Karya Tulis di Sekolah

Apa tujuan membuat karya tulis di sekolah?
Memberikan pemahaman terhadap siswa agar dapat berpikir secara logis dan ilmiah dalam menguraikan dan membahas suatu permasalahan. Mengajak siswa dapat menuangkan ide secara sistematis dan terstruktur.

Materi yang dianalisis bagaimana?
1. Relevan dengan situasi dan kondisi yang ada.
2. Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3. Masalah dibatasi sesempit mungkin.

Struktur penulisan karya tulis itu seperti apa?

Bagian Awal, terdiri dari:

1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan
3. Lembar Pengesahan
4. Abstraksi
5. Kata Pengantar
6. Daftar Isi
7. Daftar tabel, grafik, diagram, bagan, peta dan sebagainya

Bagian Tengah, terdiri dari:

1. Pendahuluan
2. Landasan Teori atau Tinjauan Pustaka
3. Metode Penelitian
4. Analisis Data dan Pembahasan
5. Kesimpulan dan Saran

Bagian Akhir, terdiri dari:

1. Daftar Pustaka
2. Lampiran

 

Ada penjelasan lebih lanjut tentang struktur karya tulis?

A. BAGIAN AWAL
1. Halaman Judul; Ditulis sesuai dengan cover depan sesuai aturan yang ada.

2. Lembar Pernyataan; Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan karya tulis ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.

3. Lembar Pengesahan; Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing atau guru pembina, Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing.

4. Abstraksi; Yakni berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan karya tulis dengan maksimal 1 halaman.

5. Kata Pengantar; Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan karya tulis (contoh: kepala sekolah, guru, orang tua, dan teman).

6. Halaman Daftar Isi; Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman.

7. Halaman Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram

B. BAGIAN TENGAH

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah; Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b. Rumusan Masalah; Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c. Batasan Masalah; Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
d. Tujuan Penelitian; Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.
e. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a. Studi Pustaka : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b. Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c. Gabungan : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
f. Sistematika Penulisan; Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Karya tulis ilmiah

2. Landasan Teori; Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.

3. Metode Penelitian; Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang ada.

4. Analisis Data dan Pembahasan; Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.

5. Kesimpulan (dan Saran); Berisi Kesimpulan, yaitu jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
Boleh ditambahkan Saran yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.

B. BAGIAN AKHIR

1. Daftar Pustaka; Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan

2. Lampiran; Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.

 

Bagaimana teknik penyajian tulisan itu?

Penomoran Bab serta subbab

Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
II ………. (Judul Bab)
2.1 ………………..(Judul Subbab)
2.2 ………………..(Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
– Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, font 14, tebal.
– Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, font 12, tebal.

Penomoran Halaman

Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…). Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.

Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.

Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.

Format Pengetikan

Kertas ukuran A4
Margin Atas: 4 cm/ Bawah: 3 cm/ Kiri: 4 cm/ Kanan: 3 cm
Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
Jenis huruf (Font) : Times New Roman.
Ukuran / variasi huruf : Judul Bab 14 / tebal + huruf kapital
Isi 12 / huruf normal; Subbab 12 / tebal/ huruf normal


Pada pelajaran apa saja karya tulis ini dipakai?

Apa saja!

Belajar dari Jepara (1)

Berkat twitter, saya berkenalan dengan Alvin Noor. Ia seorang guru pelajaran komputer di SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah. Maka begitu saya punya acara di kota Kartini itu, saya langsung menyusun janji bertemu dengan beliau. Saya senang berkenalan dengan rekan guru di kota lain. Pasti akan ada banyak hal yang bisa dipelajari. Benar saja, Pak Alvin yang malam itu datang bersama istri dan anak perempuannya, mengajak saya bercerita ke sana ke mari tentang kondisi sekolah di Jepara secara umum. Ketika saya tanya, seberapa melek anak-anak dan guru pada social media, beliau menjawab: masih belum banyak yang menggunakannya sebagai media pembelajaran aktif. Ia juga menceritakan kendala yang dihadapi, tetapi wajahnya yang optimis membuat pembicaraan satu jam kami begitu menyenangkan. Bahkan terlalu menyenangkan sebab di ujung percakapan, Pak Alvin melontarkan satu ide dadakan. Dia meminta saya untuk menjadi guru tamu di sekolahnya. Saya kaget, sekaligus merasa tertantang. Saya iyakan dan bersiap datang ke sekolah pada hari Sabtu, 27 Oktober itu.

