My IVF Diary (part 10) – TWW Lagi dan Hasilnya!

27 Juni 2020

Sebetulnya enak, selama masa Two Weeks Wait (TWW) yang kedua ini, jatuh pas di bulan Juni, masa liburan sekolah. Aku benar-benar bisa bed rest. Kalau pun bangun, ya cuma muter-muter di rumah aja karena toh juga masih pandemi covid. Pokoknya hari-hariku diisi makan, minum obat, tidur, santai.

Tapi dua hari ini aku mules. Pinggang belakang pegal. Rasanya kayak PMS. Mau dibawa berpikir positif juga susah. Bukan apa-apa, tubuhnya kenapa kasih sinyal seolah mau mens begini. Kalau menurut kalendar sih, memang ini sudah tanggal harusnya mens. Mana ada sisa crinone krem kecoklatan di celana, aku jadi takut, lalu segera kabari dokter. Dr Wisnu meresepkan duvadilan dan minta aku benar-benar bed rest.

Tadinya aku mau sok kuat, nggak mau bilang ke Heru. Tapi akhirnya aku tetap kasih tahu dia. Supaya kami berdua siap jika terjadi sesuatu yang nggak kami mau.

30 Juni 2020

Gejala kayak PMS itu rupanya hanya terjadi dua hari aja. Setelahnya aku merasa lebih enak. Aku mencoba nggak mau pikirin. Yang penting adalah hari ini: tes darah Beta HCG.

Begitu sampai Morula, Heru sepakat mau aku pakai kursi roda. Entah, agak takut kenapa-kenapa aja. Lagian aku kepikiran lucu, aku belum pernah coba rasanya naik kursi roda. Hehe. Eeh, ternyata malah ada kejadian ngeri-ngeri kocak. Jadi kami masuk lift nomor 4. Isinya cuma aku dan Heru. Sampai di lantai 7, lift itu berhenti. Pintunya nggak mau terbuka. Aku seketika takut karena langsung kepikiran film-film action Hollywood gitu. Kejebak di lift! Heru lalu pencet tombol pertolongan. Lalu komunikasi tektok deh dengan operator yang katanya memantau kondisi kami lewat cctv. Duh, rasanya lumayan lama juga. Ternyata 5 menitan. Pintu kemudian dibuka satpam. Kami pun keluar. Eh, pas banget ada dr. Wisnu di depan pintu, mau turun tapi nggak jadi karena lihat aku didorong pakai kursi roda. Dia ngomong cepat, “Ini kenapa? Ini kenapa?” Nunjuk aku dan matanya nanya ke Heru. “Liftnya, Dok. Kejebak.” “Tapi ini kenapa?” si dokter masih mengejar. Rupanya dia khawatir melihat aku pakai kursi roda, dikira kenapa-kenapa. Kujawab, “Enggak dok, takut capek aja.” “Tapi kenapa pakai kursi roda? Ya udah, masuk aja. Oh, jadwal cek darah ya hari ini?” Akhirnya malah dr. Wisnu bukakan pintu Morula buat kami dan kami pun langsung ke arah lab. Hehe, ajaib banget pengalaman hari ini.

Ambil darah kali ini agak sakit. Mungkin karena sudah lama nggak diambil darah. Agak geliyengan juga karena kurang minum. Dua tabung diambil, lalu sudah. Heru urus biaya hari itu, habis Rp.624.000. Lalu aku kembali naik kursi roda dan berharap ada kabar baik sore nanti.

Mejeng di depan pintu Morula :D
Mejeng di depan pintu Morula. 😀

1 Juli 2020

Kemarin malam hasil cek darah sudah keluar, katanya positif! Anehnya aku dan Heru cuma pelukan, senang, tapi nggak kegirangan. Heru sih yang paling sering ingatkan aku, ini baru awal, masih panjang masa merawatnya. Jadi kamu harus hati-hati, jangan terlalu terbawa senang.

Semalam dr. Wisnu juga meminta hari ini kontrol. Aku di-USG transvaginal lagi untuk lihat kondisi janin bagaimana. Dan ternyata memang belum terlihat jelas banget ada sesuatu. Aku diminta banyak istirahat dulu dan diberi obat penguat kandungan, juga obat-obatan dan vitamin Folamil Gold. Ada juga obat suntik yang harus digunakan per dua hari sekali, juga masih terus pakai Crinone.

Dokter mulai ingatkan aku untuk pantang makanan mentah (sayur mentah, sushi, rare steak, kerang, dll). Nggak boleh banget makan mi instan, juga mi kering (bihun, kwetiaw, dll). Hindari makanan yang bisa bikin gas perut biar nggak mual (nanas, anggur, nangka, kol, labu, terong, dll). Pokoknya selalu makan sehat, perbanyak ikan. Ohya, dilarang juga berhubungan badan selama 5 bulan ke depan. Si dokter lalu becandain Heru, sabar-sabar aja ya puasa. :))

Heru urus biaya hari itu, untuk konsul-suntik-obat-obatan habis Rp 2,2 juta. Sementara dokter ingatkan aku untuk kembali kontrol minggu depan. Hap hap! Harus semangat!

