Mengambil Ide dari Novel, Mengubah Jadi Persuasi

Di kelas 10 siswa akan mendapatkan topik persuasi di pelajaran Bahasa Indonesia. Coba guru tanyakan ke siswa, pasti mereka bisa menyebutkan berbagai contoh aplikasi kalimat ajakan yang mereka temukan di kehidupan.

  • Resensi (buku, film, musik)
  • Iklan (komersial, layanan masyarakat)

Nah, guru bisa langsung mengajak siswa mendesain sebuah promosi dengan bahasa persuasif tentunya. Inspirasinya bisa diambil dari novel sastra yang sudah siswa baca. Nah, ini beberapa contohnya:

 

Dalam satu poster ada dua materi. Yang atas adalah resensi novel Genduk. Yang bawah adalah promosi wisata ke Gunung Sindoro, latar novel Genduk. Kegiatan yang dilakukan dalam wisata itu juga berdasarkan bagian dalam novel. Ini bisa diwujudkan betulan oleh guru jadi wisata sastra!
Ini gemas sekali. Membuat promosi kue nastar karena dalam cerita Genduk, ada tokoh yang menawarkan kue nastar ke Genduk. Satu bagian cerita berubah menjadi karya iklan. Keren!

Kegiatan ini juga bisa dipakai untuk penilaian guru. Guru dapat melihat beberapa hal sebagai bahan penilaian.

  • Apakah siswa sudah menampilkan kalimat persuasi?
  • Apakah sudah cukup bisa mempersuasi pembaca?
  • Apakah penggunakan kalimat sudah koheren? Ejaan dan tanda baca sesuai EBI?
  • Apakah karya ditampilkan dengan desain yang menarik dari segi bahan, warna, komposisi tulisan, dll.?

Silakan dicoba yaa, ibu bapak guru! 🙂

 

 

Permainan Kalimat Persuasif

Ini yang saya dan murid lakukan di TSAD (Teacher and Staff Appreciation Day) tahun 2016 ini. Saya jadi murid dan diminta guru (yang adalah muridku) untuk bermain dengan kata persuasif.

screenshot_20161129-160336

Cara mainnya begini:

  1. Guru menyiapkan beberapa kata dalam kartu undian. Satu bundel kata ajakan/perintah dan satu bundel kata benda.
  2. Dua siswa akan maju dan memilih satu kartu kata.
  3. Dengan berpasangan, siswa akan menyusun kalimat dengan merangkai kata secara bergantian.
  4. Setiap pasangan akan melakukan hal yang sama dengan kata yang berbeda. Pemenangnya adalah yang bisa membuat kalimat paling panjang, sepanjang-panjangnya.

Kegiatan ini pas dilakukan untuk 20 murid (10 pasang) selama 30 menit.

Contohnya bisa dilihat di video ini yaa… 🙂  https://youtu.be/8nzEP1goU-g