Alvin Noor, guru SMAN 1 Jepara, beserta putrinya

Kelas X-4 menjadi teman yang sangat seru di Sabtu pagi itu. Saya berbagi cerita bahwa internet (dalam hal ini twitter) yang sudah memungkinkan saya hadir di tengah mereka. Saya kemudian bercerita tentang nama saya, tentang membaca, juga tentang sastra. Saya katakan pada mereka, beruntunglah mereka memiliki kampung halaman yang menyimpan cerita bersejarah. Jepara, kota tempat lahir Kartini, perempuan yang namanya begitu santer dibicarakan perihal pembaharuan wanita Indonesia. Seharusnya remaja ini bisa yang menghasilkan karya sastra sebab ada segudang hal istimewa di kota mereka.

Berbagi cerita pengalaman belajar di sekolah lain

Saya kutip apa kata Pramoedya, yang pernah membuat novel berjudul Panggil Aku Kartini Saja, menulis itu pekerjaan yang butuh keberanian. Semua bisa menulis, jadi cuma masalah kamu mau menulis atau tidak. Beberapa murid mengangguk-angguk setuju. Saya langsung ajak mereka menciptakan satu cerita bersama. Sebutlah sebuah latihan dasar membuat antologi. Murid di barisan depan saya minta menggambarkan satu binatang apa pun yang pertama kali melintas di benak mereka. Kemudian, kertas digeser ke teman di sebelahnya, lalu biarkan mereka menuliskan satu kalimat yang menceritakan tentang binatang itu. Kertas lalu diteruskan ke teman di belakang mereka. “Bebaskan imajinasi kalian, berceritalah tentang apa saja.”

Murid menceritakan karya cerita berantai mereka dengan penuh percaya diri.

Akhirnya, jadilah sebuah paragraf pendek yang sangat menarik. Murid perwakilan kelompok maju ke depan membacakan karya mereka. Kelas sangat meriah, penuh tawa, mendengar khayalan teman-teman sendiri. Di akhir pembacaan, saya berterima kasih atas apresiasi mereka pada karya yang sudah mereka buat. Saya katakan, beranilah menulis, itu dulu. Mulailah bercerita tentang diri sendiri, kemudian tentang lingkunganmu, kemudian tentang bangsamu. Dua orang murid menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dari kegiatan tadi. Ada sebuah kalimat yang begitu baik dari seorang murid bernama Rizal Maulana, begini katanya: Kita harus berani mengeluarkan unek-unek dalam bentuk tulisan untuk dibaca orang lain. Ah, terima kasih, Jepara!

Video kegiatan pada waktu itu bisa dilihat di sini. 😉
baca tautan: Belajar dari Jepara (2)

Belajar dari Jepara (2)

Cerita berantai selalu menyenangkan untuk dilakukan. Murid-murid kelas X-4 SMAN 1 Jepara, Jawa Tengah, juga menyukainya. Pada kesempatan lalu, Sabtu 27 Oktober lalu, saya ajak mereka membuat cerita tentang binatang. Murid bergantian menciptakan kalimat bebas yang tetap berkaitan dengan gambar di kertas. Seorang murid mengatakan di akhir kelas, kegiatan ini sangat menarik sebab mereka bisa mengetahui banyak diksi yang beragam. Mereka juga bisa mengenal beragam jenis paragraf dan gaya penceritaan. Lihat saja buktinya di bawah ini. 🙂

Ragam diksi menjadi pengetahuan baru untuk teman sekelas.