8 Juli 2020

Sejak kunjungan terakhir itu, aku harus suntik obat penguat di pantat, dua hari sekali selama enam kali. Karena Heru nggak bisa, maka kami minta bantuan bidan dari klinik dekat rumah. Kalau mau pakai jasa suster dari Morula juga bisa, tapi harganya lebih mahal. Rasanya abis suntik itu pegal, karena cairan obatnya itu kental. Disuntiknya juga di otot pantat kan ya, jadi efeknya gitu, pegal. Tidur harus miring biar nyaman.

Hari ini kembali lagi ke Morula untuk cek perkembangan janin. USG masih lewat vaginal. Kata dokter Wisnu, hari ini kita lihat apakah kantung plasenta sudah terbentuk atau belum. Yang terlihat di layar itu kayak ada bulatan kecil dan bulatan gelap di sekitarnya. Bagus katanya. Meski yang dominan terlihat justru multiple myoma yang makin membesar. Kata dokter, wajar si myoma jadi ikut tumbuh seiring janin berkembang, tapi nggak usah dikhawatirkan selama tidak mengganggu.

Menu kali ini aku diberikan suntik ovidrel pen lagi, crinone, obat-obatan juga untuk tujuh hari minum. Heru bayar Rp. 2.700.000. Wah, betulan masih panjang juga perjalanan biaya ke depan. Bismillah, semoga dimudahkan. 🙂

16 Juli 2020

Week 6. Agenda kontrol hari ini adalah cek perkembangan jantung. USG masih transvaginal. Waktu layar terlihat di depan, aku bisa lihat bulatan itu berkedut-kedut. Kata dokter, itu jantungnya sudah berkembang. Ohh, haru banget rasanya. <3

Dokter Wisnu berkali-kali tanya apakah aku ada keluhan, flek, kram, atau apa, tapi kujawab tidak. Alhamdulillah baik-baik aja. Pusing-pusing suka terasa, katanya itu normal, efek samping duphaston. Mual-mual belum terasa, katanya normal juga, karena nanti mual muncul di week 8-12. Jadi sering pipis, katanya bagus, memang tidak boleh ditahan dan harus minum air minimal 2 liter sehari.

Kali ini suntik mulai dilepas. Ramuan obatnya yang diganti. Total Heru selesaikan Rp 1.900.000 di kasir. Ada juga tambahan resep vitamin Cormega, kayak minyak ikan gitu yang diminum seminggu dua kali aja. Heru tebus di luar, harganya Rp 370.000.

Sebelum pulang, dokter Wisnu ajak kami foto bersama, buat diposting di instagram dia. Pihak Morula juga minta izin untuk bisa memposting foto kami di akun sosmed mereka. Okelah. Jadi kurasa ini sudah waktunya aku berkabar ke orang lain juga. Yes, I am pregnant! Doakan aku sehat selalu dan lancar sampai waktunya nanti yaa. 🙂

Diminta pake gaya jari itu: salam dua garis! Padahal mah gak pernah pake test pack, gak pernah tahu dua garis kayak apa. :))

My IVF Diary (part 9) – FET di Masa Corona

28 Mei 2020

Setelah sebelumnya ditunda karena corona baru merebak, pas bulan puasa lalu tiba-tiba dokter Wisnu ngechat duluan. Oh, rupanya ia bilang aku bisa mulai lagi promil ini bulan Juni. Ya, masuk new normal, maka kita juga move on dengan tetap ikut prosedur kesehatan yang ada. Jadi ya, aku okein. Bismillah. 🙂

Untuk IVF kedua ini, dokter mau coba metode normal cycle dengan tambahan endometrial scratch. Jadi prosedurnya kayak diperiksa dalam, dicoel sedikit rahimnya. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan embrio nempel di uterus setelah FET.

Meski udah dikasih tau akan “cuma dicoel dikit” ya tetep aja aku degdegan. Pas tindakan, dokter Wisnu cerita dia beli alat coelnya itu di Inggris lewat ebay. Mungkin biar aku nggak nervous ya jadi dia cerita gitu. Hehe. Tapi yaa rasa mules tetap terasa, kayak pas mens. Malam itu berakhir aku nahan mules dan berusaha tidur senyamannya.

13 Juni 2020

Ini keempat kalinya aku bolak-balik ke RS buat USG. Jadi dengan teknik normal cycle ini, dokter mengikuti perkembangan ovum dengan siklus haid normal. Dilihat kapan membesar, kapan matang, dan kapan pecahnya. Aku diminta minum femaplex dan lanturol, juga lakukan ovu test sendiri di rumah.

