Satu Dua Tiga, Gagal Semuanya

Nah, sekarang udah sah boleh nyanyi “satu dua tiga gagal semuanya…”. Iya, ini update dari tulisanku sebelumnya. Jadi Mei 2017 ini lengkap tiga kali coba program hamil dengan IUI.

Nggak bisa ngomong banyak sekarang. Aku mau istirahat dulu. Simpan harapan dan cita-cita dulu. Mungkin nanti kalau semangat sudah terkumpul lagi, aku coba segala usaha lagi.

How I Understand Second Failure

How I understand second failure: It feels like this sentence from Han Kang in the novel Vegetarian.

The pain feels like a hole swallowing her up, a source of intense fear and yet, at the same time, a strange, quiet peace.

Yes, I am talking about my second IUI here. The first, failed. Now, failed again.

Satu putaran IUI kedua ini aku tepar banget. Dokter kasih obat dan suntikan yang jauh lebih keras dari yang pertama. Ternyata efek samping di badanku luar biasa. Aku sampai demam, pusing, kram perut dan dada, sampai jalan pun membungkuk-bungkuk. Dokter bilang obat yang kedua (injeksi Menopur) ini sama seperti obat yang dipakai untuk program IVF, tapi dosisnya lebih rendah. Ya ampun, dosis rendahnya aja udah bikin badan begini. Apalagi kalau aku ambil IVF ya. Hmm…

Siklus berjalan dan kemudian… pagi-pagi dapat kejutan bulanan yang tidak kuharapkan. Rasanya kosong, lalu nangis ngusel badan suami, lalu dipukpuk sambil tarik napas panjang. Badan dijejal pakai pain killer dan niat berangkat kerja. Karena kalau istirahat di rumah malah semakin gak sehat pikirannya. Pergilah aku ke sekolah.

Sampai parkiran ada rekan kerja nyapa dan tanya, “Jam berapa ya, Miss? Sudah telat clock in belum ya?”. Aku nggak nyangka sendiri bisa membalasnya dengan tawa hambar, “Hahhaa… I dont care, sir!” Kaget sekaligus lega, karena sepertinya kalimat itu bukan tentang dia, tapi tentang perasaanku pagi itu.

Tapi begitu ketemu teman di lift (dia IVF survivor dua kali), dia tanya apa kabar, meledak juga ini air mata. Dia bilang, “Sabar… Udah nggak usah dibahas aja. Udah kita ngobrol yang lain aja.” Tapi pas masuk ruangan kantor mata masih mau nangis aja, sampai akhirnya pak bos tanya aku kenapa. Rekan kerja yang lain jadi bingung juga mau bersikap gimana. Aku akhirnya malu, lalu ambil tisu dan lap muka. Mana habis itu ngajar jam pertama. Uh ohh, nggak ada waktu buat berduka.

Beberapa jam kemudian saat pikiran sudah tenang, aku diskusi lagi dengan suami. Kita mau istirahat dulu, atau berjuang lagi? Mau coba IUI lagi, atau coba IVF barangkali? Suami membebaskan pilihan kembali ke aku, katanya “yasudah kalau kamu masih kuat”. Aku nengok badan, yang kuat itu semangatku. Rasanya enak kalau berjuang, karena ada harapan yang bisa dikejar.

Maka, kami lalu memutuskan coba IUI sekali lagi. Biar puas aja rasanya kalo dibuat nyanyi… satu dua tiga sayang semuanya. 🎶

 

 

I Love Surprises, (but not) This One…

Ini update dari tulisanku sebelumnya: galau pertama di 2017. Kabarnya adalah… negatif. First IUI: Failed.

Kegagalan macam begini enaknya memang dirayakan di kamar sendiri. Nangis sambil dengar lagu galau bolak balik. Tapi masalahnya, aku baru tahu gagal ini di toilet sekolah. Jumat pagi tadi. Jadi nangisnya langsung di sana. Untungnya ada teman guru di situ, jadi aku lebih bisa menenangkan diri. Dia cerita bahwa dia aja yang pakai program bayi tabung masih juga bisa gagal. Dari enam embrio, yang sukses cuma satu. Frozen embrio apalagi, besar kemungkinan failed. Banyak juga kasus fresh embrio udah nempel bagus di rahim, tapi kemudian gugur.

Intinya, semua proses rekayasa biologi ini tidak ada hasil yang absolut. Yang pegang kuasa absolut cuma satu: TUHAN. Jadi semua harapan kita itu adalah perkara usaha lalu ikhlaskan saja. Semua serahkan pada Dia.

Pas lagi nangis itu tiba-tiba sadar. Sore ini nggak bisa pulang cepat. Harus isi acara mendongeng bareng murid-murid sekolahku di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, Jakarta. Otak langsung mikir gimana caranya kontrol emosi sedih jadi ceria. Ini acara sudah lama direncanakan. Nggak mungkin aku batalkan gitu aja. Lalu akhirnya bikin keputusan: Oke, I will do my best. Aku akan tetap mendongeng. Usai dongeng langsung izin pulang duluan. Yak. Minum pain killer dan obat hormon. Sisihkan duka dan pura-pura baik-baik saja.

Di perjalanan, dalam bus sekolah, good mood kupaksa naik. Berlatih dongeng dan lagu-musiknya sepanjang jalan raya, sampai ketemu hujan deras begitu tiba di Salemba. Lalu begitu masuk ke Rumah Kita, eh aku malah senyum terus-terusan. Aku lihat ada beberapa wajah anak-anak yang sudah pernah aku temui sebelumnya. Mereka pasien kanker lama. Ada juga wajah-wajah baru. Dan… mereka lagi santai bercanda dengan teman-temannya, kayak nggak merasa sakit apa-apa.

