Mengomentari Kutipan Sastra

Mengomentari itu bukan sekadar asal bicara. Kemampuan berargumen memang mesti sering terus dilatih. Dalam kelas sastra, ini ada satu contoh yang bisa dilakukan. Ambil satu kutipan paragraf dalam novel dan mintalah murid membuat sebuah paragraf argumentasi yang menjelaskan opini mereka yang didukung dengan contoh nyata.

Misalnya ini, ungkapan Minke pada dirinya sendiri ketika dia didandani baju Jawa dengan desain oleh Moreno, seorang Eropa, untuk persiapan acara pelantikan bapaknya sebagai bupati. Kutipan diambil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang dipelajari murid kelas 12.

Jelas aku keturunan satria Jawa maka sendiri seorang satria Jawa juga. Hanya mengapa justru bukan orang Jawa yang membikin aku jadi begini gagah? Dan ganteng? Mengapa orang Eropa? Mungkin Itali? Mungkin tak pernah mengenakannya sendiri? Sudah sejak Amangkurat I pakaian raja-raja Jawa dibikin dan direncanakan oleh orang Eropa. Kata Moreno, maaf, Tuan hanya punya selimut sebelum kami datang. Pada bagian bawa, bagian atas, kepala, hanya selimut! Sungguh menyakitkan.

Seorang murid saya menjawab begini:
Produksi!
(M. Ari Ramadhan, 12F, 2013)

Persis seperti kalimat yang sering didengungkan Pram: Bangsa kita harus berproduksi, bukan cuma makan hasil kerja bangsa lain!