Kalau baca di internet, femaplex itu obat terapi kanker, tapi bisa dipakai buat terapi fertilitas. Efek sampingnya terasa sih di aku: pusing, lemas lesu, dan berat badan naik (hehe, ga tau juga sih, ini karena lebaran ngemil kastangel juga kali). Kalau lanturol itu vitamin E 400iu, dan memang dipakai untuk terapi kardiovaskuler dan rasa lesu. Katanya sih kontra indikasinya hipersensitif. Entah kebetulan atau engga, aku sempat alergi saat konsumsi ini. Muncul ruam-ruam merah di kulit lumayan luas: paha, punggung, tangan, kaki. Panas dan gatal. Akhirnya diresepkan ceterizine 10 mg dan hilang itu alergi.

Ohya, aku juga diresepkan Viagra. Iya, pil biru yang biasanya dikonsumsi pria itu. Dokter Wisnu becandain, bilang ke Heru, “Maaf ya pak kalo nanti si ibu jadi centil.” Hahaha. Tapi begitu aku konsumsi saat malam, rasanya jantung berdebar-debar dan pusing hebat. Boro-boro jadi enak. Hahha.

Viagra 100 mg. Sebutirnya 200 ribuan. Syuper mantap.

Ohya, karena masih masa pandemi Covid-19, maka semua tindakan kehamilan ditambahkan dengan prosedur PCR test. Jadi pasien harus punya keterangan negatif covid, baru boleh jalani tindakan IVF berikutnya.

Jadilah setelah USG, malam itu langsung ke IGD untuk minta swab test. Heru bilang dia bayar 1,8 juta. Lalu kemudian, aku dibawa ke ruang tindakan. Nunggu beberapa saat, bengong karena beneran sendirian di ruangan. Lalu datang petugas berpakaian APD lengkap. Aku diminta berbaring dan rileks. Dia colok alat testnya itu lewat lubang hidung, dan… sudah. Sebentar banget. Rasanya nggak nyaman, geli kayak mau bersin gitu. Untung ya nggak sakit. Meski katanya ada beberapa orang yang merasakan sakit banget, tergantung reseptor masing-masing orang katanya.

Happy me karena seneng gak sakit pas swab test :)) Sticker biru di lengan itu tanda lolos pengecekan suhu setiap kali datang ke RS.

Malam itu aku dan Heru pulang sambil motoran. Di jalanan, wow banget, rameee orang nongkrong. Malam minggu new normal kayak gitu ya? Ramean nongkrong di cafe dan warung tenda gak pake masker? Aneh banget jadinya, barusan aku bayar mahal demi punya surat bebas covid, sementara orang-orang selow banget gak proteksi diri. Wallahualam. 🙁

19 Juni 2020

It’s the FET day. Pagi jam 8.30 aku dan Heru sudah sampai di Morula Tangerang. Kami dijadwalkan FET jam 11. Prosedurnya sama kayak ET pertama dulu. Dari rumah dilarang pakai parfum di badan. Boleh sarapan, nggak perlu puasa. Lalu minum obat dan minum air putih banyak sampai kayak mau pipis.

Bedanya dengan ET dulu, sekarang embryo yang akan dipakai adalah frozen embryo (FE). Jadi aku dan Heru kembali tanda tangan di kertas perjanjian. Lalu tunggu pencairan FE dan dapat penjelasan tentang kondisi embryo terbaru. Intinya, alhamdulillah kondisinya masih bagus dan siap transfer. Katanya, saat dicairkan embryo juga berpotensi gagal survive. Ya Allah, bener-bener ya perjalanan si embryo tuh berat banget.

Lalu, bedanya lagi adalah, kali ini suami nggak bisa temani ke dalam ruang operasi. Jadi begitu jam tindakan, Heru cuma bisa nunggu di ruang tunggu aja. Lagi-lagi, prosedur baru karena corona.

Di operating theater sudah ada dua suster. Mereka minta aku melapisi baju yang kupakai dengan baju pasien dan tentu saja pake sendal crocs. Untung inget pakai hoodie, jadi lumayan anget di ruangan yang super dingin itu. Lalu, masuk dua dokter, dokter Wisnu dan dokter Sita. Susternya becandain aku, katanya aku ini VIP. Dihandle dua dokter, dan ternyata hari itu aku satu-satunya pasien. Pantesan dari tadi sepi banget. :))

Waktu tindakan dimulai, mereka serius tapi santai gitu. Mereka berempat ngobrol gosip-gosip lucu. Jadinya aku mau ketawa juga padahal perut udah keras banget ditekan alat USG dan harus tahan nggak boleh byar pipis. Lalu, embryo loading, dan… selesai. Kata dokter kondisinya bagus. Prosesnya smooth. Alhamdulillah.