Aku senyum lagi dan kali ini bukan basa-basi. Mereka ternyata sudah membesarkan hatiku ini. Mereka yang jauh lebih hebat berjuang aja masih bisa tetap tertawa. Mereka yang kenyang obat dan kemoterapi aja masih bisa hepi-hepi. Sementara apalah aku ini yang baru diberikan kegagalan sekali dua kali. Apalah aku ini cuma dikasih cobaan seujung jari.

Aku lalu mendongenglah. Cerita lancar mengalir. Aku baru sadar belakangan, pesan yang ada dalam dongeng tadi adalah pesan buatku juga. Tentang gimana kerja kerasnya burung kecil yang belajar terbang hingga akhirnya bisa lihat pemandangan indah. Usaha-Gagal-Usaha-Gagal, sampai akhirnya Berhasil. Juga tentang doa-doa yang dipanjatkan kodok pemanggil hujan. Setia berharap-berusaha-berdoa, hingga kemudian dapat hasil baiknya.

Akhirnya aku bertahan sampai acara selesai. Nggak jadi pulang duluan. Bahkan sempat kecewa karena harus buru-buru pulang agar nggak kena macet di jalan (yang sebenarnya adalah nggak mungkin nggak kena macet di Jumat sore Jakarta -__-). I was surprise with myself. Surprise with this one. Ohh… dear Almighty. Aku belajar lagi. Kejutan-kejutan hidup memang seharusnya “dinikmati sebaik-baiknya” saja ya. 🙂

Foto oleh @jhonathan.30

Posting (galau) Pertama di 2017

Posting pertama di 2017.
Akhirnya memberanikan diri juga nulis ini. Sengaja untuk melepas rasa takut, yang pasti tidak akan hilang, tapi semoga bisa berkurang. Iya, mengawali tahun ini kok ya perasaanku cemas. Ada sesuatu yang membuatku takut gagal. Dan sudah jelas apa sebabnya.

Sudah sejak 2014 aku dan suami memutuskan untuk punya anak. Kenapa dibilang memutuskan? Ya, karena aku tidak serta merta diberi hamil seperti kebanyakan pasangan yang menikah. Maka kami memutuskan dan mengusahakan. Ke pengobatan alternatif, ke dokter kandungan dan konsultan fertilitas, ubah pola makan jadi yang serba sehat, dan terakhir balik ke dokter lagi. Jadi dua tahun belakangan ini aku dan suami sudah kenyang makan obat dan suplemen, kenyang jalani prosedur ini itu, kenyang habiskan banyak uang untuk ikhtiar, dan kenyang nangis tentunya.

Sebetulnya aku masih terbilang enak, tidak ada pihak lain yang memaksa aku segera hamil dan punya anak. Ortu dan suami sangat tenang, ingin tapi nggak ngoyo. Lingkungan, ada yang rese dan kepo tapi yaa… biasa-biasa ajalah. Keinginan hamil itu datangnya dari dalam diri sendiri. It’s natural calling. Makanya itu yang membuatku rela ikhtiar ke sana-sini.

Aku ingat aku pernah sangat takut mencoba naik sepeda. Kelas 1 SD waktu itu. Takut jatuh, padahal kaki pun belum menginjak pedal. Tapi semangat ingin bisa gowes keliling kampung begitu besar, makanya lalu aku berani-beranikan coba. Diiringi teriak semangat Mama dari jauh, aku coba juga nggowes si sepeda kecil putih itu dan akhirnya… bisa! Kenangan ini terputar lagi sejak malam tahun baru tadi, tapi galau yang ini rasanya beda. Kurasa karena yang akan kulakukan di tahun 2017 ini bukan percobaan pertama kali. Sudah dua kali gagal aku dengan program hamil. Pertama di RS Hermina Depok, lalu pindah di RS Hermina Serpong. Rasa gagal tentu nggak enak. Capek di mental dan fisik tentunya. Capek biaya juga. Tapi dorongan semangat mencoba itu selalu ada. Makanya aku niatkan coba program hamil lagi, kali ini di RS Harapan Kita, rekomendasi dua teman. Satu teman sukses punya bayi kembar dengan program IVF (In Vitro Fertilization/bayi tabung). Satu teman lagi sangat menyarankanku mencoba juga, meskipun dia sudah pernah IVF dan gagal. 🙁

Iya, tingkat keberhasilan IVF itu hingga 40%, jadi artinya risiko gagalnya masih lebih besar. Dan program ini sama sekali nggak murah. Di RS Harapan Kita itu tim dokter menyarankan kami ikut IUI (Intra Uterine Insemination) dulu. Alasannya karena aku dan suami sebetulnya sehat-sehat aja. Cuma Tuhan aja yang masih kepengen kami puas-puasin pacaran. 🙂 So yeah, meski galau-cemas-takut menghadapi apa yang akan terjadi di tahun 2017 ini, aku tetap semangat saat datang ke RS. Kami dandan hipster dari rumah dan menganggap RS adalah tempat kencan yang cozy.

Oktober 2016 program kami sudah dimulai, dan dua bulan pertama 2017 ini akan jauh lebih intensif. Doa-doa harus lebih banyak dihambur dan amal harus lebih sering ditabur.