A Note from Lovely Man

 
Ini epic sekali pemirsa! A NOTE FROM DONNY DAMARA! 😄 Iyaa jadi ceritanya ini dikasih murid kelas 10 yang minggu lalu kutugaskan melakukan wawancara.  Johan, Farrell, dan Andra dari kelas 10F, mereka ketemu Donny Damara di Citos dan mengajukan pertanyaan yang sudah disiapkan. Donny sudah kasih pesan sebelumnya, ia ingin ditanya pertanyaan yang “nggak standar”. Jadilah tiga murid saya degdegan seru menyiapkan pertanyaan panduan. Setelah ketemu Donny langsung, Johan bilang, “Ternyata Om Donny orangnya baik banget. Asyik. Seru. Jadi nggak takut lagi ngobrolnya.”

Nah, pengalaman belajar ini yang saya harap terjadi. Dan benar telah tercipta. Senang rasanya. Apalagi dapat note cantik dari Mister Lovely Man itu. 🙂

Jari Ungu

Namanya Gemintang, usianya tiga tahun. Dia sangat penasaran kenapa semua orang di rumahnya tiba-tiba punya tanda ungu di jari-jari mereka. Saya katakan padanya, habis nyoblos Pemilu. Tentu saja dia belum paham apa itu Pemilu. Yang dia paham adalah tanda habis nyoblos itu lucu. Dia ingin punya juga. Lalu, dengan krayon mainannya, dia coba membuat tanda itu juga. “Gak bica,” katanya. Aku tertawa saja. Politik bisa jadi hal sederhana di mata kanak-kanak.

20140409-110547.jpg

Training Guru Perdana!

Saya harus berterima kasih kepada Provisi Education dan Antam yang memberikan peluang kepada saya untuk menjadi trainer guru. Ini adalah pelatihan perdana saya. Tentu saja rasanya campur aduk, antara deg-degan dan juga antusias! Selama enam jam di hari Sabtu 19 Oktober 2013 itu, saya berkenalan dan belajar bersama 49 guru SMP, SMA, dan SMK di Halmahera Timur, Maluku. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan.

Perkenalan adalah saat yang menentukan imej seseorang. Pada waktu itulah seseorang dinilai oleh pendengar atau lawan bicaranya. Saya pun tak luput dari hal ini. Ada satu peserta yang meninggalkan ruang pelatihan ketika tahu bahwa saya jauh lebih muda daripadanya. Mungkin baginya saya tak akan mendatangkan manfaat. Namun, saya lebih peduli pada peserta lain yang punya semangat belajar tinggi dan tetap bertahan di sana.

Topik pelatihan kali itu adalah “Menjadi Guru Inspiratif”. Secara keseluruhan, kegiatan ini adalah sebuah momen belajar yang menyenangkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Guru Wajib Dandan!

Ada agenda cantik di hari pertama masuk sekolah di semester dua ini: Beauty Class! Sekolah saya bekerja sama dengan The Body Shop, yang kebetulan memang sedang promo program baru yaitu The Body Shop @ You. Guru dan karyawan diajari cara dandan untuk kegiatan sehari-hari di sekolah. Guru lelaki juga dapat Grooming Class. Bagi beberapa orang, ini seperti acara “super make over”. Iya, karena banyak juga yang mengakui malas atau enggan berdandan. Saya sendiri bukan termasuk orang itu. Sebaliknya malah, saya selalu luangkan waktu untuk dandan minimal 15 menit setiap pagi sebelum pergi bekerja. Bagi saya, buat orang yang pekerjaannya berbicara dan berhadapan dengan orang banyak, berdandan itu penting.

Sebetulnya, isu dandan ini pernah jadi masalah serius bagi beberapa sekolah. Ada banyak cerita tentang ini. Ini satu contoh berdasarkan kisah nyata. Suatu hari seorang guru perempuan dipanggil oleh kepala sekolahnya. Dia tidak tahu dalam rangka apa dia diminta menghadap. Di meja Kepsek sudah ada alat-alat kosmetik yang menimbulkan tanda tanya. Si Kepsek langsung mengatakan masalahnya kepada si guru: ada orang tua murid yang mengira si guru adalah petugas kebersihan! Ya, si ortu mengira begitu karena guru ini tidak berdandan dan tidak terlihat berwibawa sebagai seorang guru. Kepsek pun memintanya untuk berdandan. Tak lupa diingatkan dengan tegas: harap selalu berdandan dan berpenampilan elegan.
IMG-20140106-WA001