Nah, ini bedanya lagi dengan ET sebelumnya. Setelah selesai tindakan, pasien kan harus diam berbaring 15 menit. Nah, kali ini kaki boleh diturunkan dan bisa lurus, nggak ngangkang kayak ayam potong gitu. Dan abis itu diselimutin, jadinya enak lumayan hangat melawan si AC yang nyentrong. Lalu, kali ini aku ditawari mau pipis atau enggak, masih di meja operasi itu. Aku bilang mau. Maka suster langsung siapin pispot, trus disuruh pipis di saat dokter Wisnu masih di sebelah urus rekaman rahim. Aduh, hahaha, aneh banget rasanya.

Setelah 15 menit, baru deh pindah ke ruang perawatan. Dikasih susu dan makanan, dan bisa pegang hape lagi. Heru lagi urus obat dan pembayaran. Kutanya habis berapa, katanya 11 juta. Tindakan FET 8 juta dan obat-obatan 3 juta (per Juni 2020).

Nggak lama, suster-suster sudah beberes bersiap pulang. Wah, emang bener-bener aku pasien tunggal hari itu. Sekali lagi, karena corona, banyak penyesuaian yang harus dilakukan sehingga pertemuan juga diminimalkan. Duh, semogaaa hasil FET aku ini sehat dan berhasil ya. Nunggu banget kabar baik 14 hari kemudian. Wish me luck!

My IVF Diary (part 8) – Kuret dan Corona

4 Januari 2020

Sebetulnya duniaku masih suram, pikiran tidak jelas, takut ke RS lagi, tapi dokter menyarankan untuk periksa kondisi usai gagal IVF Desember lalu. Datanglah aku dan Heru ke RS Permata Ibu karena dr. Wisnu sedang praktik di sana. Aku menjalani pemeriksaan dalam lewat vagina, lupa namanya apa. Yang kuingat cuma rasanya mulas, tidak nyaman. Dokter bilang, ditemukan banyak polip di rahim, hingga kemudian dijatuhkan diagnosis hyperplasia endometrium. Dokter langsung sarankan untuk kuret malam itu juga. Di depan dokter aku angguk-angguk nurut, tapi begitu keluar ruang periksa, duduk di bangku lorong, aku nangis akhirnya. Entah, tiba-tiba takut. Tiba-tiba rasa kehilangan itu datang lagi. Otakku bilang, kuret berarti rahim dikorek-korek, dibersihkan, untuk mengambil semua kegagalan.

Melihatku nangis, Heru malah ajak aku tertawa. Jelek katanya mukaku, dilihatin orang pula di ruang tunggu RS itu. Heru lalu beranjak mengurus administrasi karena aku harus rawat inap semalam. Aku duduk sambil menahan panas air mata.

Sesudah masuk ruang rawat inap, Heru menelepon bapak mamaku untuk kasih kabar, yang berujung aku nangis lagi karena tiba-tiba ingat dulu mama pernah kuret juga. Aku nggak mau lihat hape, nggak tega lihat mama dan bapak di layar. Akhirnya dengan sungkan Heru meminta izin dan menutup telepon.

Selebihnya aku cuma merasa lemas terus-terusan. Aku cuma ingat kemudian masuk ruang operasi dengan grasa-grusu seperti di ER Grey’s Anatomy. Semua orang tampak hectic banget. Aku dibius dan sudah… tak ingat apa-apa. Bangun-bangun badan lemas banget. Mau melek susah, mau ngomong susah, tapi aku dengar suara suster ngobrol mau pesan makanan lewat gofood. Aku coba memanggil Heru, tapi kok susah sekali. Heru akhirnya melihat sinyal yang kuberi, lalu dia coba ajak aku bercanda karena dikira aku udah sadar penuh, padahal belum. Malam itu berakhir dengan aku ngantuk terus-terusan dan nangis lagi saat lihat selangkangan penuh olesan betadine.

1 Februari 2020

Dilema yang kurasa kadang lucu juga. Aku takut mengingat semua prosedur yang mesti dilewati. Banyak horornya, banyak nangisnya. Tapi sekaligus aku antusias mencoba juga. Semacam memenuhi rasa ingin tahu dan belajar hal baru.

Maka waktu dokter meminta aku tes darah lanjutan sebelum mencoba FET (Frozen Embryo Transfer), aku nurut dan semangat mengatur jadwal. Tes agregasi trombosit, ACA igm, Anti Beta Glikoprotein, Lupus Antikoagulan.
Habis Rp4.085.000 di lab Prodia. Begitu diambil darah ya lemas juga, enam tabung ya kalau nggak salah lihat. Makanya sebelum pulang ke rumah, Heru ajak makan bakmi sebelah Prodia itu, sambil tunggu hujan reda. Detik itu aku bersyukur karena boleh napas dulu, rehat dulu, setidaknya sebulan sebelum mulai siklus baru lagi.

16 Maret 2020

Setelah sudah dua kali mens aku kembali kepikiran, kapan sih waktu yang tepat untuk mulai FET. Akhirnya aku kirim chat wa ke dokter Wisnu. Ia memintaku datang saja ke Morula sekalian periksa.

