Belajar dari Jepara (1)

Berkat twitter, saya berkenalan dengan Alvin Noor. Ia seorang guru pelajaran komputer di SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah. Maka begitu saya punya acara di kota Kartini itu, saya langsung menyusun janji bertemu dengan beliau. Saya senang berkenalan dengan rekan guru di kota lain. Pasti akan ada banyak hal yang bisa dipelajari. Benar saja, Pak Alvin yang malam itu datang bersama istri dan anak perempuannya, mengajak saya bercerita ke sana ke mari tentang kondisi sekolah di Jepara secara umum. Ketika saya tanya, seberapa melek anak-anak dan guru pada social media, beliau menjawab: masih belum banyak yang menggunakannya sebagai media pembelajaran aktif. Ia juga menceritakan kendala yang dihadapi, tetapi wajahnya yang optimis membuat pembicaraan satu jam kami begitu menyenangkan. Bahkan terlalu menyenangkan sebab di ujung percakapan, Pak Alvin melontarkan satu ide dadakan. Dia meminta saya untuk menjadi guru tamu di sekolahnya. Saya kaget, sekaligus merasa tertantang. Saya iyakan dan bersiap datang ke sekolah pada hari Sabtu, 27 Oktober itu.

Alvin Noor, guru SMAN 1 Jepara, beserta putrinya

Kelas X-4 menjadi teman yang sangat seru di Sabtu pagi itu. Saya berbagi cerita bahwa internet (dalam hal ini twitter) yang sudah memungkinkan saya hadir di tengah mereka. Saya kemudian bercerita tentang nama saya, tentang membaca, juga tentang sastra. Saya katakan pada mereka, beruntunglah mereka memiliki kampung halaman yang menyimpan cerita bersejarah. Jepara, kota tempat lahir Kartini, perempuan yang namanya begitu santer dibicarakan perihal pembaharuan wanita Indonesia. Seharusnya remaja ini bisa yang menghasilkan karya sastra sebab ada segudang hal istimewa di kota mereka.

Berbagi cerita pengalaman belajar di sekolah lain

Saya kutip apa kata Pramoedya, yang pernah membuat novel berjudul Panggil Aku Kartini Saja, menulis itu pekerjaan yang butuh keberanian. Semua bisa menulis, jadi cuma masalah kamu mau menulis atau tidak. Beberapa murid mengangguk-angguk setuju. Saya langsung ajak mereka menciptakan satu cerita bersama. Sebutlah sebuah latihan dasar membuat antologi. Murid di barisan depan saya minta menggambarkan satu binatang apa pun yang pertama kali melintas di benak mereka. Kemudian, kertas digeser ke teman di sebelahnya, lalu biarkan mereka menuliskan satu kalimat yang menceritakan tentang binatang itu. Kertas lalu diteruskan ke teman di belakang mereka. “Bebaskan imajinasi kalian, berceritalah tentang apa saja.”

Murid menceritakan karya cerita berantai mereka dengan penuh percaya diri.

Akhirnya, jadilah sebuah paragraf pendek yang sangat menarik. Murid perwakilan kelompok maju ke depan membacakan karya mereka. Kelas sangat meriah, penuh tawa, mendengar khayalan teman-teman sendiri. Di akhir pembacaan, saya berterima kasih atas apresiasi mereka pada karya yang sudah mereka buat. Saya katakan, beranilah menulis, itu dulu. Mulailah bercerita tentang diri sendiri, kemudian tentang lingkunganmu, kemudian tentang bangsamu. Dua orang murid menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dari kegiatan tadi. Ada sebuah kalimat yang begitu baik dari seorang murid bernama Rizal Maulana, begini katanya: Kita harus berani mengeluarkan unek-unek dalam bentuk tulisan untuk dibaca orang lain. Ah, terima kasih, Jepara!

Video kegiatan pada waktu itu bisa dilihat di sini. 😉
baca tautan: Belajar dari Jepara (2)

Belajar dari Jepara (2)

Cerita berantai selalu menyenangkan untuk dilakukan. Murid-murid kelas X-4 SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah, juga menyukainya. Pada kesempatan lalu, Sabtu 27 Oktober lalu, saya ajak mereka membuat cerita tentang binatang. Murid bergantian menciptakan kalimat bebas yang tetap berkaitan dengan gambar di kertas. Seorang murid mengatakan di akhir kelas, kegiatan ini sangat menarik sebab mereka bisa mengetahui banyak diksi yang beragam. Mereka juga bisa mengenal beragam jenis paragraf dan gaya penceritaan. Lihat saja buktinya di bawah ini. 🙂

Ragam diksi menjadi pengetahuan baru untuk teman sekelas.

Kura-kura atau Penyu?

Kepik

Kisah komedi selalu hadir dalam imaji remaja.

Sapi atau Jenglot?

Kelinci Horor

Seorang murid di kelompok ini mengaku terpengaruh gaya cerita Raditya Dika.

Kucing Garong

Cerita yang sesuai dengan fantasi remaja.

Ikan

Domba

Bisa juga menghasilkan gaya penulisan berita. Ini contohnya.

Kambing

baca tautan: Belajar dari Jepara (1)