Kura-kura atau Penyu?

Kepik

Kisah komedi selalu hadir dalam imaji remaja.

Sapi atau Jenglot?

Kelinci Horor

Seorang murid di kelompok ini mengaku terpengaruh gaya cerita Raditya Dika.

Kucing Garong

Cerita yang sesuai dengan fantasi remaja.

Ikan

Domba

Bisa juga menghasilkan gaya penulisan berita. Ini contohnya.

Kambing

baca tautan: Belajar dari Jepara (1)

Meramu Novel Jadi Berita

Seorang rekan guru bahasa Indonesia di sekolah saya kemarin membuat sebuah penilaian pemahaman sastra yang inovatif. Ia membuat ramuan KTSP dan novel kelas yang tersaji dengan menarik. Rencana Intan, nama guru tersebut, telah kami coba di kelas 11 dan menurut saya, hasilnya begitu menyenangkan untuk dibaca.

Sekolah kami menggunakan novel Arok Dedes sebagai bahan bacaan sastra. Jika dilihat pada KTSP kelas XI, terdapat kompetensi menulis berupa “mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman/ringkasan; menulis ringkasan isi buku”. Membuat ringkasan cerita saja sebetulnya bisa sangat mudah dilakukan setelah murid membaca. Mereka bisa menceritakan ulang dengan bahasa sederhana. Sayangnya, itu sama sekali tidak menantang untuk murid SMA. Lagipula rangkuman isi novel bisa dengan mudah didapatkan di internet. Dari pemikiran itulah Intan menawarkan model penilaian lain.

Murid diajak membuat berita berdasarkan novel yang mereka baca. Tentu saja tantangannya menjadi lebih sulit. Berita itu biasanya aktual, sementara cerita dalam novel Arok Dedes terjadi di masa lampau. Selain itu, siswa jadi harus benar-benar membaca sebelum bisa menemukan unsur 5W 1H pembentuk berita. Tentu saja tidak semua isi novel yang digunakan sebagai sumber berita. Murid dipersilakan memilih bagian yang mereka mau dari bab-bab novel itu. Guru kemudian mengajak siswa mempersiapkan kerangka penulisan. Ajak pula mereka membayangkan bahwa kisah fiksi dalam novel ini benar-benar terjadi serupa fakta.

Kesulitan hanya terjadi pada murid yang enggan membaca, itu saja. Selebihnya, murid-murid pasti bisa mengerjakannya. Guru bisa menilai dua kemampuan dari kegiatan ini: membaca dan menulis. Saya yakin semua sekolah dengan beragam kurikulum bisa menggunakan ini, selama disesuaikan dengan metode belajar murid di kelas. Berikut ini adalah salah satu contoh karya murid yang begitu apik. Saya senang membacanya. Anda jugakah? 🙂

Kelud Meletus, Tewaskan Warga dan Kuburkan Kediri

KEDIRI (18/9) Amarah Bathari Durga kembali meledak. Lagi-lagi ulah ksatria yang berkhianat kepada para dewa. Kemarin pagi, terjadilah letusan besar dari puncak Sang Kelud yang menutupi seluruh Kediri dengan kegelapan abunya yang tebal dan hitam. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa sejumlah tiang api menyembur dari beberapa titik di kawasan pegunungan. Gempa yang besar pun dirasakan oleh rakyat yang ada di kota.

Berdasarkan laporan dari sang Paramesywari, Dedes, yaitu istri Sang Akuwu Tumapel, dikabarkan bahwa Sang Akuwu Tumapel telah menghilang ditelan tanah dalam hujan abu tersebut. Saat ini para pengawal istana masih belum dapat memastikan hilangnya sang akuwu dikarenakan kondisi pasca letusan yang masih berbahaya.