Berita corona sebetulnya lumayan mengganggu, maka kami sempat tanyakan bagaimana baiknya menurut dokter. Kami diperbolehkan untuk mulai FET. Heru dan aku kepikiran, ya udahlah mumpung kondisi tubuhku sudah oke, dan masih ada frozen embyro bagus, nggak perlulah tunda-tunda.

Maka jadilah kami tanda tangan surat bermaterai sebagai persetujuan rangkaian tindakan FET. Lalu diberi resep femaplex dan dufarol. Habis sekitar satu juta rupiah. Aku diberi tahu untuk periksa USG lagi seminggu kemudian.

23 Maret 2020

Kekhawatiran tentang virus corona yang mewabah di luar sudah mulai mengganggu rencana kami. Meski begitu, aku dan Heru tetap ke Morula. Rupanya benar, kami terlewat dikabari kebijakan Morula. Jadi, sejak pemerintah mengabarkan ada kasus positif covid-19 di Indonesia, Morula mulai membuat kebijakan penundaan semua program IVF, kecuali yang mendesak dan tanggung berjalan. Nah, sayangnya aku dan Heru sudah terlanjur ke RS. Juga sudah keburu tanda tangan surat mulai FET. Jadi gimana?

Begitu sampai di RS Bethsaida, suasana sudah berubah. Masuk pintu RS, setiap pengunjung diukur suhu badannya. Lalu mengisi buku hadir, menulis keterangan siapa yang perlu konsultasi. Hand sanitizer di mana-mana. Sampai di lantai 7 ruang Morula, suasana sepi. Di situlah kami baru tahu bahwa seharusnya kami tidak perlu datang. Program kami mesti ditunda dulu. Sempat sedikit kecewa, kenapa bukan kemarin-kemarin kami dikabari sehingga tidak perlu beli obat dulu. Tapi yaa udah jalannya emang ajaib begini, jadi ya aku nerima aja.

4 Mei 2020

Oh, aku sangat peduli angka. Makanya ulang tahun kali ini aku kembali kepikiran, dobel kepikirannya. Satu, aku sudah 35 tahun. Dua, tahun ini ada corona.

Usia 35 itu penting buatku karena ini angka yang sering jadi standar ukuran dalam program kehamilan. Pernah baca dulu, pada usia 35 kesuburan perempuan mulai menurun. Pada usia 35 perempuan lebih berisiko untuk hamil dan melahirkan. Kemarin aja waktu embyro transfer pertama kali, penentuan jumlah embryo yang bisa ditanam diukur dari usia juga. Kalau usia 35, boleh tanam dua embryo sehingga bisa jadi bayi kembar. Di bawah 35 tahun sebaiknya jangan. Yah, begitulah, jadi kepikiran sendiri. Padahal dalam program IVF aku masih terhitung muda karena banyak pasangan lain yang usianya di atas 35 dan 40-an yang masih terus berjuang.

Usia 35 tahun ini kok ya ndilalah berbarengan ada corona. Virus brengsek ini memaksa aku kerja di rumah aja, nggak bisa ketemu banyak orang seperti biasanya ketika ultah. Padahal ulang tahunku selama ini nggak pernah sepi, selalu dirayakan bersama murid-murid, ya karena kerja di sekolah juga kan. Juga selalu ramai dirayakan keluarga dan teman. Bahkan biasanya ultah sampai seminggu terus-terusan karena ada aja kejutan dan kado yang berdatangan. Tapi tahun ini beda banget. Sepi. Aku kesepian. Yang mengucapkan pun benar-benar teman dekat atau yang kebetulan tau lewat media sosial aja.

Kemudian aku renungkan, apa barangkali memang jadi sebuah keberuntungan ketika aku tidak (belum) memiliki anak di masa pandemi begini. Aku membayangkan betapa sulitnya orang tua mengurus anak di kondisi serba tidak jelas seperti ini. Meskipun aku tidak juga menafikan betapa jadi keberuntungan yang membahagiakan juga mereka yang bisa selamat melahirkan dalam situasi yang serba membingungkan.

Pada akhirnya aku mesti belajar banyak bersyukur terus. Berterima kasih atas segala pemberian yang sudah kuterima. Sehat dan belajar bahagia selalu. Itu dulu.

My IVF Diary (part 7) – Two Weeks Wait and The Result

9 Desember 2019

Senin ini aku masuk sekolah dan berharap akan santai karena tinggal duduk jaga ujian. Usai jaga, hari sudah siang. Aku makan salmon yang Heru buatkan untuk bekal, lalu jalan ke musola sekolah. Kembali ke ruang guru di lantai 4, badanku keringat dingin. Pinggal pegal, sedikit pusing. Oh, tidak, seperti sakit PMS.

Lewat whatsapp aku laporkan kondisiku ke dr Wisnu. Beliau langsung instruksikan aku untuk bedrest tiga hari. Tenangkan badan, tenangkan pikiran.

