dia sampaikan. Jadi ketika suatu waktu ada murid yang mengambil karya puisi orang lain di internet, dan gaya bahasanya jauuuh dari kemampuan si murid, ya gampang banget ketahuanlah.

2. Plagiarisme itu menyepelekan kerja orang yang ditiru. Membuat puisi itu tidak mudah lho (dia pasti ngerti itu tidak mudah makanya dia cari cara mudah dengan mengkopi). Penyair membuat karya dengan pengetahuan dan hatinya. Maka ada hak cipta yang sudah menjadi miliknya. Dan sudah sewajibnyalah kita menghargai hak itu.

3. Yang paling penting, plagiarisme itu menyepelekan diri sendiri. Dia menyepelekan kemampuan berpikirnya sendiri. Dia tidak percaya bahwa otaknya mampu bekerja. Dia menganggap dirinya makhluk sepele yang tidak bisa menyusun kata-kata sendiri. Wah, ini sangat bahaya! Pikiran yang tidak boleh dipupuk. Karena kalau disetujui, itu akan semakin merendahkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kejadian ini jadi pelajaran lagi buat saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar. Iya, bukan sekadar ngomel. Mendidik harus memberikan pemahaman. Mendidik itu juga membangun hati manusia dan merawat jiwa baik yang ada di sana.

 

Oya, SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!

– Dari guru kece yang terus belajar

Karya Farah Hafizah, kelas 10, 2017