Dedes, yang tak lama lalu baru menikah dengan Sang Akuwu menyatakan bahwa semua ini bermula dari dipindahkannya Patung Bathari Durga kepada Bilik Agung. Maka marahlah Sang Bathari Durga karena Tunggul Ametung dan satrianya telah meninggikan para leluhurnya di atas segalanya.

Saat ini proses evakuasi di kawasan Selatan Kediri telah dimulai, dengan ratusan rakyat yang masih terkubur di bawah abu, baik hidup maupun mati. Keberadaan sang akuwu hingga kini masih dicari, dan para brahmana memastikan bahwa akibat peristiwa ini matahari tak akan muncul hingga tiga hari ke depan. Diharapkan bahwa Sang Akuwu akan selamat.

Ki Jagat Pramoeditya, Harian Kediri

Dave Gregory, Ki Jagat Pramoeditya

Story Telling oleh anak (2)

Ini adalah tulisan lanjutan dari “Story Telling untuk anak SMA”. Pencerita pada tulisan itu adalah guru. Nah, bagaimana jika sekarang murid yang berperan sebagai pencerita?

Seorang guru bahasa sangat dianjurkan untuk menggunakan kegiatan bercerita di kelas. Murid-murid senang mendengar cerita, seperti mereka senang mendengar curhat temannya. Sekarang, buatlah murid yang bercerita di kelas. Jika tidak ada persiapan khusus, guru bisa gunakan cara paling mudah. Tunjuk beberapa nama murid atau mempersilakan siapa saja yang ingin membacakan cerita di depan kelas. Pastikan mereka punya kemampuan vokal yang cukup baik agar teman-teman lain bisa menyimak cerita dengan maksimal.

Tentukan cerpen, drama, atau penggalan novel mana yang akan dibacakan. Guru membagi tugas, siapa yang akan membacakan paragraf mana, atau siapa yang akan berperan sebagai tokoh apa. Ajak murid pencerita menghayati peran dan murid pendengar untuk memahami cerita.

Guru sebaiknya mengukur lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca berantai ini. Pertimbangkan berapa lama cerita selesai dibaca, termasuk jika murid butuh waktu untuk konsentrasi atau ketika ada kesalahan baca. Akan lebih baik jika guru sudah menyiapkan murid-murid yang akan bercerita di pertemuan sebelumnya. Biarkan mereka yang berbagi tugas bagian membaca dan mereka bisa berlatih dulu sebelum tampil di pertemuan kelas nanti.

Untuk anak SMP, kegiatan mendongeng kelompok bagus dijadikan penilaian kompetensi menulis dan berbicara. Murid dalam kelompok membuat sebuah cerita, bisa tokoh nyata atau fabel. Nanti mereka pula yang akan mementaskannya. Guru menyiapkan rubrik penilaian yang mencakup aspek menulis naskah, cara bercerita (artikulasi, vokal, intonasi), penggunaan alat dan kostum, dan kerjasama kelompok. Kelompok lain akan melakukan penilaian kepada kelompok yang sedang pentas sebagai penerapan student-self-assessment. Kritik dan saran disampaikan oleh murid kepada temannya di akhir kelas. Tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi juga tak boleh dilupakan.


Untuk anak SD, gunakan boneka/mainan untuk membantu anak-anak berperan menjadi pencerita. Guru harus memastikan bahwa cerita yang dibawakan sudah diketahui oleh anak. Cerita bisa diambil dari buku yang pernah mereka baca bersama, atau bisa juga dongeng buatan mereka sendiri. Pastikan mereka bertanggung jawab menjadi tokoh. Beri pembagian tugas pada sejumlah anak, siapa menjadi ayam, siapa menjadi pohon, siapa menjadi raja, misalnya.

Guru bertugas sebagai penjaga alur. Biarkan anak menciptakan dialog mereka sendiri. Boleh juga kembangkan pop idea yang hadir dari anak. Guru tinggal arahkan pada tujuan akhir cerita. Ketika cerita sampai pada klimaksnya, guru mengajak murid ke penyelesaian dan buat anak berdiskusi. Apa rasanya ya menjadi tokoh dalam cerita? Bagaimana jika teman lain mengubah alur cerita? Bagaimana jika akhir cerita dibuat berbeda? Pancing terus anak dengan pertanyaan yang membuatnya bernalar.