12 Desember 2019

Siang tadi aku pipis dan menemukan flek coklat di celana. Gelap. Lemas. Kupanggil Heru dan kubilang, “Kayaknya aku mens.” Langsung aku menangis. Meraung.

13 Desember 2019

Jam setengah 1 malam, terbangun lalu tiba-tiba muntah hebat. Keringat dingin, pusing, lelah. Kembali tidur. Jam setengah 2, terbangun lagi dan muntah lagi. Sudah tak ada lagi sisa makanan, hanya cairan. Coba istirahat lagi. Jam setengah 3 lewat, lagi-lagi terbangun dan muntah. Yang keluar adalah cairan kuning. Lelah. Pusing. Tidur lagi. Jam 4 subuh, sekali lagi terbangun untuk muntah. Si cairan kuning itu keluar sampai habis.

Dokter Wisnu kemarin sempat bilang “masih ada harapan” saat kukabari tentang flek coklat kemarin. Bagaimana pun penentuannya adalah hari ini, dengan tes darah Beta HCG.

Jam 9 pagi diambil darah satu tabung. Lalu sempat ketemu dokter Wisnu juga dan melaporkan kondisiku yang pusing, mual, dan muntah-muntah semalam. Dia kemudian iseng mengajak cek USG transvaginal yang kemudian ternyata benar, memang belum terlihat apa-apa. “Tunggu hasil cek darah, ya,” katanya.

Jujur saja, aku dan Heru sempat ge’er. Mengira segala mual ini adalah gejala positif. Bahwa kemungkinannya cukup oke dengan melihat semangat dokter dan suster yang walaupun netral, tapi cukup membuat kami senang.

Tapi ternyata… sore hari hasil lab itu datang dan menyatakan… negatif.

Kali ini aku tidak meraung. Aku cuma merasa kosong.

My IVF Diary (part 6) – Embryo Transfer

30 November 2019

Kemarin dokter Wisnu dan suster Siska sudah mengingatkan di whatsapp bahwa waktu untuk Embryo Transfer bisa jatuh hari Sabtu ini, tapi bisa juga di hari Senin. Penjelasan tentang mengapa mesti begitu akhirnya kami dapat dari orang laboratorium embryologi.

Aku sempat bingung, kalau manggil orang lab tuh apa ya? Dokter dipanggil dok, suster jadi sus, orang lab? Akhirnya aku panggil Mbak aja. Mbak Alvin. Ia seperti guru pelajaran Biologi dan kami berdua muridnya. Dia menjelaskan semua yang perlu kami ketahui tentang kondisi embrio sejak day 1 hingga day 3. Ini konsultasi penting karena setelah ini pasien harus menentukan langkah berikutnya.

Pada titik ini, aku benar-benar terkesima dengan kemajuan sains. Kagum bisa melihat foto perkawinan ovum dan sperma lewat prosedur ICSI lalu berubah jadi embrio yang hidup, membelah jadi sel, morula, dan jadi embrio potensial. Aku sempat tanya, kalau embrio hidup di luar rahim, dia makan dari mana? Jawabnya, embrio diberi cairan makanan bergizi, juga dibuatkan ruang hidup yang gelap seperti dalam rahim ibu. :”)

Hari ini embrio berada di usia Day 3. Mereka lalu dirangking. Ada 1 poor, 1 moderate, 3 good. Nah, karena ada yang masuk kategori good, maka dokter dan pihak lab embriologi menyarankan agar ditunggu hingga Day 5 hingga masuk tahap blastosis. Setelah diberitahukan semua keunggulan sekaligus risikonya, juga setelah banyak bertanya sampai bingung mau tanya apa lagi, aku dan Heru kemudian menandatangi kertas persetujuan. Jadi, ya, ET akan dilakukan Senin nanti.

2 Desember 2019

Day 5. Apa kabar mereka ya? Jujur aku tidak bisa untuk tidak kepikiran. Bahkan aku lumayan degdegan. Pantas saja dokter meresepkan dua jenis obat untuk diminum sebelum tindakan: obat antinyeri dan obat penenang.

Aku dan Heru dijadwalkan konsultasi kembali dengan Mbak Alvin dari lab embriologi. Hari ini dia menjelaskan bahwa ternyata pada Day 5 ini kami punya empat embrio dengan kategori good. Oh, alhamdulillah. Lalu berapa yang dibisa ditransfer ke tubuh harus didiskusikan lagi, juga harus disetujui dokter.

Tiba di ruang operasi, aku tidak diminta copot semua pakaian. Hanya diminta pakai baju dan tutup kepala pasien seperti itu. Kali ini juga Heru bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi.