Kenapa sih mesti dandan? Buat saya, terlihat cantik itu kebutuhan untuk diri sendiri. Bukan narsis, tapi merawat pemberian Tuhan. Nomor dua, tentu saya akan lebih enak dilihat orang lain kalau terlihat cantik. Nah, bagi guru, yang termasuk orang lain ini ada tiga pihak: rekan guru, orang tua murid, dan para murid. Jangan aneh, anak SMP-SMA kota besar sekarang makin hobi berdandan. Anak perempuan dan lelaki, keduanya bisa (dan berani) mengomentari penampilan gurunya. Tak segan mereka memuji kalau gurunya terlihat cantik. Sebaliknya, berani pula mereka mengkritik kalau gurunya terlihat kusam dan kuyu. Kalau gurunya saja sudah tidak enak dilihat ketika mengajar, wajar dong muridnya malas juga memperhatikan. Iya, memang jangan menilai orang hanya dari luarnya saja: bisa jadi luarnya kusam, tapi otaknya luar biasa pandai. Namun, akan lebih baik kalau otak dan wajah sama cemerlangnya, kan? 🙂

Tips: Berdandan bukan berarti harus menor. Riasan tipis dan cerah cukup untuk membuat wajah tampak menarik. “Natural look” bisa jadi pilihan sederhana buat pemula.

 

 

 

Momenku di Hari Guru 2013

Kemarin tiba-tiba ada wartawan Kompas yang wawancara, ada kegiatan menarik apa di sekolah saya dalam rangka perayaan Hari Guru tahun ini. Nah, tulisannya bisa dibaca di inforial Pendidikan Kompas (26/11) berikut ini.
IMG-20131126-00626

Ini foto murid kelas 10, Monica Vivyan, ketika mengajar Bahasa Indonesia di kelas kemarin, edisi spesial Hari Guru atau Teacher and Staff Appreciation Day. Topik yang dia bawakan tentang apresiasi karya sastra. Di foto ini, dia membuka diskusi dengan melempar pertanyaan yang berhubungan dengan Hari Guru.
IMG-20131125-00044

Kostum selalu sukses untuk membuat acara seru! Saya pakai baju seragam murid, dan murid boleh pakai baju bebas ala guru. Saya kelihatan masih kayak murid, ya?
IMG-20131125-00043
IMG_00002532

Guru juga dikasih hadiah makan siang dan kue oleh sekolah. Murid (dari perwakilan OSIS) memberikan bunga dan karikatur wajah begini. Lucu. 🙂
IMG-20131126-00045

Jadi, apa guna perayaan? Ya, minimal jadi ingat peran guru di hidup kita, walau cuma sehari.

Anak Telanjang di Kelas

Jadi, begini situasinya:

Seorang guru perempuan baru saja masuk ke kelas 10 setelah pelajaran olahraga. Terlihat sebagian murid perempuan dan lelaki sudah ada di sana. Beberapa merapikan pakaian olahraga, beberapa menyisir rambut, bersiap untuk pelajaran berikutnya. Tiba-tiba terdengar genjreng gitar dari barisan belakang. Si guru menengok, dan ia melihat seorang anak lelaki berdiri di sana, memakai baju seragam. Gitar berada di depan tubuhnya. “Oh, no!” kata si guru. Si anak lelaki memakai baju seragamnya, tetapi tidak celananya. Si guru menegur, meminta si anak memakai celananya segera. Lalu, si guru berbalik, menyiapkan papan tulis. Tiba-tiba gitar terdengar lagi. Rupanya si anak ini masih juga bermain dengan gitarnya, dan belum memakai celananya. Teman-teman lain mulai memperhatikan dia. Si guru akhirnya meminta si anak lelaki ini segera memakai celananya. Si guru menunggui sampai si anak selesai berpakaian. Si anak yang berbadan kecil dan terlihat polos itu kemudian memakai celana, ya… di depan guru perempuan dan teman-teman lainnya.

Mendengar kisah itu saya jadi sibuk bertanya-tanya:

– Mengapa si anak remaja tak malu hanya mengenakan celana dalam di kelas yang ramai?

– Mengapa si anak remaja lelaki ini tak malu bertelanjang sampai ditegur guru perempuan?

– Bagaimana cara mengajarkan kepada anak remaja tentang rasa malu?

– Apa mungkin si anak merasa bercelana-dalam sudah cukup baginya, sama seperti bercelana-renang ketika berenang?

– Sebenarnya apa fungsi pakaian: sekadar pelindung tubuh dari cuaca atau juga menimbulkan penghargaan atas tubuh?

– Bagaimana seharusnya orang tua mengajarkan tentang tubuh dan berpakaian pada anak?

Saya butuh banyak masukan dari semuanya. Mari kita diskusi!