Kira-kira begitu yang pernah saya lihat dan lakukan. Ada ide lainnya, kawan? 🙂

Story Telling untuk anak (1)

Seorang teman di twitter kemarin bertanya, bagaimana ya melakukan story telling untuk anak SMA dengan menarik?

Sederhananya, ada dua pilihan pencerita di kelas. Bisa si guru, atau si murid. Jika si guru yang akan melakukan story telling itu, guru tersebut harus punya kemampuan bercerita dengan menarik. Caranya bagaimana? Jelas, buat persiapan dulu agar tidak canggung di kelas.

1. Bahan cerita mana?
Apa yang mau diceritakan? Sebuah cerpen, penggalan novel, atau dialog drama? Pastikan cerita yang dipilih bisa didiskusikan seusai cerita disampaikan.

2. Pendengar mau apa?
Apa yang guru harapkan dari murid akan menentukan persiapan bercerita. Jika murid diminta hanya mendengar cerita saja, guru bisa fokus pada persiapan diri sendiri. Murid cukup diminta mendengarkan dan bertanya di akhir cerita. Jika guru merasa perlu murid mengetahui juga apa yang sedang diceritakan, murid harus dibekali dengan kertas bacaan. Berilah mereka cerpen yang Anda bacakan, atau minta mereka siapkan novel kelas. Sambil mereka baca, guru bercerita di depan kelas.

3. Ceritanya bagaimana?
Menarik minat remaja mendengar cerita tentu harus memakai jurus jitu. Dasar yang harus dimiliki adalah teknik membaca lancar. Perhatikan: vokal yang pas didengar seisi kelas, artikulasi dan nada sesuai kalimat, dan juga mimik pencerita. Tambahkan gerak yang sesuai dengan adegan dalam cerita. Boleh juga gunakan kostum yang mendukung cerita, seperti selendang atau topi.

4. Bagaimana memulainya?
Penting sekali mencuri perhatian di kesempatan pertama, persis di judul cerita. Pakai pengantar dulu, sampaikan bahwa cerita yang akan dibawakan berkaitan dengan hidup murid Anda. Gambarkan sedikit rangkuman cerita dengan ekspresi maksimal. Contoh yang pernah saya lakukan di kelas seperti ini:


“Hari ini, saya akan bercerita cepat dan ringkas bagian pertama novel Gadis Pantai. Sesuai judulnya, cerita ini tentang seorang gadis yang berusia 14 tahun, persis seusia kalian, murid-murid di kelas ini… (saya menunjuk seisi kelas). Bayangkan, di usia kalian yang semuda ini, yang masih bisa duduk di kelas seperti sekarang, tiba-tiba… harus menikah dengan seorang bapak-bapak yang tidak kalian kenal! (biasanya murid perempuan bergidik di sini) Kalian yang lelaki silakan bayangkan, teman-teman perempuan di sebelah kamu, harus menikah dengan oom-oom! (biasanya mereka tertawa di sini) Nah… langsung saja ya saya bercerita. Bermula seperti ini…”

5. Saat bercerita gimana? Mengakhirinya?
Bacakan cerita dengan sungguh-sungguh. Ajak murid mendengar dan terlibat dalam cerita. Tanyakan pendapat mereka secara acak di tengah cerita tentang sikap tokoh. Bandingkan dengan kisah hidup tokoh idola mereka. Selipkan penjelasan tentang kosakata yang belum pernah mereka dengar. Mainkan nada suara di klimaks cerita, kemudian menurun untuk akhir cerita. Semakin dramatis guru berkata-kata, murid akan terpesona dan bisa memahami cerita.

Ya, kira-kira seperti itu. 🙂
Bagaimana jika murid yang jadi pencerita?