Sewaktu aku sudah berbaring di operating theater yang dingin itu, dokter Wisnu masuk dan langsung menembak kami dengan pertanyaan, “Mau dua?” Aku dan Heru langsung ketawa bareng. Kami sudah dijelaskan sebelumnya kalau tanam dua embrio maka kemungkinan jika yang satu embrio luruh, semoga masih ada satu embrio yang bisa bertahan. Atau bisa jadi keduanya bertahan dan menjadi bayi kembar. Oh, ya, tentu saja gemas membayangkannya, meski bayangan indah itu diselimuti segala risiko atas kehamilan ganda. Ibaratnya semua risiko kehamilan dikali dua. Namun kelihatannya dokter Wisnu pede dengan kondisiku. Maka akhirnya kami setuju. Ya, bismillah.

Proses ET ternyata cepat. Kayaknya cuma 10 menit. USG di perut bawah. Pasang cocor bebek dan kateter. Lampu digelapkan. Embryo loading. Embryo in. Berbaring 30 menit. Selesai.

Karena rupanya sedang banyak pasien lain dan aku gak betah disuruh nunggu suster kembali, akhirnya aku memutuskan bangun dengan satu tujuan: pipis. Setelah itu aku dan Heru copot baju pasien dan meninggalkan ruangan dengan pede-pede aja. Sampai di ruang tunggu, suster langsung memanggil kami sambil tertawa. Ternyata kami kayak anak bandel. Kabur dari ruang operasi sendiri. Hahaha. Jadi harusnya pasien dibantu bangun, lalu berbaring di ruang pre-op lagi, dan dikasih makan siang di sana. Ini malah cabut duluan. 😅

Karena terlanjur, akhirnya kami diperbolehkan duduk di sofa ruang tunggu, setelah sebelumnya diberi wejangan oleh suster. Selama two weeks wait ini, sebaiknya ibu jalan pelan-pelan, naik turun tangga gapapa tapi jangan sering-sering, jangan beraktivitas berat, jangan ngegym atau sauna, jangan cat atau keriting rambut dulu, jangan taruh minyak hangat di area perut, jangan naik motor apalagi berkuda, hindari makan ikan dan daging mentah macam sushi dan rare steak. Jangan lupa diminum obatnya, ada 5 jenis ya, oral dan vaginal. OKE SIAP SUSTER! 😁

Setelah itu Heru mengurus persetujuan Freezing Embryo dan kami berdua harus memberi tanda tangan di kertas perjanjian bermeterai. Oh yes, segala prosedur IVF ini memang sangat berurusan dengan hukum karena sesungguhnya ini demi keamanan dan keselamatan semua pihak.

Semoga saja, seperti yang dikatakan berulang kali oleh Mbak Alvin, juga suster dan dokter, semoga semua ikhtiar ini akan membawa rejeki untuk ibu bapak. Insya Allah. 💙

Informasi tambahan untuk referensi

Biaya freezing embryo tidak termasuk dalam paket biaya IVF, maka pada tahap ini pasien dikenakan biaya untuk FE itu.

Obat-obatan pasca ET + Freezing Embryo = Rp. 4.380.000

My IVF Diary (part 5) – Ovum Pick Up

27 November 2019

Bangun tidur aku kehausan. Tapi segera ingat bahwa aku memang diminta berpuasa makan minum sejak semalam karena pagi ini waktunya OPU. Ya, Ovum Pick Up.

Sampai di Morula, aku dan Heru langsung diminta ke ruang persiapan. Heru diminta pakai baju begitu dan copot sepatu, ganti pakai sandal model crocs. Trus dia geli sendiri, walau tetap akhirnya milih warna, maunya crocs biru. 😅

Aku juga tentu, pakai baju standar operasi. Juga sudah mandi bersih tidak pakai kosmetik, parfum, cat kuku, perhiasan, dll. Lalu bengong-bengong nunggu di ruang pre-operation ditemani Heru. Sepi banget di sana, jadi aku iseng komentari apa pun yang kulihat dan Heru mencoba menjawab dengan sok bijak. Kenapa ada keset lengket sih di depan ruang operasi? Oh biar kalo ada jarum atau kapas sisa bisa nempel di situ. Kenapa judul ruangannya Operating Theater ya? Wah, berarti nanti kamu ditonton. 😑

Jam 9 akhirnya aku dipanggil masuk ruang operasi. Heru diminta nunggu di luar, eh, diminta ke ruang Men’s room untuk melakukan tugasnya menyiapkan benih-benih cinta (you know what I mean). Sementara aku langsung ditata oleh dua suster Morula kayak ayam potong yang dijual di pasar. Mengangkang lebar. Dokter Wisnu, Suster Siska dan Suster Lulu sudah siap. Suster anestesi lalu memasang alat-alat yang ditempel di jari dan lenganku, selang oksigen di hidungku, pokoknya aku sudah rapi. Lalu nunggu, nunggu, sampai kedinginan karena suhu ruangan kayaknya sengaja dipasang dingin. Ternyata dokter biusnya telat.

