Satu Dua Tiga, Gagal Semuanya

Nah, sekarang udah sah boleh nyanyi “satu dua tiga gagal semuanya…”. Iya, ini update dari tulisanku sebelumnya. Jadi Mei 2017 ini lengkap tiga kali coba program hamil dengan IUI.

Nggak bisa ngomong banyak sekarang. Aku mau istirahat dulu. Simpan harapan dan cita-cita dulu. Mungkin nanti kalau semangat sudah terkumpul lagi, aku coba segala usaha lagi.

Posting (galau) Pertama di 2017

Posting pertama di 2017.
Akhirnya memberanikan diri juga nulis ini. Sengaja untuk melepas rasa takut, yang pasti tidak akan hilang, tapi semoga bisa berkurang. Iya, mengawali tahun ini kok ya perasaanku cemas. Ada sesuatu yang membuatku takut gagal. Dan sudah jelas apa sebabnya.

Sudah sejak 2014 aku dan suami memutuskan untuk punya anak. Kenapa dibilang memutuskan? Ya, karena aku tidak serta merta diberi hamil seperti kebanyakan pasangan yang menikah. Maka kami memutuskan dan mengusahakan. Ke pengobatan alternatif, ke dokter kandungan dan konsultan fertilitas, ubah pola makan jadi yang serba sehat, dan terakhir balik ke dokter lagi. Jadi dua tahun belakangan ini aku dan suami sudah kenyang makan obat dan suplemen, kenyang jalani prosedur ini itu, kenyang habiskan banyak uang untuk ikhtiar, dan kenyang nangis tentunya.

Sebetulnya aku masih terbilang enak, tidak ada pihak lain yang memaksa aku segera hamil dan punya anak. Ortu dan suami sangat tenang, ingin tapi nggak ngoyo. Lingkungan, ada yang rese dan kepo tapi yaa… biasa-biasa ajalah. Keinginan hamil itu datangnya dari dalam diri sendiri. It’s natural calling. Makanya itu yang membuatku rela ikhtiar ke sana-sini.

Aku ingat aku pernah sangat takut mencoba naik sepeda. Kelas 1 SD waktu itu. Takut jatuh, padahal kaki pun belum menginjak pedal. Tapi semangat ingin bisa gowes keliling kampung begitu besar, makanya lalu aku berani-beranikan coba. Diiringi teriak semangat Mama dari jauh, aku coba juga nggowes si sepeda kecil putih itu dan akhirnya… bisa! Kenangan ini terputar lagi sejak malam tahun baru tadi, tapi galau yang ini rasanya beda. Kurasa karena yang akan kulakukan di tahun 2017 ini bukan percobaan pertama kali. Sudah dua kali gagal aku dengan program hamil. Pertama di RS Hermina Depok, lalu pindah di RS Hermina Serpong. Rasa gagal tentu nggak enak. Capek di mental dan fisik tentunya. Capek biaya juga. Tapi dorongan semangat mencoba itu selalu ada. Makanya aku niatkan coba program hamil lagi, kali ini di RS Harapan Kita, rekomendasi dua teman. Satu teman sukses punya bayi kembar dengan program IVF (In Vitro Fertilization/bayi tabung). Satu teman lagi sangat menyarankanku mencoba juga, meskipun dia sudah pernah IVF dan gagal. 🙁

Iya, tingkat keberhasilan IVF itu hingga 40%, jadi artinya risiko gagalnya masih lebih besar. Dan program ini sama sekali nggak murah. Di RS Harapan Kita itu tim dokter menyarankan kami ikut IUI (Intra Uterine Insemination) dulu. Alasannya karena aku dan suami sebetulnya sehat-sehat aja. Cuma Tuhan aja yang masih kepengen kami puas-puasin pacaran. 🙂 So yeah, meski galau-cemas-takut menghadapi apa yang akan terjadi di tahun 2017 ini, aku tetap semangat saat datang ke RS. Kami dandan hipster dari rumah dan menganggap RS adalah tempat kencan yang cozy.

Oktober 2016 program kami sudah dimulai, dan dua bulan pertama 2017 ini akan jauh lebih intensif. Doa-doa harus lebih banyak dihambur dan amal harus lebih sering ditabur.