Sambil mengisi waktu, dokter Wisnu ngajak ngobrol, nanya aku kerja di mana. Rasanya aneh sih, aku udah ngangkang dan bugil, tapi diajak ngobrol kerjaan, yaa meskipun aku paham tujuannya. Dia juga kemudian pasang lagu. 🎶 Heart beats fast, colors and promises, how to be brave, how can I love when I’m afraid to fall, one step closer, I have died everyday waiting for you… Sumpah, lagunya salah banget. 😅

Seingatku terakhir kulihat jam 09.40. Lalu blep… aku tidak ingat apa-apa, sampai kemudian aku bangun kira-kira jam 12. Suster datang mengecek apakah aku pusing atau mual. Kujawab dengan menggeleng dan bilang, “Lapar.” Suster Siska tersenyum lalu mempersilakan makan siang yang sudah disediakan Morula.

Satu jam kemudian aku baru beranjak dari tempat tidur, karena kepingin pipis. Waktu pipis, ada sisa darah keluar. Buru-buru aku laporkan ke suster, tapi katanya itu wajar. “Tadi sebelum selesai, kami sudah memastikan tidak ada pendarahan dalam,” ujarnya. Jadi berdarahnya itu normal aja. Makanya kemudian juga aku diresepkan obat hormon dan antibiotik untuk diminum beberapa hari ke depan. Lemas, tapi senang juga karena tahap ini akhirnya selesai.

Informasi tambahan untuk referensi

Ibu bapak yang perlu referensi, kemarin aku dan suami ambil paket IVF, detailnya bisa dibaca pada posting part 4. Jadi pada hari OPU ini kami tidak lagi repot dengan biaya besarnya. Kami hanya menebus obat pendukung dan antibiotik sekitar Rp.900.000.

My IVF Diary (part 4) – Diet Sehat Persiapan OPU

25 November 2019

Selamat hari guru! Dan aku sendu karena harus merayakan hari ini di rumah sakit. Pekan ini sebetulnya ada pentas drama kelas 11, tapi aku akan banyak melewatkan pentasnya karena akan ke RS terus.

Pagi sebelum berangkat Heru masak salmon, hadiah buatku yang mual terus rasanya setiap pagi. Ohya, salmon ini salah satu makanan rekomendasi untuk sering dikonsumsi selama program IVF. Diet selama IVF mudah sebetulnya, walau kadang kangen sama beberapa makanan pantangan. Oh, tahu krispi… Oh, yogurt bluberi…

Salmon panggang dan brokoli wortel rebus. Nasi beras hitam cuma buatku. Heru nggak doyan.

Pantangan: kopi, teh, dan apapun yang mengandung kafein. Segala jenis kacang (kacang hijau, kacang tanah, dll., kecuali almond). Tahu, tempe, tauco, susu soya, susu kedelai, cokelat, yogurt. Alkohol dan rokok.

Anjuran: Minum air mineral sehari minimal 3 liter. Menjaga suhu tubuh normal. Makan makanan protein tinggi. Banyak olahraga ringan.

Makanan rekomendasi: Ikan laut (salmon, tuna, gindara). Putih telur 2-3 butir per hari. Brokoli, wortel, tomat, dan semua sayuran dengan vitamin C tinggi. Buah naga, semangka, jeruk manis, dan semua buah yang bervitamin C tinggi.

Sarapan paling gampang. Buah naga kerok sendok. Jeruk peras hangat 500 ml buat berdua.
Telur rebus tiga butir tambah brokoli tumis butter cabai bawang putih.

Bekal buat ke sekolah. Overnight muesli with almond and chia, siram susu tawar. Tambah mangga manis.

Persiapan OPU

Usai cek tensi, suster langsung ajak aku ke lab untuk ambil darah lagi sebanyak satu tabung, untuk mengecek hormon estradiol dan progesteron.

Setelah itu, nggak lama kami langsung ke ruang dokter dan kembali USG. Diperiksa seberapa siap telur yang ada. Dokter Wisnu bilang, ada enam yang berpotensi. Jadi malam nanti harus suntik pemecah telur Ovidrel, sekaligus minum tablet Mefenamic Acid.

Trigger injection. Suntik bentuk pen gini enak banget dipakainya. Gak sakit.

Sebelum pulang, muridku mengirim video boomerang mereka usai pentas drama. Huahh, tiba-tiba nangis dong. Sebulan menyiapkan drama mereka, tapi pas hari H aku nggak bisa nonton. ☹ Tapi hidup ya gitu, harus banyak milih dan terima rasanya. Ya.

Siang itu kami pun pulang dan hampir kehujanan.

Info tambahan untuk referensi

Sebelum OPU nanti, kami harus melunasi biaya prosedur di awal. Jadi, ini biaya yang dikeluarkan pada kunjungan keempat.

USG dan konsultasi dokter + cek darah progesteron dan estradiol + obat + paket IVF end year phase 1-3 = Rp. 36.780.000